0

Review Buku Dial A For Aunties - Jesse Q. Sutanto

Published: Tuesday, 23 August 2022 Written by Dipidiff

 

One of NPR's Best Books of 2021!

One of PopSugar’s "42 Books Everyone Will Be Talking About in 2021"!

Winner of the Comedy Women In Print Prize 2021

Amazon Best Book of May 2021

 

Judul : Dial A For Aunties

Penulis : Jesse Q. Sutanto

Jenis Buku : Mystery, Romance

Penerbit : Berkeley Books

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman : 320 Halaman

Dimensi Buku : 21,08 x 13,97 x 2,29 cm

Harga : 179.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780593333037

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplusbandung, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

 

Meddelin Chan (Meddy) hidup bersama ibu dan tiga orang bibi yang suka ikut campur. Suatu hari, ibunya membuat akun kencan online atas nama Meddy dan mengatur pertemuan Meddy dengan si laki-laki yang kemudian berujung pelecehan seksual. Dalam upayanya membela diri, Meddy tanpa sengaja membuat mobil yang dikendarai kecelakaan. Meddy panik lalu pulang ke rumah dengan si laki-laki yang ia duga mati. Ketiga bibi dan ibunya berembuk bagaimana cara terbaik untuk membuang mayat dan lepas dari jeratan hukum. Hidup Meddy, ibunya, dan para bibi jadi dipenuhi serangkaian aktifitas yang aneh tapi kocak setelahnya. Sementara itu mantan pacar Meddy yang baik hati, sukses, dan tampan kembali ke kehidupannya, membuat situasi menjadi campur aduk antara romantis, tegang, dan lucu.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Bahas sampul buku lama-lama makin menarik ya, apalagi kalo bukunya memang cetak dalam beberapa desain sampul, seperti novel Dial A For Aunties. Untuk buku ini paling tidak ada empat cover yang saya tahu, cover warna kuning (yang saya baca), warna pink merah, oranye, sama yang warna hitam. Edisi cover netflix sudah ada belum ya? Harusnya ada, dan kalo belum ada, mari kita tunggu saja :).

 

Tokoh dan Karakter

Meddy
Ma
Er Jie, Second Aunt
Fourth Aunt
Second Aunt
Big Aunt
Nathan
Selena
Annie
Chris
Jake
Jacquiline
Tom Cruise Sutopo
 
Meddy gadis yang baik hati juga sangat peduli dengan keluarganya. Dia mengalami konflik dilematis dimana di satu sisi dia ingin hidup mandiri, jauh dari ibu dan bibi-bibinya, tapi juga tidak tega untuk melakukan itu karena khawatir dengan opini miring dan takut mengecewakan keluarga. Di awal cerita, karakter Meddy cenderung ceroboh dan lekas panik, tapi makin ke sini dia bisa berpikir lebih jernih bahkan menemukan solusi beberapa masalah. Entah ini bisa diterima sebagai bentuk transformasi tokoh, atau ketidakkonsistenan penokohan, saya lebih pilih yang pertama :). Ibu dan para bibi tipe-tipe orang yang ramai dan guyub, kok di saya pas ya dengan penokohan orang-orang Asia, padahal tentu tidak semua orang Asia seperti keluarga Meddy. Nuansanya juga mengingatkan saya pada beberapa film Cina yang pernah saya tonton dimana keluarga besar itu ramai berceloteh ketika sudah momennya ngumpul. Nathan juga tokoh yang likeable. Dia serius berhubungan dengan Meddy tapi justru Meddy yang penuh keraguan. Bisa dibilang Nathan ini pria idaman. Cakep, pekerja keras, karirnya bagus, setia, tulus, dll.

Personally, saya agak gemes dengan tokoh Meddy yang karakternya lemah di beberapa bagian. Tapi sepertinya perannya memang harus begitu untuk membangun sisi emosi cerita. Sebaliknya, kekuatan keluarga sangat terasa di sini selain kisah romansanya. Keluarga yang ramai dan suka saling turut campur ini tergambarkan dengan baik dan mengundang senyum.
 
