0

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum Mengundurkan diri

Published: Sunday, 17 October 2021 Written by Jeffrey Pratama

 

Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu pake embel-embel “Great” didepannya. The Great Depression, The Great Resession, sekarang Resignation. Tapi bukan soal istilahnya yang mau kita bahas.

Pengunduran diri besar-besaran di Amerika Serikat terjadi mulai tahun ini, bahkan ditengah-tengah pandemi COVID-19 yang masih belum usai. Bureau of Labor Statistic Amerika (semacam Biro Pusat Statistiknya sana tetapi khusus untuk perburuhan) mengatakan bahwa tidak kurang dari empat juta rakyat AS yang berhenti dari pekerjaannya di bulan July 2021 lalu! Hal ini menyebabkan jumlah lowongan pekerjaan di sana menembus rekor tertinggi sebanyak 10.9 juta lowongan pekerjaan pada bulan yang sama. Wow!

Di Indonesia sendiri bagaimana?

Sepertinya Indonesia tidak memiliki data atau laporan khusus yang menunjukkan angka pengunduran diri kaum pekerjanya. Kita memang punya data jumlah pengangguran (yang meningkat drastis selama pandemi ini, tentunya), tetapi untuk jumlah pengunduran diri ataupun jumlah lowongan kerja yang ada, rasanya belum ada.

Kendatipun demikian, sepertinya aman untuk mengatakan bahwa orang yang mengundurkan diri dari pekerjaannya meski di tengah ketidak jelasan kondisi akibat COVID-19 ini masih tetap saja ada. Indikasi paling mudah adalah ketika kita berselancar di media sosial LinkedIn, tidak jarang kita temui koneksi kita yang mengubah deskripsi pekerjaannya.

Nah….

Mengundurkan diri memang sebuah fenomena yang tidak luar biasa, sih. Ini adalah hal yang sangat wajar di dalam dunia pekerjaan. Apalagi, di jaman milenial seperti sekarang ini, dimana generasi-generasi terbarunya (Gen Y dan Z) sudah mulai menapaki dunia kerja, perubahan budaya dalam bekerja sudah terlihat, termasuk budaya pengunduran diri. Sebuah studi dari konsultan internasional mengatakan bahwa generasi millenial berganti-ganti pekerjaan setiap 2-3 tahun sekali. Semakin lama, durasi berganti-ganti pekerjaan ini semakin pendek. Semakin banyak kaum muda yang berpindah pekerjaan. Artinya, pengunduran diripun bukan hal yang tabu di mata mereka.

Ketabuan sudah tidak menjadi soal. Yang berpotensi menjadi persoalan adalah bila kita tidak mempertimbangkan masak-masak sebelum mengambil keputusan pengunduran diri tersebut. Tanpa berpikir baik-baik, keputusan tersebut dapat menjadi blunder yang tidak jarang disesali.

Jika demikian, apa saja yang harus dipikirkan sebelum mengundurkan diri?

 

Sebelum Mengundurkan Diri….

 

Tanyakan pada diri sendiri, apakah ini emosi sesaat? Terkadang keputusan untuk mengundurkan diri datang karena luapan emosi sesaat saja. Habis dimarahi bos, merasa kesal, lalu ingin keluar. Habis bertengkar dengan rekan kerja, merasa tidak terima, lalu bawaannya pengen mundur saja. Tidak tahan dengan kerjaan yang diberikan atasan, merasa capek hati, pengennya cari yang lain saja. Semua yang terjadi itu wajar di dalam dunia kerja. Yang namanya bekerja pasti ada tidak enaknya, dimanapun itu. Jadi, ketika mengalami hal yang kurang baik, jangan buru-buru bertindak. Berhenti dulu sejenak. Tunggu sampai kepala cukup dingin untuk berpikir, baru kemudian tanyakan kepada diri sendiri, apakah sudah tidak ada jalan keluar yang mungkin dicari selain mengundurkan diri? Apakah ini keputusan yang logis, ataukah hanya luapan emosi saja? Jangan pernah mengambil keputusan dengan kepala yang panas.

Pastikan sudah punya exit strategy. BIla tetap memutuskan untuk mengundurkan diri, pastikan kamu sudah punya pegangan dulu. Maksudnya di sini adalah sudah mendapatkan pekerjaan baru, sudah punya tabungan yang cukup untuk kebutuhan darurat, sudah tahu cara bayar tagihan selama belum dapat pekerjaan baru bagaimana, dan sebagainya. Bila kamu adalah fresh grad, resiko memang lebih kecil ketimbang bila kamu sudah berkeluarga. Akan tetapi bukan berarti resiko tersebut boleh diabaikan. Jadi, perhitungkan resiko dengan baik, dan buat strategi untuk mengatasi resiko tersebut. Jangan sampai mati konyol.

Pastikan pekerjaan barumu lebih baik dari yang sekarang, setidaknya di atas kertas. Karena jika tidak, apa gunanya keluar dari tempat lama? Lakukan perbandingan yang sejajar antara pekerjaan lama dan baru. Apabila jenis pekerjaannya berbeda, tetap saja ada beberapa hal yang dapat langsung dibandingkan. Misalnya antara pekerjaan kantoran dengan wiraswasta. Kita dapat membandingkan waktu kerja, besarnya pendapatan bulanan, tekanan terhadap pekerjaan, dan lainnya. Bila jenis pekerjaannya sama, maka sedikit lebih mudah untuk membandingkannya. Reputasi, besaran pendapatan, peran dalam pekerjaan, jarak dengan kediaman, dan lainnya. Pastikan keuntungannya sepadan dengan keputusan untuk mengundurkan diri.

