Review Buku Talking To Strangers - Malcolm Gladwell

Published: Monday, 07 October 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : Talking to Strangers

What We Should Know about the People We Don’t Know

Penulis : Malcom Gladwell

Jenis Buku : Non Fiksi - Psikologi

Penerbit : Penguin Random House UK

Tahun Terbit : September 2019

Jumlah Halaman :  400 halaman

Dimensi Buku :  15.30 x 23.40 x 2.90cm

Harga : Rp. 295.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780241351574

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

 

#1 Amazon Charts This Week (Non Fiction)

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Bagaimana Fidel Castro membodohi CIA selama satu generasi? Mengapa Neville Chamberlain berpikir ia bisa mempercayai Adolf Hitler? Mengapa kekerasan seksual di lingkungan kampus meningkat? Apakah komedi situasi televisi mengajarkan kita sesuatu tentang cara kita berhubungan satu sama lain dengan 'cara' yang tidak benar?

Talking to Strangers adalah petualangan intelektual khas Gladwell, sebuah perjalanan yang menantang dan kontroversial melalui sejarah, psikologi, dan skandal yang diambil langsung dari berita.

Dia meninjau kembali penipuan Bernie Madoff, persidangan Amanda Knox, kasus bunuh diri Sylvia Plath, skandal pedofilia Jerry Sandusky di Penn State University, serta kematian Sandra Bland, dan semua hal tersebut membawa kita pada pemahaman yang menghenyakkan tentang alat dan strategi yang kita gunakan untuk memahami orang yang tidak kita kenal. Karena kita tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang asing, kita mengundang konflik dan kesalahpahaman dengan cara yang memiliki efek mendalam pada kehidupan dan dunia kita.

 

Yuk kita intip daftar isinya:

 

Author’s Note

Introduction

“Step out of the car!”

 

PART ONE: SPIES AND DIPLOMATS:

TWO PUZZLES

ONE:

Fidel Castro’s Revenge

TWO:

Getting to Kno der Fuhrer

 

PART TWO: DEFAULT TO TRUTH

THREE:

The Queen of Cuba

FOUR:

The Holy Fool

FIVE:

Case Study:

The Boy in the Shower

 

PART THREE: TRANSPARENCY

SIX:

The Friends Fallacy

SEVEN:

A (Short) Explanation of the Amanda Knox Case

EIGHT:

Case Study:

The Fraternity Party

 

PART FOUR: LESSONS

NINE:

KSM: What Happens When the Stranger Is a Terrorist?

 

PART FIVE: COUPLING

TEN:

Sylvia Plath

ELEVEN:

Case Study:

The Kansas City Experiments

TWELVE:

Sandra Bland

 

ACKNOWLEDGMENTS

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

 

Buku ini ada yang disainnya putih ada juga yang merah. Sebenarnya isinya sama saja. Hanya beda penerbitnya. Mungkin teman-teman ada yang lebih familiar dengan yang versi disain putih. Saya secara pribadi lebih suka yang ini karena memang tidak begitu menyukai buku-buku dengan sampul yang didominasi warna putih. Ukuran buku yang saya baca sedang, dalam artian lebih besar dari buku paperback umumnya. Dan ini membuat proses membaca jadi lebih nyaman karena ukuran huruf dan spasinya yang juga menurut saya jadi lebih berjarak. Selebihnya saya tidak banyak komentar karena disain buku ini memang khas non fiksi sekali. Dengan menonjolkan nama penulisnya yang populer itu, sudah pasti buku ini seketika menarik untuk dilihat-lihat saat terpajang di display buku.


Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Buku ini dibuka dengan catatan langsung dari Malcolm Gladwell yang bercerita tentang kisah sederhana, masa di mana suatu hari Gladwell mengajak ayah dan ibunya menginap di Mercer Hotel yang bonafide, lalu ayahnya mengobrol panjang lebar soal berkebun dengan seorang pria yang tidak ia kenal, yang ayahnya tak terpikirkan pula untuk menanyakan namanya ("Oh, I have no idea. But the whole time people were coming up to him to take a pictures and have him sign little bits of paper), dan Gladwell menutup catatannya dengan pesan jika ada selebritis Hollywood yang merasa telah mengobrol dengan pria tua berjenggot agar mengontak Gladwell segera... I find it funny and witty ☺.

