Review Buku A Time for Mercy - John Grisham

Published: Friday, 20 November 2020 Written by Dipidiff

 

#1 Amazon Charts This Week

 

Judul : A Time for Mercy

(Jake Brigance Book 3)

Penulis : John Grisham

Jenis Buku : Legal Thriller

Penerbit : Doubleday Books – Penguin Random House LLC

Tahun Terbit : Oktober 2020

Jumlah Halaman : 464 halaman

Harga : Rp.  298.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780385545969

Hardcover

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Buku terbaru dari penulis populer bergenre legal thriller, A Time of Mercy oleh John Grisham, diterbitkan pada Oktober 2020. Now become # 1 Amazon Charts This Week. 

Pahlawan A Time to Kill telah kembali! Kali ini Jake tersangkut kasus pembunuhan petugas polisi yang dilakukan oleh seorang remaja putra pasangan hidup korban. Motifnya sendiri lebih seperti naluri untuk melindungi diri sendiri, karena Drew mengira ibu mereka telah disiksa oleh Stuart sampai mati dan dia serta saudara perempuannya akan segera menjadi pelampiasan berikutnya. Tidak ada pengacara yang mau menangani kasus ini karena beberapa alasan, di antaranya adalah karena ini kasus hukuman mati melawan negara dan masyarakat di kota akan berpihak pada polisi yang terbunuh daripada remaja yang membunuh karena melindungi dirinya sendiri dan adik perempuannya. Selama proses persidangan, Jake akhirnya mengungkap banyak skandal di balik kasus tersebut dan semuanya memiliki konsekuensi yang sangat besar.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Dari disain sampul kayaknya mencirikan sekali kata kunci harapan ya. Secara ada semburat cahaya matahari di ujung sana yang entah pagi atau sore. Seharusnya sih pagi, karena lebih cocok buat isi cerita novel ini. Buku yang saya baca versi hardcover sampul lepas. Kalo liat amazon ada versi paperback nya tapi di Periplus Bookstore yang baru keliatan sih yang cetakan hardcover seperti ini. Ini buku terbaru John Grisham. Nama populer penulis sudah kayak jadi jaminan kalo buku ini layak baca. Apalagi begitu tau ini seri Jake Brigance.

  

Tokoh dan Karakter

Jake Brigance

Carla Brigance

Hanna Brigance

Stuart Kofer

Earl Kofer

Drew Gamble

Josie Gamble

Kiera Gamble

Ozzie Walls

Judge Omar Noose

Dumas Lee

Portia Lang

Harry Rex

Lucien

Lowell Dyer

Pastor McGarry

Karakter tokoh-tokoh dalam ceritanya terasa hidup. Kemampuan John Grisham untuk menciptakan karakter dinamis dan tiga dimensi juga terlihat dalam buku ini. Adegan dimana anak-anak terlibat dalam kasus rasanya kejam dan menghancurkan perasaan saya. Sulit untuk merasa marah dengan keluarga si pembunuh. Saya sangat suka sisi gejolak batin karakter yang menyentuh hati.


Antagonis di dalam cerita adalah orang-orang biasa yang bisa kita temui dalam hidup kita dan pahlawannya adalah orang-orang yang berbuat baik meskipun mereka harus mengambil resiko yang besar. Sangat menginspirasi.

 

Deskripsi tokoh cerita rinci, misalnya fisik Drew Gamble yang telat masuk masa remaja.

Drew was two years older than his sister, Kiera, but puberty, like most normal changes in his life, was coming late. He was sixteen, small for his age and bothered by his lack of size, especially when standing next to his sister, who was struggling through another awkward growth surge.

Page 6

 

Alur dan Latar

Alur cerita novel ini menurut saya tidak terlalu cepat, dan pastinya bagian persiapan dan persidangannya sangat jelas. Beberapa pembaca mungkin merasa sedikit lelah atau bosan di sini, tetapi mereka yang menyukai prosedur hukum akan menikmati drama dan liku-likunya. Menarik sekali untuk menyimak konflik batin dan politik hukum yang ada dalam cerita karena kompleks dan mendalam.

Ending buku tertutup untuk kasus atau konflik utama tapi juga terasa terbuka sehingga kemungkinan besar akan ada buku Jake Brigance berikutnya.

 

Latar suasana dan latar lokasi lainnya cukup rinci, misalnya kondisi rumah Stuart Kofer yang saya kutipkan sebagian di bawah ini.

The unhappy little home was out in the country, some six miles south of Clanton on an old country road that went nowhere in particular. The house could not be seen from the road and was accessed by a winding gravel drive that dipped and curved and at night caused approaching headlights to sweep through the front windows and doors as if to warn those waiting inside. The seclusion of the house added to the imminent horror.

It was long after midnight on an early Sunday when the headlights finally appeared. They washed through the house and cast ominous, silent shadows on the walls, then went away as the car dipped before its final approach. Those inside should have been asleep for hours, but sleep was not possible during these awful nights. On the sofa in the den, Josie took a deep breath, said a quick prayer, and eased to the window to watch the car. ...

Page Chapter 1

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Ngomong-ngomong, saya terpesona oleh prolog yang langsung terjun ke dalam emosi mencekam dari adegan sadis yang digambarkan secara terang-terangan. Inilah adegan penganiayaan fisik yang dialami Josie Gamble.

