Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Sejarah, Filosofi, dan Motif)

Published: Thursday, 22 October 2020 Written by Dipidiff

 

Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya sampai bingung mau mulai dari mana :D.

Tapi secara singkatnya bisa dijelaskan bahwa Batik terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.

Teknik batik sendiri telah diketahui lebih dari 1.000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara di Afrika Barat seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah dan para pembesar. Oleh karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.

Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang mereka. Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, soga, dan nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan garamnya dibuat dari tanah lumpur." *sumber: wikipedia

 

Nah, beres baca informasi wiki di atas, paham deh kita kalo teknik batik itu teknik yang legend gitu ya, udah ada dari jaman Mesir Kuno. Artinya wajar saja kalo tiap pertemuan batik internasional, negara-negara lain juga mengaku punya batik bahkan merasa batik juga budaya tradisional mereka. Dan kita, menurut saya, harus berbangga, karena negara kita terpilih secara resmi sebagai, negara dengan batik sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda pada sidang UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Penasaran ga sih kenapa negara kita yang terpilih. Kalo saya sih penasaran. Tapi tenang, saya sudah dapat jawabannya kenapa negara Indonesia yang terpilih sebagai negara dengan batik sebagai warisan budaya dunia.

 

Kenapa Batik Indonesia diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia ?

Penjelasan ini saya dapatkan dari kompas. com, dan menarik sekali bahwa ada kriteria khusus yang harus dipenuhi sebuah negara untuk bisa dapat pengakuan ini. Setidaknya ada tiga kriteria di balik penetapan UNESCO terhadap batik.

1. Ilmu membatik. Ilmu membatik harus diturunkan dari generasi ke generasi. Dari pemilihan canting, cara mencanting, desain, motif, hingga pewarnaan. Poin ini sudah dipenuhi oleh negara kita.

2. Batik harus digunakan sebagai bagian dari kehidupan manusia. Di Indonesia, sejak lahir, batik digunakan menggendong bayi, digunakan dalam proses khitanan, pernikahan, hingga kain penutup jenazah yang sudah meninggal. Termasuk saya pun punya kain batik gendong dan selimut batik buat bayi saya dulu. Bahkan kain jenis ini lebih saya sukai ketimbang beragam kain gendong modern masa kini. Soalnya adem dan lokal banget.

3. Batik harus kerap digunakan oleh masyarakat dalam kegiatan sehari-hari dari dulu hingga sekarang, seperti pakaian. Batik Indonesia, baik yang berfungsi sebagai pakaian sehari-hari, pakaian mode, atau yang lainnya bahkan juga digunakan oleh masyarakat di sejumlah negara termasuk Myanmar, Singapura, Malaysia, dan Afrika.

Di samping tiga poin ini, ada poin tambahan lainnya buat negara kita, karena batik Indonesia dikelilingi oleh beragam simbol dan kebudayaan. Menggendong bayi dengan batik dikatakan sebagai simbol untuk membawa keberuntungan pada kehidupan si anak. Batik juga digunakan sebagai busana sehari-hari, baik dalam lingkungan formal seperti bisnis dan akademik, juga informal seperti merayakan pernikahan. Selain itu, batik Indonesia dengan beragam motif uniknya juga dianggap memiliki peran penting dalam beberapa ritual tertentu.

 

Semua informasi barusan saya temukan di kompas. com. Saya juga setuju dengan pernyataan Retno Marsudi (Menlu) bahwa meskipun pengakuan ini adalah berkah, tapi juga ini merupakan tantangan karena kita berarti harus terus merawat dan melestarikan kesenian batik Indonesia melalui berbagai cara.

Cara-cara turut melestarikan budaya batik sudah saya singgung juga di artikel saya yang lain.

Baca Artikel Terkait Lainnya:

 

 

dan kembali mengulang di sini, bahwa salah satu cara yang paling mudah untuk turut melestarikan batik adalah dengan mengenal sejarah dan hal-hal seputar batik Indonesia. 

