Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandemi Covid-19?

Published: Saturday, 24 October 2020 Written by Dipidiff

 

Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)
 
Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya, saya rada telat dengan postingan saya ini. But wise people said 'ga ada kata terlambat' jadi marilah kita ngobrolin bersama tentang batik dari tanggal 3 hingga 15 Oktober 2020. Kita saling berbagi ide, opini, cerita, dan wawasan bertopikkan batik untuk saling menginspirasi #inspire, bertumbuh bersama #growth, menghargai warisan budaya bangsa dan batik dunia #respect, dan jadi diri sendiri apapun yang terjadi #integrity :). ARE YOU WITH ME?
 
Like and Follow Instagram @dipidiff_talks
 
 
Mohon beri tagar konten yang kamu buat dengan hastag #OctobertTalks1 dan #ilovebatikindonesia agar kita terhubung satu sama lain ya :)
 
 
 
Ngomong-ngomong soal topik ini, saya merasa betapa niat belajar itu kadang diuji oleh berbagai halangan, mulai dari kerjaan yang numpuk, sakit, dan ngantuk :)'. Padahal saya sudah niat mau menambah insight saya seputar batik, tapi ada aja aktifitas lain yang lebih prioritas. Namun, kita ga boleh nyerah juga dengan kondisi seperti ini sih. Jadi di tiap dini hari dimana saya terbangun dan sulit untuk tidur lagi, saya memutuskan untuk memanfaatkan waktunya salah satunya untuk membaca dan menyimak ulang berbagai tulisan yang tersaji di internet tentang batik saat ini. Ditemani minuman hangat, langsung baca-baca seksama berbagai informasi terkait batik #growth. Saya lupa-lupa ingat punya buku tentang batik di tumpukan. Mungkin jika waktunya tepat, bakal bongkar peti buku juga buat nambah wawasan, tapi jika tidak, sudah cek di @ijakarta.id , yang punya koleksi buku batik free buat dibaca. Cihuy :*.
 
 
Batik di Masa Pandemi
 
Singkat cerita, ternyata batik Indonesia sedang dalam kondisi menurun ya rupanya. Problemnya di regenerasi. Keluhan terutama kurangnya minat belajar dari kalangan muda Indonesia, padahal kampung dan museum batik hingga maestronya sudah membuka pelatihan, tapi batik memang ga instan, butuh effort tinggi. Kalah jauh dengan daya tarik media sosial dan teknologi canggih jaman kini. Oh batikku, sedih sekali mengetahui fakta ini :(. 
 
Contoh kasusnya adalah berita terkait yang saya baca di www. medcom. id yang menyebutkan bahwa Batik Melayu Riau kekurangan penerus. Kondisi batik khas ini dalam kondisi memprihatinkan karena katanya hanya tersisa dua perajin yang masih aktif, yakni perajin di Galeri Semat Tembaga di Jalan Kuantan VII saja yang membuat batik tulis dengan canting, di antaranya motif batik tabir dan tabur. Sedangkan perajin lainnya yang berada di Gedung Dekranasda Riau di Jalan Sisingamangaraja kini sudah tidak memproduksi batik lagi. Rendahnya minat generasi muda dalam menekuni tradisi membatik juga disampaikan di berita ini. Kebanyakan yang aktif belajar adalah para gadis yang kemudian setelah menikah, berumah tangga, dan mengurus anak kemudian memutuskan untuk berhenti. Dari 10 orang anak muda yang belajar di program pelatihan membatik di Encik Amrun Salmon (pemilik Galeri Semat Tembaga), hanya satu yang masih mau meneruskan ilmu yang didapatnya. Memang butuh ketelatenan yang besar untuk menjadi perajin batik. Bayangkan saja motif sederhana batik tulis khas Melayu Riau ini bisa diselesaikan dalam 1-2 hari, sedang yang rumit sampai 15 hari. Harga batik bervariasi tergantung tingkat kesulitan pembuatannya, yakni berkisar 300K hingga 700K per helai. Sebenarnya menurut saya 300K untuk dua hari kerja termasuk bagus ya, tapi memang belum tentu tiap produksi langsung laku.
 
