Review Buku Breathless - Jennifer Niven

Published: Sunday, 30 May 2021 Written by Dipidiff

 

#1 New York Times bestselling author of All the Bright Places

 

Judul : Breathless

Penulis : Jennifer Niven

Jenis Buku : Teen & YA Fiction

Penerbit : Alfred A. Knopf

Tahun Terbit : September 2020

Jumlah Halaman :  400 halaman

Dimensi Buku :  20,83 x 14.48 x 3.81 cm

Harga : Rp. 388.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781524701963

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Claudine Henry baru lulus high school, ia punya rencana untuk masuk kuliah, menjadi penulis populer, dan menikmati masa muda dengan 'sexual experiences ('sex is all she's looking for)'. Tapi orangtuanya tiba-tiba bercerai dan buyarlah segala rencana yang disusun Claude. Ia dan ibunya kemudian pindah rumah untuk menyembuhkan luka hati problema keluarga. Di tempat yang baru, Claude bertemu Jeremiah Crew yang suka fotografi dan punya masa lalu yang penuh misteri.

Apakah mereka lalu jatuh cinta (?) Sepertinya sih iya. Tapi tentu ada yang lebih dari sekadar membahas cinta saja di dalam novel ini. 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Saya kira untuk buku bergenre Young Adult pilihan covernya cocok lah ya. Dan tentu saja kita akan bisa mengaitkan gambar ilustrasi dengan isi cerita kalau sudah baca. Tapi kalau belum baca mungkin juga teman-teman akan salah duga seperti saya :D. Btw, gambar cover dua tokoh yang lagi berenang mengingatkan saya pada isu penyakit paru seperti yang diangkat di buku Five Feets Apart.

Baca juga "Review Buku Five Feets Apart - Rachael Lippincott"

Nyatanya ga demikian. Saya rasa yang ada di gambar sampul adalah Miah dan Claude yang sedang berenang di laut tempat di mana Claude dan ibunya memutuskan untuk beristirahat sejenak pasca perceraian.

 

Tokoh dan Karakter

Ibunya Claude yang seorang penulis populer genre historical fiction dan non fiction, juga Claudenya yang suka membaca, menulis, serta pelajar berprestasi, membuat novel ini ga pernah lepas dari yang namanya buku, perpustakaan pribadi, dan sudut nyaman membaca. Ga perlu dijelasin, saya yakin teman-teman paham apa yang saya rasakan tiap ketemu tokoh yang seperti ini ☺. Suka. 

Claude dalam cerita akan mengalami perkembangan karakter yang mendewasa, terutama dalam hal jati diri sebagai wanita. Di buku ini isu ini dikaitkan dengan virginity. Jadi tokohnya dinamis ya.

Sementara itu ada Jeremiah atau Miah, cowok ganteng, cool, agak misterius, care, dan tipe-tipe pelindung, yang bisa bikin wanita penasaran sekaligus auto melted kayak mentega dipanaskan di teflon. Tokoh yang ini agak samar-samar menurut saya. Masa lalunya sendiri ga begitu diekspos oleh Jennifer Niven. Dugaan saya secara pribadi, Miah punya problem di keluarga yang membuat dia tidak bisa settle down dengan mudah. Hidup Miah kelihatannya berjalan mengikuti arus saja, tanpa tujuan yang pasti. Begitu pun ketika dia sudah bertemu dengan Claude dan jatuh cinta.

 

Deskripsi fisik tokoh disebutkan dari awal, dan yang paling saya ingat adalah deskripsinya Jeremiah yang saya kutipkan salah satunya di bawah ini.

The voice belongs to a boy who's my age, or maybe older, and who has what I call resting wiseass face. He's suntanned and barefoot, baggy shorts hanging off his hips, black T-shirt, dirty blond hair. He's taller than Wyatt, and his voice is a lazy Southern drawl.

I step off the ferry and my eyes meet his. And, for a fraction of a moment, less than a millisecond, I freeze and he seems to freeze too.

Then he looks me up and down and flashes this big old grin, dimples, the whole nine yards, and goes, “Here comes trouble.”

Page 64

 

Alur dan Latar

Alurnya menurut saya pelan - sedang, dengan pov orang pertama, Claude saja. Konflik novel ini terutama ada di Claude yang sedang melalui masa transisi dari remaja ke dewasa muda yang ditambah dengan tekanan karena perceraian orangtua. Mendewasa itu sesuatu banget memang ya, apalagi harus ketambahan episode kehidupan yang berat seperti Claude ini. Tapi saya kira, ini adalah kasus yang akan relate dengan banyak pembaca. Dan dari sana para pembaca mungkin akan mendapatkan insight bagaimana melalui masa-masa yang berat ini seperti Claude dalam cerita.