He lunged and grabbed her wrist with his left hand and swung hard at her face. With an open hand he slapped her across the jaw, a loud popping sound that was sickening, flesh on flesh. She screamed in pain and shock. She had told herself to do anything but  scream because her kids were upstairs behind a locked door, listening, hearing it all.

“Stop it, Stu!” she shrieked as she grabbed her face and tried to catch her breath. “No more hittin’! I promised you I'm leavin’ and I swear I will!”

He roared with laughter and said, “Oh really? And where you goin’ now, you little slut? Back to the camper in the woods? You gonna live in your car again?” He yanked her wrist, spun her around, threw a thick forearm around her neck, and growled into her ear. “You ain’t got no place to go, bitch, not even the trailer park where you was born.” He sprayed hot saliva and the rank odor of stale whiskey and beer into her ear.

She jerked and tried to free herself but he trust her arm up almost to her shoulders as if trying mightily to snap a bone. ...

Page 5

 

 

Setelah prolog barulah dibuka satu persatu landasan konflik cerita yang menurut saya menarik. Di awal saya ada kecurigaaan akan ada isu politik kotor dan rasisme yang akan diangkat dalam cerita. Namun setelah membaca lebih lanjut, saya menemukan bahwa isu rasis yang diangkat di awal dengan hadirnya sherrif Ozzie yang berkulit hitam ternyata tidak memiliki porsi cerita yang besar. Sebaliknya, novel ini tampaknya mengangkat banyak masalah lain seperti alkoholisme, kelas sosial, pelecehan dan pemerkosaan, politik kotor, korupsi, dan banyak lagi.

Ozzie sat next to his wife and listener and marveled at the difference between white funerals and black ones. He and his force and their spouses sat together in three rows to the left of the family, all in their finest matching uniforms, all boots spit-shined, all badges gleaming. The section behind them was packed with officers from north Mussisippi, all white men.

Counting Willie Hastings, Scooter Gifford, Elton Frye, Parnell Johnson, and himself, along with their wives, there were exactly ten black faces in the crowd. And Ozzie knew full well that they were welcome only because of his position.

..

Page 126




Emosi adalah bagian yang terolah baik dalam novel ini.

Ada haru, sedih, dan cinta keluarga seperti yang ada dalam adegan pertemuan anak beranak Gamble.

Kiera leaned forward with a tissue and wiped her mother's cheeks, then wiped her own. There was a long silent pause as a monitor beeped and nurses laughed in the hallway. Jake flinched first and was suddenly eager to leave. He clutches Josie's hand, leaned down and said, “I'll be back. Right now we're going to check on Drew.”

She tried to nod but the pain hit and she grimaced. Backing away, Jake handed Kiera a business card and whispered, “There's my number.” At the door he turned around for a last glance and saw the two clutching each other in a tight embrace, both crying, both terrified of the unknowns.

It was a heartbreaking image that he would never forget. Two little people facing nothing but fear and the wrath of the system, a mother and daughter who'd done nothing wrong but were suffering mightly. They had no voice, no one to protect them. No one but Jake. A voice told him that they, along with Drew, would be a part of his life for years to come.

Page _

 

Atau cinta kasih dan kesetiaan pada pasangan yang ditunjukkan dalam adegan Jake dan Carla.

Monday afternoon seemed like a good time, and he was in the backyard laboring away when his girls got home from school. He was never there waiting for them, and Hanna was thrilled to see her father at home so early. He had cans of lemonade in a cooler, and they sat on the patio and talked about school until Hanna got bored with the adults and went inside.

“Are you okay?” Carla asked with great concern.

“No.”

“You want to talk?”

“Only if you promise to forgive me.”

“Always.”

“Thanks. It might be difficult.”

She smiled and said, “I'm with you, okay?”

Page 205

 

Ada persahabatan dan kesetiaan seperti dalam adegan Portia Lang di bawah ini,

Friday was Portia's last day at work. She would start classes on Monday and she was ready to go. Lucien, Harry Rex, Bev, Jake, and Carla gathered with her in the main conference room and opened a bottle of champagne. They toasted her, with a few light roasts in between, and each took a turn with a little speech. Jake went last and suddenly had a know in his throat.

The gift was a handsome chestnut and bronze plaque that read OFFICE OF PORTIA LANG, ATTORNEY AT LAW. It was  to be mounted on the door of the office she had occupied for the past two years. She held it proudly, wiped her eyes, looked at the group, and said, “I'm overwhelmed, but then I’ve been overwhelmed many times around here. I thank you for your friendship, you have been dear. But I also thank you for something far more important. It is your acceptance. You have accepted me, a young black woman, as an equal. You have given me an incredible opportunity, and you have expected me to perform as equal. Because of your encouragement, and acceptance, I have a future that, at times, I cannot believe. You have no idea what this means to me. Thank you. I love you all – even you, Lucien.”

There were no dry eyes when she finished.

Page 460

Dan masih banyak lagi.

 

 

Humornya witty :D, agak sakarkasme begitulah, dan dihadirkan dalam dialog tokoh yang pas sehingga cerita jadi terasa renyah.

