Review Buku To Sleep in A Sea of Stars - Christopher Paolini

Published: Friday, 13 November 2020 Written by Dipidiff

 

Editor’s Pick Best Science Fiction & Fantasy on Amazon

a New York Times and USA Today Bestseller

To Sleep in a Sea of Stars is a brand new epic novel from #1 New York Times bestselling author of Eragon, Christopher Paolini.

 

Judul : To Sleep in A Sea of Stars

Penulis : Christopher Paolini

Jenis Buku : Adult Fantasy

Penerbit : PanMacmillan

Tahun Terbit : September 2020

Jumlah Halaman :  880 halaman

Dimensi Buku :  6.42 x 1.74 x 9.56 inci

Harga : Rp.299.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781529046519

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Kira, gadis peneliti yang tinggal di salah satu stasiun luar angkasa di gugusan tata surya. Pada suatu hari, dalam surveynya ia menemukan peninggalan asing. Ketika itulah tubuhnya bersentuhan dengan xenomorph yang memiliki kekuatan luar biasa. Soft Blade menginfeksi tubuh Kira, dan mengubahnya menjadi manusia super. Tapi harga yang dibayarnya juga mahal. Tunangannya terbunuh, begitupun anggota timnya, akibat ketidakmampuannya mengendalikan xeno yang ada di dalam tubuhnya. Di tengah duka dalam, Kira dihadapkan pada kenyataan bahwa alam semesta sedang diambang perang besar, dan kini dialah satu-satunya harapan umat manusia untuk bisa bertahan hidup melawan makhluk lain dari galaksi yang berbeda.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Buku ini tebalnya lumayan, mencapai 800 halaman lebih. Bisa dilihat di foto di atas ya, tebalnya lumayan mengintimidasi :D. By the way, disain sampulnya sendiri menurut saya sangat mencirikan baik judul maupun isi bukunya. Kalo boleh request sih ingin warna yang lebih cerah, tapi yah luar angkasa kalo ga salah memang gelap begitu ya, dan secara isi cerita, kisah Kira di buku ini belum happy ending 100 persen. 

 

Tokoh dan Karakter

Alan, tunangan Kira yang mati terbunuh dalam ketidaksengajaan.

Kira Navarez, xenobiologist yang menemukan xeno dan kemudian terinfeksi. Memiliki kekuatan super tidak berarti kehidupan Kira serta merta bahagia dan disanjung orang.

Trig, remaja anggota crew Wallfish, sifatnya periang dan antusias. Kadang ia melakukan dan mengucapkan sesuatu yang berlebihan demi diakui oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.

Gregorovich, shipmind yang eksentrik. Sempat terisolir bertahun-tahun membuatnya punya trauma sendiri.

Hwa Jung, wanita dari Korea yang ahli mesin. Bicaranya kaku tapi ia setia kawan.

Falconi, kapten kapal Wallfish yang disegani crew-nya.

Sparrow, anggota crew wallfish, berbicaranya sering kasar dan kadang merisak orang lain.

Nielsen, anggota crew Wallfish, punya penyakit yang ia sembunyikan dari crew lainnya.

Itari the Jellly, Jelly yang membantu tim Kira

Soft Blade, xeno yang menginfeksi tubuh Kira

Vishal, dokter kapal Wallfish, cara berbicaranya kaku begitupun tingkah lakunya. 

Ctain, musuh yang harus dikalahkan Kira

Jorrus dan Veera 

 

 

Mungkin teman-teman akan sama seperti saya yang akan menyukai tokoh Kira dalam novel To Sleep in a Sea of Stars lantaran sifatnya yang baik hati dan perjuangannya yang keras menemukan jati diri membuat kita berempati, atau mungkin bakal skip tokoh Kira dan fokus ke karakter Salvo yang rada lonely, loyal, good leader, dan vurnerable. Salvo, padamulah bbf kutemukan :D
 
Di novel ini kita akan menemukan sekelompok tokoh yang bersosialisasi dalam team. Jadi kebayang ya, bagaimana konflik internal tercipta, dan ini bakal manis banget karena team work-nya punya ikatan yang kuat. Semua tokoh diberi kesempatan oleh Paolini untuk berkembang karakternya semanusiawi mungkin. Dan ada tokoh dari Korea juga yang menyebabkan penokohan ceritanya menjadi lebih berwarna.
 
