Review Buku The Discomfort of Evening - Marieke Lucas Rijneveld

Published: Saturday, 12 December 2020 Written by Dipidiff

 

WINNER OF THE 2020 INTERNATIONAL BOOKER PRIZE

 

Judul : The Discomfort of Evening

Penulis : Marieke Lucas Rijneveld

Translated by Michele Hutchinson

Jenis Buku : Bildungsroman

Penerbit : Faber & Faber 

Tahun Terbit : 2020

Jumlah Halaman :  288 halaman

Dimensi Buku :  21.60 x 13.60 x 2.60 cm

Harga : Rp. 249.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780571349371

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Jas, gadis berusia sepuluh tahun, tinggal bersama orang tua yang sangat taat beragama dan saudara-saudaranya di sebuah peternakan sapi perah di mana sampah dan kesembronoan mirip dengan dosa. Pada suatu hari, Matthies, kakak Jas meninggal dunia karena kecelakaan saat bermain ski di danau. Setelah kejadian ini, orangtua Jas menjadi berubah, mereka bersitegang, dan begitu larut dalam derita serta duka mereka sendiri sehingga akhirnya menciptakan jarak dengan anak-anak mereka.

Jas dan saudara-saudaranya akhirnya tumbuh dalam kesendirian, dan rasa tahu mereka terhadap dunia dan kehidupan berkembang tanpa bimbingan, membawa mereka ke dalam fantasi dan 'coba-coba' yang salah arah. Kematian bagi mereka, terutama bagi Jas, adalah misteri, dan mereka mencoba mencari tahu seperti apa rasanya mati dan apa yang ada setelahnya. Tidak ada yang menyadari bahwa Jas berduka lebih dari yang lainnya, sedang Jas percaya dia turut andil dalam kecelakaan yang menimpa Matthies.

Buku terlaris di Belanda, novel debut radikal Marieke Lucas Rijneveld The Disothing of Evening menawarkan kepada pembaca visi langka tentang kehidupan pedesaan dan religius di Belanda. Buku sastra Belanda ini menjawab pertanyaan 'tanpa kenyamanan dan perhatian orangtua, apa yang bisa dilakukan seorang anak untuk bertahan secara mental? Dan apa yang terjadi jika itu tidak cukup? The Discomfort of Evening adalah kisah duka masa kecil yang tajam menusuk, mencekam, dan menguras emosi.

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

adasd Sudah jelas yang menjadi gambar ilustrasi di sampul buku ini adalah Jas, tokoh utama cerita. Bagian paling menarik buat saya dari gambar ini adalah jaket merahnya, lantaran di dalam cerita si jaket cukup banyak disebut-sebut. Salah satu pemikiran absurd kanak-kanak Jas juga ada hubungannya dengan si jaket. Nanti teman-teman akan paham setelah membaca sendiri bukunya.

Buku ini punya disain sampul lain yang menurut saya lebih datar karena tanpa gambar, hanya warna dan tulisan. Saya kira inilah versi terbaru dari buku The Discomfort of Evening, setelah diumumkan sebagai pemenang International Booker Prize.

 

Tokoh dan Karakter

Hanna, saudara perempuan Jas, menjadi teman terdekat buat Jas, tapi Jas tidak bisa membuka hatinya bahkan untuk saudara perempuan kandungnya.

Obbe, kakak laki-laki Jas yang pemberontak, agak kejam.

Dieuwertje, kelinci kesayangan peliharaan Jas.

Belle, teman bermain Jas. 

Mum, berduka karena kematian anaknya. Kaku dan sikapnya tidak hangat ke anak-anaknya.

Dad, figur yang tidak dekat dengan anak-anak.

