Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Sejarah, Filosofi, dan Motif)

Published: Thursday, 22 October 2020 Written by Dipidiff

 

Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya sampai bingung mau mulai dari mana :D.

Tapi secara singkatnya bisa dijelaskan bahwa Batik terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.

Teknik batik sendiri telah diketahui lebih dari 1.000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara di Afrika Barat seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah dan para pembesar. Oleh karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.

Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang mereka. Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, soga, dan nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan garamnya dibuat dari tanah lumpur." *sumber: wikipedia

 

Nah, beres baca informasi wiki di atas, paham deh kita kalo teknik batik itu teknik yang legend gitu ya, udah ada dari jaman Mesir Kuno. Artinya wajar saja kalo tiap pertemuan batik internasional, negara-negara lain juga mengaku punya batik bahkan merasa batik juga budaya tradisional mereka. Dan kita, menurut saya, harus berbangga, karena negara kita terpilih secara resmi sebagai, negara dengan batik sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda pada sidang UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Penasaran ga sih kenapa negara kita yang terpilih. Kalo saya sih penasaran. Tapi tenang, saya sudah dapat jawabannya kenapa negara Indonesia yang terpilih sebagai negara dengan batik sebagai warisan budaya dunia.

 

Kenapa Batik Indonesia diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia ?

Penjelasan ini saya dapatkan dari kompas. com, dan menarik sekali bahwa ada kriteria khusus yang harus dipenuhi sebuah negara untuk bisa dapat pengakuan ini. Setidaknya ada tiga kriteria di balik penetapan UNESCO terhadap batik.

1. Ilmu membatik. Ilmu membatik harus diturunkan dari generasi ke generasi. Dari pemilihan canting, cara mencanting, desain, motif, hingga pewarnaan. Poin ini sudah dipenuhi oleh negara kita.

2. Batik harus digunakan sebagai bagian dari kehidupan manusia. Di Indonesia, sejak lahir, batik digunakan menggendong bayi, digunakan dalam proses khitanan, pernikahan, hingga kain penutup jenazah yang sudah meninggal. Termasuk saya pun punya kain batik gendong dan selimut batik buat bayi saya dulu. Bahkan kain jenis ini lebih saya sukai ketimbang beragam kain gendong modern masa kini. Soalnya adem dan lokal banget.

3. Batik harus kerap digunakan oleh masyarakat dalam kegiatan sehari-hari dari dulu hingga sekarang, seperti pakaian. Batik Indonesia, baik yang berfungsi sebagai pakaian sehari-hari, pakaian mode, atau yang lainnya bahkan juga digunakan oleh masyarakat di sejumlah negara termasuk Myanmar, Singapura, Malaysia, dan Afrika.

Di samping tiga poin ini, ada poin tambahan lainnya buat negara kita, karena batik Indonesia dikelilingi oleh beragam simbol dan kebudayaan. Menggendong bayi dengan batik dikatakan sebagai simbol untuk membawa keberuntungan pada kehidupan si anak. Batik juga digunakan sebagai busana sehari-hari, baik dalam lingkungan formal seperti bisnis dan akademik, juga informal seperti merayakan pernikahan. Selain itu, batik Indonesia dengan beragam motif uniknya juga dianggap memiliki peran penting dalam beberapa ritual tertentu.

 

Semua informasi barusan saya temukan di kompas. com. Saya juga setuju dengan pernyataan Retno Marsudi (Menlu) bahwa meskipun pengakuan ini adalah berkah, tapi juga ini merupakan tantangan karena kita berarti harus terus merawat dan melestarikan kesenian batik Indonesia melalui berbagai cara.

Cara-cara turut melestarikan budaya batik sudah saya singgung juga di artikel saya yang lain.

Baca Artikel Terkait Lainnya:

 

 

dan kembali mengulang di sini, bahwa salah satu cara yang paling mudah untuk turut melestarikan batik adalah dengan mengenal sejarah dan hal-hal seputar batik Indonesia. 

Sejujurnya, saya sendiri sangat menyukai batik, tapi kurang dalam pemahaman sejarah dan filosofinya. Shame on me. Jadi marilah kita mulai perjalanan kita ke sejarah Batik yang sesungguhnya.

 

Pengertian Batik

Ada beberapa pengertian batik yang saya temukan di literatur, tapi kita cukup ambil satu saja ya.

Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun 1705 seorang Belanda bernama Chastelein telah menggunakan istilah “batex” (batik) dalam laporannya kepada Gubernur Belanda Rijcklof Van Goens.

Pengertian batik menurut Wahono (2004) adalah:

Dilihat dari asal katanya, kemungkinan kata batik berasal dari aktifitas orang saat menggambar kain berbentuk titik. Aktifitas membuat titik sebagai kata kerja menggunakan kata matik. Ma sebagai awal artinya perbuatan mengerjakan sesuatu. Perkembangan berikutnya kata matik menjadi mbatik dan akhirnya batik.

