0

Review Buku People We Meet on Vacation - Emily Henry

Published: Monday, 29 November 2021 Written by Dipidiff

 

The #1 New York Times Bestseller

A Tonight Show Starring Jimmy Fallon Summer Reads Nominee

From the New York Times bestselling author of Beach Read

 

Judul : People We Meet on Vacation

Penulis : Emily Henry

Jenis Buku : Romance

Penerbit : Berkley

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman : 384 halaman

Dimensi Buku :  20,83 x 13,72 x 2,79 cm

Harga : Rp. 159.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781984806758

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Pertemuan Alex dan Poppy yang pertama terjadi di 12 musim panas yang lalu (setara 12 tahun lalu lah ya), kesan pertama sama sekali ga menggoda, they hate each other. Tapi di musim panas kesebelas, takdir membawa mereka bermobil berdua, sejak itu terciptalah persahabatan di antara mereka. Poppy dan Alex punya agenda liburan berdua tiap musim panas dengan budget seadanya yang mereka punya. Liburan-liburan ini semakin mendekatkan hati mereka, tapi cinta yang tumbuh menjadi canggung karena ikrar persahabatan yang ingin mereka jaga. Konflik internal yang  mereka punya juga menjadi hambatan tersampaikannya rasa yang ada. Cinta oh cinta.

Liburan musim panas mereka berjalan menyenangkan dan sempurna. Sampai dua tahun lalu, mereka menghancurkan segalanya dan sejak itu mereka tidak saling bicara.

Poppy memiliki semua yang dia inginkan, tapi dia terjebak dalam rutinitas. Ketika seseorang bertanya kapan dia terakhir benar-benar bahagia, ia tahu, tanpa ragu, itu adalah liburan terakhinya bersama Alex. Jadi, Poppy memutuskan untuk meyakinkan sahabatnya untuk mengambil satu liburan lagi bersama – berusaha memperbaiki konflik di antara mereka. Di luar dugaan, Alex setuju.

Sekarang Poppy punya waktu seminggu untuk memperbaiki semuanya. Seperti apakah ending cerita ini? Silakan baca sendiri bukunya sampai akhir :)

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Warna oranyenya cukup cetar ya, kurang menyala sih untuk selera saya :D, dari ilustrasi gambar jelas ada tokoh Alex dan Poppy di sana, dan gambar ini menurut saya berkesesuaian dengan karakter dua tokoh utama cerita. Alex memang seorang pembaca buku, dan Poppy pribadi yang menikmati suasana.

Btw, buku ini punya dua cover yang lain. Salah satunya yang judulnya bukan People We Meet on Vacation tapi You and Me on Vacation. Entah kenapa novel ini bisa dicetak dalam dua judul yang beda tapi isinya sama.

Back to topic, kalo boleh milih saya pribadi lebih suka disain cover yang biru dengan judul People We Meet on Vacation. Alasannya simple sih, kombinasi warnanya lebih enak diliat oleh mata saya aja dan gambar ilustrasi Ales Poppynya juga sesuai dengan yang disampaikan di cerita.

 

Tokoh dan Karakter

Flannery O’Connor, nama kucing Alex yang juga jadi nama pena Alex untuk buku-buku yang dia tulis

Poppy Wright, berjiwa petualang, tapi juga kesepian. Ia kehilangan momen bahagia dalam hidupnya setelah putus kontak dengan sahabatnya, Alex.

Alex Nilsen, hanya bisa terbuka menjadi diri apa adanya di depan sahabatnya, Poppy. Jauh di dalam hatinya Alex merasa ga berhak bahagia.

Swapna, atasan Poppy di R+R Magazine

Parker and Prince, kakak-kakak laki Poppy

Sarah, kekasih Alex yang cantik dan cerdas. Bolak balik putus sambung dengan Alex.

Rachel Krohn, sahabat Poppy yang menyadarkannya tentang kapan terakhir dia merasa bahagia.

 

Yes, tokoh utama buku ini, Poppy, adalah seorang penulis di blog. Dia suka sekali berpergian, bertemu dengan orang-orang baru, mendapatkan pengalaman yang berbeda, dan melihat berbagai lokasi menarik. Awalnya pembaca blognya sedikit, tapi kemudian makin banyak, sampai akhirnya dia ditarik oleh R+R magazine, sebuah majalah inspirasi traveling ternama berkantor di New York. Tiap musim panas Poppy menjelajah bersama sahabatnya Alex, pria tampan, hobi baca buku, akademisi, suka kebersihan, cool, dan patuh pada aturan-aturan. Sifat mereka memang berbeda satu sama lain, tapi keduanya lovable. Terutama karena dialog Poppy dan Alex mayoritas lucu dan renyah sekali. Novel ini memang masuk kategori humorous fiction selain romance☺.