Author's Note

“What did you talk about?” I asked.

“Gardening!” my father said.

“What was his name?”

“Oh, I have no idea. But the whole time people were coming up to him to take pictures and have him sign little bits of paper.”

If there is a Hollywood celebrity reading this who remembers chatting with a bearded Englishman long ago in the lobby of the Mercer Hotel, please contact me.

Page xii

 

Ini dia maksud dan tujuan buku Malcolm kali ini. Penekanannya memang ada di kasus Sandra Bland yang kemudian menjadi bahan pemikiran yang mendalam terhadap sosial masyarakat.

In all of these cases, the parties involved relied on a set of strategies to translate one another’s words and intentions. And in each case, something went very wrong. In Talking to Strangers, I want to understand those strategies – analyze them, critique them, figure out where they came from, find out how to fix them. At the end of the book I will come back to Sandra Bland, because there is something about the encounter by the side of the road that ought to haunt us. Think about how hard it was. Sandra Bland was not someone Brian Encinia knew from the neighborhood or down the street.

Page 12

 

Catatan kaki yang detail menjadi ciri khas buku ini. Kadang ada catatan kaki yang panjangnya nyaris setengah halaman buku. Selain itu ada juga beberapa gambar penyerta, seperti foto, grafik, dan lain-lain.

Picture: gambar yang ada di dalam buku

 

Selepas prolog tentang kasus Sandra Bland, isi bab berikutnya jauh dari hal-hal yang sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya. Buku ini akan tepat buat kita yang menyukai bidang politik, hukum, dan sejarah karena Malcolm Gladwell membahas topik 'talking to strangers'nya melalui studi kasus di bidang-bidang tersebut, di antaranya pembalasan dendam Fidel Castro (1987), pengkhianatan Hitler atas perjanjiannya dengan Neville Chamberlain (1938), double agent mata-mata Kuba - kasus Ana Montes (1985), dan pelecehan seksual Jerry Sandusky yang ditutupi oleh beberapa tokoh petinggi Pennsylvania State University (1998).

Tulisannya yang tajam, detail, argumentatif, dan bersudut pandang mengingatkan kita pada latar Gladwell yang seorang jurnalis kawakan. Kasus-kasus yang ia munculkan seolah sukar ditemukan hubungannya satu sama lain, tapi benang merahnya sebenarnya ada di kata kunci yang juga menjadi judul buku ini.

Melalui studi kasus tersebut, Gladwell menggiring kita pada pertanyaan yang krusial, misalnya, "Why can't we tell when the stranger in front of us is lying to our space?"

The Mountain Climber was one of the most talented people at one of the most sophisticated institutions in the world. Yet he’d been witness three times to humiliating betrayal – first by Fidel Castro, then by the East Germans, and then, at CIA headquarters itself, by a lazy drunk. And if the CIA’s best can be misled so completly, so many times, then what of the rest of us?

Puzzle Number One: Why can't we tell when the stranger in front of us is lying to our face?

Page 27

 

Mullainathan’s machine can't overhear the prosecutor talking about an EDP, and it can't see that telltale glassyeyed look. That fact should translate into a big advantage for Solomon and his fellow judges. But for some reason it doesn't.

Puzzle Number Two: How is it that meeting a stranger can sometimes make us worse at making sense of that person than not meeting them?

Page 43

 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada disimpan di bagian akhir buku oleh Gladwell, atau bisa kita duga sendiri dengan analisis dan deduksi yang kita lakukan berdasarkan kasus-kasus yang dipaparkan. Apa yang dipaparkan oleh Malcom Gladwell membuat saya banyak berpikir dan merenung.

He listened with horror to Chamberlain’s account of his meeting with Hitler. Later, he would resign from Chamberlain’s government in protest. Did cooper know Hitler? No. Only one person in the upper reaches of the British diplomatic service – Anthony Eden, who preceded Halifaz as foreign secretary – had both met Hitler and saw the truth of him. But for everyone else? The people who were right about Hitler were those who knew the least about him personally. The people who were wrong about Hitler were the ones who had talked with him for hours.