Batik dalam arti sederhana adalah suatu gambar yang berpola, motif dan coraknya dibuat secara khusus dengan menggunakan teknik tutup celup. Bahan yang digunakan untuk teknik celup adalah malam dan alatnya adalah canting tulis, canting cap, kuas atau alat lainnya. Cara membuatnya dengan ditulis, dicap atau ditera dilukis pada kain (mori, katun, teteron, sutera, dan lain-lain)”

 

Pengertian motif batik menurut Nanang Rizali (2002) adalah susunan terkecil dari gambar atau kerangka gambar pada benda. Motif terdiri atas unsur bentuk/objek, skala/proposi dan komposisi. Menurut unsur-unsurnya motif batik dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:

  1. Motif Baku. Motif baku dalam peristilahan batik disebut pola baku, dapat juga disebut motif utama dalam kain batik. Sebagai contoh, motif baku yang terdapat dalam batik semen rama. Ada 9 bentuk motif baku, yaitu meru, modang, baita, dampar, lar, burung, pusaka, binatang dan pohon hayat. Setiap motif baku tersebut memiliki makna perlambang.
  1. Anggitan. Anggitan atau motif pelengkap sering pula disebut motif tambahan, dipakai untuk mengisi ruang kosong di antara motif baku, dan tidak memiliki arti perlambang seperti halnya motif baku.
  1. Isen. Isen adalah unsur penghias pada motif baku dan anggitan. Isen-isen tersebut berupa titik-titik, garis-garis, maupun gabungan yang sering disebut isen motif batik. Beberapa bentuk isen yang masih banyak dipakai di antaranya: cecek-cecek, sisik-melik, herangan, gringsing, sawut, galuran, dan sirapan.

 

Pola dan Corak Batik

Pola merupakan bagian gambar pada kain yang terdiri dari berbagai motif, dengan kata lain pola adalah kesatuan bentuk daripada motif. Sedangkan corak adalah kerangka gambar yang terdiri dari perulangan pola dan motif

 

Ada pula istilah Imba. Apa itu imba? Imba adalah gambar sebagai tiruan bentuk alam, misalnya api, air, awan, bebatuan, gunung, tumbuhan serta bermacam-macam benda. Motif batik tradisi pada khususnya banyak mengimba tumbuh-tumbuhan, baik bunga maupun buah. Dan masuknya pengaruh Hindu di Indonesia membawa pengaruh pada batik tradisi yang dihiasi oleh bentuk binatang, terutama yang keramat dalam kepercayaan Hindu misalnya, sapi, banteng, kerbau, gajah dan burung. Beberapa jenis tumbuhan bunga dan buah juga dijadikan motif batik, misalnya raditya puspita (bunga matahari), kembang bangah, kembang kantil, sawut (bunga perdu), wari-wari (bunga sepatu), pelem (buah mangga), pisang bali, manggis, dan anggur.

 

Filosofi (Makna) Perlambangan pada Motif Batik

Simbol yang terdapat pada motif batik biasa disebut sebagai motif perlambangan. Motif perlambangan berasal dari motif baku yang terdapat di dalam batik larangan dan upacara adat Karaton. Zaman dahulu, masyarakat pembuat batik selalu mengaitkan simbol-simbol yang terkandung dalam motif batik dengan pandangan hidup dan kepercayaannya. Zaman sekarang, memaknai perlambangan batik hanya dilanjutkan oleh sebagian masyarakat, terutama oleh mereka yang mengerti arti perlambangan tersebut. Umumnya perlambangan pada motif baku batik larangan dan upacara tidak terlepas dari paham Jawa Kuno, Hindu dan unsur alam pertanian.

 

Beberapa motif baku yang didasari paham Jawa Kuno adalah sebagai berikut:

  1. Meru, menggambarkan tanah atau bumi, melambangkan kehidupan manusia di dunia ini.
  2. Modang, menggambarkan matahari sebagai lambang sumber kekuatan dan tenaga.
  3. Naga, menggambarkan air, melambangkan sumber kehidupan.
  4. Kukila atau burung, menggambarkan angin yang melambangkan dunia atas tempat tinggal para dewa.
  5. Gurda atau lar, atau disebut juga sawat, menggambarkan burung garuda yang kadangkala hanya digambarkan dalam bentuk sayap, melambangkan mahkota atau kekuasaan tertinggi di atas jagad raya.
  6. Joli, menggambarkan alat angkutan di zaman dahulu, melambangkan dunia tempat manusia hidup.
  7. Baita, menggambarkan air sebagai lambang sumber kehidupan.
  8. Dampar, menggambarkan tahta raja sebagai lambang kekuasaan.
  9. Pusaka, menggambarkan bermacam-macam senjata dan alat pertanian yang dikeramatkan oleh Karaton Mataram, melambangkan ketenangan dan kegembiraan.

