Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

Published: Tuesday, 20 October 2020 Written by Dipidiff

 

Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga sama seperti saya.

Saya mengumpulkan beberapa informasi dari internet seputar ini. Fyi, buku e book batik masih error jadi belum bisa saya baca. Teknologi internet nyatanya sangat membantu memecahkan masalah ini ^^.

 

Berikut informasi yang saya dapatkan dari skripsi yang disusun oleh Fauzun Nurish Sholihah dari Jurusan Kriya Seni/Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret.  Skripsi ini bisa diunduh di internet sehingga bisa teman-teman baca sendiri untuk lebih detailnya.

 

Teknik Membatik

Dilihat dari alat dan cara pelekatan lilin dalam pembuatan batik, terdapat beberapa teknik antara Iain :

1) Dengan ditulis ( Batik tulis)

Untuk membatik tulis memakai alat untuk menuliskan lilin batik cair yang disebut canting. Canting tulis dibuat dari plat tembaga, bentuknya seperti kepala burung dan bekerjanya alat ini berprinsip pada bejana berhubungan. Menurut Departemen P dan K (1979) "canting untuk membatik secara secara tulis tangan ini terdiri dari beberapa jenis canting. Tergantung dari tingkatan atau jenis membatik yang dilakukan, yaitu :

(1) Canting tulis klowong. Canting klowong digunakan untuk membatik bagian pola yang pokok dari pola batik

(2) Canting tulis cecek. Canting cecek digunakan untuk membuat cecek (titik-titik) dalam isen-isen lubang pada motif batik. Paruh pada canting cecek ini lebih kecil dibandingkan dengan lubang canting klowong, canting ini merupakan canting yang paling kecil. 

(3) Canting tulis isen,

(4) Canting tulis tembokkan. Canting tembokkan digunakan untuk menutup bidang yang lebih lebar baik pada motif maupun di bagian luar motif, karena lubang paruhnya paling besar dibanding dengan jenis canting Iainnya. Jika canting tembokkan ini goresan lilinnya kurang besar atau kurang cepat, maka pada ujung paruh canting diberi balutan kain yang disebut "penasar" atau dapat juga menggunakan tangkai yang dibalut kain yang disebut "jegul". 

(5) canting tulis "carat" atau seret". Ada juga canting yang memiliki paruh sekaligus. Namun yang sering dipakai adalah canting carat "Ioro " (lubang dua) untuk membuat dua garis sekaligus yang sejajar.

 

Adapun cara menggunakan canting adalah canting dimasukkan kedalam lilin cair yang panas, kemudian canting dalam keadaan ujungnya lebih rendah agar lilin batik dapat keluar dengan lancar. Selanjutnya canting ditempelkan pada permukaan kain dan digerakkan sesuai motifnya, maka lilin batik tersebut akan segera membeku membentuk sesuai motif.

 

2). Dengan dicap (Batik cap)

Batik cap yaitu batik yang proses pembatikannya menggunakan canting cap. Canting cap ini adalah alat sejenis stempel yang terbuat dari tembaga atau kuningan dengan bingkai dan pegangan yang pada bagian permukaannya di tatah dengan motif batik. Besar dan luasnya alat cap ini beraneka ragam tergantung bentuk motif yang diinginkan.

Cara menggunakan cap ini adalah bagian bawah alat cap di celupkan pada larutan malam cair dan panas. Kemudian cap ditempelkan dengan menekan kuat-kuat pada kain yang telah dipersiapkan, agar malam bisa tembus sampai bagian belakang kain dan motif hasil pengecapan bisa rata tidak terputus-putus. Meskipun hasil pengecapan malam sudah tembus sampai bagian belakang, tetapi harus tetap diulangi pengecapannya pada bagian belakang. Tujuannya agar motif hasil pengecapan dapat terlihat jelas pada bagian baik ataupun bagian buruk kain.