As uncomfortable as they were, the cold packs were working and Jake eventually stopped complaining about them. By Wednesday morning, the swelling had gone down enough so that he could open his eyes and see blurred images. The first was the pretty face of his wife, who, though unclear, looked better than ever. Jake kissed her for the first time in forever and said, “I'm going home.”

“Oh no you're not. You have appointments this morning. First the eye doctor, then a dentist, then some more doctors, then a rehab specialist.”

“I'm more concerned about my testicles.”

“So am I , but there's little to do but ride it out. I took a peek last night when you were snoring and they re quite impressive. Dr. McKee says there s nothing to do down there but take pain pills and pray that you'll one day walk like a man again.”

“Which specialist works on testicles?”

“That would be the urologist. He stopped by when you were out of it and took some pictures.”

“You're  lying.”

“No I'm not. I held the sheet up and he clicked away.”

“Why does he need photos?”

“Said he likes to enlarge them and hang ‘em on the wall of his reception room.”

Jake managed a laugh, one that was cut short when a surge like a hot knife ripped through his ribs and he grimace. ..

Page chapter 33

 

Konflik batin para pengacara juga tergambar jelas. Saya memahami bahwa profesi jaksa dan pengacara memang tidak mudah. Tapi lewat novel ini, rasanya saya seolah diajak menyelami kehidupan pekerjaan mereka dengan segala stress dan konfliknya. Sulit untuk mendefiniskan kebenaran.

“What is justice in this case, Portia? You're about to go off to law school where you'll spend the next three years being told that trial should be about truth and justice. And they should be. But you're also old enough to serve on a jury. What would you do with this kid?’

She considered this for a moment and said, “I don't know. I think about it all the time and I swear I don't have the answer. That boy did what he thought was right. He thought his mother was dead and ---“

“And he thought they were still in danger. He thought Kofer might get up and continue with his rampage. Hell, he'd beaten them and threatened to kill them before. Drew figured he was drunk but he didn't know Kofer was no saturated with booze that he was in a coma. At that moment, Drew Believed he was protecting his sister and himself.”

...

Page 299

 

Monday, August 6. Jake slept in short little naps interrupted by long stretches of wide-eyed worried about all the things that could go wrong. His dream was to become a great trial lawyer, but, as always on the first morning, he asked himself why anyone would want the stress. The meticulous pretrial preparation was tedious and nerve racking, but nothing compared to the actual battle. In the courtroom, and in front of the jury, a lawyer has at least ten things on his mind, all crucial. He must concentrate on the witness, either his or an opponent’s, and hear every word of testimony. Should he object, and why? Has he covered all of the facts? Are the jurors listening, and if so do they believe the witness? Do they like the witness? If they're not paying attention, is this beneficial or not? He must observe every more made by his opponent and predict where he is going. What is his tragedy? Has he changed midcourse, or is he laying a trap? Who was the next witness? And where was she or he? If the next witness was adverse, how effective would she be? If he was a defence witness, was he ready? Actually in the courthouse? And prepared? The absence of discovery in criminal trials only heightened the stress because the lawyers were not always certain what the witness might say. And the judge – was he on top of his game? Listening? Napping? Hostile pr friendly or neutral? Were the exhibits properly prepared and ready? Would there be a fight over their admission into evidence, and if so did the lawyer know the rules of evidence inside and out?

Page 332

 

A Time for Mercy ternyata termasuk novel yang banyak nyebutin makanan dalam ceritanya 😁. Dijamin bikin lapar. Contohnya adegan sarapan paginya Carla dan Jake yang saya kutipkan di bawah ini.

He drifted away again and woke up from a moment of deep sleep to the distant aroma of frying bacon. It was 4:45 and Carla was at the stove. He said good morning, kissed her, poured coffee, and said he was taking a quick shower.

They ate quietly at the breakfast nook – bacon and scrambled eggs with toast. ..

Page 333

 

Seperti biasa, deskripsi John Grisham tentang kekejaman dan proses hukum selalu terperinci dan penuh emosi, termasuk dalam A Time for Mercy.

“Ladies and gentlemen, this was Stuart Kofer. Age thirty-three years old when he was murdered by the defendant, Drew Gamble. Stuart was a local boy, born and bren in Ford County, graduate of Clanton High School, a veteran, two tours in Asia, a distinguished career as a law enforcement officer, protecting the public. In the early hours of March twenty-fifth, as he was sleeping in his own bed, in his own home, he was shot and killed by the defendant, Drew Gamble, sitting right there.”

He pointed as dramatically as possible to the defendant, who was sitting low between Jake and Libby, as if the jurors were not sure who exactly was on trial.

“The defendant got his hands on Stuart’s own service gun, a nine milimeter Glock pistol,” Dyer stepped to the table where the court reporter was taking it all down, picked up State’s exhibit number one, and showed it to the jury. He placed the weapon back on the table and continued, “He took it, and with deliberate will and premeditated intentions, pointed it at Stuart's left temple ....

Page 359

 

Pernahkah teman-teman merasa ingin membaca kembali buku setelah Anda selesai membaca sekuelnya?

Itu terjadi pada saya. Saya telah membaca A Time for Mercy dan tiba-tiba saya ingin sekali membaca kembali A Time to Kill. Alasannya cukup sederhana, karena tokoh-tokoh dalam Time for Mercy mengingatkan saya pada novel legenda di A Time to Kill (ada Carla, Judge Noose, dan Sheriff Ozzie).