 

Paham Hindu menggambarkan bahwa hidup manusia yang tidak kekal berada di mayapadha, jika selama hidupnya manusia dapat mengendalikan diri dengan banyak berbuat baik, maka setelah kematiannya ia akan masuk ke dunia atas atau kemuliaan abadi. Sebaliknya, jika manusia salah dalam mengendalikan hidupnya, setelah mengalami kematian ia akan masuk ke dunia bawah atau kesengsaraan. Dunia atas, tengah dan bawah ini pada motif baku digambarkan sebagai :

  1. Burung, lambang dunia atas;
  2. Pohon, lambang dunia tengah;
  3. Ular, lambang dunia bawah.

 

Setelah masuknya batik ke dalam lingkungan Karaton sekitar abad ke-15, motif baku batik tradisi yang dibuat oleh masyarakat petani berupa bermacam-macam tumbuhan, juga dipakai oleh pembatik Karaton. Beberapa di antaranya masuk dalam kelompok batik larangan, yaitu Kawung, Udan Riris, Semen dan Alas-alasan.

  1. Batik Kawung mempunyai motif baku berupa buah kawung (sejenis buah aren), yang melambangkan kesuburan.
  2. Batik Udan Riris mempunyai motif baku bermacam tumbuhtumbuhan yang melambangkan kesuburan.
  3. Batik Semen dengan motif baku tumbuhan dan binatang, melambangkan kesuburan.
  4. Batik Alas-alasan mempunyai motif baku tumbuhan dan binatang, yang melambangkan kehidupan.

 

Beberapa contoh perpaduan warna batik yang memiliki arti perlambangan, sebagai berikut:

  • Gula kelapa, perpaduan warna merah dan putih yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
  • Klabang ngatup, perpaduan warna hijau tua dan merah, melambangkan kekuatan untuk melindungi.
  • Mayang mekar, perpaduan warna hijau tua dan muda, melambangkan hidup baru.
  • Godong melati, perpaduan warna hijau dan putih yang melambangkan kemakmuran.
  • Podang nyesep sari, perpaduan warna merah keunguan dengan kuning yang melambangkan kehidupan yang baru.
  • Pare anom, perpaduan warna hijau dan kuning yang melambangkan kemakmuran. Pasangan warna ini adalah warna kebesaran Karaton Mangkunegara Surakarta.
  • Bangun tulak, perpaduan warna hitam atau biru tua dengan putih yang melambangkan kekuatan.
  • Manten anyar, perpaduan warna hijau dan jingga, melambangkan kebahagiaan.



Penamaan Batik

Dilihat dari sejarah batik di Indonesia, tidak semua batik memiliki nama. Kebiasaan memberi nama pada batik hanya dilakukan di wilayah Solo dan Yogya saja, sisanya biasa menyebut batik disesuaikan dengan nama pembuat, daerah asal batik atau dari teknik pembuatannya.

Keterangan lebih jelas untuk istilah penamaan pada batik dapat ditinjau dari berbagai hal, antara lain :

1. Sistem Penamaan pada Batik Tradisi dan Modern

A. Nama batik tradisi biasanya diambil dari:

  • Motif bakunya, contoh: batik Sawat, dinamakan demikian karena motif bakunya berupa sawat.
  • Gabungan pola dan motif baku, contoh: batik Lereng Curiga.
  • Gabungan motif baku dengan nama pembatik, contoh: batik Kukila Puspaningrat.
  • Natar atau babarannya, contoh: batik Natar Ireng, batik Babaran Wonogiren.
  • Tokoh pewayangan, contoh: batik Parikesit.
  • Harapan pembatik yang ditujukan pada pemakai batik, contoh: batik Truntum.
  • Peristiwa pada saat batik dikerjakan, contoh: batik Solo Banjir (dibuat ketika terjadi banjir bandang yang menyebabkan sebagian besar kota Surakarta terendam, sekitar tahun 1965).

B. Penamaan pada batik modern, umumnya diambil dari nama sebagai berikut:

  • Motif bakunya, contoh: batik Katemas (ayam Katemas).
  • Bahan dasar kain, contoh: batik Sutera.
  • Sifat kain, contoh: batik goyor (lemas).
  • Perusahaan atau pembatiknya, contoh: batik Keris.
  • Pemesan batik, contoh: batik Camat 

C. Ditinjau Menurut Daerah Asal Pembatikan.

Sejak zaman penjajahan Belanda pengelompokan batik dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu: batik Vorstenlanden dan batik pesisiran, yang disebut batik Vorstenlanden adalah batik dari daerah Solo dan Yogya. Di zaman penjajahan Belanda kedua daerah ini merupakan daerah kerajaan yang disebut daerah Vorstenlanden. Batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogya. Pembagian asal batik dalam dua kelompok ini, terutama berdasarkan sifat ragam hias dan warnanya. Menurut Wahono, dkk., batik bila ditinjau dari daerah asalnya dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:

1) Batik Pesisiran, adalah batik dengan berbagai motif yang dibuat di daerah pesisir utara Pulau Jawa seperti, Pekalongan, Batang, Lasem (Rembang) dan sebagainya.

