0

Review Buku Beautiful World, Where Are You - Sally Rooney

Published: Sunday, 02 January 2022 Written by Dipidiff

Winner of Goodreads Choice Awards 2021 in Fiction

The Sunday Times and Global Number One Bestseller
"Winner of Novel of The Year at the An Post Irish Book Awards"

Judul : Beautiful World, Where Are You
Penulis : Sally Rooney
Jenis Buku : Literary Fiction, Romance
Penerbit : Farrar, Straus & Giroux
Tahun Terbit : 2021
Jumlah Halaman :  368 halaman
Dimensi Buku : 21,79 x 14,48 x 3,18 cm
Harga : Rp. 280.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah
ISBN : 9780571365432

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

Sekelumit Tentang Isi

Eileen, Simon, Alice, dan Felix hidup di jaman modern masa kini. Alice, seorang novelis, berkenalan dengan Felix. Di pertemuan pertama mereka, Alice mendapat kesan kalo Felix tidak menyukainya, meskipun demikian Alice mengajak pria itu untuk traveling ke Roma bersamanya. Sementara itu di Dublin, sahabat Alice yang bernama Eileen putus dari kekasihnya dan dekat kembali dengan teman masa kecilnya yang bernama Simon. Keempat orang ini melalui episode kehidupan orang-orang muda modern dalam proses pencarian jati diri, mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dunia masa kini, dan berusaha menemukan makna hidup yang sebenarnya.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Sebuah disain cover yang mengingatkan saya pada fragmen komik. Terlihat beda aja, di luar ekspektasi saya untuk sebuah novel sastra, tapi sesuai kalo diliat dari latarnya yang jaman modern. Bentuknya yang menyerupai puzzle itu pun cocok untuk menggambarkan cerita keempat tokoh utama yang mempertanyakan kehidupan. Hidup ibarat puzzle kan ya.

 

Tokoh dan Karakter


Eileen
Simon
Alice
Felix

Mungkin bukan bacaan yang tepat buatmu yang dalam kondisi emosi yang labil atau down. Tapi ini bakal menarik buat kita yang ingin baca novel nyastra dengan pendalaman tokoh yang bagus. Fyi, tokoh Elieen punya karakter yang mungkin bisa bikin pembaca frustasi. Hati-hati buat yang character-driven.

Eileen, semasa kuliah begitu cemerlang, peraih medali dan penghargaan, cantik dan cerdas, membuatnya menjadi gadis yang dipuja. Kejeniusannya dalam akademik memang sudah terlihat sejak kecil dan remaja. Ia melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, lalu bekerja di sebuah magazine... and that's all. Gajinya biasa, karirnya biasa, gaya hidupnya biasa, hubungan percintaannya biasa. Ada kehampaan yang terbaca di sini. Bahkan ketika dia kembali ke cinta masa kecilnya, Simon, itupun terasa gamang.

Alice kebalikan dari Eileen, dia tidak cantik. Semasa kuliah dia gadis yang tak terpindai. Alice berpembawaan penuh semangat, tapi prestasi dan nilai-nilainya rata-rata saja. Lulus kuliah, Alice fokus ke menulis buku-buku yang menyuarakan ide-ide yang ada di kepalanya. Sekian tahun berlalu, buku Alice laris manis, membawanya ke puncak kesuksesan, profilnya bahkan punya halaman wikipedia. Lalu Alice depresi karena 'tekanan kesuksesan'. Lagi-lagi hampa.

Para tokoh utama di sini memang bukan tipe yang likeable. Justru Rooney menampilkan tokoh-tokoh cerita dalam kondisi dan kepribadian yang ga sepenuhnya oke. Kita akan menemui sisi egois, kurang berpendirian, jealous, dingin, dan lain-lain dari si tokoh, yang mana menurut saya manusiawi. Dari sini tergambarkan bahwa orang-orang memang punya sisi lemah masing-masing, tidak semua orang disukai, tapi semua orang dapat dicintai, atau sebaliknya. After all, buku ini memang bergenre romance. Dan dari dua buku Rooney yang saya baca, para tokoh ceritanya memang punya karakter yang kompleks.