Saat mengundurkan diri, cobalah sebisa mungkin mempertahankan hubungan baik dengan mantan. Mundurlah dengan baik-baik tanpa perlu ada berita miring. Reputasi itu sangat sulit dibangun, namun sangat mudah hancur. Jangan sampai apa yang telah dipupuk sekian lama, kemudian menjadi rusak hanya karena kita abai menjaga hubungan dengan mantan pemberi kerja kita.

Terakhir, bila sudah mundur, bertanggung jawablah pada keputusanmu. Sedapat mungkin jangan menarik lagi keputusan yang sudah dibuat, karena ini hanya akan membuatmu seakan-akan tidak berpikir matang di depan, dan menunjukkan ketahanan kamu yang kurang baik di mata orang lain. Bertanggung jawablah atas apa yang sudah dilakukan, dan cobalah untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak. Bila kamu pindah kerja dan ternyata tidak betah di tempat baru, misalnya, upayakan untuk dapat beradaptasi dulu dengan lingkungan barumu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan kalau kamu tidak dapat bertahan di sana. Selalu ada jalan keluarnya. Bila memang tidak ada, maka lakukanlah kembali langkah-langkahnya dari atas.

 

Kelima langkah di atas dapat dilakukan untuk membantu keputusanmu untuk mengundurkan diri. Pada akhirnya, keputusan memang ada ditangan masing-masing, tetapi semoga apa yang tertulis di atas dapat bermanfaat.

 

Semoga pekerjaan barumu dilancarkan, yaaa.

 

Jeffrey Pratama adalah seorang praktisi Human Resource yang telah 15 tahun berkarir di beberapa perusahaan terbaik di Industrinya. Selain sebagai seorang Executive Professional, Jeffrey juga merupakan seorang Coach yang tersertifikasi, dengan passion yang mendalam di bidang pengembangan diri dan karir, khususnya bagi anak-anak muda. Penggemar music jazz dan klub sepakbola Manchester United ini juga penikmat setia buku-buku, khususnya yang terkait dengan pengembangan diri dan bisnis.

Saat ini Jeffrey juga secara rutin menjadi narasumber dalam diskusi online dengan Dipidiff seputar kehidupan profesional. Anda dapat mengikuti diskusi ini setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu pukul 08.30 WIB di channel IG LIVE @dipidiffofficial

Tentang Caranya Mengelola Waktu

Published: Wednesday, 11 August 2021 Written by Jeffrey Pratama

 

 

“Seandainya masih ada waktu...”

Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup.

Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa yang sudah hilang tidak dapat digantikan. Di lain sisi, jumlah waktu yang tersisa pun tidak dapat diprediksi. Jadi, jika ada yang berkata bahwa waktu adalah sumber daya yang paling berharga, tampaknya itu benar.

Ironinya adalah, meskipun waktu dianggap sebagai salah satu harta yang paling bernilai, banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara menggunakannya secara maksimal. Pada saat seharusnya waktu dipakai untuk hal-hal yang produktif, misalnya, ada orang-orang yang malah menggunakannya untuk berdiam, bermain, bersantai, dan lainnya, sehingga waktu menjadi terbuang sia-sia. Pada saat waktu yang tersisa semakin menipis, barulah mereka menyadari, dan kemudian muncullah pernyataan-pernyataan seperti yang kita baca di awal tulisan ini.

 

Lalu, bagaimanakah kita dapat mengelola waktu agar lebih maksimal?

Sebenarnya pertanyaannya kurang tepat. Waktu tidak dapat dikelola, karena waktu bergerak secara mandiri, linear, menuju satu-satunya titik yang dia ketahui: masa depan. Kita tidak dapat mengelola waktu. Yang dapat kita kelola ada prioritas kita. Inilah yang mungkin menjadi akar masalah dari banyak orang dalam hidupnya, kegagalan mengelola prioritas.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mengelola prioritas. Ada yang semuanya dihajar tanpa tedeng aling-aling, ada yang memakai filosofi mengalir bagai air (hanya untuk hanyut tanpa disadari), bahkan ada pula yang boro-boro mengelola, prioritas saja mungkin tidak punya. Setiap kepala dapat memiliki metode masing-masing. Salah satu kepala yang kita jadikan rujukan kali ini adalah Dwight D. Eissenhower.

Bagi yang tidak familiar dengan namanya, Dwight D. Eissenhower adalah presiden Amerika Serikat ke-34, yang menjabat selama dua periode, dari kurun waktu 1953-1961. Eissenhower dikenal sebagai sosok yang sangat produktif selama masa baktinya. Dalam delapan tahun, dia mengembangkan sistem jalan tol lintas negara bagian, mendirikan NASA dalam upayanya memenangkan perang ruang angkasa melawan Rusia, meluncurkan DARPA, dan banyak capaian lainnya. Metodenya dalam mengelola prioritas-prioritas kerja telah menjadi kajian dan rujukan bagi banyak pakar, termasuk salah satunya oleh Stephen Covey, seorang pakar manajemen yang terkenal dengan bukunya the 7 Habits of Highly Effective People.

 

The Eissenhower Matrix

Mengacu pada teknik yang digunakan oleh Eissenhower, dalam buku the 7 Habits of Highly Effective People dikatakan bahwa kita dapat lebih efektif mengelola prioritas dengan memilah-milah jenis pekerjaan kita ke dalam sebuah sistem yang memiliki empat kuadran yang berbeda-beda.

Sistem ini berupa matriks yang terdiri dari dua sumbu, yakni tingkat kepentingan (importance), yang berbicara tentang seberapa penting sebuah aktifitas itu memiliki dampak terhadap tujuan kita ke depan, terdiri atas dua katagori berbeda: penting dan tidak penting; sumbu yang satu lagi bicara tentang tingkat kegentingan (urgency), yang lebih berbicara tentang konteks waktu – seberapa genting sebuah aktifitas harus dilakukan saat ini. Katagori ini juga terdiri atas dua katagori berbeda: genting dan tidak genting. Ketika katagori-katagori ini saling bersinggungan, akan terbentuk empat kelompok prioritas yang dapat kita gunakan sebagai patokan kita dalam beraktifitas.

