Review Buku How to Stay Sane in an Age of Division - Elif Shafak

Published: Thursday, 25 March 2021 Written by Dipidiff

 

From the Booker shortlisted author of 10 Minutes 38 Seconds in This Strange World

 

Judul : How to Stay Sane in an Age of Division

Penulis : Elif Shafak

Jenis Buku : Non Fiction - Essays

Penerbit : Profile Books Ltd  

Tahun Terbit : 2020

Jumlah Halaman :  96 halaman

Dimensi Buku :  11.00 x 17.70 x 1.10 cm

Harga : Rp. 100.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781788165723

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

 

Ours is the age of contagious anxiety. We feel overwhelmed by the events around us, by injustice, by suffering, by an endless feeling of crisis. So, how can we nurture the parts of ourselves that hope, trust and believe in something better? And how can we stay sane in this age of division?

In this powerful, uplifting plea for conscious optimism, Booker Prize-nominated novelist and activist Elfi Shafak draws on her own memories and delves into the power of stories to bring us together. In the process, she reveals how listening to each other can nurture democracy, empathy and our faith in a kinder and wiser future.

Source: Book - How to Stay Sane in an Age of Division

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Simple dan langsung ke tujuannya. Menonjolkan judul dan nama penulisnya yang sudah beken dengan karya-karya sebelumnya. Ini memang tipe disain sampul buku saku dengan model penulisan essay. Sebelumnya saya pernah juga baca beberapa buku berformat mirip seperti ini, contohnya Money - Yuval Noah Harari.

 

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Buku tipis yang mendapatkan rating bagus di Amazon ini bikin saya penasaran. Dalam sinopsisnya tertulis tentang jaman kita saat ini yang merupakan era 'contagious anxiety'. Kita tenggelam dalam banyak sekali peristiwa di sekeliling kita, ketidakadilan, penderitaan, dan krisis tiada habis. Lalu bagaimana kita bisa untuk tetap memiliki harapan dan rasa percaya pada sesuatu yang bernilai kebaikan (?) bagaimana kita bisa bertahan waras di era perpecahan (?).

Buat saya dua pernyataan di bawah ini cukup menarik untuk dibahas lebih lanjut, mengapa di jaman komunikasi canggih dan di era perkembangan media sosial yang begitu terbuka, Shafak justru mendeteksi fenomena yang rada kontradiktif, yakni makin banyaknya orang yang justru merasa tidak didengarkan.

 

Even if they were to shout their grievance from the rooftops of Westmister - or Brussels of Washington or New Delhi - they doubt it would have the slightest impact on public policy. Not only management and authority, power and wealth, but also data and knowledge are increasingly concentrated in the hands of a few - and a growing number of citizens feel left out, not so much forgotten as never noticed in the first place. As their disillusionment deepens, so does distrust even in the most basic institutions. More than half of the people living in democracies today say their voice is 'never' or 'rarely' heard.*

*Survey conducted by Dalia Research, Alliance of Democracies and Rasmussen Global, 2018.

Page 7


"How is it possible then that in an era when social media was expected to give everyone an equal voice, so many continue to feel voiceless?"
Page 7-8

 

 


Hal ini makin asik disimak ketika Elif Shafak membahasnya dengan pendekatan elaborasi topik yang unik, yakni dengan menggunakan Facebook dan Likes sebagai persona. Untuk jawabannya, silakan teman-teman baca sendiri bukunya ya :)

Pembahasan yang sebenarnya concern pada 'anger, apathy, anxiety' ini mungkin juga akan membuat kita linglung sejenak karena Shafak bercerita penuh perasaan soal ibu gurunya dulu yang memaksanya menulis dengan tangan kanan, membujuknya dengan beragam cara termasuk menggunakan beragam alasan mulai dari norma sosial hingga ketuhanan. *yes, tangan kanan itu good hands, tangan kiri itu bad hands, demikian kata bu guru.