Ada tokoh kucing dan babi bernama Runcible dan Mr. Fuzzypants. Keduanya peliharaan Falconi yang penyayang binatang dan tanaman. Saya kira dua tokoh ini jadi pemanis dan pelengkap cerita yang menarik, namun sayangnya entah kenapa tidak diberi porsi yang nyata dalam cerita oleh Paolini. Hhhhhh... too bad *desah kekecewaan seorang cat lover. Abaikan.
 
Di luar mayor karakter, ada tokoh-tokoh minor juga yang berseliweran. Percayalah, jumlahnya cukup banyak untuk meramaikan benak imajinasi kita.  Sebagian besar tokoh minor manusia juga, sedang sisanya adalah para alien dengan berbagai bentuk fisik, kemampuan, dan peran. Seru kan :).

Deskripsi fisik tokohnya rinci, dan yang paling menarik perhatian saya tentunya adalah deskripsi Kira yang terinfeksi xeno. Dalam bayangan saya, fisik Kira ini mirip tokoh mystique dalam film x-man, minus rambut merah dan kulit wajah yang berwarna.

She studied her reflection in the glass, a dim, ghostly double. It was her first time getting a good look at herself since the xeno had emerged.

She almost  didn't recognize herself. Instead of the normal, expected shape of her head, she saw the outline of her skull, bare and hairless and black beneath the layered fibers. Her eyes were hollow, and there were lines on either side of her mouth that reminded her of her mother.

She leaner closer. Where the suit faded into her skin, if formed a finely detailed fractal, the sight of which struck a strange chord in her, as if she'd seen it before. The sense of deja vu was so strong, for a moment she felt as if she were in another place and another time, and she had to shake herself and move back.

Kira thought she looked ghoulish - a corpse risen from the grave to haunt the living. Loathing filled her, and she averted her gaze, not wanting to see the evidence of the xeno's effects. She was glad Alan had never seen her like this; how could he have liked or loved her? She imagined a look of disgust on his face, and it matched her own.

For a moment, tears filled her eyes, but Kira blinked them back, angry.

Page 120

 

Alur dan Latar 

Alur cerita maju cukup cepat, ada adegan action dan nuansa petualangan, yang berujung epic. Konflik ceritanya beragam bukan hanya soal siapa yang menang dalam perang. Endingnya tertutup untuk konflik utama, tapi perang belumlah usai, jadi novel ini bisa dibaca standing alone meskipun berseri. Ada halaman lampiran yang sangat membantu pembaca untuk lebih memahami cerita.

Kali ini Paolini menciptakan satu dunia baru, lengkap dengan tokoh-tokohnya yang terasa nyata, berlatar galaksi, tata surya, bintang-bintang, diselingi ilmu kosmologi serta astronomi yang rinci, saya terpesona, this book is a beautiful work, indeed.
 
Ajaibnya beberapa buku yang saya baca belakangan ini seolah berada di topik yang mirip-mirip, sebut saja Think Like a Rocket Scientist (Ozan Varol), dan Brief Answers to the Big Questions (Stephen Hawking). There is no coincidence kan ya. Pernahkah teman-teman mengalami kejadian yang sama seperti saya ini, yang TBRnya ternyata satu topik dan hanya beda bahasannya saja? Kalo pernah, pasti paham seperti seolah ada hal-hal yang terkoneksi antara bacaan satu dengan yang lainnya. Amazing .
 
 
Dunia yang diciptakan Paolini untuk buku terbarunya ini mungkin akan menarik buat teman-teman lantaran terbentang dari planet lain hingga bumi di galaksi bima sakti. Tokoh utama kita, Kira Navarez, adalah xenobiologist yang tinggal di Sixty One Sygni saat tugas survey-nya 'mempertemukannya' dengan xenomorp the Soft Blade.
 
