0

Review Buku Love on The Brain - Ali Hazelwood

Published: Wednesday, 07 September 2022 Written by Dipidiff



From the bestselling author of The Love Hypothesis.

Amazon Charts #11 This Week

A #1 LibraryReads and Indie Next Pick!

 

Judul : Love on The Brain

Penulis : Ali Hazelwood

Jenis Buku : Romantic Comedy, Contemporary Romance

Penerbit : Berkley Books

Tahun Terbit : 2022

Jumlah Halaman : 368 halaman

Dimensi Buku : 20.96 x 13.97 x 2.39 cm

Harga : Rp. 184.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780593336847

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplusbandung, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Love on The Brain berkisah tentang Bee Königswasser yang ditawari memimpin proyek neuroengineering di NASA. Tawaran ini sangat besar artinya karena membuka peluang dan pengakuan bahwa ia kompeten di dunia yang didominasi oleh pria. Dengan rambut ungu dan tubuhnya yang mungil, Bee 'membalas dendam' dan 'mematahkan' semua diskriminasi gender dengan otaknya yang jenius-cemerlang. Namun antusiasme, semangat dan kepercayaan diri yang membuncah ini harus menghadapi tantangan besar seketika, begitu dia tahu pemimpin proyek besar itu adalah Levi Ward. Yang Bee tahu pria itu membencinya, memandang rendah dirinya, bahkan menganggapnya tidak ada. Akankah Bee berhasil menyelesaikan proyek ini? Seperti apa hubungan Bee dan Levi pada akhirnya?

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada hanya pembaca dewasa yang mencari novel romance berlatar akademisi, dengan STEM heroine yang cantik dan berotak brilian. Kedua tokoh utama likeable dengan konflik internal masing-masing selain konflik external menyelesaikan proyek, dan misteri sabotase proyek. Proporsi romansanya banyak dengan tipe enemy to lover.

Catatan: sexual scenes. *Baca sesuai usia.

 

 

This Book Review Might Have Spoiler!

 

Tokoh dan Karakter

- Bee Königswasser
- Levi Ward
- Rieke
- Rocío
- Guy Kowalsky
- Annie
- Borris

Sama seperti novel The Love Hypothesis, Love on The Brain juga memiliki tokoh STEM heroine. Bee Königswasser tidak cuma punya otak yang brilian tapi juga cantik. Secara karakter, dia pada dasarnya ceria, seorang vegetarian yang suka kucing *hal-hal tentang vegetarian cukup ditonjolkan di sini, dan punya kondisi khusus pada stabilisasi gula darah yang menyebabkan dia sering pingsan ketika menghadapi beberapa situasi khusus, misalnya saat panik atau tiba-tiba melihat laba-laba. Setelah tunangan dan sahabatnya berkhianat, Bee tidak percaya lagi dengan yang namanya hubungan jangka panjang. Dia membangun tembok yang menghalangi kedekatan dengan siapapun. Selain itu Bee juga 'feel not belong to' yang merupakan imbas dari masa kecilnya yang tumbuh dalam asuhan banyak keluarga yang tinggal di tempat yang berbeda-beda.

Levi Ward pintar dan dihormati orang-orang. Pria tampan cool keren ini punya karakternya nyaris tak bercela dalam pandangan saya *gentleman banget. Dingin tapi lembut. Tapi Levi punya hambatan komunikasi yang merupakan sumber kesalahpahamannya juga dengan Bee. Keluarga Levi dingin dan tidak mendukung karirnya, terutama ayahnya. Dia dianggap mengecewakan keluarga karena tidak berkarir di militer seperti ayah dan saudara-saudaranya. Selain Levi dan Bee, tokoh Rocío cukup unik dengan kesukaannya pada mitos dan keyakinannya pada 'dunia kegelapan' *dengan cara yang gemesin.

 

Deskripsi fisik Bee dan Levi cukup detail. Bee tidak tinggi dan langsing. Matanya biru, rambut hitam lurus yang kemudian di cat warna ungu. Dia menato tubuhnya sesekali juga menindik. Dalam suatu kesempatan, Bee memakai jeans hitam dan atasan merah polkadot, mengepang rambutnya, memakai lipstik merah, dan menggunakan perhiasan anting-anting, dan cincin dari nenek. Dalam imajinasi saya sosok Bee ini pasti tampak berbeda di antara ilmuwan lainnya.

