0

Review Buku What Moves The Dead - T. Kingfisher

Published: Tuesday, 03 January 2023 Written by Dipidiff

An Instant USA Today & Indie Bestseller
A Barnes & Noble Book of the Year Finalist
A Goodreads Best Horror Choice Award Nominee

From T. Kingfisher, the award-winning author of The Twisted Ones, comes What Moves the Dead, a gripping and atmospheric retelling of Edgar Allan Poe's classic "The Fall of the House of Usher."

 

Judul : What Moves The Dead

Penulis : T. Kingfisher

Jenis Buku : Occult Horror

Penerbit : Titan Books Ltd.

Tahun Terbit : October 2022

Jumlah Halaman :  192 halaman

Dimensi Buku : 19,7 x 13 x 1,10 cm

Harga : Rp. 180.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781803360072

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplusbandung)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Alex Easton, seorang veteran perang, menerima surat dari sahabat masa kecilnya, Madeline Usher, yang memintanya datang karena dia sekarat. Tiba di Ruravia, betapa terkejutnya Easton menjumpai area tersebut kini dipenuhi dengan jamur aneh yang menjijikkan, dan makin terkejut lagi ketika dia bertemu adik beradik Usher yang fisiknya sangat menurun, sungguh berbeda dengan Usher yang ia kenal dulu. Rumah yang mereka tempati juga tidak hanya kumuh tapi juga gelap, lembab, dan menyeramkan. Penyakit yang diderita Madeline dan Roderick Usher misterius, bahkan dokter Danton (teman keluarga Usher yang juga berada di sana) tidak tahu penjelasan medisnya. Kelinci-kelinci besar di sekitar rumah berperilaku tak wajar, mirip Madeline yang kadang dikendalikan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Dibantu Eugenia Potter (si ahli jamur) dan dokter Danton, Easton menyelidiki semua kengerian yang terjadi.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca yang mencari buku kombinasi horor, dark humour, fiksi ilmiah, dan suspense. Penokohannya bagus, begitupun latarnya yang detail. Pembaca yang suka dengan retelling dan buku-buku Edgar Allan Poe juga bisa mencoba buku ini. Alur maju, pov 1, ending tertutup. Lumayan predictable, mungkin buat sebagian pembaca akan merasa bosan.

 

 

This Book Review Might Have Spoiler!

 

Tokoh dan Karakter

Madeline Usher, menulis surat ke Easton, mengabarkan situasi yang dia hadapi.

Roderick Usher, menduga Madeline sudah mendekati ajalnya.

Eugenia Potter, British mycologist yang mengamati daerah sekitar rumah Usher.

Alex Easton, mencoba memecahkan misteri kondisi Usher yang misterius.

James Denton, teman Roderick yang seorang dokter yang tidak bisa menjelaskan penyakit apa yang diderita Usher secara medis.

 

Alex Easton si tokoh utama dalam cerita adalah tentara Galacia pada jamannya. Kalau dipikir-pikir, Easton berkarakter bijak dan berjiwa pemimpin. Dia juga pemberani dan tertarik dengan banyak hal termasuk soal jamur-jamur yang dengan antusias dibicarakan oleh Euginia Potter. Besar keinginannya untuk bisa menolong kakak beradik Usher, tapi ada hal-hal yang nyatanya berada di luar kendalinya. Saya juga menyukai narasi tambahan tentang sejarah dan bahasa Galacia yang memberikan konteks juga kepribadian Alex di dalam cerita. Meski Easton tokoh utama, tapi tokoh-tokoh lainnya juga terbentuk dengan baik karakternya. Tokoh Eugenia Potter adalah karakter minor yang selalu muncul setiap kali tiba di adegan penjelasan tentang jamur, dan dia mewakili figur wanita yang bertekad masuk ke dalam dunia ilmiah yang didominasi pria di akhir tahun 1980-an. Sikapnya tegas, dan bicaranya to the point.

