0

Review Buku Lonely Castle in The Mirror - Mizuki Tsujimura

Published: Sunday, 16 January 2022 Written by Dipidiff

 

Japan Booksellers's Award tahun 2018

For fans of BEFORE THE COFFEE GETS COLD and THE CAT WHO SAVED BOOKS,

fantasy and reality are weaved together in sparse language that belies a flooring emotional punch.

'Strange and beautiful. Imagine the offspring of The Wind-up Bird Chronicle with The Virgin Suicides' - Guardian

 

Judul : Lonely Castle in The Mirror

Penulis : Mizuki Tsujimura

Jenis Buku : Magical Realism, Fantasy Fiction, Science Fiction

Penerbit : Transworld Publishers Ltd

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman :  368 halaman

Dimensi Buku : 21,40 x 13,50 x 3,10 cm

Harga : Rp. 259.000* harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780857527288

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Pada suatu hari tujuh remaja yang tinggal di Tokyo menemukan cermin di kamar tidur mereka bersinar. Karena penasaran mereka mencoba menyentuh cermin itu dan serta merta tubuh mereka masuk ke sebuah dunia lain, ke sebuah kastil menakjubkan yang dipenuhi dengan tangga berliku dan lampu gantung yang berkelap-kelip. Di kastil ini sudah menunggu seorang gadis aneh yang menjelaskan aturan-aturan yang bahkan lebih ganjil lagi kedengarannya. Ketujuh anak terpilih ini diberikan tantangan untuk menemukan rahasia kastil dan yang berhasil menemukannya akan dikabulkan permintaannya. Tapi, ada satu regulasi yang harus mereka patuhi, jika mereka tidak kembali ke dunia nyata pada jam lima, mereka akan mati. Pelan-pelan satu demi satu kebenaran terkuak, dan tidak mudah untuk menerima atau melalui itu semua. Butuh lebih dari sekadar keberanian untuk bisa 'survive'.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Disain sampulnya 'gitu amat' ya, sampe saya kira bukunya lecek, eh ternyata disainnya memang demikian, agak berkesan lampau. Ilustrasi gambarnya jelas mengacu ke tokoh wolf queen, gadis penunggu kastil. Untuk sebuah genre science fiction, disain ini agak diluar dugaan saya sih, tapi karena scificnya ga begitu kental jadi covernya menurut saya masih oke.

 

Tokoh dan Karakter

Kokoro, berhenti masuk sekolah karena dirisak teman sekolahnya.

Rion, rupawan, dan dia pemain bola.

Aki, gadis dengan kuncir kuda, percaya diri tapi rapuh.

Fuka, gadis berkacamata, suaranya khas seperti tokoh anime.

Masamune, gemar sekali bermain game.

Subaro, pendiam dan ada bintik-bintik di wajahnya seperti Ron Weasley.

Ureshino, tubuhnya gemuk, doyan makan, dan mudah jatuh cinta.

----

Wolf Queen, gadis penunggu kastil

Tojo-san / Moe chan, sahabat Kokoro

Sanada, teman sekolah yang arogan dan bossy

----

 

Barangkali kalian akan seperti saya yang sulit menentukan dengan cepat apakah 7 tokoh utama ini likeable atau tidak. Jadi sabar-sabarlah membaca bukunya sampai tamat untuk tau perkembangan karakter tiap tokoh. Deskripsi karakternya memang dalam dan terasa.

Deskripsi fisik tokoh mencukupi, tapi tersebar. Misalnya Kokoro yang melihat dirinya berpenampilan seperti orang sakit, lalu di bagian lain dia digambarkan oleh tokoh lain sebagai gadis yang cantik, atau Aki yang dideskripsikan berpotongan rambut kuncir kuda, lalu di alinea lain disebutkan tubuhnya yang tinggi semampai.

There was a full-length mirror in Kokoro’s room.

She had got her parents to put it up as soon as she had chosen her room – an oval – shaped mirror with a pink stone frame. When she looked at herself in it now, she looked sickly, and she felt like crying. She couldn’t stand to look at it any more.

Page 19

 

With the others there – a mix  of boys and girls – she felt less intimidated. She noticed how one of the boys, head bent, was holding what looked like a game console. Beside him stood a girl with glasses, and a plump-looking boy. Another boy leaning against the wall under the clock seemed at first glance quite good-looking. Even in his sweats, he looked a bit like a celebrity.

As Kokoro inspected them, she began to feel as if she’d seen something she shouldn’t have, and dropped her eyes quickly.

‘Hello,’ a voice said, and she looked up. A tall girl with a ponytail was smiling at her. ‘We’ve also just arrived. We heard you ran off yesterday, so this child told us to wait here for you, so you wouldn’t run away again.’

‘This child?’

