0

Review Buku One True Loves - Taylor Jenkins Reid

Published: Friday, 01 July 2022 Written by Dipidiff

 

Named a Best Book of Summer by Cosmopolitan

* InStyle * Redbook * Us Weekly *PopSugar * Buzzfeed * Bustle * Brit+Co * Parade

  

Judul : One True Loves

Penulis : Taylor Jenkins Reid

Jenis Buku : Romance

Penerbit : Simon & Schuster Ltd

Tahun Terbit : 2022

Jumlah Halaman : 352 halaman

Dimensi Buku : 13 x 19,90 x 2,60 cm

Harga : Rp. 245.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781398516687

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplusbandung, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

One True Loves bercerita tentang Emma Blair, yang menikah dengan kekasih masa sekolahnya, Jesse. Mereka membangun rumah tangga dan sedapat mungkin mandiri, hidup merantau, terpisah dari keluarga mereka di Massachusetts. Pada ulang tahun pernikahan pertama, Jesse hilang dalam penerbangannya dengan helikopter. Emma kembali ke Massachusetts, berduka, dan berusaha bangkit kembali, lalu jatuh cinta dengan Sam. Ketika Emma dan Sam bertunangan, Emma begitu bahagia, sampai kemudian Jesse ditemukan. Jesse ternyata masih hidup, dan berusaha bertahun-tahun untuk kembali. Emma kini harus memilih, suami atau tunangan. Siapa cinta sejatinya? dan apakah benar ada yang namanya cinta sejati?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Desainnya genre romance banget ya. Saya suka kombinasi warnanya, dan sosok wanita di cover sudah pasti adalah Emma. Kalo liat vibes latarnya, kok jadi inget profesi Emma yang travel writer, tapi liat posisi menengadahnya Emma, langsung ingat tentang Jesse yang mengalami kecelakaan helikopter. Atau wajah Emma yang membelakangi seolah seperti terikat masa lalu. Menebak-nebak makna sebuah sampul buku memang asyik dan saya yakin pendapat kita belum tentu sama.

 

Tokoh dan Karakter

Emma Blair

Marie Blair

Jesse Lerner

Sam

The True Loves memang bukan romance biasa, setidaknya ini pendapat saya. Mungkin juga karena saya awalnya berekspektasi novel ini jenis romansa yang syahdu mendayu-dayu. Tapi ada pula alasan lainnya, yakni karena tiga tokoh utama dalam cerita sama likeable-nya. Ada Emma yang tulus hatinya, ada Sam yang setia, dan ada Jesse yang sama baik hatinya. Antagonis cerita memang bukan orang melainkan situasi. Jarang-jarang saya menemukan novel yang 'penjahatnya' murni situasi, biasanya dari karakter utama ada saja kelemahannya, dan atau jelas ada tokoh antagonisnya. Di buku ini ada sih tokoh minor yang rada nyebelin, tapi terlalu minor perannya sehingga tidak begitu berdampak dalam plot.

Deskripsi fisik tokoh-tokohnya cukup detail. Saya mendapat kesan Emma ini tidak cantik karena kakak perempuannya jauh lebih populer di sekolah. Tapi nyatanya Emma cantik kok, mungkin jatuhnya menarik ya, karena Jesse yang digambarkan cowok paling populer tertampan di sekolah, juga Sam yang ga kalah cakepnya, suka sama Emma.

I am thirty-one, five foot six, with a blond, grown-out pixie cut. My hazel eyes are upstaged by a constellation of freckles on the tip of my right cheekbone. My father often jokes he can make out the Little Dipper.

...

Sam in handsome in a friendly way - which I think might just be the best way to be handsome - with warm brown eyes that seem to look at everything with tenderness. And he's funny. Truly funny. After Sam and I started dating, I noticed my laugh lines were getting deeper. This is most likely because I am growing older, but I can't shake the feeling that it's because I am laughing more than I ever have. What else could you want in a person other than kindness and humor? I am not sure anything else really matters to me.

Page 3

Jesse had grown up to be even more handsome than he had been cute. His shoulders had grown wider, his back more sturdy. No longer training, he had gained weight in his torso, but it was weight that fit him fine. His cheekbones stood out in almost any light. And his smile had matured in a way that made me think he d be handsome late into life.

Page 60

 

Alur dan Latar

Alur cerita maju dengan kecepatan sedang-cepat. Pov 1 Emma.

Ending cerita ini tertutup, dan sebenarnya lumayan predictable. Dan saya lega dengan penyelesaian konfliknya. 