...Rieke and I are both short and slight. We have the same symmetrical features and blue eyes, the same straight dark hair. Still, we've long outgrown our Parent Trap stage, and at twenty-eight no one would struggle to tell us apart. Not when my hair has been different shades of pastel colors for the past decade, or with my love for piercings and the occasional tattoo. Rieke, with her wanderlust and artistic inclinations, is the true free spirit of the family, but she can never be bothered to make free-spirit fashion statements. That's where I, the supposedly boring scientist, come in to pick up the slack.
Page 8
 
I opt for black skinny jeans and a polka-dotted red top. I pull up my hair in braids that would make a Dutch milkmaid proud, put on red lipstick, and keep the jewelry to a relative minimum - the usual earrings, my favorite septum piercing, and my maternal grandmother's ring on my left hand.
Page 37
 
Sementara itu tokoh Levi tampan, rambut hitam, bahu lebar, matanya hijau, dengan wajah yang menarik dan unik. Levi sosok yang disiplin, agak murung, berbakat, dan alpha male.
 
After all, Annie was always going on about how mysteriously handsome he was, with the dark hair and the broad shoulders and that interesting, unusual face of his, how she wished he'd stop being so reserved and ask her out. Except that Levi didnt seem interested in conversation. He studied me intensely, with those piercing green eyes of his. He stared at me from head to toe for several moments. ...
...
He always seemed like such a man's man, after all. Different from the boys that surrounded me. Serious, disciplined, a little broody. Intense and gifted. Alpha, whatever that even means. A girl with a septum piercing and a blue ombre wouldn't conform to his ideals of what pretty ladies should look like, and that's fine.
Page 9
 

Alur dan Latar

Pov 1 (Bee), alur maju sedang-cepat. Selain konflik cinta dan internal tokoh utama, ada pula konflik akademisi seperti sabotase proyek *predictable sayangnya . Bee juga difitnah di dunia maya.

Dari sisi internal, Bee itu sangat mandiri, tidak memberikan kedekatan ke orang lain karena takut mereka akhirnya pergi meninggalkannya. Masa kecil tinggal dengan keluarga di banyak negara (Italia, Jerman, Jerman lagi, Swiss, AS, Polandia, Spanyol, Prancis, Belgia, Inggris, Jerman lagi, tugas singkat di Jepang, AS lagi), memberikan pengaruh pada perasaan tidak memiliki dan dimiliki dimanapun dia berada. Bersama saudara kembarnya, Rieke, ia terdaftar di sekolah lokal dan harus mencari teman baru setiap bulannya. Kadang ia tidak bicara karena benaknya terlalu penuh dengan berbagai bahasa dan ia kesulitan memahami pikirannya sendiri. Dia dan Rieke selalu menjadi anak-anak yang berbeda, yang tidak terlalu memahami budaya, sehingga akhirnya tidak merasa benar-benar cocok dengan lingkungan yang ada.


"Me and my twin sister. We don't really have memories of our parents. Anyway, after their death we were sent from relative to relative. There was Italy, Germany, Germany again, Switzerland, the US, Poland, Spain, France, Belgium, the UK, Germany again, a brief stint in Japan, the US again. And so on."
"And you'd learn the language?"
"More or less. We were enrolled in local school - which, total pain, having to make new friends every few months. There were times I thought in so many languages I didn't even speak, I couldn't understand the inside of my own head. Not to mention, we'd always be the kids with an accent, the kids who didn't really get the culture, so we never properly fit in...
...
Page 175

 

Romansanya bisa dilihat dari dua sisi, enemy to lover dari sisi Bee, tapi love at first sight bagi Levi. Ya, romcom selalu mudah ditebak endingnya. Tapi bobot romcom bagi saya ada di ide cerita, plot, dan kekuatan emosi percintaannya.

