Review Buku Omoiyari - Erin Niimi Longhurst

Published: Friday, 27 November 2020 Written by Dipidiff

 

 

Judul : Omoiyari

The Japanese Art of Compassion

Penulis : Erin Niimi Longhurst

Ilustrator: Ryo Takemasa

Jenis Buku : Self Improvement - Phylosophy

Penerbit : HarperCollins Publishers

Tahun Terbit : Juli 2020

Jumlah Halaman :  224 halaman

Dimensi Buku :  13.50 x 18.10 x 2.50 cm

Harga : Rp. 185.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780008407629

Hardcover

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

‘Omoiyari adalah bentuk welas asih tanpa pamrih - menempatkan diri pada posisi orang lain, mengantisipasi kebutuhan orang lain, bertindak dengan cara yang bisa membuat orang lain merasa nyaman atau bahagia. '

Dengan mempelajari dan mempraktikkan omoiyari, kegembiraan dan kebahagiaan hadir tidak hanya di kehidupan orang lain, tapi juga kehidupan kita sendiri.

Buku Omoiyari akan menjelaskan budaya dan filosofi omoiyari masyarakat Jepang yang menjunjung karakter kasih sayang, kebaikan, kepedulian dan empati pada sesama, bahkan alam semesta. Dari Omotenashi (keramahan Jepang), Kirei (kebersihan dan pengorganisasian) dan Mottainai (mengurangi limbah) hingga Zakka (menemukan keindahan di duniawi) dan Senbazuru (seni origami melipat seribu bangau kertas), ada begitu banyak cara orang Jepang menekankan pentingnya komunitas dan membantu orang lain.

 

 

Yuk kita intip isi bukunya:

Introduction

OMOI

Mottainai (Avoiding Waste)

Kirei (Cleanliness and Organisation)

Teinei (Polite Conscientiousness)

Zakka (The Beauty of Miscellaneous Things)

OMOIYARI

Wa (Harmony)

Omotenashi (The Art of Selfless Hospitality)

Onkoschishin (Learning from the Past)

Senbazuru (One Thousand Paper Cranes)

Omakase (To Entrust)

 

Conclusion

About The Author

Glossary

Acknowledgements

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai dari fisik buku ini, saya akan jawab kombinasi warna sampulnya. Pastel banget, kesannya lembut, dan memang buat perempuan sepertinya mayoritas bakal suka. Buku ini juga dicetak hardcover yang bukan sampul lepas. Kertasnya art paper, dan full color. Beautiful.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Buku-buku yang membahas filosofi Jepang rupanya tidak berhenti pada Wabi Sabi, Ikigai, dan Kaizen. Ada pula metode Kakeibo dan Kon Marie-nya Marie Kondo sebagai tambahannya. Dan kali ini ada Omoiyari yang menjadi buku bacaan saya di bulan September. Kata 'Omoiyari' sendiri asing di telinga, padahal filosofi ini menjadi salah satu identity masyarakat Jepang. Sebuah budaya dan sikap hidup yang menyatu dalam keseharian mereka.
 
Lalu apa itu 'Omoiyari'? Omoiyari adalah 'the art of compassion', cara bagaimana orang-orang Jepang membawa kegembiraan ke dalam hidup mereka dengan mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan orang lain. A deep thought ya , but I love it.

Omoyari, I want to think more about the art of compassion – how we can bring joy into our own lives by bringing about happiness in the lives of others.

Page 18

 

During the 2018 World Cup, after a surprise victory against Colombia, Japanese football fans dominated headlines for reasons other than their country's stella performance on the pitch: following a historic win (and an excelent excuse to celebrate, if ever there was one), they meticulously cleared up the stadium, collecting litter as a sign of respect for their surroundings as guests.

For those who have been to Japan, stories like this might seem familiar. I've been lucky enough to hear many of them – examples of the spirit of omoiyari, the feelings of empathy and compassion that fuel the actions that people take for others. It's demonstrated most clearly in the art of Japanese hospitality, but through various other practices and traditions, too.