Saya sendiri tergoda untuk menebak endingnya, yang menurut saya cukup jelas karena ada petunjuk di sinopsisnya tapi setelah membaca ternyata ada lebih dari satu misteri, artinya solusinya punya lebih dari satu ujung. Menurut saya, novel ini butuh sekuel karena ada hal-hal yang membuat saya penasaran di luar konflik utamanya. Model penutup ceritanya memang terbuka sehingga memberikan kesempatan untuk cerita sekuelnya dan pastinya saya tidak keberatan bertemu lagi dengan Jake Brigance di novel John Grisham berikutnya.

Ngomong-ngomong, mengingat bahasanya yang kasar, adegan dan kekerasan yang deskriptif seksual, serta topik pembunuhan, pemerkosaan dan pelecehan yang diangkat, novel ini jelas untuk pembaca dewasa.

A Time for Mercy adalah bacaan yang bagus. Saya sangat merekomendasikan buku ini.

 

Siapa John Grisham

John Grisham adalah penulis dari 35 novel, satu karya non fiksi, satu koleksi cerita pendek, dan 7 novel untuk pembaca muda.

 

Also by John Grisham

A Time to Kill

The Firm

The Pelican Brief

The Client

The Chamber

The Rainmaker

The Runaway Jury

The Partner

The Street Lawyer

The Testament

The Brethren

A Painted House

Skipping Christmas

The Summons

The King of Torts

Bleachers

The Last Juror

The Broker

The Innocent Man

Playing for Pizza

The Appeal

The Associate

Ford County

The Confession

The Litigators

Calico Joe

The Racketeer

Sycamore Row

Gray Mountain

Rogue Lawyer

The Whistler

Camino Island

The Rooster Bar

The Reckoning

The Guardians

Camino Winds

 

Theodore Boone Books:

Theodore Boone : Kid Lawyer

Theodore Boone : The Abduction

Theodore Boone : The Accused

Theodore Boone : The Activist

Theodore Boone : The Fugitive

Theodore Boone : The Scandal

Theodore Boone : The Accomplice

Sumber: Buku A Time for Mercy

 

 

John Ray Grisham Jr. (lahir 8 Februari 1955) adalah seorang novelis, pengacara, politikus, dan aktivis Amerika, yang terkenal karena legal thriller-nya yang populer. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dan diterbitkan di seluruh dunia.

 

Grisham lulus dari Mississippi State University dan menerima gelar J.D. dari University of Mississippi School of Law pada tahun 1981. Dia mempraktikkan hukum pidana selama sekitar satu dekade dan bertugas di Mississippi House of Representatives dari Januari 1984 hingga September 1990.

 

Novel pertamanya, A Time to Kill, diterbitkan pada Juni 1989, empat tahun setelah dia mulai menulis draft awalnya. Menurut Academy of Achievement, bukunya telah terjual 300 juta eksemplar dan dia telah menulis 28 buku terlaris nomor satu berturut-turut. Pemenang Galaxy British Book Awards ini adalah salah satu dari tiga penulis yang menjual dua juta eksemplar pada cetakan pertama, dua lainnya adalah Tom Clancy dan J. K. Rowling. 

 

Buku terlaris pertama Grisham, The Firm, terjual lebih dari tujuh juta kopi. Buku ini diadaptasi menjadi film fitur tahun 1993 dengan judul yang sama, dibintangi oleh Tom Cruise, dan serial TV tahun 2012 yang melanjutkan cerita sepuluh tahun setelah peristiwa film dan novel tersebut. Delapan novel lainnya juga telah diadaptasi menjadi film: The Chamber, The Client, A Painted House, The Pelican Brief, The Rainmaker, The Runaway Jury, Skipping Christmas, dan A Time to Kill.Buku terbaru Grisham (novelnya yang ke-42), A Time for Mercy, adalah cerita ketiganya yang melibatkan karakter yang ditetapkan dalam A Time to Kill dan selanjutnya mengikuti kisah Jake Brigance, seorang pengacara dari kota kecil Mississippi yang mewakili seorang anak yang dituduh melakukan pembunuhan.

Grisham, anak kedua dari lima bersaudara, lahir di Jonesboro, Arkansas, dari pasangan Wanda  dan John Ray Grisham. Ayahnya adalah seorang pekerja konstruksi dan petani kapas, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.  Ketika Grisham berusia empat tahun, keluarganya menetap di Southaven, Mississippi.

 

Sebagai seorang anak, dia ingin menjadi pemain bisbol.  Dalam A Painted House, sebuah novel dengan elemen otobiografi yang kuat, sang protagonis - seorang anak petani berusia tujuh tahun - mewujudkan keinginan yang kuat untuk menjadi pemain bisbol. Seperti dicatat dalam kata pengantar untuk Calico Joe, Grisham menyerah bermain bisbol pada usia 18, setelah pertandingan di mana pelempar lawannnya mengarahkan bola ke arahnya, dan melakukan kerusakan serius Grisham muda.

 

Grisham telah menjadi seorang Kristen sejak dia berusia delapan tahun, dan telah menggambarkan pertobatannya menjadi Kristen sebagai "peristiwa paling penting" dalam hidupnya. Setelah meninggalkan sekolah hukum, dia berperan serta dalam beberapa pekerjaan misionaris di Brasil, di bawah First Baptist Church of Oxford.