 

Sulit menemukan tokoh yang bisa disukai di buku ini. Semuanya terasa antagonis buat saya. Jas sendiri menurut saya anak yang baik, hanya karena situasilah yang membuatnya banyak melakukan hal-hal yang negatif dan absurd. Ini sebenarnya khas anak-anak dan remaja muda yang besar tanpa bimbingan dan support system lingkungan keluarga yang tepat. Kedinamisan tokoh dalam cerita cenderung menuju ke arah negatif ketimbang positif, so becareful buat para pembaca character driven, The Discomfort of Evening jelas bukan bacaan yang happy buat kalian.

Untuk deskripsi fisik, tampaknya tidak terlalu ditekankan oleh penulis. Personally, saya hanya ingat samar-samar fisik tokoh-tokohnya. Tapi deskripsi karakternya justru mendalam dan memang sebagian besar narasi mengeksplorasi perasaan dan pikiran tokoh Jas.

 

Alur dan Latar

Cerita beralur maju dengan pelan. Cerita disampaikan dari sudut pandang orang pertama, Jas.

Konflik batin tokoh Jas terasa intens dan mendalam, juga kompleks karena ada pengaruh-pengaruh eksternal seperti disfungsi keluarga, emosi anak dan remaja, keyakinan, agama, perisakan, dan lain sebagainya. 

Endingnya memang tidak happy dan terserah pembaca seperti apa persepsinya alias open ending.

Latarlokasi dan suasana dalam cerita rinci sekali. Misalnya saja lokasi rumah Jas, saat sarapan, dimana serbet makan dan benda-benda kecil di sekitar pun disebutkan, berikut kejadian-kejadian minor yang terjadi selama sarapan tersebut.

In the middle of the breakfast table there was a woven bread-basket lined with a napkin decorated with Christmas angels. They were holding trumpets and twigs of mistletoe protectively in front of their willies. Even if you held the napkin up to the light of the bulb you couldn't see what they looked like – my guess was rolled-up slices of luncheon meat. Mum had arranged the bread neatly on the napkin: white, wholemeal with poppy seeds, and currant loaf. She'd used a sieve to carefully sprinkle icing sugar onto the crispy back of the load, like the first light snow that had fallen onto the backs of the blazed cows in the meadow before we drove them inside. The bread-bad's plactic clip was kept on top of the biscuit tin: we'd lose it otherwise and Mum didn't like the look of a know in a plastic bag.

‘Meat or cheese first before you go for the sweet stuff,’ she'd always say. This was the rule and it would make us big and strong, as big as the giant Goliath and as strong as Samson in the Bible. We always had to drink a large glass of fresh milk as well; it had usually been out of the tank for a couple of hours and was lukeward, and sometimes there was a yellowish layer of cream that stuck to the top of your mouth if you drank too slowly. The best thing was to gulp down the whole glass of milk with your eyes closed, something Mum called ‘irreverent’ although there's nothing in the Bible about drinking milk slowly, or about eating a cow's body. I took a slice of white bread from the basket and put it on my plate upside down ...

Page 4

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Marieke Lucas Rijneveld adalah penulis Belanda kedua yang saya baca bukunya baru-baru ini. Rijneveld dibesarkan dalam keluarga petani di North Brabant sebelum pindah ke Utrecht. Selain menulis, Rijneveld bekerja di sebuah peternakan sapi perah. Koleksi puisi pertamanya, Calf's Caul, dianugerahi C. Buddingh' Prize untuk debut puisi terbaik tahun 2015, dengan surat kabar de Volkskrant menyebutnya sebagai penulis sastra berbakat tahun ini.  Pada tahun 2018, Atlas Contact menerbitkan novel pertama Rijneveld, The Discomfort of Evening, yang memenangkan ANV Debut Prize yang bergengsi dan menjadi buku terlaris nasional. Novel ini diterbitkan oleh Faber pada tahun 2020 dan memenangkan Penghargaan Internasional Booker 2020. Karya-karya Rijneveld diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Michele Hutchison sehingga keberhasilan buku-buku Rijneveld bisa disebut sebagai pencapaian mereka berdua.
 
Ini suatu karya yang luar biasa ya mengingat buku ini adalah sebuah novel debutan, dan langsung meraih juara di penghargaan bergengsi International Booker Prize.
 
