Yuk Ibu-Ibu Kita ke Posyandu

Published: Tuesday, 25 July 2017 Written by Dipidiff

 

Masa depan memang misteri. True banget ya. Ini terjadi setidaknya dalam hidup saya. Why? Itu karena mana pernah saya berpikir akan berkunjung ke posyandu, sambil bawa anak pula. Why? Sebab dokter sudah bilang kalo kami kemungkinan kecil punya anak.

 

Tapi inilah dia si masa depan. Lahirlah Moonlight bulan Februari lalu. Bayi laki-laki saya yang mungil dan lucu, lahir lewat operasi SC. Dia sehat, beratnya 3,18 kg. Hello semuanya, please meet my baby boy, Moonlight. Tentu itu bukan nama sebenarnya. Moonlight hanya nama sebutannya saja karena waktu saya baca buku When The Moon is Low nya Nadia Hashimi, ada sebuah kalimat yang sangat berkesan di hati saya, "In the darkness, when you cannot see the ground under your feet and your fingers touch nothing but night, you are not alone. I will stay with you as moonlight stays on water." Kok persis ya rasanya seperti kehadiran putra saya ini dalam hidup saya. He is my moonlight.

 

Bulan pertama kami periksakan Moonlight ke rumah sakit, sampai ketika di bulan kedua Mba Mita, tetangga saya, bilang, "Teh, mau ikut ke Posyandu ga, Rabu ini ada jadwalnya?". Nah, posyandu ya... Hmmm... Mau apa saya di sana? Emak-emak culun ini mulai bingung perihal posyandu. Ini pengalaman pertama saya sebagai ibu, seumur-umur juga ga pernah ke sana, eh pernah dulu sekali kayaknya waktu saya kecil, jadi posyandu terdengar semacam istilah absurd yang sulit diimajinasikan dalam pikiran.

 

Akhirnya dengan antusias saya menjawab, "Yuk, wasap weh ya mba kalo mau pergi, barengan yak". Dan hari Rabu pun segera tiba. Emak-emak kembali bingung ke posyandu bawa apa aja ya? Hape? Buku catatan perkembangan bayi yang dikasih rumah sakit? Trus apa? Oh iya bawa bayinya lah ya. Euuuuhh... Ke Posyandu aja grogi ?.

 

Cikicik kicik... dengan sandal jepit saya melangkah ke rumah Mba Mita. Ealaahh... ternyata ramai juga yang mau ke posyandu. Memang tetangga sekitar banyak juga yang punya anak kecil. Jadi kami berombongan pergi berduyun-duyun menuju lokasi. Tempatnya dekat sih, ini dia yang saya suka, jadi Moonlight ga lelah kalau posyandunya ga jauh.

 

Sekilas di kaca mobil yang lagi parkir saya berkaca, itu siapa ya yang repot bawa bayi digendong pake kain, pegang botol susu di tangan kanan, buku catatan di tangan kiri, payung dikepit di ketiak, saku kulotnya rada melorot akibat berat diisi hape, muka mengernyit akibat sorotan matahari yang mulai menuju puncaknya. Oh itu saya! Ffiiuuhh... Salah stategi nih kayaknya. Kenapa kalo di film-film ibu-ibu muda selalu tampak segar dalam segala suasana, ga lecek begini seperti kenyataannya. Pantesan banyak yg bilang jangan nonton sinetron #eh.

 

Tiba di posyandu sudah ada beberapa ibu yang datang sambil membawa anak beraneka usia dan gendernya. Ada juga tiga orang ibu yang duduk di meja kecil sambil lesehan, nulis-nulis sesuatu di buku, serta satu ibu lainnya yang berdiri sigap dekat timbangan. Pasti ini orang-orang yang berwenang, pikir saya. Dan benar, rupanya beliau-beliau adalah bu bidan setempat beserta kadernya. Kadang bu lurah juga datang ke sini. Posyandu salah satu program pemerintah tho, jadi pejabat setempat kudu dukung dengan seksama.