 

Meskipun orang tua Grisham tidak memiliki pendidikan formal, ibunya mendorongnya untuk membaca dan mempersiapkan diri untuk kuliah. Dia menggambar pengalaman masa kecilnya untuk novelnya A Painted House. Grisham mulai bekerja untuk pembibitan tanaman saat remaja, menyiram semak dengan bayaran $ 1,00 per jam. Dia segera dipromosikan menjadi kru pagar seharga $ 1,50 per jam. Pada usia 16 tahun, Grisham bekerja di sebuah kontraktor pipa ledeng tetapi mengatakan dia "tidak pernah mendapat inspirasi dari pekerjaan yang menyedihkan itu". 

 

Melalui salah satu kontak ayahnya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai kru aspal jalan raya di Mississippi pada usia 17 tahun. Pada saat itulah sebuah insiden malang membuatnya "serius" memikirkan kuliah. Perkelahian dengan tembakan terjadi di antara kru yang menyebabkan Grisham lari ke kamar kecil terdekat untuk mencari keselamatan. Dia tidak keluar sampai polisi menahan para pelakunya. Dia menumpang pulang dan mulai memikirkan tentang perguruan tinggi. Pekerjaan berikutnya adalah di ritel, sebagai pramuniaga di sebuah department store bagian pakaian dalam pria, yang dia gambarkan sebagai "memalukan". Saat ini, Grisham sudah setengah kuliah. Berencana menjadi pengacara pajak, dia segera diliputi oleh "kerumitan dan kegilaan" itu. Dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya sebagai pengacara pengadilan. 

 

John Grisham kuliah di Northwest Mississippi Community College di Senatobia, Mississippi dan kemudian kuliah di Delta State University di Cleveland.  Grisham sangat terpengaruh sehingga dia pindah perguruan tinggi tiga kali sebelum menyelesaikan gelar. Dia akhirnya lulus dari Universitas Negeri Mississippi pada tahun 1977, menerima B.S. gelar di bidang akuntansi. Dia kemudian mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Mississippi untuk menjadi pengacara pajak, tetapi minatnya beralih ke litigasi perdata umum. Dia lulus pada tahun 1981 dengan gelar J.D.

 

Karier

Hukum dan politik

Grisham mempraktikkan hukum selama sekitar satu dekade dan memenangkan pemilihan sebagai Demokrat di Dewan Perwakilan Mississippi dari 1984 hingga 1990, dengan gaji tahunan $ 8.000.

 

Grisham mewakili distrik ketujuh, termasuk Kabupaten DeSoto. Pada masa jabatan keduanya di badan legislatif negara bagian Mississippi, dia adalah wakil ketua Komite Pembagian dan Pemilihan dan anggota dari beberapa komite lainnya. 

 

Karir menulis Grisham berkembang dengan keberhasilan buku keduanya, The Firm, dan dia berhenti berpraktik hukum, kecuali untuk kembali sebentar pada tahun 1996 untuk memperjuangkan keluarga seorang pekerja kereta api yang terbunuh saat bekerja.  Situs resminya menyatakan: "Dia menghormati komitmen yang dibuat sebelum dia pensiun dari hukum untuk menjadi penulis penuh waktu. Grisham berhasil memperdebatkan kasus kliennya, memberi mereka penghargaan juri sebesar $ 683.500 - putusan terbesar dalam karirnya.

Rumah di Lepanto, Arkansas, adalah rumah yang digunakan dalam Hallmark Hall of Fame film A Painted House.

Grisham mengatakan kasus besar itu terjadi pada tahun 1984, tetapi itu bukan kasusnya. Saat dia berada di sekitar pengadilan, dia mendengar seorang gadis berusia 12 tahun menceritakan kepada juri apa yang terjadi padanya. Ceritanya membuat Grisham penasaran, dan dia mulai menonton persidangan. Dia melihat bagaimana anggota juri menangis ketika dia memberi tahu mereka tentang diperkosa dan dipukuli. Kemudian, Grisham kemudian menulis di The New York Times, bahwa sebuah cerita lahir.

Merenungkan "apa yang akan terjadi jika ayah gadis itu membunuh para penyerangnya",  membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan buku pertamanya, A Time to Kill. Menemukan penerbit tidaklah mudah. Buku itu ditolak oleh 28 penerbit sebelum Wynwood Press, penerbit yang tidak dikenal, setuju untuk memberikan cetakan 5.000 eksemplar yang sederhana. Buku itu diterbitkan pada bulan Juni 1989. 

Sehari setelah Grisham menyelesaikan A Time to Kill, dia mulai mengerjakan novel keduanya, The Firm. The Firm tetap dalam daftar buku terlaris The New York Times selama 47 minggu, dan menjadi novel terlaris ketujuh tahun 1991. Ini akan memulai rentetan memiliki salah satu dari 10 novel terlaris tahun ini selama hampir dua dekade berikutnya. Pada tahun 1992 dan 1993 dia memiliki buku terlaris kedua tahun ini dengan The Pelican Brief dan The Client dan dari tahun 1994 hingga 2000 dia memiliki buku terlaris nomor satu setiap tahun. Pada tahun 2001 Grisham tidak memiliki buku terlaris tahun ini tetapi dia memiliki buku kedua dan ketiga dalam daftar dengan Skipping Christmas dan A Painted House.

