0

Review Buku Dimensi Langit Manusia - Astrida Hara

Published: Sunday, 11 September 2022 Written by Dipidiff

 

Dimensi, juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020

Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia

 

Judul : Dimensi Langit Manusia

Penulis : Astrida Hara

Jenis Buku : Fiksi Religi

Penerbit : MCL Publisher

Tahun Terbit : Desember 2021

Jumlah Halaman : 314 halaman

Dimensi Buku : 14 x 20,5 cm

Harga : Rp. 100.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9786239822392

 

Softcover

Edisi Bahasa Indonesia

Tokopedia MCL Publisher

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

 

Novel ini berkisah tentang perjalanan spiritual seorang wanita dan dua lelaki atas prinsip dan pilihan hidup mereka. Tentang menemukan makna dan kekuatan atas badai hidup yang menempa. Berhasilkah mereka menemukannya? Dan benarkah ada bahagia yang sesungguhnya?

Tavisha menemukan kado yang terlambat ia terima dari Galal, almarhum suaminya, berisi teka-teki; (1) Apa yang paling berharga dari kelahiran, (2) Apa gunanya perban, (3) Ada apa dengan jurang dan pohon angker. *sumber: buku.

Duka dalam yang dialami Tavisha sempat membuatnya terpuruk selama berbulan-bulan, tapi perlahan pesan Galal yang tersirat dalam kado teka-teki merasuk dalam benaknya, membuatnya bertahan dan bangkit berjuang. Perjalanannya menemukan jawaban 3 pertanyaan tersebut membawanya pada kontemplasi menemukan iman dan ketakwaan, juga membuka takdirnya di masa depan.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Tokoh dan Karakter

- Tavisha Gantari
- Alfarezi
- Karin
- Farran
- Galal dharmasena
- Alvan
- Tya
- Ibu
- Bu Jaeliah
 

Tiga tokoh utama dalam cerita dapat dengan mudah saya sukai. Tavi dan Alvan bukan tipe tokoh sempurna sehingga relate dengan cepat ke problematika yang umum ada, mulai dari orangtua tunggal, trauma perceraian, sampai kejatuhan karir hingga ke titik nadir. Tokoh yang sempurna di sini mungkin almarhum Galal kalau menilik dari penggalan-penggalan cerita semasa dia masih hidup. Galal itu dewasa dan bijak. Tavisha sendiri adalah cerminan tokoh yang berusaha bangkit dari keterpurukan dan saya suka melihat perkembangan karakter Tavisha dari awal hingga akhir. Begitupun Alvan yang meski di awal terlihat wise, tapi ternyata di pertemuan keduanya dengan Tavisha, Alvan mengalami trauma perceraian. Di luar tiga tokoh itu, saya suka dengan tokoh Kakak yang bersedia mendampingi masa-masa down Tavisha, yang sabar, sayang, dan terus mengingatkan, yang pandangannya luas dan sholeh.

 

Alur dan Latar

Alur maju dengan flashback ke masa lalu sesekali. Kecepatannya sedang-cepat dengan pov 1 Tavisha.

Latar cerita mengambil lokasi di Jepang, Kanazawa, dan Indonesia. Untuk latar entah mengapa tidak ada satu pun yang berkesan di ingatan saya. Sempat juga terlintas mengapa latar Jepang tidak ditonjolkan oleh Mba Astrid, sesuatu yang menurut saya bakalan menarik dan menjadi pembeda buat bukunya. Dugaan saya itu mungkin karena Mba Astrid sudah pernah menggarap sebuah cerita dengan latar Jepang yang detail, yakni di buku pertamanya yang menjadi bestseller , sehingga di buku kedua ini ingin mencari nuansa yang berbeda. Namun sebagai pembaca yang baru pertama kali membaca karyanya dan tidak tahu menahu dengan buku pertamanya mba Astrid, saya ingin sekali ada elaborasi yang lebih dalam tentang latar ini. Tebakan saya yang lainnya adalah soal ketebalan buku. Dari perbincangan di IGLive bersama mba Astrid dan Ibu Ida (Direktur MCL), naskah DLM yang asli lebih tebal dan dipangkas agar jadi lebih ringan dibaca. Mungkin juga itu sebabnya tidak ada bagian cerita yang mengeksplor Jepang lebih dalam.

Konflik cerita menarik karena seolah ditampilkan berupa misteri surat dari Galal, tapi sebenarnya ini tentang bagaimana kehidupan Tavisha setelah meninggalnya Galal, bagaimana bangkit dan menyembuhkan luka batin, bagaimana cara untuk bisa kembali bahagia. Ini satu konflik yang dalam sih menurut saya.