Untuk deskripsi tokoh, rasanya mencukupi, saya bisa mengimajinasikan sosok Eileen dan Simon yang cantik tampan, Alice yang eksentrik, dan Felix yang biasa tapi menarik.

A woman sat in a hotel bar, watching the door. Her appearance was neat and tidy: white blouse, fair hair tucked behind her ears. She glanced at the screen of her phone, on which was displayed a messaging interface, and then looked back at the door again. It was late March, the bar was quiet, and outside the window to her right the sun was beginning to set over the Atlantic. It was four minutes past seven, and then five, six minutes past. Briefly and with no perceptible interest she examined her fingernails. At eight minutes past seven, a man entered through the door. He was slight and dark-haired, with a narrow face. He looked around, scanning the faces of the other patrons, and then took his phone out and checked thescreen. The woman at the window noticed him but, beyond watching him, made no additional effort to catch his attention. They appeared to be about the same age, in their late twenties or early thirties. She let him stand there until he saw her and came over.

Page 3

Alur dan Latar


Plot maju pelan. Pov ketiga tanpa dialog hidup. Konfliknya romance dengan penekanan penemuan jati diri, cinta sejati, kebahagiaan, dan wisdom of life. Ending cerita tertutup dengan deretan pesan yang kuat ditinggalkan oleh Sally Rooney untuk pembacanya.

Latar Dublin, Inggris, Roma, tidak begitu ditonjolkan, karena fokusnya memang banyak di jalan pikiran dan perasaan tokoh cerita.



Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Ini adalah buku terbaru dari Sally Rooney, seorang penulis yang buku debutan dan buku keduanya diadaptasi ke dalam TV series, Beautiful World, Where Are You adalah novel ketiganya.

Seperti apa ya karya ketiga Sally Rooney ini (?) Yang pasti buku ini sudah mendapatkan predikat Sunday Times bestseller, dan global bestseller. Novel ini juga menjuarai Goodreads Choice Awards 2021 kategori Fiction. Saya pribadi penasaran dengan tulisan Rooney setelah sederet award yang dia peroleh, dan namanya disebut sebagai salah satu penulis millenial terdepan. Pada akhirnya saya memutuskan membaca buku ini dan Normal People.

Sudah saya sebut di atas betapa hampanya nuansa cerita, tokohnya bikin frustasi, narasi tanpa dialog hidup, sampe sini, kalian yakin mau baca buku ini? Kalo saya sih yakin, karena meski tone ceritanya begitu, tapi saya punya harapan di ujung akan ada insight dan pencerahan terhadap problematika kehidupan modern masa kini yang meski hiruk pikuknya melelahkan namun harusnya ada dunia dan kehidupan yang indah penuh makna di sana. Dan saya memang menemukan ini di akhir cerita. Ga sehangat yang saya duga, tapi kesannya lebih mature aja.

Btw, soal dialognya yang saya sebut dialog mati, saya kutipkan di bawah ini ya, supaya buat teman-teman yang belum baca bisa dapetin gambaran.

He smiled benignly, watching the progress of their coffees behind the counter. Funny, he said, I had a bad dream the other night about you getting married.

What was bad about it?

You were marrying someone other than me.

The woman laughed. Do you talk like this to the women at your work? She said.

He turned back to her, amused, and replied: God no, I’d get in awful trouble. And quite rightly. No, I never flirt with anyone at work. If anything they flirt with me.

I suppose they’re all middle-aged and want you to marry their daughters.

...

