0

Review Buku Gilded - Marissa Meyer

Published: Friday, 13 May 2022 Written by Dipidiff
 
 
Editors' Pick Best Young Adult on Amazon
#1 Indie Bestseller
#1 New York Times Bestseller
A New York Times Best Children's Book of 2021
In Gilded, #1 New York Times-bestselling author Marissa Meyer returns to
the fairytale world with this haunting tale.
 

Judul : Gilded

Penulis : Marissa Meyer

Jenis Buku : Teen & YA Fairy Tale & Folklore Adaptations, Teen & YA Epic Fantasy, Teen & YA Sword & Sorcery Fantasy

Penerbit : McMillan

Tahun Terbit : November 2021

Jumlah Halaman : 512 halaman

Dimensi Buku : 13 x 19,7 x 3,5 cm

Harga : Rp. 189.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780571371587

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Serilda dikutuk oleh dewa kebohongan, dia kemudian terlahir menjadi storyteller yang ahli memutar cerita menjadi kisah yang fantastis dan memukau. Orang-orang tentu saja menganggap cerita-cerita itu hanya karangan belaka, namun lebih jauh lagi mereka akhirnya tidak percaya apapun yang Serilda katakan.

Ketika salah satu kisah aneh Serilda menarik perhatian Erlking yang jahat, Serilda mendapati dirinya tersapu ke dunia yang suram di mana hantu dan mayat hidup berkeliaran di bumi dan gagak bermata cekung melacak setiap gerakannya. Raja memerintahkan Serilda untuk menyelesaikan tugas yang mustahil untuk memintal jerami menjadi emas, atau dibunuh karena berbohong. Dalam keputusasaannya, Serilda tanpa sadar memanggil seorang anak laki-laki misterius untuk membantunya. Dia setuju untuk membantu Serilda dengan imbalan sebagai gantinya. Namun cinta tidak dimaksudkan untuk menjadi bagian dari tawar-menawar.

Segera Serilda menyadari bahwa ada lebih dari satu rahasia yang tersembunyi di dinding kastil, termasuk kutukan kuno yang harus dipatahkan jika dia berharap untuk mengakhiri tirani raja dan perburuan liarnya selamanya.

Sumber: Amazon

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Berbicara tentang desain sampul selalu tak lepas dari membicarakan simbolisme desain terhadap isi bukunya. Desain Gilded sendiri menurut mewakili isi cerita dan menggambarkan genrenya yang fantasy. Warna emas berkesesuainya dengan topik cerita, gambar kastil saya tebak mewakili kastil Adalheid yang merupakan kastil berhantu yang menjadi latar utama kisah Serilda.

 

Tokoh dan Karakter

Serilda

Gild

Erlking

Anna, Nickel, Fricz, Hans

Parsley dan Meadowsweet

Lorraine dan Leyna

Thomas lindbeck

Madam Sauer

Shrub Grandmother

dll

 

Selayaknya genre fantasy yang biasanya banyak tokoh ceritanya, begitupun dengan Gilded. Tapi di sini kita punya tiga tokoh utama, yakni Serilda, Gild, dan Erlking. Serilda, gadis yang sebenarnya baik hati, hanya saja karena penduduk mencapnya sebagai "pembohong" lantaran cerita-ceritanya yang fantastis itu membuatnya menjadi terisolasi. Secara fisik Serilda juga mengundang kecurigaan karena matanya yang keemasan. Tokoh ini rasanya memang mewakili orang-orang yang merasa tidak bisa berbaur secara sosial, merasa tidak fit it, dan karenanya punya kekosongan di dalam jiwa dan insecure. Patut ditiru memang, bahwa Serilda seolah tak ambil peduli dengan perlakuan penduduk, dan mempertahankan bagian otentik yakni tetap menjadi dirinya sendiri. Kata-katanya memang jadi cenderung tajam dalam upayanya melindungi hatinya yang rapuh. Serilda mencintai anak anak kecil karena mereka memperlakukannya dengan tulus, juga karena cerita-ceritanya selalu membuat anak-anak antusias mendengarkan. Serilda berjiwa bebas, petualangan, berani, penuh keingintahuan, namun kadang ceroboh. Kepandaiannya bercerita memang membawa masalah. Di buku pertama ini, tokoh Serilda memang diekspos menjadi pusat cerita. Sedangkan Gild, ini tokoh yang misterius. Karakternya terasa samar-samar, sejalan dengan kisahnya sendiri yang tidak ingat masa lalunya. Berharap banget di buku kedua, tokoh Gild bisa memiliki porsi yang lebih banyak di dalam plotnya.

