Review Buku My Grandfather The Master Detective - Masateru Konishi + Insights + Summary + Reflective Questions

Published: Sunday, 17 May 2026 Written by Dipidiff

 

Sold More Than 200,000 copies in Japan

Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense on Amazon

A Beyond the Bookends Most Anticipated Mystery of March
An Our Novel World Best New Crime Thriller

 

Judul : My Grandfather The Master Detective

Penulis : Masateru Konishi

Jenis Buku : Amateur Sleuths, Crime & Mystery

Penerbit : Pan MacMillan

Tahun Terbit : 2025

Jumlah Halaman : 352 halaman

Dimensi Buku : 13.10 x 19.60 x 2.50 cm

Harga : Rp.268.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781035037698 

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS Bookstore

 

Sekelumit Tentang Isi

My Grandfather The Master Detective mengisahkan perjalanan emosional Kaede, seorang guru berusia dua puluh tujuh tahun yang rutin mengunjungi kakeknya, seorang mantan kepala sekolah yang cerdas yang kini menderita Lewy Body Dementia (LBD). Meski fisiknya melemah dan sering mengalami halusinasi visual, sang kakek tetap bertindak sebagai "detektif kursi malas" yang menggunakan ketajaman logikanya untuk memecahkan berbagai misteri unik yang dibawa Kaede, mulai dari kasus pembunuhan di ruangan tertutup hingga teka-teka phantom lady. Di balik setiap pemecahan kasus, narasi ini mengeksplorasi kedalaman hubungan kakek dan cucu serta membuktikan bahwa komunikasi adalah bentuk terapi terbaik dalam menghadapi penyakit degeneratif. Cerita ini mencapai puncaknya ketika logika sang kakek diuji untuk melindungi Kaede dari ancaman nyata yang berkaitan dengan rahasia kelam masa lalu keluarga mereka.

 

Author

Masateru Konishi lulus dari Department of English and American Literature di Universitas Meiji dan sekarang bekerja sebagai penulis untuk TV dan radio. Sebelumnya ia telah menulis untuk panggung serta novelisasi manga, tetapi My Grandfather, the Master Detective adalah novel orisinal pertamanya. Sebagian berdasarkan pengalamannya sendiri merawat ayahnya yang menderita demensia, buku ini memenangkan edisi ke-21 dari penghargaan bergengsi “This Mystery is Amazing!” Grand Prize.

Louise Heal Kawai telah menjadi penerjemah sastra Jepang sejak tahun 2006, menerjemahkan beberapa genre fiksi kontemporer yang berbeda. Terjemahannya yang telah diterbitkan antara lain The Cat Who Saved Books; The Honjin Murders; Daido Tamaki’s Milk, yang muncul dalam antologi cerita pendek Inside and Other Short Fiction; otobiografi terlaris Tendo Shoko, Yakuza Moon; dan yang terbaru Building Waves, sebuah novel karya penulis dan penyair feminis Tomioka Taeko.

Source: Amazon

 

Review

Saya suka buku ini karena ceritanya yang mengalir, mudah dicerna, alur misterinya termasuk rapi. Tipe cozy mystery, misteri yang fokus pada teka teki pemecahan masalah, bukan kekerasan atau ketegangan fisiknya. Tokoh kakek mengingatkan pada detektif klasik Agatha Christie dengan sentuhan modern, konsep detektif yang memecahkan kasus dari rumah, mengandalkan observasi dan logika. Misterinya berlapis, ada lapisan pribadi, keluarga, dan sosial yang terkait. Ada wawasan tentang budaya Jepang kontemporer, dinamika keluarga, dan sistem perawatan. Banyak wawasan tentang demensia, khususnya Lewy Body Dementia. Buku ini mungkin kurang cocok untuk pembaca yang mengharapkan cerita misteri dengan ketegangan tinggi, aksi cepat, dan plot yang lebih rinci dan mendalam.

Tentu saja opini pembaca bisa berbeda, ulasan buku ini memang bersifat subjektif, namun semoga tetap bermanfaat.

 

Picture: Beberapa halaman pilihan buku My Grandfather The Master Detective

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada penggemar misteri yang menginginkan beberapa cerita misteri dalam satu buku namun berbeda-beda tipenya, serta pembaca yang tertarik pada dinamika keluarga dan perjuangan melawan penyakit. Cocok untuk pencinta cozy mystery.

Trigger Warning: Kematian, kehilangan orang tua, serta deskripsi detail mengenai penyakit degeneratif otak (Demensia/LBD)

 

Kutipan

Ada dua kutipan yang saya ingat dari buku ini.

