Review Buku Dayon - Akmal Nasery Basral

Published: Wednesday, 22 September 2021 Written by Dipidiff

 

Judul : Dayon

Penulis : Akmal Nasery Basral

Tata Letak Isi: Rizkyka Wulandary

Penyunting Naskah: Nia Septiany

Jenis Buku : Novel Antropologi

Penerbit : MCL Publisher

Tahun Terbit : Mei 2021

Jumlah Halaman : 324 halaman

Dimensi Buku : 13 cm x 19 cm

Harga : Rp. 99.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9786239606732

Paperback

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Seorang anak Minangkabau mendapatkan nama tak lazim pada hari kelahirannya dari sang ayah yang penggemar film spionase. Ketika sang anak memasuki masa remaja dan menyadari nama yang diberikan sang ayah keliru dalam penulisannya, nama itu menjadi olok-olok bagi orang lain dan membebaninya sampai dewasa. Akankah dia mempertahankan nama pemberian yang salah tulis atau menggantinya dengan nama lain yang lebih hebat dan akurat?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Kalo dipikir-pikir, unik juga ya disain sampul novel ini. Ilustrasi gambar pria di dalam disain sudah pasti saya tebak itu Dayon. Sedangkan lain-lainnya entahlah. Tapi penempatan gambarnya seolah menunjukkan proses transformasi kehidupan Dayon.

 

Tokoh dan Karakter

Dayon

Jamal (Jamalis Sikumbang)

Ed (Alfa Edison)

Ilus (Aprilius Piliang)

Ides (Deskartes Des Indes)

Hasan (Muhammad Hasan Fisabilillah)

ipin (Bustanil Arifin)

Ijaf (Jafrinal Adityawarman)

Zul (Zulfaqar Agam Koto)

Ijal (Afrizal)

Ewar (Edwar Guci)

Ibnu (Ibnu Sina Arraniri)

Andesli Sampono, guru sekolah dasar Dayon

Ajo Ronal

Topan

Sabai Sunwoo

 

Tokoh utama novel ini sesuai judul novelnya yaitu Dayon. Karakternya berkesan dan kuat, salah satunya mungkin juga karena memang diceritakan secara intens dari dia kecil hingga dewasa, seperti sebuah novel bergenre coming of age. Begitu menutup buku, saya kira pembaca akan terkenang-kenang pada tokoh ini, entah itu momen dimana Dayon menonton film James Bond di rumah Ijaf secara diam-diam, atau opininya soal kategori orang sombong itu ada dua, atau tingkah konyolnya dengan latihan barbel buatan sendiri yang berat sebelah dan berujung sakit pinggang, atau saat disiram oleh Topan, dan masih banyak lagi. Dayon ini mengesankan kalo buat saya pribadi. Pria yang ga ganteng, ga atletis, tapi pede, berani, cerdas, dan mengagumkan dengan caranya sendiri. Bagaimana Uda Akmal menciptakan suatu karakter yang membumi sebagai seorang tokoh pahlawan cerita memang luar biasa. Sebab alangkah bosannya kalo menyimak cerita, tokoh utamanya selalu tampan dan cantik.

... bagian-bagian kisah Dayon merupakan kolase pengalaman beberapa orang, baik yang Uda Akmal kenal maupun yang tidak kenal selain membacanya di berbagai media massa. Artinya, Dayon adalah personifikasi dari sejumlah kenyataan nyata. Inspired by stories, meskipun sebagai sebuah karya kreatif tentu saja dramatisasi menjadi tak terhindarkan untuk mendapatkan efek maksimal penceritaan.

Bab Galeri Inspirasi Halaman 321

 

Deskripsi-deskripsi fisik tokoh cerita juga jelas, termasuk tokoh Iip dan Ina yang saya kutipkan di bawah ini. Mereka jelas anak Belanda ya. Karena selain yang di bawah ini ada juga penjelasan deskripsi lainnya seperti rambut yang kemerahan dll. 

Terdengar suara anak lelaki memanggilku, "Yon, Boyon!"

"Kami mau lihat kuau raja. Kamu ikut?" timpal suara anak perempuan.

