Review Buku Before the Coffee Gets Cold - Toshikazu Kawaguchi

Published: Sunday, 13 June 2021 Written by Dipidiff

 

*OVER ONE MILLION COPIES SOLD*

*NOW AN INTERNATIONAL BESTSELLER*

Japanese Bestseller

 

Judul : Before the Coffee Gets Cold

Penulis : Toshikazu Kawaguchi

Jenis Buku : Magical Realism; Literary Fiction; Romantic Fantasy; 

Penerbit : Pan Macmillan

Tahun Terbit : September 2019

Jumlah Halaman : 224 halaman

Dimensi Buku : 13.10 x 19.60 x 1.50 cm

Harga : Rp. 198.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781529029581

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Kalo saja kita bisa kembali ke masa lalu, siapa yang ingin kita temui ya.

Ada sebuah kafe di gang kecil Tokyo, namanya Funiculi Funicula. Kafe ini sebuah kafe tua yang tersohor karena legenda lokal memberitakan bahwa pelanggan kafe bisa pergi ke masa lalu. Di suatu musim panas, empat pelanggan mengunjungi kafe dengan harapan bisa melakukan perjalanan itu. Seorang kekasih, sahabat, saudara perempuan, dan seorang ibu, pergi melintasi waktu dan mengambil resiko mematuhi berbagai peraturan yang berlaku. Pertama, apapun yang mereka lakukan tidak akan mengubah kenyataan, orang yang ditemui harus mereka yang sudah pernah berkunjung ke kafe Funiculi Funicula, selama berada di masa lalu/masa depan tidak boleh bangkit dari kursi yang diduduki, dan perjalanan menembus waktu itu hanya dapat berlangsung selama kopi masih hangat.

Sejenak seolah perjalanan ini sia-sia karena kenyataan tidak akan berubah. Tapi benarkah sesia-sia itu? atau justru sangat berharga?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Saya merasa disain sampul buku ini sangat unik. Meski kalo dilihat dari keterkaitan cerita, jelas kursi yang ada dalam gambar ilustrasi adalah kursi yang bisa bikin orang yang duduk di sana melakukan perjalanan waktu. Tapi kursi yang mana kurang jelas juga, mungkin kalau wanita bergaun putih masuk ke dalam frame, maka akan jauh lebih mudah menebaknya. Dan saya tidak ingat ada kucing di dalam cerita. Yang membuat lebih ragu adalah pemilihan ilustrasinya yang lebih menyerupai disain untuk buku-buku middle grade dan novel ini jelas jauh dari genre itu. Tapi picturenya bergaya teater ya, dan ini cocok dengan latar belakang Toshikazu Kawaguchi.

 

Tokoh dan Karakter

Semua karakter di dalam buku masuk kategori protagonis, tokoh-tokoh yang mengundang empati pembaca. Saya pikir beberapa pembaca akan sangat menyukai Kei yang lebih baik hati daripada karakter lainnya.

Tiap tokoh utama akan mengalami perubahan perasaan dan perspektif di akhir kunjungan mereka melintasi waktu, entah itu hati yang lebih damai, semangat baru, atau sebuah keputusan yang lebih bijak.

 

Deskripsi tokoh dalam cerita cukup jelas, salah satunya Kazu saudara pemilik kafe dan Kei yang merupakan istri dari pemilik kafe. Di dalam buku Kei memang tokoh yang luar biasa tabah, meski secara fisik ia lemah tapi pembawaannya sendiri riang gembira dan hatinya tulus.

Inside the cafe, a young woman seated at the counter was busy writing. Next to her was an iced coffee diluted by melting ice. The woman was dressed for summer, in a white frilled T-shirt, a tight grey miniskirt, and strapy sandals. She sat with her back straight, as her pen raced across cherry-blossom-pink letter paper.

Standing behind the counter, a slender woman of pale complexion looked on, her eyes filled with a youthful sparkle. It was Kei Tokita, and the contents of the letter had no doubt piques her curiosity. Occasionally she would take sneak peeks with a look of childlike fascination on her face.

Apart from the woman at the counter who was writing the letter, the other customers in the cafe were the woman in the white dress sitting in that chair, and the man named Fusagi.