The year I started primary school in Turkey. I had difficulty learning how to write. Part of the reason might have been due to my own introversion and my inability to adapt quickly to the new environment. But a larger part  was because I was left-handed. Back then, left-handedness was socially and culturally considered to be a problem that could nevertheless be fixed with rigorous attention and discipline. Unfortunately, among those who shared this view was classroom teacher. Every day, she would remind me, with a disappointed smile that was worse than if shedd simply yelled at me, to please stop using my 'bad hand' and switch to my 'good hand'. There was another student for a while we shared a sense of camaraderie but somehow he managed to make the transition in the space of no more than a few weeks. I couldn't. If anything. I felt paralysed.

Page 10



Dibahas pula sebuah huruf dalam alfabet Turki, soft g, yang ada tapi tiada. Sering digunakan dalam penyusunan kata, tapi tidak pernah diucapkan lantang, melainkan melebur dengan huruf lainnya, atau di-skip begitu saja.

It was called the soft g - a 'g' with a little squiggle on top, like this: g. Always it had to be preceded by a vowel, and even though it sometimes lengthened the sound of the vowel, it did not have a voice of its own. Every other  letter made a distinctive sound, expressed itself loud and clear, except this one. The soft g did not talk. It did not complain or articulate opinions or demand anything. With its puzzling silence and slightly distracted manners it immediately stood out amid the gushing, garrulous letters. It must be a foreigner, I thought. An outsider. An alphabetical outcast. no word in my mother tongue started with it, which I found rather unfair. It was almost as if it was..

Page 12



Essay Shafak itu adalah sebuah tulisan yang berbelit, tapi indah dengan caranya sendiri. Unik, justru karena berbeda. Hanya 90 halaman saja buku ini tebalnya, ukuran bukunya pun sekecil buku saku, tapi mendapatkan ulasan khusus di media theguardian. com dan media-media lainnya.

Buku ini juga dipublikasikan berasosiasi dengan Welcome Collection. Artinya, buku ini punya nilai dan misi tertentu. Apa itu Wellcome Collection (?), teman-teman bisa baca informasinya di bawah ini yang juga bisa ditemukan di bagian paling akhir buku.

 

WELLCOME COLLECTION

Wellcome Collection is a free museum and library that aims to challenge how we think and feel about health. Inspired by the medical objects and curiosities collected by Henry Wellcome, it connects science, medicine, life and art. Wellcome Collection exhibitions, events and books explore a diverse range of subjects, including consciousness, forensic medicine, emotions, sexology, identity and death.

Wellcome Collection is part of Wellcome, a global charitable foundation that exists to improve health for everyone by helping great ideas to thrive, funding over 14,000 researchers and projects in more than 70 countries.

wellcomecollection.org

 

Bab akhir yang diberi judul Information, Knowledge, Wisdom adalah bagian yang paling saya tunggu karena berisi perspektif yang merupakan jawaban dari semua problema yang dibahas Shafak di bab-bab sebelumnya.

Kalimat-kalimatnya pun tajam, pas mengena di kondisi real saat ini,


"We live in an age in which there is too much information, less knowledge and even less wisdom"

Page 81


dan saya yakin teman-teman akan sepakat dengan kalimat berikut ini,


"Information flows amid our fingers like dry sand. It also gives us the illusions that we know the subject (and if we don't we just 'google' it), when, in truth, we know so little. Paradoxically, too much information is an obstacle in front of true knowledge.

Knowledge requires reading. Books. In-depth analyses. Investigative journalism. Then there is wisdom, which connect the mind and the heart, activates emotional intelligence, expands empathy. For that we need stories and storytelling"

Page 82



Di sini saya menangkap bahwa pesan yang Elif Shafak ingin sampaikan sebenarnya adalah keberanian dalam memilih dan melakukan hal-hal yang baik, dalam belajar, dalam berubah. Tidak perlu takut menghadapi jaman yang kian jauh dari nilai-nilai yang positif, justru kita harus percaya diri bahwa kendali ada di tangan kita, umat manusia. We keep holding knowledge and wisdom to stay sane in an age of division.

