0

Review Buku The Couple at No 9 - Claire Douglas

Published: Wednesday, 24 August 2022 Written by Dipidiff

 

THE GRIPPING NEW SUNDAY TIMES BESTSELLER AND CRIME BOOK OF THE MONTH

 

Judul : The Couple at No. 9

Penulis : Claire Douglas

Jenis Buku : Thriller, Mystery

Penerbit : Penguin Books Ltd

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman :  432 halaman

Dimensi Buku : 13,00 x 19,70 x 4,90 cm

Harga : Rp. 215.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781405943406

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplusbandung, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Pasangan Saffron Cutler (Saffy) dan Tom pindah ke rumah baru warisan dari sang nenek di 9 Skelton Place. Semuanya lancar dan menyenangkan hingga kemudian para pekerja yang merenovasi rumah menemukan kerangka manusia, dua tubuh sekaligus.

Hasil forensik menunjukkan mayat-mayat itu sudah dikubur setidaknya tiga puluh tahun. Hal itulah yang membuat polisi menanyai mantan pemilik pondok itu, yakni nenek Saffy yang bernama Rose.

Problemnya adalah Rose tua kini menderita Alzheimer, artinya daya ingatnya semakin lemah, memorinya juga samar dan semakin kacau. Dari percakapan jelas bahwa Rose tidak bisa membantu polisi, tapi ada momen-momen tertentu dimana ingatan Rose kembali jernih, dan dia ingat sesuatu yang terjadi di masa lalu, hanya informasinya sepotong-sepotong dan membingungkan. Sementara polisi menyelidiki lebih dalam kasus ini, Saffy dan Lorna merasa diawasi, mereka juga diancam seseorang yang mengaku detektif pribadi. Apa yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu? Peran apa yang dimainkan neneknya? Apakah Saffy sekarang dalam bahaya?

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari buku bagus bergenre psychological suspense dengan kompleksitas unsur cerita, mulai dari tokoh, alur, plot. Kemungkinan bukan bacaan yang cocok untuk pembaca pemula atau pembaca yang sedang mencari cerita yang lebih sederhana permainan unsur-unsur ceritanya. Tapi kalau sedang mencari tantangan membaca yang asyik, novel ini saya rekomendasikan.

Underlined Issue: lgbt, murder, childhood trauma

 

 

This Book Review Might Have Spoiler!

 

Tokoh dan Karakter

- Jonty
- Tom Perkins
- Saffron Cutler (saffy)
- Darren
- Karl
- PC Amanda Price
- Rose Grey
- Mum (Lorna)
- Victor Carmichael
- Sheila
- Theo
- Jen
- Daphne Hartall
- DS Matthew Barnes
- DS Ben Worthing
- Brenda Morrison
- Larry Knight
- Euan Cutler
- Glen Davies

Tentu saja buat saya bagian awal yang paling 'greget' dari buku ini adalah tokoh kunci Rose yang ingatannya samar-samar. Dari poin ini, idenya agak mirip dengan novel Three Things About Elsie - Joanna Cannon yang juga mendapatkan pencapaian Sunday Times Bestseller di jamannya. Karakter Rose dan Daphne dijadikan misteri, membuat saya bertanya-tanya hingga akhir cerita.


Total jumlah tokoh cerita menurut saya lumayan banyak, cukup menantang buat kita sebagai pembaca, namun untuk main character ada Rose, Daphne, Saffy, Lorna, Theo, dan Victor yang punya peran paling banyak. Permainan teka-teki tokoh ini adalah salah satu unsur cerita yang saya suka dari The Couple at No 9.