Alat-alat yang digunakan untuk membuat batik cap adalah:

a) Alat cap. Alat ini sejenis stempel yang terbuat dari tembaga atau kuningan yang pada bagian permukaannya ditatah dengan motif batik.

b) Meja Cap. Meja cap adalah sebagai tempat diletakkannya kain yang akan dilakukan pengecapan. Lebar meja untuk pengecapan adalah selebar kain yang akan dicap kurang lebih 115 cm-150 cm.

c) Bantalan Cap. Bantalan cap ini terbuat dari bahan yang lunak seperti kapas atau busa. Tujuan digunakan bantalan adalah supaya hasil pengecapan malam bisa rata juga agar malam yang menempel pada kain tidak pada meja yang berakibat kain yang dicap akan lengket dengan meja. Tebal bantalan cap kurang lebih 3 cm-5 cm, luas bantalan dibuat sama dengan luas mejanya. Supaya tembusan lilin tidak menempel pada bantalan cap, maka bantalan dibasahi dengan sedikit air kemudian ditaburi pasir halus dan tipis merata keseluruh bantalan cap.

d) Wajan Cap. Wajan yang digunakan untuk mengecap ukurannya lebih besar dan dangkal dibanding dengan wajan yang digunakan untuk membatik. Hal ini untuk memudahkan dalam pengambilan malam saat cap dicelupkan kedalam wajan. Agar malam cair yang menempel pada cap tidak menetes, maka wajan diberi bebempa kain yang disusun menumpuk. Fungsi kain tersebut adalah untuk menyerap malam sehingga pada saat cap dimasukkan pada wajan, malam dapat menempel pada permukaan cap secara merata dan malam tidak menetes.

 

3) Dengan Dilukis (Batik Lukis)

Seni lukis batik merupakan perkembangan dari seni batik itü sendiri, yang pada mulanya seni batik lukis dibuat untuk keperluan ageman dan asesorisnya. Teknik pembuatan seni lukis batik pada hakekatnya sama dengan batik tulis atau cap, yaitu menutup dengan lilin dan kemudian baru dicelup dalam warna mulai dari wama yang terang menuju wama yang lebih tua atau gelap. Disamping teknik diatas, ada teknik pembuatan seni batik lukis yang disebut teknik pemutih yaitu dengan memulai dari wama yang gelap atau hitam menuju wama yang lebih muda atau terang.

Proses-proses pembuatan lukisan batik dengan teknik pemutih antara lain sebagai berikut:

a) Membuat sketsa atau desain pada kertas gambar untuk memastikan bentuk dan wama lukisan batik yang akan kita buat.

b) Mewarnai kain yang telah kita persiapkan dengan warna gelap (misal warna hitam). Untuk pewamaan menggunakan warna Direk yaitu pewarna kain sintetis yang cara penggunaannya dengan di rebus sampai mendidih.

c) Masukkan kain yang sudah dipersiapkan pada larutan pewarna.

d) Angkat kain kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.

e) Setelah kering buat sketsa pada kain tersebut dengan pensil.

f) Cairkan lilin/malam di atas kompor.

g) Selanjutnya proses pelilinan pada kain yang telah diberi sketsa dengan menggunakan canting atau kuas.

h) Proses selanjutnya yaitu pemutihan, caranya masukkan kain dalam larutan kaporit untuk mengangkat warna hitam yang tidak tertutup lilin supaya kembali pada warna semula 

i) Selanjutnya proses pewarnaan dengan menggunakan pewarna Naptol atau Indigosol

Caranya :

1. Mempersiapkan warna yang akan digunakan

2. Membuat larutan Naptol seperti pada pewamaan batik tulis

3. Membuat larutan Garam Diazo dengan air dingin sebagai pembangkit warna

4. Celup kain pada larutan Naptol lalu diangin-anginkan

5. Kemudian celup kain pada larutan Garam Diazo lalu cuci dengan air bersih

6. Selanjutnya menutup pada bagian-bagian tertentu pada motif dengan lilin sesuai keinginan

7. Lakukan pencelupan yang ke 2, ulangi pencelupan sampain 3 dan 4 kali

j) Proses selaniutnya adalah menghilangkan lilin pada kain dengan cara dimasukan pada air yang mendidih sambil dibolak-balik, kemudian bilas sampai bersih.

k) Pasang hasil batik lukis pada span/frame  

 

Wow :O ternyata lumayan ya teknik membatik itu memang bener-bener butuh ketelatenan tersendiri. 

 

Ceritaku Belajar dan Membuat Batik Kepret

Ngomong-ngomong soal membatik, sebenarnya sekitar 2 tahun lalu saya pernah belajar membatik. Hanya yang saya pelajari bukan batik klasik melainkan batik modern. Namanya Batik Kepret. Saya pernah posting tentang ini di blog, tapi lalu saya take down. Dan sekarang saya ingin menceritakannya ulang karena pas banget lagi bahas batik. Silakan disimak ya ^^

 

Batik kepret katanya sih jenis batik modern. Teknik batik ini ditemukan dan dikembangkan oleh Pak Yahya yang punya pemikiran "gimana caranya bisa menciptakan motif batik tapi dengan cara yg lebih sederhana tanpa canting". Akhirnya memang kita jadi menggunakan sapu lidi dan bukannya canting, yang notabene lebih sederhana, mudah didapat, dan murah biaya. Iiiih seneng deh sama yang berbiaya ekonomis, asyikk... .