Setting kekinian, di NASA, Johnson Space Center, Houston, Discovery Building, tapi di antara lokasi-lokasi yang ada saya justru paling ingat dengan rumah Levi. Mungkin karena saya pecinta rumah yang nyaman :D.

Rumah Levi seperti rumah pada umumnya. Rumah bata yang cantik dengan tanaman mint untuk burung kolibri di kebunnya. Sepanjang jalan masuk ada banyak kunang-kunang yang berterbangan. Area lantai atas sama cantiknya dengan lantai pertama tapi dengan lebih banyak sentuhan personal. Ada pemutar vinil dan CD juga pajangan di dinding. Kamar tidurnya seperti katalog interior rumah, dengan dua jendela besar, perabotan kayu, rak buku setinggi langit-langit, dan di bagian tengah ruangan ada tempat tidur berukuran besar, dengan selimut lembut. Gara-gara ini saya jadi terinspirasi menamam tanaman rambat pakan lebah dan beragam bunga yang disukai kupu-kupu di rumah dengan lebih serius :D

 

To be fair, it's a totally normal house. But it perfectly matches my ideal, which, to be fair again, is not particularly lofty. My lifelong dream is a pretty brick home in the suburbs, a family with two point five children, and a yard to grow butterfly-friendly plants. I'm pretty sure a psychoanalyst would say that it has to do with the nomadic lifestyle of my formative years. I am a stability slut, what can I say?

Of course, when I say "lifelong dream" I mean until a couple of years ago. Once I realized how life-alteringly cruel humans can be, I scrapped the family part from the dream. The house lingers, though, at least according to the pang in my heart when Levi pulls up the driveway. First thing I notice: he grows hummingbird mint in his garden - nature's hummingbird feeder, and my favorite plant. Grrr. Second: there are no cars in the driveway. Weird. But some lights inside are on, so maybe his wife's is just in the garage. ..

He gives me a silent look that seems to mean Haven's we been over this seven times already? and leads me up his driveway, where we're surrounded by a delightful amount of fireflies. 

...

The upstairs area is just as pretty as the first floor, but with more personality. I spot a vinyl player and CDs, pictures on the walls, even some Pitt swag I recognize from my own apartment. his bedroom, though ... his bedroom is magic. Something out of a catalog. It's a corner room with two large windows, wooden furniture, ceiling-high bookshelves, and, in the middle of the king-sized bed, sleeping softly on top of the comforter...

Page 133

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Yang suka romance dengan latar academia rasanya tidak ada yang tidak familiar dengan nama Ali Hazelwood atau The Love Hypothesis. Bulan kemarin Ali menerbitkan novel terbarunya yang berjudul Love on The Brain.

Waktu membaca novel ini saya menemukan bahwa tokoh utama cerita ternyata vegan. Ini menarik ya, karena keliatannya cukup spesifik diangkat sebagai topik dan sebagai bagian dari penokohan. Ada dalam satu adegan dimana Bee menyebutkan nama-nama makanan vegetarian (yang asing buat saya), misalnya jamur portobello, krim asam bebas susu, cheddar nabati, quinoa, bubuk agar, sirup maple, kacang-kacangan, biji-bijian, kurma, susu almond, tahu, buah dan sayuran, yogurt berbahan dasar kelapa, dan pasta miso. Sebagai yang "suka makan" seperti biasa nama-nama ini membangkitkan keingintahuan. Saya sendiri bukan vegan dan takjup dengan orang-orang yang sanggup tidak makan ayam, sop daging, dan rendang padang.

 
"I was going to make myself dinner anyway."
"It's really kind of you to offer, but I doubt I can eat..." I stop when my eyes fall to the filling, It's not meat, but portobello mushrooms. Beside a jar of dairy-free sour cream, and a bag of shredded plant-based cheddar.
My eyes narrow. On impulse, I push on my toes and open the cabinet closest to me. I find quinoa, agar powder, and maple syrup. In the next one there are nuts, seeds, a package of dates. I scowl harder and move to the fridge, which looks like a richer, better version of mine. Almond milk, tofu, fruits and vegetables, coconut-based yogurt, miso paste. Oh my God.
Page 135

