The Disrupted Disruption

Published: Saturday, 05 December 2020 Written by Jeffrey Pratama

 

 

Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital?

Sebentar....

Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun yang lalu. Lebih tepatnya, tahun lalu. Tahun 2020 ini memang terasa seperti satu dekade yang kelamaan.

Tidak perlu menunjuk hidung siapapun, kambing hitamnya sudah jelas. Warnanya sudah sedemikian pekatnya sampai-sampai orang yang penglihatannya terganggu pun akan mampu mengarahkan telunjuk ke arah mahkluk jahanam itu.

Anyway...

Tahun ini seharusnya ada banyak kejadian seru. Olimpiade 2020 di Jepang, Formula E, piala Eropa, Wonder Woman dan Black Widow (!), semuanya batal terjadi di tahun ini. Selain itu, event-event teknologi yang tadinya selalu menjadi ajang unjuk angkuh para developer tahun ini pun harus puas dengan pameran virtual. Sombong sih tetap, tetapi akan jauh lebih puas jika bisa melihat wajah orang lain ketika kita sedang nyombong.

Perkembangan teknologi yang menjadi primadona panggung dunia selama ini harus bersedia turun pangkat menjadi pemeran pendukung dulu. Peluncuran misi luar angkasa pertama yang pesawatnya dibuat dan dikelola oleh swasta hanya heboh selama beberapa saat, itu pun di negeri asalnya, Amerika Serikat. Sisanya? Kita lebih asyik ghibahin virus. Bahkan, terbersit di pikiran ini kalau astronot yang menumpang pesawat ulang alik tersebut justru bersyukur bisa meninggalkan bumi untuk sementara.

Selain itu, ada yang lebih gawat lagi. Ada ratusan (bahkan ribuan, mungkin juga lebih dari itu) perusahaan yang tahun ini harus bangkrut karena pandemi. Perusahaan-perusahaan top dunia seperti Muji, Brooks Brothers, pemegang waralaba Pizza Hut, Wendy’s, dan lainnya mengajukan bangkrut. Padahal beberapa tahun terakhir ini perkembangan bisnis sedang berlomba-lomba menuju puncaknya dikarenakan penggunaan teknologi big data yang menjadi jantung revolusi 4.0. Perusahaan-perusahaan startup baru banyak yang gulung tikar. Secara natural, tanpa pandemi pun perusahaan-perusahaan tersebut akan banyak yang gagal lolos seleksi alam. Namun keberadaan pandemi turut menambah parah kondisi yang ada. Rencana bakar uang yang ternyata turut membakar rumah serta isinya misalnya, tren pasar yang berubah drastis karena prioritas bergeser, sampai pada pemodal yang bangkrut duluan. Para Startup yang disebut-sebut sebagai katalis ekonomi baru dalam menyongsong era revolusi industri ke-empat ini malah banyak yang keok. Secara umum, apa yang dituliskan McKinsey.com dalam artikelnya cukup dapat merangkum kondisi saat ini: COVID-19 and the Great Reset.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di era ini? Mengapa revolusi industri 4.0 yang digadang-gadang menjadi puncak kedigdayaan pemanfaatan teknologi manusia malah harus di “reset”? apa kabar disrupsi digital yang tadinya begitu genit sebelum tahun 2020 ini? Lalu bagaimana kita (saya dan kalian), yang menjadi pelaku sejarah dunia ini dapat menyikapinya dengan baik?

Selow. Santai. Tidak ada jawaban untuk semua pertanyaan di dunia. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha mencari tahu jawaban yang terbaik, meski kadang-kadang ngga nemu juga.

Ini adalah artikel berseri, jadi akan ada lanjutannya. Jadi bagi yang mudah bosan membaca panjang-panjang, sepertinya ini bukan penyita waktu luang yang pas buat kamu.

 

REVOLUTION

Kita mulai dari yang paling dasar dulu. Revolusi 4.0. Apakah itu? Adakah yang masih ingat? Atau malah belum pernah dengar?

Begini. Dunia tempat kita berpijak saat ini adalah hasil dari perubahan-perubahan yang tidak terhingga jumlahnya. Dari jaman kita masih berbentuk monyet (bagi yang percaya teori evolusi), sampai ke jaman kita ngata-ngatain teman kita monyet. Dari jaman dinosaurus, sampai jaman kloning kambing, anjing babi, dan hewan-hewan lainnya. Dari jaman es, sampai jaman dimana semua es akan mencair. Semua perubahan-perubahan itu terjadi dengan atau tanpa kita sadari, dengan atau tanpa kita intervensi, dengan atau tanpa seijin kita.

