Review Buku Think Like a Rocket Scientist - Ozan Varol

Published: Monday, 07 September 2020 Written by Dipidiff
 
 
One of Inc.com's "6 Books You Need to Read in 2020 (According to Bill Gates, Satya Nadella, and Adam Grant)
Adam Grant's # 1 pick of his top 20 books of 2020
One of 6 Groundbreaking Books of Spring 2020 (according to Malcolm Gladwell, Susan Cain, Dan Pink, and Adam Grant).

 

Judul : Think Like a Rocket Scientist

Simple Strategies You Can Use to Make Giant Leaps in Work and Life

Penulis : Ozan Varol

Jenis Buku : Self Improvement

Penerbit : PublicAffairs

Tahun Terbit : April 2020

Jumlah Halaman :  368 halaman

Dimensi Buku :  15.50 x 23.40 x 2.50 cm

Harga : Rp. 300.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 978-0753553589

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

 

Tidak harus menjadi ilmuwan roket untuk berpikir seperti Neil Amstrong dan sederet para ilmuwan roket yang terkenal dan berhasil dalam hidupnya. Karena dalam buku yang mudah diakses dan praktis ini, Ozan Varol mengungkapkan sembilan strategi sederhana dari ilmu roket yang dapat digunakan untuk membuat lompatan besar dalam pekerjaan dan kehidupan - baik itu mendapatkan pekerjaan impian, mempercepat bisnis, mempelajari keterampilan baru, atau menciptakan produk terobosan berikutnya. Saat ini, berpikir seperti ilmuwan roket adalah suatu kebutuhan. Kita semua menghadapi masalah yang kompleks dan tidak biasa dalam hidup kita. Isi buku ini akan mengungkapkan kebiasaan, ide, dan strategi yang bisa diberdayakan untuk mengubah yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin.

 

 

 

Yuk kita intip daftar isinya:

Introduction:

STAGE ONE: LAUNCH

1. Flying in the Face of Uncertainty

2. Reasoning from First Principles

3. A Mind at Play

4. Moonshot Thinking

STAGE TWO: ACCELERATE

5. What If We Sent Two Rovers Instead of One?

6. The Power of Flip-Flopping

7. Test as You Fly, Fly as You Test

STAGE THREE: ACHIEVE

8. Nothing Succeeds Like Failure

9. Nothing Fails Like Success

Epilogue: The New World

What s Next

Acknowledgement

Notes

Index

 

Just like rockets this book comes in stages. The first stage - launch - is dedicated to igniting your thinking. Breakthrough thinking is fraught with uncertainty, so we  start there. I'lll share with you strategies that rocket scientists use to dance with uncertainty and convert it to their advantage. I'll then turn to reasoning from first principles - the ingredient behind every revolutionary innovation. You'll discover the biggest mistake business make in generating ideas; how invisible rules constrain your thinking; and why substracting, rather than adding, is the key to originality. We'll then cover thought experiments and moonshot thinking - strategies used by rocket scientists, innovative businessess, and world-class performers to transform themselves from passive observers to active interveners in their reality. along the way, you'll learn why it's safer to fly closer to the Sun, how the use of a single word can boost creativity, and what you should do first in tackling an audacious goal.

The second stage - accelerate - is focused on propelling the ideas you created in the first stage. We 'l first explore how to reframe and refine your ideas and why finding the right answer begins with asking the right question. We'll then examine how to spot the flaws in your ideas by switching your default from convincing others you're right to proving yourself wrong. I'll reveal how to test and experiment like a rocket scientist to make sure your ideas have the best shot at landing. Along the way, you'll discover an unstoppable astronaut - training strategy that you can use to nail your next presentation or product launc. You'll hear how Adolf Hitler's rise to power can be expained by the same type of design flaw that caused the 1999 Mars Polar Lander to crash. You'll also learn how the same simple strategy that save hundreds of thousands of premature infants also salvaged the Mark Exploration Rovers mission after it was canceled. Finally, I'll share what one of the kost misunderstoof scientific concepts can teach you about human behaviour.

The third and final stage is achieve. You'll learn why the final ingredients for unlocking your full potential include both success and failure. You'll discover why the "fail fast, fail often" mantra can be a recipe for disaster. I'll reveal how the same breakdown that led to the collapse of an industry giat also caused a space shuttle to explode. I'll explain why companies pay lip service to learrnning from failure but don't follow through in practice. We'll discover the surprising benefits of treating success and failure the same and why top performers see uninterrupted succcess as a warning sign.

