Review Buku Finding My Voice - Nadiya Hussain

Published: Monday, 03 August 2020 Written by Dipidiff

 

Judul : Finding My Voice

Penulis : Nadiya Hussain

Jenis Buku : Memoir

Penerbit : Headline

Tahun Terbit : April 2020

Jumlah Halaman :  352 halaman

Dimensi Buku :  5 x 1 x 8.8 inci

Harga : Rp. 189.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781472259974

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

To everyone with a voice.

Those in pursuit, for a voice, lost.

A voice they dream of having.

The voice they wish they had.

Because life happens.

And with it we lose, we gain and grow.

 

It is there somewhere.

I've found it today. It may be gone tomorrow.

But for now I have it.

 

Tbis is for you. this is for us.

 

To the  loves of my life.

Abdal, Musa, Dawud and Maryam.

 

Nadiya Hussain lahir di Luton. Keluarganya beremigrasi ke Inggris. Di buku ini Nadiya menempatkan dirinya dari beberapa sudut pandang peran yang ia miliki, yakni sebagai seorang anak perempuan, saudara perempuan, seorang muslimah, seorang istri, menantu, dan seorang ibu yang juga seorang wanita. Dalam hidupnya ia menemukan berbagai hambatan dan pergolakan batin yang tidak sedikit. Apalagi seringkali pemahamannya berbenturan dengan adat, budaya, sosial, dan agama. Dan masalah-masalah ini adalah problema yang umum dihadapi oleh semua orang.

Bab per bab buku ini ditulis dengan apa adanya, baik bahasa maupun maknanya. Ada kehangatan dan kejujuran di sana yang menyentuh hati tiap pembaca. Ia juga menulis dengan humor dan sarkasme yang menggigit. Apa yang penting dan bermakna disampaikan dengan penuh keterbukaan dan perasaan, termasuk di dalamnya berbagai pengalaman ketika ia menjadi selebriti, pemenang The Great British Bake Off, orang baru dalam dunia maya, dan memasuki peran baru sebagai presenter TV. Orang-orang yang mencintainya banyak jumlahnya, tapi yang benci karena warna kulit, gender, ras, dan agamanya juga ada. Tapi Nadiya selalu berusaha berpikir positif dan menjalani kehidupannya dengan berani.

 

 

Yuk kita intip daftar isinya.

Introduction

  1. Daughter
  2. Sister
  3. Granddaughter
  4. Wife
  5. Daughter-in-law
  6. Ma
  7. Earner
  8. Cook
  9. Username
  10. Woman

Acknowledgement

Index

Recipe Index

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Soal warna jangan ditanya lebih jauh ya, sebab sejujurnya ini bukan warna favorit saya. Tapi angle profil Nadiya Hussain di sampul buku ini bagus menurut saya karena menonjolkan profil penulisnya, tokoh pusat cerita, dan karena memoar ini membawa banyak pesan dan inspirasi berikut isu-isu tertentu, dengan melihat gambar Nadiya di sampul buku, saya dengan segera jadi tertarik ke buku memoar yang satu ini. Catatannya adalah tidak ada gambaran soal masak-memasak, dan buat saya yang tidak familiar dengan nama Nadiya Hussain, fakta besar ini jadi terlewat begitu saja, yang kalau saja diekspos akan membuat rasa penasaran saya jadi dua kali lipat.

 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Saya ingat, saya sudah lama sekali tidak membaca buku memoar. Buku memoar yang terakhir saya baca itu Becoming yang ditulis oleh Michelle Obama. Tidak perlu dibahas panjang ya buku Becoming :), karena saya yakin teman-teman pasti tahu buku ini karena sangat populer sampai sekarang (masih bestseller di Amazon, dan sekarang berada di urutan ke empat Amazon Charts).

Nah, buku memoar yang saya baca saat ini judulnya Finding My Voice ditulis oleh Nadiya Hussain. Buku ini sangat menarik menurut saya karena bukan saja penulisnya merupakan wanita kulit berwarna, dia juga dari keluarga imigran muslim, tapi terutamanya karena Nadiya adalah primadona dunia kuliner di Inggris (dan di dunia karena dia populer ternyata). Nadia memenangkan Great British Bake Off, sebuah kompetisi baking di tv di Inggris pada tahun 2015. Nadiya juga menulis buku-buku masakan yang bestseller, mempublikasikan buku untuk pembaca muda, kolumnis The Times, dan presenter BBC shows. Keren sekali ya :).


⁣Kisah di buku memoar ini sendiri dimulai dari momen kelahira Nadiya yang disambut dengan kurang antusias oleh ayah dan keluarganya lantaran yang diharapkan sebenarnya adalah anak laki-laki (dua anak sebelumnya semuanya perempuan). Ayahnya bahkan berteriak "Bastard!" ketika ia tahu ibunya Nadiya melahirkan bayi perempuan. Dari sini kita bisa membayangkan episode kehidupan Nadiya Hussain sebelum dia menjadi public figure. Ada banyak perjuangan yang ia lalui, termasuk di antaranya bahkan pelecehan seksual dan diskriminasi ras.

 

Tiap awal babnya ada puisi yang dikarang oleh Nadiya Hussain.

DAUGHTER

Door to where?

Door to here.

Right here. Right now.

