0

Review Buku Damba, Lara, dan Cinta - Stefano Romano

Published: Wednesday, 12 April 2023 Written by Dipidiff

 

Judul : Damba, Lara, dan Cinta - Enam Cerita Perempuan Asia

Penulis : Stefano Romano

Editor: Anwar Holid

Jenis Buku : Kumpulan Cerpen

Penerbit : MCL Publisher

Tahun Terbit : 2023

Jumlah Halaman : 134 halaman

Dimensi Buku : 13 x 19 cm

Harga : Rp. 84.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9786235915197

 

Softcover

Terjemahan

Tersedia di MCL Publisher

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Buku ini menyajikan enam kisah perempuan Asia dengan berbagai usia berbeda untuk menceritakan pengalaman, tradisi, budaya, dan agama enam negara; seorang wanita penjual pakaian biksu di Yangon, perjalanan pulang ke utara Filipina seorang wanita pekerja migran di Italia, pemikiran seorang wanita tua di kampung Malaysia, kehidupan pribadi seorang supermodel yang tinggal di lantai tertinggi gedung pencakar langit Jakarta, luka seorang gadis di pedesaan India, hingga memori seorang anak perempuan tentang gajah putih di Thailand.

Yuk kita intip isi bukunya:

Sepotong Cerita dari Yangon (Myanmar)

Imelda Pulang (Filipina)

Istana Cinta (Malaysia)

Puisi untuk Dilla (Indonesia)

Luka Soma (India)

Guru Desa (Thailand)

 

Sumber: Buku Damba Lara Cinta

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini kepada semua pembaca, khususnya yang menyukai kumpulan cerpen bergaya literary fiction dengan kekentalan unsur budaya dan segala keunikan negara, meliputi Myanmar, Filipina, Malaysia, Indonesia, India, dan Thailand. Tema problematika enam wanita berbeda negara dan latar belakang ini ditulis dengan narasi yang mengalir, kadang puitis, ditunjang oleh lagu-lagu dan puisi, secara total memberikan kesan melankolis. Tiap bab terdapat foto hasil potret Stefano Romano.

 

 

This Book Review Might Have Spoiler!

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Damba, Lara, dan Cinta menggelitik keingintahuan saya sebab ditulis oleh Stefano Romano yang orang Italia tapi mengangkat 6 kisah perempuan Asia. Lintas bangsa dan gender antara profil penulis dengan karyanya ini membuat saya bertanya-tanya seperti apa isi bukunya. Tidakkah teman-teman merasakan hal yang sama?

Selain cerita wanita dari Myanmar dalam Sepotong Cerita dari Yangon, ada pula dari Filipina (Imelda Pulang), dari Malaysia (Istana Cinta), dari India (Luka Soma), dari Thailand (Guru Desa), dan yang teristimewa - karena saya orang Indonesia - tentunya dari negara kita dengan judul Puisi untuk Dilla. Mari kita lihat lebih dekat tiap cerpennya.

Sepotong Cerita dari Yangon berkisah tentang Daisy Kyawwin yang berjualan pakaian biksu, berputri satu, dan telah ditinggal meninggal suaminya yang tidak ia rindukan. Lalu di suatu hari terjadi huru-hara di depan tokonya dan peristiwa itu mempertemukannya dengan pria yang selama ini hanya ia perhatikan dari jauh. Cerpen ini menurut saya bagus kalau dilihat dari perspektif karya sastra roman karena style-nya gentle, smooth, dan 'main feel'. Latarnya cukup. Pace cerpennya juga enak. Model slice of life. Endingnya juga sesuai justru karena tidak ada konklusi yang terang-terangan, sehingga secara total tetap bertahan ke 'rasa' yang implisit itu. Membaca Sepotong Cerita dari Yangon membuat saya berharap Stefano tertarik untuk menulis novel literary fiction, karena harusnya bisa dan bagus jika dilihat dari cerpen yang ini.
 
Imelda Pulang adalah kisah Imelda yang pulang ke tanah kelahirannya, Filipina. Dengan harapan bertemu suami yang sudah lebih dahulu kembali dan keluarga yang ditinggalkan begitu lama, benaknya dibanjiri kenangan masa lalu pernikahannya dan perjuangan hidup di Italia bersama keluarga yang sayang padanya. Akan seperti apakah kepulangan Imelda ini jadinya? Cerpen ini buat saya berbeda dengan Sepotong Cerita dari Yangon. Ada terlihat unsur dramanya, gaya cerpen kontemporer, dengan fenomena yang relate, tapi penyampaiannya yang bagus jadi tidak terasa klise. Emosinya lebih terasa bergejolak ketimbang cerpen pertama sebagai efek dari drama konflik yg mulai digarisbawahi, latarnya cukup, ending implisit, ditutup dengan mix feeling dari tokoh imelda yang beresonansi di hati saya sebagai pembaca.
 
