Review Buku The Seven Deaths of Evelyn Hardcastle - Stuart Turton

Published: Friday, 10 May 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : The Seven Deaths of Evelyn Hardcastle

Penulis : Stuart Turton

Jenis Buku : Thriller - Mystery

Penerbit : Bloomsbury Publishing PLC  

Tahun Terbit : Oktober 2018

Jumlah Halaman :  528 halaman

Dimensi Buku : 12.8 x 19.8 x 4.5 cm

Harga : Rp. 178.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 978140888956

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

 

Winner of The Costa First Novel Award 2018

The Sunday Times Bestseller

Winner of The Book Are My Bag Novel Award 2018

Shortlisted for The Specsavers National Book Award 2018

One of Stylist Magazine's 20 Must-Read Books of 2018

One of Harper's Bazaar's 10 Must-Read Books of 2018

One of Marie Claire, Australia's 10 Books You Absolutely Have to Read in 2018

 

Available at Periplus Bandung Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)


 

Sekelumit Tentang Isi

 

Perayaan kembalinya Evelyn dari Paris berakhir dengan tragedi. Ketika kembang api meledak di atas kepala, Evelyn Hardcastle terbunuh. Tapi Evelyn tidak mati hanya satu kali. Sampai Aiden - salah satu tamu yang dipanggil ke Blackheath untuk pesta - dapat menyelesaikan teka-teki pembunuhannya, hari itu akan terus terulang kembali. Setiap kalinya akan berakhir dengan tembakan pistol yang menentukan takdir Evelyn.

Satu-satunya cara untuk memutus siklus ini adalah mengidentifikasi si pembunuh. Tetapi setiap kali hari dimulai lagi, Aiden terbangun di tubuh tamu yang berbeda. Total host yang ia miliki ada delapan orang. Selain Aidan, ada dua orang lagi yang juga terjebak di siklus yang sama. Tentu saja hanya satu yang bisa keluar dari Blackheath jika berhasil memecahkan misteri pembunuhan Evelyn. Dan belum cukup dengan kerumitan itu, ada seorang psikopat yang bertekad untuk mencegah Aidan lolos dari Blackheath.

Aiden terbangun pertama kali di tengah hutan dalam keadaan hilang ingatan. Ia tidak ingat siapa namanya, mengapa dia bisa berada di sana, dan bahkan lupa semua masa lalunya. Hanya satu nama yang terus terngiang di pikirannya, yakni Anna, dan wanita itu sedang dalam bahaya. Di tengah segala situasi yang membingungkan itu, ia mendengar suara di belakangnya, lalu seseorang mendekatinya dan meletakkan sebuah kompas sambil berbisik "east". Ke arah timurlah ia kemudian berjalan, dan tiba di Blackheath sebagai Dr. Sebastian Bell, hostnya yang pertama.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain cover yang menyolok ya, dengan warna merah, putih dan hitam. Ilustrasi gambarnya mengingatkan saya pada tangga rumah besar jaman dulu di Inggris sana. Diduga ini suasana rumah Blackheath yang menjadi latar cerita. Pilihan warnanya sangat sesuai dan mencirikan sisi misteri dan genre thriller buku ini.

 

Tokoh dan Karakter


Evelyn Hardcastle, putri bungsu tuan tanah yang cantik. Ia mati terbunuh di puncak perayaan pesta di rumahnya.
Aidan Bishop, terperangkap dalam lingkaran misteri pembunuhan Evelyn Hardcastle. Kehilangan ingatan dan sempat putus asa.

Anna, seorang teman Aidan, atau seorang rival, yang juga terperangkap dalam lingkaran yang sama, dan berjuang untuk memecahkan misteri agar bisa keluar dari Blackheath secepat mungkin.

Lord Peter Hardcastle dan Lady Helena Hardcastle, orangtua yang berduka setelah ditinggal mati putra kesayangan mereka, Thomas.

Michael Hardcastle, saudara laki-laki Evelyn yang tulus menyayanginya.