Ending novel ternyata senada dengan All the Bright Places yang menyisakan kegamangan tertentu, a bittersweet ending. Mungkin bakal ada sekuelnya ya, entahlah. So, buat teman-teman yang menyukai atau berekspektasi pada ending yang sepenuhnya bahagia, novel ini ternyata tidak memenuhi kriteria tersebut. Saya sendiri kebetulan tidak keberatan dengan tipe-tipe ending yang seperti ini, karena menyisakan ruang kontemplasi di dalam diri saya.

 

Saya juga menyukai latar lokasi dan suasana cerita yang menurut saya berhasil dideskripsikan oleh Niven lewat narasinya. A remote Georgia island. Hutan liar, aligator, pantai dan laut tempat hiu beranak pinak, penginapan, ombak, penyu bertelur, dan udara panas bonus serangga, seolah nyata dalam imajinasi saya. Sejenak jadi teringat setting-nya When the Crawdads Sing yang memanjakan pembaca dengan latar alamnya.

Suddenly we are under this canopy of trees, and it's like nothing I've seen before. They're live oaks, right out of Grimm’s Fairy Tales, grotesque, knotted, twisted creatures that look as if they could come alive at night. An ancient wood from a fairyland, a strange, haunted- looking place. Spanish moss hangs off them like spiderwebs, like ghosts, and it is impossible to see the sky.

The inn sits majestically in the midst of this, like a genteel and elegant old lady, all polite good manners. Wide porch, white columns, red roof. As I told Jared, we're not actually staying in the inn itself, but in a house across the way, the one belonging to Addy.

Page 65

 

Baca juga "When the Crawdads Sing - Delia Owens"

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Jennifer Niven merupakan #1 New York Times bestselling author dari novel All the Bright Places dan Holding Up the Universe. Buku-bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 75 bahasa, dan meraih berbagai penghargaan. Niven menulis sendiri script bukunya, All the Bright Places untuk Netflix. Selain itu ia menulis di Germ, sebuah majalah online untuk segmen anak muda.

Baca juga "Review Buku All The Bright Places - Jenniver Niven"

 

Gimana rasanya waktu baca atau nonton All the Bright Places? Hati rasa tersayat kah?

Seperti biasa Niven selalu menulis buku yang punya isu kuat untuk dibahas, dan kali ini pun demikian adanya.

 

Untuk teman-teman yang ga tahan sama kesedihan dan kesuraman, tenanglah, novel Jennifer Niven yang ini ga sekelam itu.

Meski duka dan depresi yang dialami Claude pasca perceraian orangtuanya cukup menguras emosi, tapi unsur romance yang menyusul kemudian mengambil alih suasana menjadi lebih cerah dan penuh getar-getar cinta. 


Novel ini jadi istimewa karena topik khusus yang disampaikan melalui ceritanya. Jika dulu di All the Bright Places, Jennifer Niven menggarisbawahi persoalan mental dan emotional illness, kasus bunuh diri remaja, dan disfungsi keluarga, maka kali ini di Breathless yang diangkat adalah persoalan virginity - sex, jati diri, dan broken family.

“Would it be so bad for Shane to be my first?”

Our friend Alannis Vega-Torres drops into the seat next to me, “Yes.” She digs a soda and protein bar out of her bag and tosses Saz a couple of hair ties. “By the way, it doesn't count as losing your virginity if your hymen doesn't break. I bled buckets my first time.”

“That's not true,” I say. “Hymen don't actually break. That's a big, fat, ignorant myth. Not everyone bleeds, and besides, not everyone has a hymen. Don't be so heteronormative. Virginity is a bullshit social construct created by the patriarchy.” Saz holds up her hand and I high-five her. As much as I completely, one hundred percent believe this, I'm stilll desperate to have sex. Like, right now.

Page 8

 

I've never realized how hard we are on our bodies. I think, Why are we so mean to ourselves? Why aren't we happy with what we have? And then I say it aloud, and Alannis and Mara stare at me like I just told them they were monsters.

Page 39



Rasanya tabu ya, tapi itu dulu, kini makin banyak buku yang mengangkat topik ini, dan Breathless tidak menonjolkan adegan percintaannya tapi lebih ke makna cinta. Oleh karena itulah saya menyukai bagaimana Niven menggiring pola pikir pembacanya ke topik ini, tentang virginity yang melabeli seorang wanita, yang seolah-olah virginity adalah segalanya serta menentukan kualitas individunya.