Deskripsi fisik tokoh yang paling saya ingat itu Nathan. Tidak terlalu detail juga, yang pasti Nathan ini cowok tampan dan seksi, dengan bentuk tubuh yang gagah. Selebihnya bahkan untuk fisik Meddy sendiri tidak ada yang benar-benar detail tergambar di benak saya. Para bibi dan ibu pun begitu. Tapi ini bisa kita liat cukup di cover bukunya yang sudah ada ilustrasi Meddy, ibu dan para bibi.
 
The years have been kind to Nathan. He's obviously started working out, even in his button-down shirt with the sleeves rolled up to his elbows, I can see his biceps straining against the fabric. His face has lost its teenage softness, giving way to a defined jawline that makes my teeth clench because fuck, he's hot. So much hotter than I remember, and I remember him as the most gorgeous boy I'd ever laid eyes on in real life. My gaze skitters to his hands. No weeding band.
Page 103

 

Alur dan Latar

Kisah diceritakan dari sudut pandang orang pertama (Meddy) dengan kecepatan alur sedang-cepat. Plotnya kombinasi maju mundur yang punya pola di awal-awal, lalu kemudian maju teratur hingga akhir kisah. Prolognya dimulai dari 8 tahun lalu, kemudian ke masa kini, lalu kembali lagi ke 7 tahun lalu, dan ke masa kini lagi, begitu pattern-nya, hingga kemudian berhenti di 4 tahun lalu, dan balik ke masa kini hingga akhir buku. Kalau ada kepikiran kenapa berhenti di 4 tahun lalu, mungkin karena di 4 tahun lalu itu masa vakumnya Nathan bersama Meddy, waktu jadi seperti berlalu begitu saja, tidak ada yang perlu diceritakan :D
 
Konflik cerita utama ada di soal cara menyembunyikan mayat. Meddy, ibu, dan para bibi bahu membahu menghilangkan mayat ini supaya lepas dari jeratan hukum karena mereka juga tanpa sengaja membuat situasi jadi runyam, bukan sebuah kasus kriminal murni sebenarnya. Selain itu ada konflik asmara antara Meddy dan Nathan. Kesalahpahaman masa lalu yang mungkinkah bisa terurai dan punya harapan untuk kembali bersama. Dari sisi internal, Meddy juga punya konflik diri yang merasa dilema antara ingin terus bersama keluarganya atau hidup lebih mandiri. Dia juga punya ketakutan kutukan keluarga dimana semua pria di dalam keluarga mereka akhirnya pergi. Cerita ber-ending tertutup.
 
Latar cerita di California, Oxford, San Gabriel Valey, resort, rumah, restoran, dll. Deskripsi fisik latarnya sendiri tidak begitu ditonjolkan. Salah satu lokasi yang saya paling ingat adalah keindahan resort tempat lokasi wedding Jacqueline dan Tom Cruise Sutopo. Hotelnya dibangun di atas bukit. Keliatannya agung dan suci. Resor ini dirancang dengan arsitektur Asia Tenggara kuno, dengan ornamen ukiran yang kaya menghiasi tiang-tiang raksasa. Lobi terbuka di dua sisi, menawarkan pemandangan resor dan laut yang menakjubkan di bawahnya. Langit-langitnya sangat tinggi dan di sekitar lobi terdapat kolam yang tenang dengan ikan koi oranye yang cemerlang dan lilin yang mengambang. Kayaknya indah ya :D. Kamar-kamarnya juga cantik. Ada di dalam suatu adegan dimana ruangan kamar Meddy dideskripsikan fisiknya. Kamarnya sebenarnya kamar termurah di resor itu, tapi tetap indah. Ada dua tempat tidur queen dengan bantal lembut dan bahkan selimut yang lebih empuk, jendela dari lantai ke langit-langit yang membuka ke balkon yang luas, perabotan modern di sekelilingnya, ber-AC sejuk. Yuk kita staycation di resor ini :D
 
