Review Buku The Thursday Murder Club - Richard Osman

Published: Friday, 09 April 2021 Written by Dipidiff

 

Editor's Pick - Best Mystery, Thriller & Suspense on Amazon 

Judul : The Thursday Murder Club

A Thursday Murder Club Mystery Book 1

Penulis : Richard Osman

Jenis Buku : Mystery - Amateur Sleuth Mysteries

Penerbit : Penguin Books Ltd   

Tahun Terbit : September 2020

Jumlah Halaman :  480 halaman

Dimensi Buku :  15.30 x 23.30 x 3.20 cm

Harga : Rp.260.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780241425459

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Thursday Murder Club beranggotakan para pensiunan (tapi masih aktif dalam kehidupan sosial dan bisnis) yang kumpul-kumpul di hari Kamis di Jigsaw Room untuk membahas satu kasus lama yang tak terpecahkan oleh kepolisian. Ini adalah klub penggemar misteri pembunuhan, yang tidak membahas fiksi, tapi dengan serius mengulik kasus kejahatan. Teori-teori penyelesaian mereka awalnya hanya untuk konsumsi mereka saja, hingga suatu ketika, terjadi pembunuhan di kota tempat mereka tinggal. Kali ini klub memutuskan untuk ikut melakukan penyelidikan.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

adasd ZEntah kenapa pemilihan jenis huruf dan nuansa disainnya mengingatkan saya pada tema-tema cowboy dengan kuda dan pria memegang pistol. Vintage banget kan ya. Tapi kalo mengingat tokoh-tokoh utama cerita yang memang sudah pensiunan a.k.a senior, ya cocok juga lah dengan disain seperti ini. It is just my opinion.

 

Tokoh dan Karakter

Donna De Freitas

Elizabeth

Joyce

Ron Ritchie

Jason Ritchie

Ibrahim Arif

Tonny Curran

Bogdan

Ian Ventham

Chris Hudson

Joanna

Father Mackie

Bernard

Gerry

Penny

John

 

Para tokoh-tokoh utama di novel ini menurut saya unik eksentrik. Ada Ron yang populer di jamannya, ada Ibrahim Arif yang suka pada detail, ada Elizabeth yang blak-blakan, dan ada Joyce yang lembut dan senang mengamati. Joyce ini sekilas mengingatkan saya pada Miss Marple-nya Agatha Christie. 

Tentu saja ada sisi-sisi kelemahan yang dimiliki oleh para tokoh utama, bahkan mereka punya konflik personal masing-masing yang ditampilkan Osman di dalam cerita. Koflik ini kelak akan memberikan warna dari cerita sehingga ga terasa datar. Misalnya Joyce yang berjarak dengan putrinya, dan Elizabeth dengan kehidupan rumah tangganya. Nuansanya samar-samar terasa duka.

Penokohan saya rasa agak statis di novel ini, tapi herannya saya juga merasa novel ini punya pesan cerita yang cukup dalam selain urusan pembunuhan. So, coba dibaca sendiri ya.

Untuk antagonisnya sendiri ga terlalu berdrama. Mereka menjadi antagonis karena kebutuhan misteri pembunuhannya.

Deskripsi para tokoh mencukupi, misalnya fisik Joyce yang menjadi sentral juga di dalam cerita. Coba di baca di bawah ini. Paragraf inilah yang menyebabkan saya teringat akan Miss Marple di bukunya Agatha Christie (minus rajutannya).

"And what's your story, Joyce?' asks Donna to the fourth member of the group, a small, white-haired woman in a lavender blouse and mauve cardigan. She is sitting very happily, taking it all in. Mouth closed, but eyes bright. Like a quiet bird, constantly on the lookout for something sparkling in the sunshine.

Page 11 

 

Alur dan Latar

 

casda Ada semacam permainan alur di sini yang tidak bisa dengan mudah kita tentukan ini mundur lalu maju atau bagaimana, belum lagi ketambahan chapter diary tokoh Joyce. Tidak ada penanda juga di chapternya berkaitan dengan waktu. Jadi cara kita untuk memahami konteks waktu dan alurnya memang harus dengan memahami bacaan. Kita simpulkan saja, alurnya kombinasi.

Dari sisi progress misteri, alurnya cenderung lambat-sedang. Tapi personally, saya tidak keberatan karena saya menyukai narasi dan dialog tokoh-tokohnya yang unik-unik itu.

Sudut pandang penceritaannya kombinasi, berganti-ganti antara pov 1 dan 3.

 

Konflik cerita menurut saya tidak sederhana alias bervariasi. Di sini ada konflik misteri pembunuhan, dan ada konflik personal tokoh juga yang membuat penokohan cerita terasa mendalam. 