Kutipan pertama adalah, "It's not an infinite future that awaits you. Everything is finite. Things come to an end. Youth is a weapon that will rust away before you know it. If you want to grab that future you've been dreaming of, then go have an adventure," di halaman 40. Kutipan ini mengingatkan saya tentang sifat waktu yang fana. Masa muda sering kali dianggap sebagai kekuatan yang tak terbatas, namun penulis melalui tokoh Kakek mengingatkan bahwa "senjata" tersebut akan tumpul seiring berjalannya waktu, sehingga setiap momen harus dimanfaatkan dengan bijak.

Lalu kutipan yang kedua adalah, "As I always say, conversation is the best therapy," di halaman 301. Di tengah dunia yang semakin sibuk, kutipan ini menekankan pentingnya interaksi antarmanusia. Dalam konteks buku, percakapan bukan hanya alat untuk memecahkan misteri, tetapi juga cara untuk menjaga kesehatan mental dan mempererat ikatan emosional, terutama bagi mereka yang menghadapi tantangan fisik atau mental seperti demensia.

Kedua kutipan ini mencerminkan tema besar buku ini yang tidak hanya berfokus pada misteri, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan dan refleksi kehidupan.

 

 

Picture: Buku My Grandfather The Master Detective

 

This Book Review Might Have Spoiler!

 

Tema dan Gaya Penulisan

Buku ini mengangkat tema utama misteri dan kejahatan yang dipadukan dengan isu kesehatan demensia dan keluarga. Fokus ceritanya bukan sekadar "siapa pelakunya", melainkan bagaimana kecerdasan manusia melawan keterbatasan fisik dan mental. Bahasanya mudah dipahami. Masateru menonjolkan logika detektif atau deduksi yang singkat tapi tajam, bergaya Hercule Poirot dengan sel-sel kelabunya. Ceritanya tetap mempertahankan kehangatan hubungan antartokoh.

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh utama dalam buku ini terdiri dari kakek, Kaede, Iwata, dan Shiki.

Kakek (The Master Detective): Seorang mantan kepala sekolah yang suka buku dan cerdas luar biasa, yang terjebak dalam tubuh yang melemah akibat Lewy Body Dementia (LBD). Ia adalah tokoh dengan alur datar dalam hal kepribadian, namun transformatif bagi orang di sekitarnya melalui kebijaksanaannya.

Kaede: Tokoh protagonis yang memiliki alur positif. Ia tumbuh dari sekadar cucu yang membawakan misteri menjadi seseorang yang berani menghadapi trauma masa lalunya sendiri.

Iwata: Iwata adalah karakter yang setia, penuh semangat, dan agak komikal, namun juga bisa diandalkan serta memiliki hati yang sangat baik. Iwata adalah guru sekolah dasar senior yang bekerja di sekolah yang sama dengan Kaede.

Shiki: seorang aktor dalam kelompok teater, ia bersekolah SMA yang sama dengan Iwata, berdua dulu berada di klub bisbol yang sama, ia digambarkan sebagai laki laki dengan kepribadian eksentrik, kata-katanya sering tajam tapi hatinya hangat.

 

Plot

Alur cerita di buku ini menggunakan struktur episodik, dimana setiap bab menyajikan misteri mandiri (seperti misteri toilet Izakaya yang terkunci atau hilangnya guru di kolam renang), namun semuanya terikat oleh benang merah kondisi kesehatan kakek dan rahasia keluarga Kaede. Alurnya cenderung lambat di bagian awal cerita, lalu cepat di bagian deduksi misteri.

 

Konflik

Ada dua jenis konflik dalam cerita. Konflik internal, misalnya trauma dan duka Kaede tentang masa lalunya yang kelam. Konflik interpersonal terjadi dalam kasus-kasus misteri yang dibawa Kaede, seperti persaingan atau pengkhianatan yang memicu kejahatan.

 

POV

POV yang digunakan adalah POV orang ketiga terbatas. POV ini menciptakan jarak dan keintiman secara bersamaan. Saya dapat merasakan kasih sayang dan kekhawatiran Kaede terhadap kakeknya, sekaligus merasa "terbatas" dalam memahami isi pikiran kakeknya yang menderita demensia.

 

Latar

Berlatar di Jepang modern, lokasinya antara lain rumah kakek, di ruangan yang penuh buku dengan pemandangan ke taman, sekolah dasar, kedai minum Jepang, tepi sungai dan jalur pelari yang indah, gedung teater, kantor polisi, rumah sakit, dan lain-lain. Cerita berlatar di zaman modern dengan penggunaan teknologi seperti telepon genggam dan memo suara. Beberapa bagian cerita cukup detail menyebutkan suasana musim, misal musim gugur yang ditandai dengan angin sejuk dan dedaunan yang berubah warna.