Deskripsi fisik tokoh digambarkan dengan cukup detail. Eugenia Potter yang digambarkan sebagai wanita berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tinggi dan lebar, menggunakan sepatu bot pria dan topi yang besar. Seringkali ia membawa buku catatan dan ransel kulit. Saat berbicara, aksennya Inggris pedesaan. Ada juga tokoh dokter Denton yang jangkung kurus dengan rambut keperakan, berkumis, dan usianya mendekati lima puluh. Tapi di antara para tokoh barangkali penampilan fisik dua bersaudara Usher yang paling mengejutkan. Roderick pucat seperti tulang, matanya tenggelam dan cekung, berwarna biru tanpa sisa daging di bagian pipinya. Rambutnya berantakan, di dalam narasi disebutkan melayang di udara seperti sutra laba-laba, penampilannya tidak normal karena usia Roderick yang lebih muda dari Easton. Kondisi Madeline bahkan lebih shocking, tapi tidak saya kutipkan di sini, nanti teman-teman bisa mencari tahu sendiri dengan membaca bukunya.

 

Roderick Usher's skin was the color of bone, white with a sallow undertone, a nasty color, like a man going into shock. His eyes had sunk into deep hollows tinged with blue and if there was a spare grain of flesh left on his cheek, I couldn't see it.

The worst of it, thugh, was his hair. It floated in the air like spider silk, and I told myself that it was a trick of the candlelight that made it look white rather than blond. either way, it was now all flyaway wispn, like strands of fog, drifting in a halo around his head. The very young and the very old have hair like that. It was unsettling to see it in a man a year my junior.

Both Roderick and Madeline had always been rather pale, even when we were children. later, in the war, Roderick could be relied upon to burn rather than tan. They both had large, liquid eyes, the sort that are called doe-like by poets, although those poets have mostly never hunted deer, because neither of the Ushers had giant elliptical pupils and they both had perfectly serviceable whites. I could see rather too much of the whites of Roderick's eyes right now, in fact. His eyes gleamed feverishly in that unnaturally pale face.

Page 14

 

 

Alur dan Latar

Alur cerita maju dengan kecepatan pelan-sedang. Pov 1 Easton. Latar cerita banyak mengambil lokasi rumah Usher, danau, dan desa setempat.

Kekuatan buku ini memang di bagian latarnya yang seksama. Atmosfer kelam, dingin, tidak nyaman, tidak menyenangkan, dan horor sangat terasa dari awal dan semakin bertambah seiring berjalannya cerita. Rumah Usher digambarkan sebagai rumah yang suram dengan gaya kuno, satu sayap bangunannya runtuh dan menjadi tumpukan batu. Tidak ada taman di rumah tersebut. Untuk mencapai rumah, ada danau yang harus diseberangi dengan jembatan sebagai penghubungnya. Jembatannya sendiri tampaknya cukup kokoh, tapi kondisinya mencurigakan akibat suasana sekitarnya yang rapuh. Kedua sisi dinding bangunan rumah berdiri di dasar danau. Pintu depannya bertema Gotic dengan pengetuk pintu besi berukuran besar. Ruangan di dalam rumah temaram, banyak ruangan yang gelap, dan udara terasa dingin. Lantai tampak hitam dalam kegelapan, permadani compang camping di dinding dan ukiran di langit-langit bertema Gotic. Wallpaper berkondisi menyedihkan, bergelembung dan membengkak karena lembab. Satu ruangan tamu dilengkapi perapian yang menyala, ada beberapa sofa diletakkan di dekat perapian. Selain deskripsi latar yang ini ada banyak latar lainnya yang dijelaskan, seperti danau dengan tanaman yang mati, lahan yang dihuni kelinci besar berperilaku aneh, seperti duduk, menatap orang dan menenggelamkan diri di danau. Penduduk setempat menolak untuk mengunjungi manor. Situasi ini menciptakan suasana ketakutan di sepanjang cerita.

 

It was not a promising sight. It was an old gloomy manor house in the old gloomy style, a stone monstrosity that the richest man in Europe would be hard-pressed to keep up. One wing had collapsed into a pile of stone and jutting rafters. Madeline lived there with her twin brother, Roderick Usher, who was nothing like the richest man in Europe. Even by Ruravia's small, rather backward standards, the Ushers were genteelly impverished. By the standards of the rest of Europe's nobility, they were as poor as church mice, and the house showed it.