By the end of the third stage, instead of letting the world shape your thoughts, you'll let your thoughts shape the world. And instead of simply thinking outside the box, you'll be able to bend the box to your will.

Page 8 

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Terus terang saat liat gambar ilustrasi roketnya agak berasa seperti gambar kartun ya. Tapi kalo diganti dengan gambar roket beneran malah bukunya terasa terlalu serius dan berat. Jadi kesimpulannya menurut saya disainnya sudah tepat demikian. Judulnya yang dicetak ukuran besar juga membuat saya auto penasaran. Warna biru pilihannya saya kira ada kaitannya dengan warna biru langit -angkasa.

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Begitu mendengar kata Rocket Scientist dan NASA, seketika buku non fiksi yang satu ini bikin saya super penasaran, lantaran dua kata tersebut seolah mencerminkan dua hal yang tidak semua orang miliki, yakni “kejeniusan” dan “kemustahilan yang berhasil terwujud”. Saya pernah baca di buku Grit kalo untuk jadi ilmuwan NASA itu cukup tricky karena bukan cuma harus pintar ilmunya tapi juga menguasai soft skill dan mental power. Sekarang hadir di depan kita sebuah buku yang akan memaparkan seperti apa sih otak seorang ilmuwan roket dan katanya baca buku ini bisa bikin kita bisa berpikir seperti mereka. Benarkah itu?

 

Nama Ozan Varol buat saya sama sekali ga terdengar Amerika atau Eropa, lebih ketimur –timuran gitu. Dan ternyata Ozan Varol memang bukan western, dia lahir di Turki pada tahun 1981. Di buku ini Ozan menceritakan sedikit kisah hidupnya yang pada masa kecil ia begitu tertarik dengan planet planet. Ozan bercerita kalau di masa kecilnya, di desa tempat dia tinggal sering mati listrik, lalu ayahnya berusaha menghibur dia dengan menyalakan lilin lalu dengan menggunakan bola kaki ayah Ozan menyimulasikan bagaimana bumi mengelilingi matahari. Lalu ketertarikan ini membawanya pada jurusan Planetary Science di Cornell University dimana dia menjadi anggota tim NASA's 2003 Mars Exploration Rover project. Ozan menyatakan dirinya penggemar Carl Sagan. Nah saya yakin nama besar Sagan familiar buat teman-teman yang suka dunia astronomi. Seorang legend. Dari pengalamannya sebagai the real rocket scientist inilah Ozan mengolah teori-teori yang ada di bukunya ini. Jadi buku ini ditulis memang oleh seorang rocket scientis yang nyata.

Untuk isi bukunya sendiri, menurut saya, buku ini punya pendekatan teori yang baru dan menarik, yakni dari sisi ilmuan roket terutamanya.

 

Pengertian cara berpikir seperti rocket scientist di sini jelas bukan tentang isi otak ilmuan secara harfiah, tapi lebih kepada pola pikir yang dimiliki seorang ilmuwan roket yang menyebabkan mereka bisa membayangkan yang tak terbayangkan dan memecahkan yang tak terpecahkan. Mereka mengubah kegagalan menjadi kemenangan, dan kendala menjadi keuntungan. Para ilmuwan roket selalu mempertanyakan banyak hal, mereka penuh keraguan, dan enggan terus berada di zona nyaman yang melenakan, tujuan mereka bukan jangka pendek tapi terobosan jangka panjang. Bahkan sebutan gila tidak membuat mereka mundur.

To think like a rocket scientist is to look at the world through a different lens. Rocket scientist imagine the unimaginable and solve the unsolveable. They transform failures into triumphs and constrains into advantages. They view mishaps a solvable puzzles rather than insurmountable roadblocks. They're moved not by blind conviction but by self-doubt; their goal is not short-term results but long-term breakthroughs. They know that the rules aren't set in stone, the default can be altered, and a new path can be forged.

Page 2

 

Ternyata berpikir seperti ilmuwan roket itu tidak sesulit yang dibayangkan, setidaknya secara teori mindsetnya demikian, secara aplikatif tentu butuh praktik.

