Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disruption Series –

Published: Friday, 20 November 2020 Written by Jeffrey Pratama

 

“...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get”

Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati, yang menjadi saksi dan berperan dalam beberapa peristiwa penting di Amerika Serikat di abad 20.

Forrest pernah diinterview bersama dengan John Lennon (sang musisi legendaris dari band the Beatles), menjadi saksi mata dalam kasus skandal politik Watergate, menginspirasi bentuk “smiley face” yang ikonik dan mendunia, menghadirkan diplomasi ping-pong antara Amerika Serikat dengan Cina, sampai menginspirasi Elvis Presley untuk menciptakan gaya dansa khasnya.

Jika memang segitu pentingnya dia, mengapa cukup jarang kita mendengar namanya?

Mudah saja, karena Forrest Gump adalah tokoh fiksi.

 

Forrest Gump adalah sebuah film yang tayang di tahun 1994 (yap, mungkin kamu masih batita, atau malah belum lahir), yang mengisahkan tentang petualangan seorang lelaki yang memiliki keterbatasan intelegensi, tetapi memiliki hati yang sangat baik. Film yang diperankan oleh Tom Hanks ini mendapatkan piala Oscar untuk enam katagori, termasuk katagori-katagori paling bergengsi seperti Best Picture, Best Actor, dan Best Director. Jika kamu ada waktu senggang di antara drama-drama Korea yang sedang ada di movie playlist kamu, boleh di coba film inspiratif ini.

Di dalam film, ada banyak sekali catch phrase, atau bahasa jaman sekarangnya: Quote, yang berseliweran di sana-sini. Beberapa kutipan tersebut menjadi terkenal di seantero dunia, padahal waktu itu belum jaman medsos dan viral-viralan. Kutipan-kutipan itu sangat menarik, menginspirasi, bahkan dalam tataran tertentu seakan filosofis, dan menjadi roh perjalanan hidup Forrest yang kita bisa nikmati sepanjang film tersebut. Salah satu kutipan yang mendunia pada waktu itu adalah ketika Forrest kecil sedang di-bully oleh anak-anak berandal di sekolahnya. Saat Forrest sedang berpikir untuk melawan (dan dihajar habis-habisan) atau kabur, temannya kemudian berteriak kencang kepada Forrest “Run, Forrest! Run!”

Ini yang kemudian menjadi tema dari film tersebut. Dan tema ini, sedikit banyak mengajarkan kita tentang pentingnya berlari.

 

Run for your Life.

Banyak yang berpikir quote dari film Forrest Gump di atas berarti bahwa kita harus melarikan diri kesulitan yang menimpa kita. Ketika ada hal menakutkan yang menghampiri, seperti deadline skripsi, ketemu dosen killer, harus presentasi di depan Direktur atau di depan publik, harus mengakui sebuah kebohongan, dan lainnya, maka kita perlu lari saja. Paling tidak itu yang tersirat dari adegan Forrest melawan anak-anak berandalan itu.

Saya melihatnya agak lain.

Mari kita kesampingkan dulu faktor anak berandalan, dan fokus pada kata “RUN” nya.

 

Pertama, tentang tindakan ber-“LARI”.

Dalam mencapai kesuksesan, banyak yang bilang perencanaan adalah faktor yang sangat penting. Anggapan-anggapan seperti “If you fail to prepare, then you are preparing to fail*”, atau “Give me six hours to chop down a tree, I will spend the first four to sharpening the axe**“,  atau yang sejenisnya, sering kita dengar dimana-mana. Ada juga yang bilang bahwa ‘jika kita sudah membuat rencana, artinya kita sudah 50% berhasil’.

Tidak salah memang. Merencanakan adalah hal yang penting dan tidak dapat dikesampingkan. Dengan merencanakan, kita mengatur arah layar kita, mempersiapkan sauh, kayuh, kompas, persediaan makanan, dan semua hal lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita. Akan tetapi, kita tidak akan sampai ke tujuan tersebut jika kita tidak melakukan satu hal lagi, yang kelihatannya sederhana, tetapi tanpanya kita tidak mungkin berhasil. Jika membuat rencana berkontribusi terhadap 50% kesuksesan kita, maka 50% sisanya MENGAMBIL TINDAKAN. Kita perlu untuk bertindak.