Cerita berlangsung ketika manusia sudah menaklukkan luar angkasa dan hidup di planet-planet di luar bumi. Ada yang tinggal di Venus atau planet lainnya. Stasiun luar angkasa sudah seperti halte bus way tempat pesawat-pesawat luar angkasa hilir mudik untuk urusan dagang ataupun angkutan penumpang. Dan menurut saya Paolini berhasil meracik dunia fiksi dan dan meleburkannya sedemikian rupa dengan hal-hal ilmiah sehingga terasa 'masuk akal'. Porsi sains dalam cerita termasuk padat. Terbayang riset dan upaya yang dilakukan Paolini pastilah begitu besar untuk menyelesaikan novel ini, dan semuanya itu berbuah karya yang sangat mengesankan. Not bad untuk awal seri fractalverse
 
By the way, unsur romance-nya manis, persahabatan dan kekeluargaannya hangat, ada kerjasama team work juga di dalam cerita.
 
Saya juga menyukai latar fisiknya yang rinci, mulai dari fisik dalam dan luar sebuah pesawat luar angkasa, peralatan canggih para alien, bangunan eksotik relic, dan planet-planet.
 

Outside, the world was split in half. To the east, the rust-colored sky held an evening glow and Bughunt protuded above the tortured horizon – a swollen red orb far dimmer than Epsilon Indi, the sun Kira had grown up with. To the west lay a realm of perpetual darkness, shrouded with starless night. Thick clouds hung low over the land, red and orange and purple and knotted with vortices driven by the ceaseless wind. Lightning illuminated the folded depths of the clouds, and the rumble of distant echoed across the land.

...

Surrounding the landing zone were open fields covered with what looked like black moss. The fields ascended into foothills, and the foothills into the bounding mountains. The snow-mantled peaks were rounded with age and wear, but their dark silhouttes possessed a solid bulk that still managed to be intimidating. Like on the fields and the foothills, glossy black vegetation grew upon the sides of the mountains- black so as to better absorb the red light from their parent star.

..

Page 400

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Sebagai seorang pecinta tanaman, dan baru-baru ini kembali mengulik tentang hidroponik tentu saja saya menjadi 'tertarik' ketika di dalam buku ini menemukan topik yang serupa. Di dalam universe yang dibuat Paolini, pesawat luar angkasa itu memiliki satu ruang khusus yang menggunakan sistem hidroponik untuk menumbuhkan tanaman, baik untuk keperluan sumber makanan maupun keindahan. Imajinasi saya menjadi berwarna karena ini.

The door slid open with a solid thunk.

Warm air wafted over them, along with the sound of dripping water and the gentle perfume of flowering plants. The hydroponics bay was Kira's favorite place in the compound. It reminded her of home, of the long rows of hothouse gardens she'd spent time in as a kid on the colony planet of Weyland. During long-haul expeditions like the one to Adra, it was standard procedure to grow some of their own food. Partly so they could test the viability of the native soil. Partly to reduce the amount of supplies they had to bring with them. But mostly to break the deadly monotony of the freeze-dread meal packs the company supplied them with.

Tomorrow, Seppo would rip out the plants and stuff them into the incinerator. None of them would survive until the colonists arrived, and it was bad practice to leave piles of biological material sitting around where they could – if the compound were breached – enter the environment in an uncontrolled manner. But for tonight, the hydroponics bay was still full of lettuce, radishes, parsley, tomatoes, clusters of zucchini stems, and the numerous other crops Seppo had been experimenting with on Adra.

But that wasn't all. Amid the dim racks, Kira saw seven pots laid out in an arc. In each pot stood a tall, thin stem topped  with a delicate purple flower that drooped under its own weight. A cluster of pollen-tipped stamens extended from within each blossom – like burst of fireworks-while white-speckles adorned their velvety inner throats.

Midnight Constellations! Her favorite flower. Her father had raised them and even with his horticultural talent, they had given him no end of trouble. They were temperamental, prone to scab and blight, and intolerant of the slightest imbalance of nutrients.

..

Page 24

 

Dan terus terang kesukaan saya terhadap tokoh Falconi salah satunya karena ia pecinta tanaman :D, bahkan Falconi memiliki bonsai yang diurusnya dengan sangat telaten. What a wonderful man :D

The door swung open, and Kira was surprised to see they weren't meeting in a control center, but rather a cabin. Falconi's cabin, to be precise.