 

Buku ini sendiri membagi isinya kedalam tiga Part yakni Launch, Accelarate dan Achieve. Part 1 judulnya Launch memantik pikiran kita untuk mulai bekerja. Semacam awal dan bekal berpikir. Disini dibahas tentang bagaimana ilmuwan roket menyikapi yang namanya ketidakpastian dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan. Di bagian ini kita juga belajar dari banyak kesuksesan tokoh dan perusahaan, mulai dari industri roket hingga kuliner, jadi penerapan mindset ini memang bisa dilakukan ke berbagai latar profesi dan keilmuan.

Seorang ilmuwan roket selalu mempertanyakan banyak hal bahkan hal-hal yang sudah pasti, tapi justru karena cara berpikir yang demikian roket bisa terbang ke angkasa, dan penemuan antariksa terus berlanjut. Pidato Kennedy yang dulu mencengangkan dan mustahil tentang manusia pergi ke bulan, sekarang sudah jadi sejarah yang terus dikenang. Luar angkasa adalah ketidakpastian banyak hal, dan satu-satunya cara memeluk ketidakpastian adalah dengan membekali sebanyak mungkin dengan ilmu dan persiapan. Maka para ilmuan roket merencanakan, menguji, menciptakan alat-alat yang dibutuhkan dengan tingkat ketelitian tinggi, bahkan mengajukan hipotesis dan menjawabnya jauh sebelum astronot pergi melakukan ekspedisi sehingga ketidakpastian yang bakal ditemui di luar angkasa sana tidak semenakutkan itu karena sudah diprediksi dan disiapkan sedemikian rupa.

Dari mindset ini bisa kita cerminkan dalam kehidupan kita yang bukan ilmuwan roket bahwa masa depan dan hal-hal yang tidak pasti harusnya tidak membuat kita mundur atau takut, tapi fokuslah pada  membekali diri, terus belajar dan mencipta, dan persiapan yang matang.

Di Part Launch ini ada banyak yang disampaikan tentunya, bukan Cuma tentang ketidakpastian, tapi ada pula tentang Back to First Principles “the first basis from which a thing is known”, a life long kindergarten melihat sesuatu dari sudut pandang anak-anak yang terbuka lebar”, “get bored more often “bosan itu bagus juga” seperti Archimedes yang menemukan eureka hukum archimedesnya ketika sedang berendam di bak mandi, dan Isaac Newton yang melihat pohon jatuh. Lalu ada pula tentang menikmati proses, semangat menyambut tantangan hidup, masa-masa gelap dalam hidup, dan lain sebagainya.

 

Part 2 judulnya Accelerate. Di bagian ini kita mendapatkan insight bagaimana sih kita menggunakan ide yang sudah kita temukan hasil dari Part 1 untuk bisa kita jadikan gerakan yang sesungguhnya, sebuah action yang real. Di sini ada cara reframe dan refine ide dan mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Cara melihat kelemahan dari ide kita. Ini tentang menguji coba dan prinspip eksperimen yang dilakukan ilmuwan roket dan insight ini bisa kita terapkan ke kehidupan kita.

Test-as-you-fly-rule. Karena situasi yang membahayakan dan tidak terprediksi maka monyet digunakan oleh NASA untuk penerbangan astronot yang pertama ke Mercury. Di simulasinya beberapa monyet ini mengalami kondisi yang parah. Lalu dilakukan perbaikan model kapsul dan peralatan lainnya, eksperimen- experimen berikutnya berjalan dengan jauh lebih baik. Pada akhirnya astronot monyet ini berhasil selamat dengan hanya lebam sedikit saja. Ini tentunya berita bagus, dan eksperimen ini tidak lagi dilakukan. Astronot manusia meluncur ke angkasa dalam kondisi sehat. Tapi yang harus kita ingat adalah astronot itu menghabiskan bertahun-tahun lamanya di dunia untuk mempersiapkan perjalanannya keluar angkasa. Enam tahun untuk 8 hari di sebuah ekspedisi adalah yang sebenarnya dilakukan oleh astronot NASA. Ketika astronot ini terbang melakukan misinya, dia sebenarnya sudah melakukan berulang kali simulasinya di bumi. Tapi ada satu yang simulator tidak bisa prediksikan yaitu microgravity. Ada 25 detik microgravity yang akan dialami astronot di penerbangan aslinya. Pada momen penting ini astronot ditugaskan untuk melakukan serangkaian action tertentu demi keselamatan dan keberhasilan misi ekspedisi. Dan astronot berlatih berulangkali mempersiapkan mental di setiap kemungkinan buruk yang akan mereka hadapi di luang angkasa nanti. Bahkan ketika insiden kecelakaan yang tidak pernah disimulasikan terjadi pun, mental mereka yang sudah terlatih ini membuat mereka lebih tenang dalam mengambil keputusan. Ini terjadi ketika tangki oksigen Neil Amstrong meledak di bulan. Rocket science mindset is rocekt science preparation – to master this mental roller coaster.

