Review Buku Pengakuan Eks Parasit Lajang - Ayu Utami

Published: Friday, 11 August 2017 Written by Dipidiff

 

Judul : Pengakuan Eks Parasit Lajang

Penulis : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit : Cetakan Pertama Februari 2013

Jumlah Halaman : 306

Buku ini dibaca di iPusnas

 

Sekelumit Isi Cerita

Gadis ini berlatar belakang keluarga dengan ayah yang keras dan ibu yang lembut. Sejak kecil memang sudah terlihat banyak mempertanyakan hal-hal yang kecil maupun yang besar. Sifatnya yang kritis serta keras kepala sepertinya diwariskan oleh sang ayah. Ia sendiri suka menyebut garis keluarga ayahnya sebagai keluarga monster.

 

Jadi ketika ia mencapai usia 20 tahun, sampailah ia pada keputusan untuk melepas masa keperawanannya. Masalahnya adalah siapa laki-laki yang akan menjadi partner seksualnya untuk pertama kali. Lalu bertemulah ia dengan Nik, laki-laki tampan teman kampusnya di UI, yang awalnya tertarik dengannya tapi lalu menghindarinya dengan cepat setelah melihat ia berkalung salib. Setelah Nik lalu ada Mat, yang ini lengket padanya dan segera jadi pacarnya. Tapi dengan Mat kah ia menyerahkan keperawanannya? Ternyata bukan.

 

Bertahun-tahun menjadi pacar laki-laki itu (yang berarti berpuluh-puluh kali ia melakukan seks dengannya) tidak membuatnya berpikir untuk menikah. Buat apa menikah jika wanita pada akhirnya berada di bawah kekuasaan suami? Tidak ada kesetaraan, yang ada hanya tunduk manut pada laki-laki yang disebut kepala keluarga? Kenapa bukan wanita saja yang jadi kepala keluarga?

 

Lalu bertemulah ia dengan pria lain yang lebih pintar bicara, punya banyak wawasan, namun suami orang. Hatinya jadi lebih tertarik dengan pria baru ini, dan resmilah ia menjadi peselingkuh. Peselingkuh yang punya aturan katanya. Agar fair dengan si istri dari pria selingkuhannya.

 

Kemudian di sepanjang hidupnya dia bertemu lagi dengan dua pria baru. Dua pria ini lah yang kelak akan mengubah sudut pandangnya atas pernikahan.

 

Cover

Saya suka sekali dengan disain cover buku ini. Ternyata disain e-book maupun buku fisiknya sama ya. Warna-warni yang cerah seolah-olah mewakili gairah remaja yang penuh kegembiraan. Tampak pula siluet tubuh wanita yang terekspos jelas lekuk-lekuknya. Pas dengan judul dan isi bukunya yang blak-blakan membicarakan sensualitas seorang perempuan.

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama, aku atau A, adalah perempuan yang diceritakan dari masa kecil hingga dewasanya di buku ini. Ia cerdas, berani, kritis, pandai menulis, dan cantik. Dalam hidupnya ia banyak mempertanyakan tentang seksual, gender, pernikahan, wanita dan karir, urusan kemanusiaan, serta agama. Gara-gara sifat-sifatnya itulah hidupnya jadi banyak lika-likunya. 

 

Tokoh lain yg punya peranan penting adalah Nik dan Rik, dua pria dalam hidup A, Nik lelaki pertamanya yang sebenarnya kuat agamanya tapi tetap tak kuasa menolak godaan birahi. Lalu Rik, si fotografer yang hidup bebas namun akhirnya ingin mengikatkan diri pada A. Mereka dua orang dengan karakter yang berbeda. Masing-masing punya prinsip hidup yang berbeda pula.

Nah, kalau saya sampai bisa menyebutkan dengan jelas karakter-karakter tokoh, berarti Ayu Utami piawai ya dalam menulis cerita.

 

Alur dan Setting

Buku ini punya alur yang mundur lalu maju. Awalnya menceritakan A yang berusia 20, lalu mundur ke masa kecil, kemudian maju hingga A selesai kuliah dan bekerja. Kadang tiba-tiba kita diajak berbicara tentang masa lalu, tapi tak banyak menghabiskan bagian cerita sehingga tidak saya masukkan ke dalam bagian alur. Bikin pusing ngga? Menurut saya sih tidak. Justru membuat pembaca nyaman karena biasanya itu dilakukan penulis untuk menjelaskan alasan suatu peristiwa terjadi akibat sesuatu hal di masa lampau.

 

Kisah buku ini menggambil latar yang cukup bervariasi. Mulai dari rumah, kamar, kampus, suatu tempat di Jakarta, Bogor, dan lain-lain. Deskripsi latarnya cukup untuk kita yang membaca bisa mengimajinasikannya dalam pikiran, namun tak cukup detail hingga kita bisa mendefinisikan latarnya secara pasti. Ga asyik dong? Ah, menurut saya cukup, sebab tidak merusak kualitas cerita, dengan gayanya Ayu Utami, model deskripsi latar begini justru seolah sengaja diberikan agar pembaca bebas berimajinasi selama membaca cerita.