The room was just large enough to walk a few steps without banging into the furniture. Bunk, sink, lockers, and walls were all as plain as could be, even with overlays. The only decoration sat on the built-in desk: a gnarled bonsai tree with silvery-grey leaves and a trunk twisted in the shape of an S.

Despite herself, Kira was impressed. Bonsai were hard to keep alive on a ship, yet the tree seemed healthy and well cared for.

Page 182

 

Masih tentang latar cerita, tampak Paolini berhasil menciptakan suatu cerita yang memiliki universe yang khusus dan detail. Mungkin buat sebagian pembaca memang agak terlalu berpanjang-panjang, tapi saya yakin kita sebagai pembaca akan menghargai upaya penulis untuk bisa mengembangkan sebuah latar yang sedemikian rinci ini.

Weyland wasn't much friendlier, and Kira remember the massive improvements she had seen on the planet over the course of her childhood: once-barren dirt converted to fertile soil, the spread of green growing things across the landscape, the ability to walk around outside for a limited time without suplemental oxygen. She had optimism. Adrasteia was more habitable than 99 some percent of the planets in the galaxy. By astronomical standards, it was an almost perfect analogue for Earth, more similar than a high-g-planet like Shin-Zar, and even more similar than Venus, with its floating cloud cities.

..

Page 34

 

Saya juga menggaris bawahi konflik internal dalam diri tokoh utama, yakni pergolakan batin yang dialami Kira akibat infeksi xeno yang dialaminya. Konflik tentang jati diri ini terasa mendalam dan menjadi salah satu fokus dari pesan cerita, and I like it.

But now, seeing herself reflected nearly in whole, it struck her just how much the alien organism had changed and ... infested her, occupying what no one else had any right to occupy, not even a child, if ever she had a child. Her face and body were thinner than she remembered, too thin – a consequence of so many weeks spent at half rations – but that itself didn't bother her.

All she could look at was the suit. The shiny, black, fibrous suit that clung to her like a layer of shrink-wrapped polymer. It looked as if her skin and fascia had been stripped away to expose a gruesome anatomy chart of muscles.

Kira ran a hand over the strange shape of her bare scalp. Her breath caught and a tight know formed in her gut. She felt as if she were going to be sick. She stared, and she hated what she saw, but she couldn't bring herself to look away. The surface of the Soft Blade grew rough as it echoed her emotions.

Who could find her attractive now... the way Alan had? Tears filled her eyes and spilled down her cheecks.

She felt ugly.

Disfigured.

Outcast.

..

Page 193

 

Ke-universal-an tokoh juga diberikan sentuhannya oleh Paolini dengan menghadirkan tokoh dari Korea, Hwa Jung, yang sesekali berbicara menggunakan bahasa Korea. Menarik sekali bahwa dalam dunia yang diciptakan Paolini ada sejarah dimana manusia di bumi kemudian mengkoloni beberapa planet dan bangsa-bangsa tertentu memilih planet tertentu pula untuk dihuni. Sejarah ini bisa kita baca-baca dan pahami lebih lengkap di halaman lampiran di bagian akhir buku.

It was unusual to see a Zarian in the League. Theirs was the one colony that insisted on staying independent (at no small cost in ships and lives). During her time with the company, Kira had only worked with a few people from Shin Zar- all men – at different postings. To a person they d been tough, reliable, and as expected, strong as hell. They'd also been able to drink a staggering amount, far more than their size would seem to indicate. That had been one of the first lessons Kira had learned working on mining rigs: don't try to drink a Zarian under the table. It was a fast way to end up in sickbay with alcohol poisoning.

...

Like most Zarians, the woman in the Wallfish galley was of Asian decent. Korean no doubt, as Koreans made up the majority of immigrants to ShinZar (that much Kira remembered from her class on the history of the seven colonies). She wore a rumpled jumpsuit, patched on the knees and elbows and stained with grease along the arms. The shape of her face made her age impossible for Kira to guess; she might have been her early twenties or she might have been almost forty.

..

