0

Review Buku Puisi Koma Tanpa Titik - Elvira

Published: Sunday, 31 October 2021 Written by Dipidiff

 

Judul : Koma Tanpa Titik

Penulis : Elvira

Jenis Buku : Puisi

Penerbit : One Peach Media

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman :  86 halaman

Dimensi Buku :  14.5 x 18 cm

Harga : Rp. 72.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9786236516942

Hardcover

Buku ini bisa didapatkan di Tokopedia One Peach Media

 

Sekelumit Tentang Isi

Kali ini tanpa quote, semua puisi di dalamnya beraroma manis dan dreamy tapi tetap berpijak pada kenyataan. Kadar cintanya juga pas untuk menerbitkan sebuah harapan di hati bahwa masih ada  cinta sederhana di tengah pahitnya lautan kehidupan. Terus ada satu keunikan lainnya, 'Koma Tanpa Titik' adalah buku pertama yang dihiasi kolase fotografi dan ilustrasi.

 

Mari kita intip daftar isinya:

Aku --

Ketika Aku Bercerita Aku

Stoples Harapan

Sebuah Lelap yang Tersekap

Journal Book

Yang Tak Kautahu

Pencuri Itu Aku

Merayu Restu

Naluri Imigran

Kelam Kabut di Atas Ciremai

Refleksi Cermin Datar

 

Kamu --

Pertamaku

Kamu yang Aku Tahu

Rinduku di Sungai Pinang

Menuju Pulau Dewa Laut

If Not You

Bintangku Itu Kamu

Jantung Hati

Jejak Radio Kayu

Segara Air Mata

Kamu, Angin yang Menggerakkan

 

Jarak --

Perkara Menanti

Rekayasa Jarak

Secangkir Teh Osmanthus

Dua yang Terikat

Sebuah Keinginan Membersamaimu

Cintaku Itu Ilalang Liar

Membilang yang Tak Terbilang

A Pair of Wooden Watches

Tertahan Gamang

Lautan Rasa

Berikan Seutuhnya!

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Dari gambarnya jelas ini temanya cinta ya. Soalnya ada gambar ilustrasi sepasang kekasih, no doubt. Tapi yang bikin saya suka dengan disain ini sebenarnya adalah pilihan warnanya. Kesannya kalem, adem, tenang, damai,... dan bukankah cinta harusnya begitu (?)

 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Apa itu puisi?

Sejenak saya merenung. Di blog ini, saya sudah mereview beberapa buku puisi, ada yang dari Lang Leav, Amanda Lovelace, Rupi Kaur, bahkan Margareth Atwood. Saya juga penulis puisi amatiran dan punya acara IGLive bersama sahabat saya untuk meng-hore-kan puisi bertajuk Ngobrol Puisi bareng Ayu dan Dipi. Tapi balik lagi ke pertanyaan awal, apa itu puisi (?)

Mari cek wikipedia ya.

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang gaya bahasanya sangat ditentukan oleh irama, rima, serta penyusunan larik dan bait. Penulisan puisi dilakukan dengan bahasa yang cermat dan pilihan kata yang tepat, sehingga meningkatkan kesadaran orang akan pengalaman dan memberikan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan pemaknaan khusus. Puisi mengandung seluruh unsur sastra di dalam penulisannya. Perkembangan dan perubahan bentuk dan isi pada puisi selalu mengikuti perkembangan selera, perubahan konsep estetika dan kemajuan intelektual manusia. Puisi mampu membuat ekpresi dari pemikiran yang mempengaruhi perasaan dan meningkatkan imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Penyampaian puisi dilakukan dengan bahasa yang memiliki makna mendalam dan menarik. Isi di dalam puisi merupakan catatan dan perwakilan dari pengalaman penting yang dialami oleh manusia.