Masa pandemi juga titik kritis buat perajin batik. Produsen gulung tikar atau berinovasi dengan memproduksi masker dan barang-barang lain yang bernilai lebih rendah demi bertahan hidup. Misalnya, ada sebuah industri rumahan di Jakarta yang membuat masker berbahan batik. Tapi omsetnya bagus loh, sehari bisa produksi 300 buah masker dengan harga jual 28K hingga 35K *sumber medcom. id.
 
Batik populer Batik Tiga Negeri Lasem juga melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19. Ketika pandemi menghantam industri batik mereka dan membuat penjualan menurun, mereka berinovasi dengan mengadakan acara Menjelajah Lasem secara virtual untuk tetap mendekatkan masyarakat kepada warisan budaya ini, lalu mereka memproduksi motif masker batik tulis, dan menjual sejadah bermotif batik Lasem. Cara ini dilakukan agar bisa survive di masa pandemi dan agar perajin bisa tetap masuk kerja meski sesekali. Produsen Batik Lasem bahkan menciptakan kreasi warna baru dengan tetap mempertahankan proses pembuatannya yang unik seperti batik tiga negeri. Warna yang dimaksud adalah biru kehijauan yang cukup mencolok dan beda dengan warna batik tiga negeri pada umumnya. Kreasi warna baru ini dilakukan agar masyarakat yang lebih muda tertarik dengan batik tiga negeri.
 
Pemilik Rumah Batik Kidang Mas Rudi Siswanto juga mengkreasikan warna batik tiga negeri guna memiliki ciri khas tersendiri, yakni warna sogan dengan dua kali pemrosesan dan menggencarkan batik tiga negeri dengan warna halus menggunakan pewarna alami. Pemilik Rumah Batik Maranatha Ong’s Art Renny Priscilla juga melakukan eksperimen warna melalui warna es teh. Selain melakukan eksperimen warna, juga mencoba gaya baru untuk menawarkan kreasi batik tiga negeri yang berbeda. Kreasi yang disebut Kain Pagi Sore tersebut merupakan sebuah kain yang memiliki dua warna dan motif batik yang berbeda yang bisa dipakai untuk acara pagi dan malam hari. Informasi artikel lengkap bisa dibaca di www. kompas. com ya.
 
 
 
Masih Pedulikah Warga Indonesia Terhadap Warisan Budaya Batik
 
Saya kira masyarakat Indonesia bukannya tidak cinta pada batik yang sudah kita dapatkan susah payah pengakuannya oleh UNESCO #integrity . Ini terbukti dari respon warga +62 yang protes dan bereaksi keras atas video Cina yang mengklaim batik baru-baru ini (12/7/2020). Tapi protes dan marah-marah ga bikin batik lestari juga sih (?). Kalo ilmunya gagal diturunkan, lha yang membatik siapa kan ya. Especially batik tulis ya. Kalo batik cap dan batik printing secara teknik jelas beda.
 

Video yang beredar tentang media pemerintah China Xinhua ini cukup heboh, terutama di twitter. Di video berdurasi 49 detik itu, akun Twitter @XHNews menuliskan " Batik adalah kerajinan tradisional China" di pembuka video. Di video yang sama ditampilkan seorang pengrajin yang menggambar motif batik di sebuah kain. Beragam motif digambar seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan, serta ukiran-ukiran khas batik. Cara menggambar batiknya juga memakai canting, meski bentuk alatnya sedikit berbeda. Ada keterangan di video yang menyebutkan bahwa ini biasanya dipakai kelompok etnis minoritas yang tinggal di Guizhou dan Yunan. Selain membatik di kain, terlihat pula seorang wanita yang menggambar motif batik di sebuah bucket hat. Motif batik ini bergambar bunga. Kemudian ditunjukkan juga proses pembuatan batik celup yang menghasilkan motif bergambar burung. (*sumber kompas. com). Katanya video ini mendapatkan lebih dari 160 likes dan di-retweet lebih dari 200 kali. Komen juga membanjiri twitdengan beragam reaksi warganet. 