Page 58

 

Alur dan Latar

Alur cerita mengalir maju. Kecepatannya sendiri agak sulit buat saya menentukan apakah cepat atau sedang karena ceritanya mengalir dan emosional sehingga seringkali tau-tau satu chapter selesai sudah. Dari sisi tertentu isi buku ini agak mirip cerpen tapi tentu saja Before the Coffee Gets Cold bukanlah antologi karena antara satu cerita dengan yang lainnya nyatanya berhubungan.

Hal unik yang saya temukan adalah kesan teater yang terasa membayang-bayangi, mungkin karena dalam imajinasi saya, terimajinasikan adegan per adegan khas pentas naskah teater.

Tiap tokoh utama yang menjadi pusat tiap chapter memiliki konflik masing-masing. Ada konflik percintaan, konflik persaudaraan, ibu dan anak, dan konflik suami istri. Semua konfliknya dalam dan menyentuh. Melibatkan rasa penyesalan, kebimbangan, dan ketakutan tertentu.

Setiap cerita berakhir dengan akhir yang bahagia dan dekat dengan konflik utama. Dan tentu saja kekuatan buku ini terletak pada kedalaman emosi dan pesan ceritanya.

 

Latar suasana dan latar lokasinya terimajinasi dengan baik. Terasa Jepang-nya, dan khusus untuk kafenya sendiri mendapatkan sorotan. Kafe di basement, yang meski musim panas tetap terasa dingin sejuk, padahal tidak ada pendingin, tidak berjendela, dan hanya ada satu kipas besar di langit-langit ruangan. Ada tiga jam dinding yang menunjukkan waktu yang berbeda-beda. Ruangannya temaram. Vintage.

It was daytime outside, but in this windowless cafe, there was no sense of time. dim lighting give the cafe a sepia hue. All this created a comforting, retro atmosphere.

Page 77

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

 

"When you return to the past, you must drink the entire cup before the coffee goes cold".

Toshikazu Kawaguchi lahir di Osaka, Jepang, pada tahun 1971. Dia sebelumnya memproduseri, mengarahkan dan menulis untuk grup teater Sonic Snail. Sebagai dramawan, karyanya antara lain COUPLE, Sunset Song, dan Family Time. Novel Before the Coffee Gets Cold diadaptasi dari drama 1110 Productions oleh Kawaguchi, yang memenangkan hadiah utama Festival Drama Suginami ke-10.

Buku ini bercerita tentang sebuah kafe yang bisa membawa seseorang kembali ke masa lalu. Untuk bisa melakukan perjalanan waktu ini, ada syarat yang harus dipatuhi. Pertama, kita harus memahami bahwa pergi ke masa lalu tidak akan mengubah takdir yang sudah terjadi. Kedua, kita hanya bisa bertemu orang yang pernah ke kafe. Ketiga, kita harus duduk di kursi tertentu dan selama ini kita tidak boleh beranjak dari kursi itu. Aturan ketiga ini rumit karena kursi yang dimaksud ditempati oleh hantu. Aturan keempat, kita harus minum kopi yang dihidangkan sampai habis sebelum kopinya dingin.

'Look. I want you to listen, and listen carefully. OK?'

'What?' Fumiko's body tensed up.

'You can go back. It's true... you can go back, but...'

'But..?'

'When you go back, no matter how hard you try, the present wont change.'

The present wont change. This was something Fumiko was totally unprepared for - something she couldn't take in. 'Eh?' she said loudly without thinking.

 

 

'You can't meet people who haven't visited this cafe. The present cannot change. There only one seat that takes you to the past, and you cannot move from it. Then, there is the time limit.' Fumiko counted on her fingers as she ran through each rule, and her anger at them grew.

'This one is probably the most problematic.'

Fumiko was already extremely annoyed with the rules she knew. The news of a further, most problematic rule threatened to snap her heart in two. Nevertheless, she bit her lip.

 

 

Ide ceritanya memang sedikit mirip dengan The Midnight Library - Matt Haig yang saya baca minggu lalu. Saya pikir ini tentang peluang kedua dan penyesalan. Namun kedua buku ini masih memiliki unsur dan pengembangan ide cerita yang berbeda, jadi saya tetap semangat membaca keduanya. Gaya penulisannya juga tidak sama. Masing-masing unik.