Selain tokoh vegan Bee dan Levi, ada satu tokoh minor yang lumayan menarik perhatian saya juga, namanya Rocio. Rocio ini karakternya unik karena dia sangat into dengan hal-hal yang menyeramkan dan mengerikan, misalnya hantu, mitos, sejarah kelam, tapi Ali Hazelwood menggambarkan tokoh ini dengan sudut pandang yang justru bikin saya tersenyum. Misalnya waktu Bee bertanya ke Rocio apakah dia bersemangat memulai proyek baru mereka di NASA. Alih-alih menjawab dengan semangat atau ceria, Rocio malah berkata sambil menatap muram Bee, "Di Prancis, guillotine digunakan baru-baru ini pada tahun 1977," yang ditangkap oleh Bee sebagai permintaan untuk diam. Teman-teman harus baca sendiri bukunya karena saya khawatir tidak begitu jelas menggambarkan sisi lucu tokoh Rocio ini.

"You excited?" I ask Rocio when I pick her up.
She stares at me darkly and says, "In France, the guillotine was used as recently as 1977." I take it as an invitation to shut up, and I do, smiling like an idiot.
Page 37

 

 
Konflik internal Bee bukan yang pertama kali saya temui dalam cerita. Artinya topik not belong to ini sudah cukup sering diangkat oleh penulis, tapi tidak juga berarti basi. Untuk real-nya, saya yakin banyak yang relate dengan konflik Bee dimana ada perasaan sulit untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial, apalagi jika masa tinggal kita bersama lingkungan itu singkat saja, dan kita berpindah-pindah terus dari satu tempat ke tempat lain. Perpisahan itu berat, jadi lebih baik tidak punya kedekatan dengan orang lain. Relationship itu rumit, jadi lebih baik tidak menjalin hubungan atau pernikahan. Baru-baru ini saya membahas buku non fiksi  Plays Well With Others dari Eric Barker di BREED (Book Reviews, Entrepreneur and Dialog), dan di buku ini disampaikan hasil riset penelitian tentang individualisme, loneliness, dan ketakutan orang-orang untuk menikah. So, konflik ini nyata adanya. Dalam kasus Bee, ia punya saudara kembar yang sangat dekat di hatinya. Dan saya suka melihat hubungan kasih saya mereka satu sama lain. Menarik juga bahwa, ketika Bee kemudian menetap lama di satu tempat, Rieke terus melanjutkan hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan Indonesia adalah destinasi utamanya ketika ia sudah cukup usia untuk mandiri secara legal.
 
 
 
Hal yang sepele tapi melekat di ingatan ketika saya membaca nama kucing milik Levi ternyata Schrödinger. Kita tahu kalau urusan kucing ini memang punya makna tersendiri di dunia kuantum fisika. Kucing Schrödinger adalah suatu eksperimen pikiran, terkadang digambarkan juga sebagai paradoks, yang dirancang oleh fisikawan Austria Erwin Schrödinger pada tahun 1935. Jadi cocok ya kalau jadi nama kucingnya Levi yang latar belakangnya di dunia teknologi canggih. Dari buku ini saya juga baru tahu kalau ada kucing pertama di luar angkasa. Orang Prancis mengirim hewan pertama mereka, seekor kucing, ke luar angkasa pada tanggal 18 Oktober 1963. Félicette, seekor kucing Felix, memiliki elektroda yang ditanamkan di kepalanya untuk mengirimkan kondisinya saat ia menghabiskan 5 menit dalam keadaan tanpa bobot. Dia mencapai ketinggian 100 mil dan mendarat dengan selamat tetapi terbunuh dua bulan kemudian sehingga para ilmuwan dapat memeriksa otaknya. Félicette nama kucing Bee yang berkeliaran di kantornya di NASA. Profil Bee dan Levi yang pecinta kucing kemungkinan bakal disukai juga oleh pembaca yang juga cat lover. Di salah satu wawancara dengan media, Ali Hazelwood bercerita bahwa waktu dia menulis buku ini memang dia baru saja menyelamatkan seekor kucing oranye, dan kucing ini dekat dengannya.
 