Sejujurnya, saya sendiri sangat menyukai batik, tapi kurang dalam pemahaman sejarah dan filosofinya. Shame on me. Jadi marilah kita mulai perjalanan kita ke sejarah Batik yang sesungguhnya.

 

Pengertian Batik

Ada beberapa pengertian batik yang saya temukan di literatur, tapi kita cukup ambil satu saja ya.

Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun 1705 seorang Belanda bernama Chastelein telah menggunakan istilah “batex” (batik) dalam laporannya kepada Gubernur Belanda Rijcklof Van Goens.

Pengertian batik menurut Wahono (2004) adalah:

Dilihat dari asal katanya, kemungkinan kata batik berasal dari aktifitas orang saat menggambar kain berbentuk titik. Aktifitas membuat titik sebagai kata kerja menggunakan kata matik. Ma sebagai awal artinya perbuatan mengerjakan sesuatu. Perkembangan berikutnya kata matik menjadi mbatik dan akhirnya batik.

Batik dalam arti sederhana adalah suatu gambar yang berpola, motif dan coraknya dibuat secara khusus dengan menggunakan teknik tutup celup. Bahan yang digunakan untuk teknik celup adalah malam dan alatnya adalah canting tulis, canting cap, kuas atau alat lainnya. Cara membuatnya dengan ditulis, dicap atau ditera dilukis pada kain (mori, katun, teteron, sutera, dan lain-lain)”

 

Pengertian motif batik menurut Nanang Rizali (2002) adalah susunan terkecil dari gambar atau kerangka gambar pada benda. Motif terdiri atas unsur bentuk/objek, skala/proposi dan komposisi. Menurut unsur-unsurnya motif batik dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:

  1. Motif Baku. Motif baku dalam peristilahan batik disebut pola baku, dapat juga disebut motif utama dalam kain batik. Sebagai contoh, motif baku yang terdapat dalam batik semen rama. Ada 9 bentuk motif baku, yaitu meru, modang, baita, dampar, lar, burung, pusaka, binatang dan pohon hayat. Setiap motif baku tersebut memiliki makna perlambang.
  1. Anggitan. Anggitan atau motif pelengkap sering pula disebut motif tambahan, dipakai untuk mengisi ruang kosong di antara motif baku, dan tidak memiliki arti perlambang seperti halnya motif baku.
  1. Isen. Isen adalah unsur penghias pada motif baku dan anggitan. Isen-isen tersebut berupa titik-titik, garis-garis, maupun gabungan yang sering disebut isen motif batik. Beberapa bentuk isen yang masih banyak dipakai di antaranya: cecek-cecek, sisik-melik, herangan, gringsing, sawut, galuran, dan sirapan.

 

Pola dan Corak Batik

Pola merupakan bagian gambar pada kain yang terdiri dari berbagai motif, dengan kata lain pola adalah kesatuan bentuk daripada motif. Sedangkan corak adalah kerangka gambar yang terdiri dari perulangan pola dan motif

 

Ada pula istilah Imba. Apa itu imba? Imba adalah gambar sebagai tiruan bentuk alam, misalnya api, air, awan, bebatuan, gunung, tumbuhan serta bermacam-macam benda. Motif batik tradisi pada khususnya banyak mengimba tumbuh-tumbuhan, baik bunga maupun buah. Dan masuknya pengaruh Hindu di Indonesia membawa pengaruh pada batik tradisi yang dihiasi oleh bentuk binatang, terutama yang keramat dalam kepercayaan Hindu misalnya, sapi, banteng, kerbau, gajah dan burung. Beberapa jenis tumbuhan bunga dan buah juga dijadikan motif batik, misalnya raditya puspita (bunga matahari), kembang bangah, kembang kantil, sawut (bunga perdu), wari-wari (bunga sepatu), pelem (buah mangga), pisang bali, manggis, dan anggur.