Edward Dance

Grace Davies

Millicent Derby

Jonathan Derby

Daniel Coleridge

Lord Cecil Ravencourt

Dr Richard Acker

Dr Sebastian Bell

Ted Stanwin

Roger Collins

Mrs Drudge

Lucy Harper

Gregory Gold

Charles Cunningham

Madeline Aubert

Thomas Hardcastle

Charlie Carver

dll

 

Novel ini memiliki tokoh yang banyak, tapi karakter tiap tokoh diceritakan dan dibangun dengan baik dan cukup detail. Inilah salah satu sebab mengapa buku ini menjadi luar biasa, dan sebaliknya juga menjadi sangat berat untuk dibaca oleh pembaca pemula atau mereka yang lebih menyukai karya thriller yang ringan dengan jumlah tokoh yang terbatas.

Tokoh-tokoh dideskripsikan dengan cukup lengkap dalam kalimat-kalimat yang tidak terkumpul di satu alinea yang sama.

 

Alur dan Latar

Novel ini beralur cepat, campuran maju dan mundur di sepanjang ceritanya. Ide ceritanya yang menggunakan lompatan waktu membuat alur cerita buku ini maju dan mundur secara acak. Misalnya, ada bab yang menceritakan hari keempat kejadian, lalu kembali ke hari kedua, lalu kembali lagi ke hari keempat, lanjut hari kelima, tapi lalu mundur ke beberapa hari sebelumnya. Untuk pembaca yang tidak menyukai permainan alur seperti ini, buku ini jadi sangat melelahkan dan membingungkan. Tapi untuk mereka yang menyukai tantangan alur, permainan plot, dan misteri yang melibatkan waktu, buku ini brilian. Apalagi tiap harinya tokoh utama memainkan peran yang berbeda dan bertemu tokoh-tokoh lain yang tidak semuanya sama.

Sudut pandang cerita dibawakan oleh orang pertama (Aidan Bishop). Konfliknya menarik karena melibatkan misteri yang rumit. Penyelesaiannya rapi dan tidak terduga. Endingnya agak sedikit menyimpan tanya.

Novel ini menggunakan latar di Blackheath, rumah besar milik tuan tanah di pedesaan tahun 1920, dengan kamar-kamar, suasana ruangan, hutan, dan beberapa lokasi lainnya yang dideskripsikan dengan detail tidak hanya terbatas pada fisik bangunan tapi juga suasana yang ada. Misalnya,

“Ah, this is your bedroom, isn't it? Says my companion, opening a door near the end of the corridor.

Cold air slaps me in the face, reviving me a little, but he walks ahead to close the raised window it’s pouring through. Following behind, I enter a pleasant room with a four-poster bed sitting in the middle of the floor, its regal bearing only slightly let down by the sagging canopy and threadbare curtains, their embroidered birds flying apart at the seams. A folding screen has been pulled across the left side of the room, an iron bathtub visible through the gaps between the panels. Other than that, furniture’s sparse – just a nightstand and a large wardrobe near the window, both of them splintered and faded. About the only personal item I can see is a King James Bible on the nightstand, its cover worn through and pages dog-eared.

Page 10

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Inilah salah satu alasan mengapa saya langsung setuju ketika ada satu review yang menyebutkan kemiripan buku ini dengan buku-bukunya Agatha Christie. Peta. Ada gambar peta di awal buku. Mengingatkan saya pada beberapa buku Agatha Christie yang juga menampilkan peta serupa. Gambar ini secara visual sangat menarik untuk disimak, terutama mengingat alur cerita buku ini yang rumit. Sebuah peta membuat saya dapat mengimajinasikan berbagai adegan dalam cerita dengan lebih baik.

 

Picture: gambar peta Blackheath

 

Lalu ada nama-nama yang disebutkan dalam sebuah undangan sebuah acara. Dari sana saya sudah mendapatkan gambaran bahwa buku ini akan memiliki cukup banyak tokoh dan tiap tokoh punya peran yang penting dalam cerita.

Picture: Undangan pesta Blackheath

 

Tempat terisolasi sering menjadi latar sebuah cerita bergenre suspense atau thriller. Kali ini, lokasi terisolasi juga digunakan dalam cerita. Begitu menemukan ini di bagian awal cerita, rasanya saya sudah digiring ke pola pikir bahwa akan ada sesuatu yang mencekam yang terjadi pada kisah yang ada. 

Lord and Lady Hardcastle request the pleasure of your company at a masquerade ball celebrating the return of their daughter, Evelyn, from Paris. Celebrations will take place at Blackheath House over the second weekend of September. Owing to Blackheat’s isolation, transport to the house will be arranged for all of our guests from the nearby village of Abberly.