  • Lakukan Sekarang (Penting – Genting): Ini adalah kotak prioritas tertinggi. Pertemuan antara katagori penting dan genting ini membuahkan sekelompok aktifitas yang memang sangat krusial untuk segera diselesaikan, karena memiliki dampak besar terhadap tujuan kita dan kita terbatas oleh waktu dalam menyelesaikannya. Biasanya, yang masuk dalam kelompok ini adalah aktifitas-aktifitas yang sudah mau habis tenggat waktunya, permintaan-permintaan dadakan dari si boss, atau ada masalah gawat yang muncul, yang perlu segera diselesaikan. Ketika kita mencoba mengelompokkan aktifitas-aktifitas kerja kita, masukkanlah pekerjaan-pekerjaan semacam itu ke dalam kelompok ini, agar kita tahu apa yang harus segera kita kerjakan, lalu segera selesaikan sekarang juga.

 

  • Putuskan (Penting – Tidak Genting): ini adalah kotak prioritas ideal. Dalam merencanakan aktifitas kerja, sebaiknya kebanyakan aktifitas kita masuk dalam prioritas ini. Artinya kita membuat perencanaan dengan bingkai waktu yang jelas dan tidak terburu-buru. Dalam pengelolaan proyek, sebaiknya memang kita terus dapat memantau pekerjaan kita agar tidak terlalu banyak yang masuk dalam kotak “Lakukan Sekarang”, tetapi lebih banyak yang ada di dalam kotak “Putuskan”. Kotak ini berarti bahwa kita melakukan perencanaan jangka panjang yang baik, dan biasanya aktifitas-aktifitas yang ada di dalam kotak ini juga merupakan aktifitas yang jangka panjang juga. Misalnya rencana menyelesaikan sertifikasi atau pelatihan tertentu, menyelesaikan sebuah proyek tertentu, pelaksanaan aktifitas rutin tahunan, dan lain sebagainya. Jika menemukan aktifitas-aktifitas yang tergolong dalam kotak ini, maka kita dapat memutuskan: apa yang kita akan lakukan selanjutnya. Setelah itu, buat jadwalnya, dan lakukan sesuai jadwal tersebut.

 

  • Alihkan (Tidak Penting – Genting): ini adalah kelompok aktifitas yang kadang menyebalkan. Bagaimana tidak, aktifitas-aktifitas dalam kelompok ini sebenarnya tidak penting dan tidak memiliki dampak signifikan terhadap tujuan kita, namun perlu untuk segera ditangani saat ini. Repotnya lagi, terkadang beberapa hal dalam kelompok ini justru banyak menyita sumber daya kita (waktu, energi, uang, dan lainnya), sehingga kita menjadi teralihkan dalam mengerjakan apa yang benar-benar perlu. Beberapa contoh aktifitasnya seperti rapat rutin yang dapat didelegasikan, pekerjaan dadakan tambahan yang tidak terkait dengan pekerjaan utama kita, telepon yang tidak perlu-perlu amat, dan lainnya. Jika menemukan aktifitas-aktifitas semacam ini, maka penanganan yang terbaik adalah untuk segera mengalihkan (mendelegasikan) pekerjaan tersebut kepada orang lain. Kita dapat mendelegasikannya kepada anggota tim kita, atau kepada orang lain yang memang kita nggap dapat membantu kita menyelesaikan pekerjaan ini dengan campur tangan seminimal mungkin dari kita. Memang ada beberapa hal yang tidak dapat didelegasikan, misalnya ada anggota keluarga yang tiba-tiba menghubungi kita ditengah pekerjaan untuk mengabarkan berita duka, atau ada pekerjaan dadakan yang memang tidak dapat dialihkan. Namun usahakan pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak terlalu menyita banyak sumber daya, dan kita dapat segera beralih ke kotak yang lain.

 

  • Hilangkan (Tidak Penting – Tidak Genting): ini adalah kelompok aktifitas yang tidak ada manfaatnya, tidak ada batasan waktunya, tetapi kadang menjadi hal yang paling sulit untuk kita hilangkan. Main games di ponsel, ngobrol dengan rekan kerja di toilet selama setengah jam padahal urusan toilet sudah beres, bergosip tentang atasan di ruang makan, tidur saat jam kerja, semua hal-hal yang menyenangkan namun tidak ada gunanya dalam pencapaian kerja kita ada dalam kelompok ini. memang argumentasi yang sering kita munculkan untuk membenarkan aktifitas-aktifitas semacam ini adalah “kita juga manusia, butuh refreshing...”, tetapi dalam pencapaian prioritas, kita perlu mempertimbangkan kembali apakah hal-hal yang kita sebut sebagai “refreshing” itu benar-benar diperlukan, atau mungkin perlu kita hilangkan segera.

 

Dalam melakukan hal-hal yang menjadi prioritas, penting bagi kita untuk bertanya kembali ke diri sendiri mengentai tujuan akhir yang ingin dicapai. Kembalilah kepada tujuan tersebut, barulah setelah itu kita dapat membuat prioritas-prioritas kerja yang lebih baik. Kuncinya bukan pada mengelola waktu, karena waktu tidak dapat dikelola. Tetapi kelolalah prioritas-prioritas diri kita sendiri, karena itu yang ada dalam kendali kita, bukan yang lain.

 

 

About Jeff:

Jeffrey Pratama adalah seorang praktisi Human Resource yang telah 15 tahun berkarir di beberapa perusahaan terbaik di Industrinya. Selain sebagai seorang Executive Professional, Jeffrey juga merupakan seorang Coach yang tersertifikasi, dengan passion yang mendalam di bidang pengembangan diri dan karir, khususnya bagi anak-anak muda. Penggemar music jazz dan klub sepakbola Manchester United ini juga penikmat setia buku-buku, khususnya yang terkait dengan pengembangan diri dan bisnis.