Setting banyak mengambil lokasi di Massachussett, dengan rumah, apartemen, dan bookstore sebagai latar cerita, yang setelah saya pikir deskripsinya sangat secukupnya saja, sama sekali tidak rinci. Fokus kisah Emma memang banyak di perasaan dan pikiran para tokoh, membangun emosi dari konflik yang ada, yang mana menurut saya berhasil. 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Nama Taylor Jenkins Reid populer terutama sejak novelnya yang berjudul Daisy Jone's & The Six laris manis disukai pembaca. Selain penulis buku, ia juga menulis esay. Ini mengingatkan saya pada Elif Safak yang profilnya mirip-mirip seperti Jenkins Reid.

Agak menggelitik juga waktu baca info kategori novel ini yang masuk literary fiction tapi juga romance comedy. Dalam bayangan saya buku ini mestinya punya kombinasi yang unik dalam cerita dan narasinya. Apalagi waktu tau novel ini punya pencapaian juga. Fix lah saya pilih untuk bacaan bulan ini.

Literary fiction dan contemporary romance rasanya lebih tepat buat One True Loves, bukanya romantic comedy *in my opinion, pasalnya saya tidak menemukan bagian humor yang menonjol dalam buku, tapi dialog antar tokoh serta narasi memang terasa renyah.

Buat yang suka romance tapi ga suka unsur dramatisasi konflik yang bikin hati ikutan panas, nah novel ini bisa dicoba.

Yang paling saya sukai dari novel ini pada akhirnya adalah ide konfliknya. Mungkin teman-teman ada membaca novel lain dengan konflik serupa, tapi buat saya konflik yang diciptakan Taylor Jenkins Reid untuk buku ini terasa menarik. Emma sudah move on dari suaminya yang dinyatakan meninggal - hilang dalam kecelakaan helikopter, lalu ketika dia jatuh cinta lagi dan bertunangan, ternyata suaminya *yang juga ia cintai, ditemukan dan kembali ke dalam hidup Emma. Saya bisa membayangkan betapa rumitnya situasi tersebut. Sebuah situasi yang mustahil dimana si wanita harus memilih antara suami yang dia pikir hilang dan tunangan yang dia cintai di masa kini. Kalo saya jadi Emma apa yang akan saya lakukan ya (?) Fakta bahwa sulit untuk menjawab pertanyaan itu membuat saya sangat tertarik dengan konflik buku ini.

I feel awful for giving up on Jesse. For thinking he was dead. For moving on. For falling in love with someone else. I'm actually furious at myself for that.

But I'm also really angry at myself for not being loyal to Sam, for not remaining steadfast and true in my devotion, like I have promised him I would be. I am mad at myself for being unsure, for not being the sort of woman who can tell him he's the only one, for not giving him the kind of love he deserves.

I'm mad at myself for a lot of things.

So much so that I barely have time to consider what anyone else thinks of me.

Page 155

 

Ada hal menarik lainnya yang saya temukan di buku, tentang the Baader-Meinhof phenomenon. Ilusi frekuensi, atau fenomena Baader-Meinhof atau bias frekuensi, adalah bias kognitif di mana setelah memperhatikan sesuatu untuk pertama kalinya, ada kecenderungan untuk memperhatikannya lebih sering, membuat seseorang percaya bahwa sesuatu itu memiliki frekuensi yang meningkat. Dalam kisahnya Emma, sejak dia merasakan ketertarikan pada Jesse, dia merasa Jesse seolah ada dimana-mana. Rasanya relate ya, inget-inget dulu jaman sekolah pernah deh mengalami hal yang sama :D

That week at school, I noticed Jesse in the hallway almost every day. Now that I knew who he was, he was every where.

"That's the Baader-Meinhof phenomenon," Olive said when I mentioned it at lunch. "My brother just told me about this. You don't notice something and then you learn the name for it and suddenly it's everywhere." Olive thought for a moment. "Whoa. I'm pretty sure I have the Baader-Meinhof phenomenon about the Baader-Meinhof phenomenon."

 

Ada pula di buku ini tentang isi pikiran seorang remaja. Orang-orang dewasa sering bilang ke remaja, "suatu hari nanti kamu bakal merasakan deh, cepat atau lambat akan... bla bla bla..", dan si remaja merespons kalimat ini dengan sikap tak peduli atau sambil lalu. Namun persis seperti yang dikatakan orang dewasa tersebut, akhirnya memang cepat atau lambat akan kejadian, bahwa waktu akan berlalu dengan cepat, bahwa sibling rivalry akan berakhir dan berujung saling membutuhkan, dll. Di sini tokoh Emma kebetulan punya kakak perempuan yang di masa remajanya jadi rival bagi satu sama lain, tapi di dasar hati mereka tetap saling peduli.