 

Deskripsi fisik tokoh rinci dan tersebar. Contohnya tokoh Alex, yang secara total tergambar dalam imajinasi saya sebagai sosok yang tinggi, tampan, cool, rambutnya kehitaman sandy-hair, suka buku, pintar, penyayang, lembut, husband material. Fix jadi book boy friend :D

He’s sitting at the corner of BAR’s bar itself. A man about my age, twenty-five, sandy haired and tall with broad shoulders, though so hunched you might not notice either of these last two facts on first glance. His head is bend over his phone, a look of quiet concentration visible in his profile. His teeth worry at his full bottom lip as his finger slowly swipes across the screen.

...

But the sandy-haired man sitting on the corner stool has a stillness that makes him stick out. Actually, everything about him screams that he doesn't belong here. Despite the eighty-something degree weather and one-million-percent humidity, he's dressed in a rumpled long-sleeve button-up and navy blue trousers. He's also suspiciously devoid of a tan, as well as any laughter, mirth levity, etc.

Page 3

 

Alur dan Latar

Alur cerita sedang-cepat dengan kombinasi maju mundur. Satu chapter berlatar waktu masa kini this summer, lalu chapter berikutnya mundur ke masa lalu misal ten summer ago, lalu chapter berikutnya kembali ke masa kini, dan berikutnya lagi balik ke nine summer ago sampai kemudian two summers ago, lalu cerita fokus ke masa kini sampai selesai.

Kisah diceritakan dari sudut pandang orang pertama yakni Poppy. Konfliknya seputar cinta yang tumbuh dalam persahabatan yang ingin terus dijaga. Selain itu baik Poppy maupun Alex punya konflik internal yang bikin mereka tidak segampang itu untuk mengubah persahabatan menjadi hubungan cinta.

Ending cerita ini tertutup. Buat yang ingin tau apakah happy atau tidak, silakan kontak saya untuk tanya ya J

Untuk latar cerita, kita akan dibawa ke berbagai tempat seperti New York,  Ohio-Infield, University of Chicago, Victoria, Croatia,  Sanibel Island, dll. Deskripsi latar terasa hidup, dan kita seolah-olah jadi ikut travelling mengalami berbagai kejadian, mulai dari kehujanan, AC hotel yang mati, tidur di tenda, dll. Poppy memang travel blogger dengan tema budget murah sebelum dia direkrut R+R magz.

Though not Disney World-level packed, this place is loud. Half-way between jukebox crooning creepy late-fifties times and the mounted TV opposite it, from which a weatherman shouts about record-breaking rain, there's a gaggle of men with identical hacking laughs that keep bursting out all at once. At the far end of the bar, the bartender keeps smacking the counter for emphasis as the chats up a yellow-haired woman.

The storm's got the whole island feeling restless, and the cheap beer has everyone feeling rowdy.

Page 3

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Boleh ga jatuh cinta sama sahabat? Apa ga nanti malah merusak persahabatan.

Mungkin di antara pembaca ada yang relate ya dengan situasi itu. Ini terjadi pada Poppy dan Alex di novel People We Meet on Vacation, yang juga dicetak dalam judul You and Me on Vacation.

Nama Emily Henry terus terang ga familiar di benak saya. Ini memang novel pertamanya yang saya baca. Pada kenyataannya Emily Henry adalah penulis komedi romantis dari Beach Read. You & Me on Vacation / People We Meet on Vacation, merupakan buku keduanya yang menjadi New York Times bestseller. Emily Henry belajar menulis kreatif di Hope College dan sekarang tinggal di American Midwest. Profilnya muncul antara lain di Prima, Elle, Woman & Home, dan The Independent.

Buat kalian yang mencari novel romance modern, coba baca People We Meet on Vacation.

Buat saya pribadi, novel ini pas banget buat 'penyegaran' karena baru kemarin romance yang saya baca itu historical romance. Latarnya Inggris tempo dulu, yes apalagi kalo bukan seri Bridgerton. Nah berkebalikan dengan Bridgerton, buku yang saya baca kali ini punya latar dunia modern. Di sini kita akan disuguhkan kehidupan masa kini dengan profesi influencer dan travel blogger.

Rachel Krohn: style blogger, French bulldog enthusiast, born-and-breed Upper West Sider (but mercifully not the kind who acts like it's so adorable that you're from Ohio, or even that Ohio exists – has everyone even heard of it?) and professional-grade best friend.

