0

Review Buku Bino - Zaki Jaihutan

Published: Saturday, 10 September 2022 Written by Dipidiff

 

Judul : Bino

Penulis : Zaki Jaihutan

Jenis Buku : Horor

Penerbit : MCL Publisher

Tahun Terbit : Juni 2021

Jumlah Halaman : 288 halaman

Dimensi Buku : 13 x 19 cm

Harga : Rp. 96.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9786239606756

 

Softcover

MCL Publisher

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Agi kerap melamun dan bermimpi. Di salah satu lamunannya ini Agi melihat seorang pemuda yang bahkan setelah dia menghilang dari lamunan-lamunannya, sosok pemuda ini tidak pernah pergi dari benak Agi. Agi adalah seorang pemimpi yang ingin menjalani hidup sebagai penulis. Dengan laptop pemberian sahabatnya, Tabah, Agi mulai menulis tentang si pemuda ini yang kemudian diketahui bernama Bino. Sejak saat itu seluruh hidupnya berubah. Agi mulai tidak bisa memisahkan antara kenyataan dan impian. Cerita makin absurd ketika tulisannya membawanya pada sebuah desa terkutuk bernama Tanah Dijuru, tempat orang-orang datang untuk mendapatkan apa yang dimau dan bersedia membayar dengan apapun yang Sang Sepuh inginkan. 

Siapa pemuda ini? Mengapa sulit sekali bagi Agi untuk berhenti menulis? Ketika apa yang ditulisnya berujung pada kematian orang-orang terdekatnya, Agi menyadari bahwa dia harus terus menulis, mencari tahu siapa pemuda itu, meski itu bisa berarti menjemput kematiannya.

Ada klenik di cerita ini, ada pula ketelanjangan pada sisi jahat manusia, keserakahan, ambisi, nafsu, dan tentu saja sensasi. Sebuah buku yang isi ceritanya kasar tapi ditulis dengan indah.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Yang belum baca bukunya pasti 'ngawang-ngawang' ini desain sampul maksudnya apa ya :D. Saya juga baru paham bahwa yang berwarna merah di sampul itu adalah mata, dan warna putih itu taring, dan seketika desainnya jadi masuk akal karena itu pasti mukanya si siluman babi :D. Siluet manusia di mata babi juga dirasa sesuai sekali dengan cerita di buku ini. 

 

Tokoh dan Karakter

- Agi
- Dita
- Nuria
- Mama
- Papa
- Abah ayub
- Dobino
- Rukiyah
- Mang oji
- Mia
- Kutu
- Fatma
- Tabah
 
 
Saya menyadari para tokoh utama di buku ini ternyata tidak ada yang likeable. Semua tokoh punya celah, punya kelemahan, yang membuat saya sebagai pembaca merasa "greget" dan rasanya ingin "banting buku", tapi ini in a good way, karena berarti Zaki Jaihutan sebagai penulis berhasil menyentuh sisi emosi saya. Kalau dipikir-pikir lebih dalam, tampaknya tokoh Dita bisa masuk kategori tokoh protagonis di sini dengan kesabaran dan kerelaannya mendampingi Agi. Namun terlepas dari likeable atau tidak, saya sendiri tidak keberatan dengan sebuah cerita yang tanpa tokoh protagonis selama jalan ceritanya berkualitas, seperti halnya novel Bino. Justru ada satu rasa penasaran yang besar untuk bisa masuk ke dalam karakter tokoh-tokoh antagonis, memahami sisi emosi, karakter, dan dasar pengambilan keputusan mereka.
 
Agi dalam perspektif saya adalah sosok pemuda pelamun yang mudah gamang. Dengan caranya sendiri dia masuk kategori labil disebabkan karena kehidupan yang serba kecukupan, tidak ada tantangan hidup yang cukup berarti, sehingga dia merasa bosan, dan kurang tujuan. Ayahnya sibuk bekerja, adiknya sibuk dengan aktifitasnya sendiri, rumah mereka yang cukup besar nyatanya lengang, karena dengan segala fasilitas yang ada akhirnya anggota keluarga asyik sendiri-sendiri, tinggal ibu yang duduk di ruang keluarga menunggu ayah yang kerap pulang larut malam.
 