Dalam penafsiran saya, puisi memang selalu berkaitan dengan urusan estetika. Kita berbicara 'rasa' begitu ketemu dengan sebuah puisi. Dan sejauh ini sepertinya banyak orang sepakat bahwa pemaknaan sebuah puisi bisa berbeda-beda, interpretasi diserahkan kepada masing-masing orang. Maka sejatinya tidak ada puisi yang jelek, semua bagus begitu ketemu dengan pembaca yang menyukainya. Seperti mostly apa yang ada di kehidupan kita, puisi juga 'relatif' dan ga 'mutlak'.

 

Perkenalan saya dengan buku puisi Koma Tanpa Titik terjadi di bulan September 2021, diawali sebuah direct message manis dari mba Elvira yang membincangkan buku terbarunya. Tak lama kemudian kami membuat janji untuk acara ngobrol santai seputar buku tersebut di instagram live saya @dipidiffofficial bersama mba Elvira dan Fernando dari One Peach Media Publishing. Sebuah acara yang hangat dan menyenangkan itu kemudian berlanjut ke project-project lain seputar buku. I am so grateful.

Paket buku kemudian datang, dan di luar ekspektasi saya ternyata isinya bukan cuma buku. Ternyata One Peach Media memang membundling bukunya dengan beragam merch yang cantik-cantik, ada postcard, gantungan kunci, bag paper yang estetik, dan lain-lain *kalian bisa liat paketnya di tokopedia One Peach Media.

Berikut penampakan 2 postcard buku ini. Bisa dibaca kalo puisinya memang gombal banget ya hahaha. Jenis jenis puisi yang bikin ketawa karena retjeh tak terkira :D, tapi kalo dibawakan dengan tepat yang retjeh justru berkesan.

Aroma dirimulah yang

mengalir dari jantungku

hingga terikat erat di setiap

kapiler nadiku.

Sayangku, kau hidup di

dalam arus pembuluh

darahku dan aku anemia

tanpa adanya dirimu.

 

Picture: Foto poscards

 

Selesai memperhatikan merchandise postcard, perhatian saya beralih ke bagian belakang buku yang ternyata ada puisi juga di sana. Puisi ini, menilik dari adanya kata koma dan dan titik, bisa dipastikan inilah salah satu puisi yang menyuarakan inti isi bukunya. Saya kutipkan di bawah ini puisinya untuk teman-teman baca ya.

Aku tahu, kau benci diperdaya,

tapi aku suka memperalat hatimu

 

Maafkan aku yang acap kali

mencuri warna matamu,

demi memintal keluwung di atas cerita

 

Aku tahu, kau tak sudi tertipu

Tapi lagi dan lagi kugunakan cintamu

demi koma yang kupetik dari

suara pilu milikmu

Sayangku,

janganlah kau menjemu dahulu

hingga hati mengunci kegilaan

Aku tak akan pernah membubuhkan titik

untuk larik-larik yang tak pernah usai

 

Biarkan saja aku memperdaya cintamu,

berulang-ulang hingga puisiku utuh

 

Saya sebut salah satu puisi, karena memang setelah membuka halaman awal buku ini, kita akan bertemu dengan sebuah prosa pendek, yang ketika dibaca, seolah berkesinambungan dengan puisi yang ada di bagian belakang buku. Saya suka sekali dengan diksi prosa Kenapa Koma Tanpa Titik? yang sederhana tapi dalam. Sebuah untaian kata yang bermakna.

Kenapa Koma Tanpa Titik?

Karena setelah membubuhkan titik, dibutuhkan kalimat baru untuk memulai tulisan berikutnya. Bagaimana jika aku dan kamu tidak lagi menjadi bagian dari cerita selanjutnya? Atau mungkin juga tidak ada kalimat baru, titik dan habis. Jadi, aku tidak sampai hati memberi titik untuk setiap aksara yang terpahat, agar tidak akan pernah ada akhir untuk tiap kisah kita yang tertera. Cukup koma saja untuk memberi jeda.