You and this door to somewhere.

This, door to where?

Your door to here.

Your door to somewhere.

 

SISTER

This is a club. And exclusive one

For members only.

 

Clubs some with rules.

The rules are as follows.

 

Protect, no matter what.

At your own detriment.

 

You are friends; some feuds are allowed.

But for a maximum of eleven minutes.

 

You don't always have to be brave.

It is desirable. Pretend if you have to.

 

Try to stay alive.

For as long as is physically possible.

 

But if you have to die.

Which you do.

Die in the order you were born.

 

It's only fair.

Page 29

Picture: Puisi di tiap awal bab



Memoar ini ditulis dengan baik dan terasa original gaya bahasanya. Keunikannya terasa, begitu pula sudut pandangnya yang personal. Ada humor, kecerdasan, dan kejujuran yang menyentuh hati. Tentu saja tidak semua kisah hidup Nadiya bahagia, ada satu episode yang bahkan sangat kelam, yakni ketika Nadiya menjadi korban pelecehan seksual sehingga ia begitu depresi dan nyaris bunuh diri. Tapi lihatlah Nadiya Hussain yang sekarang, yang begitu berani menghadapi kehidupan lalu berhasil menemukan identitas diri dan kebahagiaannya :).

Unik dan menyentuh adalah dua kata yang saya miliki untuk menggambarkan seperti apa buku Finding My Voice. Di buku ini, Nadiya berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang figur yang hidup, ia mengungkapkan episode demi episode dalam hidupnya dengan sentuhan emosi dan sudut pandang yang personal. Ia juga lucu dan humornya sarkasme, membuat saya sesekali tersenyum bahkan tertawa lepas saat menyimak kisah hidupnya.

Bagian yang saya kutipkan di bawah ini adalah momen ketika ayahnya Nadiya kesulitan menyampaikan kelahiran putrinya karena kata cucu perempuan dan cucu laki-laki itu sangat mirip dan kakeknya kurang berpendengaran. Lalu kutipan selanjutnya adalah penggambaran kakak perempuannya dengan fisik dirinya sendiri yang kulitnya lebih berwarna. Ini sarkasme yang penuh humor menurut saya :).

The problem was that the word for grandson is nathi. Not great of you are hard of hearing. But my grandad was not, he can't have been, at least not in his late forties, and even if he was, I am not having it as an excuse! So, anyway, my dad started his conversation quietly with a coy:

“You have another nathin.”

“A nathi! All praise be to Allah!”

“No, you have another nathin.”

Dad got louder. My grandad got deafer. Dad became even louder still. Were my grandad's ears hearing what his brain desperately wanted to tell him?

“A nathi! All praise be to Allah!” he cried to my grandma as she waited apprehensively next to him.

“Nathin, nathin, nathin!” Dad repeated. My grandad heard this time.

‘Okay,’ he replied. ‘Well, that's good!”

...

Page 9

 

I always felt a tiny bit sorry for her as a kid, balanced out with intense jealously. The scale tipped slightly more towards jealosly, being the more substantial end. Mostly jealousy. She was, she still is, incredibly beautiful. Slight, slim, with skin so fair, only she could play Snow White in a panto full of brown kids. I know, blows my mind too. I'm brown, same parents! How? She was so fair she even had pink cheeks. Actual pink cheeks! When I blush my cheeks look like someone has punched me in the face. Like a black eye, purple and blue, has slipped down onto my cheek in my sleep. ...

Page 36



Salah satu cerita yang paling saya sukai di buku ini adalah momen dimana Nadiya menikah dengan Abdal, yang setelahnya baru saya tahu kalau ini pernikahan perjodohan. Di buku ini ia membagi perasaannya yang terdalam di momen-momen itu, termasuk ketika serangan panik yang ia alami saat pertama kali menerima pesan singkat dari suami masa depannya itu, juga tentang kesedihan dan kesepian yang ia alami saat ia dibawa pergi oleh suaminya untuk tinggal bersama keluarga yang asing baginya. Tapi cinta datang kepadanya, dan ketika saya mencari tahu lebih banyak tentang episode ini di luar cerita yang ada di buku, ternyata mereka menikah kembali kemudian atas keinginan diri mereka sendiri. Sweet yaa :)

Kekhususan memoar ini juga ada pada sisipan resep-resep Nadiya. Setiap resep ada cerita dibaliknya. Semua suka cerita kan ya, begitupun saya. Resep Chicken Curry yang ada di akhir bab The Wife, adalah resep dan masakan pertama yang Nadiya masakkan untuk suaminya setelah mereka menikah. Kala itu Nadiya merasa panik, sedih, dan sepi, sehingga menarik diri dari suaminya. Abdal pun tidak banyak bicara. Sebagai pengantin baru yang hanya bertemu sekali sebelum menikah dan dijodohkan, mereka merasa asing satu sama lain. Tapi ketika Nadiya memasakkan Chicken Curry dan Abdal memuji masakannya, seketika suasana menjadi cair dan mereka menemukan kehangatan satu sama lain. "This is delicious", and "You are delicious. Would you like to see your family this weekend?" Said Abdal. *Oh that's really sweet 😍. Gara-gara bagian ini, saya langsung mencari tahu di google seperti apa wajah Abdal, dan ternyata dia memang setampan yang Nadiya gambarkan dalam bukunya. Mereka juga punya keluarga kecil yang tampak bahagia ☺.⁣

Resep yang saya kutipkan di bawah ini adalah resep yang ada ketika Nadiya menceritakan kisah tentang ibunya. Saya sendiri punya momen-momen seperti ini, masakan-masakan yang mengingatkan saya pada masa kecil, pada almarhumah ibu saya, dan resep itu memang berharga, serta secara khusus saya masakkan karena kenangan pada beliau dan pada rumah.