‘Call me the Wolf Queen,’ announced the child stiffly.

Page 28.

 

Alur dan Latar

Pov ketiga, alur sedang-cepat, kombinasi maju mundur flashback, mulai asyik disimak begitu kita sudah bisa masuk ke dalam dunia fiksinya yang mana cukup mudah prosesnya karena latarnya mayoritas campuran fantasi-kastil dan dunia nyata-Tokyo. Minimal ga sesulit yang murni fantasi menurut saya.

Di dalam cerita ini para tokoh memasuki dunia lain, sebuah kastil, dengan portal sebuah cermin.

The glow in her room was becoming really bright.

She casually raised her head from her pillow, thinking she should switch off the TV, and gasped.

The TV was not on.

She must haven’t turned it off without realizing.

The light was coming from the full-length mirror near the door.

Page 19

 

Kastil yang ada dideskripsikan fisik dan suasananya dengan jelas, misalnya adanya tanggal, kamar-kamar, dapur, ruang bersama, hingga jam besar dengan pendulum yang bergoyang. Kastil ini diterangi cahaya tapi terasa dingin, ada dapur dan peralatan masak dan makan tapi tidak ada kompor. Dari jendela terlihat taman di luar, tapi tidak ada pintu menuju ke sana.

It looked like the set for a Hollywood film: a grand foyer inside a mansion, with thick carpeted stairs like the ones Cinderella ran down in the film.

The staircases led up to a landing with the tall grandfather clock halfway along. Inside it, a large pendulum swung gently back and forth, revealing a sun and moon design.

Kokoro knew it – this was exactly the same castle she’d been to the previous day.

Page 28

 

The absence of a plate for the apple made her think she’d try to locate the kitchen, if there was one. The Wolf Queen had said there was nothing to eat here, but there could still be plates.

The castle was most definitely cavernous, yet not as absurdly vast as those with dungeouns she’d seen in video games.

The grand foyer with the staircases and the seven mirrors was situated at one end of the castle. From there extended the long red-carpeted hallway towards their individual rooms. Beyond that was a common area, including the Game Room where they played their video games.

There was a dining room, too, which she had spotted earlier.

She stepped in gingerly and let out a yelp of surprise. Through this particular window she could see outside. The windows else where in the castle were made of frosted glass.

The greenery was clearly visible. A closer look revealed an inner courtyard, and beyond that lay the wing with the staircases and mirrors, forming a U-shape around the courtyard.

...

Page 66

 

Ada konflik remaja di sini, ada romance remaja, ada isu parenting juga, dan hal-hal lain yang memperkaya cerita. Membaca Lonely Castle in The Mirror akan membuat kita banyak merenung selagi kita menikmati ceritanya.

Ending novel ini tertutup, meninggalkan kesan yang dalam.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Topik yang diangkat di novel ini menurut saya relate dengan kehidupan orang banyak yang melalui satu episode kehidupan yang namanya sekolah.

Tokoh Kokoro dalam cerita berhenti dari sekolahnya karena mengalami perisakan. Begitu besar trauma yang dia alami hingga tiap mau berangkat ke sekolah manapun setelahnya, dia merasa sakit perut dan ga enak badan, suatu gejala yang jelas mengarah ke psikosomatis. Insiden yang dialami Kokoro nanti akan dibuka sedikit demi sedikit sejalan bergulirnya alur cerita.

Tujuh anak yang ada di Lonely Castle punya cerita masing-masing berkaitan dengan topik sekolah ini. Tidak semuanya seperti Kokoro yang dirisak, ada yang justru orangtuanya yang mengeluarkan si anak dari sekolah karena menganggap sekolah itu buang-buang waktu dan ga ada manfaatnya. Detail cerita tiap anak akan kita ketahui pelan-pelan namun pasti.



Tojo-san and Kokoro had been discussing which after-school club to join. But when the time came to meet, as they’d promised each other, Tojo-san strode right out of the classroom with Sanada and her crew. When they were out in the hallway Sanada said, loudly enough for Kokoro to hear, ‘I feel so sorry for those loners!’

As she slowly packed away her school books, ready to go home, she noticed the stares from the other kids, and Kokoro finally understood, the comment had been meant for her.

...

Why did they pick on me like that? She wondered.

They gave her the silent treatment.

They whispered about her behind her back.

They told other girls not to have anything to do with her.

They laughed.

Laughed and laughed.

Laughing at her, Kokoro.

