2020

Category: Jeff's Journal Published: Saturday, 19 December 2020 Written by Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada diantara orang-orang yang sudah pasrah sejak pertengahan tahun?

Kelompok manapun kamu, apapun pemikiran kamu tentang tahun ini, semuanya akan segera terlewati. Tahun 2020 akan segera berakhir.

2020 akan segera tercatat sebagai salah satu tahun kelam dalam sejarah manusia. Tidak perlu diingatkan rentetan kejadian yang membuat kita mengelus dada, baik lokal, nasional, maupun global. Satu kejadian yang bernama pandemi saja sudah cukup membuat umat manusia kerepotan. Per tanggal 8 Desember (saat tulisan ini dibuat), ada lebih dari 68 juta kasus COVID-19, dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 1,5 juta orang diseluruh dunia*. Tidak heran apabila pada saat tulisan ini naik tayang, angka-angka tersebut sudah semakin tinggi.

Tapi mari kita sudahi bicara tentang COVID-19 ini. Sudah terlalu banyak berita yang mengulas, tidak perlu lagi menambah ramai topik tersebut. Mari kita bahas sesuatu yang ringan. Sesuatu yang biasanya di tanggal segini banyak yang angkat. Refleksi akhir tahun.

Yap, ada baiknya kita bernostalgia kembali ke masa di mana tema-tema seperti refleksi diri, napak tilas, atau kaleidoskop menjadi santapan utama.

  1. Refleksi diri.

Ada empat hal yang dapat kamu lakukan dalam refleksi diri, agar kamu merasa lebih positif mengakhiri tahun ini. Pertama, be graceful. Ini bicara tentang menerima keadaan yang telah terjadi dengan baik. Apapun yang sudah terjadi tahun ini, terimalah dengan lapang dada. Kesal dan marah itu wajar, tetapi tidak akan mengubah apapun. Berilah waktu untuk meluapkan kekesalan itu, tetapi segeralah terima kenyataan yang ada, agar ketika kamu sudah menapaki 2021, nyawamu tidak tertinggal di tahun sebelumnya.

Bagaimana caranya? Sadari bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu, dan sadari pula bahwa masa lalu kita tidak akan menentukan siapa jati diri kita di masa depan, sepanjang kita tidak membiarkannya terjadi. Ambillah keputusan untuk meninggalkan masa lalu dengan elegan. Elegan di sini bukan berarti kamu melupakan masa lalu. Justru sebaliknya, kamu menjadikan masa lalu sebagai pengingat dan pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik.

Setelah kamu dapat menerima kenyataan, maka hal berikutnya yang dapat kamu lakukan adalah be grateful. Apapun yang terjadi dengan hidupmu sepanjang tahun 2020 ini, bersyukurlah.

Mungkin tampaknya sulit menemukan hal yang patut disyukuri tahun ini. Bagi kamu yang kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan bisnis, kehilangan kebebasan karena harus terkurung dalam isolasi, atau bahkan kehilangan orang yang disayangi, kata “bersyukur” bisa terlihat sangat jauh.

Dapat dimengerti. Apa yang terjadi bisa saja sangat menyakitkan sehingga kamu ingin segera menjatuhkan kutuk terhadap tahun ini. Tetapi lantas akankah membuat segalanya lebih baik? Jangka pendek, mungkin ini akan melepaskan emosi negatif yang ada dalam diri. Meluapkan kemarahan, memaki, atau menangis, akan mampu membantumu lepas dari kondisi negatif yang kamu alami. Di dalam psikologi, ini masuk dalam Five Stages of Grief (5 tahapan dalam kesedihan) yang memang manusiawi untuk dialami. Akan tetapi, kamu juga harus move on, cepat atau lambat. Dan waktu tidak akan menunggu kamu mengasihani diri.

Mengapa bersyukur itu penting? Selain karena bersyukur membuat kamu fokus kepada hal-hal baik dan produktif, juga karena secara ilmiah bersyukur itu banyak manfaatnya. Mengucap syukur dapat meningkatkan well-being, daya tahan, memperkuat hubungan, dan mengurangi stres serta depresi. Bersyukur meningkatkan imunitas seseorang (sesuatu yang sangat diperlukan akhir-akhir ini), menurunkan tekanan darah, membuatmu lebih gampang tidur, dan lebih berbahagia. Bahkan dalam sebuah penelitian, dikatakan bahwa pasien-pasien gagal jantung yang rutin menulis Gratitude Journal (jurnal syukur) selama delapan minggu menunjukkan penurunan gejala radang. Artinya, banyak sekali keuntungan ilmiah dibalik kata “syukur” ini**.

Lalu bagaimana cara untuk tetap bersyukur di dalam kondisi sulit? Lihatlah sisi positif yang ada. Temukan hal-hal positif yang kamu miliki, terlepas dari segala macam kondisi yang ada. Bersyukurlah atas hal tersebut. Mustahil rasanya kamu tidak menemukan satu saja hal positif dari hidupmu. Jika memang sulit menemukannya, minimal bersyukurlah atas nafas yang masih kamu hembuskan saat ini. Bersyukurlah bahwa kamu masih diberikan kesempatan untuk menggerutu. Bersyukurlah karena kamu masih hidup.

Ketiga, be mindful. Tidak elok rasanya kalau kita menutup tahun tanpa mendapatkan pelajaran apapun. Pelajaran di sini maksudnya pengembangan diri, sesuatu yang membuat kamu dapat berkata “aku lebih baik dan lebih berkembang saat ini, ketimbang setahun yang lalu”.

