0

Review Buku The Twyford Code - Janice Hallett

Published: Sunday, 20 November 2022 Written by Dipidiff

 

The Sunday Times Bestseller

 

Judul : The Twyford Code

Penulis : Janice Hallett

Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers

Penerbit : Profile Books

Tahun Terbit : July 2022

Jumlah Halaman : 400 halaman

Dimensi Buku : 12,8 x 19,8 x 3 cm

Harga : Rp. 189.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781788165334

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplusbandung)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Empat puluh tahun yang lalu, di bis dalam perjalanannya menuju sekolah, Steven "Smithy" Smith menemukan sebuah buku anak-anak yang ditulis oleh Edith Twyford, seorang penulis yang karyanya kerap dicemooh bahkan bukunya ada yang dilarang beredar. Ketika dibuka, buku ini sangat aneh karena marginnya penuh dengan tanda dan anotasi yang tak lazim. Ketika Steve menunjukkan hal tersebut kepada guru remedial bahasa Inggrisnya, Miss Iles, gurunya percaya bahwa itu adalah bagian dari kode rahasia yang ada di semua novel Twyford. Dan ketika dia menghilang dalam kunjungan lapangan, Smithy menjadi yakin bahwa gurunya berkata yang sebenarnya.

Sekarang, keluar dari penjara setelah waktu yang lama, Smithy memutuskan untuk menyelidiki misteri yang telah menghantuinya selama beberapa dekade. Dalam serangkaian rekaman suara di iPhone lama pemberian putranya, Smithy mengunjungi orang-orang dari masa kecilnya dan mengilas balik kembali peristiwa yang kemudian menjebloskannya ke penjara.

Tetapi segera menjadi jelas bahwa Edith Twyford bukan hanya penulis cerita anak-anak yang terlupakan. Kode Twyford menyimpan rahasia besar, dan Smithy mungkin memiliki kuncinya.


Sumber: Amazon

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Tokoh dan Karakter

- Steven Smith
- Paul
- Nathan
- Donna
- Michelle
- Alice Iles
- Rosemary Wintle 
- Mr Wilson
- Andy
- John
- Razor Ray
- Inspector Waliso
- Professor Mansfield.
 
Baru kali ini saya merasa bingung ketika harus menceritakan seperti apa tokoh-tokoh yang ada di buku ini. Mengapa bisa demikian, nah teman-teman akan tahu begitu nanti membaca sendiri bukunya. Maka dari itu untuk mengambil jalan tengahnya, saya akan fokus hanya pada tokoh utama saja, yakni Steve atau Steven Smith. Pria ini punya cerita masa kecil yang penuh trauma. Keluarganya disfungsi, dia lalu menemukan figur pada gurunya yang kemudian pindah kerja ke sekolah lain, Steve kemudian bertemu Harisson yang di masa depan menjerumuskannya ke dunia kejahatan. Namun kekerasan dan kekelaman hidup nyatanya tidak membuat hati dan otaknya tumpul, sayang takdir tidak mendukung. Steve pribadi yang cerdas meski dislexia membuatnya lamban di sekolah, tidak mampu menulis dan membaca hingga masuk usia dewasa. Ia memiliki pandangan unik tentang kehidupan, alam semesta, dan segalanya dan terbukti sebagai protagonis yang menyenangkan. Ada sisi dimana saya berempati pada tokoh ini, bahkan kagum dengan kemampuan berpikirnya. Berkaitan dengan dyslexia mungkin ada yang bingung mengapa tokoh yang tidak bisa membaca dan menulis dengan lancar ini bisa sedemikian cerdas, tapi ternyata banyak orang-orang yang dyslexia ditemukan ber-IQ tinggi.
 