Aku cari arah suara. Wajah Iip dan Ina yang putih berbintik cokelat menyembul di sela-sela pagar kandang. Mereka kakak-adik. Keduanya lebih tua dariku. Ina 11 tahun dan Iip 8 tahun.

Halaman 20

 

Alur dan Latar

Novel ini beralur mundur maju alias kombinasi. Pergantian alurnya mengikuti cerita Dayon yang sedang dia sampaikan ke tokoh lain di dalam cerita. Jadi sebagian besar bridging-nya jelas, bukan seperti pergantian chapter yang tiba-tiba pada novel lainnya yang umumnya hanya diberi petunjuk lewat lokasi dan tanggal bulan tahun kejadian. Ini memory flashback.

Dengan cerita yang disampaikan dari sudut pandang orang pertama (Dayon), kisah yang intens personal ini menjadi makin personal. Seolah saya mengenal Dayon saja dan sedang ikut mendengarkan dia bercerita.

Konflik utama Dayon berkisar pada drama kehidupannya yang dikasih nama salah pengucapan itu, yang dia beberapa kali pernah coba ganti nama panggilan, dan diujung baru kemudian semacam ada acceptance terhadap seluruh kejadian yang dia alami, ya termasuk namanya itu. Sebuah ide cerita yang sederhana, relate dengan kehidupan banyak orang, tapi nyatanya berhasil dikemas menjadi sebuah novel yang apik dan menyentuh.

Ending-nya bahagia. Masuk kategori perfect menurut saya.

Latar cerita mengambil beberapa lokasi mulai dari lingkungan desa Kapau, kota Bukittinggi, hingga (tentu saja) kota terkenal di luar negeri. Tapi yang paling terkenang dalam buku ini buat saya adalah deskripsi-deskripsi lokal Minangkabau dengan sawah, ladang jagung, semak belukar, pepohonan, berikut penjelasan darimana pohon Andalas berasal yang merujuk pada kisah legenda sebatang tongkat milik Datuk Perpatih Nan Sabatang yang ditancapkan ke tanah lalu berubah menjadi pohon megah. Ada pula Bukit Kuliriak, Bukit Kawin, Bukit Kalung, Bukit Anduring, dan Bukit Kayu Manis yang membentuk  formasi melengkung seperti tapal kuda di Tilatang Kamang.

Panorama lingkunganku adalah sawah, ladang jagung, tumbuhan semak belukar seperti jelatang, beluntas, krokot, ilalang, rumput bambu, rumput balam, daun kentut, putri malu, tempuyung, dan berbagai jenis bunga yang kuketahui namanya sampai yang hanya kukenal bentuknya. Ada juga tumbuhan perdu setinggi 1,5-6 meter yang didominasi pohon buah seperti mangga, sawo, jeruk, pepaya, pisang, srikaya, jambu air, jambu biji, dan delima.

Tanaman lain yang mempercantik tanah kelahiranku adalah pohon-pohon kanopi jangkung setinggi belasan sampai puluhan meter yang berlomba mencium langit. Termasuk tmbuhan kanopi ini adalah tanaman pala, bayur, manggis, kelapa, durian, jati, dan kayu manis. Jika berjalan lebih jauh lagi terdapat perbukitan tempat pohon Andalas (Morus macroura), raksasa-raksasa hutan. Kayu pohon ini digunakan untuk bahan baku perabot rumah tangga, tuas roda kincir air, sampai bahan baku utama Rumah Gadang, rumah ada Minangkabau.

Dari mana pohon Andalas berasal?

Menurut legenda berawal dari sebatang tongkat milik Datuk Perpatih Nan Sabatang, salah seorang leluhur masyarakat Minang. Tongkat itu ditancapkan Sang Datuk ke tanah dan - bim salabim, eh, sim salabim - berubah menajdi pohon megah yang membuat orang terperangah, terpesona dan terperangah.

...

Halaman 17

 

Aku menjadi murid SMA 2 di kawasan Birugo yang terletak di tepi jalan Jenderal Sudirman, salah satu jalan protokol di Bukittinggi. Bangunan asli sekolah didirikan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1873. Sudah mengalami beberapa kali renovasi sampai bentuk sekarang yang modern, tetapi masih menyisakan jejak arsitektur kolonial yang khas.