There were no gardens that I could see. I could smell a faint sweetness in the air, probably from something flowering in the grass, but it wasnt enough to dispel the sense of gloom.

Page 3

Reaching the house required crossing a short causeway over the lake, which Hob didnt enjoy any more than I did. I dismounted to lead him. The bridge looked sturdy enough, but the whole landscape was so generally decrepit that I found myself to not to put my full weight down as I crossed, absurd as that sounds. 

...

The causeway led onto a shallow courtyard, set back from the rest of the building. on either side, the walls dropped directly into the lake, with only the occasional balcony to break up the lines. The front door was positively Gothic, probably literally as well as figuratively, a great monstrosity set into a pointed archway that would have been at home on any cathedral in Prague.

I took the great iron door knocker in hand and rapped on the door. The noise was so loud that I flinched back, half expecting the entire house to crumble at the vibration.

...

I walked down the shaft with my shadow taking point, and then the servant closed the door and I stood in darkness.

As leaden as the landscape outside had been, it was lit up like a burning city compared to the interior if the house. My eyes took a moment to adjust, and then there was a rasp of matches and the servant lit a set of candles on the side table by the door. he handed me one, as if it were completely normal for the house to be this dark at midday.

...

Page 11 - 13

 

None of the halls were lit and all were cold. The lack of light did not seem to bother Roderick. I hastened to keep up, even with the candle. The floors looked black in the gloom, and I caught glimpses of ragged tapestries on the walls and carvings on the ceiling that belonged to the same Gothic sensibility as the door.

We turned into a newer wing of the building and I relaxed a little. instead of tapestries, there were paneled walls, and some even had wallpaper. It was in poor condition, bubbled and swollen with damp, but at least it felt a little less like walking through an ancient crypt. Very few ancient crypts have plump shepherdesses and gamboling sheep on the walls. I consider this an oversight.

At last we reached a door that actually had light streaming under it. Roderick pushed open the door to a parlor with an actual fireplace, and thought the windows were covered in moth-eaten curtains, a little light leaked around their edges as  well.

There were several sofas drawn up close to the fire, and I got my second shock of the day, for reclining against one lay Madeline.

Page 17

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Untuk kita pecinta buku klasik, especially karya-karya Edgar Allan Poe, retelling yang ini kemungkinan sangat menarik untuk dibaca *sebab bikin penasaran. Tapi meski kita tidak mengikuti karya klasik pun, novella horor ini recommended.

Membaca What Moves The Dead membuat saya dibawa ke suasana Inggris jaman lampau *sebagian karena pilihan kata-katanya yang Inggris klasik itu. Kehororan cerita terletak pada mood dan suasana yang dibangun dengan baik. Tapi kisah Usher ini tidak melulu terasa ngeri, nyatanya cukup banyak dialog renyah yang mengundang senyum antar tokohnya, mencegah tone cerita terlalu kelam. Favorit saya ada pada tokoh minor, Hobb si kuda Easton. Hobb dinarasikan sebagai tokoh yang berperilaku mirip manusia dengan caranya sendiri, dan penceritaan T. Kingfesher yang baik membuat adegan-adegan Hobb bersama Easton selalu menarik perhatian saya. Misalnya saat baru tiba di desa, Hob berterimakasih karena bisa beristirahat tapi dia tampak kesal melihat keadaan sekitarnya. Hob melihat rumput di tanah dan lalu memandang Easton, menunjukkan kalau rumput itu dibawah kualitas rumput yang biasa dia makan. Atau ketika Hob dinarasikan mendesah saat diminta minum oleh Easton dan mendapati airnya gelap mencurigakan. Teman-teman harus membaca sendiri buku ini untuk bisa mendapatkan kerenyahan adegannya :)

Hob, my horse, was grateful for the rest, but seemed annoyed by the surroundings. He looked at the grass and then up at me, indicating that this was not the quality to which he was accustomed.

"You could have a drink," I said. "A small one, perhaps."