Jauh lebih mudah ngomong, daripada melaksanakan. Memang benar. Dimana-mana bicara memang lebih mudah daripada menjalankan. Makanya menjadi teladan itu tidak mudah. Makanya lebih gampang jadi kritikus daripada pemain bola. Makanya profesi motivator laris.

 

Mengambil tindakan tidak ada rumusan yang ribet, karena memang ngga perlu dibuat ribet. Kamu hanya perlu ingat satu hal saja untuk memulai berlari, yakni Mengambil Langkah Pertama.

Mengambil langkah pertama selalu menjadi hal yang tersulit, karena langkah pertama menyiratkan berbagai macam hal. Langkah pertama berarti kamu memutuskan untuk berubah dari yang dulunya diam saja, sekarang kamu bergerak. Manusia pada dasarnya cenderung tidak nyaman dengan perubahan. Masih ingat dengan istilah Pleasure Principle dari artikel sebelumnya? Cari nikmat menghindari sengsara? Nah.... bagi manusia, perubahan adalah sesuatu yang tidak nyaman, tidak nikmat, dan bahkan kadang memicu kesengsaraan. Perubahan itu ujungnya tidak jelas, dan manusia tidak suka dengan ke-tidak-jelasan. Berubah itu sulit.

Mengambil langkah pertama juga menyiratkan bahwa kita perlu menciptakan kebiasaan baru untuk mendukung terwujudnya langkah tersebut. Membuat kebiasaan baru juga tidak mudah. Perlu ada komitmen dan konsistensi didalamnya. Ambil saja contoh membangun kebiasaan menyikat gigi pada anak-anak, atau membiasakan diri berolahraga setiap pagi selama 30 menit. Membangun kebiasaan itu sulit.

Jadi, bagaimana cara yang paling OK untuk mengambil langkah pertama? Menurut saya: Jangan kebanyakan mikir. Ingatkah kamu, saat pertama kali belajar berjalan, apa yang kamu pikirkan? Okelah,  kamu kemungkinan besar ngga akan ingat kejadian itu, tetapi justru itu intinya! Ada dua kejadian dalam hidup manusia yang paling menyulitkan, yakni belajar berjalan dan belajar berbicara. Ingatkah kamu akan proses pembelajaran kamu itu? Sepertinya tidak. Berani bertaruh juga, saat pertama kamu mencoba melangkahkan kaki mungilmu, atau saat pertama kali kamu menggumamkan kata “mama” atau “papa”, kamu juga ngga mikir ribet-ribet.

Mengambil langkah pertama dalam menjalankan sebuah rencana harusnya mirip seperti itu. Tidak perlu banyak dipikir dan dianalisa (karena bagian ini sudah beres saat kamu membuat perencanaan), dijalankan saja. Kalau jatuh bagaimana? Ya jatuh saja. Kalau sakit? Ya syukurin, tapi kalau ternyata enak? Kan bagus tokh? Jalanin aja. Ngga usah banyak direnungkan.

 

Kedua, mari kita bicara tentang kecepatan lari.

Langkah pertama tentunya harus diteruskan dengan langkah-langkah kedua, ketiga dan seterusnya. Tidak ada gunanya capek-capek melangkah hanya untuk berhenti di langkah berikutnya. Lebih daripada itu, sebenarnya kamu harus berlari. Alasannya sederhana, karena di era Disrupted Disruption ini, semua orang berlari. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan baru, mendapatkan peluang bisnis baru, lulus kuliah lebih cepat supaya dapat segera mencari pekerjaan. Seperti yang pernah didiskusikan di artikel-artikel sebelumnya, pandemi ini membuat kita seperti dalam keadaan “pause”, sementara waktu terus bergerak. Hal ini mengakibatkan kita perlu berlari lebih kencang ketika tombol pause tersebut sudah dimatikan, selain demi mengejar ketertinggalan kita terhadap waktu, juga karena orang lain melakukan yang sama. Sainganmu banyak.

Lalu bagaimana caranya berlari lebih kencang? Bagi para pelari profesional, mungkin jawabannya ada pada latihan, latihan, dan latihan. Tidak salah. Tetapi bagi yang bukan pelari profesional, bagaimana?

Kamu bisa lakukan ini: Berlarilah seakan-akan hidupmu bergantung penuh pada lari kamu! Run as if your life is depending on it. Run for your life!