Sastrawan Abdul Muis penulis roman Salah Asuhan yang masyhur itu - tanggal lahirnya pada 3 Juli ditetapkan sebagai Hari Sastra Nasional - adalah alumni SMA 2. Kesimpulanku: jika ungkapan 'sastra menunjukkan bangsa' dijadikan patokan, maka kualitas bangsa ini secara tidak langsung berawal dari Birugo. Dari sekolahku. Apakah aku terlalu ge-er? Biarin!

Halaman 142

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bukan karya Uda Akmal kalo ga mengangkat dan menyentil isu-isu menarik, termasuk novel Dayon ini. Salah satunya tentang perfilman yang menurut tulisan di dalam novel harusnya melibatkan satu orang pemain baru dari beragam etnis Indonesia yang kaya. Bukan cuma pemain figuran tapi pemain utama yang penting buat cerita. Lalu soal aktor aktris yang itu-itu saja, pemerannya dia-dia juga. Sounds true yeahh hahaha.

Pemda memberikan kebebasan kepadaku untuk mengembangkan cerita yang ide awalnya murni film kampanye penuh kalimat propaganda pembangunan. Untungnya lagi, mereka juga mengizinkanku mengubah judul awal Merauke Negeri Cinta Mati menjadi Asmara Tanah Musamus. Hanya satu keinginan Pemda yang harus dipenuhi: pemeran utama pria atau wanita, minimal salah satunya, harus penduduk asli.

Keinginan ini aku setujui 100 persen. Menurutku semua film nasional seharusnya melibatkan satu orang pemain baru dari beragam etnis Indonesia yang kaya. Bukan cuma sebagai figuran numpang lewat, tetapi dengan peran yang penting bagi cerita. Jangan sampai dari film ke film hanya menampilkan aktor-aktris yang itu-itu saja seperti kebiasaan buruk film Indonesia saat ini. Apapun perannya, pemerannya dia-dia juga. Memangnya mereka bunglon?

Halaman 3

 

Selain romance, apa yang bisa diharapkan dari novel ini salah satunya adalah bumbu horornya yang hadir berkat adanya percakapan tentang pulau pemuja iblis dan tentu saja karena ada tokoh Iip dan Ina. Ini sentuhan horor yang pas sekali, karena buat saya memang memberikan warna tambahan pada cerita. Memangnya bumbu novel itu cuma romance dan adegan intim aja... Ah betapa membosankannya kalo demikian. Tapi novel Uda yang satunya ini ga mengecewakan saya. Persentase kehororan hantu ini minim saja, namanya juga bumbu, dan lebih memberikan efek penasaran ketimbang ketakutan. Di ujung kisah Ina Iip ini akan membuka suatu cerita tragis yang menjadi jembatan menuju buku kedua Dayon. Menarik ya :). Btw, di bawah ini saya kutipkan adegan dimana Dayon diajak Iip dan Ina melihat kuau raja, dan ternyata adegan ini terinspirasi dari pengalaman seorang kerabat dekat uda Akmal yang hampir sana kejadiannya.

..."Siapa Iip dan Ina itu, Yon?" Mereka orang dewasa?'

Aku gelengkan kepala.

"Anak-anak, Yon?" kejar mak dengan tangis membadai. Seorang perempuan di samping rumah yang kupanggil Mak Tuo Ros merangkul mak.

Dari posisi tubuhku yang terbaring di atas kasur tipis, ekor mataku melihat pergerakan di rangka kayu penunjang atap seng. Aku ubah posisi tubuh agar bisa melihat lebih jelas. Senyumku merekah seiring tanganku menunjuk ke atas. "Itu..itu" ujarku gembira.

"Itu siapa?" Kepala Dusun tak mengerti. Pandangannya menyapu seluruh rangka kayu diiringi tatapan penasaran warga yang ikut mendongakkan kepala mereka.

...

Jawabku membuat suasana rumah langsung seperti pasar yang kocar-kacir karena ada kerbau mengamuk. Para tamu terpontal-pontal meninggalkan rumah. Kawan-kawanku memekik histeris.