Ada beberapa deskripsi tokoh lain di buku ini misalnya Paul yang disebutkan sebagai anak yang mudah marah dan tidak terduga. Dia suka merenung dan gampang terlibat dalam perkelahian. Ayahnya gantung diri di garasi beberapa tahun sebelum perangai Paul menjadi sedemikan temperamental.
Paul was an unpredictable kid. Moody. Brooding. Got into fights like an alley cat. Kids and adults alike wondered aloud why he was like he was. No one linked it to the fact his father hung himself in his garage a few years previous. Those were the days.
Page 19
 
Atau deskripsi Michelle, atau Shell, yang disebutkan tampak seperti Jay dari Bucks Fizz *Bucks Fizz adalah grup pop Inggris yang sukses tahun 1980-an. Rambutnya pirang, beranting-anting, dan dia berdandan. Shell dan Smith tumbuh di lingkungan yang sama, kadang mereka duduk bersama di ayunan dalam kegelapan. Shell tidak punya ayah, dan Smith tidak punya ibu.
Michelle, or Shell, she looked like Jay from Bucks Fizz. Big blonde hair, ear-rings, make-up. As young kids we knocked about together on the estate. She were turned out the flat when her ma had a customer, so she d tap on me window and we d sit on the swings in the dark. She didnt have a dad and I didnt have a mum. But that were then. By 1983 Shell were a long way out a my league.
Page 19

Atau Rosemary Wintle, ahli Twyford, yang digambarkan berkacamata besar, rambut bob abu-abu, usia pertengahan 60-an.

 

Alur dan Latar

Alur cerita kombinasi maju mundur, ada banyak kisah masa lalu yang diceritakan di tahun 1983 berupa transkrip rekaman audio di tahun 2019. Bingung? Untuk lebih jelasnya simak review ini sampai selesai, mudah-mudah mendapatkan pencerahan :)
Yes, alurnya memang pelan, tapi bersabarlah karena di akhir semua akan terbayar dengan kejutan-kejutan plot twist dan penjelasan kode Twyford *meski petunjuknya dibagikan, tapi terus terang saya tidak berusaha memecahkan kodenya dan memilih menyimak saja hingga akhir.
 
Pov 1 dari sudut pandang Steve, Inspector Waliso, dan Professor Mansfield. Kedua tokoh yang disebutkan terakhir dinarasikan dalam sebuah email dan bukan percakapan.
 
Latar cerita juga bingung untuk dijelaskan, tapi kalau berpegang pada transkrip audio, kita dibawa ke berbagai tempat dengan beragam lokasi, sebagian besar London tahun 1983 dan 2019. Ini menimbulkan semacam rasa penasaran karena Hallet memang tinggal di London dan buku ketiganya bahkan disebut-sebut akan mengambil latar London juga.
 
 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Novel apa yang paling menantang yang pernah kalian baca?

Nama Janice Hallett populer sejak debut pertamanya, The Appeal, sukses menjadi buku terlaris dengan predikat The Sunday Times Crime Book of The Year dan Winner of The 2022 CWA John Creasey New Blood Dagger. Kabarnya buku ini mengandung teka-teki dan format cerita yang tidak biasa *saya belum baca bukunya. Yang pasti buku kedua Hallett yang berjudul The Twyford Code jelas punya kedua unsur itu *memberikan semacam sensasi mumet maka dari itu masuk kategori 'bacaan yang menantang' 

Twyford Code adalah salah satu dari sedikit buku yang saya butuh menjeda-baca untuk mencari tahu review dan summary orang lain dalam rangka mendapatkan gambaran ceritanya. Sensasi 'mumet' ini serta merta sirna berganti rasa penasaran pada unsur misteri kode-kode dan kisah para tokohnya. Butuh adaptasi memang, untuk masuk ke dalam cerita lantaran format narasinya yang berupa transkrip audio dan jumlah cerita di audio tersebut yang lebih dari satu. Unik sekali. Agar jelas, di bawah ini saya cantumkan foto halaman pembuka.