Page 197

 

Genre Fiksi ilmiah memang tepat untuk novel ini lantaran banyaknya penjelasan ilmiah yang disisipi dalam cerita atau dibuatkan halaman tertentu untuk menjelaskannya panjang lebar, kadang bahkan ada footnote terkait istilah tertentu. Sejujurnya tidak semua penjelasan ilmiah ini saya pahami (ini bukan bidang ilmu yang saya kuasai), sehingga rasanya agak terlalu banyak porsinya, tapi tetap saja mengagumkan untuk bisa menghadirkan sebuah buku science fiction yang detail seperti ini, dan buat pembaca yang menyukai bidang ilmu kosmologi, astronomi, teknologi, saya percaya akan sangat menyukai latar-latar ilmiah yang dihadirkan dalam cerita. Buku ini juga dilengkapi gambar-gambar penyerta yang bikin saya menggeleng-gelengkan kepala. Gambar paling kiri merupakan universe dalam cerita. Paolini semacam penulis jenius barangkali ya karena effort menulis buku seperti ini pastilah tidak sedikit.

Picture: Gambar-gambar penyerta dalam novel 

 

Bagian yang ini mengingatkan saya pada satu bab bahasan di buku Brief Answes to the Big Questions-nya Stephen Hawking yang membahas dan menjawab pertanyaan 'apakah ada makhluk cerdas yang lain di alam semesta ini selain manusia' secara ilmiah.

With that crucial piece of information, the messages began to make more sense, and Kira read with increasing avidness of ship movements, battle reports, and tactical assessments of 61 Cigny and other systems in the League. There were numerous mentions of travel times, and from the Soft Blade, Kira was able to glean a sense of the distance involved. The nearest Jelly base (system, planet, or station, sehe wasnt sure) was several hundred light-years away. Which led her to wonder why no hint of the aliens had shown up in the League s telescope. The Jellies ‘ civilization had to be far older than two or three hundred years, and the light form their worlds had long since reached human-settled space.

..

Page 256

 

Tentu saja ada banyak bagian petualangan dimana tokoh utama menuntaskan misi dari satu tempat ke tempat lain, dan ada action juga, terutamanya pertempuran yang epic. Misalnya bagian dimana Jelly menyerang, seperti yang saya kutipkan di bawah ini.

Groups of men and women clad in skinsuits ran past the cameras, firing guns and blasters. Billows of chalck clogged the air, and in the pale shadows moved creatures the like of which Kira had never imagined. Some stalked on all fours, as small and lean as whippets but with eyes as big as her fist. Others luched forward on malformed limbs: arms and legs that looked broken and badly healed; tentacles that kinked and hung useless; rows of pseudopods had red, raw-looking skin that oozed lymph-like fluid, and patches of black, wire-thick hair dotted their scabrous hides.

The creatures carried no weapons, though more than a few had boney spikes and serrations along their forelimbs. They fought like beasts, jumping after the fleeing miners, bearing them down to the floor and tearing at their guts.

Page 271

 

On asteroids, hab-domes had been cracked open like eggs. Damaged space stations, rings, and O’Neill cylinders drifted abandoned throughout the system. Hydrotek refueling facilities  were venting plumes or burning hydrogen from punctured storage tanks. On Earth – Earth of all places!- impact craters marred the northern and southern hemispheres, and a black blight covered part of Australia.

Large numbers of ship and orbital platforms clustered around the settled planets. The UMC's Sevent Fleet was massed by Deimos, close enough to the Markov Limit that they could jump out at short notice, but not so far away that they couldn't help the inner planets in an emergency.

In several places, fighting was ongoing. The Jellies had established a small operating base all the way out on Pluto, and they'd invaded a number of underground settlements along the arctic regions of Mars. ...

Page 547

 

 

Kalimat perenungan juga terselip di dalam narasi dan dialog. Pesan cerita tentang kehidupan yang tidak bisa saya abaikan.

“Why yes,” said the woman. “Yes I do. I wanted to tell you this: eat the path, or the path will eat you. To paraphrase an old quote.”

“Which means?”

For once Inare appeared serious. “We all saw what you can do. It seems you have a larger part to play than most on this dismal scheme of ours.”