Page 9

 
Erin Niimi Longhurst menulis buku ini dari cerminan hidupnya sendiri yang ibunya berdarah Jepang dan ayah Inggris tulen. Kakeknya lah yang memberikan pengaruh paling besar bagi budaya Jepang dalam hidupnya. Erin Niimi Longhurst adalah seorang direktur di sebuah agensi digital, ia mempunyai gelar di bidang Sosial Antropologi dari University of Manchester. Buku Omoiyari bukan buku satu-satunya yang ia tulis, sebelumnya ia juga telah mempublikasikan buku Ikigai, Forest Bathing dan Wabi Sabi.

The joy that comes from mastering a craft is something I learned from my Jiji, my Japanese grandfather. A shrewd businessman, and also a temple elder, he devoted a lot of his time to painting, cooking and other hobbies and mindful practices, despite a hectic work schedule, the demands of running a large business, as well as an active family life. They helped him to clear his mind an be creative in his thinking in other areas of his life. My aunt Taeko took up  tea ceremony (chado) as a way to carve out time to pursue something that was outside the constrais of her job or family life – something that allowed her to connect with nature and her environment, and to appreciate specific moment of the year of the changing of the seasons. Growing up with these examples of ways in which to connect with ourselves has been invaluable to me. I find it particularly through cooking mindfully – nothing gives me greater clarity, comfort or joy than putting together all the parts of a meal. It's my way of showing affection to myself.

Page 18

 
Buku Omoiyari ini dicetak HC dengan jenis kertas yang tebal, halaman-halamannya diselingi ilustrasi, foto, serta layout kalimat khusus yang penuh warna. Benar-benar memanjakan mata.
Picture: Beberapa gambar yang ada di dalam buku
 
 
Isi buku Omoiyari terbagi menjadi dua bagian. Part One, Omoi, membahas cara mengenal diri sendiri dengan lebih baik, yakni dengan lebih ramah lingkungan dan tidak membuat sampah atau melakukan pemborosan, dan menemukan suatu cara untuk lebih menghargai keindahan bahkan dari objek yang sangat sederhana. Lalu di Part Two, Omoiyari, kita akan menyimak bagaimana menghadirkan dan menyampaikan nilai-nilai tersebut ke orang lain, melalui hidup penuh harmoni, saling peduli, dan saling menghormati satu sama lain. Memberi hadiah atau bingkisan, memasakkan masakan untuk mereka yang dicinta, merayakan momen khusus dengan cara yang penuh perasaan dan ketulusan adalah beberapa cara yang dicontohkan di dalam buku ini.⁣
Awalnya saya sempat menduga buku ini bakal berkonten sama seperti buku berbenah lantaran Part One yang memang membahas soal beres-beres rumah, decluttering, dan pengelolaan sampah. Tapi tentu saja saya yakin buku ini akan punya keunikan topik bahasan, dan benar saja, setelah selesai membahas hal ihwal berbenah, topik bahasan bergesar ke Teinei yang berisi budaya kesopanan dan etika masyarakat Jepang, lalu Zakka yang merupakan filosofi hidup orang Jepang dalam mensyukuri dan merasa cukup dengan hal-hal sederhana berikut ketidaksempurnaannya.⁣
 

The Teinei Art of Gift-giving

If you have Japanese friends, you might notice that gift-giving is something that is highly valued among them. Even if it's not your birthday, you might except to get gifts on specific occasions. Some of these might be.

Omiyage -  a gift or souvenir that you give to friends, co-workers and family when you've come back from a trip.

Ochugen – a mid-year present, usually given between 1 and 15 July, to people you might be indebted to. These might include relatives, your doctor or physician, teachers, clients or your employers.

Oseibo – the gift you might give to those you are indebted to at the end of the year, usually from early to mid-December.

Presenting gifts

Presentation is the key, and wrapping your gifts in a beautiful, teinei way can take time. One way to wrap gifts, without being wasteful (or mottainai) is through the use of fabrics – tenugui or furoshiki.

Tenugui

A tenugui is a thin cotton hand towel, often given as a gift. About 35x90 cm in size, it in plainly woven, but almost always adorned with a pattern of some kind. The multipurpose tenugui can be used as a washcloth or dishcloth, but is also a popular souvenir from Japan and can be used as decoration or as a headband or sweatband.