Untuk antagonis, kita punya Erlking yang kejam, licik, dan jahat. Namun, entah kenapa saya teringat Darkling saat menyimak deskripsi fisik Erlking. Jenis tokoh jahat yang tampan dan kharismatik :D. Coba cek deskripsi fisik Erlking di bawah ini,

Its rider was cast in moonlight, beautiful and terrible at once, with silver-tinted skin and eyes the color of thin ice over a deep lake and long black hair that hung loose around his shoulders. He wore fine leather armor, with two thin belts at his hips holding an assortment of knives and a curved horn. A quiver of arrows jutted over one shoulder. He had the air of a king, confident in his control of the beast beneath him. Sure in the respect he commanded from anyone who crossed his path.

He was dangerous.

He was glorious.

He was not alone. There were at least two dozen other horses, each one black as coal, but for their lightning-white manes and tails. Each bore a rider - men and women, young and old, some dressed in fine robes, others in tattered rags.

Some were ghosts. She could tell from the way their silhouettes blurred against the night sky.

Others were dark ones, recognized by their unearthly beauty. Immortal demons who had long ago escaped from Verloren and their once master, the god of death.

Page 30

dan ini deskripsi fisik Gild. By the way, penggunaan kata a boy untuk Gild membuat saya menarik kesimpulan usianya yang di bawah 18 tahun.

A man.

Or... a boy. A boy about her age, she guessed, with copper hair that hung in wild tangles to his shoulders and a face that was covered in both freckles and dirt. He wore a simple linen shirt, slightly old-fashioned with its generous sleeves, which he d left untucked over emerald-green hose. No shoes, no tunic, no overcoat, no hat. He might have been getting ready for bed, except he looked wide-awake.

Page 85

 

Alur dan Latar


Alurnya maju lumayan cepat dan makin lama saya juga makin mengapresiasi narasi ceritanya yang detail, meski memang membuat plotnya jadi maju lebih pelan.

Cerita dibagi menjadi beberapa bagian yang uniknya mengambil pola fase bulan. Tiap chapternya dilayout dan diilustrasikan khusus seperti foto di bawah ini.

Picture: Halaman Chapter pada buku

 

Pov orang ketiga dengan Serilda sebagai pusat cerita. 

Untuk konflik cerita, masalah yang dihadapi Serilda kelak jadi berlipat-lipat di akhir cerita karena bukan hanya ingin bebas dari cengkraman Erlking, tapi ia juga ingin membebaskan anak-anak yang ditawan, mengurai misteri Gild, menghentikan kejahatan Erlking, menemukan ibunya, dll. Kalo teman-teman suka dengan tipe konflik kebenaran melawan kejahatan dengan pahlawan wanita sebagai main character, Gilded termasuk kategori itu. Hanya, saya sendiri belum bisa menyatakan apakah hingga akhir kisah akan tetap demikian, mengingat ending novel ini yang menggantung. Yes, ini buku pertama dari seri. Endingnya bikin greget dan penasaran.

Latar tempat cerita di Marchenfeld, Adalheid Castle (Gravenstone Castle), Adalheid City, Aschen Wood, terus terang deskripsinya selalu sangat rinci. Satu ruangan di dalam kastil bisa menghabiskan 1 atau lebih halaman. Berikut saya kutipkan sebagian kecil deskripsi fisik Adalheid Castle yang awalnya dikira Serilda sebagai Gravenstone Castle.

The Aschen Wood was the territory of the dark ones and the forest folk. She had always pictured Gravenstone Castle standing dark and ominous somewhere deep in the forest, a fortress of slim towers taller than the most ancient trees. No stories had ever mentioned a lake... or a city, for that matter.

As the carriage passed along the main thoroughfare of the town, the castle loomed back into view. It was a handsome building, stalwart and commanding, with a bevy of turrets and towers surrounding a large central keep.

It wasnt until the carriage turned away from the last row of houses and began crossing over a long, narrow bridge that Serilda realized the castle was not built at the edge of the town, but on an island out in the lake itself. The ink-black water reflected its moonlit stonework. The wheels of the carriage clattered loudly on the cobblestone bridge, and a chill enveloped Serilda as she craned her neck to see the imposing watchtowers flanking the barbican.

They passed over a wooden drawbridge, under the arched gateway, and into the courtyard. the mist hung cloyingly to the surrounding buildings, so that the castle was never revealed in its entirety, but shown only in glimpses before being shrouded once more.