Page 16

 

Bagian yang paling menarik dalam buku ini menurut saya alur ceritanya yang maju dan mundur dengan melibatkan tokoh-tokoh yang banyak. Pasti tidak mudah menciptakan alur dan ide cerita sekompleks ini. 

 

Ada bagian dalam buku ini yang kadang-kadang membuat saya berpikir lebih dalam. The Seven Deaths of Evelyn Hardcastle tampaknya bukan cuma buku thriller yang rumit alur dan misterinya tapi juga punya pesan dan sisi filosofi tersendiri.

“Well, what else would you call a second chance? She asks. “You don't like the man you were, very well, be somebody else. There’s nothing stopping you, not any more. As I said, I envy you. The rest of us are stuck with our mistakes.”

Page 49

 

“If freeing me is within your power why not just do it, damn you!” I say. “Why play these games?”

“Because eternity is dull,’ he says. ‘Or maybe because playing is the important part.'

Page 82

 

Tidak ada konten seksual yang berlebihan, apalagi penyimpangannya. Tidak ada adegan yang sadis dan mengeksploitasi korban pembunuhan di buku ini. Ini bukan jenis buku thriller yang menjual sensasi atau gore. Jika pun ada adegan yang berunsur kekerasan, deskripsinya singkat saja. Misalnya,

A tall fellow in a charcoal-stained shirt is bound by his wrists and dangling from a hook on the ceiling, his feet only barely touching the floor. He’s unconscious, a head full of dark curly hair slumped against his chest, blood speckling his face.

Page 50

 

 

Respon terhadap buku ini, sesuai seperti dugaan saya, memang ekstrim, pembaca memberikan rating tinggi atau memberikan bintang yang sedikit saja untuk novel ini.  Rating tinggi diberikan oleh pembaca yang menyatakan kekaguman mereka pada permainan alur cerita yang sangat kompleks serta karakter tokoh-tokoh yang kuat. Novel ini jelas membutuhkan otak agar bisa mengikuti jalan cerita misterinya. Sebaliknya mereka yang memberikan rating rendah benar-benar tidak menyukai alur ceritanya, membenci karakternya, bahkan latarnya yang kelam.

Secara pribadi menurut saya buku ini sangat brilian. Saya menyukai kerumitan plotnya yang membingungkan itu. Buku ini juga tebal, mencapai 500 halaman lebih. Tiap kali Aidan Bishop menempati host yang berbeda selalu ada kejutan yang pada alurnya. Butuh kesabaran dan konsentrasi penuh untuk bisa memahami dan menikmati alur cerita misteri novel ini. Tapi upaya ini benar-benar membuahkan hasil yang sepadan ketika pada akhirnya labirin misterinya terbuka satu persatu. Penyelesaian kasusnya pun tak terduga. Selain unsur misterinya yang brilian itu, saya juga menyukai sisi perenungan dan pesan yang dibawa oleh tokoh-tokohnya. Seringkali tokoh utama di buku ini mendapati dirinya bertentangan secara pikiran dan keinginan dengan host yang sedang ia tempati. Dilema adalah hal yang umum kita jumpai dalam kehidupan realita. Ada aspek moral juga yang bertentangan satu sama lain ketika Aidan ternyata menyukai Evelyn tapi ia harus membiarkan pembunuhan itu terjadi agar bisa menemukan pembunuhnya dan bisa bebas dari siklus Blackheath. Hal-hal seperti ini membuat novel ini bukan sekadar novel thriller misteri biasa.

Sebuah kasus pembunuhan tanpa pembunuhan adalah kasus terberat dalam genre ini. Versi lebih sederhananya pernah saya temukan juga dalam salah satu buku Agatha Christie. Tapi Stuart Turton dengan cerdik mengolah ide cerita lingkaran waktu untuk membawa kita pada permasalahan tersebut. Kematian Evelyn yang berulang-ulang membuat cerita menjadi lebih mengerikan. Meski beberapa hal dalam cerita memang kurang masuk akal, tapi siapa yang peduli, menuru saya ide ceritanya memang benar-benar original dan cerdik luar dalam.