Dari sinopsisnya, kisah Jas dalam The Discomfort of Eveing bagi saya terasa cukup kelam dan sensitif. Jas, gadis berusia 10 tahun, tinggal bersama orangtuanya yang religius di sebuah peternakan. Lalu terjadilah tragedi yang Jas yakin dialah penyebabnya. Tragedi ini membuat orangtuanya hancur dan menjauh darinya secara emosional. Tanpa kenyamanan dan perhatian orangtua, apa yang bisa dilakukan seorang anak untuk bertahan secara mental? Dan apa yang terjadi jika itu tidak cukup? Tampak di sini sudah terasa muatan perenungan yang dalam yang terkandung dalam cerita. Novelnya memang punya style 'Booker Prize banget' kan ya.
 
Novel ini saya baca, salah satunya dalam rangka Reading Challenge Dipidiff featuring @bookita.podcast genre Drama atau Sastra bulan November ini.
 
Ada satu kutipan menarik yang dicetak di halaman awal novel. Sebuah tulisan dari Jan Wolkers, penulis legendaris asal Belanda, yang disebut-sebut sebagai penulis empat besar pada masa post-World War II sastra Belanda. Tulisannya sendiri kelam ya. Begitu baca ini saya langsung makin waspada isi cerita bakalan dark mood buat saya.
 

It is written, ‘I am making all things new!’

But the chords are a clothesline of grief,

Razor-sharp gusts snap the faith

Of he who would flee this cruel start.

Ice rain beats blossom to a glassy pulp.

A cur shakes his pelt bone-dry in the violence.

From THE COLLECTED POEMS

OF JAN WOLKERS (2008)

 
 
I'm sorry, not my cup of tea. Inilah opini saya di awal-awal baca. Topiknya sensitif sekali, berat pula mencerna pikiran dan perasaan Jas yang tertuang dalam narasi. Saya coba jelaskan sedikit ya. Tokoh utama novel ini berusia sekitar 11 tahun bernama Jas. Sepeninggal mendiang kakaknya, Jas diliputi rasa bersalah, dan orangtuanya larut dalam duka hingga mengabaikan anak-anaknya. Bisa dibayangkan situasi ini kelam, bukan hanya karena kehidupan rumahtangga ayah ibu Jas yang akhirnya tanpa cinta dan dipenuhi duka, tapi juga  kondisi dimana anak-anak (Jas dan saudara-saudaranya) yang kehilangan arah dalam masa perkembangan krusial mereka yang beranjak remaja. Di titik ini pikiran kanak-kanak remaja ini kemudian terekspos seksual pubertas yang dideskripsikan dengan tanpa batasan, baik pilihan kata maupun adegan (*incest, etc). Dari sini saja bisa dibayangkan seperti apa rasanya menyimak jalan cerita yang tekanan depresinya kerasa sekali. Not my cup of tea di sini adalah opini saya terhadap isunya dan karena buku ini berat untuk dicerna karena beberapa faktor. Pada akhirnya buku ini ternyata ga semengganggu yang saya rasakan di awal. Memang harus beres baca dulu baru kemudian bisa mengambil kesimpulan kan ya :).
 
 
Jas adik beradik mempertanyakan tentang Tuhan dan kematian serta berusaha menemukan jawaban atas duka dengan cara yang mereka tahu tanpa bimbingan dan kasih sayang yang mereka butuhkan dari orang dewasa di kehidupan mereka. Pikiran dan perasaan-perasaan tokoh Jas intens tersampaikan dalam narasi cerita, sangat detail hingga terasa begitu kompleks karena perspektif kanak-kanaknya asing buat saya yang sudah dewasa. Dan di banyak bagian saya merasa sedang menyimak isi pikiran seseorang yang sedang melamun.
 
Ada bagian dalam cerita yang sampai sekarang saya ingat. Ini adalah adegan terakhir sebelum Matthies, kakak Jas, meninggal dunia karena kecelakaan. Memori seperti ini terasa dalam dukanya, cara penulis memunculkan benak Jas kehadapan pembaca benar-benar jempolan.