Bino lahir dari keluarga yang toxic dari awal. Ibunya melayani laki-laki yang datang silih berganti. Bino tumbuh jadi pemuda tampan yang tidak kenal aturan sosial. Don Juan yang hidup demi sensasi. Kutu anak orang kaya yang 'merapat' ke Bino karena terpesona daya tariknya yang luar biasa di lingkungan sosial, dengan gayanya yang bebas, tipe magnet yang bersebarangan dengan segala sifat Kutu yang canggung. Bino membuatnya 'terlihat dan ada'. Kalau merunut keluarga Kutu, akan ditemukan juga akar mengapa Kutu tumbuh menjadi pribadi yang demikian. Ibu dan ayah yang tidak peduli, bahkan saat makan malam keluarga tidak ada percakapan hangat. Ibu dan ayah Kutu sibuk dengan ponsel dan urusan masing-masing.
 
Deskripsi fisik tokoh utama cukup untuk imajinasi saya. Misalnya Agi, Bino, Kutu, dan Rukiyah.
 
Setiap bercermin, aku akan melihat sosok diriku; lelaki berambut hitam pendek tersisir ke samping, selalu berpakaian rapi yang kupadukan dengan celana panjang. Bahkan kaus yang aku kenakan harus kaus berkerah. Saat jemu melihat diriku di cermin, pikiranku melompat melampaui cermin itu, dan di baliknya aku melihat seorang pemuda berambut lurus sebagu sedang berdiri santai. Tubuh pemuda ini tinggi tegap, dengan rahang yang kuat, berbeda denganku yang mungkin dalam setahun hanya berolahraga selama dua jam. Matanya terlihat sayu seolah sedang bangun tidur, tapi tatapannya tajam menusuk. Dia senang mengenakan kaus santai dengan celana jins, sesekali ditambah kemeja flanel. Dia hanya berdiri diam sambil menatap tajam. Kemudian dia hilang, dan aku kembali melihat wajahku di cermin.
Halaman 2
 
Kutu adalah debu halus tertiup angin. Kakinya tak pernah lama berpijak untuk meninggalkan jejak bagi orang-orang di sekelilingnya. Tubuhnya kurus tinggi dengan punggung agak bungkuk. Wajahnya terhias kacamata tebal dengan rambut berombak yang terurai kusut hingga pundak. Melihatnya berjalan seperti meilhat tongkat kayu panjang yang bengkok sedang berjalan. Dia tidak sombong dan tidak jahat. Tidak ada yang membencinya. Orang hanya tak peduli dengannya. Bagi dunia, bahkan mungkin di mata orangtuanya, Kutu sekadar ada.
Halaman 49
 
... seorang perempuan tampak meniti pematang sawah menuju ke arahnya. Kepala perempuan itu tertutup caping dan tangannya menjinjing sesuatu.
 
Dari balik bayangan caping, pemuda itu melihat senyum manis merekah. Caping lebar itu bergerak sedikit ke bawah, menunjukkan sebuah anggukan ramah.
Wajah yang tersenyum di balik caping itu sungguh manis. Tanpa aroma parfum, tanpa riasan seulas pun. Wajahnya tampak legam terbakar matahari dan lembap oleh keringat.
Perempuan itu duduk di pinggir jalan dan meletakkan tentengannya. Caping lebar itu pun dilepasnya.
Kini pemuda itu bisa melihat dengan lebih jelas paras kotor dan manis perempuan itu dihiasi rambut hitam sepunggung.
Halaman 13

 

Alur dan Latar

Alur cerita kombinasi maju mundur dengan konsep cerita di dalam cerita. Novel Bino ini ber-plot twist dengan pengungkapan misteri yang asyik. Kisah diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Agi.
 
Latar cerita mengambil lokasi di kampus sastra Indonesia, warung abah Incu, rumah mang Oji, restoran Junski, dan lain-lain, tapi lokasi yang tentu saja paling vital adalah Desa Tanah Dijuru. Berikut saya kutipkan deskripsi fisik desa siluman ini, yang tampak beda di mata dengan kenyataan sesungguhnya. 
 