“What of it”

The woman chocked her head, and in her eyes Kira saw unexpected depth, as if she'd arrived at the crest of a hill to discover a yawning chasm beyond. “Only this, and this alone: circumstance press hard upon us. Soon all that will be left to you, or to any of us, is bare necessity. Before that happens, you must decide.”

Kira frowned, almost angry. “And what exactly am I supposed to decide?”

Inare smiled and shocked Kira by patting her on the cheek. “Who you want to be, of course. Isn't that what all of our decisions come down to? ...

Page 276

 

“Bullshit. The truth is you dont wan't to. It makes you feel good to blame yourself. You know why?” Kira shook her head, mute. “Because it gives you a sense of control. The hardest lesson in life is learning to accept that there are some things we can't change.”

Page 486

 

Gregorovich continued: “Could I advice myself in the past, prior to my transition, I would tell myself to make the most of what I had while I had it. Too often we don't appreciate the value of something until it has slipped our grasp.”

“Sometimes that's the only way we learn,” said Kira. She paused, struck by her own words.

“So it seems. The benighted tragedy of our species.”

Page 613

 

Hal menarik pula untuk mengimajinasikan kondisi bumi di alam semesta cerita yang diciptakan Paolini. Bumi tampaknya merupakan planet sakral yang berusaha dilindungi umat manusia di masa depan, ketika banyak generasi dilahirkan bukan di planet bumi.

There. She'd said the magic word: Earth. The semi-mythical Homeworld that everyone in the UMC had sworn to protect. It had the desired effect. Both Akawe and Koyich appeared troubled.

Page 285

 

 

Hal-hal kecil yang menarik tapi memperkuat unsur cerita banyak terdapat di buku ini, dan inilah yang membuat baik tokoh maupun latar cerita menjadi hidup. Di bawah ini saya kutipkan penggalan adegan ketika Kira bangun dari tidurnya dan merasa lelah serta mengantuk, lalu dokter kapal Wallfish memberinya pil AcuWake yang seketika bisa menghilangkan kantuk dan menyegarkan tubuh. Amazing banget ya :D, kebayang kalo pil seperti ini bisa aman dikonsumsi dan dijual di dunia nyata kita. Kayaknya produk kopi bisa tersubstitute deh :D

Vishal saw her yawning and offered her a pill of AcuWake. “Here, Ms. Kira. Try this.”

“I don't think....”

“It may not help, but I think it is worth trying.”

Still doubtful, Kira popped the capsule into her mouth. It burst between her teeth with a sharp, wintergreen tang, strong enough to make her nose tingle

Page 391

 

Ada kutipan-kutipan yang membuka dan menutup cerita. Kutipan puisi tokoh Harrow Glantzer ini sempat membuat saya sampai searching internet dan tidak mendapatkan begitu banyak informasi. 

 

Bagian akhir buku ada Bab Addendum, Bab Apendix I Spacetime & FTL, Apendix III Terminology, Apendix IV Timeline, yang sebaiknya kita baca karena akan sangat membantu kita memahami cerita dengan lebih baik. Semua bab yang ada adalah fiksi adanya, tapi dibahas secara ilmiah dan atau sedemikian rupa yang menurut saya rinci dan sangat meyakinkan.

 

Banyak pesan cerita yang bisa kita ambil dari novel ini, terutama tentang pencarian jati diri, be yourself, persahabatan, kerjasama team, kesetiaan, semangat juang, dan berkorban demi tujuan yang lebih besar yakni umat manusia dan kedamaian alam semesta.

  

Ini dia novel terbarunya Christopher Paolini, penulis seri Inheritance Cycle (Eragon), yang buku-bukunya terjual laris di internasional dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, bahkan diadaptasi ke dalam film yang populer.
 
Harapan saya untuk buku kedua seri ini sederhana saja, saya ingin lebih banyak ada adegan yang melibatkan Gregorovich the shipmind dan peran Salvo juga dipertahankan. Saya juga ingin tahu lebih banyak profil dan karakter tim Wallfish karena di novel ini tidak banyak penjelasan tentang masa lalu dan hal-hal lebih detail dari tokoh-tokoh seperti Trig, Sparrow, Nielsen, Viesel, dan Hwa Jung padahal mereka punya porsi peran yang sangat banyak di dalam cerita. Lalu, semoga buku keduanya lebih epic lagi .
 