 

 

Buku puisi ini tentu punya halaman-halaman gambar, dan spesialnya, yang kita temukan di sini adalah kolase fotografi dan ilustrasi. Ini memang sisi unik, pembeda Koma Tanpa Titik dengan buku puisi lainnya. Foto-fotonya diambil oleh Elvira sendiri, termasuk foto di puisi Rinduku di Sungai Pinang yang memang diambil di Sungai Pinang sana. Niat bener ya :D

 

Picture: Kolase fotografi dan ilustrasi

 

Salah satu yang ditunggu dari buku puisi juga tentunya adalah unsur artistik layout tulisan. Di sini kita akan menemukan variasi layout dan permainan jenis huruf.

Picture: Layout tulisan dan permainan jenis huruf

 

Membaca bagian awal buku puisi ini mengingatkan saya sejenak pada buku puisi pujangga legendaris Khalil Gibran dengan buku The Prophet-nya. Di The Prophet, Gibran membingkai prosa-prosanya dengan prolog dan epilog berbentuk kisah. Di Koma Tanpa Titik saya juga menemukan bagian yang serupa. Tadinya saya sempat menduga tidak akan ada epilognya mengingat konsepnya yang 'koma tanpa titik' yang berarti tanpa ujung. Tapi ternyata epilognya ada di bagian akhir buku.

Kisah pada prolog menceritakan sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu di cafe. Selagi mendengarkan musik cafe, mengembaralah pikiran ke sebuah pertanyaan tentang cinta yakni "memangnya cinta sederhana itu ada". Sebuah cerita yang simple dan manis menurut saya. Sangat sesuai untuk membingkai sebuah buku puisi tentang cinta yang puisi-puisinya dibagi ke dalam tiga bagian, Aku - Kamu- Jarak.

Prolog

Suara manis dari vokalis salah satu band indie asal Bandung mengisi ruang hening seluruh coffee shop yang hanya terisi beberapa meja. Lirik lagu Simple I Love You terpantul berulang-ulang di dalam kepala padahal suara sang penyanyi telah usai. Sigh! Emangnya cinta sederhana itu apa sih, kesahku dalam hati.

Banyak yang bersuara, katanya cinta itu sesederhana kita mampu memahami pasangan. Namun, sayangnya banyak hati yang melupa kalau dirinya sendiri butuh dipahami. Ada lagi yang bilang, cinta itu sesederhana kita memberikan telinga untuk mendengarkan. Namun, bukankah adakalanya perasaan diri sendiri itu butuh didengarkan? Banyak juga yang berpendapat kalau kesederhanaan cinta diukur dari rasa ikhlas. Seberapa besarkah? Kok rumit, ya? Jadi, apa cinta sesederhana itu ada?

"Kok diam?" tanyamu.

Aku kaget, kutatap dirimu seakan-akan baru menyadari bahwa ada dua orang yang duduk dalam satu meja. Sambil memasukkan sedikit lagi gula dari kemasan ke cangkir kopi, aku balik bertanya dengan nada suara memaksa, "Sebenarnya ada gak, sih, cinta yang sederhana?"

Dari seberang meja, kamu menatapku dalam. "Cinta itu sederhana, yang rumit itu menemukannya," jawabku diimbuhi sebuah senyuman misterius. "Dengan orang yang tepat, kerumitan kehidupan bisa disederhanakan."

Dalam diam, tak putus mataku memandang dirinya seolah-olah aku baru menemukan dirimu untuk pertama kalinya. Entah kenapa, seiring habisnya isi cangkir, kurasa sekarang aku tahu apa itu cinta yang sederhana.

Halaman viii

 

Sebelum masuk ke Bagian Aku, ada sebuah puisi pendek yang bertopikkan rumah serta pulang. Selama ini dalam banyak puisi bahkan buku-buku pengembangan diri, rumah yang saya tau mengacu pada seseorang atau beberapa orang yang bikin kita bahagia, dan perjalanan ke rumah adalah pulang. Tapi di tulisan Elvira, ternyata rumah dan pulang itu tidak sama. Dengan puisi ini saya jadi asyik menginterpretasikan maknanya, menebak arahnya, selagi menikmati prosanya.

Baru kusadari ...