Buya Zakaria mendekatiku, memegang nadi tanganku dan melihat ke arah rangka kayu. Rangkaian kalimat meluncur dari mulutnya, perlahan namun tegas. "wahai makluk Allah yang tak bisa kami lihat tapi bisa melihat kami, takutlah kepada Allah Rabbul Alamin...

Halaman 30

 

"Jadi, suanggi itu tidak ada?" kejar Sab pantang menyerah. 

"Suanggi tidak hanya dipercaya masyarakat Papua, tetapi juga oleh masyarakat di wilayah Indonesia Timur secara umum, dari NTT sampai Halmahera," ujarku. "Ada pulau kecil bernama Maupora yang terletak di antara pulau Seram dan pulau Buru yang disebut pulai Suanggi. Julukannya 'pulau pemuja iblis' karena diyakini masyarakat setempat sebagai berkumpulnya iblis dari seluruh dunia."

Halaman 36

 

Membaca Dayon juga berarti mendapatkan pengetahuan tentang kekayaan budaya lokal Minangkabau, misalnya tentang alat musik saluang yang ternyata bisa dimainkan dengan beragam cara berdasarkan daerahnya. Dan ternyata pula, ada saluang yang dimainkan sebagai pengiring mantra. Ah, andai tak baca Dayon, saya pasti tak tahu ini. Selalu senang saat menemukan buku-buku cerita yang mengangkat budaya lokal.

"... Gaya memainkan saluang ini tidak hanya satu, asal tiup. Beda daerah beda cara memainkannya. Coba dengarkan, ini gaya Pariaman." Abak memainkan ebberapa nada yang meliuk-liuk. Selama beberapa saat selanjutnya abak mencontohkan gaya memainkan saluang yang berbeda dari daerah Suayan, Pauh, Koto Tuo, Singgalang, sampai melodi mengiris hati yang disebut ratok (ratap) Solok.

...

"ini contoh saluang sirompok dari daerahku. Payakumbuh."

Mak terkejut. "Apakah ini yang digunakan untuk guna-guna seperti kata orang?"

"Ya. Itu digunakan oleh lelaki yang ingin menaklukkan hati perempuan yang menolak cintanya atau ingin mencelakakan perempuan itu. Peniup saluang sirompak bersama tukang soga yang menyembunyikan alat musik lain sebagai pengiring mantra yang diucapkan pawang sirompak atau dukun. Mantra itu untuk memanggil simambang atau roh halus. Ada lima simambang sesuai dengan jumlah lima lubang pada saluang."

...

Halaman 49

 

Dengan gaya penulisan yang menyelipkan humor, kelokalan itu terasa renyah dibaca. Beberapa buku Uda Akmal yang saya baca selalu punya diksi yang kaya dan bisa dibilang puitis. Humornya pun minim, bahkan tak terasa, kecuali yang paham saja bagian mana yang disisipi humor olehnya (misalnya nama tokoh). Tapi di novel ini, rasanya berbeda. Lebih mudah dinikmati beragam kalangan, tanpa kemudian seolah-olah mengekor gaya penulisan Andrea Hirata.

Disisipkan pula pesan-pesan baik di dalam banyak adegan cerita tokoh utama. Misalnya, saat Dayon ikut abaknya bermain KIM, sebuah permainan dendang pantun yang berunsur judi. Saat itu Dayon dan abak memenangkan kipas angin, lalu karena mak ga setuju karena KIM hakikatnya adalah permainan judi, akhirnya kipas angin ini dijual, dan uangnya dibelikan Dayon sesuatu yang saya ga sebutkan disini supaya teman-teman bisa baca sendiri di bukunya. Dari cerita ini akan ada pesan yang tersirat. Yes, novel-novel Uda Akmal memang selalu mengedukasi pembacanya, dan bagian dari dakwah tersendiri.

Satu hari abak mengajakku menonton permainan KIM di Bukittinggi. Ini adalah permainan yang menggabungkan musik dengan kuis berhadiah. Peserta yang beruntung bisa mendapatkan hadiah mulai dari biskuit kaleng, handuk, payung, radio kecil, sampai televisi. ...

