Review Buku The Ride of A Lifetime - Robert Iger

Published: Monday, 07 October 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : The Ride of A Lifetime

Lessons Learned from 15 Years as CEO of The Walt Disney Company

Penulis : Robert Iger

Jenis Buku : Management Leadership

Penerbit : Random House Publishing Group

Tahun Terbit : Oktober 2019

Jumlah Halaman :  272 halaman

Dimensi Buku :  15.50 x 23.20 x 2.30 cm

Harga : Rp. 260.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781984801463

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

 

#10 Amazon Charts This Week (Non Fiction)

 

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Tahun 2015 Robert Iger menjadi CEO saat Walt Disney Company mengalami masa-masa sulit. Pada waktu itu persaingan lebih ketat dari sebelumnya dan teknologi berubah lebih cepat dari jaman manapun dalam sejarah perusahaan. Robert Iger hadir sebagai pemimpin dengan tiga ide, yakni: komitmen pada kualitas, merangkul teknologi alih-alih melawannya, serta mengubah Disney menjadi merek yang lebih kuat di pasar internasional.

Dua belas tahun kemudian, Disney menjadi perusahaan media terbesar dan paling disegani di dunia, termasuk di dalamnya Pixar, Marvel, Lucasfilm, dan 21st Century Fox. Nilainya hampir lima kali lipat dari ketika Iger mengambil alih, dan ia diakui sebagai salah satu CEO paling inovatif dan sukses di jaman ini.

Dalam bukunya The Ride of a Lifetime, Robert Iger membagikan pelajaran yang ia dapatkan dari pengalamannya selama empat puluh lima tahun ia bekerja, mulai dari pekerja biasa di ABC Television hingga menjadi CEO di Disney dan memimpin 200.000 karyawannya. Ia juga mengeksplorasi prinsip-prinsip yang diperlukan untuk kepemimpinan sejati, yakni:

  • Optimisme. Bahkan dalam menghadapi kesulitan, seorang pemimpin yang optimis akan menemukan jalan dan fokus menuju keberhasilan, daripada menyerah pada pesimisme dan saling menyalahkan.
  • Keberanian. Para pemimpin harus bersedia mengambil risiko dan bertaruh. Ketakutan akan kegagalan menghancurkan kreativitas.
  • Ketegasan. Semua keputusan, betapa pun sulitnya, harus diambil segera. Keragu-raguan adalah kesalahan dan dapat merusak moral perusahaan.
  • Keadilan. Perlakukan orang dengan sopan, dengan empati, dan ketulusan.

 

Buku ini tidak hanya sesuai untuk calon CEO dunia, tetapi untuk siapa pun yang ingin merasa ingin lebih berani dan percaya diri karena isinya yang menginspirasi kehidupan pribadi dan profesional.

 

Yuk kita intip daftar isinya:

 

PART ONE LEARNING

Chapter 1. Starting at The Bottom

Chapter 2. Betting on Talent

Chapter 3. Know What You Dont Know (and Trust in What You Do)

Chapter 4. Enter Disney

Chapter 5. Second in Line

Chapter 6. Good Things Can Happen

Chapter 7. It’s About the Future

 

PART TWO : LEADING

Chapter 8. The Power of Respect

Chapter 9. Disney-Pixar and a New Path to the Future

Chapter 10. Marvel and Massive Risks That Make Perfect Sense

Chapter 11. Star Wars

Chapter 12. If You Dont Innovate, You Die

Chapter 13. No Price on Integritiy

Chapter 14. Core Values

 

APPENDIX : LESSON TO LEAD BY

ACKNOWLEDGMENT

INDEX

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

 

Disain sampul ini terlihat sangat serius di mata saya. Apalagi figur Robert Iger yang menggunakan setelan resmi pada gambar memperkuat kesan profesionalisme yang di usung. Sekilas cover buku ini juga mirip model buku biografinya Michelle Obama 'Becoming' sehingga ada dugaan The Ride of A Lifetime adalah sebuah buku memoar. Pada kenyataannya buku ini bukan buku biografi, melainkan masuk genre leadership dan management. Sosok Robert Iger sendiri yang tampan dan sukses terasa pas di bidang yang ia geluti, yakni entertainment. Di luar kesan itu semua, ternyata buku ini ditulis dengan pendekatan story telling yang mengalir dan jauh dari kesan kaku.