Page 17



Ada aturan-aturan unik yang berkaitan dengan kastil, misalnya kastil buka sampai bulan Maret tahun depan, ketujuh anak yang diundang ke kastil diberikan misi mencari sebuah kunci kamar harapan. Dia yang berhasil menemukan akan dikabulkan harapannya. Kastil hanya bisa dikunjungi dengan cara masuk ke dalam cermin mereka saat bercahaya, dan tidak boleh ada orang yang melihat saat mereka memasuki cermin. Ada beberapa peraturan lain selain yang barusan saya sebutkan, nanti teman-teman bisa baca sendiri di bukunya.

‘You are all lost Little Red Riding Hoods,’ the Wolf Queen said.’ From now until next March, you will need to search for the key that will unlock the Wishing Room. The person who finds it will have the right to enter and their wish will be granted. In the meantime, every one of you must hunt for it. Do you follow me?’

Page 29



Sekarang saya tau kenapa di amazon ada kalimat "for fans of Before the Coffee Gets Cold". Indeed, ada beberapa hal yang mengingatkan saya pada novel itu pas baca Lonely Castle in the Mirror, pertama soal aturan-aturan yang diterapkan, itu mengingatkan saya pada proses ke masa lalu di buku Before the Coffee Gets Cold yang juga punya aturan-aturan tertentu meski aturannya berbeda. Lalu kedua buku ini sama bergenre magical realism dan fantasi. Hanya Lonely Castle in the Mirror punya unsur scificnya.

Yang pasti, kedua buku ini tetap punya kekhasan masing-masing. Personally, secara emosi, Before the Coffee Gets Cold lebih menguras, tapi Lonely Castle in the Mirror menawarkan lebih banyak misteri dan plot twist. Somehow pesan ceritanya juga lebih fokus karena punya topik tertentu yang digarisbawahi.

Berkaitan dengan latar ada satu hal yang menarik perhatian saya, yakni soal kamar kokoro yang dipenuhi dengan koleksi buku-buku fairy tales yang bukan hanya dalam bahasa Jepang tapi juga dalam dalam bahasa asing; Inggris, Prancis, Jerman dan bahasa lainnya. Koleksinya meliputi Cinderella, Sleeping Beauty, The Snow Queen , dan lain-lain. Yes, di sini kita bertemu dengan tokoh utama pecinta buku. Saya kira penggambaran kamar Kokoro pasti menarik disimak oleh pembaca yang juga suka buku ya. Dan setelah membaca cerita sampai habis nanti, teman-teman akan bisa memahami betapa buku dongeng anak ini juga menjadi bagian dari konsep cerita yang sudah dijalin Tsujimura dari awal hingga akhir.

On one side was a bay window with velvet curtains and white latticework – a window like an empty birdcage she’d only ever seen in a Western fairy tale.

Up against the wall was a bookcase, a huge one.

Kokoro caught her breath. She thought she caught a whiff of old paper. The musty smell that hit your nostril whenever you ventured into the far corner of a tiny bookstore, the place where few people ever want. A smell she loved.

The bookcase covered one entire wall and reached almost to the ceiling. As Kokoro sat on her bed contemplating her room, she felt a little dizzy.

Did everyone have a bookcase like hers?

Page 43

 

Tojo-san’s father was a college professor researching children’s literature. On the wall, he had framed line-drawings from old illustrated books he’d picked up while in Europe. Scenes from stories Kokoro was familiar with: Little Red Riding Hood, Sleeping Beauty, The Little Mermaid, The Wold and the Seven Young Goats, Hansel and Gretel.

‘Pretty weird scenes, aren’t they?’ Tojo-san said. By this time Kokoro was addressing her, too, more familiarly, as Moe-chan.

‘Papa collects drawings by this artist, including their illustrations for the Brothers Grimm books and illustrationss from Hans Christian Andersen stories.’

...

Page 16



Akhirnya saya paham kenapa novel ini bergenre scific ketimbang fantasi, tapi magical realism jelas sekali terasa ya. Tamatkan novelnya sampe selesai, dan teman-teman akan menemukan jawabannya. Apa yang kalian kira predictable mungkin ga semudah keliatannya. Mizuki Tsujimura menulis dengan sangat baik, idenya clear dan solid. Mungkin agak datar-pelan di awal dan tengah, sabar saja, karena bagian akhirnya sangat worth it buat ditunggu.

Di bagian akhir ada halaman bertuliskan informasi bahwa kisah Kokoro dan keenam anak lainnya menggambarkan problema dunia pendidikan di Jepang, kesehatan jiwa para siswa, jumlah anak didik yang drop out, kasus perisakan serta kekerasan, disfungsi keluarga, dan lain-lain. Rasanya kondisi ini tidak hanya terjadi di Jepang kan ya.

‘Because, you know, it’s normal. Compulsory education means going to school, letting the teachers tell you what to do without complaint. It’s way beyond not cool. It’s a nightmare.’

‘Masamune, that’s going a little  too far.’ Subaru smiled wryly, and glanced at Kokoro. ‘I think you startled her.’