 

Ending

Akhir cerita berupa twist ending yang terselesaikan (Resolved Twist Ending). Rahasia mengenai "Stalker" dan masa lalu ibu Kaede memberikan pelepasan emosional yang kuat. Akhir cerita ini tidak hanya menjawab teka-teki logika, tetapi juga memberikan penutupan emosional bagi karakter Kaede, menjadikannya sebuah kesimpulan yang memuaskan.

 

Originalitas

Ide seorang "Armchair Detective" (kakek adalah seorang detektif amatir cerdas yang duduk di kursi dan memecahkan kasus dengan logikanya), yang menderita demensia, adalah pendekatan segar dalam genre misteri, mengubah kelemahan karakter menjadi kekuatan yang unik.

 

Kekuatan dan Kelemahan

My Grandfather The Master Detective memiliki beberapa kekuatan, di antaranya buku ini menawarkan premis yang segar dengan menghadirkan seorang detektif yang menderita Lewy Body Dementia (LBD). Penggunaan penyakit degeneratif sebagai elemen kunci dalam pemecahan misteri memberikan dimensi baru pada genre detektif klasik, di mana kelemahan fisik karakter justru menjadi latar belakang kekuatan deduksinya.

Selain itu, ada kekuatan hubungan antara Kaede dan kakeknya. Dinamika ini memberikan bobot emosional yang melampaui sekadar teka-teki logika, terutama saat mereka menghadapi realita kesehatan kakek yang menurun. Seperti yang dinyatakan dalam teks, "percakapan adalah terapi terbaik," yang menunjukkan bahwa interaksi mereka bukan hanya tentang kasus, tetapi juga tentang penyembuhan.

Buku ini menggunakan elemen detektif "Golden Age" dengan baik, termasuk penggunaan diagram (seperti denah restoran Izakaya di halaman 57 atau kolam renang di halaman 129) yang mengajak pembaca ikut serta dalam proses deduksi. Referensi terhadap tokoh-tokoh pemecah memperkuat atmosfer intelektualnya.

Ada pula nilai edukasi medis. Masateru memberikan penjelasan medis yang detail namun mudah dipahami mengenai gejala LBD, seperti halusinasi visual yang tampak nyata (misalnya melihat harimau biru atau orang yang tidak ada). Ini memberikan wawasan berharga bagi pembaca mengenai kompleksitas penyakit demensia.

Untuk kelemahannya, karena fokusnya adalah pada diskusi introspektif di dalam satu ruangan (ruang belajar kakek), buku ini memiliki alur yang mungkin bagi sebagian pembaca terasa 'tiba-tiba selesai'. Bagi pembaca yang terbiasa dengan novel misteri atau thriller yang penuh aksi dan ketegangan tinggi, pendekatan "cerita di dalam cerita" ini mungkin terasa kurang mendebarkan di bagian awal hingga tengah.

Resolusinya bergantung pada penjelasan verbal. Sebagai misteri jenis armchair detective, penyelesaian konflik sering kali didominasi oleh dialog panjang penjelasan kakek di babak akhir setiap kasus. Bagi sebagian pembaca, cara ini mungkin terasa kurang dinamis dibandingkan jika pelaku terungkap melalui interaksi langsung atau bukti fisik yang ditemukan di lapangan secara real-time.

 

Insight

Lesson learned: Time is the most precious and irreplaceable thing. It is important to make the best use of the time given during life.

Membaca buku ini memberikan serangkaian wawasan mendalam (insights) mengenai penyakit degeneratif otak Lewy Body Dementia (LBD). LBD dijelaskan bukan sekadar penurunan ingatan, melainkan penyakit yang melibatkan endapan protein bernama "Lewy bodies" di sel saraf otak. Insight penting bagi pembaca adalah bahwa penderita LBD sering mengalami halusinasi visual yang sangat nyata, seperti melihat orang atau hewan yang sebenarnya tidak ada, serta mengalami gejala fisik yang mirip dengan penyakit Parkinson. Hal ini mengajak pembaca untuk lebih berempati terhadap kompleksitas penyakit mental yang tidak hanya menyerang memori, tetapi juga persepsi realitas.

Melalui tokoh Kakek, pembaca mendapatkan refleksi tentang kefanaan waktu. Salah satu insight yang paling kuat adalah peringatan bahwa masa muda adalah senjata yang akan kehilangan ketajamannya sebelum seseorang menyadarinya. Pesan ini mengingatkan pembaca agar tidak menyia-nyiakan waktu dan menyadari bahwa setiap fase kehidupan, termasuk kejayaan intelektual, akan menemui akhirnya.