‘Can I come with you?’ I asked. Dad had got my wooden skates out of the attic and strapped them to my shoes with their brown leather ties. I'd been walking around the farm in my skates for a few days, my hands behind my back and the protectors over the blades so they wouldn't leave marks on the floor. My calves were hard. I'd practiced enough now to be able to go out onto the ice without a folding chair to push around.

‘No, you can't,’ he said. And then more quietly so that only I could hear it, ‘Because we're going to the other side.’

‘I want to go to the other side, too,’ I whispered.

‘I'll take you with me when you're older.’ He put on his woolly hat and smiled. I saw his braces with their zigzagging blue elastic bands.

‘I'll be back before dark,’ he called to Mum. He turned around once again in the doorway and waved to me, the scene I'd keep replying in my mind later until his arm no longer raised itself and I began to doubt whether he had even said goodbye.

Page 9

 

Begitupun rasa bersalah yang mendera pikiran Jas, yang menginvasi pelan merusak mental dan emosinya, ritmenya halus sekali dan dengan ide-ide yang tidak biasa. Misalnya saat Jas merenungkan kesamaannya dengan Hitler, ketika ia menimbang mengapa ia tidak bisa menangis ketika Matthies meninggal, dan jawaban-jawaban yang ditemukannya dari orang lain tidak memperbaiki keadaan mental emosinya yang sakit. Rasa bersalahnya begitu menghantui, tanpa seorangpun yang berada di sisinya untuk menguatkan. Dan setelah itu, Jas selalu merasa ketakutan dan khawatir orang-orang yang ada di sekitarnya akan pergi atau mati.

I rarely asked questions – they just didn't occur to me. But this time I'd raised my hand.

‘Do you think that Hitler sometimes cried when he was alone?’

The teacher, who is also my form tutor, looked at me for a long time before answering. She had eyes that always shone, as though there were battery-run tea lights behind them that lasted a long time. Maybe she was waiting for me to cry so that she could see whether I was a good or a bad person. After all, I still hadn't cried about my brother, not even soundlessly, as my tears got stuck in the corner of my eye. I guessed it was because of my coat. It was warm in the classroom, which meant my tears would surely evaporate before they reached my cheeks.

“Villains don't cry,’ the teacher said then. ‘Only heroes cry.”

I'd looked down. Were Obbe and I villains? Mum only cried with her back to us, and so quietly you couldn't hear it. Everything her body did was silent, even her farts.

The teacher told us that Hitler's favourite pastime was daydreaming and that he was afraid of illness. He suffered from stomach cramps, eczema and wind, although that last one was because he ate a lot of bean soup. Hitler had lost three bothers  and a sister, none of whom made it to the age of six. I'm like him, I thought, and nobody must know it. We even share the same birthday – 20 April. ..

Page 55

 

The swimming teacher had told us that panic and hypothermia were our greatest enemies. The divers had ice-piercers around their necks to make it look more real. That day at Christmas, Matthies had forgotten his steel-tipped pin for breaking the ice. It was on the little table beneath the mirror in the hall. No one knows that I saw it there, that I considered running after him, but that my anger at not being allowed to go along held me back.

Page 99

 

I'm worried we'll have to roll Mum and Dad in a wheelbarrow to the muck-heap and that it will all be my fault. After that he said we'd have to figure things out for ourselves- but we already knew he had to go to the trade union and when he got back he'd forgotten he'd threatened to leave for good. Lots of people want to run away, but the ones who really do rarely announce it beforehand: they just go.

Page 104

 

Very occasionally I go downstairs when they're not back yet. I sit in the dark in my pyjamas on the sofa, my knees together, hands folded, and I promise to God that I'll take another bout of diarrhoea if He brings them home safely. I expect the phone to ring at any moment and to hear they lost control of the wheel, or the handlebars of a bike. But the phone never rings, and usually I get cold after a while and go back upstairs where i continue my wait under the covers. They're not brought back to life until I hear the bedroom door and the shuffle of Mum's slippers. And then I can fall asleep with peace of mind.