Saat ini Jeffrey juga secara rutin menjadi narasumber dalam diskusi online dengan Dipidiff seputar kehidupan profesional. Anda dapat mengikuti diskusi ini setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu pukul 08.30 WIB di channel IG LIVE @dipidiffofficial

 

 

 

Kerja Keras vs Kerja Keras

Published: Tuesday, 13 July 2021 Written by Jeffrey Pratama

 

Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang banyak dipraktekkan oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok. Sistem kerja ini, sesuai namanya,  berasal dari penerapan jam kerja karyawan yang di mulai dari jam 9 pagi, selesai di jam 9 malam, sepanjang 6 hari dalam seminggu. Total waktu kerja? 72 jam per minggu. Ada banyak sekali perusahaan di negeri tirai bambu tersebut yang mendukung dan memberlakukan sistem kerja ini, salah satu yang pasti adalah Alibaba Group, dimana Jack Ma berperan sebagai pendirinya.

Dengan sistem kerja 996 ini, sangat terlihat bahwa kerja keras dijadikan sebagai salah satu ukuran utama di dalam bekerja. Suatu hal yang kerap menjadi tolok ukur kesuksesan dari kebanyakan generasi yang lebih tua di sana, yang dianggap banyak berkontribusi terhadap keberhasilan negeri tersebut. Namun kisahnya kini tentu berbeda. Jika di jamannya, bekerja keras seakan-akan menjadi sebuah persyaratan mutlak untuk dapat merengkuh kesuksesan, tidak demikian yang berlaku pada jaman ini. Kerja keras telah menemukan lawan yang sebanding, yakni kerja cerdas, sesuatu yang entah dimulainya kapan, tetapi telah menjadi slogan bagi nyaris semua (jika tidak mau dikatakan: semua) generasi muda saat ini.

 

Masihkah relevan?

Rasanya tidak mungkin kalau generasi sebelumnya (katakanlah generasi X dan Baby boomers) tidak ada yang bekerja secara cerdas, meskipun jargon kerja cerdas ini belum terlalu ngetren di jaman mereka. Demikian pula sebaliknya, rasanya kurang ajar juga kalau mengatakan generasi sekarang ini semuanya pemalas dan tidak ada yang ikhlas bekerja keras. Antara kerja keras dan kerja cerdas sebenarnya berjalan beriringan, hanya saja mungkin perbedaan generasi dan atribut yang mengiringinya membuat seakan-akan salah satu frasa terkesan lebih melekat pada satu generasi ketimbang generasi lainnya.

Fakta yang terjadi saat ini adalah dunia sudah berubah, jauh dari dunia yang kita kenal 10-15 tahun yang lalu. Perkembangan teknologi yang terjadi secara eksponensial, revolusi industri yang melibatkan kecerdasan artifisial semakin menjamur di berbagai bidang, dan yang terbaru adalah kondisi pandemi yang menghantam seluruh penjuru bumi, membuat orang-orang yang masih tinggal di planet ini perlu berubah.

Tanpa pandemi saja, generasi yang lebih muda sudah terkenal dengan karakter yang lebih dinamis, ambisius, menginginkan hasil secara cepat, dan lainnya. Dengan adanya pandemi, karakter yang sama juga dituntut untuk dimiliki oleh generasi-generasi sebelumnya, suka ataupun tidak.

Di sisi lain, pandemi global ini memberikan dampak kepada nyaris semua sektor kehidupan masyarakat. Selain persoalan kesehatan, yang terdampak sangat hebat adalah perkara ekonomi. Banyak industri yang harus menyerah dan gulung tikar, dan industri-industri lain terpaksa harus memikirkan kembali strateginya hanya untuk bisa bertahan. Banyak orang kehilangan pekerjaannya, dengan segudang alasan yang mereka terima dari perusahaan mereka. Banyak pengusaha kecil yang juga harus menutup usahanya. Lapangan kerja memang masih ada, tetapi kian terbatas. Sedangkan pencari kerja semakin banyak. Antara ketersediaan dan permintaan menjadi makin tidak imbang. Di sisi lain, bagi yang masih tetap bekerja perlu selalu waspada dan menunjukkan kinerja di level tertinggi, karena mereka tidak akan pernah tahu, bisa jadi esok adalah hari terakhirnya bekerja di sana.

Jadi, di era ketidak-pastian ini, baik kerja keras dan kerja cerdas itu sama pentingnya.

 

Bekerja Secara Efektif

Mungkin ada satu hal yang dapat ditawarkan untuk menjembatani pertentangan antara kerja keras dan kerja cerdas. Meskipun sejatinya kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, tetapi kadang masih ada saja orang-orang yang menggunakan pembelaan “kerja cerdas” di kala mereka sedang dipertanyakan etos kerja, sikap, kemampuan komunikasi, dan lainnya. Sebaliknya, masih ada juga pihak-pihak yang masih menggunakan kutipan-kutipan motivasi yang seakan-akan hanya mengagungkan “kerja keras” ketimbang faktor-faktor lainnya.

Nah, berbicara mengenai faktor-faktor lainnya. Kesuksesan seseorang tidak hanya bergantung pada faktor “kerja keras” atau “kerja cerdas” saja. Masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi sebuah keberhasilan. Sikap yang tepat, komunikasi yang baik, pembimbing yang mendukung, bahkan terkadang sampai yang namanya “keberuntungan” pun diperlukan. Oleh karena itu, sebenarnya seseorang tidak dapat hanya bergantung pada kecerdasan atau kegigihan bekerja semata.