Despite having top-of-the-line appliances, Rachel hand-washes all her dishes, because she finds it sooting, and she does so wearing four-inch heels, because she thinks flat shoes are for horseback riding and gardening, and only if you haven't found any suitable heeled boots.

Rachel was the first friend I made when I moved to New York. She's a social media “influencer” (read: gets paid to wear specific brands of makeup in pictures at her beautiful marbled vanity)...

Page 17

 

Baca buku ini bikin kangen jalan-jalan, kalian kangen traveling ke berbagai lokasi wisata luar kota juga ga kayak saya?

Sepertinya novel ini bakal rame kalo difilmkan. Ini pendapat saya aja sih ☺. Alasannya sederhana, karena latarnya dunia modern dengan kehadiran figur travel blogger dan influencer terasa kekinian, lalu kisah Poppy-Alex yang berlibur ke berbagai tempat sepertinya bakal asyik kalo disimak secara visual,

Our second-to-last day, we hike through a quiet of Cathedral Grove just as the sun is coming up, spilling golden light over the forest in little droplets, and when we leave, we drive straight to a town called Coombs, whose main attraction is a handful of cottrages with grass roofs and a herd of goats grazing over them. We take pictures of them, stick our heads through photo-op cutouts that put our faces on crudely painted goat bodies, and spend a luxurious two hours wandering a market stuffed with samples of cookies, candies, and jams.

On the last full day of our trip, we drive across the island to Tofino, the peninsula we would have stayed on if we weren't trying to save every possible penny. I surprise Alex with (perhaps worryingly cheap) tickets for a water taxi that takes us to the island I read about, with the trail through the rain forest to the  hot spring.

Page 96

 

Kemudian hubungan Poppy-Alex manis banget plus konflik drama yang bikin greget kemungkinan besar cocok buat diangkat ke movie.

 

Btw, ngomongin konflik jadi inget kalo di sini, meski Alex punya karakter yang lovable aka husband-material, tapi sebenarnya dia punya sisi kelemahan juga. Konflik internal Alex berakar dari ibunya yang meninggal saat dia masih remaja. Alex tumbuh membesarkan adik-adiknya, bahkan mengurus ayahnya yang down sepeninggal ibu Alex. Alex takut bahagia, feel not deserve, dan selalu waspada menjaga keluarga. Poppy pun punya konflik internal dimana dia merasa sulit punya tempat, dan feel not belong to. Perasaan sepi yang selalu dirasakan Poppy disampaikan juga dalam suatu adegan saat Poppy berbincang dengan temannya, dan percakapan ini terjadi di depan Alex. Saya rasa, Alex mencintai Poppy karena hal ini juga.

... one reason I love travelling so much.” I hesitate, searching for how to pour this long-steeping soupy thought into concrete words. “As a kid, I was a loner,” I explain, “and I always figured that when I grew up, I'd leave my hometown and discover other people like me somewhere else. Which I have, you know? But everyone gets lonely sometimes, and whenever that happens, I buy a plane ticket and go to the airport and – I don't know. I don't feel lonely anymore. Because no matter what makes all those people different, they're all just trying to get somewhere, waiting to reach someone.”

Page 217

 

Alex suka buku, ini salah satu yang bikin saya yakin tokoh Alex bakal jadi kandidat book boy friend banyak pembaca :D . Personally, begitu menemukan tokoh yang suka membaca, saya selalu merasa ada semacam auto koneksi hahaha.  

“Don't you wish we could always be doing this?” I ask Alex.

He looks up over his book at me, one corner of his mouth curling. “Wouldn't leave a lot of time for reading.”

“What if I promise to take you to a bookstore in every city?” I ask. “Then will you quit school and live in a van with me?”

His head tilt to one side as he thinks. “Probably not,” he says, which is no surprise for a variety of reasons, including the fact that Alex loves his classes so much he's already researching English grad programs, whereas I'm muscling through with straight Cs.