Pada tahun 1992, The Firm dibuat menjadi film yang dibintangi oleh Tom Cruise dan dirilis pada bulan Juni 1993, dengan pendapatan kotor $ 270 juta.  Sebuah versi film dari The Pelican Brief yang dibintangi Julia Roberts dan Denzel Washington dirilis akhir tahun itu dan meraup $ 195 juta. Menyusul kesuksesan mereka, Regency Enterprises membayar Grisham $ 2,25 juta untuk hak atas The Client yang dirilis pada tahun 1994 yang dibintangi oleh Susan Sarandon dan Tommy Lee Jones dan kemudian Universal Pictures membayarnya jumlah tertinggi yang pernah ada untuk novel yang tidak diterbitkan, membayar $ 3,75 juta untuk hak tersebut Kamar. Pada Agustus 1994, New Regency membayar rekor $ 6 juta untuk hak atas A Time to Kill, dengan Grisham meminta jaminan yang akan diarahkan oleh Joel Schumacher, direktur The Client.

Dimulai dengan A Painted House, Grisham memperluas fokusnya dari hukum ke pedesaan yang lebih umum di Selatan tetapi terus menulis thriller hukum dengan kecepatan satu tahun. Pada tahun 2002 dia sekali lagi mengklaim buku nomor satu tahun ini dengan The Summons. Pada tahun 2003 dan 2004 ia merindukan buku terlaris nomor satu tahun ini karena The Da Vinci Code oleh Dan Brown tetapi ia sekali lagi menghasilkan dua novel yang mengakhiri tahun di 5 besar. Pada tahun 2004, The Last Juror mengakhiri tahun di nomor empat dan pada tahun 2005 dia mengambil alih The Da Vinci Code dan kembali ke nomor satu untuk tahun ini bersama The Broker. Pada tahun 2006 itu menandai pertama kalinya sejak 1990 bahwa ia tidak memiliki salah satu buku terlaris tahun ini, tetapi ia kembali ke nomor dua pada tahun 2007, nomor satu pada tahun 2008 dan nomor dua pada tahun 2009.

 

John Grisham juga menulis fiksi olahraga dan fiksi komedi. Dia menulis skenario asli untuk dan memproduksi film bisbol 2004 Mickey, yang dibintangi oleh Harry Connick Jr.

Pada tahun 2005, Grisham menerima Peggy V. Helmerich Distinguished Author Award, yang diberikan setiap tahun oleh Tulsa Library Trust.

Pada tahun 2010, Grisham mulai menulis serangkaian film thriller hukum untuk anak-anak berusia 9 hingga 12 tahun. Ini menampilkan Theodore Boone, seorang anak berusia 13 tahun yang memberikan nasihat hukum kepada teman sekelasnya mulai dari menyelamatkan anjing yang disita hingga membantu orang tua mereka mencegah rumah mereka diambil alih. Dia berkata, "Saya berharap terutama untuk menghibur dan menarik minat anak-anak, tetapi pada saat yang sama saya diam-diam berharap bahwa buku-buku itu akan memberi tahu mereka, secara halus, tentang hukum."

 

Dia juga menyatakan bahwa putrinya, Shea, yang menginspirasinya untuk menulis serial Theodore Boone. "Putri saya Shea adalah seorang guru di North Carolina dan ketika dia meminta siswa kelas lima untuk membaca buku itu, tiga atau empat dari mereka muncul setelah itu dan berkata bahwa mereka ingin terjun ke profesi hukum."

 

Dalam wawancara Oktober 2006 di acara Charlie Rose, Grisham menyatakan bahwa dia biasanya hanya membutuhkan waktu enam bulan untuk menulis buku, dan penulis favoritnya adalah John le Carré. 

 

Pada 2011 dan 2012 novelnya The Litigators and The Racketeer mengklaim posisi teratas dalam daftar buku terlaris The New York Times.  Novel adalah salah satu buku terlaris pada tahun-tahun itu yang menghabiskan beberapa minggu di atas berbagai daftar penjual terbaik.  Pada tahun 2013, ia kembali mencapai lima besar dalam daftar buku terlaris AS. Pada November 2015, novelnya Rogue Lawyer berada di puncak Penjualan Terbaik Fiksi New York Times selama dua minggu.

 

Pada 2017, Grisham merilis dua thriller legal. Pulau Camino diterbitkan pada 6 Juni 2017. Buku tersebut muncul di atas beberapa daftar best seller termasuk USA Today, The Wall Street Journal, dan The New York Times. The Rooster Bar, yang diterbitkan pada 24 Oktober 2017, disebut sebagai karyanya yang paling orisinal, di The News Herald

Beberapa film thriller hukum Grisham berlatar di kota fiksi Clanton, Mississippi, di Ford County yang sama-sama fiktif, kota di barat laut Mississippi yang masih terpecah belah oleh rasisme. Set novel pertama di Clanton adalah A Time to Kill.