Mungkin yang lebih tepat ketimbang bekerja keras atau cerdas adalah bekerja secara efektif. Bekerja secara efektif artinya bekerja sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pekerjaan tersebut. Pada saat perencanaan, lebih banyak menggunakan analisa dan kemampuan konsepsi, pemikiran kritis, penelusuran data dan informasi pendukung, dan lainnya. Singkatnya, kerja cerdas lebih cocok di fase ini.

Namun ketika sampai pada tahap pelaksanaan, maka seyogyanya kemampuan untuk menjalankan rencana yang lebih krusial dibutuhkan. Kegigihan seseorang untuk tetap pada garis perencanaan dan menyelesaikan apa yang telah disepakati di awal menjadi kunci. Jadi kerja keras akan lebih berperan di sini. Tentunya pada fase ini tetap diperlukan pengawasan yang juga membutuhkan kemampuan tertentu.

Intinya adalah, untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, yang dibutuhkan adalah gabungan dari kerja keras dan kerja cerdas, yang turut didukung oleh kemampuan-kemampuan lainnya. Jadi pada saat bekerja, jangan terpaku pada “yang penting kan kerja cerdas”, atau “saya akan bekerja keras” semata, tetapi lihatlah jenis pekerjaan yang ada, cari tahulah apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, lalu gunakan kemampuan-kemampuan yang ada sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pekerjaan tersebut.

Bekerjalah secara adaptif, dimana kita dapat secara mudah beganti-ganti mode tergantung dari tantangan yang kita hadapi di depan. Bekerjalah, tidak hanya mengandalkan pada jargon “keras” atau “cerdas” semata, yang beresiko menghasilkan kinerja yang tidak optimal. Bekerjalah secara efektif, karena itulah yang membedakan antara orang yang pekerjaannya berhasil dan gagal.

 

About Jeff:

Jeffrey Pratama adalah seorang praktisi Human Resource yang telah 15 tahun berkarir di beberapa perusahaan terbaik di Industrinya. Selain sebagai seorang Executive Professional, Jeffrey juga merupakan seorang Coach yang tersertifikasi, dengan passion yang mendalam di bidang pengembangan diri dan karir, khususnya bagi anak-anak muda. Penggemar music jazz dan klub sepakbola Manchester United ini juga penikmat setia buku-buku, khususnya yang terkait dengan pengembangan diri dan bisnis.

Saat ini Jeffrey juga secara rutin menjadi narasumber dalam diskusi online dengan Dipidiff seputar kehidupan profesional. Anda dapat mengikuti diskusi ini setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu pukul 08.30 WIB di channel IGl LIVE @dipidiffofficial

 

Mencari Panutan

Published: Saturday, 24 July 2021 Written by Jeffrey Pratama

 

Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming.

“Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen tahu perspektifnya tentang Barack. Soalnya gue justru mengidolakan Barack Obama” timpal saya waktu itu.

Ini hanya sebuah percakapan sederhana antara dua orang mengenai tokoh yang menjadi idola mereka. Hm… idola… Mungkin lebih tepat bila kata yang digunakan adalah panutan, yang merupakan terjemahan bebas saya terhadap Role Model.

Barack Obama adalah panutan saya. Meskipun kami tidak pernah bertemu muka apalagi bertegur sapa, tetapi diam-diam saya mengikuti sepak terjangnya baik sebelum, pada saat, maupun jauh setelah dia selesai menjadi presiden. Dari Barack, saya belajar tentang cara berkomunikasi, penggunaan intonasi dan pemilihan kata-kata untuk menekankan sebuah persoalan tertentu, ketenangannya dalam berargumen, pilihan waktu yang digunakan untuk marah, diam, dan melontarkan lelucon-lelucon untuk menghangatkan suasana. Banyak sekali wawasan yang saya dapatkan hanya dengan menonton youtube dan membaca artikel-artikel tentangnya.

Tetapi sekarang kita tidak sedang membahas tentang Barack Obama. Kita akan berdiskusi tentang panutan.

 

Semua orang ingin memiliki panutan. Ini lumrah. Kita membutuhkan panutan karena kita tumbuh dengan lingkungan yang penuh dengan perbandingan. Orang tua kita menempatkan diri mereka sebagai panutan terawal kita, ditunjukkan dengan bagaimana cara mereka merawat kita, dan bagaimana mereka menampilkan diri mereka sendiri di hadapan kita. Sedikit banyak ini pun berpengaruh kepada cara kita berpikir. Kita kerap menganggap orang tua kita – minimal salah satu diantara mereka – sebagai pahlawan kita, yang terkadang justru terbawa sampai usia dewasa, dimana kita tidak jarang mencari pasangan yang memiliki sifat “mirip orang tua”.

Nah. Ketika umur kita semakin matang, katakanlah memasuki usia produktif, maka kriteria “panutan” pun berkembang. Di saat memasuki dunia remaja, kadang kita menempatkan salah satu siswa paling populer, yang belum tentu kita kenal, sebagai tolok ukur kita. Siswa paling ganteng, paling cantik, paling punya banyak pengikut di media sosial, paling digilai lawan jenis, dan seterusnya. Bagi yang mainstream, bisa juga kita menempatkan siswa paling rajin, pintar, juara kelas, jawara olimpiade sains, atau yang sejenisnya, menjadi panutan kita.

Ketika kita memasuki dunia produktif, yang saya letakkan dalam konteks bekerja secara profesional, sosok panutan kita kembali berubah. Kita memalingkan pandangan kita kepada tokoh-tokoh seperti Steve Jobs, Elon Musk, Bill Gates, atau tokoh lokal seperti Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, Belva Devara, dan segudang tokoh inspiratif lainnya. Siapapun itu, yang menjadi panutan kita adalah seseorang yang dalam bayangan kita memiliki apa yang dibutuhkan untuk sukses seperti apa yang kita mau, dan darinya-lah kita bisa belajar untuk meraih kesuksesan tersebut.