 

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Cukup unik juga ketika di bab pendahuluan sudah ada poin-poin penting seperti prinsip kepemimpinan yang saya kutipkan di bawah ini. Saya kira ini sengaja disebutkan oleh Robert Iger untuk membingkai dan menjembatani kisah-kisah yang akan ia sampaikan kemudian. Prinsip-prinsip kepemimpinan ini pun sebenarnya sudah kita ketahui dari banyak buku leadership lainnya. Secara teori terasa mudah, tapi prakteknya pasti so challenging karena (salah satunya) konflik yang di alami tiap pemimpin kadang ada yang berbeda, begitu pula situasinya. Di sinilah kisah-kisah Robert Iger nantinya yang akan memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada kita, kapan prinsip ini harus diterapkan dan jika tidak maka seperti apa konsekuensi yang akan ditanggung.

These are the ten principles that strikes me as necessary to true leadership. I hope they'll serve you as well as they've served me.

Optimism. One of the most important qualities of a good leader is optimism, a pragmatic enthusiasm for what can be achieved. Even in the face of difficult choices and less than ideal outcomes, an optimistic leader does not yield to pessimism. Simply put, people are not motivated or energized by pessimists.

Courage. The foundation or risk-taking is courage, and in ever-changing, disrupted business, risk-taking is essential, innovation is vital, and true innovation occurs only when people have courage. This is true of acquisitions, investments, and capital allocations, and it particularly applies to creative decisions. Fear of failure destroy creativity.

Focus. ..

Page xxii

 

Kesan personal story sangat lekat di buku ini. Gayanya persis seperti biografi. Setiap bab dikisahkan langsung dari sudut pandang Robert Iger, yang menceritakan fase-fase karirnya di ABC television hingga akhirnya masuk ke dalam top management di Disney Company.

His employment troubles meant that if I wanted to have any spending money, I need to find my own jobs. I started working in eighth grade, shoveling snow and babysitting and working as a stock boy in a hardware store. At fifteen, I got a job as the summer janitor in my school district. It involved cleaning every heater in every classroom, ...

Page 6

I started my career at ABC on July 1, 1974, as a studio supervisor for ABC Television. Before that, I'd spent a year as a weatherman and feature news reporter at a tiny cable TV station in Ithaca, New York. That year of toiling in obscurity (and performing with mediocrity) convinced me to abandon the dream I'd had since I was fifteen years old: to be a network news anchorman. I'm only half-jocking when I say that the experience of giving the popel of Ithaca their daily weather report taught me a necessary skill , which is the ability of deliver bad news. For roughly six months of the year ...

Page 7

 

Nama Jiro Ono bukan untuk pertama kalinya saya 'dengar'. Jiro Ono sendiri secara khusus juga dikisahkan dalam buku Ikigai yang ditulis oleh Ken Mogi sebagai salah satu tokoh di Jepang yang memiliki ikigai. Restaurannya juga diceritakan dikunjungi oleh banyak tokoh-tokoh dunia, salah satunya mantan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Kali ini di buku The Ride of A Lifetime, sekali lagi nama Jiro Ono disebut. Membaca ini membuat dua buku ini terasa berkorelasi satu dengan yang lainnya. 

Decades after I stopped working for Roone, I watched a documentary, Jiro Dreams of Sushi, about a master sushi chef from Tokyo named Jiro Ono, whose restaurant has three Michelin stars and is one of the most sought-after reservations in the world. In the film, he's in his late eighties and still trying to perfect his art. He is desribed by some as being the living embodiment of the Japanese word shokunin, which is “the endless pursuit of perfection for some greater good.” I feel in love with Jiro when I watched it and became ...

Page 17

Baca juga "Review Buku A Little Book of Ikigai - Ken Mogi" 

 

Sejauh ini tidak ada semacam summary atau kalimat-kalimat penting yang di-layout khusus. Kita harus menyimak cerita yang disampaikan dengan cermat dan memetik sendiri hikmah dan nilainya. However, the story is engaging, so I have no difficulties to keep turning its pages.

Rooned never said anything to me about it, but he treated me differently, with higher regard, it seemed, from that moment on. In my early days, I thought there was only one lesson in this story, the obvious one about the importance of taking responsiblity when you screw up. That’s true. And it's significant. In your work, in your life, you'll be more respected and trusted by the people around you if you honestly own up to your mistakes. ..