 

Cerita lain yang berlatar di sana termasuk The Last Juror, The Summons, The Chamber, The Reckoning dan Sycamore Row. Kisah-kisah dalam koleksi Ford County juga berlatar di dalam dan sekitar Clanton. Novel Grisham lainnya memiliki latar Selatan non-fiksi, misalnya The Partner dan The Runaway Jury berlatarkan Biloxi, dan sebagian besar The Pelican Brief di New Orleans.

 

A Painted House diatur di dalam dan sekitar kota Black Oak, Arkansas, tempat Grisham menghabiskan sebagian masa kecilnya.

 

 

Kehidupan pribadi

Pernikahan

Grisham menikahi Renee Jones pada 8 Mei 1981. Pasangan itu memiliki dua anak bersama: Shea dan Ty.  Ty bermain bisbol perguruan tinggi untuk University of Virginia. 

Kepemilikan real estat

Keluarga membagi waktu mereka di antara rumah Victoria mereka di sebuah pertanian di luar Oxford, Mississippi,  sebuah rumah di Charlottesville, VA, sebuah rumah di Destin, Florida [28] dan sebuah kondominium di McCorkle Place di Chapel Hill, North Carolina, dibeli pada tahun 2008.

Baseball

Grisham memiliki hasrat seumur hidup untuk bisbol yang ditunjukkan sebagian dengan dukungannya terhadap kegiatan Liga Kecil di Oxford dan di Charlottesville. Pada tahun 1996, Grisham membangun kompleks bisbol pemuda senilai $ 3,8 juta. 

Saat dia mencatat dalam kata pengantar untuk Calico Joe, Grisham sendiri berhenti bermain bisbol setelah bola yang dilempar oleh pelempar hampir menyebabkan dia cedera serius. 

Grisham tetap menjadi penggemar tim bisbol Mississippi State University (MSU) dan menulis tentang hubungannya dengan universitas dan Left Field Lounge dalam pengantar untuk buku Dudy Noble Field: A Celebration of MSU Baseball.

Sejak pindah ke daerah Charlottesville, Grisham telah menjadi pendukung atletik Virginia Cavaliers dan secara teratur terlihat duduk di tepi lapangan pada pertandingan bola basket. [35] Grisham juga memberikan sumbangan $ 1,2 juta kepada tim bisbol Cavalier di Charlottesville, Virginia, yang digunakan dalam renovasi Davenport Field tahun 2002.

Aktivisme politik

Grisham adalah anggota dewan direktur Innocence Project, yang berkampanye untuk membebaskan dan membebaskan orang-orang yang dihukum secara tidak adil berdasarkan bukti DNA. Proyek Innocence berpendapat bahwa keyakinan yang salah bukanlah kejadian yang terisolasi atau jarang terjadi, melainkan muncul dari cacat sistemik. Grisham telah bersaksi di depan Kongres atas nama Innocence Project.

 

Grisham telah muncul di Dateline NBC,  Bill Moyers Journal di PBS, dan program lainnya. Dia menulis untuk The New York Times pada 2013 tentang tahanan yang ditahan secara tidak adil di Guantanamo. 

 

Grisham menentang hukuman mati, sebuah posisi yang sangat kuat dimanifestasikan dalam plot The Confession.  Dia percaya bahwa tarif penjara di Amerika Serikat berlebihan, dan sistem peradilan "mengunci terlalu banyak orang". Mengutip contoh-contoh termasuk "remaja kulit hitam dengan tuduhan narkoba ringan" kepada "mereka yang telah melihat pornografi anak secara online", dia menambahkan secara kontroversial bahwa dia yakin tidak semua pemirsa pornografi anak harus pedofil. Setelah mendengar dari banyak orang yang menentang posisi ini, dia kemudian menarik kembali pernyataan ini di sebuah posting Facebook.Dia melanjutkan untuk mengklarifikasi bahwa dia membela mantan teman dari sekolah hukum yang terjebak dalam pemikiran yang menyengat bahwa dia melihat pornografi dewasa tetapi pada kenyataannya itu adalah anak di bawah umur enam belas dan tujuh belas tahun dan melanjutkan dengan menambahkan, "Saya tidak bersimpati untuk pedofil sejati. Tuhan, tolong kunci orang-orang itu. " "Siapapun yang menyakiti anak untuk keuntungan atau kesenangan .... Harus dihukum sejauh hukum."

 

Perpustakaan Universitas Negeri Mississippi, Divisi Naskah, mengelola Ruang John Grisham,  sebuah arsip yang berisi materi yang dihasilkan selama masa penulis sebagai Perwakilan Negara Bagian Mississippi dan berkaitan dengan tulisannya. Pada 2012, Perpustakaan Hukum di Fakultas Hukum Universitas Mississippi diubah namanya untuk menghormatinya. Itu dinamai selama lebih dari satu dekade setelah almarhum Senator James Eastland.

Pada 2015, Grisham, bersama dengan sekitar 60 orang lainnya, menandatangani surat yang diterbitkan di Clarion-Ledger yang mendesak agar sisipan di dalam bendera Mississippi yang berisi bendera Konfederasi dihapus. Dia ikut menulis surat dengan penulis Greg Iles; pasangan tersebut menghubungi berbagai tokoh masyarakat dari Mississippi untuk mendapatkan dukungan.