 

Siapa Elif Shafak

Elif Shafak adalah novelis Inggris-Turki pemenang penghargaan. Dia menulis dalam bahasa Turki dan Inggris, dan telah menerbitkan 18 buku, 11 di antaranya adalah novel. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam 54 bahasa. Novel terbarunya 10 Minutes 38 Seconds in this Strange World terpilih untuk Booker Prize dan RSL Ondaatje Prize; dan Blackwell's Book of the Year. Novel sebelumnya, The Forty Rules of Love, terpilih oleh BBC di antara 100 Novels that Shaped Our World. Shafak memegang gelar PhD dalam ilmu politik dan dia telah mengajar di berbagai universitas di Turki, AS dan Inggris, termasuk St Anne's College, Universitas Oxford, di mana dia adalah seorang penerima beasiswa.

Shafak adalah Rekan dan Wakil Presiden Royal Society of Literature. Ia adalah anggota Weforum Global Agenda Council on Creative Economy dan anggota pendiri ECFR (European Council on Foreign Relations). Seorang pembela hak-hak perempuan, hak LGBTQ + dan kebebasan berbicara, Shafak adalah pembicara publik yang menginspirasi dan menjadi dua kali pembicara TED Global yang memukau. Shafak berkontribusi pada publikasi besar di seluruh dunia dan dia dianugerahi medali Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres dan merupakan Anggota dari Royal Society of Literature. Pada tahun 2017 ia dipilih oleh Politico sebagai salah satu dari dua belas orang "who will give you a much needed lift of the heart". Shafak telah menilai di banyak penghargaan sastra, dan mengetuai Wellcome Prize dan saat ini menilai PEN Nabokov Prize. *Sumber: Amazon.

 

Also by Elif Shafak

Fiction

The Hidden

Mirrors of the City

The Gaze

The Flea Palace

The Saint of Incipient Insanities

The Bastard of Istanbul

The Forty Rules of Love

Honour

The Architect's Apprentice

Three Daughters of Eve

to Minutes 38 Seconds in This Strange World

 

Non Fiction

Black Milk

 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari buku essay yang berkualitas, yang membahas fenomena dan kejadian masa kini, mengangkat permasalahan yang seringkali terlewati dan tidak disadari, sebuah buku yang menampar dan membangkitkan kesadaran. Dengan gaya penulisannya yang cerdas, berbelit tapi indah, personal tapi tetap punya dasar pemikiran logis dan ditunjang rujukan ilmiah serta fakta lapangan, buku How to Stay Sane in an Age of Division pantas mendapatkan banyak tanggapan di berbagai media. Dunia kita makin 'gila', dan inilah jawaban Elif Shafak untuk bisa tetap 'waras'.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Thursday Murder Club - R…

09-04-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor's Pick - Best Mystery, Thriller & Suspense on Amazon  Judul : The Thursday Murder Club A Thursday Murder Club Mystery Book 1 Penulis : Richard Osman Jenis Buku : Mystery - Amateur Sleuth...

Read more

Review Buku Disorder - Akmal Nasery Basr…

29-03-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Disorder Penulis : Akmal Nasery Basral Jenis Buku : Fiksi Ilmiah Penerbit : Penerbit Bentang Tahun Terbit : Desember 2020 Jumlah Halaman : 484 halaman Dimensi Buku : 20,5 cm Harga : Rp. 114.000 *harga...

Read more

Review Buku How to Stay Sane in an Age o…

25-03-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  From the Booker shortlisted author of 10 Minutes 38 Seconds in This Strange World   Judul : How to Stay Sane in an Age of Division Penulis : Elif Shafak Jenis Buku : Non...

Read more

Review Buku Shine - Jessica Jung

24-03-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times Bestseller!Editor's Pick - Best Young Adult at Amazon.com.From International K-pop Star, Jessica Jung. Judul : Shine Penulis : Jessica Jung Jenis Buku : Young Adult Romance Penerbit : Simon &...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more