Saffy sedang hamil waktu insiden ditemukannya kerangka terjadi. Karakter Saffy menarik karena dia pencemas dan secara emosional kurang stabil, tapi dia selalu berusaha memberanikan diri tanpa menyembunyikan kerentanan dirinya di depan suami dan ibunya. Ujungnya Saffy jadi terlihat tabah dan tokoh yang mengundang empati. Lorna berkepribadian hangat, ceria, optimis, a social butterfly. Fisiknya masih menarik di usianya yang berkepala empat. Jika Saffy penyendiri dan sunyi, Lorna adalah kebalikannya. Ibu dan anak ini saling mencintai walau secara karakter mereka bertolak belakang. Transformasi pikiran dan sikap Lorna juga poin menarik dalam cerita. Sementara Theo adalah pria dengan karakter belas kasih, Victor satu-satunya yang ditampakkan dengan jelas sebagai tokoh jahat dari awal. Dia pria tua yang pemarah dan arogan.

Deskripsi fisik tokoh cukup saja. Misalnya Tom yang mengenakan kacamata hitam trendi, waktu pulang kerja kemeja linen dan blazernya kusut, dia memakai celana jins. Lorna suka mengenakan busana warna-warni dan berkepribadian ceria serta berenergi.

Tom rushes into the kitchen, concern etched all over his face. He has his glasses on, the trendy black-trimmed pair he bought when he started his new job in the finance department of a tech company over a year ago. He felt they gave him more gravitas. His sandy-blond fringe falls over his face and he's rumpled in his linen shirt and blazer over jeans. It doesn't matter what he wears, he still manages to look like a student. He smells of London - of fumes and trains and takeaway lattes and other people's expensive scents.
Page 7 -8 

I love my mum dearly, but she was - and still is - so high energy, so effusive and demonstrative, with her colourful clothes and over-the-top personality, that she sometimes makes me feel exhausted. I've always felt more of an affinity with Gran, both of us loving nature and the outdoors, slightly reclusive, preferring our own company to crowds of people.
Page 23
Mum is a social butterfly fluttering from one group of friends to another with an ease I have always envied, even if I don't want it for myself. As a result I felt awkward and uninteresting growing up, never knowing what to say.
Page
 

Alur dan Latar

Alur cerita menantang karena kombinasi maju dan mundur. Latar masa lalu ada di tahun 1979 - 1980an, dan masa kini di 2018, berganti-ganti di dalam cerita. Istimewanya lagi, buku ini punya POV kombinasi 1 dan 3 yang sentralnya tidak hanya 1 atau 2 tokoh. Pov 1 ada tiga, yakni Saffy, Rose, dan Daphne. Pov 3 ada Lorna dan Theo sebagai sentralnya.

Konflik utama cerita ada di misteri masa lalu dan kerangka tubuh siapa yang ditemukan di rumah Saffy. Di luar itu ada konflik lain seperti hubungan Lorna dan Saffy yang renggang dan salah paham, Lorna yang selalu gagal membina hubungan, Saffy yang pencemas, Theo yang membenci ayahnya, Victor yang jahat, isu parenting, isu rehabilitasi kasus kriminal, dll.

Dalam suatu narasi Theo mempertanyakan apakah dia mencintai ayahnya atau tidak. Yang jelas dia merasa kasihan pada ayahnya.  Theo juga merasakan kewajiban dan bertanggung jawab pada ayahnya setelah ibunya meninggal. Tapi cinta? Theo tidak yakin. Mungkin ketika dia masih kecil, ketika dia masih sangat berharap ayahnya peduli padanya, dan bisa menjadi ayah yang dia harapkan. Tapi sekarang ketika dewasa Theo menyadari bahwa dia tidak menyukai ayahnya karena ayahnya dingin dan keras. Theo merasa muak terus-terusan mencari alasan sikap ayahnya yang demikian di dalam pikirannya sendiri. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan ayahnya karena tidak sanggup dihantui pikiran bahwa ibunya akan kecewa padanya, meski ibunya sudah meninggal lama.