Memiliki panutan selalu merupakan hal yang baik. Namun yang menjadi masalah adalah apabila kita salah memilih panutan. Mungkin tidak akan terlalu menjadi soal, bila orang tersebut hanya sekedar idola saja. Akan tetapi ketika kita menjatuhkan pilihan kita kepada seseorang untuk mengisi peran panutan dalam hidup kita, artinya kita akan mempelajari dia dan berusaha untuk sedekat mungkin menjadi seperti orang tersebut. Runyam ketika ternyata orang yang selama ini menjadi panutan kita ternyata tidak sebaik itu.

Kita dapat saja berargumen, “ya saya kan ngga goblok juga yaa…. Yang bagus ya saya ambil, yang tidak bagus ya saya ngga ikutin. Kan gitu aja.”

Tidak semudah itu, kawan.

Tidak semua orang paham apa yang baik dan benar. Ini bukan persoalan pintar atau bodoh. Analoginya begini. Seorang balita yang baru belajar berjalan dan memiliki orang dewasa untuk mendampinginya, memberikan contoh cara berjalan yang baik, mengkoreksi kesalahan si balita, memberikan pujian ketika langkahnya benar, akan memiliki peluang lebih besar untuk bisa berjalan dengan benar, ketimbang bila anak tersebut hanya memiliki binatang peliharaan disampingnya. Bukan karena anak itu pintar atau bodoh, tetapi karena pada saat dia sedang belajar berjalan, kognitifnya belum berkembang sampai pada kondisi dia bisa memahami mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Ketika kita menempatkan orang yang salah sebagai panutan kita, kadang kita tidak sadar dan mencoba untuk ikut semua nasihat atau pelajaran hidupnya, termasuk hal-hal yang tidak benar. Sayangnya, tidak jarang ketika kita akhirnya menyadari, segala sesuatunya sudah terlambat.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk bisa memilih panutan-panutan yang tepat. Apalagi saat ini dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan media sosial yang mengambil porsi besar keseharian kita, kita akan sangat mudah sekali terekspos kepada tokoh-tokoh tertentu yang terkesan mulia, namun sejatinya tidak demikian. Orang-orang seperti ini menggunakan istilah trendi “personal branding” sebagai senjata andalan mereka untuk menggaet pengikut, padahal di luar dari yang mereka tampilkan di media, banyak juga yang payah.

 

Lalu, Apa sih Kriteria Panutan yang tepat?

Sebenarnya tidak ada patokan baku mengenai siapa yang boleh – atau tidak boleh – menjadi panutan kita. Tokh itu adalah urusan kita, dan kita yang tahu apa yang kita mau.

Meskipun demikian, ada baiknya sebelum kita memutuskan mau mengidolakan siapa lalu kemudian membuat dia menjadi suri tauladan kita, kita lihat dulu beberapa hal ini. Pertama, karakter. Pelajarilah karakter orang yang kita pikir pantas jadi panutan kita. Apabila kita kenal langsung orang tersebut, akan jauh lebih mudah. Kita bisa ngobrol dengannya, menggali lebih dalam apa nilai-nilai dan prinsip hidupnya, mengetahui latar belakang perjalanan kesuksesan (serta kegagalan)-nya, dan lain-lain. Bila kita tidak punya kesempatan untuk mengenalnya, maka kita selalu dapat menggunakan jemari kita untuk mencari di google. Jika dia adalah seorang tokoh terkenal, harusnya ada banyak artikel yang dapat kita kulik tentang sosok orang tersebut.

Kedua, lihat reputasinya. Reputasi disini termasuk karya-karyanya, dan juga kegagalan-kegagalannya. Caranya pun sama seperti di atas, bila kenal langsung orangnya, galilah orang tersebut. Bila tidak kenal, gunakan keajaiban teknologi masa kini, pelajari media sosialnya, artikel-artikel publikasi tentang dia, apapun itu. Jangan hanya menggali yang baik-baik saja, tetapi cobalah cari semuanya. Ingat untuk tetap memiliki pemikiran yang terbuka, objektif, dan fokus pada fakta yang ada. Sebuah informasi tentang kejelekan seseorang bukan berarti bahwa orang tersebut jelek seluruhnya, tetapi minimal kita memiliki pandangan yang lebih menyeluruh terkait orang tersebut.

Ketiga, tanyakan kepada orang lain. Seseorang yang pantas menjadi panutan, biasanya akan memiliki “penggemar” yang tidak cuma seorang-dua orang. Bila itu orang yang kita kenal, biasanya kita akan mudah melihat siapa penggemarnya, karena penggemar tidak akan berada jauh-jauh dari idolanya. Mestinya ada di sekitar situ. Sebaliknya, bila kita tidak mengenal orang tersebut secara langsung, seorang idola harusnya punya basis penggemar yang mudah dicari dimana-mana. Cobalah cari basis penggemarnya. Pastikan juga kita yakin akan reputasi dan latar belakang orang yang kita tanyakan. Jangan sampai kita bertanya kepada orang yang sama tidak pahamnya dengan kita.

Jika ketiga hal tersebut sudah kita lakukan, dan kita yakin akan keputusan kita, maka ya sudah. Akhirnya kita punya seseorang yang dapat kita anggap sebagai panutan kita. Meskipun demikian, jangan mengikuti seseorang dengan gelap mata. Sekarang saatnya membuktikan kalau kita tidak “goblok”. Ujilah setiap nasihat, saran, masukan, atau apapun dari tokoh panutan kita, sebelum kita menjalankannya di dunia nyata. Jangan terima mentah-mentah segala hal yang terilhami darinya. Gunakan akal sehat kita, tanyakan kepada orang-orang yang lebih ahli atau berpengalaman daripada kita, dan biasakan diri untuk juga bertanya secara kritis: “kalau bukan begitu, apakah masih bisa?”