2) Batik Pedalaman, adalah batik dengan berbagai macam motif tertentu yang dibuat di daerah pedalaman seperti, Yogyakarta, Banyumas, Klaten maupun Surakarta.

 

D. Ditinjau dari Teknik Pembuatan Batik Tradisional Batik. Bila ditinjau dari teknik pembuatan batik tradisional (batik dengan motif dan gaya tertentu yang sesuai nilai-nilai tradisi), dapat dibagi menjadi:

  • Batik Kerokan Batik sogan kerokan merupakan tipe proses pembuatan batik di daerah Yogyakarta dan Solo, tetapi kemudian daerah Solo membuat batik secara lorodan. Ciri khas batik kerokan adalah proses ngerok , yaitu proses penghilangan lilin klowong dengan cara digaruk menggunakan cawuk. Proses penyempurnaan pada kain batik biasanya dengan dikanji, kemudian setelah kering dilipat dan dipres dingin selama satu malam, selanjutnya kain batik siap untuk disimpan atau langsung dipasarkan.
  • Batik Lorodan. Perbedaan batik sogan lorodan dengan batik kerokan terletak pada pekerjaan ngerok yang diganti dengan proses nglorod (menghilangkan lilin seluruhnya dengan mencelupkan ke dalam air panas), sehingga kain tersebut mengalami dua kali proses nglorod.
  • Batik Bedesan. Kain batik sogan bedesan, adalah proses pembuatan batik secara cepat dan biasanya hanya untuk pembuatan batik secara cap saja. Pada proses pembuatan batik ini, urutan pekerjaan dibalik dan tidak terdapat pengerjaan ngerok atau nglorod dan mbironi kain. Batik yang dibuat dengan secara proses bedesan tidak terdapat warna biru seperti pada proses kerokan dan lorodan, tetapi hanya berwarna cokelat dan hitam. Warna hitam terjadi karena warna cokelat ditumpang warna biru tua.
  • Batik Radioan. Batik cap sogan radioan dibuat secara cepat dan biasanya hanya untuk membuat kain batik kasar atau sedang. Pada proses pembuatan batik radioan terdapat pengerjaan perusakan warna, yaitu pemutihan. Maka zat warna soga yang dipakai ialah warna yang dapat diputihkan, tetapi tahan terhadap tutupan lilin, biasanya soga yang dipakai dari jenis soga ergan. Ciri dari batik yang dibuat dengan proses radioan ialah bahwa tidak terdapat warna hitam, ini berarti tidak terdapat warna tumpangan antara cokelat dan biru tua. Kecuali kalau warna wedelan yang dipakai adalah warna hitam. Proses batik radioan ini jarang dipakai karena memakai warna dan obat pemutih yang asing bagi para pembuat batik didesa-desa.
  • Batik Pekalongan. Batik Pekalongan pada umumnya berbentuk sarung, dengan motif dan cara pembuatan yang khusus. Pada kain batik sarung, kurang lebih seperempat bagian dari panjang kain memiliki corak yang berbeda dari corak kain sesungguhnya, bagian ini disebut “kepala” atau “sorot” (seret) dari kain tersebut. Pembuatan batik Pekalongan tidak melalui proses khusus medel atau khusus sogan. Warna-warna yang biasa digunakan adalah warna yang tajam. Karena keindahan warna dan corak yang dimiliki, kain sarung ini banyak digemari.
  • Batik Kalimantan. Perkembangan batik di daerah Kalimantan dapat dikategorikan baru, bila dibandingkan dengan batik di daerah lainnya, tetapi batik dari daerah ini mempunyai corak tersendiri dan gaya warnanya juga unik. Batik Kalimantan dibuat secara sederhana, ternyata hal ini disesuaikan dengan bahan-bahan batik yang tersedia didaerah itu. Batik dari daerah ini motifnya semacam “kawung”, sedangkan warnanya hanya warna soga atau warna cokelat saja. Proses pembuatannya adalah sebagai beriukut: 1) Mencap mori, setelah mori melalui proses persiapan, yaitu dipotong, dicuci, dikanji dan dihaluskan kembali, lalu dicap dengan satu macam lilin. Rupanya lilin yang dipakai sesederhana pula, yaitu campuran paraffin dengan hars (gondo) atau lilin tawon. 2) Menyoga, setelah kain selesai dicap, disoga atau direndam dalam extract zat warna dari tumbuh-tumbuhan, pencelupan dilakukan secara berulang-ulang sampai warna yang cukup tua. 3) Dilorod, semua lilin batik dihilangkan dengan memasukkan kain ke dalam air mendidih, maka lilin lepas dari kain dan selesailah proses pembuatan batik secara sederhana ini. Kain batik Kalimantan dapat dikatakan semacam batik “kelengan”, tetapi bukan berwarna biru melainkan berwarna cokelat.