Mindset yang seperti ini bisa digunakan untuk berbagai bidang, misalnya untuk dunia hukum. John Robert yang sekarang adalah kepala Mahkama Agung dikenal sebagai pengacara terbaik di persidangan. Ternyata untuk menyiapkan argumentasinya, Robert membuat ratusan catatan pertanyaan2 yang mungkin ia dapatkan dari para hakim dan juri. Lalu dia mempersiapkan jawaban setiap pertanyaan itu. Untuk membuatnya jadi lebih nyata, dia menyimulasikannya, dia menulis tiap pertanyaan itu ke sebuah flash card, mengocoknya, dan mengetesnya sendiri, jadi dia bersiap untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul entah itu pertnayaan yang mana.

 

Part 3 Achieve banyak membahas tentang akhir sebuah ide yang kadang gagal kadang pula sukses. Ada insight juga tentang bagaimana menyikapi kegagalan dan kesuksesan sebab orang orang yang sukses selalu mencurigai kesuksesannya sebagai awal kegagalannya.

Pada akhirnya yang diperlukan oleh kita untuk menjadi seseorang yang berpikir seperti rocket scientist adalah mental yang tangguh, keinginan untuk selalu belajar dan keingintahuan, kerendahhatian dan mawas diri, tidak cepat puas dengan kondisi yang ada, kritis, konstruktif, dan karakter-karakter positif lainnya. Kuncinya bermula pada mindset kita.

The rocket scientist mindset requires remaining Day 1 and repeteadly introducing color into the monockromatik world. Kita harus terus mencoba, berani bermimpi besar dan mengambil langkah ke arah sana, membuktikan bahwa diri kita salah agar tidak terjebak pemikiran lama yang belum tentu benar, kita menari di ketidakpastian yang ada, membingkai ulang masalah yang ada, kita uji coba ide kita dan melakukan persiapan yang sangat matang, testing as we fly, dan kembali ke prinsip pertama yakni the first basis from which a thing is known.

 

Insight di buku ini banyak, jurnal dan buku referensinya mencapai 48 halaman

Kasus-kasus dan cerita-cerita yang diangkat di buku ini semuanya menarik. Tapi buku ini punya tantangan. Karena padat informasi ada kemungkinan bikin otak overload. Slow reading dan nikmati tiap cerita adalah kunci membaca buku ini.

Tiap dua atau tiga alinea tokoh dan teori yang dibahas bisa beda. Belum termasuk penguatan dari teori beberapa tokoh lainnya yang disisipi di antara alinea itu.

Kalo buku ini bisa dianalogikan dengan novel, mungkin masuknya ke genre action thriller yang pace nya cepat. Cocok buat pembaca dengan kemampuan menyerap informasi tinggi. Tapi sebenernya sih, kalau pun lelah bisa tetap dinikmati pelan pelan. Tinggal selingi dengan bikin catatan buku atau browsing informasi tambahan tentang tokoh dan teori yang ada di dalam buku.

 

Gaya menulis Ozan Varol yang lucu cerdas dengan humornya yang sarkasme membuat penyampaian di buku ini jadi renyah meski padat berisi latar ilmiah. Penerapan konsep berpikirnya jelas bisa diaplikasikan di berbagai bidang ilmu dan di buku ini juga dicontohkan dengan baik hingga kita paham. Hal menarik lainnya adalah adanya informasi di tiap akhir part kalau kita bisa mengunjungi website ozan varol untuk mendapatkan lembar kerja, beragam challenge, dan latihan yang bisa membantu kita mengimplementasikan strategi yang sudah dibahas di bab yang bersangkutan. Ini saya belum coba karena belum sempat, nanti teman-teman mungkin bisa melakukannya sendiri.

Eris quickly lived up to its name and began to cause significant amounts of strife. before Eris s discovery, astronomers hadn't bothered to define the term planet, but Eris force their hands. They had to decide whether Eris was a planet. The task fell to the International Astronomical Union, which designates and categorizes objects in the sky. At a routine meeting in 2006, astronomers voted on the definition of a planet, which both Pluto and Eris failed to meet. With a simple vote, they dethroned Pluto - culture, history, textbooks, Mickey Mouse's dog, and countless planetary mnemonics be damned ("My Very Educated Mother Just Served Us Nine Pizzas" also went out the window).