Page 64

Universe yang dibangun oleh Marissa Meyer terbentuk dengan baik. Dunia fantasinya juga mudah dimasuki, tidak terlalu berat, seolah-olah bisa melebur begitu saja dalam imajinasi. Dongeng asli tahun 1889 ini berlatar jadul, sama kesannya dengan versi retellingnya. Old but new karena Meyer berhasil memberikan kesan fresh pada cerita.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Teman-teman mudik bawa buku apa? Sedikit cerita, saya baca buku Gilded waktu kemarin libur mudik. Kita sesama pecinta buku begitu ya, kemana-mana bawa buku :D.

Btw, novel Gilded direkomendasikan oleh adikku Sherry, rencananya kami akan iglive bahas buku ini juga nantinya. Ini genre dark fantasy dengan bumbu romance. Kategorinya juga masuk bacaan fiksi YA.

Cerita Gilded unik karena re-telling dari Rumpelstiltskin, tentang seorang gadis yang dikutuk oleh dewa kebohongan hingga pandai mendongeng, saking pandainya orang-orang tidak ada lagi yang percaya pada apa yang ia ceritakan. Hingga suatu malam, dalam upayanya menyelamatkan dua makhluk hutan yang berada dalam kejaran Erkling yang kejam, Serilda berdalih sedang mengumpulkan jerami untuk diubah menjadi emas. Raja lalu menguncinya di dalam penjara bawa tanah kastil dan memerintahnya untuk mengubah jerami menjadi emas atau dibunuh karena berbohong. Dalam keputusasaan Serilda tanpa sadar memanggil seseorang. Seorang pemuda datang dan setuju membantunya dengan syarat. All magic comes at a price, but love was never part of the bargainMarissa Meyer adalah penulis terlaris #1 di New York Times dari Renegades Trilogy, seri The Lunar Chronicles, novel grafis Wires and Nerve, dan The Lunar Chronicles Coloring Book. Novel solo pertamanya, Heartless, juga menjadi bestseller #1 di New York Times.Teman-teman ada yang sudah baca buku ini juga kah? Atau familiar dengan dongeng Rumpelstiltskin?


Kira-kira apa ya yang kita harapkan dari sebuah novel retellingMungkin alur ceritanya yang berbeda atau endingnya yang lebih mengejutkan yang ditunggu oleh kita. Seperti Gilded yang merupakan retelling dari sebuah dongeng German berjudul Rumpelstiltskin (*dan dongeng negara lainnya yang ceritanya mirip-mirip), ada perbedaan di antara keduanya, misalnya di Gilded yang bilang Serilda bisa mengubah jerami jadi emas adalah Serilda sendiri, sedangkan di versi aslinya justru ayahnya. Si cowok tampan dalam novel Gilded adalah setan di versi dongengnya, dan lain-lain. Rame ya :D, dan yang pasti romancenya manis.

Selain Serilda, the King, dan Gild, ada juga tokoh-tokoh cerita lain yang beragam, mulai dari hantu, mayat hidup, binatang buas, dll. Banyaknya hewan-hewan fantastis yang dideskripsikan di dalam cerita membuat saya teringat pada Fantastic Beast-nya J.K. Rowling, hanya yang masih membingungkan buat saya di buku ini adalah ketiadaan peran buat si hewan-hewan tersebut. Mungkin nanti di buku kedua ya. 

The carriage-cage was being drawn by two bahkauw. They were miserable-looking beasts, bull-like, with horns that twisted in corkscrews from their ears and massive hunched backs that forced their heads to hang awkwardly toward the ground. Their tails were long and serpentine, their mouths wrapped around ill-fitting teeth. They waited motionless for the coachman, for as there was no one atop the driver s seat, she thought this ghost must be the one who would be driving them.

Page 57

It was serpentine, with two crests of small pointed thorns curving across its brow and needlelike teeth set into rows along its protruding mouth. Slitted green eyes were ringed with what appeared to be gray pearls embedded in its skin, and a single red stone sparkled in the center of its brow, a cross between a pretty bauble and a watchful third eye. An arrow with black fletching still protruded from beneath one of its bat-like wings, so small it seemed impossible that it could have been a killing strike. In fact, the beast hardly looked dead at all. the way it had been preserved and mounted, it looked ready to jump off the fireplace and snatch Serilda up in its jaws. As she drew closer, she wondered if she was only imagining the warm breath, the throaty purr, leaking out from the creature s mouth.

"Is that a...?" she started, but words failer her. "What is that?"