 

Pilihan Kalimat

Ada sebab mengapa Ayu Utami dikenal sebagai penulis yang spesial. Saya kira itu karena keberaniannya dalam mengangkat topik cerita yang tidak biasa untuk novelnya, termasuk buku yang sedang saya baca ini. "Pengakuan Eks Parasit Lajang", judul macam apa itu. Saya saja jadi bertanya-tanya seperti apa isinya kalau judulnya ada parasit-parasitnya segala.

 

Belum lagi judul bab-babnya yang ga kalah "unik" nya, contohnya "Seorang Gadis yang Melepas Keperawanannya dan Jadi Peselingkuh", serta ,"Bocah yang Kehilangan Imannya". Tentu membaca judul tersebut membuat pikiran mau tak mau mengarah pada hal-hal yang negatif.

Tapi, justru karena pilihan kalimat seperti itu lah yang membuat saya tertarik dan penasaran untuk membaca buku-buku Ayu Utami, di samping Gramedia sendiri memang memasukkan buku-buku Ayu sebagai salah satu buku yang direkomendasikan bagi pembaca dewasa.

 

Keberanian Ayu dalam mengangkat topik gender, agama, strata sosial, karir, cinta, nafsu, dan seksual tertuang dengan gamblangnya melalui kalinat-kalimat yang ia pilih dalam bukunya. Bahkan menyebutkan nama alat kelamin pun tak sungkan ia tuliskan.

Sungguh lancang bukan. Tapi kelancangannya jadi terkesan jujur, jika saja pembaca bisa melihatnya dari sudut pandang si A, situasi, dan bertindak sebagai penilai yang objektif. Lagipula, gadis macam A, Nik, Mat, dan Rik banyak berseliweran di muka bumi. Mau diingkari bgaimanapun juga, mereka nyatanya ada.

 

Meski perbincangan serupa kontemplasi ini menarik untuk disimak, tapi kadang juga membuat saya merasa lelah. Pertentangan nurani A yang ia sebut sebagai sistem komputer itu, agaknya sedikit menjemukan karena berputar-putar dan (maafkan) bertele-tele. 

A pun masuk ke dalam komputer otaknya. Sebuah sistem "pemeriksaan batin" yang bekerja dengan prinsip-prinsip konsistensi. Sistem ini akan memindai adalah "inkonsistensi internal" atau dan menelusuri adakah "kesalahan ontologis".

...

A' : Di mana batas lelaki dan manusia?

Komputer menjawab

A'' : Batasnya, ada manusia yang bukan lelaki. Ada manusia yang perempuan. Dan mungkin saja kelak ditemukan jenis lain. Manusia lebih luas daripada lelaki. Lelaki lebih sempit daripada manusia.

A' : Hmm. Kalau begitu, di mana batas antara kelelakian dan kemanusiaan?

A'' : Batas pertama adalah adanya sperma. Tapi, jika demikian maka "anak lelaki" yang belum memproduksi sperma bukanlah lelaki. Dan "lelaki" yang gagal memproduksi sperma juga bukan lelaki. Batas pertama agaknya terlalu sempit. maka batas kedua, yang sedikit luas, adalah adanya sistem yang berpotensi memproduksi sperma. Wujud gamblangnya dari sistem itu adalah penampakan penis dan aparatnya.

A': Jadi, kalau begitu, jika ada sosok yang mirip lelaki tetapi tidak punya penis dan bola-bola, apakah dia bukan lelaki?

(Halaman 252)

 

Namun tetap saja, gaya penulisan seperti di atas tidak umum ya. Dan yg paling mempesona dari tulisan Ayu Utami justru di kekuatannya dalam berdebat, mono-debat tepatnya, karena ini terjadi dalam pikiran satu orang saja. Hati-hati, saya tidak terkejut jika ada pembaca yang akhirnya berubah prinsip dan cara pandang gara-gara membaca buku ini. Kenapa? Itu karena bahasa dan gaya Ayu Utami yang sangat persuasif  dan argumentatif. Luar biasa.

Aku hanya berkecimpung sebentar saja di dunia model. Aku merasa tak cocok dengan pergaulan di sana. Tak lama setelah itu, aku menjadi wartawsn. pekerjaan ini lebih mendekatkan aku pada dunia pemikiran. Di dunia baru ini orang menertawakan mereka yang tolol dan miskin pengetahuan. tapi pengalamanku yang sebentar di dunia model itu dan perpindahanku ke dunia tulis-menulis memberiku pelajaran berharga.