Page 36 

This is the explanation for the second of the puzzles, in Chapter Two, about why computers do a much better job than judges at making bail decisions. The computer ...

Page 164

 

Ada beberapa studi atau penelitian yang secara khusus diangkat di buku ini. Salah satunya studi yang dilakukan oleh Tim Levine tentang kejujuran.

Over the course of his career, the psychologist Tim Levine has conducted hundreds of versions of the same simple experiment. He invites students to his laboratory and gives them a trivia test. What is the highest mountain in Asia? That kind of thing. If they answer the questions correctly, they win a cash prize.

To help them out, they are given a partner. Someone they've never met before, who is, unknown to them, working for Levine. ...

Page 69

 

The point of Levine’s research was to try to answer one of the biggest puzzles in human psychology: why are we so bad at detecting lies? You'd think we’d be good at it. ...

Page 72

 

The proposition sounds at first like the kind of hair splitting that social scientists love to engage in. It is not. It’s a profound point that explains a lot of otherwise puzzling behaviour.

Consider, for example, one of the most famous findings on all of psychology: Stanley Milgram’s obedience experiment. In 1961, Milgram recruited volunteers from New Haven to take part in what he said was a memory experiment. Each was met by a somber, imposing young man named John Williams, who explained that they were going to play the role of “teacher” in the experiment.

Page 74

 

Ada pula data hasil survey atau penelitian yang ditampilkan.

In one national survey, three quarters of Americans predicted that when a barrier is finally put up on the Golden Gate Bridge, most of those who wanted to take their life on the bridge would simple take their life some other way. But that’s absolutely wrong. Suicide is coupled.

Page 280

 

Masih ingat film situasi komedi populer Friends. Ada bahasan khusus di bab tertentu untuk film ini sebagai dasar awal pemaparan teorinya Malcolm Gladwell.

By its fifth season, Friends was well on its way to be coming one of the most successful television shows of all time. It was one of the first great “hang-out comedies.” Six friends – Monica, Rachel, Phoeboe, Joey, Chandler, and Ross – live in a chaotic jumble in downtown Manhattan, couple and decouple, flirt and fight but mostly just talk, endlessly and hilariously.

The season begins with Ross getting married to a non-Friends outsider. ...

Page 145

 

Banyak percakapan berbentuk dialog wawancara yang dilakukan oleh Malcolm Gladwell bersama narasumbernya.

But of course we can't turn our backs on the personal encounter, can we? The world doesn't work if every meaningful transaction is rendered anonymous. It asked Judge Solomon that very question, and his answer is worth considering.

MG: What if you didn't see the defendant? Would it make any difference?

Solomon: Would I prefer that?

MG: Would you prefer that?

Solomon: There’s a part of my brain that says I would prefer that, because then the hard decisions to put somebody in jail would feel less hard. But that’s not right... You have a human being ...

Page 166

 

 

Butuh kesabaran untuk memahami mata rantai pemaparan topik dan kasus yang disampaikan di buku ini. Dalam hal ini Gladwell sudah memudahkan kita dengan memberikan petunjuk hubungan kasus demi kasus di tiap akhir 'part'. Kadang-kadang ia mengulang-ulang pula secuplik informasi dari beberapa kasus dan penelitian yang berkaitan di bab-bab tertentu, sehingga memudahkan kita untuk lebih memahami kaitan dan konteksnya.

Let’s return, for a moment, to the theories of Tim Levine that I talked about in Chapter Three. Levine, as you will recall, set up a sting operation for college students. He gave them a trivia test to do. In the middle of it the instructor left the room, leaving the answers on her desk. Afterward, Levine interviewed the students and asked them point-blank whether they had cheated. Some lied. Some told the truth. Then he showed videos ...

Page 171

 

And why did so many of the British politicians who met with Hitler misread him so badly? Because Hitler was mismatched as well. Remember Chamberlain’s remark about how Hitler greeted him with a double-handed handshake, which Chamberlain believed Hitler reserved  for people he liked and trusted? ...

Page 177

 

The deception of Ana Montes and Bernie Madoff, the confusion over Amandas Knox, the plights of Graham Spanier and Emily Doe are all evidence of the underlying problem we have in making sense of people we do not know. Default to truth is a crucially important strategy that occasionally and unavoidably leads us astray. ...