Bayangkan apa yang akan menimpa Forrest kalau larinya kalah dari anak-anak perundung itu. Bayangkan muka bonyok Forrest bila dia tidak meningkatkan kecepatan larinya, minimal sama dengan kecepatan para bocah bandel itu. Apalagi (saya lupa bilang di awal), anak-anak tengil itu menggunakan sepeda untuk mengejar Forrest. Lakukan hal yang sama dengan apapun yang kamu rencanakan. Bayangkan kesulitan atau kehancuran hidup kamu bila kamu tidak segera mendapatkan pekerjaan, bila tidak segera lulus kuliah, bila tidak berani presentasi di depan BoD kamu, dan sebagainya.

Di saat bersamaan, ingat juga tujuan akhir yang ingin kamu capai. Bayangkan kenikmatan yang kamu raih bila berhasil mendapatkan impian kamu. Jadikan itu sebagai pemicu kamu untuk bergerak, dan tidak sekedar bergerak, tetapi berlari lebih cepat.

 

Ketiga, tentang konsistensi.

Banyak orang yang gagal bukan karena dia tidak mau berusaha, tetapi karena dia berhenti di tengah jalan. Sudah mengambil langkah pertama, sudah berlari sekuat tenaga, tetapi di tengah perjalanan entah di persimpangan mana orang tersebut menyerah. Alasannya bisa bermacam-macam, kelelahan karena berlari tanpa henti, kekecewaan karena garis finish tidak kunjung terlihat, frustrasi karena cuaca yang memburuk, dan banyak lagi. Ada yang bahkan merasa menemukan pertandingan yang lain, sehingga meninggalkan larinya begitu saja.

Semua alasan tersebut sebenarnya manusiawi. Tidak ada manusia yang kebal dengan kelelahan, kekecewaan, atau rasa frustrasi. Makanya konsistensi menjadi semakin penting. Bagaimana caranya agar bisa konsisten? Jawabannya mungkin sama dengan cara kita akhirnya berhasil sikat gigi dua kali sehari: Memaksakan diri (atau dipaksa orang tua). Saya tahu ada beberapa orang tua yang bahkan menggunakan cara-cara kreatif untuk membuat anak-anaknya mau sukarela menyikat gigi sendiri. Misalnya dengan memberikan visualisasi tentang gigi yang rusak kepada anaknya. “Inilah yang terjadi sama gigi kamu kalau kamu tidak rajin gosok gigi. Kamu mau punya gigi seperti ini, Nak?” kira-kira begitu.

Berhubung kamu sudah dewasa, kamulah yang harus mengambil peran sebagai orang tua untuk diri kamu sendiri. Jika masih butuh dorongan, minta bantuan dari sahabat, rekan kerja, pasangan, atau bahkan bantuan profesional yang benar-benar memahami urusan begini-begini.

Selain cara di atas, kamu juga perlu untuk terus mengingat tujuan akhir yang ingin kamu capai. Biasanya hal itu akan menjadi tambahan energi buat kamu untuk bisa menjalani apapun yang sedang kamu perjuangkan. Aktifitas yang terjadwal rapi dan reminder-reminder juga akan sangat membantumu dalam konsistensi. Ini adalah fase yang sangat krusial dalam pencapaian target kamu. Jangan takut untuk meminta bantuan orang lain, bila kamu merasa perlu. Jika kamu memang perlu bantuan dari seorang professional coach misalnya, coba saja. Karena seorang coach memang dilatih dan dibekali dengan cara-cara yang dapat membantu kamu untuk terus berjuang mencapai garis akhir. Intinya, lakukan yang kamu anggap perlu untuk dapat membuatmu konsisten.

 

And then, there’s the bully

Nah, mari kita bahas sedikit soal para bocah-bocah tengil alias si perundung Forrest Gump.

Masalah pasti akan datang, cepat atau lambat, siap atau tidak siap. Kita tidak mungkin akan berhasil mengantisipasi setiap permasalahan yang muncul di depan kita. Ada masalah yang kecil sehingga tidak perlu pemikiran terlalu ribet, ada juga yang kelihatannya mustahil untuk diselesaikan. Apapun itu, masalah yang kamu hadapi justru ada baiknya. Alasannya, masalahlah yang sering menjadi pemicu orang untuk mau keluar dari zona nyamannya. Masalahlah yang membuat orang mau berpikir lebih keras, merencanakan lebih baik, dan melangkah lebih cepat.