Theo wonders, as he surveys him pressing his teabag against his mug, whether he has ever loved his father. He'd pitied him, yes, felt a sense of duty towards him, felt responsible for him after his mother died. But love? He's not sure. Maybe when he was a kid, when he was still full of hope that his dad might care about him, become the father he d always wished for. He realizes, with a jolt, that he doesn't like his dad. He's cold and he's hard and Theo is fed up with trying to make excuses for him in his own mind.
He could walk out of here now and not look back. And if it wasn't for the fact that he'd worry his mum would be disappointed in him, then he would. He doubts his dad would give a shit if he never visited again.
Page 213
 

 

Cerita banyak mengambil latar di Beggars Nook, sebuah desa di Cotswolds, rimbun pepohonan dan memberikan kesan tersembunyi. Selain itu ada pula latar rumah jompo Elms Brook, rumah Victor, dan apartemen Lorna di Spanyol. Deskripsi lokasi utama cerita cukup rinci, baik fisik maupun suasananya. 

Beberapa deskripsi fisik latar yang berkesan buat saya misalnya Beggars Nook. Desa ini damai, banyak bangunan tua dari batu Cotswold yang indah. Ada alun-alun desa, gereja yang cantik, persimpangan pasar, toko di sudut, kafe, butik yang menjual pernak-pernik, kartu dan pakaian mahal. Dikelilingin hutan dan pohon ek yang membentang. Ada jembatan dan jalan yang panjang dan berliku, rumah-rumah batu yang indah, dan peternakan.
 
Instead I think again about how peaceful Beggars Nook is with its beautiful old Cotswold-stone buildings. I drive through the village square, taking in the market cross, the pretty church, the corner shop, a cafe and the one boutique selling trinkets, cards and slouchy expensive clothes. All walkable from the cottage and in a dip, surrounded by the woods and the thick oak trees that stretch up to the sky. It gives the impression that the village is hidden from the rest of the world. I cross the bridge and continue down the long, winding lane, pretty stone houses either side, until I get to the farm at the end. So different from built-up Croydon. So safe. Or so I'd thought. Now I'm not so sure.
Page 21
 
atau deskripsi rumah Rose di memorinya Saffy yang bersih, dengan sofa kuno yang nyaman. Sekaleng permen di atas lemari. Taman dengan pagar. Rumah kaca dengan tanaman tomat. Kesannya hangat ya :), berkebalikan dengan rumah ayahnya Theo yang dingin dan menyeramkan, dengan batu-batu dan patung, rumah besar dengan lorong yang luas dan panel kayu serta tangga berliku. Ada pajangan rusa di dinding yang membuat Theo bermimpi buruk sewaktu masih kecil.
... Gran's house never smelt), and the old-fashioned, comfy sofas with white cotton slips on the arms that Grand would wash and starch every week. The butter scotch sweets she had in a tin at the top of the cupboard and the garden with the wired fence that separated it from her neighbours. The warm, musty smell of the green house and the tomato plants inside. It was comforting to see Gran in the greenhouse tending those plants, talking to them softly to encourage them to grow.
Page 
 
 
 
The old, rambling house looms over him like something from a horror film, eclipsing the sun and causing him to shiver. He hates the place. Always has done. His friends thought it was impressive when they visited, which was rarely - he tried to keep them away as much as possible - but the depressing grey stone and the ugly gargoyle that peer down from the roof as if they are about  to swoop still give him the creeps. The house is much too big for an elderly man living by himself.
...
He lets himself into the cavernous hallway with the wood panelling and the winding staircase that he has hated with a passion since his mother's death, and the deer heads on the wall. Those heads gave him nightmares as a kid. He breathes in the familiar smell of woodsmoke and floor polish. 
Page 33
 
 
 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Claire Douglas bekerja sebagai jurnalis selama 15 tahun. Dia menulis fitur untuk majalah wanita dan surat kabar nasional, tetapi dia bermimpi menjadi seorang novelis sejak usia 7 tahun. Claire mendapatkan keinginannya setelah memenangkan The Marie Claire Debut Novel Award, dengan novel pertamanya, The Sisters, yang diikuti oleh Local Girl Missing, Last Seen Alive, Do Not Disturb, Then She Vanishes dan Just Like the Other Girls. The Couple at No 9 adalah novel terbarunya, dan buku ini menjadi Sunday Times top 3 bestseller dan Kindle number 1.