Memiliki panutan selalu menjadi hal yang penting dalam pertumbuhan pribadi kita, entah itu karakter, kematangan berpikir, atau kesuksesan. Dengan adanya panutan yang tepat, kita seakan memiliki mercusuar yang menyinari kita untuk menembus kabut lautan dan menuju tujuan akhir kita. Oleh karena itu, memiliki panutan yang tepat menjadi hal yang sangat penting. Ujilah segala sesuatu. Jangan pernah menerima segala sesuatu tanpa terlebih dahulu kita saring, termasuk saat kita menyaring panutan. Lakukan itu seperti seakan-akan hidup kita akan benar-benar diubahkan olehnya.

 

 

About Jeff:

Jeffrey Pratama adalah seorang praktisi Human Resource yang telah 15 tahun berkarir di beberapa perusahaan terbaik di Industrinya. Selain sebagai seorang Executive Professional, Jeffrey juga merupakan seorang Coach yang tersertifikasi, dengan passion yang mendalam di bidang pengembangan diri dan karir, khususnya bagi anak-anak muda. Penggemar music jazz dan klub sepakbola Manchester United ini juga penikmat setia buku-buku, khususnya yang terkait dengan pengembangan diri dan bisnis.

Saat ini Jeffrey juga secara rutin menjadi narasumber dalam diskusi online dengan Dipidiff seputar kehidupan profesional. Anda dapat mengikuti diskusi ini setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu pukul 08.30 WIB di channel IG LIVE @dipidiffofficial

 

 

GENERALIST vs SPECIALIST

Published: Wednesday, 23 June 2021 Written by Jeffrey Pratama

 

 

Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi.

Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita harus puas terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni sendirian. Ini memang hanya ilustrasi. Semoga hal ini tidak pernah terjadi kepada kita.

Tetapi kalau misalnya memang harus terjadi, dan kita mendapatkan keajaiban dari Yang Maha Kuasa untuk boleh memilih satu orang untuk terdampar Bersama kita, maka kita akan memilih yang mana diantara orang-orang ini. Pertama, seseorang yang berprofesi sebagai pembuat rakit. Dia tahu bagaimana cara membuat rakit dengan presisi, mampu mengukur kebutuhan akan kayu, tali, serta ahli membuat layar yang tanpa cela. Ataukah kita akan memilih orang kedua, yang meskipun mampu, tetapi tidak terlalu piawai dalam membuat rakit. Namun di luar itu, dia memiliki pengetahuan tentang caranya bertahan hidup di tengah pulau, tahu cara menangkap ikan, mengerti obat-obatan herbal, dan memiliki ketenangan berpikir.

Ilustrasi di atas sama seperti penggambaran specialist dan generalist. Orang pertama, si ahli rakit, adalah seorang specialist, yakni orang yang sangat paham luar dalam mengenai satu bidang tertentu secara spesifik. Orang yang kedua merupakan sosok generalist, yang memiliki pengetahuan yang luas tentang beberapa (atau banyak bidang), namun tidak sedalam specialist.

Dalam contoh di atas, pilihan manapun yang kita ambil, sangat tergantung pada tujuan yang ingin kita capai apa. Bila kita ingin cepat keluar dari pulau, dan kita sendiri memiliki kemampuan untuk menavigasi rakit di tengah lautan, atau kita juga paham caranya menangkap ikan, mungkin kita dapat memilih si ahli rakit. Tetapi jika kita ragu akan kemampuan kita untuk bertahan hidup, mungkin kita akan lebih memilih sang generalist. Apapun itu, keduanya memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ini yang akan kita bahas di artikel kali ini.

 

Generalist.

Seperti yang telah diulas di atas, generalist adalah seseorang yang memiliki pemahaman dan penguasaan terhadap beberapa bidang, namun penguasaannya tidak mendalam. Menjadi seorang generalist biasanya berarti bahwa yang bersangkutan memiliki wawasan yang luas tentang banyak bidang, meskipun wawasan tersebut bukan berarti bahwa dia menjadi sangat ahli di dalam bidangnya.

Di dalam kehidupan pekerjaan / professional, seorang generalist biasanya akan berperan banyak di dalam posisi-posisi structural atau kepemimpinan. Seorang pimpinan perusahaan misalnya, biasanya adalah seorang generalist. Alasannya mudah, karena seorang pimpinan perusahaan dituntut untuk dapat menguasai berbagai bidang sekaligus, seperti keuangan, SDM, penjualan, produksi, dan sebagainya, meskipun tidak sampai harus paham secara mendalam.

Generalist juga biasanya lebih banyak ditemukan pada perusahaan-perusahaan dengan skala yang lebih kecil, dimana sumber daya lebih terbatas dan satu orang dituntut untuk bisa menguasai beberapa hal sekaligus. Di perusahaan-perusahaan besar, generalist juga kita temukan di sana-sini, tetapi kalau persentasenya biasanya lebih besar pada korporasi dengan ukuran yang relative lebih kecil.

Apa keuntungan menjadi seorang generalist di dalam dunia kerja?

Ada beberapa keuntungan. Pertama. Kebanyakan fungsi struktural di dalam perusahaan ditempati oleh generalist. Fungsi struktural berarti jabatan-jabatan kepemimpinan seperti manager, General manager, bahkan direktur. Seorang generalist akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menduduki posisi-posisi kepemimpinan tersebut, dibandingkan dengan specialist murni.

Keuntungan lainnya adalah peluang karir yang dimiliki oleh seorang generalist cenderung lebih luas, karena seorang generalist memiliki kemampuan di beberapa bidang sekaligus, meskipun tidak sedalam specialist. Individu yang generalist juga diyakini lebih mampu melihat sebuah isu, permasalahan, atau kondisi dari sudut pandang yang lebih luas, karena wawasannya yang juga lebih luas.