Maka pada suatu pagi yang cerah di musim penghujan dua tahun lalu, datanglah Ibu Akih dan Ibu Neneng ke rumah saya untuk membatik bersama. Urusan membatik kepret sih sudah jadi makanan sehari-hari Bu Akih. Medsosnya rame sama foto-foto aktivitasnya membatik berikut hasil batikan kepretnya. Mantap jiwa. Bu Neneng sendiri lebih mendalami teknik shibori, ikat dan jumput kain. Tapi batik kepret pun beliau bisa membuatnya.

Waktu itu kami punya satu kain mori polos warna putih berukuran 2 m untuk digarap hari itu. Alat-alat sudah saya siapkan, antara lain kompor portabel, wajan, sapu lidi, dan kuas. Jadi Bu Akih dan Bu Neneng tinggal fokus bawa kain, pewarna, malam, dan beberapa bahan lainnya. Setelah ngeteh dan ngemil sebentar kami langsung terjun mengerjakan batik.

Untuk membuat pola pada kain, Bu Akih membawa obat nyamuk jadul yang melingkar-lingkar itu. Lalu saya dan Bu Neneng dengan agresif memotel-motelin daun nangka mini yang ada di halaman untuk pola tambahan . Senangnya membatik kepret ya gitu, bebas bereskperimen. Begitu malam mencair mulailah malam dikepret-kepretkan ke kain dengan bantuan sapu lidi. Prosesnya bikin lengan dan pinggang lumayan pegal.

 

Picture : lagi asyik mengepret-ngepretkan malam

 

Beres dikepret kain lalu diwarnai lalu dilapisi penguat warna. Bebas sih mau diwarnai model seperti apa. Bisa seperti lapisan pelangi, atau bulat-bulat, atau acak corak. Pada batik kepret tidak ada pakem tertentu. Makanya batik ini dirasa cocok banget buat yang gemar berkreasi, senang petualangan, suka kejutan, dan hobi selfie. Poin terakhir jelas mengacu pada diri saya sendiri yang mabuk dokumentasi pribadi di tengah sibuknya ngebatik . Ampuuuuun!.

Picture : mewarnai batik

 

Nah, sampe sini proses batik dihentikan dulu. Soalnya kita harus menunggu sampe kain kering. Lamanya tergantung cuaca juga. Untuk proses selanjutnya saya kerjakan sendiri tanpa dua partner dan guru tercinta. Ah, easy lah ya. Toh kita tinggal melorod kain kok. Enjoynya sama, tapi ngelorod batik cukup sendirian saja. Kalo bertiga nanti malah rebutan .

 

Kain saya kering sempurna di hari kedua. Jadi saya siapkan air mendidih yang di dalamnya telah dilarutkan soda abu. Matikan api kompornya lalu masukkan kain dan aduk-aduk 5-10 menit. Berikutnya kain tinggal dikucek-kucek bolak-balik hingga semua malam lepas. Awalnya warna pada kain luntur begitu, tapi setelah bilasan ketiga tampak kain sudah tidak ada lunturan warna lagi. Kalau sudah sampai pada tahap ini, kain tinggal direndam dalam deterjen yang ada pelembutnya sebentar. Bilas lagi lalu keringkan kain batiknya.

Picture : Proses melorod kain batik kepret, dijemur, hingga eksis jadi seprei kasur ruang mainnya Moonlight

 

Cukup satu hari saja untuk mengeringkan kain. Matahari lagi bersinar sangat cerah soalnya. Sorenya saya sudah asyik menyetrika kain batik, dan keesokan paginya kain batik itu sudah rapi menghias ruang main Moonlight, sama saya dijadikan seprei .

 

Dari pembuatan batik ini ada beberapa poin yang menjadi catatan saya.

  • Menurut saya, motif lingkaran dari cetakan obat nyamuknya signifikan terlihat, tapi untuk motif daun memang kurang muncul. Analisis yang paling masuk akal sih itu disebabkan oleh kurang rapatnya kepretan malam di area yang ada daunnya.
  • Proses pelorodan juga rada kelamaan dan kain sempat direbus di kompor berapi kecil. Warna jadi makin banyak yang hilang.
  • Lalu, saat mewarnai, meskipun kita murni bereksperimen pada motif batik yang dibuat, tapi harus tetap ada kesamaan pola warna agar ketika batiknya selesai dibuat, tak tampak bagian warna yang nyeleneh sendiri. Atau sekalian saja acak coraknya sehingga motif jadi ramai warnanya.