Begitu tahu, Claire Dougle punya pengalaman jurnalis, saya langsung teringat tokoh ayah Saffy yang seorang jurnalis juga. Entah kenapa saya suka sentuhan personal profil penulis seperti ini di dalam sebuah buku. Mungkin karena jadi unik saja. Porsi jurnalisme sebenarnya tidak banyak di buku ini, saya penasaran apakah di buku lainnya Claire Douglas menciptakan tokoh cerita jurnalis yang lebih menonjol, atau mengangkat dunia jurnalisme ke dalam ide cerita. Kelihatannya saya akan hunting buku-buku Claire Douglas lainnya.

Tokoh yang berkaitan dengan dunia buku-buku sering ada di banyak cerita, dan di novel ini, ada Saffy yang ternyata bekerja di dunia perbukuan. Yang saya tangkap profesinya berkaitan dengan bidang desain grafis karena penerbit mengontrak Saffy untuk mengerjakan sampul buku dan marketing, seperti poster untuk majalah, iklan, dan lain-lain.

Di dalam cerita ada tokoh kepolisian tapi perannya tidak ditonjolkan. Ini bukan novel detektif polisi, lebih ke pemecahan misteri pembunuhan oleh amateurs karena alasan yang personal. Ada interogasi tapi bukan di ruang kepolisian, tidak ada detail investigasi forensik, dll.

 

Satu topik menarik yang sekilas diangkat di cerita adalah tentang kehilangan handphone yang jaman sekarang itu bikin mati gaya. Waktu itu Lorna kehilangan ponselnya, sedang dia tidak familiar dengan tempat dimana dia berada dan jalan menuju pulang ke Beggars Nook. Dia tidak hafal satu nomor telepon pun, dan dia merasa tidak berdaya. Disebutkan di dalam narasi betapa orang-orang di zaman modern saat ini sangat bergantung pada teknologi. Adegan ini sempat mengundang tanya saya seperti apa solusi dari Lorna di situasi ini. Yah, apalagi kalau bukan berusaha meminjam ponsel orang lain :D.
 


So, apa ya yang bisa pembaca harapkan dari The Couple at No 9? Jawabannya adalah plot twist cerita yang bagus. Saya sangat menyukai poin ini, favorit ketika titik-titik misteri terhubung dan menjadi terang benderang. Di awal kita juga menyimak dua story line yang nanti di akhir akan menyatu dengan baik. Endingnya juga 'nampar' karena emosional dan memberikan satu pemahaman baru terhadap kasus. The real psychological suspense.

Meski ada beberapa poin yang menurut saya agak kurang dalam, tapi novel ini tetap luar biasa karena kekompleksan unsur cerita, dari tokoh, alur, latar, plot twist hingga pilihan ending. Ganjalan saya lainnya berkaitan dengan tokoh Tom dan Jen yang sering masuk frame cerita tapi 'cuma segitu aja' diceritakannya. Di satu sisi ini sebenarnya oke, karena tanpa Tom dan Jen pun, tokoh-tokoh cerita yang ada sudah cukup bikin "bingung" *in a good way.

Great book to read. I politely recommend you to read this book immediately. Sampai sini apakah kalian tertarik membaca buku ini?

 

Siapa Claire Douglas 

Claire Douglas telah bekerja sebagai jurnalis selama lima belas tahun, menulis feature untuk majalah wanita dan surat kabar nasional, tetapi dia bermimpi menjadi seorang novelis sejak usia tujuh tahun. Dia akhirnya mendapatkan keinginannya setelah memenangkan The Marie Claire Debut Novel Award, dengan novel pertamanya, The Sisters, yang diikuti oleh Local Girl Missing, Last Seen Alive, Do Not Disturb, Then She Vanishes dan Just Like the Other Girls. The Couple at No 9 adalah novel terbarunya, dan buku ini menjadi Sunday Times top 3 bestseller dan Kindle number 1.

 

 

 

------------------

 

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more