Apakah kamu suka kopi juga? Mungkin, kita bisa membayangkan dapat mengunjungi masa lalu sebelum kopi menjadi dingin seperti yang diceritakan dalam cerita.

Ada 4 cerita pendek di sini; The Lovers, Husband and Wife, The Sisters, dan Mother and Daughter. Masing-masing cerita memiliki keterkaitan antara karakter dan plot meskipun fokusnya berbeda. Jadi, alih-alih membacanya seperti cerita pendek, kesannya pada akhirnya terasa seperti membaca buku novel pada umumnya.

The Lovers menceritakan kisah Fumiko yang pergi ke masa lalu untuk mencegah Goro meninggalkannya; Husband and Wife menceritakan kisah Kohtake yang kembali ke masa lalu untuk menerima surat dari Fusagi yang menderita demensia dan lupa siapa istrinya; The Sisters menceritakan kisah Hirai dan Kumi, adik kandung yang kemudian meninggal dalam sebuah kecelakaan; Mother and Daughter menceritakan kisah Kei yang pergi ke masa depan untuk melihat putrinya, Kimi.

Semua cerita sangat menyentuh, dalam dan penuh perasaan. Ada kesedihan dan duka, tapi kemudian ada harapan, semangat, dan kekuatan.

No matter what difficulties people face, they will always have the strength to over come them. It just takes heart.

Page 213.

 

Toshikazu Kawaguchi memiliki gaya penulisan yang unik. Seringkali narasinya pendek dan berselang-seling, tetapi dengan nuansa Jepang yang kental, gaya ini sangat sesuai dengan imajinasi saya. Cara dia menggambarkan gerak tubuh, ekspresi, dan dialog karakter benar-benar terasa 'Jepang'.

Jika saya mencari buku yang memiliki suasana Jepang yang kuat, saya akan senang menemukan buku ini. Ambience yang diciptakan dalam narasi yang menyinggung tentang haiku, higurashi cicada seperti yang saya kutipkan di bawah ini buat saya terasa 'khusus' dan berkesan.

When it appears in haiku, the higurashi cicada is a term denoting the season, associated with autumn. The mention of the higurashi, therefore, evokes an image of it shrilling at the end of summer. In reality, this insect's cry can be heard from the beginning of summer. Somehow, though, while the shrills of the abura cicada and the min-min cicada evoke the images of a blazing sun, midsummer, and scorching days, the song of the higurashi evokes images of the evening and the late summer. When the sun begins to set and the dusk gathers, the kana-kana-kana of the higurashi evokes a melancholic mood, and one gets the urge to hurry home.

In the city, shrill of the higurashiis seldom heard. This is because, unlike the abura cicada and the min-min cicada, the higurashi likes shady places such as the canopy of a forest, or  of cypress groves away from the sun. But living near our cafe was a single higurashi cicada. When the sun started to set, a continual kana-kana-kana could be heard coming from..

Page mother an child

 

Mungkin poin penting yang harus disebutkan mengenai setting adalah lokasi yang mayoritas 90% nya berada di kafe Funiculi Funicula. Pengecualian adalah ketika karakternya mengembara atau melempar pikiran, seperti saat Kei bertemu Nagara untuk pertama kalinya di rumah sakit.

By chance, they saw a small sign in a narrow back alley. the cafe's name was Funiculi Funicula. It was the same name as a song Kohtake once knew. It was a long time since she d heard it, but she still remembered the melody clearly. The lyrics were about climbing a volcano. The thought of red-hot lava on the hot summer day made everything seem even hotter and jewel-like beads of sweat fromed on Kohtake's brow.

 

Karena kafe Funiculi Funicula adalah sebuah kafe yang menyajikan kopi, tentu ada narasi-narasi yang berkaitan dengan kopi itu sendiri. Dan saya yang selalu suka menyimak segala sesuatu tentang kopi, teh dan makanan, menemukan paragraf-paragraf seperti ini sangat menyenangkan untuk disimak.