 
 
Ada satu topik sekilas di buku ini yang membahas tipe-tipe pria menarik. Diceritakan di dalam buku, Annie, mantan sahabat Bee, sedang menjelaskan tipe-tipe ini ke Bee dan secara spesifik menyebutkan kalau Levi masuk ke tipe yang mana. Jadi ini sifatnya sangat objektif dan reduktif, dengan landasan yang tidak jelas entah darimana sumbernya. Singkat cerita, tiga tipe pria menarik ini adalah sebagai berikut:
Satu, tipe pria imut , yang terdiri dari pria yang menarik dengan cara yang tidak mengancam, mudah diakses, kombinasi penampilan bagus dan kepribadian yang menawan. Tim termasuk dalam kelompok ini, seperti Guy dan kebanyakan ilmuwan pria -- termasuk Pierre Curie (menurut Bee).
Lalu kedua, tipe pria tampan. Pria kategori ini menurut Annie agak mubazir. Mereka memiliki wajah tampan yang ada di film dan iklan, dengan garis wajah sempurna secara geometris dan menakjubkan secara objektif, tetapi sulit diakses. Pria kategori ini mengawang-awang dan jauh dari jangkauan. Mereka harus mengembangkan personaliti, minat, dan lain-lain kalau tidak mereka akan hilang.
Terakhir, Sex Guys atau pria seksi. Menurut Annie, Levi adalah lambang dari pria seksi. Pria ini tidak bisa berhenti melintas dalam pikiran, mereka maskulin, berbakat, menonjol, dan kokoh.
This is incredibly objectifying and reductive, and if you tell anyone I'll flatly deny it, but back in grad school Anne told me that there are three type of attractive men. I don't know if she came up with this taxonomy herself, if Aphrodite announced it to her in a dream, or if she stole it from Teen Vogue, but here they are:
There is the cute type , which consists of guys who are attractive is a nonthreatening, accessible way, as a combination of their nice looks and captivating personalities. Tim falls into this group, just like Guy and most male scientist -- including, I suspect, Pierre Curie. Come to think of it, all the guys who ever hit on me do, perhaps because I'm small, and dress quirky, and try to be friendly. If I were a dude, I'd be a Cute Guy TM, Cute Guys TM recognize that at some elemental level, and they make passes at me.
Then there's the handsome type. According to Annie, this category is a bit of a waste. The Handsome Guy TM has the kind face you see in movie trailers and perfume ads, geometrically perfect and objectively amazing, but there's something inaccessible about him. Those guys are so dreamy, they're almost abstract. They need something to anchor them to reality -- a personality quirk, a flaw, a circumscribed interest - otherwise they'll float away in a bubble of boredom. Of course, society doesn't exactly encourage. Handsome Guys TM to develop brilliant personalities, so I tend to concur with Annie: they're useless.
 
Last but not least, the Sex Guys TM. Annie would go on and on about how Levi is the epitome of the Sexy Guy TM, but I'd like to formally object. In fact, I don't even acknowledge the existence of this category. It's preposterous, the idea that there are men you cant help yourself from being attracted to. Men who give you the tingles, men you cant stop thinking about, men who pop up in your brain like flashes or light after stimulation of the occipital cortex. Men who are physical, elemental, primordial. Masculine. Present. Solid. Sounds fake, right?
Page 142



Latar academia-nya kental, dengan narasi dan dialog seputar proyek neuroengineering research project *yang sejujurnya saya tidak ambil pusing karena merasa tidak harus paham juga. Benarkah banyak penjelasan tentang neuroengineering di buku ini(?) Setelah saya pikirkan lagi sebenarnya tidak juga. Narasi dan dialog tetap lebih banyak ke relationship para tokoh. Tapi suasana tetap terasa kental karena banyak unsur-unsur cerita yang disisipkan hal-hal berbau akademisi dan teknologi, bahkan judul babnya juga demikian.