Latar lokasi dan situasi terdeskripsi dengan baik, sebuah kota kecil bernama Coopers Chase yang damai sebelum ada kasus pembunuhan,.ini adalah sebuah kota tempat orang-orang menghabiskan masa pensiunnya. Tergambar di benak saya kota ini pasti tenang dan kehidupan seolah berjalan lebih lambat. Di bawah ini saya kutipkan sebagian deskripsi latar kota Cooper Chase, kutipan saya sedikit saja karena pada kenyataannya versi di bukunya lebih panjang lebar.

If you are ever minded to take the A21 out of Fairhaven, and head into the heart of the Kentish Weald, you will eventually pass on old phone box, still working, on a sharp left-hand bend. Continue for around a hundred yards until you see the sign for 'Whitechurch, Abbots Hatch and Lents Hill', and then take a right. Head through Lents Hill, past the Blue Dragon and the little farm shop with the big egg outside, until you reach the small stone bridge over the Robertsmere. Officially the Robertsmere is a river, but don't get confused and expect anything grand.

Take the single-track right turn just past the bridge. You will think you are headed the wrong way, but this is quicker than the way the official brochure takes you, and also picturesque if you like dappled hedgerows. Eventually the road widens out and, peeking between tall trees, you will begin to see sign of life rising on the hilly land up to your left. Up ahead you will see a tiny, wood-clad bus stop, also still working, if one bus in either direction a day counts as working. Just before you reach the bus stop you will see the entrance sign for Coopers Chase on your left.

The began work on Coopers Chase about ten years ago, when the Catholic Church sold the land. The first residents, Ron, for one, had moved in three years later. It was billed as 'Britain s First Luxury Retirement Villages', though according to Ibrahim, who has checked, it was actually the seventh. There are currently around 300 residents. You cant move here until you re over sixty-five, and the Waitrose delivery ...

Page 13

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Saya suka ide cerita buku ini yang mengangkat klub misteri pembunuhan yang sebenarnya, tapi hanya sebatas klub, sebelum kasus pembunuhan terjadi di depan mata. Seru ya kayaknya ketika diimajinasikan ^^

But this morning there are different priorities, he understand that. this morning the Thursday Murder Club has a real-life case. Not just yellowing page of smudged type from another rage. A real case, a real corpse, and somewhere out there, a real killer.

This morning Ibrahim is needed. Which is what he lives for.

Page 44

 

Lagi cari novel misteri pembunuhan yang ada humornya? Yes, boleh coba The Thursday Murder Club. Terus terang saja selama membaca buku ini, seringkali senyum saya terkembang. Ada aja bagian dari narasi atau percakapan yang terasa lucu. Ga sampai bikin terbahak-bahak sih kalo saya, tapi humornya halus, dan saya pun hanya bisa menangkap sisi lucunya kalau saya berhasil mengimajinasikannya dari perspektif tertentu. Misalnya pemikiran Ian Ventham yang mau menulis buku seperti Richard Branson yang dia bilang dia hanya butuh rima aja buat judulnya, trus pasti bakal populer :D, atau kelucuan ketika membayangkan Elizabeth mengambil foto-foto tkp secara sembunyi-sembunyi dengan berpura-pura memanggil ambulan.

Ian Ventham is on his treadmill, listening to the audiobook of Richard Branson s Screww It, Let s Do It: Lessons in Life and Business. Ian doesn't agree with Branson s politics, far from it, but you have to admire the guy. Admire what he's achieved. One day Ian will write a book. He just needs a title that rhymes and then he ll get to work.

Page 145

 

Fifteen winding miles away, the Thursday Murder Club is in extraordinary session. Elizabeth is laying out a series of full-colour photos of the corpse of Ian Ventham, alongside every conceivable angle of the scene. She had taken them on her phone while pretending she was calling for an ambulance. She then had them privately printed by a chemist in Robertsbridge who owed her a favour, due to her keeping quiet about a criminal conviction from the 1970s that she had managed to uncover.

Page 178



Kekocakan adegan memang diwakili oleh dialog dan tingkah laku tokoh-tokohnya yang berkarakter unik, yakni para member klub hari Kamis itu.


Elizabeth menurut saya wanita yang eksentrik dengan kemampuan 'mengada-ngada' yang tiba-tiba, mengubah nama atau latar belakang hidupnya demi mendapatkan informasi yang dibutuhkan, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terang-terangan seperti "Kalau kamu diminta membunuhnya, apakah kamu akan melakukannya?" *memangnya ada yang ngaku kalo ditanya begini ya ^^'

Lalu ada Joyce yang disukai banyak orang, kepribadiannya yang cenderung invisible membuatnya menjadi observer yang handal. Ada Ron Ritchie, tokoh populer di jamannya, prinsipnya adalah tidak percaya dengan mudah pada apapun yang dikatakan orang-orang. Dan ada Ibrahim yang senang menjelaskan sesuatu dengan detail dan kronologis, tidak pernah ngebut, dan taat pada hukum-hukum keselamatan.