 

Picture: 3 halaman pertama yang penting untuk kita simak

 

Picture: Halaman pertama transkrip audio

 

The Twyford Code berkisah tentang Profesor Mansfield yang pada suatu hari menerima email dari Inspector Waliso, memberitakan bahwa ayahnya, Steven (Steve) Smith, telah menghilang. Satu-satunya petunjuk adalah rekaman audio yang sudah dihapus di sebuah ponsel iPhone. Pihak kepolisian kemudian memulihkan data audio tersebut dan mentranskripnya ke dalam tulisan. Transkrip audio ini dikirimkan ke Profesor Manfield untuk dipelajari.

Isi transkrip itu sendiri mengisahkan perjalanan Steve yang berusaha memecahkan sebuah kode. Dari awal saya sudah penasaran kenapa teman-teman Steve tidak ada yang ingat dengan kejadian menghilangnya Miss Iles yang erat kaitannya dengan kode ini. Saya juga penasaran dengan apa yang mungkin ada di balik kode tersebut. Buku yang memuat kode berjudul Six on Goldtop Hill, salah satu buku edisi pertama dalam seri Super Six yang merupakan serial TwyFord yang paling terkenal, yang ditulis antara tahun 1939 dan 1963, bercerita tentang enam karakter muda yang menikmati petualangan bersama dan memecahkan misteri pedesaan.

Setelah keluar dari penjara dan ditolak oleh putranya yang tidak pernah mengenalnya, terdorong pula oleh rasa kesepian, Steve semakin terobsesi dengan hilangnya Miss Iles dan memutuskan untuk menyelidikinya. Dia mencari teman-teman lamanya (Paul, Shell (Michelle), Donna dan Nate (Nathan)), bertanya sana-sini dan mengunjungi ulang lokasi terakhir Miss Iles berkaryawisata, yakni rumah Edith Twyford. Meskipun beberapa temannya awalnya menunjukkan minat pada misteri dan kode, satu per satu mereka memilih untuk tidak melanjutkan masalah ini lebih jauh. Seorang pustakawati bernama Lucy turut membantu Steve menguraikan kode dalam buku-buku Twyford yang ia yakini akan mengarah pada harta karun. Penyelidikan ini juga membawa Steve pada Colin (kakak laki-lakinya). Kenangan masa lalu tidak dapat dibendung. Masa-masa sekolah, masa ketika ia bergabung bersama komplotan Harrison, hingga kejadian perampokan yang membuatnya dipenjara belasan tahun. Bahaya mengintai Steve, ada orang-orang tak dikenal yang membuntuti dan berusaha mencelakakan Steve dan siapapun yang terlibat dengan kode Twyford. Semua kejadian yang dia alami ini ia rekam di iPhone yang diberikan oleh putranya, yang kini transkrip audio rekamannya ada di tangan Profesor Mansfield.

 

Lebih lanjut lagi diceritakan bahwa buku Six on Goldtop Hill dibanned, dan ada semacam kebijakan anti Twyford yang diterapkan oleh beberapa sekolah, guru dan orang tua, untuk tidak mempromosikan karya dan membaca bukunya di kelas. Twford menulis dengan cara yang tidak menantang, tidak ada kedalaman, tidak ada maksud tersembunyi, tidak ada wawasan dan bahan kontemplasi, bahkan tidak ada ruang interpretasi, dengan begitu karyanya dianggap tidak berbobot. Tuduhan rasisme, seksisme, kebencian terhadap wanita dan xenophobia telah ditundingkan kepada Twyford sejak ia memulai karirnya di tahun 1930-an meski di luar negeri namanya tetap sangat populer dan buku-bukunya diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. Ini sangat menarik ketika di buku disebutkan bahwa di tahun 1960-an, sastra anak kemudian berkembang dan para penulis merasa memiliki tanggung jawab atas pesan dan isi cerita yang mereka sampaikan lewat buku yang mereka tulis dan bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan daya pikir dan karakter pembaca. Sejarah sastra dunia barangkali punya jawaban kebenaran atas fakta ini, sayangnya saya belum sempat mencari referensinya.