Page  21

 

Di buku ini ada bab-bab berisi email-email Eileen dan Alice, dan dari surat ini juga beragam isu dan opini disampaikan mulai dari politik hingga feminism, dari kerusakan lingkungan hingga pandangan seksual serta gaya hidup modern. Remember, Sally Rooney aslinya memang juara debat dan esay-esaynya dimuat di berbagai media. Email-email ini barangkali akan terasa datar monoton dan membosankan buat sebagian pembaca, tapi bagi yang memang suka dengan diskusi beragam topik kehidupan, opini Eileen dan Alice cukup asyik diikuti. Yang pasti bisa dibayangkan akan cukup menantang ya untuk bisa mengadaptasi novel ini ke dalam film, karena ga terlalu movieable begitulah.

Email-email ini sebenarnya juga memberikan kesempatan pada pembaca untuk tau lebih dalam tentang isi pikiran tokoh Eileen dan Alice. Sesuatu yang seprivasi itu dibuka kepada kita untuk diselami, ga heran isi emailnya memang menyampaikan opini tokoh apa adanya yang kadang bertentangan satu sama lain, membuat saya yang membacanya seolah menyimak satu topik dengan dua perspektif.

 

Misalnya topik lingkungan yang diutarakan oleh Alice di emailnya,

I was in the local shop today, getting something to eat for lunch, when I suddenly had the strangerst sensation – a spontaneous awareness of the unlikeliness of this life. I mwan, I thought of all the rest if the human population – most of whom live in what you and I woyld consider abject poverty – who have never seen or entered such a shop. And this, this, is what all their work sustains! This lifestyle, for people like us! All the various brands  of soft drinks in plastic bottles and all the pre-packaged lunch deals and confectionery in sealed bags and store-baked pastries – this is it, the culmination of all the labour in the world, all the burning of fossil fuels and all the back-breaking work on coffee farms and sugar plantations. All for this! This convenience shop! I felt dizzy thinking about it. I mean I really felt ill. It was as if I suddenly remembered that my life was all part of a television show – and every day people died making the show, were ground to death in the most horrific ways, children, women, and all so that I could choose from various lunch options, each packaged in multiple layers of single-use plastic. ...

Page 17

Dan balasan Eileen terkait topik itu.

I know we have good reason to be sceptical of aesthetic nostalgia, but the fact remains that before the 1970s, people wore durable clothes of wool and cotton, stored drinks in glass bottles, wrapped food produce in paper, and filled their houses with sturdy wooden furniture. Now a majority of objects in our visual environment are made of plastic, the ugliest substance on earth, a material which when dyed does not take on colour but actually exudes colour, in an inimitably ugly way. One thing a goverment could do with my approval (and there arent many) would be to prohibit the production of each and every form of plastic not ugently necessary for the maintenance of human life. What do you think?

Page 76

 

Berkaitan dengan banyaknya muatan opini, pikiran, dan perasaan tokoh di dalam cerita, Sally Rooney dalam wawancaranya di salah satu media menyampaikan bahwa dia sendiri merasa bosan ketika sudah sampai di bagian tersebut. Dalam kehidupan nyata, jelas, tidak ada yang memberi tahu gimana orang lain berpikir dan merasakan, dan dia sendiri bahkan hampir tidak tahu apa yang dia pikirkan. Jadi semakin Rooney mencoba mendekatkan dirinya dengan karakter melalui narasi yang ada, yang terjadi justru semakin jauh dirinya dari mereka, karena interioritas mereka sama sekali tidak menyerupai apa pun dari pengalaman hidup Sally Rooney yang sebenarnya. Akhirnya dia kemudian mengamati dan menggambarkan karakter yang mengatakan dan melakukan sesuatu, tanpa perlu berspekulasi tentang apa yang mereka pikirkan atau rasakan secara diam-diam, dan semakin banyak waktu yang dia habiskan untuk menulis dari perspektif ini, semakin dekat perasaannya dengan karakter tokoh, dan semakin mudah baginya untuk mengamati dan menciptakan kata-kata dan tindakan mereka. Untuk penulis, apa yang dilakukan Sally Rooney terkait proses kreatif di balik novelnya pasti menarik untuk disimak.