 

 

Siapa Christopher Paolini 

Christopher Paolini lahir di California Selatan dan telah menjalani sebagian besar hidupnya di Paradise Valley, Montana. Dia menerbitkan novel pertamanya, Eragon, pada tahun 2003 pada usia sembilan belas tahun, dan dengan cepat dia menjadi fenomena penerbitan. Inheritance Cycle - Eragon dan tiga sekuelnya - telah terjual hampir 40 juta eksemplar di seluruh dunia. To Sleep in a Sea of Stars adalah novel dewasa pertamanya.

 

Also by Christopher Paolini

THE INHERITANCE CYCLE

Eragon

Eldest

Brisingr

Inheritance

 

The Fork, the Witch, and the Worm

To Sleep in a Sea of Stars

 

Sumber: Buku To Sleep in A Sea of Stars

 

 

Christopher Paolini bersekolah di rumah selama masa pendidikannya, dan ia lulus dari sekolah menengah pada usia 15 tahun melalui serangkaian kursus korespondensi terakreditasi dari American School of Correspondence di Lansing, Illinois.

 

Setelah lulus SMA, dia memulai karyanya tentang apa yang akan menjadi novel Eragon, yang pertama dari seri empat buku yang berlatarkan tanah mitos Alagaesia.

Pada tahun 2002, Eragon diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Paolini International LLC, perusahaan penerbitan orang tua Paolini. Untuk mempromosikan buku tersebut, Paolini mengunjungi lebih dari 135 sekolah dan perpustakaan, mendiskusikan membaca dan menulis, sambil mengenakan "kostum abad pertengahan berupa kemeja merah, celana hitam bergelombang, sepatu bot bertali, dan topi hitam yang elegan". Dia menggambar seni sampul untuk edisi pertama Eragon, yang menampilkan mata Saphira, bersama dengan peta di sampul dalam bukunya.

Pada pertengahan 2002, anak tiri penulis Carl Hiaasen menemukan Eragon di toko buku dan menyukainya; hal ini membuat Hiaasen memberitahukan penerbitnya, Alfred A. Knopf. Knopf kemudian mengajukan tawaran untuk menerbitkan Eragon dan sisa The Inheritance Cycle. Edisi kedua Eragon diterbitkan oleh Knopf pada Agustus 2003. Pada usia sembilan belas tahun, Paolini menjadi penulis buku terlaris New York Times.

Pada Desember 2006, Fox 2000 merilis film adaptasi Eragon di bioskop seluruh dunia. Film ini sebagian besar menerima ulasan negatif dari para kritikus, dan menghasilkan gabungan bruto domestik dan internasional sebesar $ 249.488.115 USD dengan anggaran produksi $ 100.000.000.

Esai Paolini "It All Began with Books" dimasukkan dalam antologi April 2005 Guys Write for Guys Read.

Eldest, sekuel Eragon, dirilis 23 Agustus 2005. Buku ketiga dalam siklus, Brisingr, dirilis pada 20 September 2008. Meskipun The Inheritance Cycle awalnya direncanakan sebagai trilogi, buku keempat, Inheritance, dirilis pada tanggal 8 November 2011 di AS, Australia, Selandia Baru, Uni Eropa, dan India, dan kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di lima puluh tiga negara. Siklus Warisan telah terjual lebih dari 35 juta eksemplar.

Pada tanggal 31 Desember 2018, The Fork, the Witch, and the Worm, buku pertama dalam seri berjudul Tales of Alagaësia, diterbitkan dan dirilis ke publik.

Novel fiksi ilmiah baru Paolini, To Sleep in a Sea of ​​Stars, dirilis pada 15 September 2020, oleh Tor Books. Paolini juga berencana untuk kembali ke dunia Alagaesia dengan buku kelima setelah dia menyelesaikan buku fiksi ilmiahnya.