  • Batik Kelengan. Batik Kelengan ialah kain batik yang hanya terdiri dari satu warna saja, yaitu warna wedelan atau warna biru tua. Pada proses pembuatannya, batik kelengan hanya diwedel setelah mori dicap, kemudian kain dilorod dan selesailah pembuatan batik tersebut. Dilihat dari teknik pembuatannya, batik kelengan termasuk cara pembuatan batik yang sudah sangat tua. Sebagai contoh untuk perbandingan, kain Simbut merupakan cara pembuatan batik yang paling tua. Kain Simbut saat masih berupa kain putih, dilukis dengan bubur ketan kemudian dicelup dengan warna biru dan akhirnya bubur ketan tersebut dihilangkan. Akhirnya jadilah kain-kain biru dengan gambar-gambar putih. Konon sebelum teknik batik berkembang, pembuatan batik hanya sampai pada batik kelengan saja. Batik kelengan masih disenangi oleh beberapa penggemarnya, contoh motif paling digemari adalah batik kelengan truntum. Batik kelengan sempat berkembang dan memiliki beberapa variasi, yaitu pada sekitar tahun 1964 terkenallah apa yang disebut “batik Ganefo”, yaitu suatu tipe batik semacam batik kelengan, tetapi bukan berwarna biru tua melainkan warna-warna yang tajam seperti merah, hijau, violet, oranye dan sebagainya. Motifnya sangat beraneka macam sehingga cocok untuk rok wanita dan kemeja.
  • Batik Monochrome. Batik monochrome ialah kain batik dengan satu warna semacam batik kelengan, tetapi tidak menggunakan warna wedelan, melainkan dicelup dengan warna-warna yang tajam seperti warna merah, violet, hijau dan sebagainya. Pemakaiannya sebagai rok wanita, kemeja laki-laki, pakaian anak-anak dan taplak meja. Proses pembuatan batik monochrome sama dengan batik kelengan, dimana wedelan diganti dengan celupan berwarna, sedangkan motifnya beraneka ragam. Pembuatannya menggunakan cap klowong atau cap tembokan atau cap lain yang dibuat khusus untuk batik monochrome.
  • Kain Jumputan. Kain jumputan sepintas lalu seperti batik yang proses pembuatan menggunakan lilin sebagai resist (penolak) warna. Pada kain jumputan cara penolak atau resist terhadap warna yaitu dengan ikatan tali. Kain sebelum dicelup, pada tempat yang harus tidak kena warna di “jumput” (diambil, ditarik) kemudian diikat dengan tali. Tempat-tempat yang tertutup oleh talitali tersebut pada pencelupan menjadi tidak berwarna. Kain setelah dicelup, tali-tali dibuka, kemudian pada bagian tengahtengah dari warna-warna putih bekas ikatan tali diberi warna dengan coletan. Salah satu ciri kain jumputan ialah memiliki batas antara warna dasar dengan warna putih yang bukan merupakan garis, melainkan suatu garis yang menggelombang yang terlihat sangat indah. Kain jumputan biasa dibuat untuk selendang wanita, dapat dibuat dari bahan sutera ataupun sutera tiruan. Kain jumputan terkenal dengan sebutan “kain pelangi”.
  • Batik Becak. Batik becak ialah suatu jenis batik yang dibuat dengan keadaan dan corak khusus dikarenakan kondisi ekonomi dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada masa itu. Batik becak merupakan percikan dari pada sejarah batik Indonesia, maka disertakan pada uraian ini sebagai kelengkapan sejarah perkembangan batik Indonesia. Batik ini dibuat pada saat bangsa Indonesia sedang mengalami penderitaan yang sangat hebat, yaitu antara tahun 1943-1944, karena Perang Dunia ke-II. Bangsa Indonesia saat itu sedang dikuasai dan ditindas oleh tentara pemerintah Jepang. Pada waktu itu, Indonesia dalam kondisi kekurangan sandang dan pangan, maka muncullah suatu jenis kain batik yang mutunya jauh dibawah mutu kain batik pada kondisi normal. Kain becak dibuat dari bahan kain putih kasar yang disebut “keci” ukuran lebar 91 cm dengan panjang dua kacu atau kurang lebih 182 cm. Kain setelah dicap dengan satu macam lilin batik kasar (mungkin hanya paraffin), kemudian kain dicelup dan dilorod. Batik becak terdiri dari satu macam warna, ada yang berwarna biru dan ada pula yang berwarna merah. Kain ini memiliki ukuran lebar yang kurang memadai untuk kain wanita, sehingga wanita yang memiliki tinggi badan berlebih, terpaksa harus menambah lebar kain batik dengan kain lain secara dijahit. Bagi orang laki-laki, karena kain kurang panjang maka kain dijahit seperti sarung meski bukan motif sarung. Pada umumnya batik becak bermotif lereng. Batik becak merupakan batik mode karena keadaan pada waktu itu dan sekarang sudah tidak lagi dijumpai.