Tetapi seiring peradaban berkembang, manusia kemudian menjadi semakin ahli dalam memprediksi perubahan-perubahan tersebut. Paling tidak, kita mengklaim kalau kita semakin ahli. Makanya akhir-akhir ini kita melihat banyak upaya untuk menanggulangi pemanasan global, karena kita memprediksi kalau isu ini tidak segera diurus, maka kiamat dunia akan makin cepat. Katanya sih begitu.

Termasuk di dalam prediksi-prediksi tersebut adalah tentang teknologi. Menurut para ahli, saat ini manusia ada dalam masa revolusi 4.0. Sebelumnya, sudah ada revolusi 1.0, 2.0, dan 3.0. Artinya, setidaknya sudah ada empat revolusi besar dalam siklus hidup manusia, dilihat dari sudut pandang industri. Disebut revolusi karena masa tersebut menghasilkan perubahan yang besar-besaran dan cenderung radikal terhadap cara manusia beraktifitas.

Revolusi pertama mulai terjadi ketika mesin uap diciptakan. Sebelumnya, kebanyakan mobilitas manusia tergantung pada hewan, terutama kuda. Oke, mungkin ada yang menggunakan unta, sapi, dan lain sebagainya, tetapi mari kita anggap saja kuda itu seperti avanza-nya jaman dulu. Meski tidak sepenuhnya begitu juga, karena tidak semua orang bisa memiliki kuda pribadi. Tapi ya sudahlah, anggap saja begitu.

Saat mesin uap diciptakan, yang kemudian berlanjut pada penemuan kereta uap, tidak perlu waktu terlalu lama bagi kuda untuk kehilangan market share-nya. Manusia beralih ke teknologi-teknologi yang berbasis uap. Imbas penemuan itu pun semakin nyata ketika akhirnya banyak pekerjaan-pekerjaan hilang akibat pergantian tren ini. Kalau sebelumnya banyak pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan dunia perkudaan, maka dengan makin berkurangnya orang-orang yang berkuda, secara otomatis pekerjaan seperti itu semakin tidak relevan, dan akhirnya menghilang.

Revolusi kedua adalah ketika dunia mulai mengenal teknologi produksi masal. Dengan bantuan listrik, inovasi dan rekayasa di bidang industri, barang-barang seperti mobil, peralatan, dan mesin-mesin menjadi semakin mudah dijangkau. Ambil saja mobil sebagai contohnya. Henry Ford memang tidak menciptakan mobil pertama, tetapi dia yang turut andil dalam menjadikan mobil sebagai semacam trending topic di masanya. Dengan produk Ford-nya, Henry memampukan umat manusia untuk memiliki mobil dengan lebih mudah.

Revolusi ketiga mulai muncul ketika otomasi di dalam industri mulai diterapkan sebagai upaya efisiensi dan meningkatkan produktifitas kerja. Apalagi setelah teknologi komputasi mulai ramai dipakai, alat-alat manajemen modern mulai banyak dikembangkan, dan penggunaan robot dalam industri yang makin marak. Semuanya turut berpengaruh dan mengubah cara industri bekerja saat itu. Barang-barang lebih mudah dan murah untuk diproduksi, namun tetap dengan kualitas yang selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Lalu akhirnya ada revolusi termutakhir, revolusi keempat. Disinilah tempat sebagian besar dari kalian lahir dan bertumbuh.

Revolusi yang akhirnya disebut sebagai revolusi 4.0 ini terjadi akibat teknologi internet. Bukan hanya internet biasa, tetapi internet of things, dimana semua data yang terkait dengan produk dan jasa dapat terkoneksi dalam sebuah jaringan internet, yang tujuannya membuat hidup kita makin mudah. Datanya pun bukan cuma data biasa seperti yang kita simpan di komputer kita sehari-hari, tetapi data yang luar biasa banyak dan mendalam. Data-data tersebut bahkan dapat memprediksi perilaku manusia, tahu apa preferensi kita, bisa menebak aktifitas kita sehari-hari, dan sebagainya. Agak mengerikan kalau membayangkannya dari sudut pandang ala-ala film Terminator atau ala buku Homodeus-nya Yuval Noah Harari. Tetapi tetap saja revolusi ini terjadi, dan kita sebagai umat manusia saat ini sedang ada dipusaran revolusi tersebut.

Paling tidak, sampai tahun 2019 yang lalu.

 

DISRUPTED

Disruption, atau yang di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “disrupsi”, adalah sebuah kata yang lumayan sering kita dengar sebelum 2020. Pemaknaan mudahnya adalah perubahan radikal yang terjadi, yang seakan menghancurkan tatanan yang berlaku sebelumnya. Disrupsi yang kita sering dengar adalah disrupsi digital, atau digital disruption.