Kisah Tavisha ber-ending tertutup.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Apa kabar pecinta fiksi religi? Sini merapat ke Dimensi Langit Manusia karyanya Astrida Hara, sebuah buku yang merupakan oase tersendiri buat saya yang tbr-nya mayoritas buku-buku modern english version.

Astrida Hara adalah nama pena. Ia mengenyam pendidikan di ITB dan Kanazawa University, sejak kecil ia sudah senang menulis dan berimajinasi. Debut novelnya yang berjudul Sakura Kanazawa (2019) menjadi bestseller dan most recommended di jaringan toko buku Gramedia dan rekanannya. Novel keduanya, Dimensi, memenangi juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020. Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia.


Novel Dimensi Langit Manusia banyak berbicara tentang emosi, dari duka, perasaan bersalah, ketakutan, ketidakberdayaan, hingga putus asa yang mendalam. Semua emosi itu mewakili kita yang dalam perjalanan menemukan dan merawat keimanan.

Kekuatan novel ini menurut saya terletak pada konsep cerita dengan misteri teka-teki yang membingkai banyaknya pesan agama dan wisdom of life, misalnya bahwa dalam melakukan perubahan cukuplah kita fokus pada hal-hal kecil yang kita kuasai, seperti yang Galal katakan kepada Tavisha bahwa setiap orang itu punya peran, dan hal-hal kecil asal dilakukan sesuai peran dan dilakukan dengan benar, yang kecil tersebut akan jadi besar, dan ujungnya akan bisa membuat sistem jadi benar juga. Jadi tidak usah berpikir rumit dan terlalu jauh. Mulailah dari kegelisahan yang dirasakan di diri sendiri. Rings true ya, karena bukankah segala sesuatu dimulai dari diri sendiri. Umpama kita seorang ibu, cukup jadi ibu yang benar, membesarkan anak yang sehat dan berkarakter positif, atau seorang akuntan, jadi akuntan yang benar, kalau semua orang melakukan perannya dengan baik, akan terbentuk keluarga yang baik, masyarakat yang baik, dan akhirnya negara yang baik.

"Setiap kita punya peran. Hal-hal kecil asal dilakuin sesuai peran dan dilakuin dengan benar, nanti jadi besar, bakal bikin sistem yang benar juga. Gak usah jauh-jauh mikirin harus gimana. Mulai dari kegelisahan yang kamu rasain aja."
Halaman 22

 

Di sini juga ada pesan bahwa ujian kehidupan tidak pernah melebihi kemampuan hambaNya, dan kita yang menjalaninya harus sabar, jalani saja sebaik-baiknya tanpa banyak pertanyaan yang ujungnya malah jadi keluhan dan alasan. Ada renungan tentang hidup Rasulullah yang sejak kecil sudah yatim piatu dan menjalani ujian yang berat. 

"Kebayang gak kalau Lafi masuk SD dia kehilangan kamu dan aku atau ibu? Bisa gak dia tumbuh tanpa ketakutan akan kehilangan?
Aku tak mau membayangkannya.
"Tapi, anak yatim piatu ini, dia punya mental luar biasa dan tumbuh dengan baik. Mau bekerja sedari kecil membawa domba-domba jauh untuk cari makan. Lalu semakin besar belajar berdagang dan semakin andal. Ketika di puncak kebahagiaan memiliki istri cantik, anak banyak, dan berkecukupan, dia tiba-tiba harus kehilangan semuanya karena sebuah tugas dari Tuhan. Istrinya wafat, pamannya yang dia anggap pengganti ayah pun meninggal."
Tentu saja aku tahu siapa yang kakakku bicarakan.
"Menurutmu, apakah Nabi Muhammad berduka mengalami semuanya? Itu belum seberapa. Dia dikucilkan, diperangi, diusir bahkan harus lihat orang-orang yang dikasihi disiksa. Dengan segala ujian berat yang menimpanya, apakah selama hidup Rasul enggak bahagia?"
Aku menegakkan tubuh, mendadak ingin tahu apa jawabannya.
"Menurut kakak sih, kalau kita ada di samping Nabi di jaman itu, kita bisa lihat beliau adalah orang paling bahagia dalam keadaan apa pun."
"Masak?"
Kali ini ia mengangguk tegas. "Mana mungkin orang-orang ingin di dekatnya kalau Nabi tidak bahagia, Tavi?"
Aku tercenung. Apa yang membuat Nabi tetap berbahagia dan positif meski tekanan terus menyerangnya dan ujian silih berganti menghantamnya?"
"Tapi, definisi bahagia beliau, pasti beda sama kita. Karena level iman dan ilmu beliau gak akan terjangkau sama kita. Makanyaa..." Ia menyeruput kopinya, "Kita yang emang masih di level bawah, sabar aja. Jangan buru-buru menyimpulkan. Kita serba terbatas, tapi kita bisa nahan diri buat gak ngeluh terus."
Halaman 46