TENGA

This is the dish that permeated out from under the kitchen floor and crept up the stairs and in through our bedroom door. This is the aroma that reminds me of my mum, my grandad, her loss, her salty tears and her dynamic strength. When I was learning to cook, this is the one I asked to learn first. It fills me with joy that it is now a favourite with all our kids too. Sometimes I cook it to remind me of my mum and her love for the real love of her life, her baba.

Feeds 4

You will need:

6 tbsp olive oil

10 cloves of garlic, minced

6 tomatoes, quartered

1 chili, split lengthways

1 tsp fine salt

½ tsp ground turmeric

½ tsp chili powder

3 cod loins (roughly 375g), chopped into small chunks

Handful of fres coriander, chopped.

How to make it:

Add the oil to a hot pan and add the garlic, turning down the heat so the garlic doesnt burn. When the garlic is brown, add the tomatoes and cook till they are totally mushy and broken down.

Now add the chili and salt and cook for just a few minutes more. Add the turmeric and chili powder and cook for a nother few minutes.

Add the chopped fish and put the flame down to a really low heat. Pop on the lid and leave for about 5 minutes, just long enough to make a cup of tea.

Take off the lid and the fish should be cooked. Add 300ml or warm water. Mix and cook for just 5 minutes with the lid off.

Take off the heat, add the fresh coriander and serve with hot rice.

 

 
Bab-bab lain yang ada di buku ini berurutan sesuai dengan episode kehidupan Nadiya⁣. Narasinya juga selalu lekat dengan hal-hal seputar makanan dan masakan. Setiap bab diakhiri dengan resep masakan berikut momen istimewa yang ada di balik resep itu. "Cooking with love" adalah kalimat yang kadang hanya dipahami oleh mereka yang memang mencintai dunia masak-memasak, tapi melalui buku ini, saya pikir Nadiya berhasil menyampaikan makna dan perasaan yang ada dalam kalimat itu, bahkan untuk mereka yang tidak suka masak sekalipun.

I should say being a sister, a teammate, a piece of the puzzle, is, or should be, a piece of cake. Not the kind of cake that requires fifty-six eggs, two ovens, wooden dowels, a second-hand chainsaw and a small refrigerated Transit van to transport it. More like a Victoria sponge, a simple Victoria sponge, uncomplicated and easy. Being a sister is like that kind of cake: effortless enough, easy, uncomplicated and straightforward. Till of course you realise you only have one tin that is two sizes too big, the oven works (just about) but the light  is on the blink again, so you know that as soon as the door is shut, the light will go out. You will be left waiting, wondering, “Can I judge if my cake is ready just by the way it smells? Because I sure as hell can't see if it's ready!’ Not to mention you've forgotten to take the butter out of the fridge and it's so hard, it feels like it has been refrigerated on top of Ben Nevis, and you just dropped the only egg you have left on the concrete floor. It's that kind of Victoria sponge: simple and easy, in theory. Till the universe decides to teach you that you can have your Victoria sponge, but not without a fight.

Page 30

... . Relieved, she turned her attention to preparing the food, scraping the remains of a salad onto a large plate, then mulching it with her hands. The best kind of mulchy onion and tomato salad you will ever taste. But only her hands and her salad. Mum's never tasted like hers. She used the same ingredients – she practically had the same hands – and still hers was never quite like Nan’s.

...

As I waited to eat her lemon chicken, she prepared her mulchy salad and rice. She was tiding us over, before the chicken was ready. Those were not the days of a packet of crisps or a biscuit. It was rice and curry, rice and curry or rice and curry. They were the options. So it was a treat when she opted for rice and salad. Out there! I stood on her bouncy, camel-coloroud, striped chairs and lifted mysefl up with support of the windowsill to see if her ...

Page 78

 

Satu hal yang membuat buku ini menarik dan menginspirasi adalah isu-isunya yang berkaitan dengan perempuan. Ada diangkat tentang ketidaksetaraan gender, tentang cinta dan pernikahan, tentang konflik mertua-menantu perempuan, tentang seorang ibu, dan pergolakan batin wanita. Perempuan itu kuat tapi rapuh, terutama ketika sudah menyangkut hati dan perasaan. Dan siapa sangka Nadiya yang begitu percaya diri di acara-acara televisinya, ternyata punya panic disorder sejak remaja. Di buku ini Nadiya juga dengan jujur membagi pengalamannya seputar media sosial yang tidak semuanya menyenangkan. Ada haters dan diskriminasi ras serta kebencian terhadap agama yang ia hadapi. Sebagai public figure, ada banyak orang yang memujanya dan ada yang mencacinya.