Dimana letak kebahagiaan itu? Adakah dunia yang indah di tengah kehidupan yang menampakkan banyak keburukan ini? Apa tujuan hidup itu? Pertanyaan tentang tujuan dan makna hidup ini salah satunya diutarakan oleh Felix dalam salah satu percakapannya dengan Alice yang waktu itu membahas mental breakdown.

They lapsed into silence. Alice drained the last of her wine from the glass, crushed her cigarette underfoot and folded her arms against her chest. Felix looked distracted and continued smoking slowly, as if he had forgotten she was there. He cleared his throat then and said: I feel a bit like that after my mam died. Last year. I just started thinking, what’s the fucking point of life, you know? It’s not like there’s anything at the end of it. Not that I really wanted to be dead or anything, but I couldn’t be fucked being alive most the time either. I don’t know if you would call it a breakdown. I just had a few moments where I was seriously not bothered about it – getting up  and going to work and all that. I actually lost the job I had at the time, that’s why I am at the warehouse now. Yeah. So I kind of get what you’re saying about the breakdown. Obviously the experiences would be different in my case, but I see where you’re coming from, yeah.

Page 52

Sebuah pertanyaan yang filosofis ya, seperti halnya isi novel Sally Rooney ini yang bikin pembaca merenung, meresapi, memikirkan, dan menimbang. Baca pelan-pelan, keindahan sastra Beautiful World, Where Are You hanya bisa ditangkap dengan membaca kata demi kata secara seksama. Maka baca novel ini kalo kita yakin kita siap mengontemplasikan banyak hal, tentang kegamangan, gaya hidup glamour, agama, kemiskinan, popularitas, dan tentu saja tentang keluarga, persahabatan, dan cinta. Well yes, memang bukan topik-topik baru juga sebenarnya, tapi sekali lagi, buat kita yang suka menyimak opini, ini bakalan menggugah benak kita juga.

 

Banyak opini dalam cerita yang saya yakin menyuarakan kegelisahan orang-orang pada umumnya. Misalnya, soal kebahagiaan dalam hidup seperti yang diutarakan tokoh Simon di dalam cerita, bahwa ada bagian dalam dirinya yang menolak kebahagiaan itu datang karena merasa terlalu takut, karena tidak percaya pada hal-hal yang baik, karena yakin setelah sesuatu yang bagus terjadi maka berikutnya akan ada kemalangan. Opini saya sendiri kebetulan tidak sama, tapi saya pernah mendengar opini orang lain yang sama persis seperti Simon.

I don’t know. I tell myself that I want to live a happy life, and that the circumstances for happiness just haven’t arisen. But what if that’s not true? What if I am the one who can’t let myself be happy? Because I’m scared, or I prefer to wallow in self pity, or I don’t believe I deserve good things, or some other reason. Whenever something good happend to me I always find myself thinking: I wonder how long it will be until this turns out badly. And I almost want the worst to happen sooner, sooner rather than later, and if possible straight away, so at least I don’t have to feel anxious about it anymore.

Page 212

 

Karya Rooney yang ini rasanya membingungkan di awal, kelabu di tengah, lalu cukup hangat di bagian akhir. Ada bagian yang bikin saya merasa ga sabar ingin cepat tau apa yang terjadi lantaran plot pelannya bikin greget. Tapi saya bersabar karena narasi-narasinya itu yang sebenarnya membahas opini-opini yang menarik. Thought provoking. Misalnya tokoh Alice yang membenci dirinya sendiri yang seorang penulis terkenal, dan menganggap bodoh orang-orang yang tertarik dengan selebriti, atau tentang apakah Tuhan itu ada dan apakah orang baik yang tidak beragama itu tidak berTuhan, dan masih banyak lagi.

Kisah cinta Simon dan Eileen sangat menyentuh, begitupun Alice dan Felix. Yes, ini contemporary romance, dan karena pendalaman karakternya yang bagus, pembaca seolah mengenal dekat para tokohnya. Yes, bisa ditebak ya saya suka dengan tokoh Simon yang dewasa, setia, sabar, percaya pada Tuhan, berusaha untuk selalu menjadi orang yang baik.