 

Picture : Moonlight lagi ditimbang dan diukur tingginya oleh ibu kader posyandu

 

Buat yang belum tau posyandu saya informasikan bahwa begitu datang ternyata kita akan mendaftarkan diri dulu sebagai "anggota". Lalu mengisi data seperlunya, tunggu nama anak kita dipanggil, atau antri dengan sopan sampai tiba giliran anak kita ditimbang dan diukur tingginya meski tidak ada sistem panggil memanggil nama, habis itu berat dan panjang bocah-bocah dicatat di buku, lalu dapat bingkisan makanan (kadang biskuit, kadang susu, dan lain-lain), kemudian duduk manis mendengarkan penyuluhan yang disampaikan bu bidan, dan akhirnya pulang setelah bersalaman serta tukar senyuman. Uuppss... Jangan lupa kencleng seikhlasnya ya. 

 

Ga semua ibu yang datang ke posyandu saya kenal, bahkan banyak yang justru ga kenal saya. Soalnya saya bukan siapa-siapa, hanya ibunya Moonlight yang suka nulis-nulis di blog. Usut punya usut ternyata satu posyandu memang melayani beberapa erte sekaligus, lebih tepatnya satu posyandu untuk satu erwe.

 

Otomatis ibu-ibu yang datang memang dari berbagai penjuru yang bukan dari wilayah perumahan saya saja. Hampir ga ada waktu buat berkenalan di sana, kami ibu-ibu sudah habis energinya untuk mengawasi anak sambil mencoba fokus pada kegiatan.

 

Picture : Suasana meriah di posyandu, dan itu saya sedang berdiri sambil menggendong Moonlight

 

Di posyandu kadang kami terpaksa berdiri berdesakan, sebagian memang ada yang ga dapat space untuk duduk, maklum lah kebetulan posyandunya menggunakan teras warga yang ridho rumahnya dipake. Dulu konon kegiatan posyandu dilaksanakan di fasum warga di bangunan yang cukup luas, tapi sekarang tempat itu lagi ada sengketa sehingga pindah ke rumah warga saja.

 

Beda banget suasananya dengan nimbang ngukur di rumah sakit. Berada di posyandu rasanya lebih nyata, nyata emak-emaknya ?. Jangan harap bawa stroller cantik di sini, ga ada tempat mak!, mending gendongan kain batik yang bisa syutt syuttt ikat sana sini sekali jadi. 

 

Betapa pun terdengar tidak nyamannya situasi ini saya gambarkan, teman-teman janganlah mudah percaya. Sebab saya nyatanya senang selama berada di posyandu. Khitmad mendengarkan bidan desa menjelaskan tentang cara merawat bayi yang benar, tentang ASI dan MPASI, tentang imunisasi, dan masih banyak lagi. Sungguh informasi yang sangat berharga, valid, dan murah pula biayanya.

 

Konsultasi dengan bu bidan pun bisa kita lakukan di akhir rangkaian kegiatan atau saat sesi tanya jawab di waktu penyuluhan. Dan gimana ga murah, kencleng seridhonya kok ya. Layanan masyarakat seperti inilah yang harus diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya karena benar-benar menjangkau rakyat kecil seperti kami.

 

Picture : pulang dari posyandu kami dapat minuman susu gratis... duh senangnya

 

Akibat ke posyandu akhirnya saya jadi tau kalo anak-anak bisa diimunisasi juga di sana. Biayanya sangat terjangkau, cuma puluhan ribu begitulah, bahkan vaksin tertentu hanya Rp.6rb saja. Jangan tanya perbandingannya dengan imunisasi di rumah sakit ya. Tentu jauh berbeda. Hanya saja posyandu memang cuma melayani imumisasi yang wajib seperti dpt, polio, bcg, dan lain-lain.Tidak ada imunisasi pneumococcus seperti yang Moonlight dapatkan di dokter spesialis anak di rumah sakit.

 

Namun vitamin A katanya hanya ada di posyandu dan puskesmas loh. Tidak akan ada di rumah sakit, karena itu khusus didistribusikan oleh dinkes ke posyandu dan puskesmas saja. Saya kira masalah imunisasi ya monggo pilihan masing masing orangtua. Pasti tiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri.

 

Saat ini kami lagi menunggu-nunggu berita dari posyandu yang katanya dalam waktu dekat akan mengadakan imunisasi MR (Measles Rubella) untuk anak usia 9 bulan ke atas. Di televisi sudah gencar ditayangkan programnya agar masyarakat tau. Cara ikutannya gampang, tinggal daftar ke posyandu terdekat.