Page 20

 

"At its essence, good leadership isn't about being indispensable; it's about helping others be prepared to possibly step into your shoes - giving them access to your own decision making, identifying the skills they need to develop and helping them improve, and, as I've had to do, sometimes being honest with them about why they're not ready for the next step up."

Page 68

 

The dynamics between a CEO and the next person in line for his or her job are often fraught, though. We all want to believe we’re irreplaceable. The trick is to be self-aware enough that you don't cling to the notion that you are the only person who can do this job. At its essence, good leadership isn't about being indispensable; it's about helping others be prepared to possibly step into your shoes – giving them access to your own decision making, identifying the skills they need to develop and helping them improve, and, ..

Page 67

 

Latar belakang kesuksesan karir Robert Iger yang berada di bidang entertainment menyebabkan kisah-kisahnya beririsan dengan banyak figur ternama, seperti Tom Murphy, Michael Eisner, Roone Arledge, George Lucas, Rupert Murdoch, dan artis dunia papan atas seperti Tom Cruise dan Chadwick Boseman, atau produser fenomenal seperti Stephen Spielberg. Ada yang hanya disebutkan selintas, ada pula yang diceritakan dengan panjang lebar.

In March 1985, I was thirty-four years old and had just been made vice president at ABC Sports, when Leonard Goldenson, ABC’s founder, chairman, and CEO, agreed to sell the corporation to a much smaller company, Capital Cities Communications. Cap Cities, as they were called, was a quarter the size of ABC, and they bought us for $3.5 million. Everyone at ABC was blindsided by the announcement. How could a company like Cap Cities suddenly own a major television network? Who were these guys? How did this happen?

These guys were Tom Murphy and Dan Burke. Over the years, they’d built Cap Cities, starting a small television station at Albany, New York, acquisition by acquisition. With help from Tom’s close friend Warren Buffett, who backed the $3.5 billion deal, they were able to swallow our much larger company.

Page chaper 2

 

Of course, no two situations are alike. There's a big difference between giving feedback to a seasoned director like J.J. Abrams or Steven Spielberg and someone with much less experience and confidence. The first time I sat down with Ryan Coogler to give him notes on Black Panther, I could see how visibly anxious he was. ...

Page 43

 

Perseteruan sengit Steve Jobs dengan CEO Disney sebelum Iger, persahabatan yang terjalin setelahnya, rahasia kanker yang diderita Steve, serta deskripsi karakter orang nomor satu di bidang teknologi ini adalah sedikit saja dari yang bisa kita simak di dalam buku. Ada pula konflik-konflik yang diceritakan apa adanya. Buku ini menceritakan dengan 'berani' kejadian dan opini Robert Iger terhadap peristiwa yang bersangkutan. Tidak hanya pujian yang ia sampaikan terhadap orang-orang tertentu, tetapi juga kelemahan yang ia cermati dari mereka.

It was who he was, a naturally generous man, but it was also a function of the culture that Tom and Dan created. They were two of the most authentic people I've ever met, genuinely themselves at all times. No airs, no big egos that needed to be managed, no false sincerity. They comported themselves with the same honesty and forthrightness no matter who they were talking to. ..

Page 28

 

Instead, we moved Twin Peaks to Saturday night, in part to take pressure off its need to perform, and when its ratings dropped precipitously, David blamed me publicly. I'd given it a death sentence, he said, first by pushing for a resolution to the mystery, then by putting it on a night when nobody would watch it.

Looking back on it now, I'm not convinced I was right. I was applying a more traditional television approach ..

Page 42

 

Michael had plenty of valid reasons to be pessimistic, but as a leader you can't communicate that pessimism to the people around you. It's ruinous to morale. It saps energy and inspiration. Decisions get made from a protective, defensive posture.

Michael’s natural pessimism often worked for him, up to a point. He was motivated in part out of a fear of calamity ...

Page 86

 

One day he summoned me to his office. When I walked in, he immediately accused me of violating company rules. “What are you up to?” he said. “I hear you used our truck to move in to a new apartement.”

In fact, I'd briefly had access to a company pickup, and I'd joked to some colleagues that maybe I should use the truck to move in to an apartment I'd just rented. I never did it, and I told him so, but it dawned on me in that moment that someone must have told him I was a troublemaker.