The lobby of the hotel is built atop a hill. The words "majestic" and "hallowed" come to mind. The resort has been designed with ancient Southeast Asian architecture in mind, with richly carved ornaments decorating the giant columns. The lobby is open on two sides, offering a stunning view of the resort and the ocean below. The ceiling is so high I have to tilt my head all the way to back to see the top, and surrounding the lobby is a peaceful pond with brilliant orange koi and floating candles.
Page 98
 
 
 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Hal pertama yang menarik perhatian saya begitu membuka novel ini adalah kata pengantarnya. Ternyata bagi Jesse buku ini adalah surat cinta buat keluarganya. Diceritakan di sini bahwa keempat kakek nenek Jesse berasal dari Cina yang imigrasi ke Indonesia antara tahun 1920 dan 1930, dan ketika mereka tiba di Indonesia, mereka mengubah nama Cina mereka menjadi nama Indonesia untuk menghindari xenophobia. Chen menjadi Sutanto. Ho menjadi Wijaya. Orang tua Jesse menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan Mandarin sebagai bahasa kedua. Jesse dikirim ke Singapura untuk menghindari kerusuhan tahun 90an. Lama tinggal di Singapura, Jesse mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan hampir lupa bagaimana berbicara bahasa Indonesia. Tiap kali orang tuanya datang, komunikasi jadi perkara yang rumit. Dari situasi itulah akhirnya komunikasi mereka jadi campuran bahasa, Inggris, Indonesia, dan Mandarin yang campur aduk. Kalimatnya jadi putus-putus dan sering kesulitan untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakan.


Beberapa bibi di Dial A berbicara dengan Inggris yang patah-patah ini. Menarik sekali ketika Jesse bilang bahwa pemahaman mereka tentang bahasa Inggris bukanlah cerminan dari kecerdasan mereka, tetapi cerminan dari pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk dia. Kata Jesse, buku ini sama sekali tidak mewakili komunitas Asia secara keseluruhan karena tidak ada satu buku pun yang dapat mewakili komunitas individu yang begitu besar. Tapi dari buku ini Jesse berharap bisa sedikit memberikan gambaran yang kuat dari keluarga yang sudah membesarkan dan melindunginya selama ini.
Ini semua kata pengantar yang dalam dan punya histori kalo menurut saya. Entah karena saya orang Indonesia, yang pasti buku Jesse memang bikin saya bangga, karena lewat karyanya ada bagian dari bahasa dan budaya kita yang dikenalkan di dunia internasional.

 
 

Perpaduan Inggris, Indonesia, dan Cina yang ada di buku ini memang membawa nuansa yang berbeda. Rasanya unik dan menarik ketika ada selipan-selipan bahasa dan budaya kita di novel humorous fiction dan romantic comedy ini.

Ada budaya Cina berkaitan dengan makanan. Yang paling saya ingat waktu adegan makan-makannya Meddy bersama ibu dan para bibi. Di sini terlihat bagaimana masing-masing orang saling meletakkan makanan ke piring orang lain yang ternyata itu memang budaya makan keluarga Cina, yang menunjukkan cinta dan rasa hormat. Bibi Besar meletakkan iga rebus ke piring Meddy, Meddy meletakkan pangsit di piring bibi yang lain dan menuangkan teh untuk semua orang. Bibi Kedua memotong char siu baos jadi dua dan menempatkan satu setengah di piring semua orang. Mejanya berbentuk bundar agar semua orang bisa menjangkau makanan. Ukuran makanannya juga berpengaruh, yang paling besar potongannya diberikan ke yang usianya paling tua, potongan terbesar kedua diberikan ke yang senior nomor dua, begitu seterusnya. Hal ini menunjukkan kesopanan dan orang yang bersangkutan sudah dibesarkan dengan baik, yakni hidup dengan memperhatikan orang lain sebelum diri sendiri. Dalam ya maknanya :).
 