Kepedulian kita pada batik saya rasa masih cukup kental. Dukungan instansi pemerintahan mengeluarkan aturan resmi wajib berbatik di hari tertentu juga sangat positif, dan tak sedikit perusahaan swasta yang menerapkan regulasi serupa. Sedangkan sisanya, memang tanda tanya. Tapi bukan berarti tidak adanya regulasi dari perusahaan membuat kita tidak menggunakan batik sebagai pakaian kerja. Toh ini kebebasan individu. By the way, di kantormu ada aturan pakai baju batik kah? 

Beberapa sekolah juga mendisain seragam siswa dengan motif batik. Sebut saja Tunas Unggul Interactive School, sebuah sekolah global besar di Bandung yang inklusif dan Islam terpadu dengan jaringan sisterschool membentang dari Inggris, Korea, Australia, Singapura, hingga Malaysia, ini seragam siswanya menggunakan motif batik. Semoga terus konsisten ya dengan konsep seragam ini :).


 
 
Cara Kita Menunjukkan Kepedulian
 
Balik lagi ke diri sendiri, saya jadi merenung, lalu gimana cara saya untuk dukung batik ya (?). Saya pikir cukup sederhana sih. Jika memungkinkan ya belajar membatik, menulis dan menyebarkan konten bertopik batik, mengajak orang lain untuk lebih mengenal dan mencintai batik, seminimalnya menggunakan batik lebih sering dalam keseharian, yang hobi jalan-jalan bisa berkunjung ke kampung batik dan museum. Saat pandemi kita juga bisa ikutan acara virtual wisata batik #respect . Yah banyak cara menuju Roma :*.
 
 
Ngomong-ngomong soal jalan-jalan ke kampung dan museum batik, ada beberapa rekomendasi tempat wisata unik yang saya dapatkan dari searching internet.
 
Menurut info artikel dari medcom. id, ada 6 destinasi yang direkomendasikan:
 
1. Kampung Batik Kubil, Banten.
Terletak di Kelurahan Cipocok Jaya, Serang, Banten. Katanya sih batiknya beda dengan yang lainnya, batik kubil memiliki ciri khas warna abu-abu cantik yang penuh dengan motif dan pola filosofis. Batik Banten yang dibuat di Kampung Kubil ini juga yang mendapatkan pengakuan pertama kali dari UNESCO. Di sini, kita bisa menemukan sekitar 20 jenis motif batik yang populer dan mempelajari nilai-nilai filosofis dari masing-masing pola dan motif yang tergambar. Kita  juga bisa ikut membatik dan mewarnai batik yang telah mereka buat atau langsung membeli kain batik yang tersedia.
 
2. Kampung Batik Palbatu, Jakarta.

Terletak di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Di sini kita bisa belajar membatik di sanggar, berbelanja batik, hingga menikmati keunikan pemandangan kampung yang berwarna-warni dengan motif batik. Ada banyak batik warna-warni dengan motif yang beragam karena ciri khas batik pesisir yang mempengaruhi pola serta motifnya. Kampung Batik Palbatu pernah menerima penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk rekor jalan terpanjang dengan motif batik.
 
3. Kampung Batik Trusmi, Cirebon

Terletak di kota Cirebon dan dapat diakses melalui gerbang tol Plumbon. Kampung Batik Trusmi merupakan sentra wisata batik yang terkenal dengan batik bermotif awan yang khas, yaitu motif megamendung.

Di sini kita dapat melihat proses produksi Batik dan mempelajari bagaimana warna-warni serta motif batik diproduksi. Para pembatiknya juga katanya ramah-ramah dan bisa kita tanya-tanya. Di kampung Batik Trusmi kita bisa melihat-lihat batik dan mereka dapat mencoba untuk eksplorasi dari rumah ke rumah untuk membeli dan menawar batik yang menarik perhatian mereka, dan dapat melihat uniknya proses pembuatan batik di rumah-rumah tradisional warga dan hamparan motif batik di jemuran bambu setelah proses pelorodan atau proses peluruhan lilin batik (biasa disebut malam).
 