 

 

Siapa Stuart Turton

Stuart Turton adalah jurnalis perjalanan lepas yang sebelumnya bekerja di Shanghai dan Dubai. The Seven Deaths of Evelyn Hardcastle adalah novel debutnya. Stuart memenangkan the Brighton and Hove Short Story Prize dan telah lama terpilih dalam kompetisi BBC Radio 4 Opening Lines. Dia tinggal di London barat bersama istri dan putrinya.

 

Stuar Turton mendapat gelar dalam Bahasa Inggris dan Filsafat, yang membuatnya sangat baik dalam berdebat dan menulis. Ia pernah mengajar bahasa Inggris di Shanghai, bekerja untuk sebuah majalah teknologi di London, menulis artikel perjalanan di Dubai, dan bekerja sebagai jurnalis lepas. 

Novel debutan Stuart Turton berjudul The Seven Deaths of Evelyn Hardcastle di Inggris, dan The 7 1/2 Deaths of Evelyn Hardcastle di AS. 

 

The Seven Deaths of Evelyn Hardcastle mendapatkan rating 4.3 di Amazon dan 4 Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang menyukai genre psycho thriller - mystery - detective. Kasus pembunuhan tanpa pembunuhan adalah ide utama cerita. Ada permainan waktu dalam cerita. Alurnya maju dengan cepat, campuran maju dan mundur secara (sangat) acak. Tokoh-tokohnya cukup banyak dan masing-masing memainkan peran yang penting dalam penyelesaian misteri. Konfliknya menarik, melibatkan lingkaran waktu, dan misteri pembunuhan masa lalu. Ini jenis buku yang membutuhkan kesabaran dan konsentrasi tinggi agar bisa memahami cerita dan menikmatinya. Latarnya detail tidak hanya sebatas fisik tapi juga suasananya. Endingnya rapi, tapi memang ada bagian yang menyisakan pertanyaan. Ada sisi moral dan filosofinya. Tidak ada adegan sadis atau konten dewasa yang berlebihan.

My Rating : 4.5/5

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Sun is Also a Star - Nic…

25-05-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Sun is Also a Star Penulis : Nicola Yoon Jenis Buku : Teen Romance Penerbit : Random House Children's Publishers UK Tahun Terbit : April 2019 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku :  12.90...

Read more

Review Buku The Near Witch - V.E. Schwab

23-05-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Near Witch Penulis : V.E. Schwab Jenis Buku :  Fantasi Penerbit : Titan Books Tahun Terbit : Maret 2019 Jumlah Halaman :  320 halaman Dimensi Buku :  8.4 x 5.2 x 1.2 inci Harga : Rp.220.000 *harga...

Read more

Review Buku Keep Going - Austin Kleon

13-05-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : Keep Going - 10 Ways To Stay Creative in Good Times and Bad Penulis : Austin Kleon Jenis Buku : Self Improvement - Penerbit : Workman Publishing  Tahun Terbit : April 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku Five Feet Apart - Rachael Li…

11-05-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Five Feet Apart Penulis : Rachael Lippincott With Mikki Daughtry and Tobias Iaconis Jenis Buku : Teen & Young Adult Death & Dying Fiction Penerbit : Simon & Schuster Children's Publishing Tahun Terbit : Februari 2019 Jumlah...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku Cinta di Dalam Gelas (Dwilog…

21-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Cinta di Dalam Gelas (Dwilogi Padang Bulan #2) Penulis : Andrea Hirata Editor : Imam Risdiyanto Jenis Buku : Fiksi - Roman Penerbit : Bentang Pustaka    Tahun Terbit : Cetakan Kesebelas, November 2017 Jumlah Halaman...

Read more

TERBARU - Cerita Dipidiff

Cafe Krang Kring (a Review)

01-05-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Krang Kring, lucu ya namanya. Seketika mengingatkan saya pada tipe alat komunikasi jaman dulu yang saat digunakan harus diputar nomornya satu per satu dan kalau ada telepon masuk bunyinya ya...

Read more

Baca Buku Bareng di Perpustakaan KPw BI …

10-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Teman-teman pernah ke Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat? Kalau saya baru kali ini. Sebenarnya BI corner sudah familiar sih buat saya, karena bolak-balik ke Dispusipda Jabar selalu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Revi…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more