 

Beberapa isu menarik juga dilontarkan seperti tentang poligami dan stigma janda. Rupanya Mba Astrid memang menjadikan stigma janda untuk topik utama bukunya karena merasa masih sedikit buku yang membahas topik ini dengan gamblang di dalam cerita, padahal stigma janda memang ada di dunia nyata. Label janda dalam lingkungan sosial diasosiasikan dengan banyak hal negatif, mulai dari perempuan penggoda, perempuan nakal, haus kasih sayang, murahan, dan lain sebagainya. Padahal single mom yang hebat itu banyak, yang seperti Tavisha, mereka tidak memilih untuk menjadi janda, tapi takdir menentukan hal berbeda. Sebagai sesama perempuan saya juga risih dengan celotehan dan guyonan tentang janda yang kadang dengan mudah terlontar dalam obrolan. Isu poligami juga selalu menjadi isu yang sensitif kalo menurut saya. Di buku ini ada pernyataan terkait isu tersebut yang sepemahaman dengan perspektif saya. Tapi di luar itu ada satu pertanyaan yang tersisa, Gerakan Menghidupkan Poligami itu benar ada atau tidak ya di dunia nyata? Dari beberapa sumber yang saya dapatkan lewat googling, di tahun 2021 memang ada marak gerakan poligami dengan alasan menghidupkan sunnah nabi. Tapi gerakan ini dinyatakan cacat nalar.

"Tya!" Suaraku dingin dan menegas. "Aku gak inget pernah minta kamu urus campur urusan pribadiku."
"Ma... maaffff Taviii.. Aku cuma berusaha bantu."
"Tapi, aku gak pernah minta! Dan kamu udah ngelakuin ini sejak lama. Ngejodoh-jodohin aku dengan orang tua murid yang dudalah, dengan kenalan kamulah. Aku sudah bilang 'stop' bukan? Aku selama ini udah bicara baik-baik dan kita tetap berhubungan karena Lafi senang main sama Lili. Lili juga senagn kan punya temen walau gak bisa banyak main keluar. Tapi sekarang? Kamu kok bisa lancang ngasih nomorku ke orang lain tanpa izin aku?"
"Tavi, Sayang, aku cuma pengen kebaikan buat kamu."
"Kebaikan menurut kamu atau aku?" Suaraku meninggi, tak bisa menahan marah lagi. "Aku merasa baik-baik aja kok selama ini. Kenapa sih, kamu segininya? Ga nyaman ya, ada janda sebagai tetangga?"
"Tavi!"
"STOP. ikut. campur. urusan. pribadi. aku. Tya. Ini. peringatan. terakhir. dari. aku." Aku sengaja mengeja per kata yang kukatakan untuk menegaskan betapa seriusnya aku. "Wassalamu'alaikum." Kututup telepon kami secara sepihak.
Gerakan Menghidupkan Poligami namanya, yang sedang digalakkan oleh Bu Jaeliah. Itu yang kudapatkan dari hasil risetku ketika Tya menyinggung beberapa waktu lalu. Gerakan yang sesungguhnya bisa mulia jika dilakukan dengan bijak dan bukan dalih mengumbar nafsu. Yang kutahu ketika mempelajarinya, membantu para janda beranak adalah visi yang dibawa mereka. Namun, tidak ada kejelasan hasil gerakan tersebut. Berapa yang berhasil, berapa yang malah membawa masalah keluarga? Dalam jangka panjang, apakah anak-anak mereka tumbuh dengan baik? Lagi pula, aku tidak mengerti, apakah seorang janda identik dengan tidak bisa menghidupi sendiri dan anak-anaknya? Atau jikapun memang banyak yang membutuhkan bantuan, apakah menikahi mereka menjadi satu-satunya jalan keluar?
Poligami. Ayolah. Aku tidak membenci ide poligami karena agama yang kupercayai memang tidak melarangnya. Namun, aku yakin jika aturan itu berasal dari Tuhan, artinya poligami adalah solusi atau jalan keluar. Sementara hal paling mengganggu untukku adalah ketika gerakan yang dikoordinasi Bu Jaeliah ini seolah menjual surga dengan murah.
Surga dijamin hanya dengan menerima suami berpoligami? Um. Kurasa tidak ada yang semudah jika melakukan A maka mendapatkan B. Prediksiku, mengejar kebahagiaan rumah tangga mereka yang berpoligami, usahanya pasti berkali-kali lipat lebih susah. Selain adaptasi dua orang dan dua keluarga, ditambah harus mengenal segala baik-buruk istri kedua, ketiga, atau keempat, beserta seluruh anak mereka dan keluarga besarnya. Betapa harus lapang hati, pikiran, dan komunikasi orang-orang yang berada di lingkaran dalamnya, Aku tidak percaya hal serumit ini pantas dijadikan gerakan massal tanpa tanggung jawab yang jelas. Jika pun ada yang memilih melakukannya, poligami pasti merupakan jalan yang sangat personal, bukan sekadar senang-senang.
Halaman 82
 