..

Page 49

 
Pola pikir absurd khas kanak-kanak dan remaja muda juga banyak terdapat di dalam buku ini. Misalnya tentang kotoran yang Jas tahan sedemikian rupa, atau migrasi katak dan upayanya untuk mendorong pasangan katak kawin karena Jas percaya kalo itu terjadi maka orangtuanya akan berbaikan kembali dan kehidupannya jadi bisa bahagia kembali. Dan pikiran-pikiran seperti ini ternyata diperburuk oleh kata-kata yang dilontarkan oleh orang-orang yang lebih dewasa dari Jas, yang menurut saya sama absudrnya.

‘if you take any longer, moles will start tunnelling up your bum hole.”

I began to sweat, picturing the cotton wads my dad had mentioned, the way the moles would burrow into my brother when he was buried, and the way they d dig up everything in me afterwards. My poo belonged to me, but once it was between the blades of grass, it belonged to the world.

...

After that, I said a quick prayer to God that he wouldnt give cancer from the cigarette smoke if I helped with the toad migration when I was old enough. ...

Page 13

 

Apart from food and clothes we also need attention. They seem to keep forgetting that. I close my eyes again and pray for the toads underneath my desk, hoping for the mating season that might encourage Mum and Dad too, and for the Jews in the basement, even though I don't think it's fair they're allowed cornflakes and hot dogs. I don't open my eyes until I feel a roll of peppermints pressing into my side.

‘Only people with a lot of sins pray for a long time,’ Obbe whispers.

Page 71

 
Bagian 'terberat' lainnya adalah ketika tiba di adegan-adegan animal cruelty. Sekali lagi deskripsinya rinci, sehingga terasa too much.
  
 
Hingga beberapa jam setelah saya menyelesaikan bacaan novel ini, saya masih termenung-menung memikirkan isi ceritanya.
 
Jika ada yang bilang bahwa ada keindahan dibalik sebuah cerita yang kelam, saya rasa ada benarnya untuk novel yang ini. Jelas buku ini bukan buat pembaca yang suka narasi santun, kalimat berbunga-bunga, alur yang rapi tertata, dan ending yang bahagia. Semua yang ada di The Discomfort of Evening adalah sisi gelap manusia yang umumnya tidak ingin kita bicarakan apalagi bahas. Terutama karena tokohnya usia kanak-kanak menuju remaja. Dan sisi gelap ini saya akui ada dalam kisah hidup manusia meski tidak semuanya mengalami.
 
 
Jas is broken person. Ingat tokoh Finch dalam All the Bright Places yang menderita mental dan emotional illness (?) Di novel itu, pikiran dan perasaan Finch yang putus asa, merasa tidak dicintai, buruk, dan tidak pantas untuk berbahagia hingga ia ingin bunuh diri saja, dideskripsikan dengan detail. Dan di The Discomfort of Evening kedalaman perasaan dan pikiran tokoh Jas dideskripsikan berkali lipat lebih rinci, kompleks, emosional, dan lebih mengejutkan dibandingkan tokoh Finch di All the Bright Places. Hal ini disebabkan antara lain karena usia Jas yang sangat muda (lebih muda dari tokoh Finch), disfungsi orangtua, pra pubertas yang tanpa bimbingan, dan pengaruh saudara yang sama broken-nya.
 
 
Harusnya Jas tidak berakhir demikian :(. Bagaimanapun ia hanya anak-anak (usianya 10-12 yo). Ini tragedi yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tiba di akhir cerita, teman-teman mungkin akan merasakan duka dan empati yang dalam untuk tokoh Jas.

I want to tell her I'm sorry, I hadn't meant it that way when I pushed her into the lake, I wanted to see how Matthies sunk under the water, but Hanna's body wasn't my brother's. How could I ever have got them confused? I want to tell her about the nightmare and ask her to promise never to skate on the lake, now that winter is coming to the village on a sled.