Salah satu bagian dalam cerita yang menurut saya spesifik proyek riset adalah adegan dimana Levi menjelaskan ke Bee perspektif lain tentang kehidupan astronot yang di mata banyak orang keren dan hebat tapi sebenarnya tugas di luar angkasa itu tidak seenak itu. Disebutkan oleh Levi bahwa alam semesta itu terus mengembang dan semakin dingin, bongkahan galaksi kita tersedot, lubang hitam terlempar ke luar angkasa dengan kecepatan jutaan mil per jam, dan badai super surya berkobar dengan cepat. Sementara itu, para astronot NASA di luar sana memakai pakaian mereka yang tidak memadai, meminum berliter-liter urin daur ulang mereka sendiri, kulit kaki mereka menebal, cairan serebrospinal mereka mengembang dan menekan bola mata mereka ke titik penglihatan mereka menjadi memburuk, bakteri usus mereka adalah kacau balau, dan ada resiko sinar gamma yang benar-benar dapat menghancurkan mereka dalam waktu kurang dari satu detik. Ruang angkasa juga berbau seperti toilet yang penuh dengan telur busuk, dan tidak ada jalan keluar untuk para astronot menghindar.

Gara-gara ini saya jadi bertanya-tanya, benarkah demikian?

The universe keeps expanding and getting colder, chunks of our galaxy are sucked away, black holes hurl through space at millions of miles per hour, and solar superstorms flare up at the drop of a hat. Meanwhile NASA astronauts are out there in their frankly inadequate suits, drinking liters of their own recycled urine, getting alligator skin on the top of their feet, and shitting rubber balls that float around at eye level. Their cerebrospinal fluid expands and presses on their eyeballs to the point that their eyesight deteriorates, their gut bacteria are a shitshow - no pun intended - and gamma rays that could literally pulverize them in less than a second wander around. but you know what s even worse? the smell. Space smells like a toilet full of rotten eggs, and there s no escape. you re just stuck there until Houston allows you to come back home. So believe me when I say: I'm grateful every damn day for those two extra inches."

Page  194

Bagian lain yang ada istilah teknis dan saya tidak begitu paham (dan tidak ingin mencari tahu) adalah tentang ide pembuatan helm astronot yang menurut Bee ada masalah dengan switchboard-nya, dan solusinya adalah dengan melepas swtichboard itu, membangun sirkuit terpisah untuk bisa memanfaatkan sifat magnetotermal masing-masing, lalu menggunakan remote nirkabel, dan mengisolasi semua sirkuit. Teman-teman ada yang paham? Saya sejujurnya tidak, dan untunglah tidak harus paham juga untuk tetap bisa memahami alur cerita dan konteksnya.

".... We've been having issues with the switchboard, right? We've been trying to fix it, but ... what if we just bypass it?"

"But the different frequencies ---"

"Right. That's where I'm going to scare you."

"Scare me?"

"Yes." I make room on the table, and start sketching a diagram. "But don't be scared."

"I'm not scared."

"Good. Stay unscared."

"I -- Why would I be scared?"

"Because of what I'm about to show you. Which you might fiend scary." I tap the back of the pen on the top of my diagram. "Okay. We remove the switchboard." I draw a cross on it. "We build separate circuits. and then we leverage the magnetothermal properties of each one ---"

"--- for speed." Levi's eyes are wide. "And if we have separate  circuits --"

"-- we can rely on the wireless remote." I grin at him "Will it work?"

He bites into his lower lips, staring at the diagram. "The wiring will be tricky. and isolating each circuit. But if we work around that..." He turns to me with a wide, breathless grin. "This could work. It could really work."

Page 221

 

Personally, justru isu yang menarik ada di kesetaraan gender dan proses ujian masuk yang tidak adil bagi semua orang. Di dalam cerita tokoh Rocio mengikuti tes GRE dan gagal. Dari situ diangkat tentang tes masuk yang sulit tersebut. Ada satu pandangan terkait tes masuk ini, bahwa tes seperti GRE dan SAT itu sudah ketinggalan jaman. Keberhasilan sekolah pascasarjana bergantung pada kualitas yang tidak diukur oleh GRE. Ada sebuah pertanyaan mengapa tidak bergerak menuju pendekatan holistik untuk penerimaan lulusan? Apalagi biaya tesnya sangat mahal, begitupun persiapan tes, materi, dan tutor yang harganya juga selangit. Artinya hanya oragn-orang yang punya finansial yang bisa mengakses tes ini dengan mudah. Ujung-ujungnya yang tidak punya uang dan para wanita jadi terpinggirkan. Ada istilah untuk situasi ini yaitu Stereotype Threat. Banyak literatur yang sudah membuktikan bahwa GRE merupakan peramal yang buruk untuk kemampuan seseorang dalam menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Tapi test ini tetap digunakan untuk instrumen penerimaan masuk pascasarjana di berbagai negara.