“No. The fact that I didn't tell you, that's on me. Besides, virginity is so fucking subjective, Hen. It's like something made up by the old, straight, white men who run this country, or whoever their equivalent was back in ancient times, to make you feel left out and less than and somehow incomplete. It doesn't actually mean anything, not to me.”

“But your first time with Yvonne meant something.”

Page 33



Tentu saja pemikiran dan tingkah laku tokoh-tokoh cerita yang modern dan western, dengan seks bebas atau seks sebelum nikah, bisa jadi bertentangan dengan norma dan budaya yang dianut masyarakat Timur. Jadi, untuk pembaca yang merasa ini topik ini sangat sensitif, saya rasa novel ini bisa di-skip.

Perceraian orangtua Claude juga menjadi topik yang bisa mengedukasi pembaca, terutama tentang pernikahan, trauma pasca perceraian, dan upaya untuk bangkit setelahnya.

... a defining moment: that moment when life suddenly changes and you're left picking up the pieces. She says it's actually how you pick up the pieces that defines you.

Page 27

 

Cara penulisannya membuat kita bisa memahami isi hati Claude yang di saat bersamaan mengerti pemahaman tokoh lain yang ada di dalam cerita. Misalnya ketika ibunya Claude menjelaskan tentang liburan mereka ke Georgia untuk mengenang dan mengenal sejarah keluarga mereka di sana, tapi yang diterima dalam pikiran Claude adalah bagaimana ia dan ibunya "dibuang" karena sudah tidak dicintai lagi.

I've been waiting for them to change their minds and tell me they've decided to work it out. Instead she tells me about an island in Georgia where they send wives and children who are no longer loved, where there are no cars and no phone service, and where alligators and wild horses roam free. She tells me that we are being banished there. That as soon as I graduate, the two of us will be leaving this house, where we've lived for the past eight years, because my dad is sending us away.

What she really says is that we are spending the summer in Georgia on the island where my great-great-aunt Claudine Blackwood lived and died. Mom and I usually visist her family in Atlanta this time of year, so we've already got the perfect alibi for out friends in Mary Grive. We'll stop in Atlanta like always and then head for the island.

Page 41

 

Lalu ada juga yang isinya seperti informasi - pengetahuan,

This is what I learn:

  • The largest turtles can weigh as much as 375 pounds
  • Every two or three years, they return to nest on the same beaches where they were born
  • Just one in four thousand baby turtles will live to adulthood
  • Turtles are air breathers, although they can stay underwater for hours. But too often they become entangled in fishing nets, and when they struggle to break free, they can quickly use up their oxygen and lose the fight.
  • There is something called a false crawl, when a turtle comes ashore to nest but for whatever reason doesn't lay her eggs before returning to the sea
  • A turtle produce numerous offspring,...

Page 155

 

Breathless adalah sebuah novel coming of age yang saya kira bakal banyak beresonansi dengan kehidupan para remaja menuju masa transisi menuju usia dewasa muda. Apalagi isu perpecahan keluarga yang diangkat juga salah satu isu sensitif tapi realistis terjadi di masyakarat. Perubahan cara berpikir Claude adalah poin penting pesan cerita, bagaimana ia memaknai cinta pertama, dan virginitas dalam gendernya sebagai wanita, juga bagaimana ia kemudian mencapai satu state emosi yang lebih bisa menerima kondisi kedua orangtuanya yang tidak lagi bersama. Ada semacam sakit hati dan benci yang ia rasakan kepada ayahnya. Dan ini bisa jadi bahan perenungan juga untuk kita para pembaca.

 

Siapa Jenniver Niven

Jennifer Niven adalah pemenang Emmy Award, # 1 New York Times dan penulis internasional terlaris dari sembilan buku, termasuk All the Bright Places dan Holding Up the Universe. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 75 bahasa, dan All the Bright Places telah memenangkan penghargaan sastra di seluruh dunia, termasuk GoodReads Choice Award untuk Best Young Adult Fiction of 2015. Buku itu dinobatkan sebagai Best Book of the Year oleh Time Magazine, NPR, the Guardian, Publisher's Weekly, YALSA, Barnes & Noble, BuzzFeed, the New York Public Library, dan lainnya, dan merupakan #1 Kids' Indie Next Book untuk Winter '14-'15. Film yang dibintangi oleh Elle Fanning, Justice Smith, Luke Wilson, dan Keegan-Michael Key, saat ini dapat disiarkan di Netflix, dengan skrip oleh Jennifer dan Liz Hannah (The Post).