Page 268

 
Baca buku ini hanya jika teman-teman yakin kuat membaca sebuah cerita yang mengguncang jiwa dan bikin geleng-geleng kepala (*adult readers only). Gaya sastranya menurut saya 'dapet banget', kerumitan/ketidaklogisan cara berpikir berikut gejolak emosi dan desire-nya juga tepat untuk tokoh seusia Jas.
 
Jadi, begitulah kiranya novel ini buat saya. It is a shocking story and this shocking book is the winner of International Booker Prize 2020.
 

 

Siapa Marieke Lucas Rijneveld

Marieke Lucas Rijneveld (lahir 1991) dibesarkan dalam keluarga petani Reformed di Brabant Utara sebelum pindah ke Utrecht. Di samping karier menulis mereka, Rijneveld bekerja di sebuah peternakan sapi perah. Koleksi puisi pertama mereka, Calf’s Caul, dianugerahi Penghargaan C. Buddingh untuk debut puisi terbaik tahun 2015, dengan surat kabar de Volkskrant menyebut mereka sebagai bakat sastra tahun ini. Pada tahun 2018, Atlas Contact menerbitkan novel pertama mereka, The Discomfort of Evening, yang memenangkan Penghargaan Debut ANV yang bergengsi dan menjadi buku terlaris nasional. Itu diterbitkan oleh Faber pada tahun 2020 dan memenangkan Penghargaan Internasional Booker 2020.

Sumber: Buku The Discomfort of Evening

 

Marieke Lucas Rijneveld (lahir 20 April 1991, di Nieuwendijk, Belanda) adalah seorang penulis Belanda. Rijneveld memenangkan Penghargaan International Booker Prize 2020 bersama dengan penerjemah Michele Hutchison untuk novel debutnya The Discomfort of Evening. Rijneveld adalah penulis Belanda pertama yang memenangkan hadiah dan hanya penulis Belanda ketiga yang dinominasikan, setelah Tommy Wieringa (masuk daftar lama pada 2019) dan Harry Mulisch (masuk daftar terpilih pada 2007)

 

Rijneveld dibesarkan dalam sebuah keluarga Reformed di sebuah pertanian di Brabant Utara di Belanda. Rijneveld mengatakan bahwa novel debut tersebut, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Discomfort of Evening, sebagian terinspirasi oleh kematian saudaranya ketika penulis berusia tiga tahun. Marieke Lucas membutuhkan waktu enam tahun untuk menyelesaikan novel ini.

Minat menulis Rijneveld tumbuh setelah membaca Harry Potter and the Philosopher's Stone karya J. K. Rowling, yang mereka pinjam dari perpustakaan setempat, saat ia sekolah di sekolah dasar. Karena di kalangan Reformed referensi ke sihir dianggap tabu, Rijneveld menyalin seluruh buku ke komputer mereka sehingga dapat membacanya kembali setelah mengembalikan novel.

Idola Rijneveld adalah penulis terkenal Belanda Jan Wolkers, yang juga tumbuh di lingkungan Reformed. Ketertarikan pada puisi terbangun saat menjalani terapi wicara dan melihat gambar dengan puisi di atasnya sambil menunggu sesi terapi. Ketika Rijneveld berkembang dalam terapi, mereka diizinkan untuk membaca puisi-puisi tersebut oleh terapis.

Rijneveld belajar untuk menjadi seorang guru Belanda, tetapi keluar untuk fokus pada menulis. Selain menulis, Rijneveld bekerja di sebuah pertanian.

Rijneveld mengidentifikasi sebagai laki-laki dan perempuan, dan mengadopsi nama depan kedua Lucas pada usia sembilan belas tahun, ia dirisak diintimidasi selama pendidikan menengah. Rijneveld menggunakan kata ganti orang mereka untuk mengacu pada dirinya sendiri.