KIM dilakukan melalui seorang tukang dendang merangkap pembawa acara yang menyanyikan pantun-pantun lucu dengan iringan musik organ tunggal. Di antara baris-baris syair yang dia ucapkan selalu disebutkan dua angka yang harus didengarkan para pemain untuk dicocokkan dengan kupon di tangan mereka. Pada kupon tercetak dua angka secara acak dari angka 1-99.

Jika angka yang dinyanyikan tercetak pada kupon, maka peserta melingkari angka itu dan meminta tukang dendang menghentikan lagu agar mendapatkan hadiah. Jika tidak dilakukan dan tukang dendang sudah telajurkan menyanyikan pantun berisi angka lain, maka kemenangan sebelumnya dianggap gugur. Hadiah batal.

Halaman 75

 

Kisah abak dan Dayon kelak berlanjut di dalam novel, dengan sentuhan yang disembunyikan penulisnya, seolah-olah antara Dayon dan abak tercipta jarak, tapi justru disitulah alurnya akan menguatkan akhir takdir abak dan Dayon. Ini kisah yang menyentuh sekali, it works for me, dan kalo boleh request saya ingin uda menuliskan kisah abak dan Dayon lebih banyak atau menulis sebuah buku ayah dan anak yang menyentuh. Saya menduga emosinya akan lebih dalam di saya ketimbang novel uda yang bertema sci fic, fiksi sejarah, dan romance.

"Nanti abak tidak menjemputmu. Pulang sendiri lewat jalan tadi, berani?"

Aku tak langsung mengangguk karena sedang membayangkan rute yang baru pertama kali kulewati. Suara abak kembali terdengar. "Kamu anak lelaki, harus berani."

"Iya, Bak," ujarku seraya mengambil punggung tangannya dan menciummnya, lalu bergegas memasuki halaman sekolah.

Urusan nanti biar terjadi nanti. Saat ini nikmati saja pengalaman baru.

Halaman 57

 

Membaca novel Dayon juga berarti bernostalgia ke masa lalu. Masa dimana permainan Nintendo itu keren sekali. Game Super Mario Bros dulu pernah mencandu saya waktu kelas 6 SD hahaha. Saya menumpang main di rumah seorang teman, dan saya rela pergi ke rumahnya tiap hari padahal rumah kami jaraknya jauh. Di masa itu ada pula 3D Viewer dan walkman Sony. Semua barang-barang yang punya momen di era itu. Umur Dayon sendiri kurang lebih sama dengan saya, kami satu jaman.

Teman-teman sudah memanggilku James setelah mereka lebih dulu kusogok dengan menyantap ketupat sayur paku (pakis) dan sebatang es krim. Itu terjadi saat Ijaf pamer Nintendo baru miliknya. Dia mengundang kami main ke rumahnya bermain gim Super Mario Bros. Bukan itu saja, Ijaf juga menunjukkan 3D Viewer, perangkat foto tiga dimensi, yang penggunaannya harus diarahkan ke cahaya terang. Foto-foto itu cuplikan adegan film terkenal atau panorama yang luar biasa. Setelah itu dia memamerkan walkman Sony dan menyuruh kami mencoba mendengarkan lagu Ini Rindu yang dibawakan secara duet oleh Farid Hardja dan Lucky Resha.

Halaman 123

 

Tentu saja ada percakapan-percakapan yang bertopik makanan dan minuman di sini. Semua buku uda yang saya baca selalu demikian, entah itu kuliner luar negeri atau dalam negeri. Saya lebih tertarik ke yang regional kuliner dan di dalam novel Dayon ada disebutkan menu cancang kambiang. Saya cepat-cepat browsing google begitu membaca bagian dimana Dayon dan teman-teman makan cancang kambiang. Wow enak :D

"Cancang Kambiang Haji Marah di Ampang Gadang?" tanya Jeff.

"Setuju!"

Kami makan kari kambing penuh lemak yang sedap itu berpiring-piring.