Pesan yang paling terasa di buku ini pada akhirnya adalah tentang cinta dan persahabatan. Sebuah cinta dan persahabatan tanpa syarat yang meski terjadi sesuatu, cinta dan persahabatan itu tetap ada. Hubungan seperti ini bukannya tanpa ujian. Seperti pada cerita, para tokoh mengalami kekecewaan, sakit hati, amarah, dan lain sebagainya.

 

 

Alice dan Eileen adalah sahabat yang justru dekat karena perbedaan mereka satu sama lain. Alice mengagumi kecerdasan Eileen, juga daya tarik, kecantikan fisik, keanggunan dan pesonanya. Eileen mengagumi kepercayaan diri Alice yang ekstrem, ketidakpeduliannya terhadap pendapat orang lain, kepribadiannya yang tanpa kompromi, keekstentrikan, dan pencapaiannya. Masing-masing kadang melihat yang lain sebagai cerminan dari dirinya sendiri, dan di lain waktu sebagai gambaran dari segala sesuatu yang bukan dirinya. Rasanya ini relate ya dengan bentuk persahabatan di dunia nyata, ketika kita kagum dan tertarik pada orang yang berbeda dengan kita.


Novel ini punya underlined issues, antara lain pre-marital sex, sexual scenes, bisexual, depression, drugs, alcoholism, anxiety. Oleh karena itu baca Beautiful World, Where Are You sesuai usia.



Siapa Sally Rooney


Sally Rooney lahir di Irlandia pada 20 Februari 1991. Dia adalah seorang penulis dan penulis skenario Irlandia. Rooney telah menerbitkan tiga novel: Conversations with Friends (2017), Normal People (2018), dan Beautiful World, Where Are You (2021). Normal People diadaptasi menjadi serial televisi 2020 oleh Hulu dan BBC. Karya-karya Rooney mendapatkan pujian kritis dan kesuksesan komersial, dia dianggap sebagai salah satu penulis milenium terkemuka. Tulisannya telah muncul di The New Yorker, The New York Times, Granta dan The London Review of Books. Selain sebagai pemenang Sunday Times Young Writer of the Year Award pada tahun 2017, dia juga merupakan editor jurnal sastra Irlandia The Stinging Fly.

Sumber: Wikipedia, Amazon



Rekomendasi
Novel ini saya rekomendasikan kepada hanya pembaca dewasa yang mencari buku dengan topik percintaan dan persahabatan, dengan latar masa kini. Tokohnya ditampilkan dengan karakter yang kompleks, mendalam, dinamis, berdimensi, dan manusiawi. Alur maju perlahan dengan pov ketiga. Sebuah novel yang mengajak pembaca untuk ikut merenungkan arti kehidupan dan menemukan keindahannya.

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Shoe Dog - Phil Knight

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 NEW YORK TIMES BESTSELLER.A Memoir by the Creator of Nike. Judul : Shoe Dog Penulis : Phil Knight Jenis Buku : Autobiography Penerbit : Simon and Schuster Ltd Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku The Psychology of Stupidity …

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

    The Number One International Bestseller   Judul :The Psychology of Stupidity Explained by Some of the World's Smartest People Penulis : Jean-François Marmion Jenis Buku : Medical Social Psychology & Interaction, Popular Social Psychology & Interactions...

Read more

Review Buku Januari & Kesunyian Lain…

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Januari & Kesunyian Lain Dalam Tubuhku Penulis : Diondexon Jenis Buku : Puisi, senandika Penata Letak: Dionisius Dexon Penyunting: Tim One Peach Media Pendesain Sampul: Dionisius Dexon Penerbit : One Peach Media Tahun Terbit : Februari...

Read more

Review Buku Anne of Green Gables (Wordsw…

19-07-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Read the timeless classic about the beloved Anne Shirley, a red-haired orphan with a fiery spirit. Now on Netflix   Judul : Anne of Green Gables Penulis : Lucy Maud Montgomery Jenis Buku : Children’s...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more