Adults love to tell teenagers that "one day" and "sooner or later" plenty of things are going to happen. They love to say that things happen "before you know it," and they really love to impart how fast time "flies by."

I would learn later that almost everything my parents told me in this regard turned out to be true. College really did "fly by." I did change my mind about Keanu Reeves "sooner or later." I was on the other side of thirty "before I knew it." And, just as my father said that afternoon, "one day" I was going to need my sister very, very much.

But back then, I shrugged it off the same way teens all over the country were shrugging off every other thing their parents said at that very moment.

"Marie and I are not going to be friends. Ever. And I wish you guys would let up about it."

My father listened, nodding his head slowly, and then looked away, focusing instead on tidying up another stack of bookmarks. then he turned back to me. "I read you loud and clear," he said, which is what he always said when he decided that he didn't want to talk about something anymore.

Page 30

 

Dari tokoh Jesse ada poin penting tentang memperjuangkan keotentikan diri dan passion karena tiap orang berutang pada dirinya sendiri dan tidak mengandalkan orang lain, bahkan orangtua sekalipun.

"If you want to do something, you have to do it."

"What? That doesn't even make sense."

"Of course it does. If you want something as passionately as you clearly want this, that means you owe it to yourself to make it happen. That's what I m doing. I want out so I'm getting out. I'm going far, far away. You should, too," he said.

"I don't think my parents would like that," I said.

"Your parents don't have to be you. You have to be you. My philosophy is that, you know, you did it their way for a long time. Soon, it's time for your way."

Page 54

 

Buat pecinta buku yang suka kalo tokoh-tokohnya berlatar profesi literasi apalagi punya bookstore, novel ini coba dipertimbangkan :). Keluarga Emma punya toko buku, Emma kuliah di bidang jurnalisme, dan Emma profesinya travel writer, juga penulis. Kayaknya asyik ya ngebayangin part ini. Disinggung singkat juga kalo toko buku keluarga Emma ini suka ngadain jumpa penulis rutin tiap bulan, event tanda tangan buku, workshop kepenulisan, dan klub buku. Aduh jadi pengen ke toko bukunya hahaha.

I became a journalism major and I worked hard at improving my interviewing techniques and imagery, as per the advice of most of my professors.

I graduated college a writer.

That's the part that I knew killed Marie.

I was the writer of the family while she was in Acton, running the bookstore.

It had taken me a couple of years to get a job that sent me out on assignments, but by the age of twenty-five, I was an assistant editor at a travel blog, with a tiny salary but with the luxury of having visited five of the seven continents.

Page 59

 

We have author events at least twice a month. We have signed copies of best-selling books. We have eleven different reading groups and a writers workshop that each meet here once a month. We have a thriving online business. We have exceptional customer service. We have free doughnuts once a week.

I am especially proud of the free doughnuts.

Page 144

 

Konflik batin Emma salah satunya tentang aktualisasi. Mungkin karena efek sibling rivalry sejak kecil juga, makanya Emma tanpa sadar selalu ingin membuktikan dirinya bisa seperti Mary atau lebih dari kakaknya tersebut. Dorongan ini membuatnya ingin meraih banyak pengalaman di luar sana, dengan jiwanya yang bebas, ia selalu bermimpi untuk hidup jauh dari orangtua. Adakah di antara kalian yang relate dengan perasaan dan pikiran ini? Kalo saya sih iya. Ada satu episode saya di masa remaja dan muda dewasa yang ingin jauh dari orangtua dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, menjalani kehidupan yang penuh impian.

The very moment these questions occurred to me, I started to realize that my life plans had never really extended past my twenties. I had never asked myself if I always wanted to be traveling, if I always wanted to live so far from my parents.

Page 72

 

Ini wise menurut saya. Makanya saya tandai dan kutip ketika menemukan part ini di dalam buku. Hal-hal baik itu ga menunggu kita siap, tapi kitanya yang harus selalu siap dan menciptakan momen-momen baik dalam hidup kita.

Good things don't wait until you're ready. Sometimes they come right before, when you're almost there.

And I figured when that happens, you can let them pass by like a bus not meant for you. Or you can get ready.

So I got ready.