"Kamu nikah lagi aja. Mumpung masih muda."
Aku tersenyum masam. Akhir-akhir ini ibu mulai sering mengutarakan ide itu.
...
"Ibu lihat tatapan orang-orang ke kamu waktu di pesta ulang tahun temennya Lafi! Mereka sama, tahu gak, kayak orang-orang ke Ibu waktu dulu! Ibu langsung tahu, Tavi, apa yang ada di pikiran mereka." Suaranya kini meninggi dan serak. "Mereka tuh jengah sama kehadiran kamu! Khawatir suami-suami mereka bakal kegoda sama kamu! Ibu gak ridho kamu digituin! Kamu gak boleh menjanda seumur hidup!"
Aku seketika membisu, tertegun menyadari apa yang membuatnya rusuh. Beginikah hati seorang ibu? Penderitaan yang ia sanggup pikul, tak boleh jika menimpa anaknya.
Ibu tidak mengada-ngada, aku juga tahu. Sejak Galal meninggal, terkadang tatapan yang kudapat dari sekelilingku terasa berbeda. Ketidaknyamanan itu semakin menguat jika aku berbincang seru dengan lelaki beristri. Jikapun ada orang-orang yang tidak memandangku dengan curiga, itu tidak lebih baik. Karena sorot mata mereka mengasihani, seperti ingin menangis menerka nasibku dan Lafi. Kalau kuingat, hanya Alvan satu-satunya manusia yang tahu kisahku, tapi tidak menatap berbeda.
...
Siapa sangka, meski dunia semakin modern pikiran manusia tetap bertahan di zaman purba. Stigma sosial tak pernah lapuk di makan usia. Sebuah jalan takdir, bisa membuat seseorang tak lagi diterima di manapun. Menjadi janda muda, apa seorang Tavisha kini jadi akar kecemburuan rumah tangga lain? 
Aku menghela napas. Andai mereka tahu. Kalau bisa, aku tak akan pernah memilih takdir ini. Tak ada yang suka menjadi berbeda. Apalagi ketika berada di sisi yang dianggap negatif. Apakah mereka tahu? Kalau bisa, aku tidak akan pernah memilih untuk kehilangan seorang Galal.
Halaman 86

 

Bagian lain dalam novel yang saya rasakan sebagai sentilan yang kuat adalah tentang betapa mudahnya kita (secara sadar atau tak sadar) memberikan penilaian pada orang lain. Thought provoking. Di dalam cerita ada adegan dimana Alvan mengungkapkan kondisi pernikahannya yang kini berpisah, lalu Tavisha mengomentari dengan pertanyaan tidak bisakah Alvan rujuk saja. Dari situ Alvan merespon dengan tertawa getir dan menimpali bahwa setelah kalimat itu pasti Tavisha akan bilang kalau dia dan mantan istri kurang sabar, lalu harusnya memikirkan anak, dan lain-lain, yang menurut Alvan sangat melelahkan karena memangnya ada yang dengan mudah memutuskan bercerai tanpa berusaha mempertahankan pernikahan lebih dulu. Di titik ini Lavisha tersadar bahwa dengan mudah dia bisa terperosok dengan yang namanya penilaian. Dan saya jadi sadar juga bahwa ada banyak momen yang sebenarnya memberikan peluang terjadi hal yang serupa pada diri saya sendiri. Judging is an easy thing, sedangkan situasi kehidupan sebenarnya sangat kompleks. Jauh lebih bijak mengetahui beragam sudut pandang terhadap satu hal baru kemudian memutuskan penilaian, itupun kalo kita diminta atau punya hak untuk menilai.