Bagian yang saya kutipkan di bawah ini adalah kejadian saat Nadiya mengalami pelecehan seksual di masa sekolahnya dan itu membuatnya hampir saja memutuskan untuk bunuh diri.

Because no matter how much I tried to hide, they were there. They came in a short-sighted foolish double act. The kind that though that they were really amusing but they were the act and they were their own audience too. My previous attempts to ask for help had been futile.

‘Miss, I'm being bullied.’

‘Ignore them and they will go away.’ I ignored them and they never went away.

So I stopped ignoring them. They were there. So was I.

As I walked out that lunchtime, one of the dopey double act  - always the same one – gave me a greeting with a willy, peering out of his grey trousers he would wait unzipped, ready to show off his wares. I know now as an adult that he would have worked on it, waiting for my imminent arrivel, to get it into the aroused state. ...

Page 61

 

‘You're disgusting, you black bitch!’

He grabbed my hair. The only time I have ever been pleased to have hair so short you couldn't grab it from the back. But enough hair to draw some blood. Then they held my hands down into the hinge of the Portakabin door I had just walked out of, carefree ....

Page 62

 

Berikut ini bagian yang menceritakan diskriminasi ras, dan soal sosial, adat dan budaya.

‘They don't like us brown people,’ she said. She carried on mixing her rice on a large plate, in a circular motion that was almost mesmerising in its action as her wrists circled the rim.

Page 79

 

Why did I want a husband?

I'm twenty for God’s sake.

Everyone I know is at university.

Why am I here?

I wanted to go to university but that was never going to happen; it wasn't allowed. I wanted freedom but the curfew was so extensive, freedom seemed pointless, untouchable. I wanted a way out because it was the only way I could be me. Or so I thought. Even though I didn't know who I was. I wanted to learn. But I wasn't allowed to do that alone. I had to have a guardian. A husband could be my way out. Or my way in. To where, I don't know, but it was never going to happen here in the confines of family, law, traditions, community, and the whispers... oh, the whispers. Of aunties sitting around, as they quietly judges one another ‘s daughters. On what merit? Who was the snowiest of skin? Who had the most pointed, Caucasion nose? Who was the slightest? Who spoke with the stillest of voices?

Page 110

Bab tentang Motherhood terasa related to me yang juga seorang ibu. Menjadi ibu itu seperti mendapatkan kehormatan, tapi perjuangan memaknai perannya juga luar biasa. 

What does it mean to be a mum? Being a mum is being so afraid of your own child that you don't even know who is in control any more. Being so fearful of your thoughts that you live one life in your head, a dark sad place, and another facing outward, all smiles and rosy, like you know exactly what you are doing.

...

Page 207

 

Nadiya Hussain sudah menulis sejak ia remaja, jadi saya tidak terkejut mendapai buku ini ditulis dengan kualitas penulisan di atas rata-rata. Saya juga mendapatkan inspirasi tentang menulis dari buku ini, yakni ketika seorang guru Nadiya memberikannya tugas untuk menemukan sebuah buku yang "dia banget", lalu membaca dan menuliskan alasan mengapa karakter dalam buku atau cerita di buku itu sangat beresonansi dengannya, tapi lalu Nadiya tidak menemukan satu bukupun untuk diberikan kepada gurunya saat hari pengumpulan tugas. Di momen ini, guru tersebut berkata, "That is why we need more writers of different backgrounds, ethnicities, religions, and culture. You should keep writing." (p. 237). 

‘Find a book that you relate to, read it and write a thousand words on why you relate to a character in the book , or the story in the book,’ my GCSE Englisht teacher once said. Class dismissed. I searched library after library, bookshop after bookshop and still nothing. Not one book, not one blurb, not one cover, nothing. That was the only time I went back to my English language lesson empty-handed. ‘That is why we need more writers of different backgrounds, ethnicities, religions, and culture,’ my teacher said. ‘You should keep writing.’

Page 237

 

Saya berasumsi Nadiya Hussain memberi judul bukunya dengan kalimat Finding My Voice karena buku ini berisi perjalanannya menemukan kehidupan, menemukan tujuan hidup, dan membagi tujuan hidup yang ia temukan itu untuk menginspirasi semua perempuan yang ada di dunia. Kita semua bisa seperti Nadiya, yang berjuang sepanjang hidupnya untuk mendapatkan identitas dan kebahagiaan.

But all of that has brought me to an unlikely place now, right in front of a camera. They call it being a presenter in this industry. What is a presenter and what am I presenting? Well, myself. What do I have to present? Apart from a scruffy English accent and a face so agile that it won't let me lie. I thought I was going to become a social worker, not a presenter. But here I am. Make-up done, I stand in front of the bright lights. Pulling at my shirt, tugging it, as I suck in my belly and look at my silhouette in the reflection of the glass French doors.

...

Page 238

 

Di buku ini kita bisa mendapatkan banyak inspirasi dan insight yang mendalam tentang kehidupan. Salah satunya tentang bangga menjadi diri sendiri, karena seperti Nadiya yang bekerja paruh waktu, yang bekerja menjadi asisten rumah tangga, yang bekerja sambil bersekolah, ia tak merasa malu karenanya karena bekerja baginya adalah berkontribusi dan dengan melakukan sesuatu ia mendapatkan manfaat, kemandirian, dan pengalaman hidup.