 

E. Ditinjau dari teknik pelekatan lilin (malam) Teknik batik sebenarnya termasuk dalam teknik celup rintang atau resist dyeing, yaitu suatu cara menghasilkan ragam hias dengan menutup bagian-bagian tertentu dari motif sehingga terlindung dari pewarnaan. Motif yang muncul dihasilkan dari bagian-bagian yang ditutup cairan malam tersebut. Bila melihat dari proses pembuatan batik, cara penempelan lilin (malam) dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

1. Teknik Tulis (Batik Tulis)

Teknik tulis atau yang biasa disebut batik tulis, adalah pemberian atau pelekatan malam pada kain dengan menggunakan alat yang bernama “canting”. Alat tersebut terbuat dari tembaga yang berbentuk seperti corong yang berlubang pada satu sisinya, corong tersebut nantinya diisi malam yang dipanaskan dan digoreskan pada kain sehingga membentuk ragam hias batik. Cara bekerjanya berprinsip pada “bejana berhubungan” .

Canting tulis terdiri dari berbagai jenis dan ukuran yang disesuaikan dengan fungsinya, seperti ; canting reng-rengan dan canting isen-isen. Canting reng-rengan difungsikan untuk menutup bagian yang akan diberi zz warna cokelat, kecuali cecek pada awal pemalaman di kain, sedang canting isen-isen dipakai untuk mengisi bagian dalam dari pola. Terdapat pula canting dengan jumlah cucuk yang berbeda, seperti; canting klowong kecil untuk membuat garis kecil; canting lorong, bercucuk ganda digunakan untuk membuat garis rangkap; canting token, canting bercucuk tiga; canting prapatan, bercucuk empat; canting liman, bercucuk lima; dan canting byok, bercucuk tujuh untuk membuat lingkaran yang berbentuk titik-titik.

2. Teknik Cap (Batik Cap)

Pada awal ditemukannya stempel cap untuk batik, bahannya terbuat dari kayu, tetapi gambar yang dihasilkan pada kain tidak halus. Orang kemudian mulai berpikir untuk membuat stempel cap dari bahan yang lain. Ditemukanlah stempel dengan bahan logam, yang terbuat dari plat tembaga yang bertahan hingga saat ini. Jenis stempel dari bahan logam ini diperkenalkan pertama kali oleh orang Cina yang diadaptasikan oleh para pengrajin emas dan perak yang sekaligus menjadi pengrajin batik (Veldhuisen, 1993: 59). Canting cap atau stempel cap terdiri dari 3 bagian, yaitu: 1) Bagian muka, berupa susunan plat tembaga yang membentuk pola batik. 2) Bagian tengah atau dasar, sebagai tempat melekatnya plat tembaga bagian muka. 3) Tangkai cap, untuk tempat memegang bila sedang digunakan. Berdasarkan motif batik dan bentuk capnya, terdapat beberapa cara menyusun cap pada permukaan kain, yang disebut jalannya (lampah) pencapan. Beberapa jalannya pencapan antara lain : 1) Bergeser satu langkah kekanan dan satu langkah kemuka, yang biasa disebut sistem “tubrukan.” 2) Bergeser setengah langkah kekanan dan satu langkah kemuka atau satu langkah kekanan dan setengah langkah kemuka, disebut sistem “onda-onde.” 3) Jalannya cap menurut garis miring, bergeser satu langkah atau setengah langkah dari sampingnya, sistem ini biasa disebut “parang” . 4) Jalannya cap digeser melingkar, salah satu sudut dari cap itu tetap terletak pada satu titik, sistem ini disebut “mubeng” atau berputar. 5) Menggunakan dua cap secara bersamaan, dengan cara mencapkan stempel sehingga saling berdampingan, sistem ini disebut “mlampah sareng”. Pemanasan lilin batik cap harus disesuaikan hingga panas tertentu, agar didapatkan hasil pencapan yang baik, yaitu tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Pengerjaan batik cap dimulai dengan memanaskan lilin ke dalam dulang tembaga yang pada dasarnya diletakkan beberapa lapis kasa dari anyaman kawat tembaga. Cap yang akan dipakai diletakkan diatas dulang yang berisi lilin cair, tunggu beberapa saat sampai cap menjadi panas, kemudian cap dipegang, diangkat dan dicapkan pada kain yang diletakkan diatas bantalan meja cap, pencapan dilakukan terus menerus hingga memenuhi seluruh permukaan kain yang diinginkan.