 
Desa ini seolah menyambutnya ketika dia tiba. Mungkinkah dia sedang dimakan keriaan berlebih setelah menyetir selama lima jam tanpa tahu apakah dia bisa menemukan desa ini?
Meski memikat hati, desa ini sungguh sepi. Dia telah melewati beberapa rumah tanpa melihat seorang manusia pun. Sama sekali tidak tampak adanya tanda pengenal daerah, tapi dia tahu, inilah desa yang dicarinya. Bagaimana dia tahu, pemuda itu tidak tahu.
Dengan perlahan, dia meniti pematang sawah, kembali menuju mobilnya yang terparkir di jalan kecil di pinggir sawah. Dia menyandarkan badan ke pintu mobil. Tidak sampai dua meter dari mobil itu, jalan kecil tersebut berakhir begitu saja, langsung berhadapan dengan hamparan sawah luas, seolah jalan itu tenggelam dalam hamparan hijau tersebut. Jauh di ujung mata, sawah itu dibatasi rimbun pepohonan yang menjelma hutan lebat di kaki bukit hijau.
Halaman 13
 
Selain Tanah Dijuru saya juga menandai kontrakan Mang Oji, karena aura mistisnya yang kental.
Kontrakan ini hanya memiliki tiga ruangan: satu ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang makan sekaligus dapur kecil, satu kamar tidur dengan jendela kecil menghadap rumah tetangga di belakang, serta kamar mandi. Sebagain besar hidup Mang Oji, setidaknya dalam lima tahun terakhir yang Bino tahu, hanya berkutat di antara tiga ruangan kecil ini dan lorong-lorong kampus.
Halaman 29
 
 
 
Konflik cerita berkisar tentang bagaimana bisa menghentikan Bino sementara korban terus berjatuhan. Kisah ini ber-ending tertutup.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Salah satu kesenangan ketika berkumpul bersama para pecinta buku adalah soal racun meracun buku. Teman-teman merasakan hal yang sama kah? Buku Bino yang saya baca ini merupakan rekomendasi dari kang Anwar, editor senior yang saya hormati. Waktu itu inget banget saya lagi membicarakan betapa seringnya saya gagal horor di banyak buku bergenre ini. Salah saya memang, karena kadung mendefinisikan dan mencintai horor dalam arti yang lebih sempit, yakni ketakutan yang muncul gara-gara makluk halus, dedemit, dan sebangsanya. Padahal genre horor secara luas banyak juga yang beririsan dengan thriller bahkan literary.

Sejak awal kisah Bino memang sudah menyajikan sisi misterinya. Siapakah pemuda dalam lamunan Agi? Itu dia misteri yang ditawarkan di buku ini. Umpan ini memang membuat saya penasaran lantaran tarik ulurnya yang cukup lama hingga kemudian jati diri Bino diungkap lebih lengkap.

Oh ya, berkaitan dengan hobi menulis yang Agi miliki, ada satu kalimat di dalam cerita yang saya sukai karena saya merasa bisa memahami maknanya. Dalam satu adegan, ayahnya Agi berkata ke Agi kalau semua dongeng itu harus berakhir, tapi Agi menolak dan melawannya dengan menulis. Semua mimpi diwujudkan Agi menjadi kata-kata di buku harian, bahkan di atas kertas tisu. Bagi Agi, dengan kata-kata dia menghidupkan mimpinya. Meski saya tidak persis seperti Agi, tapi saya merasa apa yang diutarakan Agi benar adanya bahwa dengan menulis kita mewujudkan mimpi, karena tulisan tidak membatasi kreatifitas dan mampu menembus batas.

Ada beberapa isu yang saya cermati juga di novel ini, misalnya tentang istri yang penurut ke suami, seperti ibunya Agi dan Dita. Hal ini membuat saya berpikir apakah cinta memang berarti menuruti semua ucapan suami hingga seolah tidak punya keinginan sendiri. Apakah pria memang menyukai wanita-wanita super penurut seperti ini. Personally, saya merasa ini contoh pernikahan yang tidak sehat, dan dalam kasus kepribadian Agi yang lemah sangat mungkin karena mendapatkan pengaruh dari model interaksi ayah dan ibunya.