We both looked into the water of the tarn. It lay dark and very still, reflecting the grotesque mushrooms and the limp gray sedges along the edge of the shore. It could have been five feet deep or fifty-five.

"Perhaps not," I said. I found that i didnt have much urge to drink the water either.

Hob sighed in the manner of horses who find the world not to their liking and gazed off into the distance.

I looked across the tarn to the house and sighed myself.

Page 2


Adegan dan dialog lainnya yang renyah melibatkan interaksi antara Easton dan Denton yang mewakili perspektif orang Amerika terhadap orang Inggris yang di masa itu memiliki stereotype masing-masing. Misalnya Easton yang waktu pertama kali dikenalkan ke Denton sudah menilai pakaian dan caranya berdiri, menganggap orang Amerika kurang santun dan blak-blakan. Begitupun Denton yang menjabat tangan Easton dengan erat sambil menatap penuh penilaian.

Ah. American. That explained the clothes and the way he stood with his legs wide and his elbows out, as if he had a great deal more space than was actually available.  (I am never sure what to think of Americans. their brashness can be charming, but just when I decide that I rather like them, I meet one that I wish would go back to America, and then perhaps keep going off the far edge, into the sea).

..

I offered Denton my hand, because Americans will shake hands with the table if you don't stop them. He took it automatically, then stared at me, still holding my fingers, until I let them drop.

I knew the look, of course. Another classification, though not so graceful as Miss Potter's.

Americans, so far as I know, have no sworn, but I am given to understand that they have very lurid periodicals.

Page 18

 

Tentu saja ada banyak hal-hal tentang jamur di buku ini, yang kalau dipikir-pikir memberikan nuansa science fiction ke dalam cerita selain horror. Jamur ini begitu berkesan lantaran sejak halaman awal sudah muncul dalam cerita dengan penampilan yang menjijikkan. Jamur seperti insang berwarna merah tua, salur-salurnya berwarna ungu, sangat kontras dengan bagian dalamnya yang pucat. Jamur ini terlihat seperti daging, lembab, bengkak, dan menggembung. Mereka tumbuh di celah bebatuan danau seperti tumor yang tumbuh dari kulit yang sakit. Jika jamur ini ditusuk maka akan keluar bau daging busuk bercampur susu basi. *Seumur-umur saya belum pernah tahu ada jamur yang penampilannya seperti di buku ini.

The mushroom's gills were the deep-red color of severed muscle, the almost-violet shade that constrasts so dreadfully with the pale wink of viscera. I had seen it any number of times in dead deer and dying soldiers, but it startled me to see it here.

Perhaps it would not have been so unsettling if the mushrooms had not looked so much like flesh. The caps were clammy, swollen beige, puffed up against the dark-red gills. They grew out of the gaps in the stones of the tarn like tumors growing from diseased skin. I had a strong urge to step back from them, and an even stronger urge to poke them with a stick.

Page 1

 

No, recognition is the wrong term. Classification, rather. ...

She had a rubbery, mobile face. Her lips pursed together dramatically. "They're stinking redgills. A. foetida, not to be confused with A. foetidissima - but that's not likely in this part of the world, is it?"

"No?" I guessed.

"No. The foetidissima are found in Africa. This one is endemic to this part of Europe. They aren't poisonous, exactly, but -- well --"

She put out her hand. I set my stick in it, bemused. Clearly a naturalist. The feeling of being classified made more sense now. I had been categorized, placed into the correct clade, and the proper courtesies could now be deployed, while we went on to more critical matters like mushroom taxonomy.

"I suggest you hold your horse," she said. "And perhaps your nose." Reaching into her knapsack, she fished out a handkerchief, held it to her nose, and then flicked the stinking redgill mushroom with the very end of the stick. It was a very light tap indeed, but the mushroom's cap immediately bruised the same visceral red-violet as the gills. A moment later, we were struck by an indescribable smell - rotting flesh with a tongue-coating glaze of spoiled milk and, rather horribly, an undertone of fresh-baked bread. It wiped out any sweetness to the air and made my stomach lurch.