Page  95

 

Ada satu istilah yang baru saya tau begitu membaca novel ini. Teman-teman ada yang pernah tau “Millenial ennui”. Saya rasa ini salah satu isu yang ingin diangkat Emily Henry juga di novel ini. Millennial adalah seseorang yang mencapai usia dewasa muda di awal abad ke-12, sedangkan Ennui adalah perasaan lesu dan ketidakpuasan yang timbul dari kurangnya pekerjaan atau kegembiraan. Di dalam cerita, Rachel, sahabat Poppy, bilang kalo Poppy itu mengalami millenial ennui, karena Poppy ga ada semangat dan motivasi dalam hidupnya. Setelah cek di google ternyata kondisi ini cukup umum terjadi di generasi millenial saat ini. Dalam suatu wawancara dengan media Emily Henry menyampaikan kalo benang merah yang paling umum di kalangan milenial adalah bahwa sebagian besar orang itu mengejar tujuan. Dan ketika seseorang mati-matian mengejar tujuan, dia lalu mendapatkannya. Setelah mencapai tujuan itu beberapa kali, rasa kosong mulai terasa. Di bukunya ini Henry ingin menyelidiki perasaan itu, dan melihat bagaimana sebuah karakter dapat menemukan level baru untuk tujuan itu.

“Isn't that ridiculous?” I groan-laugh. “My life turned out how I hoped it would, and now I just miss wanting something.”

Shaking with the weight of it. Humming with the potential. Staring at the ceiling of my crappy, pre-R+R fifth-floor walk-up, after a double shift serving drinks at the Garden, and daydreaming about the future. The places I'd go, the people I'd meet – who I'd become. What is there left to want when you've got your dream apartment, your dream boss, and your dream job (which negates any anxiety over your dream apartment’s obscenely high rent, because you spend most of your time eating at Michelin-starred restaurants on the company's dime anyway)?

Rachel drains her glass and globs some Brie onto a cracker, nodding knowingly, “Millennial ennui.”

“Is that a thing?” I ask.

“Not yet, but if you repeat it three times, there'll be a Slate think piece on it by tonight.”

“I thought the whole thing about millenials was that we don't get what we want. The houses, the jobs, the financial freedom. We just got to school forever, them bartend ‘till we die.”

“Yeah,” she says, ‘but you dropped out of college and went after what you want. So here we are.”

“I don't want to have millenial ennui,” I say. “It makes me feel like an asshole to not just be content with my amazing life.”

Page 21

 

...”But most of us are too scared to even ask what we want, in case we can't have it. Read that in this essay about something called ‘millenial ennui.”

 

Lucu renyah adalah bagian yang bikin saya suka sekali dengan novel ini. Page turner sampai akhir. Dialog antara Poppy dan Alex itu hidup, mereka saling goda, dan bercanda lepas. Vibrasinya seolah real dan terasa ikatannya.

SandwichES? PLURAL? I type back now. Please, please, please tell me you have become a full-fledged hoagie thief.

Delallo’s not a hoagie fan, Alex says. Lately she's been hot for Reubens.

And how many of these Reubens have you stolen? I ask.

Assuming the NSA is reading this, none, he says.

You're a hight school English teacher in Ohio; of course they're reading.

He sends back a sad face. Are you saying I'm not important enough for the U.S. government to monitor?

...

Page 29

 

The plane judders through another quick stretch of turbulance, and Alex grip tightens.

“Time to panic?” he asks.

“Not yet,” I say. “Try to sleep.”

“Because I need to be well rested when I meet Death.”

“Because you need to be well rested when I get tired in Butchart Gardens and make you carry me the rest of the way.”

“I knew there was a reason you brought me with you.”

“I didn't bring you with me to be my mule,” I argue. “I brought you with me to be my patsy. You're gonna cause a diversion as I run through the dining room of the Empress Hotel during high tea, stealing tiny sandwiches and priceless bracelets off unsuspecting guests.”

He squeezes my hand. “I guess I'd better sleep, then.”

I squeeze back. “Guess so.”

“Wake me up when it's time to panic.”

“Always.”

Page 730

 

Akhirnya konflik yang berhasil dibangun sisi emosionalnya ini diakhiri dengan ending tertutup. Hanya buat saya pribadi, penyelesaiannya mendadak berubah vibrasi menjadi ala ala Bridgerton, dari yang tadinya bergaya modern romance. Coba ya baca, barangkali kita punya pendapat yang berbeda ☺.

Pesan cerita yang bisa kita dapat dari buku ini tentu saja tentang persahabatan dan cinta, tentang saling mengasihi, memahami, jujur, terbuka, percaya, dan tentu saja tentang finding home. Alih-alih mencari kebahagiaan, cobalah untuk fokus memberi makna pada hari-hari yang sedang dijalani.

“So I need new goals.”

She nods emphatically. “I read this article about it. Apparently the completion of long-term goals often leads to depression. It's the journey, not the destination, babe, and whatever the fuck else those throw pillow say.”

Her face softens again, becomes the ethereal thing of her most liked photographs. “You know, my therapist says ---“

...