Dita tertawa kecil. "Memangnya apa yang salah, sih, sama cerita cinta? Lo pasti pernah jatuh cinta. Gue aja takjub sama cinta. Apa aja yang dibilang bokap gue, pasti selalu diikutin sama nyokap gue, kayak dia nggak punya keinginan sendiri. Itu cinta kali, ya."
"Nyokap gue juga gitu. Apa aja nurut ke Bokap. Kalau nggak ada pertanyaan, Nyokap cuma diam, jahit kristik. Kayaknya Monas harus runtuh dulu baru nyokap gue mau bicara panjang."
Halaman 7


Masih tentang situasi keluarga Agi, ada hal lain juga yang menarik dan yang saya garis bawahi, yakni tentang rumah yang besar ternyata tidak selalu membawa hal positif karena anggota keluarga jadi lebih jarang bertemu dan akhirnya membuat jarak kedekatan semakin jauh dan menghilang. Dalam hal ini, rumah kecil tapi akrab dan hangat rasanya jadi jauh lebih baik. Tidak ada yang lebih penting dari kebersamaan dan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, tidak pula buku atau televisi dan hiburan lainnya. Jikapun demikian, bukankah akan lebih baik jika membaca buku atau menonton dilakukan bersama agar rasa saling terkoneksi sebagai keluarga tetap ada.

Rumah itu Papa beli dengan harga "miring" dari salah seorang kliennya. tapi dengan harga semiring apa pun, kami tahu rumah sebesar itu, berlantai dua dengan lima kamar tidur, dilengkapi taman belakang yang cantik, serta berlokasi di tengah kota, jelas tidak murah.
Seiring waktu berlalu, aku sadar rumah ini membius kami di dunia kami masing-masing. Ketika masih tinggal di rumah kontrakan, kami harus puas dengan kamar-kamar kecil yang saling berseberangan. Kami biasa antre untuk mandi pagi dan selalu bertemu saat malam untuk menonton televisi bersama (setidaknya aku, Nuria, dan Mama karena Papa selalu bekerja hingga larut malam). Kini, di rumah ini, televisi di ruang keluarga hampir tidak pernah menyala karena Papa dan Mama punya televisi sendiri di kamar. Begitu pun Nuria. Cuma kamarku yang tidak dilengkapi televisi karena aku memang tidak pernah meminta. Aku sudah puas dengan buku-bukuku.
Halaman 8
 
 
Dalam potret keluarga Kutu juga ada contoh yang negatif tentang pola parenting, dimana ayah dan ibu sibuk dengan aktifitas masing-masing. Bahkan makan malam keluarga pun tak luput dari kesibukan, tidak ada percakapan, anak pun diabaikan.
Tubuh Kutu kurus bukan karena dia tidak diberi makan cukup, tapi karena nafsu makannya susah muncul. Setiap kali dia makan, dia akan teringat rutinitas makan malam aneh di akhir minggu bersama bapak dan ibunya. Itulah saat Kutu bisa bicara lebih dari sepuluh menit dengan mereka berdua. Akan selalu ada telepon masuk dan Kutu menjadi si penyendiri di hadapan bapak dan ibunya yang sibuk dengan ponsel mereka. Setiap dia makan, dia seperti mendengar suara bapak dan ibunya asyik berbicara di telepon, lupa atau berlagak lupa ada anaknya di hadapan mereka, dan seluruh nafsu makan Kutu pun hilang.
Halaman 50
 
Membaca Bino sebenarnya membuat saya banyak memikirkan topik parenting, bagaimana tokoh Kutu, Bino, dan Agi bisa jadi antagonis dengan kelemahan karakter masing-masing yang saya pikir ada hubungannya dengan situasi keluarga dan pola pengasuhan. Di novelnya sendiri, tidak ada narasi yang secara spesifik menyinggung soal parenting ini, sehingga memang terasa samar-samar dan diserahkan saja kepada pembaca untuk menangkap 'umpannya' atau tidak. Dan rupanya saya tipe yang gampang memakan 'umpan' :D karena menurut saya support system itu sangat penting dalam menjalani semua episode kehidupan.
 
Sebagai pecinta puisi, saya juga termakan umpan begitu ada salah satu narasi dalam novel yang menyinggung-nyinggung tentang puisi Amir Hamzah yang berjudul Hanyut Aku dan Taman Dunia, yang setelah di googling syair lengkapnya sebagai berikut:
 
 
Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
Ulurkan tanganmu, tolong aku.
Sunyinya sekelilingku!
Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
tiada air menolak ngelak.
Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
sebabkan diammu.
Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam.
      
Tenggelam dalam malam,
air di atas menindih keras
bumi di bawah menolak ke atas
mati aku, kekasihku, mati aku!
Taman Dunia
Kau masukkan aku kedalam taman-dunia, kekasihku!
Kaupimpin jariku, kautunjukkan bunga tertawa; kuntum tersenyum.
Kau tundukkan haluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.
Kaugemelaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah.
Tercengang aku, takjub, terdiam.
Berbisik engkau:            
"Taman swarga, taman swarga mutiara rupa".
Engkaupun lenyap.
Termanggu aku gilakan rupa.