 

 

Siapa Nadiya Hussain

Nadiya Hussain dilahirkan di Luton dari orangtua Inggris - Bangladesh. Ia adalah juara Great British Bake Off 2015. Ia juga kolumnis reguler untuk The Times dan presenter banyak acara di BBC, di antaranya yaituThe Chrconicles of Nadiya, Nadiya's Asian Odysses, Nadiya's British Food Adventure, Nadia's Family Favourites, dan Time to Eat.

Nadiya menulis buku-buku masakan yang judulnya Nadiya's Kitchen, Nadiya's British Food Adventure, Nadiya's Family Favorite dan Time To Eat. Tiga bukunya dalam seri buku bestseller Bake Me a Storys bestseller, yang salah satunya terpilih untuk British Book Award, diterbitkan oleh Hachette Children's Group, seperti halnya buku gambar pertamanya untuk pembaca yang lebih muda, berjudul My Monster and Me.

Sumber: Buku Finding My Voice

 

Nadiya Jamir Hussain MBE (lahir 25 Desember 1984) adalah seorang koki TV Inggris, penulis, dan presenter televisi. Ia menjadi terkenal setelah memenangkan seri keenam BBC The Great British Bake Off pada tahun 2015. Sejak itu, ia menandatangani kontrak dengan BBC untuk menjadi tuan rumah film dokumenter The Chronicles of Nadiya, serial masakan TV, Nadiya's British Food Adventure dan Nadiya's Family Favorites, ia ikut mempersembahkan The Big Family Cooking Showdown, dan telah menjadi kontributor tetap di The One Show.

Nadiya adalah kolumnis untuk The Times Magazine, ia menandatangani kesepakatan penerbitan dengan Penguin Random House, Hodder Children's Books, dan Harlequin. Nadiya Hussain telah muncul sebagai panelis tamu di Loose Women ITV. Dia diundang untuk membuat kue untuk perayaan ulang tahun ke-90 Ratu Elizabeth II.

Pada 2017, Hussain dinobatkan oleh Debrett sebagai salah satu dari 500 orang paling berpengaruh di Inggris dan masuk dalam daftar 100 Wanita BBC News. Dia juga terpilih sebagai penerima Children's Book of the Year prize di British Book Awards untuk Bake Me A Story, dan dinominasikan untuk bintang Breakthrough di Royal Television Society Awards untuk The Chronicles of Nadiya. Ted Cantle, penulis laporan pemerintah tentang kohesi komunitas, mengatakan Hussain telah melakukan "lebih banyak untuk hubungan Inggris-Muslim daripada 10 tahun kebijakan pemerintah"

Hussain adalah generasi pertama Bangladesh Inggris yang lahir dan besar di Luton, Bedfordshire, tempat ia bersekolah di Beech Hill Primary School, Challney High School, dan Luton Sixth Form College. Dia memiliki lima saudara kandung, dengan tiga saudara perempuan dan dua saudara laki-laki. Ayah Hussain, Sylheti, berasal dari Beanibazar, adalah seorang koki dan memiliki sebuah restoran India. Ia mulai mengenakan jilbab pada usia 14 tahun untuk menutupi "rambutnya yang buruk lebih dari yang lain" karena ayahnya "memotongnya dengan sangat buruk." Sebagai seorang remaja ia didiagnosis menderita gangguan panik dan menjalani perawatan, terapi perilaku kognitif. Dia mengungkapkan perjuangannya di kesehatan mentalnya dalam film Sport Relief dan mengatasi kecemasan masa kecilnya dalam bukunya, My Monster and Me.

Hussain belajar keterampilan memasak dasar di sekolah; ibunya tidak pernah memanggang dan menggunakan oven. Dia belajar sendiri dari buku resep dan menonton video di YouTube. Buku favoritnya adalah buku bertema kue karya novelis Irlandia Marian Keyes.

Pada saat The Great British Bake Off, Hussain adalah "seorang ibu penuh waktu" yang tinggal di Leeds bersama suaminya, seorang spesialis IT, dan tiga anak, ketika sedang belajar untuk mendapatkan gelar Universitas Terbuka di jurusan Childhood and Youth Studies. Ketika dia memenangkan kompetisi tahap final, mereka pindah ke Milton Keynes, lebih dekat ke London, sehingga dia bisa mengejar karir kuliner

 

2015: The Great British Bake Off
Pada 2015, Hussain muncul dan memenangkan seri keenam The Great British Bake Off yang ditayangkan mulai 5 Agustus hingga 7 Oktober. Selama final ia memanggang 16 es roti dalam tiga jam, serta mille-feuille rasa raspberry, ke salah satu resep Paul Hollywood, dalam dua jam, dan showstopper presentasi berlapis-lapis yang mengambil bentuk "My Big Fat British Wedding Cake ", dalam waktu empat jam. Selama pidato penerimaannya, dia berkata:
Aku tidak akan pernah lagi membatasi diriku. Saya tidak akan pernah mengatakan saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak akan pernah mengatakan 'mungkin'. Saya tidak akan pernah mengatakan, "Saya rasa saya tidak bisa." Saya bisa dan saya akan.