“She told me that sometimes, when you lose your happiness, it's best to look for it the same way you'd look for anything else.”

“By groaning and hurling couch cushions around?” I guess..

“By retracing your steps,” Rachel says. “So, Popy, all you have to do is think back and ask yourself, when was the last time you were truly happy?”

Page 23

 

By the way, teman-teman jangan lewatkan ya chapter tambahan di buku ini ada di bagian paling akhir, judulnya Behind The Book. Di bab ini kita akan mendapatkan cerita bagaimana Emily Henry mula-mula menulis novel ini yang ternyata tadinya tidak direncanakan menjadi novel romance bertema cinta pada sahabat sendiri, juga hal-hal lain terkait buku yang teman-teman baiknya baca sendiri untuk mendapatkan rinciannya ya J

Behind the Book

...

When I started People We Meet on Vacation I didn't set out to write a homage to one of my favorite romantic comedies. But perhaps it was Ephron who left this indelible mark on me, planted a seed of ardent appreciation for characters who grate and irritate and infuriate, until the moment they suddenly don't. Not only because they've changed, but because you've begun to see the full picture of who they are.

And that was what I set out to write in this book. Two characters with no obvious reason to like each other, let alone love each other. Two people with so little in common that romance never seemed to be on the table ...

 

Halaman menarik lainnya adalah adanya Chapter Discussion Question yang berisi list pertanyaan untuk diskusi buku. Poin-poinnya bisa banget kita pake untuk bincang buku bersama teman atau klub.

Discussion Questions

  1. When they first meet, Alex and Poppy are immediately put off by each other. Have you ever made a friend after a bad first impression?
  2. What's something you do on vacation that you're unlikely to do in your real life? Is there a certain comfort in an anonymity?
  3. ...
  4. ...

 

Seperti rom-com pada umumnya yang predictable alurnya bahkan endingnya, novel ini pun demikian. Tapi barangkali bukan endingnya yang penting, tapi kemasan ceritanya seperti apa, dan personally, karya Emily Henry ini renyah, ringan, kekinian, segar, dan tetap punya pesan cerita yang bagus untuk pembaca.

 

Siapa Emily Henry

Emily Henry menulis cerita tentang cinta dan keluarga untuk remaja dan dewasa. Dia belajar menulis kreatif di Hope College dan Pusat Studi Seni & Media New York. Saat ini Henry menghabiskan sebagian besar waktunya di Cincinnati, Ohio, dan Kentucky. Instagram @EmilyHenryWrites.

Sumber: Amazon

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan buat pembaca dewasa yang mencari novel percintaan ala romantic comedy, yang bertema cinta pada sahabat sendiri. Kedua tokoh utama punya karakter yang lovable tapi tetap bikin greget karena efek drama di antara mereka yang ga juga bisa nyatain cinta. Konflik internal punya peran dalam konflik utama percintaannya. Ceritanya mengalir dengan alur sedang-cepat kombinasi maju mundur. Kisah disampaikan dari sudut pandang orang pertama (Poppy). Latarnya masa kini sekali dengan media sosial, blogger, dan influencer, berikut isu millenial ennui. Pada akhirnya, di jaman manapun manusia hidup, manusia berjuang menemukan tujuan hidup, rumah, dan bahagia.

Underlined Issues: pre-marital sex, sexual scenes, lgbt. Baca sesuai usia.

 

 

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Shoe Dog - Phil Knight

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 NEW YORK TIMES BESTSELLER.A Memoir by the Creator of Nike. Judul : Shoe Dog Penulis : Phil Knight Jenis Buku : Autobiography Penerbit : Simon and Schuster Ltd Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku The Psychology of Stupidity …

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

    The Number One International Bestseller   Judul :The Psychology of Stupidity Explained by Some of the World's Smartest People Penulis : Jean-François Marmion Jenis Buku : Medical Social Psychology & Interaction, Popular Social Psychology & Interactions...

Read more

Review Buku Januari & Kesunyian Lain…

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Januari & Kesunyian Lain Dalam Tubuhku Penulis : Diondexon Jenis Buku : Puisi, senandika Penata Letak: Dionisius Dexon Penyunting: Tim One Peach Media Pendesain Sampul: Dionisius Dexon Penerbit : One Peach Media Tahun Terbit : Februari...

Read more

Review Buku Anne of Green Gables (Wordsw…

19-07-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Read the timeless classic about the beloved Anne Shirley, a red-haired orphan with a fiery spirit. Now on Netflix   Judul : Anne of Green Gables Penulis : Lucy Maud Montgomery Jenis Buku : Children’s...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more