  

 

Pengalaman kedua saya membatik Batik Kepret itu satu bulan setelah belajar membatik yang pertama tadi.

Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah mendukung banget untuk berkreasi lagi dengan batik kepret. Cuma tinggal nunggu hari yang pas aja, hari yang cocok dimana tidak ada begitu banyak kesibukan. Ngebatik kepret sebenarnya ga makan waktu lama sih, tapi tetap aja ga bisa juga membuatnya dengan terburu-buru. Khawatir malah jelek hasilnya.

Selagi menunggu hari yang pas datang, tiba-tiba saya ada ide buat bikin pola bunga pake cetakan puddingnya moonlight buat diterapin di batik kepret. Polanya dibuat di kertas bekas kalender. Pemanfaatan kertas bekas kalender ini ide Bu Akih juga sih. Batik kepret memang wadah kreatifitas dan daur ulang kayaknya, selagi ada barang bekas yang bisa dimanfaatkan ya gunakan saja .

Pola bunga-bunga hasil ngejiplak dari cetakan puding saya bikin sekitar 100 buah. Lalu seperti biasa bunga-bunga tersebut disebar di seluruh bagian kain morinya. Malam dipanaskan di atas api kompor, dan setelah mencair lalu di kepret-kepretkan ke permukaan kain dengan bantuan sapu lidi. Gara-gara saya gagal menghidupkan kompor portabel, akhirnya saya gunakan kompor di dapur, sementara ngebatiknya dilakukan di halaman depan. Iiihh riweuh deh emak-emak ngebatik teh, jadi mondar-mandir manjah kayak setrikaan areng basah .

Picture : pola bunga dan penerapannya di kain mori

 

Beres mengepret tentu tiba saatnya mewarnai. Kali ini saya mencoba bentuk lingkaran "kruwel-kruwel" dengan ekspektasi hasilnya indah mempesonah, eh ternyata pewarna tuh memang begitu ya. Rada liar ga bisa ditebak kemana larinya. Akhirnya setelah berkutat beberapa saat, terciptalah motif seperti yang tampak pada foto di bawah ini. Waktu saya posting di medsos ada yang bilang mirip galaksi milky ways, ada yang bilang seperti target panahan juga. Rupanya sangking abstraknya motif ini, imajinasi orang-orang menjadi ikutan abstrak ya .

Ditengah-tengah proses mewarna fokus saya sempat pecah. Mungkin karena saya agak terburu-buru ingin cepat selesai karena hari sudah mulai mendung. Kalau keburu hujan, proses mengeringkan kain tentu makin sulit akibat terbatasnya ruang ngebatik yang digunakan. Jangan sampai deh kain batik yang masih basah oleh zat warna terkena air hujan pula. Bisa-bisa warna jadi jelek, dan batik pun rusak. Gara-gara sempat hilang fokus, saya lupa bagian mana saja yang sudah saya lapis zat warnanya, lalu sempat tertukar botol isi zat pewarna juga, dari yang seharusnya biru malah keambil warna hijau . Wah bikin batik ternyata bahaya juga ya kalo ga fokus. Akhirnya tahap mewarnai pun selesai. Hasilnya bisa dilihat seperti foto di bawah ini .

Picture : Proses mewarnai batik

Tak lama dari selesainya proses mewarnai, hujan pun turun. Padahal kain belum kering benar. Memang sih pewarnanya sudah ga netes-netes kalo kain diangkat, tapi alangkah baiknya kalo kain kering dalam posisi "dijembreng" seperti saat sedang diwarnai. Tapi karena hujan turun, akhirnya kain saya jemur di tempat jemuran besar. Curiganya sih bakal ada zat warna yang melipir ke bawah karena belum kering benar.

Dua hari kemudian cuaca masih mendung dan hujan. Kain batik akhirnya kering di hari ketiga. Saya langsung siapkan satu dandang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu sesendok makan. Kain batik dilorod, dicelup-celupkan dalam air tadi. Lalu dibilas dan dikucek hingga bersih hingga warnanya tidak lagi meluntur ketika dibilas. Terakhir, kain direndam deterjen yang mengandung pelembut. Setelah itu baru dijemur. Kalau sudah kering kain disetrika rapih.