Page 37

 

 

Bagian ini saya kutipkan karena menarik menurut saya. Soal dimana seorang ilmuwan roket ternyata membaca buku Harry Potter juga (asumsi), bahkan menamakan ciptaannya berdasarkan salah satu unsur dalam novel fiksi itu. Sekali lagi saya tersadar betapa karya JK Rowling yang satu itu benar-benar mendunia. 

Electric propulsion, in contrast, is much slower, but it's ten to a hundred times more energy - efficient. Electricity is also safer to use since it doesn't require toxic propellants or pressurized tanks. As part of her PhD dissertation, Bailey started designing tiny electric-propulsion engines. that research became the basis for the aerospace company she cofounded, Accion - named after a summoning charm from the Harry Potter books.

Page 74

 

Saya juga menemukan tentang kenyataan-kenyataan sederhana yang menarik tentang pola pikir ilmuwan roket, seperti yang saya kutipkan di antaranya di bawah ini.

As the story of Pluto's demotion shows, we tend to respond to uncertainty - no matter how benign - as alarming. But the key to growing comfortable with uncertainty is figuring out what's truly alarming and what s not. And that requires playing a game of peekaboo.

Page 39

Ideally, the hypotheses  you spin should conflict with each other. "The test of a first-rate intelligence," F. Scott Fitzgerald said, "is the ability to hold opposed ideas in mind at the same time, and still retain the ability to function." This approach isn't easy. Even scientists can have a hard time entertaning multiple viewpoints without having their heads explode.

Page 176

 

Nasihat di penutup yang mengena dan memang menjadi poin penting di banyak proses perkembangan hidup manusia menjadi ending pemaparan Ozan Varol yang buat saya tepat dan berkesan.

Nothing comes to existence perfectly formed. Rome, as the saying goes, wasn't built in a day. The Apollo 11 spacecraft that put Amstrong and Aldrin on the Moon didnt just spring out of the factory. It took numerous iterations - through the Mercury, Gemini, and earlier Apollo missions - to get it right.

For scientists, each iteration is progress. If we get a glimpse into the dark room, that's a contribution. If we don't find what we thought we'd find, that's a contribution. If we change a single unknown unknown to a known unknown, that's a contribution. If we ask a better question that the ones asked before, that's a contribution, even if the answers elude us.

Page 233

 

If you solve enough problems, you get to land your rovers on Mars. If you solve enough problems, you get to build the Roman Empire. If you get enough problems, you get to land on the Moon,

That's how you change the world. One problem at a time.

Changing the world one problem at a time requires delaying gratifications.

Page 233

 

Ternyata seorang ilmuwan roket itu adalah orang-orang yang terus melakukan self improvement ya, terbukti dari 9 konsep berpikir yang ada di buku ini semuanya memang menjadi kunci dari pengembangan diri manusia.

  1. Flying in the Face of Certainty
  2. Reasoning from the first principles
  3. A mind at play
  4. Moonshot thinking
  5. What if we sent two rovers instead of one
  6. The power of flip flopping
  7. Test as you fly, fly as you test
  8. Nothing succeeds like failure
  9. Nothing fails like success

 

 

Siapa Ozan Varol

Ozan Varol adalah ilmuwan roket yang menjadi profesor, penulis, dan pembawa acara podcast yang memenangkan penghargaan. Berasal dari Instanbul, ia belajar astrofisika di Cornell University dan bekerja di tim operasi, untuk proyek Mars Exploration Rovers tahun 2003. Dia telah tampil di Wall Street Journa, Newsweek, BBC, TIME, CNN, Washington Post, dan di tempat lain. Dia menulis blog setiap minggu di situsnya, ozanvarol. com.

Sumber: Buku Think Like a Rocket Scientists

 

Ozan Varol (lahir 1 Desember 1981) adalah seorang penulis dan profesor bidang hukum di Lewis & Clark Law School. Ia terkenal karena menciptakan frasa "kudeta demokratik" dan menulis buku The Democratic Coup d'État

 

Varol lahir dan besar di Istanbul, Turki. Dia pindah ke Amerika Serikat pada usia 17 untuk studi sarjana di mana dia menerima gelar sarjana dalam Ilmu Planet dari Universitas Cornell pada tahun 2003. Selama waktunya di Cornell, dia menjabat sebagai anggota tim operasi untuk proyek Mars Exploration Rover NASA 2003; yang mengirim dua penjelajah untuk memeriksa permukaan Mars. Varol kemudian memperoleh gelar sarjana hukum dari University of Iowa College of Law pada tahun 2007.