 

Filosofi (Makna) Perlambangan pada Motif Batik

Simbol yang terdapat pada motif batik biasa disebut sebagai motif perlambangan. Motif perlambangan berasal dari motif baku yang terdapat di dalam batik larangan dan upacara adat Karaton. Zaman dahulu, masyarakat pembuat batik selalu mengaitkan simbol-simbol yang terkandung dalam motif batik dengan pandangan hidup dan kepercayaannya. Zaman sekarang, memaknai perlambangan batik hanya dilanjutkan oleh sebagian masyarakat, terutama oleh mereka yang mengerti arti perlambangan tersebut. Umumnya perlambangan pada motif baku batik larangan dan upacara tidak terlepas dari paham Jawa Kuno, Hindu dan unsur alam pertanian.

 

Beberapa motif baku yang didasari paham Jawa Kuno adalah sebagai berikut:

  1. Meru, menggambarkan tanah atau bumi, melambangkan kehidupan manusia di dunia ini.
  2. Modang, menggambarkan matahari sebagai lambang sumber kekuatan dan tenaga.
  3. Naga, menggambarkan air, melambangkan sumber kehidupan.
  4. Kukila atau burung, menggambarkan angin yang melambangkan dunia atas tempat tinggal para dewa.
  5. Gurda atau lar, atau disebut juga sawat, menggambarkan burung garuda yang kadangkala hanya digambarkan dalam bentuk sayap, melambangkan mahkota atau kekuasaan tertinggi di atas jagad raya.
  6. Joli, menggambarkan alat angkutan di zaman dahulu, melambangkan dunia tempat manusia hidup.
  7. Baita, menggambarkan air sebagai lambang sumber kehidupan.
  8. Dampar, menggambarkan tahta raja sebagai lambang kekuasaan.
  9. Pusaka, menggambarkan bermacam-macam senjata dan alat pertanian yang dikeramatkan oleh Karaton Mataram, melambangkan ketenangan dan kegembiraan.

 

Paham Hindu menggambarkan bahwa hidup manusia yang tidak kekal berada di mayapadha, jika selama hidupnya manusia dapat mengendalikan diri dengan banyak berbuat baik, maka setelah kematiannya ia akan masuk ke dunia atas atau kemuliaan abadi. Sebaliknya, jika manusia salah dalam mengendalikan hidupnya, setelah mengalami kematian ia akan masuk ke dunia bawah atau kesengsaraan. Dunia atas, tengah dan bawah ini pada motif baku digambarkan sebagai :

  1. Burung, lambang dunia atas;
  2. Pohon, lambang dunia tengah;
  3. Ular, lambang dunia bawah.

 

Setelah masuknya batik ke dalam lingkungan Karaton sekitar abad ke-15, motif baku batik tradisi yang dibuat oleh masyarakat petani berupa bermacam-macam tumbuhan, juga dipakai oleh pembatik Karaton. Beberapa di antaranya masuk dalam kelompok batik larangan, yaitu Kawung, Udan Riris, Semen dan Alas-alasan.

  1. Batik Kawung mempunyai motif baku berupa buah kawung (sejenis buah aren), yang melambangkan kesuburan.
  2. Batik Udan Riris mempunyai motif baku bermacam tumbuhtumbuhan yang melambangkan kesuburan.
  3. Batik Semen dengan motif baku tumbuhan dan binatang, melambangkan kesuburan.
  4. Batik Alas-alasan mempunyai motif baku tumbuhan dan binatang, yang melambangkan kehidupan.

 

Beberapa contoh perpaduan warna batik yang memiliki arti perlambangan, sebagai berikut:

  • Gula kelapa, perpaduan warna merah dan putih yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
  • Klabang ngatup, perpaduan warna hijau tua dan merah, melambangkan kekuatan untuk melindungi.
  • Mayang mekar, perpaduan warna hijau tua dan muda, melambangkan hidup baru.
  • Godong melati, perpaduan warna hijau dan putih yang melambangkan kemakmuran.
  • Podang nyesep sari, p