Picture : Proses melorod dan menjemur kain batik

 

Beres dilorod baru deh ketahuan seperti apa motif yang terbentuk pada kain batik. Fotonya ada di bawah ini. Cukup jauh berbeda ya dengan motif awalnya. Teman-teman suka ga dengan motif batik kepret buatan saya kali ini, abstrak banget ya . Kalau saya sih suka. Ya sudah lah, kain batik ini mau saya bikin baju outer saya kalo begitu .

Picture : Hasil akhir kain batik

 

Dari pembuatan batik kali ini saya mencatat beberapa hal penting untuk pembelajaran ngebatik kepret ke depannya.

  • Kalo kain diwarnai selebar 5 cm, warna akan melebar menjadi 7-10 cm.
  • Pewarna dilapis 2 kali, warna menjadi lebih gelap dan tebal.
  • Kuas dipake untuk berbagai warna, warna yang terbentuk pasti kombinasi.
  • Menjemur kain terlalu cepat di jemuran baju setelah diwarnai, pewarna meleber ke bawah.
  • Kurang soda abu saat melorod, ya tabah aja jika malam jadi sukar meluruh.
  • Bikin batik di musim hujan, itu banyak cobaannya.
  • Kualitas kain mori mempengaruhi kualitas batik pada akhirnya. Kain mori yang saya gunakan kali ini mutunya dibawah kain mori yang saya pakai sebelumnya. Ternyata malam sukar dilorod, menempel kuat di kain, dan kain juga terlihat buluk akibat dikucek-kucek terlama kuat atau lama dalam rangka menghilangkan malam.

Meski beberapa hal tidak memuaskan hati saya, terutama karena hasil akhir terlihat sekali kain batik tidak begitu bagus kualitasnya akibat penggunaan kain mori bermutu rendah, hati saya tetap senang. Yah begitulah kalo ngebatik kepret , persis seperti filosofi shibori, batik kepret pun mengajarkan pada kita untuk menemukan keindahan dari ketidaksempurnaan.

Khusus perihal motif, saya juga mencatat beberapa hal dari pengerjaan batik kali ini. Motif bunga yang diharapkan muncul ternyata tidak begitu terlihat pada hasil akhir kan batik. Lain kali pola yang digunakan sebaiknya lebih jelas sudut-sudutnya dan dikepret lebih sering pas di pola tersebut agar motifnya terlihat di hasil akhir. Lalu motif lingkaran pewarna tampak terbentuk di hasil akhir, namun gara-gara proses pewarnaannya yang tidak merata ketebalannya dan sempat tertukar warna, jadi di hasil akhir terlihat ada bagian yang tebal warnanya dan ada juga yang tidak.

Picture : motif bunga jadi terlihat seperti bentuk lingkaran kecil biasa. Pewarnaan yang tidak merata membuat bagian tersebut tampak tidak tebal warnanya

Picture : pewarna meleber ke bawah karena kain dijemur dalam kondisi yang belum kering benar

 

Banyak pengalaman yang saya dapat dari membuat batik kepret. Lain kali saya sebenarnya mau mencoba ngebatik kepret dengan kain mori yang bermutu bagus atau mungkin juga malah gunakan kain mori jenis yang berbeda biar nanti tahu hasil akhirnya seperti apa bedanya.

 

Baca Artikel Terkait Lainnya:
 
 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku Omoiyari - Erin Niimi Longhu…

27-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : Omoiyari The Japanese Art of Compassion Penulis : Erin Niimi Longhurst Ilustrator: Ryo Takemasa Jenis Buku : Self Improvement - Phylosophy Penerbit : HarperCollins Publishers Tahun Terbit : Juli 2020 Jumlah Halaman :  224 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku A Time for Mercy - John Gris…

20-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 Amazon Charts This Week   Judul : A Time for Mercy (Jake Brigance Book 3) Penulis : John Grisham Jenis Buku : Legal Thriller Penerbit : Doubleday Books – Penguin Random House LLC Tahun Terbit : Oktober 2020 Jumlah...

Read more

Review Buku To Sleep in A Sea of Stars -…

13-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor’s Pick Best Science Fiction & Fantasy on Amazon a New York Times and USA Today Bestseller To Sleep in a Sea of Stars is a brand new epic novel from #1 New York Times bestselling author of Eragon, Christopher...

Read more

Review Buku I Have Something to Say - Jo…

07-11-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : I Have Something to Say Mastering the Art of Public Speaking in an Age of Disconnection Penulis : John Bowe Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

20-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

The Disrupted Disruption

06-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

04-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

02-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

TERBARU - DIPIDIFFTALKS

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more