Dengan lebih dari 15 juta pemirsa, final adalah acara yang paling banyak ditonton tahun 2015. Penampilannya di acara itu, yang kemudian menjadi tayangan yang sangat populer ditonton banyak orang, dianggap langkah penting menuju pergeseran stereotip tentang komunitas Muslim dan penerimaan tentang keragaman budaya. Hussain mendapatkan banyak pengikut di media sosial berkat pertunjukannya yang menakjubkan dan ekspresi wajahnya yang cerah, para pengikut daringnya menggambarkan diri mereka sebagai "Nadiyators" dan juga mendapat dukungan dari Perdana Menteri David Cameron saat itu.

Pada tanggal 25 Desember, Hussain memulai penampilan cameo di acara BBC One, Big Christmas Show Michael McIntyre direkam di Theatre Royal, Drury Lane.

 

2016: The Chronicles of Nadiya
Pada Agustus 2016, Nadiya menjadi presenter 'a two-part food travelogue', The Chronicles of Nadiya, di BBC One, di mana ia melakukan perjalanan ke Bangladesh untuk melacak akar kulinernya. Dia mengunjungi desa kakek ayahnya di Sylhet di timur laut Bangladesh. Dia memasak untuk awak salah satu kapal uap dayung terkenal di negara itu, dan mengunjungi desa di tepi sungai di mana mereka masih berlatih seni kuno memancing berang-berang. Di ibukota Dhaka, dia membantu 'Thrive', sebuah badan amal yang mengantarkan makanan untuk anak-anak sekolah yang kekurangan. Episode pertama dimulai segera setelah The Great British Bake Off pada 24 Agustus, dan ditonton oleh 4,5 juta pemirsa, 20,5% bagian dari semua pemirsa televisi selama slot siaran. Serial ini dinominasikan di National Television Awards 2017 di bawah 'Factual Entertainment'. Hussain dinominasikan untuk bintang Terobosan di Royal Television Society Awards 2017.

Pada November 2016, Hussain menjadi juri pada seri keempat Junior Bake Off di CBBC. Hussain menggantikan Mary Berry di acara kompetisi di mana 40 anak berusia antara sembilan dan dua belas bersaing untuk membuat kue dan camilan terbaik.

Pada 21 Desember 2016, Hussain menyajikan pertunjukan masakan selama dua jam di rumahnya di BBC Radio 2 bersama Olly Smith sebagai bagian dari susunan radio Natal BBC. Acara ini adalah program barunya yang pertama setelah menandatangani kesepakatan untuk menjadikan BBC sebagai 'rumah', menampik spekulasi bahwa ia akan bergabung dengan Bake Off versi Channel 4.

 

2017: Nadiya's British Food Adventure
Dari Juli hingga September 2017, Hussain mempersembahkan Nadiya's British Food Adventure, sebuah seri delapan bagian di BBC Two. Hussain melakukan perjalanan ke seluruh negeri, mengunjungi produsen makanan, dan kemudian kembali ke dapurnya untuk memasak menggunakan bahan-bahan yang ditemukan dalam perjalanannya. Buku masakan tie-in, yang diterbitkan oleh Michael Joseph, menampilkan resep-resep baru yang menggunakan bahan-bahan Inggris yang dimasak dalam gaya Bangladesh, seperti roti telur Masala, puding Yorkshire dengan biji chia dan pakella terong dengan saus tomat.

Dari Agustus hingga November 2017, Hussain bersama-sama mempersembahkan The Big Family Cooking Showdown bersama Zoë Ball. Hussain meninggalkan pertunjukan setelah akhir seri satu untuk fokus pada pertunjukannya sendiri, Nadiya's Family Favorites, dan menyebutkan keputusan tersebut lahir dari keinginannya untuk kembali memasak.

 

2018: Nadiya's Family Favourites
Pada Juli 2018, serial masakan TV kedua Hussain ditayangkan di BBC Two.

 

2019: Time to Eat
Hussain muncul dalam seri enam bagian baru di BBC Two, Time To Eat. Acara ini akan mencakup berbagai 'time-saving kitchen hacks' dan resep yang dirancang untuk menghemat waktu dan memungkinkan keluarga untuk tetap sesuai anggaran. Tanggal tayang acaranya diperkirakan akan diadakan pada musim panas 2019.

Acara ini memasuki katalog Netflix pada April 2020

 


Hussain telah muncul sebagai reporter untuk The One Show di BBC One.

Hussain adalah presenter tamu di Loose Women. Ia mengumumkan di program itu bahwa dia telah diberi kehormatan memanggang kue ulang tahun ke-90 Ratu Elizabeth II, an orange drizzle cake with orange curd and orange butter cream. Hussain berkata: "Ketika saya memberi tahu anak-anak (saya membuat kue untuk Ratu), anak-anak itu hebat dalam menjaga rahasia. Saya memberi tahu putri saya dan dia berkata, 'Oh Mary Berry? Anda sudah membuat banyak kue untuk Mary Berry '.

Pada 13 Agustus 2016, Hussain muncul sebagai bintang tamu di BBC Island 4's Desert Island Discs, dan diwawancarai oleh Kirsty Young. Dia membuka kisah hidupnya tentang perjuangannya sebagai seorang ibu muda, isolasi sosial yang diderita oleh beberapa wanita Muslim dan bagaimana kepercayaan dirinya tumbuh selama Bake-Off. Dia menggambarkan pelecehan ras yang masih dia terima di jalan dan, bertekad untuk menjadi panutan yang baik bagi anak-anaknya.