3. Teknik lukis (batik Lukis)

Teknik lukis biasa dilakukan secara spontan tanpa pola bagi pelukispelukis yang telah mahir. Dan dibuat pola kerangka atau coretan bagi pelukis yang belum mahir atau kurang berpengalaman. Variasi dan penyempurnaan batik lukis dapat dikerjakan dengan batik tulis atau dapat pula digabung dengan batik cap. Hasil batik lukis biasanya digunakan untuk keperluan dekorasi, sehingga pengerjaan lukisan tidak perlu dikerjakan pada kedua belah muka kain, melainkan hanya sebelah muka saja.

 

F. Ditinjau dari zaman atau kebudayaan yang mempengaruhi batik dapat dibedakan menjadi:

- Tahun 1700 Batik Karaton adalah batik dengan pola tradisional terutama yang semula tumbuh dan berkembang di Kraton-kraton Jawa. Ragam pengisi Taru (tetumbuhan) - Ragam hias Utama Garuda - Ragam hias Pohon Hayat

- 1755. Perjanjian Giyanti (Politik pecah belah Belanda) Batik Keraton terpecah menjadi dua: Kasunanan Surakarta Kasultanan Yogyakarta

- 1757. Kasunanan Surakarta pecah menjadi dua: 1) Kraton Surakarta (- Parang Barong - Parang Curigo) 2) Pura Mangkunegaran (Buketan Pakis (karya Ibu Bei Mardusari) Liris Cemeng ( karya Ibu Kanjeng Mangunkusumo))

- 1813. Kasultanan Yogyakarta pecah menjadi dua: 1) Kraton Jogyakarta (Pola Golang-galing ( Yogya ) Pola Parang Sarpa (Surakarta) - Pola Rujak Senthe (Yogyakarta))  (Pola Candi baruna, Peksi Manyura (R.M. Notodisuryo) - Pola Babon Angrem - Pola Dodot) Kraton Cirebon (- Pola Mega Mendhung - Pola Wadasan - Pola Semen Rama). 2) Kraton Sumenep (Ujung timur pulau Madura) (Pola Sabet Rantay dari Sampang yang menyerupai Pola Semen Rama Pola Semen Bali dari Pamekasan yang menampilkan ragam hias Lar)

Batik Pengaruh Kraton Adalah jenis batik yang memadukan ragam hias utama batik Kraton Mataram dengan ragam hias daerah setempat sebagai penyusun pola dan kemudian dikembangkan sedemikan rupa sesuai selera masyarakat tempat batik berkembang

Daerah perkembangan: 1.) Batik Indramayu (Utara Jawa) Mendapat pengaruh dari Kerajaan Mataram saat para petani Mataram dikirim ke daerah Indramayu (- Pola Parang - Pola Lung-lungan - Pola Liris - Pola Ceplok). 2) Batik Garutan Mendapat pengaruh dari Kerajaan Mataram yang sudah terpecah/bukan Mataram Kuno. Pengaruhnya dari Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Cina, Belanda (Pola Lereng Arben - Pola Lereng Arevy - Pola Mega Mendhung - Pola Blabag - Pola Arjuna Menekung Cirebon, Cina dan Belanda. 3) Batik Banyumasan Mendapat pengaruh dari pengungsi Mataram saat perang Diponegoro Pengaruh dari Kraton Surakarta dan Yogyakarta ( Pola Parang Curigo - Pola Lumbon - Pola Ayam Puger Pola Parang dengan Lunglungan - Pola Sidomulyo Banyumasan - Pola Panastroman).

-1850, Batik Saudagaran dan Batik Petani Batik Saudagaran Daerah perkembangan: 1.) Surakarta Kauman Kratonan Laweyan 2.) Yogyakarta Prawironataman Tirtodipuran Sentul (Pola Batik Stoppres / Klowong Cecek - Pola Alas-alasan - Pola Sato Warna - Pola Urang Watang - Pola Gedhog Kosong Pola Parang Surakarta digubah dengan penambahan ragam hias buket, buntal dan ragam hias lain).

Batik Petani/Batik Pedesaan. Adalah batik yang digunakan oleh kaum petani stelah pemakaian batik sebagai bahan busana menembus tembok kraton dan merambah masyarakat pedesaan Daerah perkembangan: 1) Jawa Tengah Banyumas Bayat (Klaten) Pilang (Sragen) Matesih (Karang Anyar) Bekonang (Sukoharjo) (- Pola Cuwiri Mentul - Pola Semen Kakrasana - Pola Sri Katon). 2) Yogyakarta Bantul / Batik Kidulan Imogiri (Wukirsari, Girirejo) 3) Jawa Timur Tuban Tulungagung Kerek ( Pola Batik Tenun Gedhog - Pola Batik Tenun Putih Gedhog - Pola Ganggeng Luwak Etong). 4) Jawa barat (1) Indramayu (- Pola Urang Ayu)

- 1840 -1940 Batik Belanda adalah jenis batik yang tumbuh dan berkembang antara tahun 1840-1940, hampir semuanya berbentuk sarung, pada mulanya hanya dibuat pada masyarakat Belanda dan Indo Belanda, dan kebanyakan dibuat di daerah pesisir (Pekalongan) (- Pola Buketan dengan isen latar - Pola Merak Cohung Pola Teratai isen latar Blanggreng)