'rumah' dan 'pulang' itu tidaklah sama

Di mana ragaku berada,

itulah 'rumah'

Ke mana hatiku kembali,

itulah 'pulang'

 

Secara singkat saya gambarkan bahwa buku ini tentang sepasang kekasih yang punya hubungan jarak jauh. Di bagian Aku, puisi-puisinya mengangkat tema sudut pandang Aku dan perasaan cinta yang dirasa, di bagian Kamu ada puisi-puisi yang topiknya berpusat di orang yang dikasihi, dan di bagian Jarak ada puisi-puisi yang menyuarakan kerinduan, tentang harapan, dan tentu saja tentang jarak yang memisahkan.

Berikut saya kutipkan puisi di tiap bagian yang paling saya sukai.

Part Aku

Yang Tak Kautahu

Aku tahu,

bahuku tidaklah lebar

tapi seluruh bagiannya

kusediakan untuk

menampung air matamu

 

Aku tahu juga,

lenganku sangatlah kecil

tapi seluruh genggamannya

hanya cukup untuk

jemarimu

 

Dan aku tahu,

ke mana pun kaki

melangkah,

selalu ada

henti untukmu

 

Part Kamu

Kamu yang Aku Tahu

Kamu bukanlah isi dari hatiku

Aku tahu,

di dalam raga ini, tak ada sepotong hati jika

bukan kau di dalamnya

 

Kamu bukanlah apa yang tertanam di mataku

Tanpamu,

tak ada biru, hitam, hijau

Kau adalah warna dunia yang kulihat

 

Kamu bukanlah separuh aku.

Kau adalah apa yang ada di dalam aku

 

Kunang-kunang hatiku,

dengarkan sayap jiwaku berkilau kusyu

 

Selama kau ada,

apa pun dalam hidupku memiliki arti tersendiri

Seandainya kau hilang,

napasku pun hilang makna

 

Part Jarak

Membilang yang Tak Terbilang

"Sudahkah kauhitung?" tanyamu

"Berapa lama lagi?"

 

"Aku tak bisa membilang," jawabku

 

"Berapa jauh lagi?" ulangmu

 

"Sayang," jawabku, "waktulah yang menambahkan rindu,

dan jarak yang mengurangi temu

Bukan angka"

 

Bagi saya pribadi, rangkaian puisi yang ditulis memang manis, beberapa saya masukkan ke dalam puisi favorit saya seperti puisi Yang Tak Kautahu. Dan sebagai penutup, sebuah puisi sederhana, hanya tiga baris panjangnya, ternyata masuk ke dalam deretan puisi Koma Tanpa Titik yang paling saya suka, coz that rings true.

Dengan orang yang tepat

kerumitan kehidupan

bisa disederhanakan.

Cinta yang saya pahami adalah cinta yang mendatangkan kedamaian, bukan yang berdrama menghabiskan energi, cinta yang saya impikan adalah cinta yang menyederhanakan kerumitan hidup yang sudah rumit ini.

 

Siapa Elvira

100 kata untuk mendefiniskan @CatatanSeorangEha . Perempuan. Libra. Mom of one teenage girl. Cat lover. Accounting. Fotografer suka-suka. Tim kreatif AWI (Amateur Writer Indonesia). Penyuka udara dingin. Pencinta langit abu-abu. Penggila puisi. Pemburu minuman hangat. Penimbun buku. Pecandu musik. Pencari keheningan. Penimbang. Hard to say no. Pernah amnesia. Anemia akut. Vegetarian. A lover not a fighter. Introvert. Adjustable. Beta woman. Moody, seringnya. Melankolik. Unpredictable. Nomaden. Pistanthrophobia. Setia kawan. Penghindar konflik. Penyuka diskusi yang tak bisa diatasi. Manis bersama orang yang tepat. Menggila secara berbahaya setelah disudutkan. 4 buku solo. 50 buku antologi. IG @CatatanSeorangEha ǀ @3lv_ra . FB Fanpage CatatanSeorangEha

Sumber: Elvira

 

Selama bertahun-tahun belakangan ini, kelas menulis secara daring bertumbuh lebih dari kata cepat. Dari sekian banyak kelas menulis yang sudah kuikuti, ada satu pernyataan dari seorang mentor yang tidak bisa aku lupakan. Dalam menulis, belajarlah menggali ide dari kata benda terlebih dahulu, jangan dimulai dari kata sifat. Kenapa? Karena kata sifat itu abstrak, susah didefinisikan, jadi pengembangan idenya suka kabur. Contohnya, kata 'cinta'. Bukankah sulit untuk mendefinisikan mengenai cinta itu sendiri?