 

Puisi:

  • Kalfsvlies, 2015 (English: Calf's caul, kutipannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Sarah Timmer Harvey dan terpilih untuk kontes terjemahan 'Close Approximations' majalah Asymptote pada tahun 2017).
  • Fantoommerrie 2019 (English: Phantom Mare)

Buku:

  • De avond is ongemak, De avind is ongemak, dipublikasikan dalam bahasa Inggris sebagai The Discomfort of Evening, alih bahasa oleh Michele Hutchinson (Faber & Faber) 

Penghargaan: 

  • Shortlisted April 2020 di International Booker Prize dan diumumkan sebagai pemenang di bulan Agustus 2020 atas karya debutannya The Discomfort of Evening. 
  • Kalfsvlies, dianugerahi Penghargaan C. Buddingh untuk debut puisi berbahasa Belanda terbaik pada tahun 2015.
    De avond adalah ongemak, dianugerahi ANV Debutantenprijs, penghargaan untuk novel debut terbaik dalam bahasa Belanda, pada tahun 2019
  • De avond adalah ongemak, dianugerahi ANV Debutantenprijs, penghargaan untuk novel debut terbaik dalam bahasa Belanda, pada tahun 2019

Sumber: wikipedia

 

Siapa Michele Hutchinson

Michele Hutchinson lahir di Inggris dan tinggal di Amsterdam sejak 2004. Setelah bekerja sebagai editor, ia menjadi penerjemah sastra dari Belanda.

Sumber: Buku The Discomfort of Evening

 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan hanya kepada pembaca dewasa saja, yang mencari buku bergenre sastra, bildungsroman, dengan isu-isu sensitif dan kelam seperti kematian, sexual incest, bullying, animal cruelty, depresi, dan bunuh diri. Alurnya pelan dan detail, narasinya penuh dengan pikiran dan perasaan tokoh. Cara penulis menuangkan jalan pikiran anak anak dan remaja muda terasa sangat tepat. Endingnya diserahkan penafsirannya kepada pembaca. Secara keseluruhan buku ini mengejutkan dan tajam mengeksplorasi bagian-bagian yang tidak ingin diungkapkan. Bahasanya blak-blakan. 

Content Warning: Sexual content, bullying, animal cruelty, grief, depression, death, suicide.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Before the Coffee Gets Cold …

13-06-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  *OVER ONE MILLION COPIES SOLD**NOW AN INTERNATIONAL BESTSELLER* Japanese Bestseller   Judul : Before the Coffee Gets Cold Penulis : Toshikazu Kawaguchi Jenis Buku : Magical Realism; Literary Fiction; Romantic Fantasy;  Penerbit : Pan Macmillan Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku Breathless - Jennifer Niven

30-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 New York Times bestselling author of All the Bright Places   Judul : Breathless Penulis : Jennifer Niven Jenis Buku : Teen & YA Fiction Penerbit : Alfred A. Knopf Tahun Terbit : September 2020 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku The Duke & I (Bridgerton…

29-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 New York Times Bestseller   Now a series created by Shondaland for Netflix.   Judul : The Duke and I (Bridgertons Book 1) Penulis : Julia Quinn Jenis Buku : Romance Penerbit : Avon; Media Tie In, Reprint edition Tahun...

Read more

Review Buku Klara and the Sun - Kazuo Is…

22-05-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  NEW YORK TIMES BESTSELLERA GOOD MORNING AMERICA Book Club Pick! Editor s Pick for Best Science Fiction & Fantasy   Judul : Klara and the Sun Penulis : Kazuo Ishiguro Jenis Buku : Science Fiction & Fantasy Penerbit...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more

Ceritaku Membuat Cake Batik Kukus (Bonus…

18-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Saya mendapatkan beberapa inspirasi dari komentar teman-teman di instagram @dipidiff_talks soal kontribusi dan cara kita untuk turut melestarikan batik. Keinginan belajar membatik klasik dengan canting untuk sementara ini memang harus...

Read more