 

Specialist.

Kebalikan dari generalist, seorang specialist khatam pada satu bidang tertentu, luar dalam. Saking ahlinya, maka kadang dia menjadi seorang “go-to-guy” atau orang yang selalu dirujuk jika terjadi permasalahan tertentu. Specialist akan sangat-sangat mumpuni untuk menyelesaikan sebuah persoalan apabila memang persoalan itu dirancang khusus sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Sebagai gantinya, specialist murni akan merasa lumayan kelabakan Ketika dihadapkan pada masalah yang tidak berada dalam domain bidangnya.

Di dalam dunia professional, seorang specialist dirancang untuk menduduki jabatan-jabatan yang sifatnya lebih fungsional ketimbang yang struktural. Posisi-posisi seperti staff ahli, penasehat / advisor, analis, dan sebagainya, adalah contoh-contoh jabatan yang biasa dipegang oleh specialist.

Semakin besar skala sebuah perusahaan, maka biasanya semakin banyak posisi-posisi yang dirancang sebagai posisi specialist. Dengan skala yang lebih besar, biasanya masalah yang dihadapi oleh perusahaan pun akan semakin kompleks. Hal ini membuat kebutuhan perusahaan terhadap ahli-ahli pada bidang keilmuan tertentu akan semakin besar. Disinilah peran para specialist nantinya.

Menjadi specialist memiliki beberapa keuntungan juga. Yang paling terlihat adalah seorang specialist akan dianggap sebagai rujukan atau ahli dalam bidang tertentu. Perannya menjadi sangat vital dalam penanganan masalah tertentu yang bisa jadi memiliki dampak signifikan bagi perusahaan. Hal ini juga yang membuat kecenderungan perusahaan berani membayar lebih tinggi untuk jabatan-jabatan specialist. Keuntungan lainnya adalah seorang specialist dapat dikatakan sebagai thought leader, atau orang yang berpengaruh apabila terkait dengan bidangnya. Ini dapat membuat kedudukan menjadi sangat penting dalam pengambilan keputusan strategis di perusahaan.

 

Jadi, mana yang lebih baik? Jawabannya sederhana: tegantung tujuannya untuk apa. Seorang generalist belum tentu akan optimal bila ditempatkan pada posisi specialist, demikian pun sebaliknya. Jadi perkara mana yang lebih diunggulkan, sangat tergantung pada jenis masalahnya apa, dan apa yang ingin dicapai dari peran tersebut.

Jika memang demikian, maka ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menyikapi hal tersebut.

Pertama, janganlah memilih salah satu, tetapi bukalah kesempatan untuk menjadi keduanya. Artinya begini. Jika kita adalah seorang specialist sejati, maka kita perlu untuk membuka diri dan belajar kemampuan-kemampuan lain secara umum. Setidaknya, kita perlu memahami proses yang melingkupi bidang kita, sehingga Ketika kita menangani sebuah persoalan, tidak hanya hal teknisnya semata yang dapat kita selesaikan, namun juga persoalan yang lebih konseptual dan holistic.

Sebaliknya, jika kita adalah generalist, maka kita harus menemukan satu atau dua bidang tertentu yang dapat kita dalami lebih lanjut sebagai spesialisasi kita. ini akan melatih diri kita untuk dapat melihat sebuah persoalan secara lebih kritis dan analitis, serta memampukan kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sifatnya lebih teknis.

Kedua, percayalah bahwa dunia ini cukup besar untuk specialist dan generalist hidup berdampingan. Tidak ada istilah winner takes all. Persoalan dunia yang begitu kompleks membutuhkan banyak sekali orang dengan keahlian yang berbeda-beda, baik sebagai generalist maupun specialist.

Yang terpenting adalah bagi kita untuk terus mau membuka diri dan belajar hal-hal yang baru, tidak membatasi diri pada hal-hal tertentu saja, tetapi justru dapat mengembangkan potensi kita. seorang specialist dapat menjadi generalist, sama seperti seorang generalist dapat menjadi specialist. Jika pada saat dibutuhkan salah satu, kita dapat beradaptasi sesuai dengan kebutuhan tersebut.

 

 

About Jeff:

Jeffrey Pratama adalah seorang praktisi Human Resource yang telah 15 tahun berkarir di beberapa perusahaan terbaik di Industrinya. Selain sebagai seorang Executive Professional, Jeffrey juga merupakan seorang Coach yang tersertifikasi, dengan passion yang mendalam di bidang pengembangan diri dan karir, khususnya bagi anak-anak muda. Penggemar music jazz dan klub sepakbola Manchester United ini juga penikmat setia buku-buku, khususnya yang terkait dengan pengembangan diri dan bisnis

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku Finding My Bread - Song Seon…

28-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Finding My Bread Kisah Si Alergi Gluten Membuat Toko Roti Penulis : Song Seong-rye Penerjemah : Anggi Mahasanghika Penyunting : Aprilia Ramadhani Ilustrator Sampul dan Isi : Bongji Sampul dan Isi Diolah Kembali oleh...

Read more

Review Buku Jangan Lelah Berproses - Dwi…

27-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Jangan Lelah Berproses Penulis : Dwi Indra Purnomo & Adenita Ilustrator : Sufti Nurahmartiyanti Desain Sampul : Daily Ideas Penyunting : Mutia Azizah, Dewi Kournia Sari Pewajah Isi : Nurhasanah Ridwa Jenis Buku :...

Read more

Review Buku The Twyford Code - Janice Ha…

20-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The Sunday Times Bestseller   Judul : The Twyford Code Penulis : Janice Hallett Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers Penerbit : Profile Books Tahun Terbit : July 2022 Jumlah Halaman : 400 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more