Pada 9 Desember 2016, Hussain menjadi bintang tamu di BBC One, The Graham Norton Show.

 

Karier menulis

Nadiya Hussain adalah Editor Kontribusi untuk merek media makanan terbesar di Inggris, BBC's Good Food. ia juga menulis kolom bulanan untuk The Times Magazine, bagian dari suplemen The Times pada hari Sabtu, dan sebelumnya adalah kolumnis untuk majalah Essentials.

Resepnya juga muncul di majalah Good Food BBC, The Guardian dan The Telegraph.


Hussain menandatangani kontrak dengan penerbit Inggris Michael Joseph, bagian dari Penguin Random House, untuk buku debutnya Nadiya's Kitchen, yang merupakan kumpulan resep yang ia masakkan untuk teman dan keluarga. Pada tahun 2017, Michael Joseph menerbitkan buku masakan tie-in untuk seri masakan BBC2 delapan bagian Hussain dengan nama yang sama, Nadiya's British Food Adventure.

Hussain menulis buku cerita dan resep anak-anak, Bake Me A Story, yang diterbitkan oleh Hodder Children's Books, yang memadukan versi dongeng yang diperbarui. Pada tahun 2017, Bake Me A Story terpilih sebagai Children's Book of the Year prize di British Book Awards. Menyusul keberhasilan ini, kompilasi buku resep dan buku cerita kedua, Bake Me a Festive Story karya Nadiya diterbitkan pada Oktober 2017.

Berdasarkan grafik penjualan buku tahun 2016 dari 100 buku Makanan & Minuman Teratas, yang disusun oleh analis industri Nielsen, menempatkan buku Hussain, Nadiya's Kitchen dan Bake Me A Story, masing-masing di tempat ketiga dan keempat.

Nadiya merilis novel pertamanya, The Secret Lives of Amir Sisters, pada Januari 2017 dengan bantuan dari penulis Ayisha Malik.

Buku autobiografinya yang berjudul Finding My Voice dipublikasikan pada tahun 2019 oleh Headline Publishing Group. Di dalamnya terdapat resep dan puisi ciptaannya sendiri.

 

Koleksi Peralatan Rumah Tangga
Pada tahun 2018, Hussain meluncurkan jajaran Homeware-nya sendiri bekerja sama dengan BlissHome. Koleksinya menampilkan desain di berbagai peralatan makan lengkap, serta rak bumbu, lilin, celemek, sarung tangan oven, dan handuk teh.

Hussain's Make Life Colourful Range dari BlissHome memenangkan 'Best Brand Licensed Homewares Product or Range' di 2019 Brand & Lifestyle Licensing Awards.


Nadiya ditugaskan oleh Istana Buckingham untuk memanggang kue Elizabeth II sebagai bagian dari perayaan ulang tahunnya yang ke-90. Nadiya Hussain memilih untuk membuat 'an orange drizzle cake with orange curd and orange buttercream'.

 

 

Kehidupan pribadi
Pada usia 20, Hussain menikahi Abdal Hussain, yang hanya pernah dua kali dia temui sebelumnya, dalam pernikahan yang diatur; mereka menikah dalam upacara tradisional di Bangladesh. Nadiya mengungkapkan perjuangannya pernikahan yang dijodohkan. Pada Desember 2018, dia dan suaminya menikah kembali karena keinginan mereka sendiri. Mereka memiliki dua putra, Musa dan Dawud, dan seorang putri, Maryam.

Nadiya Hussain adalah duta besar untuk Starlight Children's Foundation, yang mendukung kehidupan anak-anak yang sakit parah dan duta besar WaterAid. Ia menunjukkan dukungannya untuk Hari Gencatan Senjata dengan mengenakan 'jilbab poppy', yang dirancang untuk memperingati jumlah tentara Muslim yang bertempur dalam Perang Dunia Satu serta mempromosikan pemakaian poppy di antara Muslim Inggris. Pada tahun 2018, Hussain menjadi duta besar merek untuk Swarovski pada kampanye yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.

Hussain menderita serangan panik sepanjang hidupnya. Ia menyumbangkan resep membuat kue untuk hari HelloYellow amal kesehatan mental YoungMinds, untuk Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2018.

Dia diangkat sebagai Anggota Orde Kerajaan Inggris (MBE) pada Penghargaan Tahun Baru 2020 untuk layanan penyiaran dan seni kuliner

 

Awards and nominations

2017. National Television Awards (NTA). Factual Entertainment. The Chronicles of Nadiya. Nominated.

2017. Royal Television Society (RTS). Breakthrough Star. The Chronicles of Nadiya. Nominated.

2017. Grierson Awards. Best Documentary Presenter. The Chronicles of Nadiya. Nominated.

2017. Women in Film & Television (UK). Presenter Award. The Chronicles of Nadiya. Won.

2017​. British Book Awards. Children's Book of the Year. Bake Me a Story. Nominated.