Istana Cinta, kisah Mak Saodah yang menjalani kehidupan sehari-hari masa tua, dengan suami yang pendiam namun setia. In short, latar cukup, bermain di plot twist-ending, lebih mirip cerita satu kalau dilihat dari feel, tapi gaya lebih ke cerita pendek kontemporer pada umumnya bukan short story-literary fiction, seolah style-nya kombinasi cerita 1 dan 2 lalu diberi sesuatu yang baru yakni ending berplot twist. Hal lain yang saya suka dari cerpen ini adalah nuansanya yang tepat untuk menggambarkan kehidupan masa tua.
 
Puisi untuk Dilla, tentang model terkenal bernama Dilla yang sukses tapi seolah kehilangan emosi sebagai seorang manusia. Rupanya hal ini bersumber dari satu momen masa lalunya. Cerpen ini berbeda dengan yang lainnya jika dilihat dari kehidupan modern dan kelas atas yang diangkat lewat tokoh Dilla. Tiga cerita sebelumnya lebih ke wanita biasa, bukan public figur. Sadly, sisi budaya lokal tidak keangkat di sini dan Stefano tidak melakukan penyesuaian ketika naskah ini dibahasa-indonesiakan, padahal semua scenes di Garut membuka peluang untuk itu. Saya merasa kurang smooth di cerita ini waktu menyimak interaksi Dilla dan Arif (kakaknya), juga penggunaan kata kerajaan dan istana yang mengganjal dalam konteks. Transformasi karakter tokoh bagian yang menarik buat saya di sini. Konflik besar tapi ditampilkan samar, oleh karena itu saya berharap ada olah emosi yang lebih dalam untuk tokoh Dilla sehingga terasa seperti sebuah permukaan yang tenang tapi di dalamnya badai berkecamuk, dan poin ini masih 'nanggung'. Untuk cerpen tantangannya mungkin besar ya agar bisa mendapatkan yang seperti itu karena limit pendek alurnya. Novel mungkin lebih memungkinkan.
 
Dilla dan Arif saling berpandangan dan tertawa.
Arif mencium pipi adiknya dan membelai wajahnya. "Kamu lebih cantik ketika tertawa. Kembalilah kapan pun kamu mau, tetapi beri tahu aku dulu agar istriku tidak terkena serangan jantung. Dia harus membereskan dulu istananya."
Halaman 77
 
Luka Soma dari India, tentang gadis berusia 14 tahun yang diperkosa dan dirusak wajahnya. Ia kemudian bersembunyi di dalam rumah, berdoa dan membaca, lalu menjadi istimewa dengan puisi-puisinya. Imajinatif, sadly, saya gagal menangkap latar waktunya, atau mungkin juga itu memang bukan bagian yang penting dari cerita. Di sisi lain saya mengapresiasi vibes-nya yang seperti dongeng atau kisah-kisah bijak, di antara kisah lainnya, Luka Soma di mata saya adalah yang paling romantis dan puitis. Suatu cerita yang sulit relate dalam kehidupan nyata, tapi jelas bisa menawarkan wisdom of life dan enlightment. Samar-samar entah mana yang benar, apakah cerita yang membingkai puisi atau puisi yang membingkai cerita. Interesting.
 
Soma bersandar di batang pohon dan mulai membaca puisi:
 
"Dia bergerak riang di halaman rumah, tapi bersembunyi dari pandanganku,
yang beruntung dia tatap matanya, tapi dia hanya menatapku sebelah mata,
dengan yang lain dia bercakap, tapi ketika aku tiba dia membisu:
orang yang kucintai telah membawaku ke luar dari duniaku yang biasa."
 