4. Batik Oey Soe Tjoen, Pekalongan
Ini tempat wisata batik legendaris dengan terkenal karena kualitas batiknya yang tinggi. Hampir seluruh batik pesisiran di destinasi ini merupakan batik tulis halus yang motifnya terinspirasi dari budaya Tiongkok dan Belanda. Batik Oey Soe Tjoen biasanya menggunakan motif alam seperti kupu-kupu, bunga dan burung yang dilukis dan diwarnai dengan warna-warna cerah. Sayangnya di sini kita tidak bisa ikut membatik, tapi tetap lumayan banget karena kita tetap bisa melihat bagaimana para ahli membuat motif-motif kecil yang mendetail dengan canting dan malam di atas kain, serta ikut membeli kriya batik yang unik dan khas dari kota Pekalongan ini.
 
5. Sentra Batik, Giriloyo, Yogyakarta

Lokasinya unik karena terletak di perbukitan Imogiri. Jadi pemandangannya sangat khas, segar pegunungan dan wangi batik katanya bercampur jadi satu. Kebayang ya pasti sangat berkesan.
 
Sentra Batik Giriloyo merupakan kampung batik yang telah ada sejak awal abad ke-17 dan terletak di Jalan Imogiri Timur, Yogyakarta. Motif yang paling sering adalah motif-motif matraman, atau motif tradisional dari keraton Yogyakarta

Di sini, kita bisa mempelajari bagaimana warga sekitar memproses batik secara tradisional. Mulai dari proses pembuatan pola, pembatikan, pewarnaan, nglorod atau proses pelunturan lilin batik, hingga proses penjemuran. Kita biasanya juga dapat turut serta untuk belajar membatik dan mewarnai batik mereka sendiri untuk dibawa pulang.
 
6. Kampung Batik Kauman, Solo

Ini adalah sentra batik yang terbesar di kota Solo. Nilai sejarahnya tinggi karena dulu merupakan pemukiman abdi dalem atau para pekerja keraton Solo yang sejak dulu mempertahankan budaya membatik secara turun temurun. Motif batiknya tradisonal berdasarkan pakem keraton.
 
Sembari mempelajari dan melihat proses pembuatan batik, jangan lupa menikmati keindahan sejumlah bangunan tua bergaya arsitektur Jawa-Belanda yang terlihat megah. Di sana juga terdapat beberapa situs bangunan bersejarah, seperti bangunan rumah joglo
 
Di kampung ini kita bisa melihat pemandangan rumah-rumah klasik tradisional yang dihiasi batik di beberapa bagian. Kita juga bisa mencoba membatik di sini dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

 

 


Rekomendasi destinasi wisata batik lainnya yang saya dapatkan dari kompas. com adalah Kampung batik di kota Surakarta, yakni Sentra batik di Kampung Batik Laweyan dan Istana Batik Keris. 

1. Kampung Batik Laweyan.

Kampung batik ini merupakan ikon batik Solo sejak abad ke-19 Kampung Batik Laweyan. Kita bisa melihat 250 motif batik khas Laweyan sambil berinteraksi dengan para perajin batik. Warna batik Laweyan cenderung lebih terang dari batik Kauman. Sama seperti Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan juga memiliki bangunan bergaya arsitektur Jawa-Belanda. Namun yang membedakannya adalah bangunan tersebut juga mengombinasikan gaya arsitektur khas Eropa, China, dan Islam. Selain menikmati keindahan batik Laweyan dan melihat proses pembuatannya, kita akan diajak untuk turut serta belajar membatik melalui kursus singkat sekitar dua jam. Tidak hanya itu, karya batik pengunjung juga bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Menarik ya :)

2. Istana Batik Keris.

Istana Batik Keris merupakan tempat wisata baru di Surakarta yang dikenal sebagai Omah Lowo, atau rumah kelelawar. Tempat wisata yang kini merupakan museum batik tersebut baru saja diresmikan oleh Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo tepat pada Hari Batik Nasional. Warga Surakarta bisa berkunjung ke sana secara gratis. Namun katanya hanya gedung B dan C saja yang bisa disambangi tanpa memungut biaya sepeser pun. Untuk Gedung A, ada sejumlah ketentuan. Minimal pembelian Rp 25.000 bisa masuk ke Gedung A. Pada masa pandemi seperti saat ini, ada protokal yang harus diikuti seperti jaga jarak, serta melakukan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, dan tidak bepergian jika demam atau suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celsius.