... steamers down in the center of our table, and I feel an almost overwhelming need to beat my chest and crow. I got those shrimp dumplings! Me!
"Eat more, Meddy. You should keep your strength up for tomorrow," Big Aunt says in Mandarin, plopping two pieces of braised prok ribs on my plate while I carefully place dumplings on everyone else's plates and pour them tea. Second Aunt cuts the char siu baos into two each and places one half on everyone's plate. The table being round means all the dishes are equally within reach of everyone, but Chinese family meals aren't complete without everyone serving food to everyone else, because doing so shows love and respect, which means we all need to do it in the most attention-seeking way possible. What's the point of giving Big Aunt the biggest siu mai if nobody else notices?
"Thank you, Big Aunt," I say dutifully, placing a fat har gow on her plate. I always reply in English no matter which language my family is speaking because Second Aunt says listening to me struggle through Indonesian or Mandarin makes her blood pressure rise. "You eat more too. We're all counting on you tomorrow. And you, Second Aunt." The second-biggest har gow goes on Second Aunt's plate. Third biggest goes to Fourth Aunt, and the last remaining one goes on Ma's plate. That shows that Ma has brought me up well, to look out for others before ourselves.
Page 9
 
 
Di dalam buku juga disebut desainer Indonesia. Kalau teman-teman ada yang menyimak dunia fashion tentu familiar dengan nama Biyan Wanaatmadja, desainer terkenal asal Surabaya. Di buku ini ada nama Biyan disebut-sebut, dan saya menduga itu mengacu ke Biyan Wanaatmadja.
She's not kidding. The dress is huge, and it takes the two of us to pull it off the mannequin and hang it up against the floor-to-ceiling window. The sunlight at its back makes it almost translucent, and every lace detail shines through. I was expecting a Vera Wang or an Alexander McQueen, but the silk label says Biyan, which is a nice surprise. An Indonesian designer. It makes me like Jacqueline even more. It strikes me, as I take pictures of the dress from various angles, that this is the first time I'm photographing a wedding dress by an Indonesian designer, and it feels special somehow. It rekindles the love I have for photography and why I decided to join my family's venture in the first place. If only wedding photography could be all about the intimate details - just me, my camera, pretty dresses, and happy couples, instead of the family obligation and drama that come with it. But now is so not the time to think about leaving the family business.
Page 128
 
Kalimat di buku ini campur bahasa, Inggris, Indonesia, dan Mandarin. Senangnya adalah kalimat berbahasa Indonesianya cukup banyak. Mandarinnya seingat saya sedikit atau malah tidak ada dan dinarasikan tetap dalam bahasa Inggris, lalu kalau tidak salah tidak ada catatan kaki. Mungkin pusing ya untuk yang bukan orang Indonesia, tapi untuk saya jelas tidak ada masalah.
 
I can only shake my head and wave a weak hand at him, indicating that he should continue. Once I catch my breath, I say. "Kita lupa handphone nya dia."
"Handphone siapa - oh," Ma gasps, her hand flying to cover her mouth. "Ada dimana handphone nya?"
I don't know where it is. I shake my head.
"Pasti di dalam kantung celana," Second Aunt says.
Page 98
 
 
Di buku juga ada diceritakan budaya pernikahan keluarga Tionghoa-Indonesia. Ada acara penjemputan, upacara minum teh, dan seremonial tertentu. Sebelum penjemputan, ada veiling ceremony, di mana orang tua pengantin wanita mencium pipinya dan kemudian menutup wajah pengantin wanita dengan kain indah, seremoni ini bermakna transformasi dari wanita menjadi pengantin sudah selesai. Di sebagian besar keluarga Tionghoa-Indo, tidak peduli berapa usia si anak, anak-anak biasanya tinggal bersama orang tua mereka sampai mereka menikah dan pindah. Jadi bagi sebagian besar keluarga, ini adalah perpisahan.
Lalu ada acara penjemputan. Di sesi ini pengiring pengantin datang lalu mendapatkan tantangan dari pihak wanita. Tantangannya tidak harus serius seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan tapi juga bisa yang lucu-lucu. Selanjutnya adalah upacara minum teh. Pengantin menyajikan teh untuk orang tua mereka, dan orang tua mereka memberikan hadiah kepada mereka. Secara tradisional, hadiahnya dalam bentuk paket emas atau paket merah berisi uang.