Jennifer sedang mengerjakan novel keempat dan kelima untuk dewasa muda. Dia juga mengawasi Germ, majalah web sastra dan gaya hidup untuk anak perempuan dan laki-laki seusia sekolah menengah dan seterusnya yang merayakan awal, masa depan, dan semua momen menakjubkan dan menyakitkan di antaranya. Karya sebelumnya mencakup empat novel untuk orang dewasa, serta tiga buku nonfiksi. 

Sumber Amazon

 

Jennifer Niven adalah penulis New York Times dan penulis Amerika terlaris internasional yang terkenal karena buku dewasa muda 2015, All the Bright Places.

Niven dibesarkan di Indiana. Selain menulis novel, Niven juga bekerja sebagai penulis skenario, jurnalis dan produser di ABC Television.

Dua buku pertamanya adalah narasi non-fiksi yang disebut The Ice Master (diterbitkan pada 2000) dan Ada Blackjack: A True Story of Survival in the Arctic (diterbitkan pada 2003). Pada tahun 2010, ia menerbitkan memoar tahun-tahunnya di sekolah menengah berjudul The Aqua Net Diaries: Big Hair, Big Dreams, Small Town.

Dia mulai menulis serangkaian novel sejarah pada tahun 2009. Yang pertama, Velva Jean Learns to Drive, didasarkan pada sebuah film pendek dengan nama yang sama yang dia buat. Ia memenangkan Penghargaan Emmy dan Penghargaan Colin Higgins untuk Penulisan Naskah. Serial ini juga mencakup, Velva Jean Learns to Fly, Becoming Clementine dan American Blonde.

Novel dewasa muda pertama Niven, All the Bright Places dirilis pada 2015. Narasinya mengikuti dua remaja, Violet dan Finch yang bergumul dengan masalah kesehatan mental. 

Dia merilis novel dewasa muda terlaris lainnya pada tahun 2016 berjudul Holding Up the Universe, dan novel dewasa muda ketiganya, Breathless, dirilis pada September 2020.

 

Bibliography

Young Adult

  • All the Bright Places (2015)
  • Holding Up the Universe (2016) 
  • Breathless (2020)

Velva Jean Series

  • Velva Jean Learns to Drive (2009)
  • Velva Jean Learns to Fly (2011)
  • Becoming Clementine (2012)
  • American Blonde (2014)

Non-fiction

  • The Ice Master (2000)
  • Ada Blackjack: A True Story of Survival in the Arctic (2003)
  • The Aqua Net Diaries: Big Hair, Big Dreams, Small Town (2010)
  • Ada Blackjack, survivante de l'Arctique (2019)

 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari novel Young Adult dengan tokoh berusia baru saja lulus SMA, dengan isu jati diri, wanita dan virginity, serta perceraian keluarga. Tentu saja ada unsur romance di sini, kurang lebih 60 persen ada di dalam cerita meski menurut saya insightnya lebih ke jati diri wanita dan arti cinta, dan bukan hanya romance dua tokoh dewasa muda yang ada di dalam cerita. Endingnya agak gamang, yang memberikan kita ruang untuk merenung dan menyimpulkan sendiri. Ada cerita tentang hubungan ibu dan anak di sini yang hangat dan saling menguatkan, juga ayah yang tak bahagia. Secara keseluruhan novel ini memang punya misi tertentu lebih dari sekadar cerita novel saja.

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Midnight Library - Matt …

19-08-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #5 Amazon Charts this week A New York Times Best Seller Winner of the Goodreads Choice Award for Fiction A Good Morning America Book Club Pick!   Judul : The Midnight Library Penulis : Matt Haig Jenis Buku : Literary Fiction...

Read more

Review Buku The Guest List - Lucy Foley

08-08-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense A Reese's Book Club Pick The New York Times Bestseller One of The New York Times Thrillers of 2020   Judul : The Guest List Penulis : Lucy Foley Jenis...

Read more

Review Buku The Meaning of Mariah Carey …

18-07-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

#1 Best Seller in Populer Music. Amazon   The Instant #1 New York Times Bestseller   Judul : The Meaning of Mariah Carey Penulis : Mariah Carey with Michaela Angela Davis Jenis Buku : Pop Artist Biographies, R&B & Soul...

Read more

Review Buku Before the Coffee Gets Cold …

13-06-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  *OVER ONE MILLION COPIES SOLD**NOW AN INTERNATIONAL BESTSELLER* Japanese Bestseller   Judul : Before the Coffee Gets Cold Penulis : Toshikazu Kawaguchi Jenis Buku : Magical Realism; Literary Fiction; Romantic Fantasy;  Penerbit : Pan Macmillan Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more