Berbagai skenario lantas muncul di kepalaku. "Gak bisa kamu balikan aja?"
Ia menoleh kepadaku, dan tertawa getir. "Kalian kuragn sabar. Perbedaan itu biasa. Pikirin anak kalian. Kamu mau nambahin itu setelah nyuruh balikan?"
Lagi-lagi aku merasa dilempar batu.
"Memang ada yang semudah itu memutuskan bercerai tanpa berusaha terlebih dulu?" gumam Alvan seperti lelah.
Payah. Ternyata aku tak ada bedanya dengan orang-orang yang memandangku dengan tatapan curiga, mengasihani, atau basa-basi menyuruhku menikah lagi. Isi kepalaku ternyatasama saja dengan mereka. Langsung mengeluarkan pertanyaan basa-basi tak perlu yang tidak disaring terlebih dahulu kepada orang lain. Aku baru saja memasukkan ALvan dalam sebuah kategori berjudul "penikahan gagal", dan membuatnya bosan dengan pertanyaan standar.
"Aku orang keberapa yang ngusulin itu?" Kuakui telah terjebak oleh bias yang sama, seperti yang orang-orang sandangkan kepadaku. Semudah ini memang manusia melepaskan pendapat dan meyakini pendapatnya tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang orang lain telah lalui. Aku paling tahu tidak enaknya dipandang sebagai 'tersangka'. Tapi, aku baru melakukannya dengan mudah kepada Alvan.
"Orang ke-1500," jawabnya, membuatku lega. Akhirnya, selera humornya kembali.
"Maaf..." tambahku demikian.
Alvan menggeleng, menepis permintaan maafku. "It's just... udah default-nya manusia kayak gitu. Berpikir bahwa hal yang baik harus yang sesuai keinginan. Padahal gak selalu kayak gitu kan? Obat itu pahit, tapi dia baik untuk kita kalau kita lagi sakit. Manusia cenderung ingin semua hal dalam standar yang sama untuk dikatakan baik-baik saja. Padahal, siapa yang netapin standar itu?"
Halaman 95

 

Menilai dalam dan banyaknya poin kontemplasi yang dikandung, saya berharap novel ini bisa lebih pelan alurnya agar lebih merasuk, dan terus terang banyaknya poin kontemplasi ini memang membuat cerita jadi too much, paling tidak saya ada satu momen yang merasa lelah karena pesan-pesan ini seolah tanpa jeda. Meskipun demikian, saya suka bagaimana pesan-pesan yang tersampaikan tidak terasa menggurui. Bagian lain yang saya suka juga adalah plotnya yang berlayer, menipu saya beberapa kali karena menebak sudah tiba di akhir cerita tapi ternyata tidak. Endingnya tertutup untuk konflik utama tapi dengan cerdasnya diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang bikin penasaran. Pertanyaan yang sampai sekarang saya belum tahu jawabannya :D

 

Dimensi Langit Manusia adalah sebuah novel yang menitipkan sebuah pertanyaan "bagaimana cara menyembuhkan luka jiwa", untuk tahu jawabannya teman-teman harus baca novelnya sendiri tentunya, dan apapun konklusi yang nantinya teman-teman dapatkan, yang pasti saya suka sekali dengan satu dialog di dalam cerita Tavisha, yaitu, 
 
"... dalam konteks luka jiwa, bisa jadi keyakinan kita terhadap Tuhan memang menjadi 'perban' yang memberi harapan luka jiwa sembuh." Ia terdiam, kedua matanya menerawang. "Untuk hal-hal yang terlalu menyakitkan, tapi gak bisa dijangkau, mengakui ada kekuatan lebih besar dengan sifat Pemelihara Terbaik, mungkin adalah obat terbaik..."
Halaman 145
 
Manusia hakikatnya adalah makhluk lemah dan butuh pertolongan Allah SWT. Mendekatkan diri pada Allah SWT dan menyerahkan diri pada penjagaanNya menurut saya adalah yang jalan yang tepat.
 