"A rubinrot wyvern," came the answer from behind her. ..

Page 72

 

The dark ones frightened her more. Unlike the ghosts, they were as solid as she was. Almost elflike in appearance, with skin that shimmered in tones of silver and bronze and gold. Everything about them was sharp. Their cheekbones, the jut of their shoulders, their fingernails. They were the king s original court, had been at his side since the before times, when they had first escaped from Verloren. They watched her now with keen, malicious eyes.

There were creatures, too. Some the size of cats, with black-taloned fingers and small pointed horns. Others the size of Serilda s hand, with batlike wings and sapphire-blue skin. Some might have been human, if it werent for the scales on their skin or the mop of dripping seaweed that clung to their scalps. Goblins, kobolds, fairies, nixes. She could not begin to guess at them all.

Page 69

 

In one cage, an elwedritsch, a plump birdlike creature covered in scales instead of feathers, with a rack of slender antlers sprounting from its head. There was its cousin, the rasselbock, a rabbit in size and form, but also sporting antlers like a roebuck. In the next cage, a bargeist, and enormous black bear with glowing red eyes. And there were creatures she had no names for. A six-legged oxlike creature that bore a protective shell on its back. A beast the size of a boar, covered in shaggy fur that, on closer examination, might not have been fur at all, but sharp porcupine-like quills.

A sound almost like a gasp, almost a laugh, escaped her as she spotted what appeared at first to be an average mountain goat. But as it hobbled closer to its food dish, she saw that the legs on the left side of its body were significantly shorter than the legs on the right side. A dabut. The creature whose fur Gild had said was his favorite to use for spinning.

Page 365


Juga disinggung di sini tentang dewa-dewa. Saya penasaran sih sebenarnya karena di buku satu ini tokoh dewa-dewanya belum terlihat ada peran yang mencolok, namun terus terasa membayang-bayangin ide cerita. Mungkinkah akan ada perubahan di buku keduanya (?)

Serilda shut the book and leaned forward to inspect their work. For Eostrig's Day, the schoolchildren were traditionally tasked with making the effigies that would symbolize the seven gods at the festival. Over the past two days, they had completed the first three: Eostrig, god of spring and fertility; Tyrr, god of war and hunting; and Solvide, god of the sky and sea. Now they were working on Velos, who was the god of death, but also of wisdom.

...

Supposedly, the ceremony was meant to ensure a good harvest, but Serilda had lived through enough disappointing harvest to know that the gods probably weren't listening that closely. There were many superstitions associated with the equinox, and she placed little trust in any of them. She doubted that to touch Velos with one's left hand would bring a plague to the household in the following year, or that to give Eostrig a primrose, with its heart-shaped petals and sunshine-yellow middles, would later make for a fertile womb.

Page 174



Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah diksi (bahasa Inggrisnya) yang berasa dongeng banget, sesuai dengan ekspektasi saya. Ga heran juga sih karena Marissa Meyer memang tumbuh bersama dongeng sejak masa kecilnya. Ide buku Gilded sendiri berasal dari rasa frustasinya yang besar saat ia membaca dongeng Rumpelstiltskin untuk yang pertama kalinya saat remaja. Meyer merasa dongeng tersebut banyak lubang pada plotnya dan ia benar-benar ingin tahu detail beberapa bagian dalam cerita.

Baca novel ini ada sensasi petualangannya juga ternyata, karena Serilda memang melakukan perjalanan bolak-balik ke beberapa kota dan kastil.

Sekali lagi, buku ini detail sekali deskripsi universenya, salah satu bagian yang saya ingat adalah salah satu ruangan di dalam kastil yang pintu masuknya diapit dua patung anjing pemburu yang sangat besar yang terbuat dari perunggu. Pintunya dari kayu berukuran besar dan kuno, dengan engsel logam hitam. Ada lampu gantung yang terbuat dari besi, tanduk dan tulang. Pilarnya diukir dengan desain semak berduri dan kuntum mawar yang rumit polanya. Lalu ada aula dengan dua tangga lebar melengkung ke atas dan satu set pintu yang mengarah ke koridor. Lampu gantung tergantung di langit-langit, karpet dan bulu binatang menutupi lantai. Permadani menghiasi dinding. Koleksi hewan dipajang, dengan kepala tanpa tubuh, dari basilisk kecil hingga babi hutan, dan ri naga tanpa sayap hingga ular bermata permata. Detail sekali kan ya. Ini baru sebagian kecil saja yang saya kutipkan. Sayangnya, buku ini tidak ada map-nya. Saya berharap ada peta universe padahal.