Page 239

 

Whatever it is we are trying to find out about the strangers in our midst is not robust. The “truth” about Amanda Knox or Jerry Sandusky or KS is not some hard and shiny object that can be extracted if only we dig deep enough and look hard enough. The thing we want to learn about a stranger is fragile. If we tread carelessly, it will crumple under out feet. ...

Page  261

 

 

 

Di balik kasus-kasus yang dikupas Malcolm Gladwell di bukunya Talking to Strangers ada pemahaman yang mendalam yang ingin Gladwell sampaikan ke publik yakni bahwa orang yang tidak kita kenal (strangers) sebenarnya tidak sesederhana yang kita asumsikan, dan kesalahan kita dalam proses membaca dan mengira-ngira itu dapat berujung ke situasi yang sangat merugikan, bahkan berbahaya.

They capture something close to a fundamental truth about human behavior. And that means that when you confront the stranger, you have to ask yourself where and when you’re confronting the stranger – because those two things powerfully influence your interpretation of who the stranger is.

Page 285

 

So it was that Brian Encinia ended up in a place he should never have been, stopping someone who should never have been stopped, drawing conclusions that should never have been drawn. The death of Sandra Bland is what happens when a society does not know how to talk to strangers.

Page 342

 

Yang menarik dari pemaparan Gladwell adalah kemampuannya melihat suatu permasalahan dari banyak sudut pandang dengan penggalian yang mendalam. Ini bukan buku praktis komunikasi untuk dipraktikkan kepada orang asing. Kasus bunuh diri Sandra Bland (remaja kulit hitam) tiga hari setelah ditangkap dan dipenjarakan oleh Brian Encinia (polisi kulit putih) adalah bingkai besar isi buku ini. 'Simple but it's not that simple,' adalah kesan buku Talking to Strangers bagi saya.

 

 

Siapa Malcolm Gladwell

Malcolm Timothy Gladwell CM (lahir 3 September 1963) adalah seorang jurnalis, penulis, dan pembicara publik Kanada. Dia telah menjadi staf penulis untuk The New Yorker sejak 1996. Gladwell telah menerbitkan enam buku: The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000); Blink: The Power of Thinking Without Thinking (2005); Outliers: The Story of Success (2008); What the Dog Saw: And Other Adventures (2009), lalu ada koleksi jurnalismenya; dan David and Goliath: Underdog, Misfits, dan Art of Battling Giants (2013). Lima buku pertamanya ada di daftar New York Times Best Seller. Buku keenamnya, Talking to Strangers: What We Should Know about The People We Don't Kniw, dirilis pada September 2019. Dia juga pembawa acara Revisionist History dan salah satu pendiri perusahaan podcast Pushkin Industries.

Buku-buku dan artikel-artikel Gladwell sering berurusan dengan implikasi tak terduga dari penelitian dalam ilmu-ilmu sosial khususnya di bidang sosiologi, psikologi, dan psikologi sosial.

Nilai Gladwell tidak cukup tinggi untuk sekolah pascasarjana, jadi ia memutuskan untuk mengejar periklanan sebagai karier. Setelah ditolak oleh setiap agen periklanan yang dia lamar, dia menerima posisi jurnalisme di The American Spectator dan pindah ke Indiana. Dia kemudian menulis untuk Insight on the News, sebuah majalah konservatif yang dimiliki oleh Gereja Unifikasi Sun Myung Moon. Pada tahun 1987, Gladwell mulai meliput bisnis dan sains untuk The Washington Post, di mana ia bekerja hingga 1996.

Gladwell mendapatkan popularitas dengan dua artikel New Yorker, keduanya ditulis pada tahun 1996: "The Tipping Point" dan "The Coolhunt". Kedua karya ini akan menjadi dasar bagi buku pertama Gladwell, The Tipping Point, di mana ia menerima uang muka $ 1 juta. Gladwell juga menjabat sebagai penyumbang editor untuk Grantland, situs jurnalisme olahraga yang didirikan oleh mantan kolumnis ESPN, Bill Simmons.