Menyikapi premise novel ini memang tidak boleh serius mengikuti tema kecelakaan dan mayat yang disembunyikan. Semua dilihat dari sisi kelucuan para bibi dan ibu yang ide-ide menyembunyikan mayatnya logis tapi berujung fatal dan mengundang senyum. Definisi logis di sini juga relatif karena beberapa idenya jelas kurang cerdas kalau ditimbang dari model penyelesaian sebuah kasus kriminal yang lebih serius. Berbagai insiden yang terjadi di sepanjang acara pernikahan juga harus diframe dari perspektif humor, karena tipe ide humornya menurut saya memang masuk ke 'menertawakan kemalangan dan kekacauan' juga.
 
Kerenyahan lain yang saya temukan di novel ini adalah penamaan orang-orang Cina-Indonesia yang diungkap di buku ini. Nama-namanya unik dan memang mengundang senyum, misalnya Gucci dan Tom Cruise Sutopo. Di buku diceritakan kalau orang Tionghoa-Indonesia suka menamai anak-anak mereka dengan nama orang terkenal atau brand populer. Kadang ada pula salah penulisan seperti Meddelin yang sebenarnya dimaksudkan Madeleine. Hal ini jadi mengingatkan saya pada novel Dayon yang ditulis uda Akmal Nasery Basral yang dibukunya diceritakan bapaknya Dayon menamai anaknya itu dengan nama aktor terkenal James Bond, tapi kemudian salah penulisan menjadi Jems Boyon :D.
 
Tomorrow is the start of a two-day wedding weekend extravaganza for Jacqueline Wijaya, daughter of Indonesia's largest textiles company, and - I kid you not - Tom Cruise.
Sutopo, that is. Yeah, the groom's name really is Tom Cruise Sutopo. I checked. It's exactly the kind of thing Chinese-Indonesians love naming their kids after - famous people and/or brand names (I have a cousin named Gucci, who mover very far away as soon as he was legally able to), or some form of misspelling of a popular Western name. Also case in point: Meddelin. My parents were aiming for Madeleine. Growing up, my cousins called me Meddlin' Meddelin, which is why I never, ever meddle in anyone's business , ever. Well, that and also the fact that my mother and aunts meddle enough for the whole family.
Page 12
 




Bacaan ringan dan menghibur dan punya keunikan berupa budaya Cina-Indonesia 😊. Buku ini menurut saya akan mengecewakan kalau kita berharap sebuah bacaan yang mengeksplor dan menggarisbawahi kasus pembunuhan. Penyelesaian konflik pembunuhannya juga tidak dalam di bagian akhir buku, seperti sebuah keberuntungan saja ketimbang ending model reveal ala buku-buku murder mystery. Dial A For Aunties lebih dekat ke drama keluarga+ romance plus bumbu pembunuhan.

Pada akhirnya yang paling saya sukai dari novel ini adalah pesan tentang keluarga yang saling menjaga dan peduli satu sama lain, bahkan ketika yang bersangkutan sudah berusia mandiri atau berumahtangga. Saya juga suka bobot budaya Cina-Indonesianya.

 

Siapa Jesse Q. Sutanto

Jesse Q. Sutanto adalah penulis buku dewasa, YA, dan middle grade. Jesse memiliki gelar master dalam penulisan kreatif dari Universitas Oxford. Hak film untuk fiksi wanitanya, Dial A for Aunties, dibeli oleh Netflix dalam perang penawaran yang kompetitif. Buku dewasanya termasuk Dial A for Aunties dan sekuelnya, Four Aunties and a Wedding. Buku-buku YA-nya termasuk The Obsession, The New Girl, dan romcomnya yang akan datang, Well, That Was Unexpected. Buku middle grade-nya termasuk Theo Tan and the Fox Spirit dan sekuelnya.