Sensasi pembunuhan yang kejam tak begitu dimunculkan di sini. Tidak ada adegan pembunuhan yang dielaborasi detail sehingga memunculkan perasaan tegang, ngeri, bahkan ingin muntah. Jadi cerita ini memang cocok untuk mereka yang begitu suka membaca adegan sadis.

Buat teman-teman yang suka ide diary yang ditulis oleh tokoh, di buku ini juga ada buku harian yang ditulis oleh Joyce. Pergantian bab diary dan bab lainnya diatur dengan baik sehingga punya style dan timing yang pas.

Rupanya selain 𝘸𝘪𝘵𝘵𝘺, siapa sangka novel misteri pembunuhan ini juga banyak mengolah emosi duka. Ada duka dalam cinta, menuanya usia, keluarga, dan persahabatan yang setia. Tidak semua duka berujung bahagia di akhir cerita, that's why it is a bittersweet book for me, dan secara pribadi saya suka buku-buku yang punya kedalaman emosi tertentu seperti ini.


Saya suka konflik cerita ini, yang menurut saya tidak sederhana. Misalnya, konflik emosional Joyce dan putrinya, Joanna, yang sempat berjarak, lalu konflik percintaan yang dialami Donna, dimana dia putus dari kekasihnya dan masih teringat-ingat terus pada mantannya ini (yang sudah punya pacar baru). Konflik-konflik ini relate dalam berbagai kisah kehidupan banyak orang.

... she hasn't thought about Carl for a good forty-eight hours, which is a new record. Though she has thought about him now, which spoils it a little. She realizes, though, that soon she wont think about him for ninety-six hours, and then a week, and before you know it Carl just seem like a character from a book she once read. Really, why had she left London? What happens when these murders are solved and she's back in uniform?

Page 184

 

Gaya menulis Osman jelas mengalir, renyah, dan kadang-kadang seolah menembus jarak antara penulis dan pembaca. Misalnya ketika Chris Hudson sedang berada di kantornya, pura-pura bekerja padahal sedang melamun dan merana. Terlintas dalam pikirannya harusnya dia memajang foto keluarga di mejanya, dan dia berpikir untuk meletakkan foto keponakannya.., yang nyatanya dia tidak tau nama dan usianya. Lalu pikirannya kembali ke kasus pembunuhan yang ia hadapi, ia teringat pada klub misteri itu, dan dia tiba-tiba teringat pada wanita menarik yang ia temui... 

Chris Hudson has his own office, a little bolthole where he can pretend to work. There is a space on his desk where a family photograph might ordinarily sit and he feels a prick of shame every time he notes its absence. Perhaps he should have a photo of his niece? How old was she now? Twelve? Or maybe fourteen? His brother would know.

So who killed Ventham? Chris was right there when it happened. One way or another, he actually watched him being killed. Who had he seen? The Thursday Murder Club, they were all there, the priest. The attractive woman in the jumper and trainers. Now who was she? Was she single? Now s not the time, Chris. Concentrate.

Page 188.

 

Ini kejutan yang menyenangkan buat saya ketika mendapati ternyata korban pembunuhannya ada lebih dari dua, dan melibatkan kasus-kasus tak terpecahkan di masa lalu. Ada keunikan pula ketika kita tiba pada penyelesaian kasus dimana pelakunya bukan cuma 'dia', dan ini belum ditambah dengan motifnya yang cukup kompleks. Bagian yang paling saya suka dan ga bisa berhenti baca adalah ketika reveal kasus, dan apa yang dijelaskan di buku diluar ekspektasi saya yang tadinya sempat menduka buku ini simple saja.

Di tengah semua hal yang menarik di atas, mungkin teman-teman akan merasakan ganjalan tertentu, misalnya harapan akan plot twist yang lebih menggigit, tekstur antiklimaks yang lebih landai dan tidak tiba-tiba selesai, serta peran polisi yang lebih pintar.

𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘱𝘴, Osman ingin menampilkan karakter yang lebih manusiawi dengan caranya, juga bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Pada akhirnya bobot terbesar dalam buku ini menurut saya adalah pesan cerita yang dibawa oleh para tokoh.

Pesan-pesan ini ada dalam kalimat-kalimat yang disampaikan oleh tokoh maupun dalam narasi cerita. Misalnya tentang gratitude yang saya kutipkan di bawah ini.

The village is nearly dark now. In life you have to learn to count the good days. You have to tuck them in your pocket and carry them around with you. So I'm putting today in my pocket and I'm off to bed.

Page 88



Btw, endingnya terbuka, dan jika dicek, The Thursday Murder Club memang buku pertama dari dwilogi. So, we wait for the second book I guess :D. And let's find out what happen next to Elizabeth, Joyce, Ron, and Ibrahim.