Another way to use tenugui is to gift wrap bottles, it's a great way to deck out a bottle of wine (or champagne, or sake – whatever takes your fancy)....

Page 84

 
 
Picture: Tenei Art
 
Hal paling menarik dari buku ini salah satunya adalah sangat kentalnya budaya Jepang yang dimunculkan dalam pemaparannya. Kata-kata, gambar penyerta, dan cerita-ceritanya rasanya begitu lekat dengan kehidupan tradisi orang Jepang. Dalam bab Teinei bahkan dibahas cara membungkus bingkisan dengan kain khusus, dijelaskan step-by-stepnya, dan disertai gambar. Saya sertakan salah satu foto halaman buku yang menampilkan gambar bingkisan botol yang telah dibungkus dengan kain sesuai tradisi masyarakat Jepang.

How to wrap a bottle

1 Lay your tenugui down on a surface, fold it in half and fold it in half again, so you have a faint outline of four rectangles where the folds are precise and even. Unfold the tenugui and lay it down flat.

2 Place your bottle down horizontally, so that the bottom of the bottle is at the centre of the tenugui – ideally, on the botton right-hand side.

3 Lit the tenugui fabric on the side that is closest to you and roll it around the bottle. The fabric should envelop the bottle, so it looks like you have a large pipe or a sausage.

4 Making sure that the edge of the cloth is on the top of the bottle, take the fabric that is on the side nearest the mouth, and twist it around.

5 Take the fabric on the other side of the bottle (near the bottom) and lay it over the bottle. Take both ends and secure them by lying around the nect of the bottle to create a little bow – like a bowtie.

Page 86

Picture: Halaman tentang membungku botol
 
Saya kira buku ini akan sangat menarik untuk mereka yang menyukai dan tengah belajar budaya negeri Sakura. Dan buku Omoiyari ini dapat menjadi salah satu buku yang bisa membantu kita untuk lebih memahami budaya dan filosofi hidup orang Jepang dengan lebih mendalam.⁣
 
Tidak ada yang bertele-tele dalam pemaparan Erin Niimi. Semuanya singkat dan padat. Saya berharap beberapa topik bisa diceritakan lebih mendalam, misalnya tentang festival, ritual, dan perayaan di Jepang yang ternyata cukup banyak jumlahnya dan sangat dalam maknanya, sebut saja Shinchi-Go-San, Seijin no hi, dan Obon. Tradisi yang disebutkan terakhir ini adalah momen pertemuan kembali untuk menghormati mereka yang telah meninggal dunia dan menyambut rohnya kembali ke rumah untuk sementara. Tapi penjelasan singkat seperti ini dirasa mencukupi karena toh sudah berhasil memberikan gambaran dan memancing keingintahuan.
 
 
Ada cerita nyata yang menarik tentang Sadako Sasaki, seorang gadis muda yang menderita leukemia sebagai efek bom nuklir Hiroshima. Dalam masa perawatannya di rumah sakit, Sadako membuat origami burung bangau. Cerita hidup Sadako membawa pesan akan harapan dan kedamaian. 

The Story of Sadako Sasaki

The practice of senbazuru is often spoken of in relation to one person in particular – a young girl named Sadako Sasaki. At two years old, Sadako became a hibakusha – a person affected by the atomic bombing of Hiroshima. While Sadako survived the bombing, she was severely irradiated, and died at the age of twelve from leukaemia caused by the after-effect.

Before she died, Sadako set herself the task of folding a thousand paper cranes. As paper was is short supply at  the time, she made use of scrap paper – anything she could get her hands on in the hospital in an attempt to complete her objective. Some versions of the tale say she didnt make her final goal, and that her friends and family contributed to it after her death, while others say she both met and surpassed it. Either way, she became a symbol of optimism and resilience in the face of adversity. Her story became synonymous with the innocent victims of war, and her pursuit of senbazuru brought a message of hope and peace.

Page  177

 
 
Picture : Cara membuat origami bangau.
 