"Bagus sekali, putriku, tetapi apa artinya?" Ayahnya bertanya sambil membelai kulit pohon yang berkerut seperti wajahnya.
Halaman 93
 
Cerita terakhir, Guru Desa, tentang Punnee yang bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Theerapong, yang kini menjadi seorang biksu. Kisah ini style-nya sama seperti cerita pertama, no drama, fokus ke feel tokohnya dan pemaknaan kisah itu sendiri, short story-literary fiction. Tapi saya missing link di akhir cerita karena wawasan saya yang kurang berkaitan dengan culture dan kepercayaan Thailand, ending saya tebak bagian dari petunjuk penting yang saya gagal paham dan hanya bisa saya tebak-tebak seadanya. Tapi mungkin juga poin ini punya penjelasan yang sederhana, mengingat kalimat kunci cerpen ini sudah dituliskan di sinopsis, yakni memori seorang anak perempuan tentang gajah putih, dengan demikian saya paham makna ujung cerpen ini. 



Tidak mengecewakan memang, karena cerpen-cerpennya kental dengan unsur kekhasan dan budaya negara bersangkutan. Myanmar dengan longyi, lethoke, lulur thanaka, May Sweet dan lagu Maung, juga latar pergolakan demonstran paska revolusi. Cerita dari Filipina dengan sisipan bahasanya, ada Tita, Hindi po, istilah balikbayan, dan lain-lain. Kisah Mak Saodah dari Malaysia dengan panggilan Makcik Pakcik, lalapan ulam, daun pegaga, telekung, dan lain-lain. Begitupun untuk cerita dari India dan Thailand. Barangkali hanya di kisah Dilla yang berlatar Garut yang di luar ekspektasi saya. Jangan khawatir juga berkaitan dengan arti tiap istilah khusus atau latar spesifik ini karena semuanya bisa dicek di catatan kaki. Catatan-catatan khusus di luar footnote juga jangan dilewatkan karena menyebutkan informasi penting dan personal terkait penciptaan cerpen yang bersangkutan, misalnya catatan bencana banjir yang melanda Garut pada 20 September 2016 di bab cerpen Puisi Untuk Dilla.

Saya suka konsep buku ini yang mengumpulkan cerita perempuan dari beberapa negara di Asia. Saya juga suka karena cerpen-cerpennya punya keunikan masing-masing. Sepotong Cerita dari Yangon tentang wanita berputri satu yang telah ditinggal meninggal suaminya kelihatannya menemukan cinta pada akhirnya, Imelda Pulang tentang TKW di Italia yang bekerja keras mengirimkan uang ke kampung halaman untuk kemudian mendapati kenyataan yang sesungguhnya, Luka Soma punya vibes dongeng jaman lampau, Guru Desa tentang pertemanan yang berkembang menjadi kedekatan tapi somehow ujungnya tidak klise kisah romansa. Buku ini mungkin bukan bacaan yang tepat untuk pembaca yang mencari cerita yang eksplisit, sensional, dan lebih mudah dimaknai. Tipe cerita yang asyik buat renungan dan diskusi bagi yang suka. Cerpen-cerpen yang menurut klasifikasi Edgar Allan Poe masuk ke dalam kelompok emotional short story collection.

 

Saya juga suka diksinya, skillfully. Pasti karena alih bahasanya juga bagus. Tapi saya baca beberapa artikel di blog Stefano dan puisi yang ia tulis, jelas beliau punya sense of poetry. Damba, Lara, dan Cinta adalah kisah-kisah perasaan wanita dengan beragam dinamika dan problema kehidupannya. Beautifully written by Stefano Romano.
 
Hal lain yang saya suka dari Damba, Lara, dan Cinta adalah sisi personal profil penulis yang tampak pada karyanya, mulai dari halaman foto, sisipan lagu-lagu, dan puisi. Salah satu puisi yang paling berkesan buat saya justru puisi Ibu karya Wiji Thukul yang dimunculkan dalam cerpen Puisi untuk Dilla.
 
"sajak ibu"
 
ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap
ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis ketika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara
ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
 
kasih sayang ibu
adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
membangkitkan haru insan
dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku pada Tuhan
 
Solo, 86
 
Halaman 80
 
 
 
Bagi pencari cerpen yang lebih suka unsur dinamika drama, mungkin buku ini kurang sesuai. Tapi yang suka dengan gaya implisit dan potensi renungan, buku ini memenuhi ekspektasi. Pembaca yang berharap cerpen-cerpen yang seragam dari sisi profil tokoh, katakanlah wanita biasa yang hanya berbeda budaya/negara, buku ini akan terganjal hal itu. Tapi untuk pembaca yang suka dengan variasi profil, ada wanita dengan anak satu, wanita tua, wanita modern muda, wanita dari kecil hingga dewasa, buku ini akan sesuai harapan. Teringat dengan obrolan bersama Stefano, konsep Damba, Lara, dan Cinta memang keberagaman culture dan profil wanita.
 