Page 105

 

Pernah kepikiran tentang flirting ga? Kenapa ya saling menggoda itu menyenangkan (jika situasinya tepat tentunya). Waktu baca ini di kisah Emma, saya jadi kepikiran. It feels so good to flirt. Ada rasa gembira dan bertanya-tanya apa yang akan dikatakan oleh si dia. Ada sensasi ketika tahu seseorang melihat kita dan menyukai apa yang dia lihat. Menggoda itu mungkin sama seperti jatuh cinta pada diri sendiri seperti halnya jatuh cinta pada orang lain. Suatu kesempatan untuk melihat diri kita melalui mata seseorang dan kemudian tersadar ada banyak hal yang disukai dari diri sendiri. Kalo bukan karena baca buku ini, saya ga akan punya sisi perenungan soal flirting :D.

 

"You seem to get even more beautiful with time," he said.

"Oh, stop it," I said, pushing his shoulder away with my hand.

I was flirting. Me. Flirting.

I feels so good to flirt. No one ever talks about that. But in that moment, I felt like flirting was the very thing that made the world go around.

The excitement of wondering what the other person will say next. The thrill of knowing someone is looking at you, liking what they see. The rush of looking at someone and liking what you see in them. Flirting is probably just as much about falling in love with yourself as it is with someone else.

It's about seeing yourself through someone's eyes and realizing  there is plenty to like about yourself, plenty of reasons someone might hang on your every word.

Page 114

 



Btw, selain romance, ada topik keluarga dan persahabatan juga di sini. Tentang kakak adik yang dulu ga akur dan sahabat sejati yang terus mendampingi apapun yang terjadi. Peluang konflik untuk diperdalam sebenarnya cukup terbuka menurut saya, tapi di satu sisi saya lega juga novel ini cukup begini saja. Ga terlalu berat tapi tetap berisi, bukan hanya seputar cinta yang mendayu-dayu narasinya.


Tone ceritanya sendiri semacam gabungan antara manis, hangat, kelabu, sedih, gamang, dan damai. One True Loves bukan novel yang bergejolak romantisme dan dramanya, namun lebih tenang tapi bukan berarti ga ada badai di sana.


Sebagai penutup, dari kisah One True Loves saya merenungkan pengambilan keputusan dalam hidup, misalnya tentang masa lalu dan saat ini serta masa depan, juga tentang jati diri dan cinta. Cinta sejati itu apa sih? Mengutip apa yang tertulis di buku ini, mungkin cinta sejati adalah menjaga seseorang sekuat tenaga meski tahu bahwa ikatan yang ada belum tentu bertahan lama.

Maybe true love is warming someone up from the cold, or tenderly brushing a hair away, because you care about them with every bone in your body even though you know what's between you won't last

Page 287



Siapa Taylor Jenkins Reid

Taylor Jenkins Reid adalah penulis novel terlaris di New York Times Malibu Rising, Daisy Jones and the Six, dan The Seven Husbands of Evelyn Hugo, serta One True Loves, Maybe in Another Life, After I Do, dan Forever, Interrupted . Dia tinggal di Los Angeles. Novel pertamanya, Forever, Interrupted, diterbitkan pada 2013. Novelnya The Seven Husbands of Evelyn Hugo diterbitkan pada 2017.

Novel ini dinominasikan untuk Penghargaan Pilihan Goodreads untuk Fiksi Sejarah Terbaik 2017 dan finalis untuk penghargaan Book of the Month's Book of the Year pada 2017. (wikipedia)

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada pecinta genre romance yang mencari romance modern masa kini, dengan tokoh-tokoh yang likeable, renyah, ringan tapi tetap berisi, tonenya hangat dan konfliknya ga drama ala sinetron, lebih mature dan wise. Ini kisah tentang apa itu cinta sejati dan dengan membaca ceritanya hingga selesai, jawaban atas pertanyaan itu bisa ditemukan. Ini juga tentang cinta dan masa lalu serta menentukan pilihan. Selain romance ada pula sisi keluarga yang diangkat.

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645 an Diana Fitri

Gopay 081959986001

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Twyford Code - Janice Ha…

20-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The Sunday Times Bestseller   Judul : The Twyford Code Penulis : Janice Hallett Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers Penerbit : Profile Books Tahun Terbit : July 2022 Jumlah Halaman : 400 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

Review Buku Dimensi Langit Manusia - Ast…

11-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Dimensi, juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020 Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia   Judul : Dimensi Langit Manusia Penulis : Astrida Hara Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : MCL...

Read more

Review Buku Bino - Zaki Jaihutan

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Bino Penulis : Zaki Jaihutan Jenis Buku : Horor Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Juni 2021 Jumlah Halaman : 288 halaman Dimensi Buku : 13 x 19 cm Harga : Rp. 96.000*harga sewaktu-waktu dapat...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more