Well, when you find them, you ll see that Twyford wrote in a particular way. A very simple way. She s an unchallenging read on very level. no subtext. no depth. no hidden meanings. no food for thought. no room for interpretation. even where she depicts reality, it s so idealised it borders on fantasy. You ll know Twyford was most productive during the Second World War?
She spoke of wanting to help children escape the stress and trauma around them. it explains much about her style and approach. Her stories are in the moment, there and gone. Timeless, in their way, yet dated to the contemporary reader. since the 1960s, children s literature has grown in its scope and sophistication. authors now feel a responsibility for how their readers' outlook and development are shaped by the stories they tell. twyford s creations bear no comparison to Harry Potter, Tom Gates or Dora Marquez, to name but three.
 
Page 45
 
 
 
 
Dijelaskan pula di dalam buku adanya kecurigaan yang besar terhadap Edith Twyford, bahwa dia sebenarnya bukan hanya seorang penulis anak-anak tapi juga golongan elit karena dia dan suaminya bergerak di kalangan atas masyarakat. Buku-buku yang ditulis secara produktif oleh Twyford selama perang diduga memegang kunci informasi yang paling sensitif dan paling berbahaya. Orang-orang berspekulasi kode itu membawa pada satu rahasia besar atau harta karun, mungkin emas curian, permata Cina, senjata nuklir, minyak, harta Nazi, portal rahasia ke masyarakat utopis paralel, bunker bawah tanah yang penuh dengan karya seni yang tak ternilai, perpustakaan kedap udara dengan buku-buku berharga, bukti visitasi alien, obat untuk kanker, mesin waktu, alat penghubung dunia roh, peta genom manusia... dan lain sebagainya. Berkaitan dengan ini, saya cuma mewanti-wanti berhati-hatilah dengan yang namanya ekspektasi, karena ada kemungkinan kalian akan kecewa begitu sampai di akhir cerita novel ini *tapi mungkin juga tidak.
 
Btw, Karena The Twyford Code bertema kode maka relate sekali memang ketika di dalam buku disinggung beberapa buku bertopik sama (di dunia nyata) seperti The Da Vinci Code, The Bible Code, dan The Enigma code.


Pada kenyataannya, isi buku ini bukan hanya tentang kode, petualangan memecahkan misteri, dan desas desus harta karun, tapi juga cerita seorang mantan narapidana bernama Steve yang diabaikan di masa kecilnya, dikhianati orang yang dipercayainya, mencintai putranya yang tidak ingin menemuinya, dan berusaha hidup sebaik-baiknya setelah 11 tahun dipenjara atas pembunuhan yang tidak dia lakukan *sedih. Smith memiliki masa kecil yang tragis yang membuatnya berada di jalur ini. Ibu dan ayahnya meninggalkannya, dan dia "dirawat" alakadarnya oleh kakak laki-lakinya. Seringkali Smith kelaparan tanpa tempat tinggal yang layak, dan ketiadaan kasih sayang. Dia menemukan satu-satunya pelipur lara di kelas membaca remedial bersama lima teman sekelas bermasalah lainnya. Smith tidak pernah bisa membaca dengan baik, tetapi kenyamanan yang dia terima dengan mendengarkan cerita di kelas Miss Iles membuat perbedaan. Steve di penjara belasan tahun karena kasus perampokan berlian senilai satu juta pound di Fragile, Secure & Bonded Couriers Limited (FSBC). Di dalam rekaman audio iPhone, Steve menceritakan setahap demi setahap apa yang dulu terjadi, dimulai dari masa sekolahnya bersama Miss Iles hingga titik dimana dia dipenjara. Itulah mengapa isi buku ini memiliki dua cerita di dalamnya, dan ini tidak mudah kalau dari awal pembaca tidak mendapatkan gambaran garis besarnya karena penceritaannya sendiri begitu acak.