 

Saya pribadi senang ketika membaca gerak kepedulian para maestro batik Indonesia yang turun tangan langsung melakukan pembinaan perajin batik, bahkan mengedukasi batik hingga ke mancanegara. Sebut saja Agus Ismoyo, seniman kelahiran Yogyakarta yang diberitakan melakukan kunjungan khusus ke suku Aborigin, Australia untuk bertukar ilmu batik di sana. Kolaborasi yang luar biasa ya :). Ternyata rombongan Agus Ismoyo ini adalah orang kedua yang memperkenalkan batik ke Melville Island dan Daly River. Yang pertama itu tahun 1977, jadi sudah lama sekali. Di tahun 1977 dulu itu, suku Aborigin diajarkan cara membatik yang banyak menggunakan titik dan garis dalam ekspresi seni mereka. Akibatnya cara membatik sama tapi style beda. Suku Aborigin menggunakan kuas dan tidak terbiasa menggunakan gawangan. Kain diletakkan di kaki sebelah kiri dan kanan kainnya, lalu kaki dilonggarkan sehingga menjadi kaku dan bisa dilukis dengan kuas. Kemiripan batik suku Aborigin dengan batik kita ada di bentuk motif flora dan fauna (*sumber kompas. com).

 

Salah satu pernyataan Agus Ismoyo dan Maria di media kompas. com menarik juga untuk direnungkan.

"Menurut saya batik itu menjadi asik kalau menjadi mendunia ya, bagaimana itu memperkaya media seni yang bisa memperkaya estetika dunia ini". Agus Ismoyo tidak mempermasalahkan adanya klaim dari negara lain soal kepemilikan batik, yang ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi Indonesia di tahun 2009. Karena menurut pemilik studio batik Brahma Tirta Sari ini, batik yang adalah seni, merupakan bahasa yang universal.
 
"Memang batik secara historis yang saya dengar kalau kita pertemuan batik, dari mana-mana yang mengaku. Saya tidak begitu penting dari mana." Menurut Maria, batik tidak akan punah selama masih ada yang menggunakan. "Prinsipnya begini, selama kita tetap memakai batik, tetap ada orang yang mau membatik, batik akan tetap ada."
 
Artinya kalo ada video viral lagi, berarti ga perlu ya komen pedes atau ngebela. Tapi kalo adem ayem aja kok rasanya juga kayak yang ga peduli pada warisan bangsa. Mungkin menurut saya yang lebih penting adalah menunjukkan aksi yang lebih nyata daripada sekadar komentar kali ya. Karena kalimat hanya sekali lewat, dengan terus menggunakan batik, belajar membatik, mengenalkan batik lewat tulisan dan konten lainnya, akan lebih memberikan pengaruh yang besar dalam pelestarian batik Indonesia.
 
 
 
 
Btw, kalau teman-teman bagaimana, apa caramu untuk turut melestarikan batik Indonesia? :* 
 
 
 
Baca Artikel Terkait Lainnya:
 
 
 
 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 
 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku A Time for Mercy - John Gris…

20-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 Amazon Charts This Week   Judul : A Time for Mercy (Jake Brigance Book 3) Penulis : John Grisham Jenis Buku : Legal Thriller Penerbit : Doubleday Books – Penguin Random House LLC Tahun Terbit : Oktober 2020 Jumlah...

Read more

Review Buku To Sleep in A Sea of Stars -…

13-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor’s Pick Best Science Fiction & Fantasy on Amazon a New York Times and USA Today Bestseller To Sleep in a Sea of Stars is a brand new epic novel from #1 New York Times bestselling author of Eragon, Christopher...

Read more

Review Buku I Have Something to Say - Jo…

07-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : I Have Something to Say Mastering the Art of Public Speaking in an Age of Disconnection Penulis : John Bowe Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku The Book You Wish Your Paren…

26-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Book You Wish Your Parents Had Read (and Your Children Will be Glad That You Did) Penulis : Philippa Perry Jenis Buku : Parenting Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

20-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

The Disrupted Disruption

06-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

04-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

02-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more