 

Picture : Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

 

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya di posyandu adalah buku KIA dan KMS. Buku apa itu? Saya juga ga tau awalnya. Waktu bu bidan sebut-sebut nama buku itu saya manggut-manggut sambil ga paham. Rupanya itu buku Kesehatsn Ibu dan Anak yang di dalamnya ada KMS yaitu Kartu Menuju Sehat. Di buku KIA ada kolom catatan perkembangan anak, ada informasi penting seputar cara merawat anak, agenda imunisasi, fase perkembangan anak, dan masih banyak lagi.

 

Tiap anak yang ke posyandu harusnya punya buku KIA, kecuali saya yang saat datang malah bawa buku catatan perkembangan anak dari rumah sakit sebelumnya. Waktu saya tanya bagaimana caranya supaya bisa punya buku itu, jawaban bu bidan lugas, "Nanti kalo hamil lagi ibu ke sini ya. Sebab bukunya diberikan ke yang periksa sejak masa kehamilan." ?.

 

Picture : Grafik KMS

 

Gara-gara itu akhirnya kami ibu-ibu yang ga punya buku KIA suka numpang liat ke yang punya. Pasalnya ada grafik penting yang perlu dicek dengan seksama di dalam buku itu. Grafik perbandingan berat badan dan usia anak terutama. Dengan memeriksa posisi berat badan berbanding usia anak di grafik, kita akan mengetahui apakah anak kita "kurang asupan, "ideal", atau "obesitas". Dari situ bidan akan memberikan penanganan khusus bila anak yang bersangkutan tidak berada pada posisi grafik hijau ideal. Apa kabar berat badan Moonlight? Oh dia berat badannya ijo royo royo alias ideal.

 

Beres nimbang dan dengerin penyuluhan saya pun pulang bersama rombongan. Kok sekarang kepikiran ya pengen jadi kader. Kayaknya seneng kalo bisa bermanfaat bagi masyarakat model begitu. Mana tempatnya ga jauh dari rumah, kan jadi mudah ngatur-ngatur waktunya. Tapi untuk jadi kader itu orang pilihan ya katanya, satu erte cuma satu orang perwakilan. Ga tau tuh dari erte kami sudah ada atau belum yang mewakili. 

 

Kalian suka juga kah bawa anak ke posyandu? Apa pendapat kalian tentang imunisasi di posyandu? Sudah pernah ke posyandu belum? Atau kayak saya dulu yang ga tau sama sekali posyandu itu apa? Banyak banget ya nanyanya ?. Silahkan ditulis di komen bila berkenan ya. Yuk, saya pamit pulang dulu nih, sampai ketemu lagi di cerita saya yang lainnya. ?

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Brief Answers to The Big…

09-01-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    NEW LIMITED EDITION OF THE SUNDAY TIMES No.1 BESTSELLER   Judul : The Brief Answer to the Big Question. Penulis : Stephen Hawking. Jenis Buku : Biography. Penerbit :  John Murray Press. Tahun Terbit : Oktober 2019. Jumlah Halaman :  256 halaman. Dimensi...

Read more

Review Buku Dearly - Margaret Atwood

09-01-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  No.1 New York Times Bestseller Man Booker Prize Winner The Winner of Goodreads Choice 2020   Judul : Dearly Penulis : Margaret Atwood Jenis Buku : Poetry Penerbit : Ecco Press Tahun Terbit : November 2020 Jumlah Halaman :  144 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku The Prophet - Kahlil Gibran

02-01-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : The Prophet (Collins Classic) Penulis : Kahlil Gibran Jenis Buku : Puisi Penerbit : HarperCollins Publishers   Tahun Terbit : April 2020 Jumlah Halaman : 256 halaman Dimensi Buku : 17.80 x 11.10 x 0.90 cm Harga : Rp. 60.000 *harga...

Read more

Review Buku One Small Step Can Change Yo…

27-12-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

   Judul : One Small Step Can Change Your Life The Kaizen Way Penulis : Robert Maurer, Pd.D. Jenis Buku : Self Improvement. Philosophy. Penerbit : Workman Publishing Tahun Terbit : April 2014 Jumlah Halaman :  222 halaman Dimensi Buku...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more