Buku ini menekankan bahwa komunikasi adalah bentuk terapi terbaik. Insight ini menunjukkan bahwa bagi lansia atau mereka yang menderita penyakit kognitif, interaksi sosial dan diskusi intelektual (seperti memecahkan misteri bersama) sangat membantu menjaga kejernihan pikiran dan memberikan rasa berharga pada diri mereka. Percakapan bukan hanya alat bertukar informasi, melainkan jembatan emosional untuk menyembuhkan kesepian.

Tokoh Kakek membuktikan bahwa meskipun tubuh dan sebagian fungsi otaknya melemah, kekuatan logika dan deduksi yang telah dilatih selama bertahun-tahun tetap bisa diandalkan. Dengan menggunakan "sel-sel kecil berwarna merah" (istilah yang merujuk pada sel otak), ia tetap mampu menjadi detektif konsultan dari kursi malasnya (armchair detective). Ini memberikan insight bahwa pengalaman dan kebijaksanaan masa lalu adalah aset berharga yang tidak hilang begitu saja oleh penyakit fisik.

Melalui perjalanan Kaede membawa misteri kepada kakeknya, pembaca belajar tentang pentingnya menghadapi trauma keluarga. Cerita ini menunjukkan bahwa menyimpan rahasia atau lari dari ingatan menyakitkan (seperti kematian ibu Kaede) tidak akan menyelesaikan masalah. Insight-nya adalah bahwa kejujuran dan upaya mencari kebenaran, meskipun menyakitkan, merupakan langkah esensial menuju pemulihan emosional dan kedamaian batin.

Buku ini menyoroti keindahan hubungan antara kakek dan cucu yang didasari oleh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam. Pembaca mendapatkan insight bahwa lansia bukanlah beban, melainkan sumber ilmu dan inspirasi jika kita bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka. Kehadiran Kaede di sisi kakeknya menunjukkan bahwa dukungan keluarga adalah faktor kunci dalam meningkatkan kualitas hidup penderita demensia

 

Ringkasan Cerita

Buku My Grandfather The Master Detective karya Masateru Konishi mengikuti perjalanan Kaede, seorang guru sekolah dasar, yang sering mengunjungi kakeknya untuk mendiskusikan berbagai misteri. Sang Kakek adalah seorang mantan kepala sekolah berotak cemerlang yang kini menderita Lewy Body Dementia (LBD), sebuah kondisi yang menyebabkan tubuhnya melemah dan sering mengalami halusinasi visual, seperti melihat harimau biru di ruang belajarnya.

Chapter 1: Those Little Scarlet Cells

Bab ini memperkenalkan dinamika antara Kaede dan kakeknya di ruang belajar sang kakek yang penuh buku. Kakek digambarkan sebagai seorang "detektif kursi malas" (armchair detective) yang sangat cerdas meski fisiknya terbatas. Kaede mulai membawa teka-teki kecil dari kehidupan sehari-harinya untuk merangsang pikiran kakeknya, yang ia sebut sebagai latihan bagi "sel-sel kecil berwarna merah" (sebuah penghormatan kepada Hercule Poirot). Kaede membawakan sebuah misteri untuk didiskusikan dengan kakeknya. Ia menunjukkan sebuah buku bekas dari penulis favorit yang baru saja ia beli. Di dalam buku itu Kaede menemukan empat kliping berita duka mengenai kematian penulis Takeshi Setogawa yang digunakan sebagai pembatas buku. Sang kakek kemudian melakukan deduksi mengenai siapa pemilik asli buku tersebut.

Chapter 2: The Izakaya Locked-Room Murder Mystery

Cerita bermula ketika Shiki menemukan mayat seorang pria paruh baya di toilet sebuah Izakaya. Korban ditemukan dengan sebuah pisau tertancap di punggungnya. Ini teka-teki ruang tertutup, karena toilet tersebut terkunci dari dalam, tidak memiliki jendela, dan pintunya harus didobrak dari luar untuk bisa masuk. Kakek Kaede kemudian menganalisis denah Izakaya dan detail para pelanggan yang hadir malam itu. Melalui deduksi kakek, terungkap satu kasus kriminal masa lalu dengan pasangan kriminal Bonnie and Clyde.

Chapter 3: The Vanishing Person at the Pool

Misteri ini berpusat pada hilangnya seorang guru cantik yang dijuluki "Madonna-sensei" secara tiba-tiba di area kolam renang sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Melalui diskusi mendalam, Kakek menyadari bahwa ini bukanlah kasus kriminal kekerasan, melainkan sebuah "moonlight flit" atau upaya melarikan diri secara terencana.