 

 

Pada akhirnya yang paling saya sukai dari novel Bino adalah alurnya yang kombinasi maju mundur dengan format cerita di dalam cerita. Mulus. Plot twist dan pengungkapan misterinya juga bagus. Seolah-olah predictable tapi ternyata tidak sesederhana itu. Saya juga suka pilihan diksinya. Konsep klasik klenik horor lokal khas Indonesia benar-benar sesuai harapan saya. 
Bino, adalah sebuah kisah yang mengingatkan saya kembali tentang keputusan hidup itu ada di tangan kita, dan bahwa sebagus-bagusnya impian dan sensasi, yang terbaik adalah berpijak pada kenyataan dan masa kini. Love it.

Ke depannya saya berharap bisa membaca karya Zaki Jaihutan lainnya, dan sangat penasaran untuk bisa merasakan sentuhan personal yang lebih kental dari profil bang Zaki yang seorang konsultan hukum. Di novel ini sentuhan itu sudah terasa dari profil ayah Agi dan Agi yang berprofesi di bidang hukum. Jadi terbayang bisakah ada sebuah cerita horor yang latar dunia hukumnya lebih kental lagi (?)

 

Siapa Zaki Jaihutan

Zaki Jaihutan adalah konsultan hukum di sebuah kantor hukum bisnis di Jakarta yang tidak dapat melepaskan dirinya dari kecanduan menulis cerita.

Lahir di Jakarta di tengah keluarga yang mencintai seni, Zaki mulai rajin mencuri pakai mesin tik ayahnya untuk mencoba menulis cerita sejak berusia tujuh tahun. Saat itu, dia berhasil menulis sebuah kisah detektif setebal dua puluh halaman yang kini dia harap tidak akan pernah dibaca oleh siapa pun selain dirinya.

Zaki mengambil Jurusan Hukum di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan sejak lulus berkarier sebagai konsultan hukum di sebuah bank serta beberapa firma hukum di Jakarta. Namun, Zaki tetap tidak bisa menghilangkan kecanduannya menulis. Sabtu-Minggu atau saat-saat cuti diisinya dengan menulis atau aktivitas fotografi.

Pada 2009, dia mulai menulis manuskrip Bino. Keikutsertaan Zaki dalam Shortstory Workshop yang diadakan The Jakarta Post Writing Center (sekarang B/NDI, Learning Studio) pada 2020 semakin membakar semangat menulisnya dan mendorong Zaki menyempurnakan kembali naskah Bino. Salah satu cerita pendeknya berjudul, "Saladin Yahya" yang dia sempurnakan kembali di kursus tersebut masuk dalam antologi Library of Love and Loss.

Bino adalah novel pertama Zaki.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini kepada pembaca dewasa pecinta genre horor klenik lokal khas Indonesia dengan siluman dan sisi jahat manusia. Sadis, kelam, dan absurd, tapi tetap menjaga pesan penting bahwa hidup itu harus berpijak pada realita dan kendali kehidupan ada di tangan manusia meski takdir adalah mutlak milik Tuhan.

Underline Issues: adegan seksual, kekerasan, pembunuhan berdarah, dll. Baca sesuai usia.

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645 an Diana Fitri

Gopay 081959986001

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Finding My Bread - Song Seon…

28-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Finding My Bread Kisah Si Alergi Gluten Membuat Toko Roti Penulis : Song Seong-rye Penerjemah : Anggi Mahasanghika Penyunting : Aprilia Ramadhani Ilustrator Sampul dan Isi : Bongji Sampul dan Isi Diolah Kembali oleh...

Read more

Review Buku Jangan Lelah Berproses - Dwi…

27-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Jangan Lelah Berproses Penulis : Dwi Indra Purnomo & Adenita Ilustrator : Sufti Nurahmartiyanti Desain Sampul : Daily Ideas Penyunting : Mutia Azizah, Dewi Kournia Sari Pewajah Isi : Nurhasanah Ridwa Jenis Buku :...

Read more

Review Buku The Twyford Code - Janice Ha…

20-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The Sunday Times Bestseller   Judul : The Twyford Code Penulis : Janice Hallett Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers Penerbit : Profile Books Tahun Terbit : July 2022 Jumlah Halaman : 400 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more