 

Awards and honors

  • 1993 Golden Plate Award of the American Academy of Achievement
  • 2005 Peggy V. Helmerich Distinguished Author Award
  • 2007 Galaxy British Lifetime Achievement Award
  • 2009 Library of Congress Creative Achievement Award for Fiction
  • 2011 The inaugural Harper Lee Prize for Legal Fiction for The Confession
  • 2014 Harper Lee Prize for Legal Fiction for Sycamore Row

Bibliography

A complete listing of works by John Grisham:

† Denotes stories not in the legal genre

Novels:

  • A Time to Kill (1989)
  • The Firm (1991)
  • The Pelican Brief (1992)
  • The Client (1993)
  • The Chamber (1994)
  • The Rainmaker (1995)
  • The Runaway Jury (1996)
  • The Partner (1997)
  • The Street Lawyer (1998)
  • The Testament (1999)
  • The Brethren (2000)
  • A Painted House (2001)
  • Skipping Christmas (2001)
  • The Summons (2002)
  • The King of Torts (2003)
  • Bleachers (2003)
  • The Last Juror (2004)
  • The Broker (2005)
  • The Innocent Man (2006)
  • Playing for Pizza (2007)
  • The Appeal (2008)
  • The Associate (2009)
  • The Confession (2010)
  • The Litigators (2011)
  • Colico Joe (2012)
  • The Racketeer (2012)
  • Sycamore Row (2013)
  • Gray Mountain (2014)
  • Rogue Lawyer (2015)
  • The Whistler (2016)
  • Camino Island (2017)
  • The Rooster Bar (2017)
  • The Reckoning (2018)
  • The Guardians (2019)
  • Camino Winds (2020)
  • A Time for Mercy (2020)

Children's Legal Thrillers:

  • Theodore Boone: Kid Lawyer (2010)
  • Theodore Boone: The Abduction (2011)
  • Theodore Boone: The Accused (2012)
  • Theodore Boone: The Activist (2013)
  • Theodore Boone: The Fugitive (2015)
  • Theodore Boone: The Scandal (2016)
  • Theodore Boone: The Accomplice (2019)

Short Stories :

  • "Ford County" (2009)
  • "The Tumor" (2016)
  • "Partners" (2016)
  • "Witness to a Trial" (2016)

Non - Fictions:

  • The Wavedancer Benefit: A Tribute to Frank Muller (2002)
    —with Pat Conroy, Stephen King, and Peter Straub
  •  The Innocent Man: Murder and Injustice in a Small Town 2006)
    —story of Ronald "Ron" Keith Williamson
  • Don't Quit Your Day Job: Acclaimed Authors and the Day Jobs they Quit (2010)
    —with various authors

Features Film:

  • The Firm (1993)
  • The Pelican Brief (1993)
  • The Client (1994)
  • A Time to Kill (1996)
  • The Chamber (1996)
  • The Rainmaker (1997)
  • The Gingerbread Man (1998)
  • A Painted House (2003) television film
  • Runaway Jury (2003)
  • Mickey (2004)
  • Christmas with the Kranks (2004)

Television:

  • The Client (1995–1996) 1 season, 20 episodes
  • The Street Lawyer (2003) TV pilot
  • The Firm (2011–2012) 1 season, 22 episodes
  • The Innocent Man (2018) 1 season, 6 episodes

 

Sumber: Wikipedia

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada para pecinta genre legal thriller, terutama penggemar John Grisham. Ide ceritanya menarik, konfliknya dalam begitupun emosi ceritanya. Tokoh-tokohnya dinamis dan manusiawi. Konflik batin pengacara dan kasus yang dihadapinya tergali dengan baik. Alurnya sedang dan ceritanya page turner. Adegan persiapan dan persidangan berhasil menjadi daya tarik dan keunikan dalam unsur cerita. Endingnya tertutup untuk konflik utama meski mungkin tidak begitu happy ending. Menurut saya, A Time for Mercy adalah salah satu buku terbaik yang ditulis oleh John Grisham

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Before the Coffee Gets Cold …

13-06-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  *OVER ONE MILLION COPIES SOLD**NOW AN INTERNATIONAL BESTSELLER* Japanese Bestseller   Judul : Before the Coffee Gets Cold Penulis : Toshikazu Kawaguchi Jenis Buku : Magical Realism; Literary Fiction; Romantic Fantasy;  Penerbit : Pan Macmillan Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku Breathless - Jennifer Niven

30-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 New York Times bestselling author of All the Bright Places   Judul : Breathless Penulis : Jennifer Niven Jenis Buku : Teen & YA Fiction Penerbit : Alfred A. Knopf Tahun Terbit : September 2020 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku The Duke & I (Bridgerton…

29-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 New York Times Bestseller   Now a series created by Shondaland for Netflix.   Judul : The Duke and I (Bridgertons Book 1) Penulis : Julia Quinn Jenis Buku : Romance Penerbit : Avon; Media Tie In, Reprint edition Tahun...

Read more

Review Buku Klara and the Sun - Kazuo Is…

22-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  NEW YORK TIMES BESTSELLERA GOOD MORNING AMERICA Book Club Pick! Editor s Pick for Best Science Fiction & Fantasy   Judul : Klara and the Sun Penulis : Kazuo Ishiguro Jenis Buku : Science Fiction & Fantasy Penerbit...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more