2018. RTS West of England Awards. Factual Entertainment. Nadiya's British Food Adventure. Won.

2018. Fortnum & Mason Food and Drink Awards. Programme. Nadiya's British Food Adventure. Won.

2018. National Book Award. Food and Drink Book of the Year. Nadiya's Family Favourites. Nominated.

2019. Brand & Lifestyly Licencing Awards. Best Brand Licensed Homewares Product or Range. Make Life Colourful Range from BlissHome. Won.

2019. Fortnum & Mason Food and Drink Awards. Programme. Nadiya's Asian Odyssey. Won.

 

Filmography

Television
2015. The Great British Bake Off. BBC One. Winner
2015-2016. The One Show. BBC One. Reporter
2015. Saturday Kitchen. BBC One. Guest chef.
2016. Loose Women. ITV. Occasional panellist
2016. The Chronicles of Nadiya. BBC One. Presenter
2016. Junior Bake Off. CBBC. Judge.
2017. Nadiya's British Food Adventure. BBC Two. Presenter.
2017. The Big Family Cooking Showdown. BBC Two. Co-presenter.
2018. Nadiya's Family Favourites. BBC Two. Presenter.
2018. Nadiya's Party Feasts. BBC Two. Presenter.
2018. Nadiya's Asian Odyssey. BBC One. Presenter.
2019. Nadiya: Anxiety and Me. BBC One. Presenter.
2019. Nadiya's Time to Eat. BBC Two/ Netflix. Presenter.
2020. Nadiya Bakes. BBC Two. Presenter.
2020. Nadiya's American Melting Pot. BBC One. Presenter.

Bibliografi

Biografi. 2019. Finding My Voice. Headline Home.

Cookery. 2016. Nadiya's Kitchen. Michael Joseph (Penguin Books).

Cookery 2017. Nadiya's Britich Food Adventure. Michael Joseph (Penguin Books). Tie-in TV Series.

Cookery 2018. Nadiya's Family Favourites. Michael Joseph (Penguin Books). Tie-in TV Series.

Cookery 2019. Time to Eat. Michael Joseph (Penguin Books). Tie-in TV Series.

Cookery 2020. Nadiya Bakes. Michael Joseph (Penguin Books). Tie-in TV Series.

Children's. 2016. Nadiya's Bake Me a Story. Hodder Children's Books.

Children's. 2017. Nadiya's Bake Me a Festive Story. Hodder Children's Books.

Children's. 2018. Nadiya's Bake Me a Celebration Story. Hodder Children's Books.

Children's. 2019. My Monster and Me. Hodder Children's Books.

Fiction. 2017. The Secret Lives of the Amir Sisters. Harlequin.

Fiction. 2019. The Fall and Rise of the Amir Sisters. Harlequin

Fiction. 2020. The Hopes and Triumphs of the Amir Sisters. Harlequin.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk semua pembaca yang mencari genre memoar tentang muslim wanita, yang berlatar keluarga imigran muslim, yang episode kehidupannya penuh perjuangan, dari perisakan, pelecehan seksual, ketidaksetaraan gender, panic disorder, hingga berbagai problema kehidupan yang umum dihadapi kita semua, tapi kemudian bisa bangkit dan menemukan kebahagiaan, menjadi public figure yang dibanggakan melalui pencapaiannya di bidang masak-memasak. Di dalam buku ini ada resep-resep penuh kenangan dan puisi-puisi dari Nadiya Hussain.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Storm Runner - J.C. Cerv…

20-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  No.1 New York Times Bestseller    Judul : The Storm Runner Penulis : Jennifer Cervantes Jenis Buku : Middle Grade - Fantasy Penerbit : Rick Riordan Presents  Tahun Terbit : Agustu 2019 Jumlah Halaman : 464 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku If It Bleeds - Stephen King

16-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

*#1 NEW YORK TIMES BESTSELLER*   Judul : If It Bleeds Penulis : Stephen King Jenis Buku : Horror Literary Penerbit : Scribner Tahun Terbit : April 2020 Jumlah Halaman :  448 halaman Dimensi Buku :  6.38 x 1.42 x 9.37 inci Harga...

Read more

Review Buku Think Like a Rocket Scientis…

07-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    One of Inc.com's "6 Books You Need to Read in 2020 (According to Bill Gates, Satya Nadella, and Adam Grant) Adam Grant's # 1 pick of his top 20 books of...

Read more

Review Buku All The Bright Places - Jenn…

18-08-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  A Netflix Film  New York Times bestselling love story   Judul : All The Bright Places (Movie Tie-In Edition) Penulis : Jenniver Niven Jenis Buku : Romance Penerbit : Ember Publishing Tahun Terbit : Februari 2020 Jumlah Halaman :  416 halaman Dimensi...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku Gulag - Aleksandr I. Solzhen…

05-08-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Karya Sastra DuniaNovel terbaik SolzhenytsinKarya peraih Nobel 1970   Judul : Arhipelag Gulag Penulis : Aleksandr I. Solzhenitsyn Jenis Buku : Fiksi - Sejarah Penerbit : Bentang Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2018 Jumlah Halaman :  664 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku The Fifth To Die - J.D. Bark…

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Fifth To Die Penulis : J.D. Barker Editor : Ani Nuraini Syahara Jenis Buku : Psychological Thriller Penerbit : Bhuana Sastra Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :  740 halaman Dimensi Buku :  13.5 x 20...

Read more

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more