Ending novel ini tertutup, semua misteri dijelaskan satu persatu dengan tetap membuka kesempatan bagi pembaca untuk menyimpulkan akhir dan moral cerita.

 

Karena saya suka dengan proses kontempasi dan refleksi cerita, bagian kehidupan Steve ini menarik buat saya. Dari hal tersebut ada yang bisa dipelajari tentang bagaimana orang membuat pilihan dalam hidup. Untuk sebuah buku yang terpetakan sebagai buku misteri kode, unsur emosi dan kontemplasi ini terintegrasi dengan baik di dalam cerita dengan caranya sendiri. Saya juga suka dengan format ceritanya yang berbeda, plus penokohannya. Potensi kecewa saya kira cukup besar jika pembaca berharap kisah petualangan yang beradrenalin dan pembunuhan yang kejam, juga buat pembaca yang lebih suka dengan cerita dengan narasi konvensional, kemungkinan besarThe Twyford Code akan melelahkan, membosankan, dan menjengkelkan.

Seperti yang sudah saya sebutkan, saya awalnya merasa sulit masuk ke dalam cerita karena format transkrip audio yang asing dan tidak engagingHallett juga menulis novel berlapis-lapis, rumit, dan kompleks, sehingga akhirnya di halaman 20 saya merasa putus asa. Itulah sebabnya saya kemudian membaca review buku pembaca lain dan mengintip sedikit summary untuk mendapatkan kerangka cerita. Dan begitu mendapatkan sudut pandang yang tepat, dengan segera format ini tidak lagi mengganggu. Jadi, sekali lagi, jika kalian adalah tipe pembaca yang suka bahan bacaan dengan prosa yang mengalir, maka ini mungkin bukan buku untukmu, kemungkinan besar buku ini akan menjengkelkan. Namun, bagi mereka yang senang melihat seorang penulis mencoba sesuatu yang berbeda yang menantang dan melibatkan pembaca dengan cara yang tidak ortodoks, ini akan menjadi angin segar yang disambut baik. Ya, kita mungkin perlu sedikit waktu untuk terbiasa mengikuti format dengan relatif lancar, tetapi begitu kita melakukannya, mungkin kalian akan seperti saya yang menganggap buku ini ditulis dengan ahli dan cerdik.

 

Cerita di buku ini menimbulkan cukup banyak pertanyaan yang membuat saya terus menebak-nebak. Bagaimana Steven akhirnya hilang? Apa yang sebenarnya terjadi pada Miss Iles? Dan apakah ide gila tentang kode rahasia di dalam buku anak-anak itu benar?Namun pace yang pelan juga sempat membuat saya 'greget', untungnya semua hal itu terbayar di akhir. Jika kalian pecinta teka-teki kata, akrostik dan anagram, buku ini menawarkan dua hal tersebut dengan cara yang membuat pembaca bisa ikut berburu apapun itu yang ada di balik kode. Cerita yang tadinya tidak engaging sangat bisa jadi berubah menjadi super engaging karena semua clue dibuka. Saya sendiri tidak tertarik untuk memecahkan kode ini, dan mengikuti alur cerita sebagai pihak luar saja. Kalau dipikir-pikir baik ending maupun plot yang sempat memelan ini bisa jadi akan membuat beberapa pembaca merasa bosan bahkan dikecewakan. Pada akhirnya sebuah buku memang akan kembali pada selera.

Hal lain yang saya perhatikan dari buku ini adalah adanya bahasa-bahasa yang kasar, umpatan-umpatan yang meski sudah diperhalus dengan menyamarkan katanya, tapi kita tetap tahu bahwa itu kata yang dimaksud. Beberapa pembaca mungkin akan merasa tidak nyaman, tapi kalau dilihat dari karakter, sepertinya itu memang disebabkan karena faktor penokohan tokoh Steve. Saya tidak tahu apakah dari sisi bahasa, kalimat-kalimat yang ada sesuai dengan gaya orang saat merekam, apakah luwes atau terasa aneh. Mungkin teman-teman yang ahli berbahasa Inggris bisa membantu memberikan pencerahan.