Halaman148

 

Untuk pembaca yang juga suka perfilman, dan hidup di era yang sama dengan saya dan Dayon (atau lebih senior mungkin), pasti akan disusupi rasa bahagia nostalgia ketika menemukan alinea-alinea yang bertopikkan film-film lama Indonesia seperti Naga Bonar atau Catatan si Boy yang legend itu :). Saya ingat waktu film Naga Bonar diputar di tv, itu masa dimana saya masih kecil, menonton bersama keluarga sampai terpingkal-pingkal. Kala itu kakak adik masih berkumpul, dan ibu almarhumah masih ada bersama kami. What a happy memory. Sedang saat film Catatan si Boy booming rasanya saya sudah lebih besar, dan nostalgia membawa saya pada kebahagiaan bersama sepupu-sepupu yang dulu itu masih belum terpencar di berbagai daerah dan jarang bertemu seperti saat ini. Sepupu-sepupu saya ini sebagian sudah remaja saat film Catatan si Boy tenar, dan tidak sedikit dari remaja kala itu yang meniru-niru gaya Onky Alexander supaya keren atau bergaya Emon untuk melucu.

...karya Arifin C. Noer, Teguh Karya a.k.a Steve Liem, Sjumandjaja, Wim Umboh, Slamet Rahardjo, dan lain-lain, yang ketika aku masuk SMA di tahun 1995- sebetulnya film film mereka sudah tak diputar di biioskop. Aku juga menyukai film Naga Bonar, tentang raja copet di awal kemerdekaan yang justru jadi pahlawan karen nekad melawan Belanda. Aktor Dedy Mizwar yang membawakan peran eksentrik itu sangat menjiwai. Film yang berhasil membangkitkan rasa nasionalisme, tetapi sangat bisa dinikmati karena lucu hampir pada tiap dialognya. Bisa jadi karena penulis ceritanya sastrawan kawakan Asrul Sani.

Ada satu seri film yang membuatku hanyut dalam dunia anak muda ibu kota Jakarta, kehidupan yang tak pernah kualami. Film itu adalah Catatan si Boy yang terdiri dari lima film. Semuanya karya Nasri Cheppy, sutradara Aceh yang orangtuanya berasal dari pariaman, Sumatera Barat. ..

Halaman 163

 

Sebuah misteri kehidupan disisipkan uda Akmal ke dalam novel ini, tentang Dayon yang bisa menonton film di bioskop tanpa membayar sepeserpun. Ini salah satu hal yang saya tunggu jawabannya hingga akhir cerita, dan penjelasannya tidak mengecewakan. It works.

Aku tak tahu dari mana Ajo Ronal mendapatkan film film itu, apakah dari arsip bioskop tempatnya bekerja atau tempat lain. setiap kali kutanya jawbannya, "Tak penting aku dapatkan dari mana. Aku sudah senang ada anak muda sepertimu yang suka film dalam negeri, tak seperti remaja lain yang tergila-gila film asing." Akibat jawabannya itu aku tak pernah bertanya lagi,

..

..

"Saat itu aku tak tahu motifnya, bahkan tak pernah terpikirkan olehku untuk bertanya. Motif ajo ronal baru kuketahui bertahun-tahun setelah aku kuliah dan ayahku meninggal dunia."

Halaman 164

 

Seringkali novel yang apik akan menyisakan banyak tanda tanya bagi saya seputar inspirasi menulisnya. Di bagian akhir buku ini ternyata ada satu bab berjudul Galeri Inspirasi yang berisi uraian uda Akmal seputar ide hal ikhwal buku Dayonnya. Saya ceritakan sedikit di sini, bahwa novel Dayon berasal dari cerita pendek berjudul "Boyon" yang terdapat dalam kumpulan cerpen pertama Uda Akmal yang berjudul Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), karya ini kemudian terpilih sebagai pemenang pertama  dalam kompetisi yang diselenggarakan mailing-list Apresiasi Sastra. Setelah itu, "Boyon" kemudian uda Akmal kembangkan menjadi "Surat untuk Abak" yang menjadi bagian kumpulan cerpen Putif Safron di Sayap Izrail (2020). Untuk penjelasan yang lebih detail, teman-teman nanti bisa baca sendiri di buku Dayon.