The cafe has no air conditioning it opened in 1974, more than a hundred and forty years ago. Back then, people still used oil lamps for light. Over the years, the cafe underwent a few small renovations, but its interior today is pretty much unchanged from its original look. When it opened, the decor must have been considered very avant-garde. The commonly accepted date for the appearance of the modern cafe in Japan is around 1888 - a whole fourteen years later.

Coffee was introduced to Japan in the Edo period, around the late seventeenth century. Initially it didn't appeal to Japanese taste buds and it was certainly not thought  of  as something one drank for enjoyment - which was no wonder, considering it tasted like black, bitter water.

When electricity was introduced, the cafe switched the oil lamps for electric lights, but installing an air conditioner would have destroyed the charm of the interior. So, to this day, the cafe has no air conditioning.

 

Awalnya saya kira seperti kumpulan cerpen, tapi ternyata keempat cerita ini punya satu alur progresif, sehingga akhirnya opini saya berubah. Namun, mungkin ada pembaca yang merasa itu bukan novel karena ada unsur teater yang membayangi.

 

Membacanya membuat kita berpikir tentang kehidupan yang memiliki penyesalan, tentang pentingnya memahami orang lain di sekitar kita, tentang hubungan, cinta, kesetiaan, pernikahan, keluarga, dan kasih sayang ibu-anak. Realitas tidak dapat diubah, tetapi perspektif adalah masalah yang berbeda.

Before the Coffee Gets Cold membawa kita ke dalam emosi mendalam yang mungkin membuat membacanya menangis, tetapi pencerahan yang mengikutinya setara dengan kebahagiaan dan harapan yang datang untuk hidup.

Ini buku yang bagus, saya suka ide-idenya, tidak ada yang saya tidak suka di dalam buku ini.

 

 

Siapa Toshikazu Kawaguchi

Toshikazu Kawaguchi lahir di Osaka, Jepang, pada tahun 1971. Dia sebelumnya memproduseri, menyutradarai dan menulis untuk grup teater Sonic Snail. Sebagai dramawan, karyanya antara lain COUPLE, Sunset Song, dan Family Time. Novel Before the Coffee Gets Cold diadaptasi dari drama 1110 Productions oleh Kawaguchi, yang memenangkan hadiah utama Festival Drama Suginami ke-10.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari novel bergenre magical realism, yang ringan, tipis, tapi sangat dalam ceritanya, juga pesannya. Adegan demi adegan terasa seperti menyimak teater, karena novel ini memang diadaptasi dari naskah teater. Cerita perchapternya sangat relate dengan konflik kehidupan, tentang percintaan dan keluarga, namun dikemas dengan cara yang seksama. Tidak ada tokoh antagonis dalam cerita, sebaliknya semua tokoh utama mengundang empati pembaca. Dan ada satu tokoh hantu yang duduk di kursi yang sangat misterius dan belum dijelaskan latar belakangnya oleh Toshikazu Kawaguchi di buku seri pertama ini.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Midnight Library - Matt …

19-08-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #5 Amazon Charts this week A New York Times Best Seller Winner of the Goodreads Choice Award for Fiction A Good Morning America Book Club Pick!   Judul : The Midnight Library Penulis : Matt Haig Jenis Buku : Literary Fiction...

Read more

Review Buku The Guest List - Lucy Foley

08-08-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense A Reese's Book Club Pick The New York Times Bestseller One of The New York Times Thrillers of 2020   Judul : The Guest List Penulis : Lucy Foley Jenis...

Read more

Review Buku The Meaning of Mariah Carey …

18-07-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

#1 Best Seller in Populer Music. Amazon   The Instant #1 New York Times Bestseller   Judul : The Meaning of Mariah Carey Penulis : Mariah Carey with Michaela Angela Davis Jenis Buku : Pop Artist Biographies, R&B & Soul...

Read more

Review Buku Before the Coffee Gets Cold …

13-06-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  *OVER ONE MILLION COPIES SOLD**NOW AN INTERNATIONAL BESTSELLER* Japanese Bestseller   Judul : Before the Coffee Gets Cold Penulis : Toshikazu Kawaguchi Jenis Buku : Magical Realism; Literary Fiction; Romantic Fantasy;  Penerbit : Pan Macmillan Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more