Dalam adegan dimana sekelompok anak menghampiri dan merundung Forrest, situasinya digambarkan sangat tidak ideal bagi sang protagonis. Forrest kecil saat itu memiliki kelainan di tulang belakangnya, sehingga dia harus memakai penyangga besi di kakinya hanya untuk dapat menopangnya berdiri. Untuk berjalan saja sulit, apalagi berlari.

Tetapi masalah yang datang, akhirnya mau tidak mau membuat Forrest pun harus keluar dari kekangan kondisi fisik dan mentalnya, dan memulai berlari.

Jangan menyalahkan masalah yang menimpa kamu, karena tidak ada yang dapat mencegah mereka datang. Justru bersyukurlah, karena dengan masalah tersebut, kamu akan belajar dan memaksa diri untuk berlari.

 

***

 

OK, Forrest Gump itu memang kisah fiksi. Seperti layaknya cerita fiksi Hollywood, pasti ada dramatisasi di sana-sini, lebay, atau adegan-adegan yang tidak masuk akal. Adegan Forrest lari lebih cepat dari sepeda saja secara nalar rasanya tidak mungkin terjadi. Tetapi yang ingin saya bagikan ke teman-teman semua bukan tentang itunya.

Banyak sekali pelajaran yang kita bisa ambil, jika kita mau diam sejenak dan memperhatikan. Kita dapat terinspirasi dari apa saja, selama kita memiliki pemikiran yang terbuka dan keinginan untuk selalu mengembangkan diri. Termasuk juga belajar dari kisah fiksi.

Dalam mengejar impian kamu, tidak ada cara lain selain memperjuangkannya secara mati-matian, seakan-akan mimpi kamu sedang berdiri di ujung jurang, dan hanya kamu yang bisa menyelamatkannya. Meski kamu takut ketinggian, tidak ada pilihan lain untuk berlari menuju jurang itu, supaya kamu bisa menggapai mimpi tersebut.

Tidak ada resep pasti untuk sukses. Sukses itu butuh pengorbanan. Jika kamu lihat di televisi, sosmed, atau media manapun, tentang orang-orang yang sukses luar biasa, kamu perlu pahami bahwa untuk sampai ke sana tidak mudah. Dan realitanya, jauh lebih banyak orang-orang yang tidak sukses (baca: GAGAL) yang tidak kamu tahu karena tidak masuk berita. Jangan hanya melihat enaknya, tetapi lihat juga yang tidak enak.

Mengambil tindakan itu kadang tidak enak. Alasannya karena ini membuat kamu harus mengorbankan sesuatu yang sudah kamu nikmati sebelumnya: duduk santai-santai, ngga usah capek-capek, ngga perlu mikir, dan sebagainya. Tetapi impian tidak akan pernah terwujud dengan kamu bersantai-santai. Rancangan yang kamu buat tidak akan berjalan dengan sendirinya tanpa kamu mulai.

Jadi, mulailah mengambil tindakan. Berlarilah.

 

Baca juga artikel terkait

The Disrupted Disruption

Rethinking Everythink - The Disrupted Disruption Series

Orchestrate Your Action - The Disrupted Disruption Series

Run, Forrest! Run! - A Disrupted Disruption Series

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku Omoiyari - Erin Niimi Longhu…

27-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : Omoiyari The Japanese Art of Compassion Penulis : Erin Niimi Longhurst Ilustrator: Ryo Takemasa Jenis Buku : Self Improvement - Phylosophy Penerbit : HarperCollins Publishers Tahun Terbit : Juli 2020 Jumlah Halaman :  224 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku A Time for Mercy - John Gris…

20-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 Amazon Charts This Week   Judul : A Time for Mercy (Jake Brigance Book 3) Penulis : John Grisham Jenis Buku : Legal Thriller Penerbit : Doubleday Books – Penguin Random House LLC Tahun Terbit : Oktober 2020 Jumlah...

Read more

Review Buku To Sleep in A Sea of Stars -…

13-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor’s Pick Best Science Fiction & Fantasy on Amazon a New York Times and USA Today Bestseller To Sleep in a Sea of Stars is a brand new epic novel from #1 New York Times bestselling author of Eragon, Christopher...

Read more

Review Buku I Have Something to Say - Jo…

07-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : I Have Something to Say Mastering the Art of Public Speaking in an Age of Disconnection Penulis : John Bowe Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

20-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

The Disrupted Disruption

06-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

04-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

02-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more