Tidak ada alasan untuk tidak belajar apapun, separah-parahnya tahun ini, kita punya 365 hari untuk belajar sesuatu yang baru. Jika tidak ada satu hari pun yang kamu lalui untuk meningkatkan diri kamu, sungguh memalukan.

Justru sebenarnya tahun ini adalah tahun yang tepat untuk mengasah diri. Situasi pandemi yang mengharuskan sebagian besar waktu kita dihabiskan di rumah, membuat kesempatan belajar menjadi makin besar. Berbagai macam pelatihan yang dulu kebanyakan dilakukan secara offline, sekarang berubah menjadi online dan lebih terjangkau, bahkan banyak yang gratisan. Bermunculannya platform-platform pembelajaran online baru juga semakin memudahkan kita untuk makin berilmu. Memasak, menenun, menjahit, semuanya bisa. Satu-satunya alasan kamu tidak belajar hal baru adalah kalau kamu malas. Dan kemalasan sepanjang 365 hari itu, sekali lagi, MEMALUKAN.

Jadi, pikirkan apa yang sudah berubah dari kamu, dalam konteks pembelajaran dan pengembangan diri. Pikirkan dan tuliskan hal-hal baru yang sudah kamu kuasai. Keterampilan baru, pengetahuan baru, wawasan atau insight baru, apapun itu. Kamu bisa belajar dari siapa saja, termasuk diri kamu sendiri. Namanya saja refleksi, paling cocok memang mulai dari diri sendiri. Apa saja yang berhasil kamu temukan dari diri kamu sendiri sepanjang tahun ini? Misalnya, kamu baru tahu kalau kamu punya bakat memasak setelah ikut training online; atau kamu baru menemukan jika berolahraga setiap pagi selama 30 menit ternyata membuat otot betis kamu makin besar. Hal-hal seperti itu.

Kamu juga bisa memikirkan hal-hal apa saja yang telah kamu pelajari dari orang lain, misalnya tentang berbuat baik kepada sesama melalui acara-acara amal bersama teman-teman kamu, atau semudah menyadari bahwa kamu akhirnya jatuh cinta kepada rival abadimu, yang gara-gara zoom kamu jadi tahu kalau dia ternyata imut juga. Ada banyak hal yang kalau kamu perhatikan dengan lebih jauh, akan membawamu pada pencerahan dan pengembangan diri. Carilah hal itu.

Terakhir, be hopeful. 2020 bukan tahun yang standar bagi umat manusia. Ada begitu banyak kejadian yang tak terduga dan tak diinginkan terjadi. Banyak yang berkata, dengan tolok ukur yang serendah itu, harusnya tahun depan akan lebih baik kondisinya. Masa sih kondisi akan bisa lebih buruk dari tahun ini? Rasanya tidak mungkin.

Hmm...

Hal yang tidak mungkin adalah untuk tahu persis apa yang akan terjadi di tahun depan. Meski dengan segala teknologi canggih dan ahli nujum terpintar yang kita miliki, kita tetap tidak dapat memprediksi masa depan kita. Yang dapat kita lakukan hanyalah bersiap diri dan berharap. Bersiap diri untuk hal terburuk, dengan merencanakan strategi dan aktifitas dengan sematang mungkin, serta berharap untuk hal yang terbaik. Berharap yang terbaik untuk masa depan, untuk hari esok yang lebih cerah dari hari ini, untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini, untuk diberikan kesempatan dalam membuktikannya.

***

 

Tahun 2020 mungkin tidak akan masuk dalam bilangan tahun yang menyenangkan bagi banyak orang. Tetapi bukan berarti kita harus membuatnya tidak berarti. Begitu banyak cerita yang kita dapatkan dari tahun ini, terlepas dari itu cerita horor, tragedi, drama, atau genre apapun. Tinggal sekarang pertanyaannya, apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Pencerahan apa yang kita dapat ketika kita keluar dari bioskop pertunjukan film 2020 ini? Terlalu panjang durasi film ini jika kita lalui tanpa sepenggal pengetahuan, pengalaman, atau pembelajaran baru. Memasuki tahun 2021, kita dapat memakai apa yang sudah kita terima di 2020, untuk membuat diri kita menjadi makin tangguh  dan makin baik. 2021 memang harus menjadi lebih baik, bukan karena buruknya tahun 2020, tetapi karena memang kita telah menjadi orang yang lebih baik di tahun tersebut.

Selamat mengakhiri 2020, selamat menjadi lebih baik.

 

* Worldometers.info/coronavirus/? As accessed on Dec 8th, 2020

** Seperti tertulis dalam https: // ggsc. berkeley.edu / images/uploads/GGSC-JTF_White_Paper-Gratitude-FINAL. pdf

 

Tentang Penulis:
Jeffrey adalah seorang praktisi Human Resource yang telah 15 tahun berkarir di beberapa perusahaan terbaik di Industrinya. Selain sebagai seorang Executive Professional, Jeffrey juga merupakan seorang Professional Coach yang tersertifikasi, dengan passion yang mendalam di bidang pengembangan diri dan karir, khususnya bagi anak-anak muda. Penggemar music jazz dan klub sepakbola Manchester United ini juga penikmat setia buku-buku, khususnya yang terkait dengan pengembangan diri dan bisnis.

 

 

Hits: 7530