Page 4

 

What Moves The Dead adalah retelling yang ditulis dengan baik, karena tidak kehilangan esensi cerita aslinya, tapi bisa menghadirkan ide dan nuansa berbeda. Di akhir cerita mungkin pembaca akan menemukan kejutan bahwa genre horor (yang di awal diduga supranatural) ini ternyata mungkin sekali akhirnya malah bergeser atau beririsan dengan genre yang lain.

Tertarik baca? 😊

 

Siapa T. Kingfisher

Ursula Vernon (lahir 28 Mei 1977) adalah seorang penulis, seniman, dan ilustrator lepas Amerika. Dia telah memenangkan banyak penghargaan untuk karyanya di berbagai media, termasuk Penghargaan Hugo untuk novel grafisnya Digger, Penghargaan Nebula untuk cerita pendeknya "Jackalope Wives", dan Penghargaan Mythopoeic untuk sastra dewasa dan anak-anak. Buku Vernon untuk anak-anak termasuk Hamster Princess dan Dragonbreath. Dengan nama T. Kingfisher, dia juga penulis buku untuk pembaca yang lebih dewasa. Dia menulis fiksi pendek dengan kedua nama tersebut.

Ursula Vernon dibesarkan di Oregon dan Arizona. Ia belajar antropologi di Macalester College di Saint Paul, Minnesota, tempat ia pertama kali mengambil kelas seni. Dia pertama kali dikenal karena komik webnya dan sebagai seniman lepas, terutama untuk karyanya yang bertema hewan antropomorfik. Dia kemudian pindah ke menulis dan mengilustrasikan sejumlah buku anak-anak, yang pertama diterbitkan pada tahun 2008, dan kemudian buku untuk orang dewasa dengan nama samaran T. Kingfisher. Vernon memutuskan untuk mulai menggunakan nama samaran untuk menghindari kebingungan di antara orang tua yang hanya mengenalnya sebagai penulis buku anak-anak, dan memilih nama itu karena dia mencintai burung pekakak (dan sebagai penghormatan kepada Ursula K. LeGuin, yang pernah bercanda bahwa inisial "U.K." bisa berarti "Ulysses Kingfisher).

Usula Vernon secara teratur menghadiri konvensi untuk memamerkan dan menjual karyanya. Dia menjadi tamu kehormatan di Midwest FurFest 2004 dan 2009, dan Artist Guest of Honor di Further Confusion 2010. Vernon adalah Author Guest of Honor untuk Mythcon 45 dan Guest of Honor di Eurofurence 20, keduanya pada bulan Agustus 2014. Pada 2017, dia menjadi Guest of Honor di Arisia '17.


Sebelum menjadi penulis buku anak-anak yang diterbitkan, Vernon pada dasarnya adalah seorang seniman dan ilustrator lepas, dan dia masih secara teratur menghasilkan karya seni baru. Karyanya meliputi penciptaan seni digital serta penggunaan media yang lebih tradisional seperti cat air dan akrilik, dengan sebagian besar karyanya yang lebih baru adalah media campuran. Sebagian besar karya seninya tersedia sebagai cetakan. Vernon juga mengambil komisi komersial seperti sampul buku dan seni permainan. Gim Black Sheep dirancang oleh Reiner Knizia dan diterbitkan oleh Fantasy Flight Games menggunakan karya seni Vernon pada kartu reminya.

Karya seninya berjudul The Biting Pear of Salamanca menjadi meme internet dalam bentuk "LOL WUT pear" dan telah dibuat menjadi resin figurine karena popularitasnya. Dia juga merancang label untuk rangkaian produk teh dan sabun.

 

Sumber: wikipedia

 

 

 

--------------------

 

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku Fourth Wing - Rebecca Yarros

14-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times BestsellerA Goodreads Most Anticipated Book Judul : Fourth Wing (The Empyrean, 1) Penulis : Rebecca Yarros Jenis Buku : Epic Fantasy, Romantic Fantasy, Sword & Sorcery Fantasy Penerbit : Piatkus, an...

Read more

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Starbucks Jatinangor (a Story)

25-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang...

Read more

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more