Sementara itu literary style, menurut saya sejauh ini masih segmented di Indonesia. Gaya Stefano lebih ke sana ketimbang kontemporer populer, ditambah pula ini cerpen. Mungkin kebanyakan pembaca akan lebih menginginkan sebuah cerita pendek yang tension-nya lebih jelas atau kalau mau maka tokohnya lebih ekstrim, tidak se-gentle yang ada di buku ini.
 
Buat saya pribadi yang suka tipe cerita yang bisa direnungkan dan didiskusikan, juga suka unsur budaya, dan perasaan wanita, termasuk variasi dalam cerpen, buku Damba Lara Cinta adalah sebuah buku yang bagus. Saya suka. Secara konsep buku ini sangat mumpuni. Sisanya tentu kembali ke selera pembaca masing-masing.
 
Poin lainnya, adalah harapan saya sebagai pembaca terkait cetakan buku, karena Stefano adalah fotografer senior, guru fotografi yang punya berbagai pencapaian, saya berharap halaman foto bisa dicetak kertas glossy. Alasannya sederhana, saya ingin melihat dan menyelami foto yang dijepret oleh Stefano. Cetakan buku seperti ini pernah saya temui di buku-buku impor dengan edisi paperback tapi beberapa halaman di-glossy-kan. Di sisi lain saya kurang paham apakah teknik produksinya sulit atau mudah buat penerbit. Lalu tentu ada pertimbangan juga dari harga jual. Tapi mungkin harga yang lebih mahal worth it jika dilihat dari tingkat kepuasan produk. Halaman khusus foto ini juga bisa digunakan untuk uniqueness si bukunya karena profil penulisnya yang spesifik profesional fotografer.
 
 
 
Picture: Beberapa halaman foto di buku

 

Siapa Stefano Romano

Stefano Romano lahir di Roma pada 1974. Menyelesaikan studi pada Jurusan Psikologi dan Estetika. Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas La Sapienza, Roma, pada 2001. Stefano mulai bekerja sebagai fotografer sejak 2009, dengan memotret komunitas migran dari berbagai etnis di Roma, khususnya Bangladesh, Maroko, Filipina, Thailand, dan Indonesia, dan bekerja sebagai juru foto resmi Kedutaan Besar Indonesia dan Malaysia di Roma.

Stefano telah mengadakan pameran foto berkolaborasi dengan "L'Albero della Vita" dan dengan Shoot4Change di Milan pada Mei 2012. Pameran fotografi pribadinya yang berjudul "Children of the World - Children Save Me" berlangsung pada November 2011 dengan dukungan dari Rome Capital - City Hall VI. Pada 2012, pameran fotografinya berjudul "Cahaya Manis - The Sweet Light" - dikuratori oleh the Occhio dell'Arte - menampilkan beberapa foto yang diambil di Indonesia. Salah satu fotonya terpilih untuk digunakan pada kartu anggota thunan Amnesty International Italy 2014, dan tiga fotonya digunakan dalam Kalender 2015 edisi peringatan 40 Tahun Amnesty International.

Stefano Romano meraih gelar The Knight of Rizal dari pemerintah Filipina pada tahun 2015. Ia dapat berbicara bahasa Inggris, Tagalog, dan Indonesia. Buku-bukunya antara lain: Kampungku Indonesia (2016), Sweet Light: Meraih Cahaya Melalui Fotografi (2019), My Malaysian Tales (2020), dan My Bangladesh Tales (2021). Pada 2018-2019 ia bekerja untuk USM Press di Penang, Malaysia untuk membuat buku fotografi peringatan 50 tahun Universiti Sains Malaysia, Say It From the Heart #USMStyle (2019).

Stefano Romano rutin menulis di blognya soccamacha.blogspot.com

 

 ----------------

 

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku Fourth Wing - Rebecca Yarros

14-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times BestsellerA Goodreads Most Anticipated Book Judul : Fourth Wing (The Empyrean, 1) Penulis : Rebecca Yarros Jenis Buku : Epic Fantasy, Romantic Fantasy, Sword & Sorcery Fantasy Penerbit : Piatkus, an...

Read more

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Starbucks Jatinangor (a Story)

25-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang...

Read more

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more