 

Buku ketiga Janice Hallet akan terbit pada 19 Januari 2023 berjudul The Mysterious Case of the Alperton Angels, yang kabarnya berformat campuran antara buku pertama (The Appeal) dan buku kedua (The Twyford Code) ditambah beberapa hal baru, misalnya potongan koran, wawancara, dll. Di dalam buku ketiga ini diceritakan seorang tokoh bernama Amanda Bailey yang karena suatu alasan kemudian mencetak semua itu dan menyembunyikannya di brankas, lalu di akhir pembaca diminta untuk membuat keputusan moral. Menarik ya, saya kira ini bukan format lazim untuk sebuah buku bergenre kriminal tapi sepertinya gaya Hallet memang demikian. Dalam suatu wawancara di media, Hallet menyampaikan bahwa dia sementara ini masih ingin mengeksplorasi gaya menulisnya yang khas ini (apalagi ternyata pembaca banyak yang suka), tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia ingin menulis buku dengan cara konvensional. Untuk menghindarkan kesamaan antara buku satu dan dua, Hallet mengubah tokoh utamanya yang awalnya wanita (di The Appeal) menjadi pria (di The Twyford Code).

 

Siapa Janice Hallet

Janice Hallett adalah mantan editor majalah, jurnalis pemenang penghargaan, dan penulis komunikasi pemerintah. Dia menulis artikel dan pidato antara lain untuk Kantor Kabinet, Kantor Dalam Negeri dan Departemen Pembangunan Internasional. Antusiasme perjalanannya telah beberapa kali membawanya keliling dunia, dari Madagaskar hingga Galapagos, Guatemala hingga Zimbabwe, Jepang, Rusia, dan Korea Selatan. Sebagai seorang penulis naskah drama dan penulis skenario, dia menulis komedi panggung Shakespeare feminis NetherBard dan ikut menulis film fitur Retreat, sebuah thriller psikologis yang dibintangi Cillian Murphy, Thandiwe Newton dan Jamie Bell. The Appeal adalah novel pertamanya, dan The Twyford Code adalah novel keduanya.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca pecinta misteri bertema kode, dugaan konspirasi jaman perang dunia, kasus kriminal gangster, desas-desus harta karun, plus kisah personal emosional tokoh, dengan kecepatan plot yang lebih pelan dan calm. Misterinya menarik dan rumit, cerita dikemas dalam format transkrip audio sehingga terasa unik.

Underlined Issues: ribaldry

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645 an Diana Fitri

Gopay 081959986001

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Finding My Bread - Song Seon…

28-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Finding My Bread Kisah Si Alergi Gluten Membuat Toko Roti Penulis : Song Seong-rye Penerjemah : Anggi Mahasanghika Penyunting : Aprilia Ramadhani Ilustrator Sampul dan Isi : Bongji Sampul dan Isi Diolah Kembali oleh...

Read more

Review Buku Jangan Lelah Berproses - Dwi…

27-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Jangan Lelah Berproses Penulis : Dwi Indra Purnomo & Adenita Ilustrator : Sufti Nurahmartiyanti Desain Sampul : Daily Ideas Penyunting : Mutia Azizah, Dewi Kournia Sari Pewajah Isi : Nurhasanah Ridwa Jenis Buku :...

Read more

Review Buku The Twyford Code - Janice Ha…

20-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The Sunday Times Bestseller   Judul : The Twyford Code Penulis : Janice Hallett Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers Penerbit : Profile Books Tahun Terbit : July 2022 Jumlah Halaman : 400 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more