Awards and honors

  • 2005 Time - one of its 100 most influential people
  • 2007 American Sociological Association's first Award for Excellence in the Reporting of Social Issues
  • 2007 honorary degree from University of Waterloo
  • 2011 honorary degree from University of Toronto
  • 2011 Order of Canada, the second highest honour for merit in the system of orders, decorations, and medals of Canada

 

Books

  • Gladwell, Malcolm (2000). The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference. Boston: Little, Brown.
  • — (2005). Blink: The Power of Thinking Without Thinkin. New York: Little, Brown.
  • — (2008). Outliers: The Story of Success. New York: Little, Brown & Co.
  • — (2009). What the Dog Saw: And Other Adventure. New York: Little, Brown & Co.
  • — (2013). David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants. New York: Little, Brown & Co.
  • — (2019). Talking to Strangers: What We Should Know About the People We Don't Know. New York: Little, Brown & Co.

 

Essay and Reporting

  • Gladwell, Malcolm (September 12, 2005). "Letter from Saddleback: The Cellular Church: How Rick Warren's congregation grew". The New Yorker. Retrieved January 7,2019.
  • — (February 13, 2006). "Million-Dollar Murray: why problems like homelessness may be easier to solve than to manage". The New Yorker. Retrieved June 14, 2015.
  • — (October 20, 2008). "Late Bloomers". The New Yorker. Retrieved January 4,2016.
  • (2010). "Small Change". The New Yorker.
  • (2011). "The Twaker". Annals of Technology. The New Yorker.
  • (2014). "Sacred and profane: how not to negotiate with believers". Annals of Religion. The New Yorker.
  • (2014). "Trust No One: Kim Philby and the hazards of mistrust". The Critics. A Critic at Large. The New Yorker. Archived from the original on July 23, 2014. Includes review of MacIntyre, Ben (2014). A Spy Among Friends: Kim Philby and the Great Betrayal. Crown.
  • (2015). "The engineer's lament: two ways of thinking about automotive safety". Dept. of Transportation. The New Yorker.
  • (2016). "The outside man: what's the difference between Daniel Ellsberg ad Edward Snowden?".The Critics. A Critic at Large. The New Yorker.

 

Podcasts

  • Gladwell, Malcolm (2016). Revisionist History. The Slate Group.
  • Gladwell, Malcolm, and Rick Rubin (2018). Broken Record. Pushkin Industries

 

Buku Talk To Strangers mendapatkan rating 3.6 di situs Amazon dan 4.1 di situs Gooreads.

 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari buku tentang kajian komunikasi lintas studi. Baik kasus, data, maupun riset yang dipaparkan menarik dan mendalam. Narasinya mudah dipahami, tapi mengaitkan fakta satu dengan yang lainnya butuh konsentrasi dan agak berbelit-belit. Dilengkapi catatan-catatan kaki. Hanya ada sedikit gambar (foto, tabel, dan grafik). Pada akhirnya kesimpulan isi dan pesan yang disampaikan buku ini mungkin bukan suatu hal yang baru. Bukan pula buku panduan komunikasi praktis.

My Rating : 3.8/5

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku Puisi To Drink Coffee With A…

21-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : To Drink Coffee with A Ghost Penulis : Amanda Lovelace Jenis Buku : Poetry Penerbit : Andrews McMeel Publishing Tahun Terbit : September 2019 Jumlah Halaman :  160  halaman Dimensi Buku :  20.57 x 13.21 x...

Read more

Review Buku An Anonymous Girl - Greer He…

19-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : An Anonymous Girl Penulis : Greer Hendricks & Sarah Pekkanen Jenis Buku : Psychological Suspense Penerbit : Pan MacMillan   Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman : 464 halaman Dimensi Buku : 13.00 x 19.70 x 3.20 cm Harga...

Read more

Review Buku The Silence - Tim Lebbon

09-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Silence Penulis : Tim Lebbon Jenis Buku : Science Fiction Penerbit : Titan Books (UK)  Tahun Terbit : Maret 2019 Jumlah Halaman :  368 halaman Dimensi Buku : 20.32 x 13.21 x 2.54 cm Harga : Rp. 112.000*harga...

Read more

Review Buku Talking To Strangers - Malco…

07-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Talking to Strangers What We Should Know about the People We Don’t Know Penulis : Malcom Gladwell Jenis Buku : Non Fiksi - Psikologi Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : September 2019 Jumlah...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more