“You're spending rumors about me,” he said. When I didn't deny that I'd been talking about him, he stared me down for a while before telling me, “You know what, Iger? You're no longer promotable.”

He gave me to weeks to find a job in another department or I ..

Page 12

 

In March of that year, Apple released its “Rip, Mix. Burn.” Campaign, telling the world that once your purchased music, it was yours to duplicate and use as you wish. A lot of people, including Michael, saw that as a mortal threat to the music industry, which would soon threaten the television and movie industries. Michael was always a staunch defender of copyrights, often speaking out on the issue of piracy, and the Apple ad really bothered him – so much so that he targeted Apple publicly, testifying before the Senate Commerce Committee that Apple was flagrantly disrespecting copyright law and encouraging piracy. This didn't sit well with Steve Jobs.

Page 83

 

Peristiwa twin tower juga diceritakan di buku ini berikut imbasnya pada Disney di masa itu. Beberapa buku selain yang ditulis Robert Iger ini juga menyinggung peristiwa twin tower.

Then came September 11, which would change the world and challenge us in ways we never imagined. I was up that morning at the crack of down, working out at home, when I looked up at the TV and saw a report that a plane had just flown into one of the Twin Towers. I stopped my workout and went into another room and turned on the television in time to see the second planet hit. ..

Page 85

 

 

Selama ini saya hanya mengetahui film Spiderman, Black Panther, Avenger, Toy Story, Inside Out, Cars, dan masih banyak lagi film peraih award kategori animasi lainnya dari tayangan film-film tersebut di teater kita di Indonesia dan di channel televisi. Tapi membaca buku The Ride of Lifetime membuat semuanya tersebut terasa jauh berbeda. Robert Iger berbagi pengalamannya dari mula Disney mengakuisisi Pixar, Marvel, dan Star Wars sehingga kita bisa menyimak banyak cerita di balik layar yang mungkin tak pernah terekspos sebelumnya, baik tentang sekelumit latar pembuatan film-film tenar tersebut, tokoh-tokoh utama di bidang produksi dan pengambil keputusan besar, konflik internal eksternal, hingga cerita personal, yang semuanya disampaikan dari sudut pandang Robert Iger, CEO Walt Disney langsung.

John was up first. He showed me a virtually finished cut of Cars, and I sat there in the theater mesmerized by the quality of the animation and by how far the technology had advanced since their last release. I remember being awed by the way the light reflected off the metallic paint on the race cars, for instance. These were images ..

Page 138

 

Ada beberapa foto dokumentasi di bagian tengah buku, Robert Iger bersama tokoh-tokoh populer seperti Steve Jobs atau foto momen khusus misalnya upacara pembukaan Disney Park di Cina.

cwefwef

 

Di bagian akhir buku ada bab Lessons to Lead By, Robert Iger secara khusus menyimpulkan ulang hikmah tiap cerita dalam kehidupannya, the lessons that shape his professional life. Hal itu semua mengingatkan saya pada isi buku Trillion Dollar Coach yang juga bertema leadership - management, berisi kisah Bill Champbell selama berkarir, dan pesan ceritanya memiliki kemiripan dengan buku ini.

My hope is that these ideas, and the stories I ve told throughout this book to try to give them some context and heft, might feel relatable and map onto your experience, too. They are lessons that shaped my professional life, and I hope they are useful for yours.

  • To tell great stories, you need great talent.
  • Now more than ever, innovate or die. There can be no innovation if you operate out of fear of the new.
  • ..
  • ...

Page lessons to lead

 

Siapa Robert Iger

 

Robert Allen Iger (10 Februari 1951) adalah seorang eksekutif media Amerika, produser film, penulis, dan pengusaha yang merupakan Ketua dan Kepala Eksekutif (CEO) The Walt Disney Company. Sebelum bekerja untuk Disney, Iger menjabat sebagai Presiden ABC Television dari 1994-1995, dan sebagai Presiden/COO dari Capital Cities/ABC, Inc. dari 1995 hingga Disney mengakuisisi perusahaan pada tahun 1996.