‘But it’s true,’ Masamune insisted. ‘My parents had a huge bust-up with my homeroom teacher in sevent grade. They figured a pathetic school like that was not worth going to, and gave up on it.’

...

Page 53

 

There were so many things she wanted to say to her mother – that she wasn’t pretending to be ill, that she didn’t hate the School at all. She felt she needed to open up about all her feelings, and explain them in detail, but she was afraid that if she stayed in her mother’s company any longer, her mother would explode. She didn’t want to hear her mother on the phone calling the School to explain yet another absence, and so, carrying her pain alone, she trudged back upstairs.

Page 42



"We can help each other", sebuah kalimat yang membekas di benak saya setelah beres baca novel ini. Sebagai orangtua saya jadi tersadarkan, sebagai edukator saya jadi berpikir, sebagai individu saya jadi merenung. Kelak kalo putra saya sudah sampai pada usia sekolah, kisah Kokoro akan saya ceritakan. Akan lebih baik juga kalo dia baca sendiri lalu mendiskusikannya dengan saya.

Saya sebut Lonely Castle in the Mirror sebagai 'buku dengan sebuah misi".

 

Siapa Mizuki Tsujimura

Mizuki Tsujimura adalah seorang penulis Jepang yang berspesialisasi dalam novel misteri. Ia menulis buku anak maupun dewasa. Tsujimura memenangkan Japan Booksellers's Award tahun 2018 untuk novelnya Kagami no Kojo (Lonely Castle in the Mirror). Setelah terpilih beberapa kali untuk Naoki Prize, dia akhirnya menerima Naoki Prize 2012 untuk Kagi no nai Yume wo Miru (I Saw a Dream Without a Key). Novel Sumber: Buku Lonely Castle in The Mirror

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini kepada pembaca yang mencari genre magical realism, science fiction, dan fantasi dengan isu problem di sekolah seperti perisakan, depresi, disfungsi keluarga, dengan penekanan pesan persahabatan, dan keluarga yang setia, saling mendukung, percaya, dan penuh kasih. Tokohnya dinamis dan terasa hidup. Latar kota Tokyo yang mengambil setting sekolah, rumah, dan mayoritas kastil di dalam cermin. Alurnya pelan-sedang mendalam. Plot twist di akhir sangat layak ditunggu. Ending tertutup meninggalkan pesan yang mendalam tentang harapan dan bahwa masa-masa sulit akan terlewati dengan saling membantu satu sama lain.

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Shoe Dog - Phil Knight

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  #1 NEW YORK TIMES BESTSELLER.A Memoir by the Creator of Nike. Judul : Shoe Dog Penulis : Phil Knight Jenis Buku : Autobiography Penerbit : Simon and Schuster Ltd Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku The Psychology of Stupidity …

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

    The Number One International Bestseller   Judul :The Psychology of Stupidity Explained by Some of the World's Smartest People Penulis : Jean-François Marmion Jenis Buku : Medical Social Psychology & Interaction, Popular Social Psychology & Interactions...

Read more

Review Buku Januari & Kesunyian Lain…

01-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Januari & Kesunyian Lain Dalam Tubuhku Penulis : Diondexon Jenis Buku : Puisi, senandika Penata Letak: Dionisius Dexon Penyunting: Tim One Peach Media Pendesain Sampul: Dionisius Dexon Penerbit : One Peach Media Tahun Terbit : Februari...

Read more

Review Buku Anne of Green Gables (Wordsw…

19-07-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Read the timeless classic about the beloved Anne Shirley, a red-haired orphan with a fiery spirit. Now on Netflix   Judul : Anne of Green Gables Penulis : Lucy Maud Montgomery Jenis Buku : Children’s...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Apa Kabar Batik Indonesia di Masa Pandem…

24-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Batik salah satu kekayaan bangsa kita, yuk tunjuk tangan siapa yang sama bangga dan cinta dengan batik Indonesia? sayaaa... :)   Yup, hari Batik Nasional jatuh di tanggal 2 Oktober kemarin ya. Artinya...

Read more

Mengenal Batik Indonesia Lebih Dalam (Se…

22-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Berusaha membaca dan meriset tentang batik Indonesia itu ternyata seperti tertimbun di banyak sekali sumber informasi, mulai dari wikipedia, artikel lepas, tulisan blogger, ebook, berita media dan lain sebagainya. Saya...

Read more

Cara Membuat Batik (Teori dan Praktik)

20-10-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setelah menyimak situasi perbatikan Indonesia dan dunia saat ini, lalu membaca-baca sejarah, makna, dan motif batik Indonesia, tentu saya jadi ingin tau lebih dalam tentang teknik membatik. Mungkin teman-teman juga...

Read more