 

Novel Dayon bagi saya sangat istimewa karena banyak hal, di antaranya nilai edukasinya yang kaya pada kehidupan budaya lokal Minangkabau, pesan ceritanya yang dalam tentang episode kehidupan dan naik turunnya, keapikan bumbu-bumbu ceritanya, unsur misterinya yang menggugah, nostalgia masa lalunya yang berharga, dan keotentikan ide ceritanya yang biasa itu (soal nama) ternyata bisa menghasilkan satu buku yang luar biasa. Ini buku yang paling saya sukai dari buku-buku uda Akmal lainnya yang sudah pernah saya baca.

Dalam satu perbincangan santai saya dengan Uda Akmal bersama Ibu Ida dari MCL Publisher, Uda menyatakan rencananya untuk menulis novel horor. Saya sangat menunggu-nunggu novel uda berikutnya, dan khusus genre horor saya kira tidak mudah untuk menulis kisah horor yang berhasil. Maka, kita tunggu ya buku uda berikutnya :).

 

Siapa Akmal Nasery Basral

Dayon adalah karya ke-20 Akmal Nasery Basral, penulis yang pernah menjadi wartawan majalah Gatra dan Tempo serta pendiri dan pemimpin redaksi majalah musik MTV Trax. Karya-karyanya yang kain adalah: Imperia (2005), Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), Nagabonar Jadi 2 (2007), Sang Pencerah (2010), Presiden Prawiranegara (2011), Batas: Antara Keinginan dan Kenyataan (2011), Simfoni untuk Negeri (non-fiksi, 2011), Anak Sejuta Bintang (2012), Tadarus Cinta Buya Pujangga (2013), Napoleon dari Tanah Rencong (2013), Trilogi Imperia (ilusi Imperia, 2014, Rahasia Imperia, 2014, Coda Imperia, 2018), DIlarang Bercanda dengan Kenangan (2018), Te o Toriatte (2019), Setangkai Pena di Taman Pujangga (2020), Dilarang Bercanda dengan Kenangan 2: Gitasmara Semesta (2020), Putik Safron di Sayap Izrail (2020), Disorder (2020).

Penulis tinggal di Cibubur bersama istri dan ketiga putri mereka.

Sumber: Novel Dayon

 

Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.

Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai

Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.

Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.

Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya. 

Sumber : Goodreads

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada semua pembaca karena pesan ceritanya yang sangat bagus, tokohnya yang dekat dengan keseharian dan mencontohkan satu etos keberhasilan, ide ceritanya sederhana tapi berhasil dikemas menjadi satu karya yang luar biasa, syarat budaya lokal Indonesia dan turut menginventarisasi berbagai karya dan momen tertentu di era 80-90an. Tidak ada yang tidak saya sukai dari novel Dayon. Dayon adalah novel antropologi yang berunsur romance, humor, horor, family, dan friendship.

 

 

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan masih banyak lagi. Passionnya yang lain terkait dengan pendidikan dan kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Snack Book - Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipi pensiun dari bekerja di universitas dan menikmati waktunya di lembaga pelatihan. Dipidiff adalah Personal Brand-nya. 

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Noise - Daniel Kahneman, Oli…

30-11-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  From the Nobel Prize-winning author of Thinking, Fast and Slow and the coauthor of Nudge, a revolutionary exploration of why people make bad judgments and how to make better ones--"a...

Read more

Review Buku People We Meet in Vacation -…

29-11-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The #1 New York Times Bestseller A Tonight Show Starring Jimmy Fallon Summer Reads Nominee From the New York Times bestselling author of Beach Read   Judul : People We Meet on Vacation Penulis : Emily Henry Jenis...

Read more

Review Buku The Whole-Brain Child - Dani…

21-11-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 Best Seller in Popular Child Psychology New York Times Bestseller   Judul : The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies to Nurture Your Child's Developing Mind   Penulis : Daniel J. Siegel & Tina Payne...

Read more

Review Buku The Whole Truth - Cara Hunte…

16-11-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    The New 'impossible to predict' Detective Thriller from the Richard and Judy Book Club Spring 2021 (DI Fawley) The New Up-All-Night Thriller from the Sunday Times Bestseller Cara Hunter, Perfect for...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more