Jadi apa itu bahagia? Bahagia menurut Dimensi Langit Manusia bukan berarti mendapatkan semua yang kita inginkan, maka tafsir sakinah itu adalah keadaan yang tenteram setelah bergejolak sebelumnya. Bahagia itu state. Keadaan. Ketika perasaan merasa tenang, tercukupi, tenteram, itulah bahagia. Jadi, bahagia bukan sekadar satu momen saat merasa senang. Karena perasaan senang itu sementara. Dan yang terpenting adalah membangun rasa syukur di setiap detik kehidupan yang dijalani dan mengupayakan sebaik mungkin dari sisi kita sebagai manusia.
 
"Apa bahagia adalah ngedapetin semua yang kita inginkan?" Kakak lanjut bertanya.
Aku merenung. Mungkin tidak. Saat kehilangan Galal, aku kehilangan pasangan, sahabat, guru, penopang, ayah dari anakku, bahkan teman saat liburan. Kukira kebahagiaanku lenyap seluruhnya. Setahun pertama, adalah yang terburuk. Aku kerap kali bertengkar dengan Ibu, mengacuhkan Lafi, dan menjauh dari teman-teman. Setelah mendapatkan pekerjaan, perlahan semua kembali berjalan normal. Lima tahun kemudian, di sinilah aku berdiri sekarang. Sedih? Masih. Bahagia? Entahlah. Aku telah mandiri dengan pekerjaanku. Lafi tumbuh jadi anak baik, Ibu dan Kakak mendukungku untuk setiap kesempatan. Hidupku berbeda dengan sewaktu bersama Galal, tapi aku baik-baik saja. Apakah baik-baik saja berarti bahagia?"
"Jadi kalau menurut Kakak, bahagia itu apa?"
"Hmm... apa ya? Kalau ngambil contoh tadi, tafsir sakinah itu adalah: keadaan yang tenteram setelah bergejolak sebelumnya." Jadi mungkiiin... bahagia itu state. Keadaan. Ketika perasaan merasa tenang, tercukupi, tenteram, itulah bahagia. Jadi, bahagia bbukan sekadar satu momen saat merasa senang. Karena perasaan senang itu sementara."
"Nah, Kakak bahagia saat ini." Senyumnya tulus terkembang. "Bisa makan roti selai dari Amerika yang dibikinin ibu, bisa duduk santai di bawah atap rumah sendiri, bisa main sama anak pinter kayak Lafi, bisa ngobrol sama kamu yang enggak nangis lagi..."
Aku tiba-tiba merasa malu.
Halaman 165
 

Siapa Astrida Hara

Astrida Hara adalah nama pena. Meski menyukai sains dan mengenyam pendidikan di Institute Teknologi Bandung dan Kanazawa University, sejak kecil Astrida sudah senang menulis dan berimajinasi. Puisi-puisinya pernah dimuat di koran Pikiran Rakyat Kecil (Percil). Debut novelnya adalah Sakura Kanazawa (2019), terbitan Bhuana Ilmu Populer. Sebulan terbit, Sakura Kanazawa menjadi Best Seller dan Most Recommended di jaringan toko buku Gramedia dan rekanannya. Novel keduanya berjudul Dimensi, memenangi juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020 dari 7000-an naskah - dengan dewan juri A. Fuadi, Dee Lestari, Faradita, Luluk HF, dan Bayu Permana. Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL Publisher dengan judul Dimensi Langit Manusia.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada semua pembaca yang mencari novel fiksi religi yang mengangkat topik perjuangan seorang wanita menjalani hidupnya setelah ditinggal meninggal suami yang dicintainya, juga tentang bangkit dari trauma perceraian, ada isu tentang stigma janda dan isu poligami. Novel ini sangat sarat dengan pesan agama dan wisdom of life, membahas apa itu bahagia dan bagaimana menyembuhkan luka jiwa. Sisi misteri dan romansanya memberikan bumbu asyik pada cerita.

 

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

Review Buku Dimensi Langit Manusia - Ast…

11-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Dimensi, juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020 Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia   Judul : Dimensi Langit Manusia Penulis : Astrida Hara Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : MCL...

Read more

Review Buku Bino - Zaki Jaihutan

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Bino Penulis : Zaki Jaihutan Jenis Buku : Horor Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Juni 2021 Jumlah Halaman : 288 halaman Dimensi Buku : 13 x 19 cm Harga : Rp. 96.000*harga sewaktu-waktu dapat...

Read more

Review Buku Uzumaki - Junji Ito

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Uzumaki Penulis : Junji Ito Jenis Buku : Horror Manga, Media Tie-In Manga Books Penerbit : VIZ Media LLC Tahun Terbit : 2013 Jumlah Halaman :  648 halaman Dimensi Buku : 21.46 x 15.54...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more