Daerah perkembangan: Pekalongan (- Pola Little Red Ridding Hood - Pola Snow White - Pola Hanzel and Grete)

Semarang (- Pola Dewi His-Wang Mu - Pola Wayang)

- 1900. Batik Pengaruh India. Adalah batik yang menerapkan ragam hias dari India, yaitu kain Patola dan Chintz atau Sembagi, serta luma dibuat oleh pedagang Arab dan Cina pada awal abad 19 dikawasan pantai utara Pulau Jawa, terutam Cirebon dan Lasem. Mendapat pengaruh zaman Sriwijaya Tokohnya : Van Oosteron dan Van Zuylen (- Gujarat India Patola (Cindai) Chintz ( Kain Sembang) - Lasem / Cirebon Pola Sembagen - Surakarta Pola Nitik (Ceplok) - Pekalongan Pola Nitik (Ceplok))

- 1900 Batik Cina (sebelum 1910) adalah jenis batik yang dibuat oleh orang-orang Cina atau peranakan. (Ragam hias mega, banji, tok wi, muk li - Pola Kelelawar)

- 1910 Batik Cina (setelah 1910) mendapat pengaruh Batik Belanda Daerah perkembangan : Kudus Kedungwuni Lasem, Kudus, Yogyakarta, demak. (Pola Buketan Pola Buketan - Pola Lengko - Pola keong,Pola Buketan Anggrek - Pola buketan isen latar Lereng) 

- 1942-1945 Batik Djawa Hokokai adalah batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan batik di Pekalongan, terutama para pengusaha batik Cina (- Pola Parang dan Kawung - Pola Ceplok Sakura - Pola Ceplok dan Parang Pola Lereng Bunga dan Bunga Kupu-kupu)

- 1950 Batik Djawa Baru adalah batik yang dibuat akibat zaman penjajahan Jepang (- Pola Tirtateja dan Jlamprang - Pola Parang dan Jlamprang) 

- 1950 Batik Indonesia adalah batik yang secara teknik berupa paduan antara pola tradisional batik kraton dan proses pesisiran, juga mengandung makna persatuan Indonesia. 1) Tokohnya : a) K.P.A. Hardjonagoro b) Ibu Bintang Soedibjo c) Iwan Tirta, d) Ardiyanto Pranata e) Batik Danar Hadi 2) Daerah perkembangan a) Batik Wonogiren b) Batik Bali c) Pekalongan d) Papua e) Kalimantan f) Sulawesi

 

Batik Indonesia

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corakcorak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu.

Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.

Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuhtumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920 dan kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

 

Tulisan informasi yang amat banyak di atas itu saya peroleh dari dua karya ilmiah yang saya temukan dan baca di internet, salah satunya dari situs repository.umy.ac. id. Banyaknya informasi yang tersedia di internet memang memudahkan sekali untuk kita mencari tahu tentang batik. Jadi sebenarnya ga ada alasan ya buat kita untuk tidak belajar sedikit saja tentang batik Indonesia. Berbagai buku batik juga tersedia. Sayangnya buku file free e book yang saya pinjam dari iJak tidak bisa dibuka. Jadi untuk sementara ini sumber saya memang tidak berasal dari buku yang resmi diterbitkan.

By the way, semoga informasi yang ada di artikel ini bisa memberikan gambaran ya buat teman-teman tentang sejarah batik, filosofi dan motifnya, setidaknya dalam versi yang singkat. Untuk lebih detailnya teman-teman bisa cek dan baca sendiri di tulisan asli di repository.umy.ac. id atau di buku-buku batik dan artikel lainnya.

Yuk mari kita cari tahu lebih banyak tentang Batik Indonesia ^^

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi)

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku A Time for Mercy - John Gris…

20-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 Amazon Charts This Week   Judul : A Time for Mercy (Jake Brigance Book 3) Penulis : John Grisham Jenis Buku : Legal Thriller Penerbit : Doubleday Books – Penguin Random House LLC Tahun Terbit : Oktober 2020 Jumlah...

Read more

Review Buku To Sleep in A Sea of Stars -…

13-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor’s Pick Best Science Fiction & Fantasy on Amazon a New York Times and USA Today Bestseller To Sleep in a Sea of Stars is a brand new epic novel from #1 New York Times bestselling author of Eragon, Christopher...

Read more

Review Buku I Have Something to Say - Jo…

07-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : I Have Something to Say Mastering the Art of Public Speaking in an Age of Disconnection Penulis : John Bowe Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku The Book You Wish Your Paren…

26-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Book You Wish Your Parents Had Read (and Your Children Will be Glad That You Did) Penulis : Philippa Perry Jenis Buku : Parenting Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

20-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

The Disrupted Disruption

06-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

04-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

02-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more