Digital disruption erat sekali dengan revolusi 4.0, dimana peran utamanya adalah perkembangan teknologi itu sendiri. Teknologi di jaman sekarang berkembang begitu pesat, sampai-sampai kita (manusia yang menciptakan teknologi itu) dibuat kagum sendiri. Di tahun 90-an misalnya, TV terkecil kita masih sebesar microwave saat ini. Tapi sekarang, Televisi sudah semakin tipis, bahkan kita sudah bisa menonton siaran TV di layar Handphone. Saking majunya teknologi televisi saat ini, tahukah kalian kalau kita sudah memiliki TV transparan? Meski saya tidak bisa membayangkan enaknya nonton TV transparan, tapi ada aja perusahaan yang membuat barang itu. Satu lagi deh contohnya, sebuah teknologi yang sehari-hari kita pakai: Telepon genggam, atau yang saat ini sudah jadi telepon baper karena mereka lebih suka disebut telepon pintar (smartphone). Setiap tahun keluar model baru yang membuat versi terdahulunya menjadi seperti tidak relevan. Bahkan Apple pernah mengeluarkan dua model iPhone (iPhone 8 dan iPhone X) secara bersamaan. Sesuatu yang waktu itu cukup menarik disimak karena beresiko saling hantam.

Dunia profesional juga terimbas urusan disrupsi ini. Ada banyak perusahaan yang khusus mengembangkan unit/divisi baru untuk menangani transformasi digital karena “takut” hanyut dalam arus disrupsi. Anak-anak muda dengan latar belakang pendidikan IT menjadi primadona dan rebutan perusahaan-perusahaan yang berusaha tetap menjadi relevan di dalam industri. Kualifikasi terhadap rekrutan-rekrutan juga makin lama makin canggih, membuat para pemalas yang ogah-ogahan mengembangkan dirinya menjadi semakin terpuruk.

Tapi, itu semua di masa lampau. Sebelum COVID-19.

Saat ini, rasanya tidak ada satupun berita besar yang terkait teknologi atau digital disruption. Jangankan berita, bisa jadi orang-orang sudah pada lupa kalau dulu kita begitu semangatnya membahas isu ini. Sekarang, setiap hari yang kita lihat selalu tentang COVID-19, mulai dari update penderita, vaksin, atau lainnya. Bahkan di saat COVID-19 sedang tidak dibahas, kita tetap melihat orang-orang memakai masker, pelindung muka plastik, dan menolak bersentuhan, yang semuanya itu mengingatkan kita kalau kita masih dalam masa pandemi sial ini. Seakan-akan tidak ada satu ruang pun yang steril dari virus jahanam ini untuk bisa berdiskusi tentang hal lain. Semua yang kita bangun sebelum 2020, semua kejayaan manusia, teknologi, budaya, apapun itu, seakan-akan seperti terhenti. Dunia seperti sedang menekan tombol “pause”. Perkembangan teknologi seakan terlupakan sejenak, meski tetap bergerak dibalik layar, kalaupun memang masih ada pergerakan berarti. Disrupsi yang beberapa tahun lalu begitu mengemuka, sekarang harus bersembunyi dulu. Disrupsi itu telah tertahan oleh masalah lain yang lebih genit. Disrupsi itu telah terdisrupsi.

 

AND NOW WHAT?

Ada hal-hal yang bisa kita lakukan sendiri, seperti memutuskan mau bekerja dimana, mau membuat karya apa, mau makan apa malam ini. Tetapi ada juga hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan sendiri. Menurunkan hujan, membuat dosen kita memberikan kita nilai A meski kita lupa datang pada saat UAS, atau sekedar menebak apa yang dipikirkan wanita. Menghentikan pandemi ini salah satu hal yang tidak dapat kita lakukan, setidaknya belum.

Lantas, jika memang demikian, apa langkah yang bisa kita ambil?

Sebenarnya ada banyak sekali langkah yang bisa diambil. Pertanyaan yang lebih dalam lagi adalah, bagaimana caranya untuk tahu kalau langkah yang kita ambil itu adalah langkah yang paling tepat? Apalagi, kalian adalah anak-anak muda yang saat ini sedang berada di ambang peralihan tahapan hidup. Dari yang tadinya kuliah, sekarang bekerja; tadinya baru memulai karir, sekarang sedang mencoba menapaki profesionalisme yang sesungguhnya; tadinya merasa bebas, sekarang mulai merasa perlu bertanggung jawab kepada masa depan.

Setidaknya ada empat hal yang perlu kalian pertimbangkan dengan cermat untuk dapat melangkah.