 
 
Ada Bab Glossary di akhir yang bisa membantu kita untuk memahami istilah-istilah khusus yang ada di dalam buku.
 
 
Kita semua bisa menerapkan Omoiyari dalam kehidupan kita yang manfaatnya bukan hanya kita saja yang menerima tapi juga orang lain, bahkan generasi berikutnya, yakni dengan melakukan kebaikan bahkan hal sekecil apapun, seperti membantu membawakan barang yang berat, memberikan antrian kepada seorang tua, membersihkan lingkungan, dan memastikan apa yang kita lakukan meninggalkan kesan positif dan manfaat setelah kita tiada.
 

Omotenashi differs from customer service in the sense that it isn't based on a hierarchy – it is not about doing something because it's part of a job. Omotenashi has roots in chado tea ceremony and, as a result, is more about respect and harmony than serving another person. Ichi-go ichi-e – a phrase also associated with tea cermony – describes the fleeting and transient nature of an instant. It highlights the need to cherish each moment, as if it were the only one you will experience in your lifetime. The lesson to be learned here? Treat everyone, and every moment, like it is something precious and important, because it can't be repeated.

Page 143

 

It doesn't have to be a grand gesture - just a small promise to be the most compassionate version of yourself that you can be. Page 210

 

Siapa Erin Nilmi Longhurst

Erin Niimi Longhurst adalah seorang penulis keturunan Jepang dan Inggris yang menulis  buku Japonisme, Ikigai, Forest Bathing, Wabi-sabi dan banyak lagi. Ia juga direktur di agensi digital, yang pekerjaannya membantu organisasi utuk bisa menyampaikan cerita secara online dengan lebih efektif. Erin Niimi Longhurst memiliki gelar dalam Antropologi Sosial dari Universitas Manchester, dan saat ini membagi waktunya antara London dan New York. Karya Erin Niimi Longhurst telah ditampilkan di BBC, Vogue, Stylistm El Mundo, Elle Vietnam dan MarthaStewart.com.

Sumber : Buku Omoiyari dan erinniimilonghurst. com

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang ingin mengetahui apa itu omoyari, atau mereka yang ingin membaca buku tenang belas kasih dan kebaikan pada sesama (juga alam semesta), dan pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang budaya serta filosofi welas asih masyarakat Jepang yang merupakan kunci kebahagiaan dalam hidup. Buku ini to the point, banyak gambar penyerta, banyak istilah dalam bahasa Jepang, dan mengangkat budaya negara tersebut dengan ringkas tapi terasa detail.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Brief Answers to The Big…

09-01-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    NEW LIMITED EDITION OF THE SUNDAY TIMES No.1 BESTSELLER   Judul : The Brief Answer to the Big Question. Penulis : Stephen Hawking. Jenis Buku : Biography. Penerbit :  John Murray Press. Tahun Terbit : Oktober 2019. Jumlah Halaman :  256 halaman. Dimensi...

Read more

Review Buku Dearly - Margaret Atwood

09-01-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  No.1 New York Times Bestseller Man Booker Prize Winner The Winner of Goodreads Choice 2020   Judul : Dearly Penulis : Margaret Atwood Jenis Buku : Poetry Penerbit : Ecco Press Tahun Terbit : November 2020 Jumlah Halaman :  144 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku The Prophet - Kahlil Gibran

02-01-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : The Prophet (Collins Classic) Penulis : Kahlil Gibran Jenis Buku : Puisi Penerbit : HarperCollins Publishers   Tahun Terbit : April 2020 Jumlah Halaman : 256 halaman Dimensi Buku : 17.80 x 11.10 x 0.90 cm Harga : Rp. 60.000 *harga...

Read more

Review Buku One Small Step Can Change Yo…

27-12-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

   Judul : One Small Step Can Change Your Life The Kaizen Way Penulis : Robert Maurer, Pd.D. Jenis Buku : Self Improvement. Philosophy. Penerbit : Workman Publishing Tahun Terbit : April 2014 Jumlah Halaman :  222 halaman Dimensi Buku...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more