Thought provoking ya. Saya jadi ingat berapa harga kelas IELTS dan test IELTSnya. Dan ternyata di bagian akhir buku, Ali Hazelwood memang mengangkat isu ini karena memang memiliki opini terkait test tersebut.

 

"It's an indignity. GRE, SATs, all these tests are institutionalized gatekeepers, and the extent to which graduate programs over-rely on them for student admission is obscene. We are two decades into the twenty-first century, but we're still using a test based on a conceptualization of intelligence that s about as outdated as the Triassic. Graduate school success depends on qualities that are not measured by the GRE -- we all know it. Why aren't we moving toward a holistic approach to graduate admission? Also, the GRE costs hundreds of dollars! Who has the financial solubility for that? Or for the prep course, the materials, the tutors? Let me tell you who doesn't: not-rich people."

...

"You know who traditionally does poorly on standardized tests? Women and marginalized individuals. It's a self-fulfilling prophecy: groups that are constantly told by society that they're less smart walk into a testing situation anxious as hell and end up underperforming. It's called Stereotype Threat, and there's tons of literature on that. Just like there's tons of literature showing that the GRE does a terrible job at predicting who ll finish grad school. But the heads of graduate admission all over the country don't care and persist in using an instrument made to elevate rich white men."

Page 148



Saya suka novel ini karena bagus penokohannya *dialognya mengalir dan kriuk, latar akademisinya yang kental, konfliknya yang cukup banyak, dan romansanya yang greget gemesin. Di sisi lain saya merasa agak jenuh karena samar-samar menemukan kemiripan antara The Love Hypothesis dengan Love On Your Brain. Ada harapan plot twist sabotase proyek bisa lebih dalam dan rumit sehingga tidak tertebak dan lebih menantang. Namun genre buku ini romantic comedy, jadi logis kiranya jika tingkat kerumitan konflik maupun misterinya dijaga ringan dan renyah saja. Tokoh Levi juga masih bisa dikembangkan mengingat dia punya gangguan komunikasi dan harus terapi. Tapi isu ini dilewatkan oleh Ali Hazelwood, entah dengan alasan apa. Bagian ending novel ini juga rasanya nano-nano, karena adegan action-nya ada yang 'selesaikan' dengan 'kucing yang melompat', kucing yang tidak menunjukkan kedekatan luar biasa dengan tokoh utama. Kok rasanya saya berharap sebuah adegan beradrenalin dan model penyelesaian yang lebih solid dan "rumit" ya :D.

 

Dari kisah romansa Bee dan Levi ada pesan tentang memberikan kesempatan kedua pada orang lain, berbelas kasih, dan mencoba memaafkan. Ada pula pesan tentang lebih mencintai diri sendiri dan memberikan kesempatan diri kita untuk bahagia. Cinta memang butuh keberanian.

 
 

Siapa Ali Hazelwood

Ali Hazelwood berasal dari Italia, ia tinggal di Jerman dan Jepang sebelum pindah ke AS untuk mengejar gelar Ph.D. dalam ilmu saraf. Profesor Ali Hazelwood suka menonton fiksi ilmiah, olahraga lari, merajut, makan kue, dan juga pecinta kucing. Selain menulis novel, tentu saja ia menerbitkan artikel ilmiah tentang otak dan tinjauannya.

  

------------------------------

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku Fourth Wing - Rebecca Yarros

14-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times BestsellerA Goodreads Most Anticipated Book Judul : Fourth Wing (The Empyrean, 1) Penulis : Rebecca Yarros Jenis Buku : Epic Fantasy, Romantic Fantasy, Sword & Sorcery Fantasy Penerbit : Piatkus, an...

Read more

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Starbucks Jatinangor (a Story)

25-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang...

Read more

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more