Varol saat ini mengajar sebagai associate professor di Lewis & Clark Law School di Portland, Oregon, dengan fokus pada bidang hukum konstitusional, hukum pidana, dan hukum konstitusional komparatif. Ia terkenal karena bukunya The Democratic Coup d'État, yang diterbitkan pada tahun 2017, yang diperluas dari artikelnya dengan judul yang sama, yang diterbitkan di Harvard International Law Journal pada tahun 2012. Kedua karya tersebut mengeksplorasi gagasan bahwa demokrasi kadang-kadang dapat dibangun dengan kudeta militer. Majalah Foreign Policy menggunakan kriteria Varol untuk menganalisis apakah kudeta Mesir 2013 yang menggulingkan Mohammad Morsi dari kekuasaan itu demokratis. Selain itu, ia telah menerbitkan lebih dari selusin artikel ilmiah antara tahun 2008 dan 2017. Dia juga menulis mingguan di blognya tentang 'critical thinking' dan 'non-conformity'.

 

Notable publications

  • Varol, Ozan O. (2017). The Democratic Coup d'État. 
  • Varol, Ozan (September 5, 2011). "The Democratic Coup d'Etat". Harvard International Law Journal. 
  • Varol, Ozan (April 15, 2017). "Structural Rights". Georgetown Law Journal.
  • Varol, Ozan; Pellegrina, Lucia; Garoupa, Nuno (June 28, 2017). "An Empirical Analysis of Judicial Transformation in Turkey".The American Journal of Comparative Law.
  • Varol, Ozan (March 11, 2015). "Constitutional Stickiness". U.C. Davis Law Review.
  • Varol, Ozan (April 24, 2014). "Stealth Authoritarianism". Iowa Law Review.
  • Varol, Ozan (April 30, 2013). "Temporary Constitutions". California Law Review.

Sumber: Wikipedia

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan untuk teman-teman yang mencari buku self improvement yang berkualitas, sarat fakta ilmiah tapi tetap terasa personal, argumentasinya meyakinkan, studi kasus yang diangkat menarik, jelas pesan-pesannya, dan sistematis. Buku ini kemungkinan agak berat karena isinya yang padat dengan hasil riset, studi kasus, dan fakta-fakta penguat lainnya, tapi bagi mereka yang menyukai gaya pemaparan ilmiah, buku ini bisa jadi rekomendasi untuk dibaca. Buku ini membahas mindset, bukan step by step yang teknikal sifatnya. Tapi pola pikir ini bisa digunakan ke berbagai bidang ilmu dan latar belakang, misalnya bisnis dan hukum. Di dalam buku ada contoh-contoh kasus yang tidak melulu hanya membicarakan permasalahan dan situasi yang dihadapi oleh ilmuwan roket saja.

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Before the Coffee Gets Cold …

13-06-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  *OVER ONE MILLION COPIES SOLD**NOW AN INTERNATIONAL BESTSELLER* Japanese Bestseller   Judul : Before the Coffee Gets Cold Penulis : Toshikazu Kawaguchi Jenis Buku : Magical Realism; Literary Fiction; Romantic Fantasy;  Penerbit : Pan Macmillan Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku Breathless - Jennifer Niven

30-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 New York Times bestselling author of All the Bright Places   Judul : Breathless Penulis : Jennifer Niven Jenis Buku : Teen & YA Fiction Penerbit : Alfred A. Knopf Tahun Terbit : September 2020 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku The Duke & I (Bridgerton…

29-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 New York Times Bestseller   Now a series created by Shondaland for Netflix.   Judul : The Duke and I (Bridgertons Book 1) Penulis : Julia Quinn Jenis Buku : Romance Penerbit : Avon; Media Tie In, Reprint edition Tahun...

Read more

Review Buku Klara and the Sun - Kazuo Is…

22-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  NEW YORK TIMES BESTSELLERA GOOD MORNING AMERICA Book Club Pick! Editor s Pick for Best Science Fiction & Fantasy   Judul : Klara and the Sun Penulis : Kazuo Ishiguro Jenis Buku : Science Fiction & Fantasy Penerbit...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more