Aku jadi tahu bahwa setiap lingkungan memiliki nilai-nilainya sendiri. Di dunia peragawati manusia dipuja berdasarkan panjang kaki yang dimiliki. Di dunia tulis menulis berdasarkan berapa banyak buku yang dibaca atau ditulis. Di tempat lain dengan kriteria lain. Setiap nilai memiliki pemenang dan pecundangnya masing-masing.

Di situlah aku berpikir bahwa, demi keadilan bagi setiap manusia, memang sebaiknya ada banyak sistem nilai. Sehingga orang yang terpinggirkan di satu sistem nilai bisa mendapatkan tempat di sistem nilai yang lain. Setidaknya, memperkecil kemungkinan orang terpinggirkan.

Tak ada manusia yang ingin terpinggirakan. dan jangan kita mencoba mencari totalitas nilai. Jangan kita membikin hirarki kesempurnaan. Dari pengalaman inilah aku sungguh-sungguh percaya bahwa keberagaman itu perlu, demi keadilan dan kemanusiaan.

(Halaman 62)

 

Ada satu halaman khusus yang saya tandai di buku ini. Paragraf tersebut saya catat lebih disebabkan karena kali ini saya sependapat dengan yang diutarakan.

Aku memang senang mentraktir Nik kalau aku mau. Tapi aku tidak bisa terima jika ia yang minta dibelikan sesuatu olehku. Bahkan sekalipun itu hanya sebatang coklat. Untuk yang melibatkan uang, lelaki hanya boleh memberi. Ia memang boleh menerima dan berterimakasih, tapi pasti ia tidak boleh meminta. Aku tidak bisa mentolerir lelaki yang meminta.

(halaman 52)

 

Sekilas Tentang Buku dan Penulisnya

Pada hakikatnya, ini cerita tentang perjalanan seorang wanita bernama A dalam mencari jati diri, prinsip-prinsip, dan makna kehidupannya. Teman-teman harus membaca buku ini sampai habis, agar bisa mengambil kesimpulan yang tepat. Akankah A kembali ke norma-norma masyarakat pada umumnya? Itu hanya akan terjawab di bab-bab akhir.

 

Khusus untuk ending, saya puji Ayu Utami karena berhasil menutup kisahnya dengan satu adegan dan satu kalimat yang sederhana namun mengena. Bravo!

 

Pujian yang pantas mengingat Ayu Utami adalah novelis yang telah mendapatkan banyak penghargaan di dalam dan luar negeri. Novel pertamanya "Saman" terjual 55ribu eksemplar dan mendapat penghargaan Prince Clause Award 2000.

 

Buku Si Parasit Lajang juga terbit di tahun yang sama dengan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Tampaknya buku-buku ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Mengingat Ayu Utami adalah aktivis jurnalis yang concern pada feminism, saya menduga kisah di beberapa bukunya erat kaitannya dengan kehidupan dirinya sendiri. Dan khusus buku Pengakuan Eks Parasit Lajang, buku ini memang autobiografi Ayu Utami.

 

Rekomendasi

Hanya pembaca dewasa! Atau pembaca yang telah memiliki kematangan dalam cara berpikir. Saya rekomendasikan buku ini untuk kalian yang suka dengan tema tak biasa (gender, nilai moral, norma dalam masyarakat, seksual, agama, dll), serta menikmati gaya bahasa yang "nyeleneh" serta "blak-blakan", juga yang senang pada jenis buku yang mengajak pembaca untuk berpikir dan merenung.

 

Catatan lain 

Saya baca buku ini di iPusnas ya. Jadi bukan berbentuk buku fisik. Silakan download aplikasi iPusnas di playstore lalu daftar menjadi anggota lalu download bukunya di sana.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku House of Earth and Blood (Cr…

31-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  A #1 New York Times bestseller!   Judul : House of Earth and Blood (Crecent City #1) Penulis : Sarah J. Maas Jenis Buku : Adult Fantasy Penerbit : Bloomsbury Publishing (UK)  Tahun Terbit : Maret...

Read more

Review Buku Make Noise - Eric Nuzum

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Make Noise A Creator’s Guide to Podcasting And Great Audio Storytelling Penulis : Eric Nuzum Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Workman Publishing Tahun Terbit : Desember 2019 Jumlah Halaman : 264 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku All the Rage - Cara Hunter

14-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : All The Rage Penulis : Cara Hunter Jenis Buku : Detective Crime Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : Desember 2019 Jumlah Halaman :  464 halaman Dimensi Buku :  12.90 x 19.70 x 3.50...

Read more

Review Buku Minimal - Madeleine Olivia

07-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : Minimal How to Simplify Your Life and Live Sustainably Penulis : Madeleine Olivia Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : Januari 2020 Jumlah Halaman :  320 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku The Fifth To Die - J.D. Bark…

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Fifth To Die Penulis : J.D. Barker Editor : Ani Nuraini Syahara Jenis Buku : Psychological Thriller Penerbit : Bhuana Sastra Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :  740 halaman Dimensi Buku :  13.5 x 20...

Read more

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more