Dia menjabat sebagai Presiden dan COO Disney pada tahun 2000, dan kemudian menggantikan Michael Eisner sebagai CEO pada tahun 2005. Sebagai bagian dari kompensasi tahunannya, Iger memperoleh $ 44,9 juta pada tahun 2015. Selama masa jabatan Iger, Disney memperluas daftar properti intelektual perusahaan dan kehadirannya di pasar internasional; Iger mengawasi akuisisi Pixar pada 2006 senilai $ 7,4 miliar, Marvel Entertainment pada 2009 senilai $ 4 miliar, Lucasfilm pada 2012 sebesar $ 4,06 miliar, dan 21st Century Fox pada 2019 senilai $ 71,3 miliar, serta perluasan resor taman hiburan perusahaan di East Asia, dengan diperkenalkannya Hong Kong Disneyland Resort dan Shanghai Disney Resort pada masing-masing tahun 2005 dan 2016

Iger adalah kekuatan pendorong di balik kebangkitan Walt Disney Animation Studios dan strategi pelepasan bermerek keluaran studio filmnya. Di bawah Iger, Disney telah mengalami peningkatan pendapatan di berbagai divisi, dengan nilai kapitalisasi pasar perusahaan meningkat dari $ 48,4 miliar menjadi $ 257 miliar selama periode tiga belas tahun.

Pada April 2019, Iger mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri sebagai CEO dan Ketua Disney ketika kontraknya berakhir pada akhir 2021. 

Pada Juni 2012, Steven Spielberg, pendiri Institut Sejarah dan Pendidikan Visual USC Shoah Foundation, menganugerahkan Iger sebagai Ambassador of Humanity Award. Iger diakui atas dukungannya terhadap pekerjaan Institut, kedermawanannya, dan peran kepemimpinannya dalam kewarganegaraan perusahaan. Iger dianugerahi The Milestone Award dari Producers Guild of America (PGA) pada tahun 2014. Penghargaan ini adalah pengakuan tertinggi PGA untuk individu atau tim yang telah berkontribusi dalam hiburan.

Pada bulan Mei 2015, Iger diangkat ke Annual Broadcasting & Cable Hall of Fame ke-25. Pada Oktober 2015, Toy Industry Association (TIA) melantik Iger ke dalam Toy Industry Hall of Fame. Dia dipilih oleh anggota TIA sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap industri, dan dampak karyanya terhadap kehidupan anak-anak di seluruh dunia 

Buku The Ride of A Lifetime mendapatkan rating 4.4 di situs Amazon dan 4.4 di situs Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari buku manajemen dan kepemimpinan yang disampaikan dalam bentuk story telling (manajemen dan kepemimpinan Robert Iger di Walt Disney khususnya). Narasinya mudah dipahami, cerita-ceritanya menarik dan mengungkapkan banyak kejadian behind the scene, misalnya proses akuisisi Pixar dan konflik-konflik internal perusahaan. Setiap cerita memiliki pesan, yang kemudian disimpulkan oleh Iger di bab terakhir di buku ini. Ada beberapa dokumentasi foto Iger bersama tokoh-tokoh populer seperti Steve Jobs atau foto momen khusus misalnya upacara pembukaan Disney Park di Cina.

My Rating : 4.3/5

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku Puisi To Drink Coffee With A…

21-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : To Drink Coffee with A Ghost Penulis : Amanda Lovelace Jenis Buku : Poetry Penerbit : Andrews McMeel Publishing Tahun Terbit : September 2019 Jumlah Halaman :  160  halaman Dimensi Buku :  20.57 x 13.21 x...

Read more

Review Buku An Anonymous Girl - Greer He…

19-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : An Anonymous Girl Penulis : Greer Hendricks & Sarah Pekkanen Jenis Buku : Psychological Suspense Penerbit : Pan MacMillan   Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman : 464 halaman Dimensi Buku : 13.00 x 19.70 x 3.20 cm Harga...

Read more

Review Buku The Silence - Tim Lebbon

09-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Silence Penulis : Tim Lebbon Jenis Buku : Science Fiction Penerbit : Titan Books (UK)  Tahun Terbit : Maret 2019 Jumlah Halaman :  368 halaman Dimensi Buku : 20.32 x 13.21 x 2.54 cm Harga : Rp. 112.000*harga...

Read more

Review Buku Talking To Strangers - Malco…

07-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Talking to Strangers What We Should Know about the People We Don’t Know Penulis : Malcom Gladwell Jenis Buku : Non Fiksi - Psikologi Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : September 2019 Jumlah...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more