Chapter 4: They Were Thirty-Three!

Berlatar di sekolah tempat Kaede mengajar, bab ini membahas tentang ketidakkonsistenan jumlah murid di kelas saat sebuah aktivitas bahasa Inggris berlangsung. Ada laporan mengenai "murid hantu" ke-33 yang muncul di barisan belakang. Kakek berhasil memecahkan teka-teki logika posisi duduk siswa.

Chapter 5: The Phantom Lady

Pada suatu pagi saat Iwata sedang berolahraga di jalur pejalan kaki tepi sungai, ia melihat dua pria sedang bergulat dan mencoba melerai mereka. Salah satu pria kemudian tertusuk pisau dan pelakunya melarikan diri. Tragisnya, Iwata yang berusaha menolong ditemukan sedang memegang gagang pisau tersebut, polisi justru menahannya sebagai tersangka utama. Iwata bersikeras bahwa ada seorang wanita yang menyaksikan kejadian tersebut. Wanita ini adalah pejalan cepat yang selalu terlihat di jalur tersebut setiap Sabtu pagi pada waktu yang sama. Namun baik Kaede maupun Shiki tidak berhasil menemukan jejak wanita di lokasi kejadian (phantom lady). Kaede membawa teka teki ini kepada kakek. Melalui analisisnya, kakek mengungkap jati diri si wanita, dan berkat petunjuk dari sang kakek, identitas wanita tersebut akhirnya ditemukan, sehingga bisa memberikan kesaksian atas kejadian kriminal yang melibatkan Iwata.

Chapter 6: The Riddle of the Stalker

Bab penutup ini merupakan puncak konflik di mana Kaede sendiri merasa diikuti oleh seorang penguntit (stalker) misterius. Di tengah kondisi kesehatan kakek yang semakin menurun, Kakek menggunakan sisa kejernihan pikirannya untuk melindungi cucunya. Terungkaplah bahwa misteri penguntit ini berkaitan erat dengan rahasia masa lalu keluarga Kaede dan kematian tragis ibunya bertahun-tahun yang lalu. Kakek berhasil memberikan perlindungan emosional dan fisik terakhir bagi Kaede, membuktikan bahwa kasih sayang dan logika mampu melampaui penyakit yang menggerogotinya.

Cerita berakhir dengan refleksi yang menyentuh mengenai hubungan antargenerasi, di mana percakapan dianggap sebagai "terapi terbaik" bagi jiwa manusia

 

Reflective Questions

Berikut adalah beberapa pertanyaan reflektif yang dirancang untuk membantu pembaca menggali kedalaman buku My Grandfather The Master Detective. Pertanyaan-pertanyaan ini disusun untuk mengubah pembaca pasif menjadi pengamat aktif yang mampu menghubungkan teks dengan realitas pribadi dan meningkatkan daya kritis.

1. Koneksi Pribadi dan Empati

2. Analisis Karakter dan Pertumbuhan

3. Berpikir Kritis atas Struktur dan Logika

4. Refleksi Medis dan Pembelajaran Mandiri

5. Makna Filosofis dan Pesan Inti

6. Analisis Ending dan Pelepasan Emosi

Cobalah menuliskan jawaban untuk setidaknya dua dari pertanyaan di atas dalam buku catatan membaca. Proses menuliskan refleksi ini akan memperkuat memori terhadap detail cerita dan membantu menyerap kebijaksanaan dari tokoh Kakek ke dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kesimpulan

My Grandfather The Master Detective adalah sebuah cerita yang membuktikan bahwa kecemerlangan pikiran tidak mengenal batas usia maupun kondisi fisik. Buku ini juga merupakan refleksi indah tentang bagaimana kita merayakan sisa waktu bersama orang-orang terkasih.

 

------------------- 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah International Baccalaureate (IB), dan kepala Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, (certified BNSP Master Trainer, certified BNSP NLP, certified BNSP Komunikasi, certified internasional coach ICF, certified EQ, dan certified Pengembangan Kurikulum dan Fasilitas Pelatihan -- on planning 2026). Dipi diundang oleh berbagai perusahaan, komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, Mega Andalan Kalasan, Manulife Indonesia, SERA ASTRA, dan lain-lain. Selama dua tahun menjadi pemateri rutin di platform edukasi Cakap.com. Dipi meng-coaching-mentoring remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di berbagai event literasi. Dipi juga pernah menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dulu sempat menikmati masa menjadi host di program buku di NBS Radio dan menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Youtube Dipidiff Official.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

 

Hits: 29