  1. Pikirkan kembali semuanya. Kalian harus memikirkan ulang semua yang sudah kalian persiapkan sebelumnya. Target, cita-cita, cara mencapai cita-cita tersebut, tantangannya, dukungan-dukungan yang kalian perlukan. Semuanya. Karena peta permainan sudah berubah sekarang. Cara-cara lama sudah basi, dan tidak relevan lagi dipakai.
  2. Rencanakan tindakan yang akan kamu lakukan. Rancang tindakan-tindakan yang akan kamu lakukan. Pertimbangkan segala sesuatunya dengan baik. Ingatlah pada tujuan akhir yang ingin kamu capai, lalu buatlah jalur menuju ke sana, selangkah demi selangkah.
  3. Tahun 2020 ini seakan berlalu tanpa jejak. Kita sudah kehilangan satu tahun produktif kita. Bukan berarti kita tidak produktif di tahun ini ya, karena banyak juga industri dan orang-orang yang berhasil menggunakan masa pandemi ini sebagai peluang untuk sukses. Nah, justru karena itulah, kita harus bergerak lebih cepat. Selain karena memang kita sudah kehilangan waktu banyak untuk bisa produktif, kita juga bersaing dengan orang-orang yang sudah memulainya lebih cepat, yang sama laparnya, atau bahkan jauh lebih lapar dari kita. Tidak ada waktu untuk bersantai. Ketika sudah tahu apa yang mau dilakukan, lakukan dengan segera.
  4. Temukan kembali dirimu. Kalau yang ini agak reflektif. Dalam setiap apa yang kalian lakukan, jangan lupa untuk terus mengecek realita yang ada. Selalu introspeksi, pelajaran apa yang sudah kalian dapatkan hari ini, besok, dan seterusnya. Jika baik, tingkatkan. Jika buruk, eliminasi. Dan di ujung jalan nanti, jangan lupa untuk menemukan kembali diri kalian yang baru. Bukan sosok lama, tetapi versi upgrade dari diri kalian.

Kita akan bahas satu persatu poin di atas dalam kesempatan-kesempatan berikutnya. Tetapi intinya seperti ini, guys. Kondisi saat ini tidak mudah. Semua orang tahu itu. Tetapi dibalik kondisi separah apapun, selalu ada hal baik yang dapat kita syukuri, minimal kondisi ini akan memampukan kita untuk memperbaiki dan meningkatkan diri. Karena itu, tidak perlu untuk berkecil hati, atau ngedumel kesana kemari karena susah dapat kerjaan, atau bahkan di PHK. Yang sudah berlalu, anggap sebagai pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik. Dan untuk menuju kesana, kalian diberikan anugerah berupa waktu supaya kalian dapat memikirkan segala sesuatunya dengan lebih baik. Jadi lakukan itu. Mulailah kembali dari awal.

COVID memang belum selesai, tetapi suatu saat akan berakhir. Kebanyakan dari kita akan bertahan dan melanjutkan hidup. Dan saat hidup mulai kembali berlanjut, disrupsi yang tadinya seakan terhenti akan mulai menggeliat lagi. Kita pun harus kembali mempersiapkan diri, karena disrupsi yang berikutnya pasti tidak akan menunggu kita mengangkat senjata. Perubahan tidak pernah berhenti, bahkan disaat kita pikir mereka tidak ada. Mereka hanya bergerak diam-diam, tidak di atas panggung, sambil ngumpet menunggu saat yang tepat untuk mengejutkan kita.

 

Baca juga artikel serinya:

The Disrupted Disruption

Rethinking Everythink - The Disrupted Disruption Series

Orchestrate Your Action - The Disrupted Disruption Series

Run, Forrest! Run! - A Disrupted Disruption Series

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Sketsa dan Sesal

06-10-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : Sketsa dan Sesal / Sketches and Regrets Penulis : Airin Efferin Editor : Setiadi Sopandi Ilustrasi : Oky Kusprianto Alih Bahasa : Juhendy Setiawan Wu Fotografi : Christian Nathanael Wijaya Jenis Buku : Non...

Read more

Review Buku Dayon - Akmal Nasery Basral

22-09-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Dayon Penulis : Akmal Nasery Basral Tata Letak Isi: Rizkyka Wulandary Penyunting Naskah: Nia Septiany Jenis Buku : Novel Antropologi Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Mei 2021 Jumlah Halaman : 324 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku The Midnight Library - Matt …

19-08-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #5 Amazon Charts this week A New York Times Best Seller Winner of the Goodreads Choice Award for Fiction A Good Morning America Book Club Pick!   Judul : The Midnight Library Penulis : Matt Haig Jenis Buku : Literary Fiction...

Read more

Review Buku The Guest List - Lucy Foley

08-08-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense A Reese's Book Club Pick The New York Times Bestseller One of The New York Times Thrillers of 2020   Judul : The Guest List Penulis : Lucy Foley Jenis...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more