Herannya, aku justru menyukai tema cinta dalam setiap tulisanku. Ehm... mungkin aku ini termasuk jenis murid nakal, ya. Buatku, sesuatu yang abstrak itu membuat jari lepas dalam mencanting frasa, kalimat, larik, hingga paragraf. Apa yang hari ini tangkap akan cinta kulepaskan lagi dalam aksara. Melalui menulis, aku, seorang perempuan Libra nan alay ini bebas mendeskirpsikan apa itu cinta. Bahkan keempat buku solo yang sudah selesai kutulis memiliki satu benang merah, cinta. Dimulai dari kumpulan puisi dengan quote Tentang Seseorang dan A Little Book About You, lalu novel Waktu Adanya Dirimu, hingga buku Koma Tanpa Titik ini.

Walaupun tajuk akan cinta benar-benar kusukai, sesekali ada juga tulisan tentang perempuan, motivasi, ataupun perihal anak dengan tujuan mencari sesuatu yang beda. Semua tulisan tersebut, tersebar dalam berbagai judul buku antologi yang dihasilkan dari proyek menulis buku antologi, event, juga lomba-lomba menulis. Mungkin di antara kalian, ada yang pernah menemukan tulisan milikku di antara buku-buku antologi berikut:

Motivator Terbaik adalah Dirimu Sendiri (Mer-C Publishing, 2017)

Penantian Berharga (OPM, 2018)

Menunda Tabir Rindu (JSI Press, 2017)

Welcome to Becoming Writer (Penerbit WR, 2018)

Yang Ingin Kulupakan (OPM, 2017)

Hadiah untuk Ibu (Penerbit Ernest Indonesia, 2017)

The Sense of Happiness (Raditeens 2017)

Secangkir Air Mata (Mandala Pratama Publishing, 2017)

Denting Cinta (Raditeens, 2018)

Gelembung Cinta (Raditeens, 2018)

Nada dalam Aksara (OPM, 2018)

Kampung Aksara Berdaya (PT Inspirator Juara Indonesia, 2018)

Never Give Up (Raditeens, 2018)

Menghitung Jarak (Mandala Pratama Publishing, 2018)

Telisik Nusantara (Penerbit Ernest Indonesia, 2018)

September Love (OPM, 2018)

Maya (Penerbit Medialiterasi, 2018)

Segores Aksara Sahabat (Penerbit Mandiri Jaya, 2018)

Sepenggal Kisah Perjalanan (OPM, 2018)

Thrilling Tuesday (Ellunar, 2018)

Mengeja Kamu (Mandala Pratama Publishing, 2018)

Teropong Waktu (Raditeens, 2018)

Ya Allah, Izinkan Kami Menjadi Birrul Walidain (Kaifa Publishing, 2018)

Terpatri (OPM, 2018) 

Selaksa Harap (Raditeens, 2019)

My Strength (OPM, 2019)

La.Rau (Ellunar, 2019)

A Borrowed Memories (Ellunar, 2019)

Pelangi di Negeri Air (Penerbit Medialiterasi, 2019)

Yang Belum Usai (Raditeens, 2019)

Bukan Cerita Semusim (OPM, 2019)

Balonku, Keretamu, dan Kupu-kupunya (Ellunar, 2019)

Kubiarkan Kau Terus Bercerita (OPM, 2019)

Dian dan Bersuara (OPM, 2019)

Ini Cuma Mitos (Ellunar, 2019)

June's Page (Ellunar, 2019)