 

Inspirasi sastra Paolini adalah karya J. R. R. Tolkien dan E.R. Eddison, serta puisi epik Beowulf. Paolini mengatakan bahwa Eragon "secara khusus terinspirasi" oleh Jeremy Thatcher, Dragon Hatcher, oleh Bruce Coville. Pengaruh sastra lainnya termasuk David Eddings, Andre Norton, Brian Jacques, Anne McCaffrey, Raymond E. Feist, Mervyn Peake, Ursula K. Le Guin dan Frank Herbert . Buku favorit lainnya termasuk karya Jane Yolen, Philip Pullman, Terry Brooks, dan Garth Nix.

Alam mempengaruhi banyak tulisan Paolini. Dalam wawancara dengan Philip Pullman dan Tamora Pierce, Paolini mengatakan bahwa Paradise Valley, Montana adalah "salah satu sumber utama" inspirasinya. Dalam pengakuan Brisingr, Paolini mengakui pengaruh Leon dan Hiroko Kapp The Craft of the Japanese Sword untuk deskripsinya tentang penempaan pedang Eragon. 

Buku-buku Paolini telah terjual dengan sangat baik dan menduduki puncak tangga daftar terlaris The New York Times, USA Today, dan Publishers Weekly.

 

Bibliografi

The Inheritance Cycle

Main Series

Eragon (2003)

Eldest (2005)

Brisingr (2008)

Inheritance (2011)

Companion Books:

Eragon's Guide to Alagaesia (2009)

The Official Eragon Coloring Book - with Ciruelo Cabral (2017)

Tales from Alagaesia: The Fork, the Witch, and the Worm (2018)

Fractalverse:

To Sleep in a Sea of Stars (2020)

 

Sumber: Wikipedia

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada pecinta genre science fiction yang berlatar galaksi alam semesta, makluk-makhluk alien, kecanggihan teknologi luar angkasa, dan sains ilmiah yang mengangkat bidang ilmu kosmologi, astronomi, dan biologi. Tokoh-tokoh dalam ceritanya dinamis, karakternya jelas dan manusiawi. Ada protagonis dan antagonis, hero heroin dan villain. World buildingnya bagus, yang latar waktunya ada di suatu masa, di masa depan, di saat teknologi sudah begitu canggih sehingga manusia sudah berhasil tinggal di planet-planet lain di galaksi bima sakti. Sebagian besar cerita beradegan di dalam pesawat luar angkasa dan planet-planet. Ada budaya dan bahasa yang diciptakan untuk membangun dunia dalam cerita. Endingnya tertutup untuk konflik utama, namun misi tokoh utama yang lebih besar dibiarkan menggantung untuk dilanjutkan di buku kedua. Ada bumbu romance yang manis, tapi mungkin akan bikin greget karena belum happy ending, dan ada banyak tentang pencarian jati diri, identity dan value, persahabatan dan team work yang membuat cerita menjadi lebih bermakna. Sisi emosi cerita digarap dengan baik, ada sedih, senang, haru, dan amarah.

 

Baca juga Review Buku "The Fork, The Witch, and The Worm - Christopher Paolini"

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku Omoiyari - Erin Niimi Longhu…

27-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : Omoiyari The Japanese Art of Compassion Penulis : Erin Niimi Longhurst Ilustrator: Ryo Takemasa Jenis Buku : Self Improvement - Phylosophy Penerbit : HarperCollins Publishers Tahun Terbit : Juli 2020 Jumlah Halaman :  224 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku A Time for Mercy - John Gris…

20-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 Amazon Charts This Week   Judul : A Time for Mercy (Jake Brigance Book 3) Penulis : John Grisham Jenis Buku : Legal Thriller Penerbit : Doubleday Books – Penguin Random House LLC Tahun Terbit : Oktober 2020 Jumlah...

Read more

Review Buku To Sleep in A Sea of Stars -…

13-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor’s Pick Best Science Fiction & Fantasy on Amazon a New York Times and USA Today Bestseller To Sleep in a Sea of Stars is a brand new epic novel from #1 New York Times bestselling author of Eragon, Christopher...

Read more

Review Buku I Have Something to Say - Jo…

07-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : I Have Something to Say Mastering the Art of Public Speaking in an Age of Disconnection Penulis : John Bowe Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

20-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

The Disrupted Disruption

06-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

04-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

02-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more