 

Siapa Richard Osman

 

Richard Thomas Osman (lahir 28 November 1970) adalah seorang presenter televisi Inggris, produser, komedian, dan penulis. Ia terkenal sebagai pencipta dan salah satu presenter acara kuis televisi BBC One Pointless. Dia juga mempresentasikan acara kuis BBC Two Two Tribes dan Richard Osman House of Games, dan telah menjadi kapten tim di panel komedi acara Insert Name Here dan The Fake News Show. Dia telah mendapatkan pengakuan atas penampilannya di berbagai acara panel Inggris.

Osman bekerja di Hat Trick Productions bersama Ben Smith sebelum menjadi direktur kreatif perusahaan produksi televisi Endemol UK, memproduksi acara termasuk Prize Island untuk ITV dan Deal or No Deal for Channel 4. Dia adalah penulis novel 2020 The Thursday Murder Club.

Osman lahir di Billericay, Essex, dari pasangan Brenda Wright dan David Osman, dan dibesarkan di Haywards Heath, West Sussex. Ibunya adalah seorang guru. Ketika Osman berusia sembilan tahun, ayahnya meninggalkan keluarga, yang menurut Osman menimbulkan kesulitan selama sisa hidupnya. Kakak laki-lakinya adalah musisi Mat Osman, gitaris bass dengan band rock Suede.

Osman bersekolah di Warden Park School di Cuckfield. Saat masih di sekolah, ia mendapatkan pengalaman siaran pertamanya, sebagai kontributor reguler Turn It Up, sebuah acara musik akses terbuka yang ditayangkan pada Minggu malam di Radio BBC Sussex (acara tersebut juga terkenal karena memberikan pengalaman siaran awal kepada berita BBC jurnalis Jane Hill dan radio DJ Jo Whiley). Dari tahun 1989 hingga 1992, dia belajar Politik dan Sosiologi di Trinity College, Cambridge.


Viking Press, anak perusahaan Penguin Random House, memperoleh hak atas novel debut Osman, The Thursday Murder Club, dan satu novel lainnya, dengan harga tujuh digit dalam lelang 10 penerbit pada tahun 2019. Osman mengonfirmasi bahwa Steven Spielberg telah memperoleh hak film dari buku tersebut.

Osman lahir dengan nystagmus, kondisi mata yang secara signifikan mengurangi penglihatannya.

 

Bibliography

  • The 100 Most Pointless Things in the World. Coronet. 2012
  • The 100 Most Pointless Arguments in the World. Coronet. 2013
  • The Very Pointless Quiz Book. Coronet. 2014
  • The A-Z of Pointless. Coronet. 2015
  • A Pointless History of the World. Coronet. 2016
  • The World Cup of Everything: Bringing the Fun Home. Coronet. 2017
  • Richard Osman's House of Games. BBC Books. 2019

Novels

  • The Thursday Murder Club. Viking. 2020

Sumber: Wikipedia 

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada para pecinta genre misteri pembunuhan yang kasusnya diselesaikan oleh amatir. Ada unsur humor dalam cerita. Alurnya lambat-sedang, pov kombinasi, konflik bervariasi, punya sisi emosi selain urusan misterinya. Endingnya tertutup untuk kasus utama tapi terbuka untuk buku keduanya. Tokoh-tokohnya para pensiunan yang punya karakter unik-menarik. Kekuatan buku ini ada di penyelesaian kasus dan pesan cerita.

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Thursday Murder Club - R…

09-04-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Editor's Pick - Best Mystery, Thriller & Suspense on Amazon  Judul : The Thursday Murder Club A Thursday Murder Club Mystery Book 1 Penulis : Richard Osman Jenis Buku : Mystery - Amateur Sleuth...

Read more

Review Buku Disorder - Akmal Nasery Basr…

29-03-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Disorder Penulis : Akmal Nasery Basral Jenis Buku : Fiksi Ilmiah Penerbit : Penerbit Bentang Tahun Terbit : Desember 2020 Jumlah Halaman : 484 halaman Dimensi Buku : 20,5 cm Harga : Rp. 114.000 *harga...

Read more

Review Buku How to Stay Sane in an Age o…

25-03-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  From the Booker shortlisted author of 10 Minutes 38 Seconds in This Strange World   Judul : How to Stay Sane in an Age of Division Penulis : Elif Shafak Jenis Buku : Non...

Read more

Review Buku Shine - Jessica Jung

24-03-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times Bestseller!Editor's Pick - Best Young Adult at Amazon.com.From International K-pop Star, Jessica Jung. Judul : Shine Penulis : Jessica Jung Jenis Buku : Young Adult Romance Penerbit : Simon &...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more