Perjalanan Hari (OPM, 2019)

Reborn (OPM, 2019)

Relief Biru Waktu (Ellunar, 2019)

5 Masa: 5 Makna (Ellunar, 2019)

Break the Wall (2020)

Hujan Tumpah pada Hatiku yang Gersang (OPM, 2020)

Memoar dan Memar (OPM, 2020)

Melukis Tulis (Ellunar 2020)

serta Lalu yang Bertamu (OPM, 2020)

Dari pertama kali kenal, dunia tulis-menulis selalu memberiku banyak cerita seru yang membuat dada berdebar deras. Dimulai dari aktif menjadi bagian tim kreatif AWI (Amateur Writer Indonesia), ambil bagian sebagai kontributor dalam media daring Bernas, Juara 1 Sayembara puisi tema 'Kamu' yang diadakan Mandala Pratama Publishing, juara III Lomba Menulis Puisi bersama 'Sajak Berbisik', terpilih sebagai 50 Penulis Terbaik Ellunar 2019 juga tulisan terbaik event menulis bersama Gerakan Menulis Perempuan, sampai menjadi kontributor 14 Hari Menulis Harapan bersama Bentang Pustaka. Ah, sebenarnya masih banyak kisah-kisah lainnya yang tak tertuliskan. Benar-benar sebuah dunia yang memberi warna lain untuk rutinitas hidupku yang hanya berputar di sekitar pekerjaan kantor dan membesarkan seorang teenage girl.

Akhir kata, buat yang ingin menyelami diriku lebih lanjut, bisa langsung silaturahmi melalui

Instagram @catatanseorangeha , @3lv_ra

Fanpage FB: CatatanSeorangEha

Sumber: Buku Koma Tanpa Titik

 

Rekomendasi

Buku puisi ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang menyukai buku puisi bertopik cinta yang juga mengangkat topik jarak yang terbentang di antara kisah cinta. Puisi-puisinya manis dan 'unyu-unyu', dosis gombalannya cukup buat dipake malam mingguan bagi lajang maupun yang sudah berpasangan, dan part Jarak bisa juga dipake buat pengingat diri dan si dia bahwa dalam jarak ada harapan, ada kesetiaan, ada janji, dan ada cinta. Buku ini makin istimewa karena memiliki halaman-halaman kolase fotografi dan ilustrasi. Nuansa warna buku hijau, coklat, peach, yang memberikan kesan menenangkan, sesuai dengan temanya juga yang mempertanyakan tentang 'memangnya ada cinta yang sederhana', yang kemudian dijawab dalam prosa paling akhir di buku 'dengan orang yang tepat, kerumitan hidup bisa disederhanakan'.

Menulis buku yang baik menurut saya, beberapa di antaranya berkaitan dengan kerapihan konsep si buku tersebut, sejauh apa isi buku mampu menyampaikan pesan penulisnya, dan dalam prosesnya bisa stand out dengan keunikannya, dan buku Koma Tanpa Titik memenuhi ekspektasi itu.

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan masih banyak lagi. Passionnya yang lain terkait dengan pendidikan dan kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Snack Book - Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipi pensiun dari bekerja di universitas dan menikmati waktunya di lembaga pelatihan. Dipidiff adalah Personal Brand-nya. 

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Twyford Code - Janice Ha…

20-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The Sunday Times Bestseller   Judul : The Twyford Code Penulis : Janice Hallett Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers Penerbit : Profile Books Tahun Terbit : July 2022 Jumlah Halaman : 400 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

Review Buku Dimensi Langit Manusia - Ast…

11-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Dimensi, juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020 Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia   Judul : Dimensi Langit Manusia Penulis : Astrida Hara Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : MCL...

Read more

Review Buku Bino - Zaki Jaihutan

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Bino Penulis : Zaki Jaihutan Jenis Buku : Horor Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Juni 2021 Jumlah Halaman : 288 halaman Dimensi Buku : 13 x 19 cm Harga : Rp. 96.000*harga sewaktu-waktu dapat...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more