 

The entrance to the keep was flanked by two enormous bronze statues of hunting hounds - so lifelike Serilda shied away as she passed them. Ducking into the keep s shadow, she had to jog to catch up with the king s long strides. She wanted to pause and marvel at everything - the enormous and ancient wooden doors with their black metal hinges and raw chiseled bolts. The chandeliers crafted of iron and antlers and bone. Stone pillars carved with intricate designs of brambles and rosebuds.

They had entered into an entry hall, with two wide staircases curving upward and a set of doors leading into opposing corridors to Serilda s left and right, but the king led them straight ahead. Through an arched doorway, into what must be the great hall, lit with candlelight at every turn. Sconces on the walls, tall candelabras in the corners, while more chandeliers, some as big as the carriage she d ridden in, hung from the raftered ceiling. think carpets and animal pelts covered the floors. Tapestries decorated the walls, but they did little to add vibrancy to a space that was as eerie as it was majestic.

The decor was all reminiscent of a hunting lodge, with an impressive collection of taxidermied beasts. disembodied heads on the walls and whole stuffed bodies ready to pounce from the corners. from a small basilisk to an enormous boar, a wingless dragon to a gem-eyed serpent. ..

Page Chapter 9



Dark fantasy memang sesuai untuk genre novel ini karena tragedinya yang terus-terusan terjadi. Ibu yang hilang, ayah yang mati, anak yang disekap, dan tokoh-tokoh yang terbunuh. Ada tipu daya, kelicikan, ketamakan, cinta yang tidak menemukan jalan, dan lain-lain. Cocok pula untuk sebuah cerita yang bertokohkan raja kegelapan sebagai antagonisnya.


Gilded bukan cerita yang epic karena dua tokoh utamanya belum ditampilkan powerful dan konflik puncaknya sendiri belum terlihat jelas. Kekuatan Serilda dalam hal storytelling dan Gild yang bisa mengubah sesuatu menjadi emas belum membuka peluang sebuah plot heroic dan bertwist. Sepertinya Marissa Meyer memang menyimpan itu buat buku kedua. Personally, segala sesuatu di buku ini terasa "serba nanggung" tapi cukup bikin penasaran buat baca buku keduanya.

Untuk pesan ceritanya sendiri, saya banyak mengambil refleksi dari tokoh Serilda yang tangguh meski mendapatkan perlakuan tidak adil dan tuduhan tidak berdasar dari penduduk. Alih-alih membalas dengan berbuat jahat atau menjadi orang jahat sesungguhnya, Serilda tetap tumbuh menjadi gadis yang baik hati dan memiliki nilai-nilai positif dalam hidupnya. Lidahnya yang tajam bisa saya pahami sebagai salah satu cara yang dia miliki untuk bertahan dari lingkungan sosial yang tidak mendukung.

 

Siapa Marissa Meyer

Marissa Meyer adalah penulis buku terlaris New York Times dari sejumlah buku untuk remaja, termasuk The Lunar Chronicles, the Renegades Trilogy, dan Heartless.

Sumber: Buku Gilded

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca young adult yang mencari novel dark fantasy retelling sebuah dongeng. Kekuatan buku ini terutama di narasinya yang rinci, baik latar situasi maupun suasana. Dunia fiksinya terbangun dengan baik. Tentunya ada perbedaan antara novel ini dengan versi dongengnya, dan ini membuat jalan cerita Gilded menjadi menarik buat disimak. Di buku pertama ini kita belum akan menemukan sisi epic dari cerita, ending novel ini memang menggantung.

Noted: blood, murder, premarital sex, wickedness

 

 

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

Review Buku Dimensi Langit Manusia - Ast…

11-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Dimensi, juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020 Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia   Judul : Dimensi Langit Manusia Penulis : Astrida Hara Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : MCL...

Read more

Review Buku Bino - Zaki Jaihutan

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Bino Penulis : Zaki Jaihutan Jenis Buku : Horor Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Juni 2021 Jumlah Halaman : 288 halaman Dimensi Buku : 13 x 19 cm Harga : Rp. 96.000*harga sewaktu-waktu dapat...

Read more

Review Buku Uzumaki - Junji Ito

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Uzumaki Penulis : Junji Ito Jenis Buku : Horror Manga, Media Tie-In Manga Books Penerbit : VIZ Media LLC Tahun Terbit : 2013 Jumlah Halaman :  648 halaman Dimensi Buku : 21.46 x 15.54...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more