 

Rekomendasi

Buku saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang mencari novel drama keluarga + romantic comedy dengan bumbu murder mystery. Unsur budaya Cina-Indonesia dengan bahasa yang campur aduk antara Inggris, Indonesia, dan Mandarin (untuk Mandarin tetap dinarasikan dalam bahasa Inggris) membuat novel ini unik dari awal hingga akhir. Ringan dan menghibur.

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645 an Diana Fitri

Gopay 081959986001

 

-------------------------------------------------------------------------

 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Dipi adalah seorang pembaca buku sejak usia 5 tahun. Ia membaca buku-buku fiksi maupun non fiksi. Dipi host di dua program di nbsradio.id (radio di Bandung yang beraliansi resmi dengan VOA). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks. Dipi menulis di blognya dipidiff.com , dan tulisan-tulisan review bukunya menjadi entry di halaman pertama mesin pencari Google. Saat ini dipi adalah ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi bisa dijumpai juga di instagram @dipidiffofficial. Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan lembaga pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereview buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Universitas Negeri Semarang, LP3i, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, English Star Bandung, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Passionnya yang lain terkait dengan bidang pendidikan dan memanggang kue-kue. Dia mengembangkan bisnis kecilnya, bernama Dipidiff Official Store, sambil tetap sibuk menjadi ibu satu anak dan meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa muda di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. Dipidiff adalah Personal Brand-nya.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation

Contact Dipidiff at This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it..

 

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Review Buku The Twyford Code - Janice Ha…

20-11-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  The Sunday Times Bestseller   Judul : The Twyford Code Penulis : Janice Hallett Jenis Buku : Amateur Sleuths, Murder Thrillers, Suspense Thrillers Penerbit : Profile Books Tahun Terbit : July 2022 Jumlah Halaman : 400 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Suluh Rindu - Habiburrahman …

12-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Suluh Rindu Penulis : Habiburrahman El Shirazy Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2022 Jumlah Halaman :  594 halaman Dimensi Buku : 13.5 × 3 × 20.5 cm Harga...

Read more

Review Buku Dimensi Langit Manusia - Ast…

11-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Dimensi, juara favorit Kompetisi Menulis Kwikku Tahun 2020 Setelah direvisi, Dimensi diterbitkan MCL dengan judul Dimensi Langit Manusia   Judul : Dimensi Langit Manusia Penulis : Astrida Hara Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : MCL...

Read more

Review Buku Bino - Zaki Jaihutan

10-09-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Bino Penulis : Zaki Jaihutan Jenis Buku : Horor Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Juni 2021 Jumlah Halaman : 288 halaman Dimensi Buku : 13 x 19 cm Harga : Rp. 96.000*harga sewaktu-waktu dapat...

Read more

TERBARU - Jeff's Journal

Lima Hal yang harus Dipersiapkan Sebelum…

17-10-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini, di Amerika Serikat sedang nge-tren sebuah istilah yang namanya The Great Resignation. Terjemahan bebasnya kira-kira “Pengunduran Diri Besar-besaran”. Entah kenapa kalau Amerika Serikat yang memberikan nama, biasanya selalu...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Mencari Panutan

24-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Gue nge-fans sama Michelle Obama.” Kata seorang sahabat saya beberapa waktu lalu ketika mantan Ibu Negara Amerika Serikat itu meluncurkan bukunya yang berjudul Becoming. “Kalau gue baca bukunya Michelle karena pengen...

Read more

Kerja Keras vs Kerja Keras

13-07-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok dan dunia, pernah mengemukakan sebuah hal yang cukup kontroversial beberapa waktu lalu. Ma mendukung penerapan sistem kerja 996, sebuah sistem kerja yang...

Read more

GENERALIST vs SPECIALIST

23-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Mari memulai diskusi ini dengan sebuah ilustrasi. Anggaplah kita sedang di perjalanan untuk berlibur ke sebuah negara di belahan dunia lain. Di tengah perjalanan, nasib naas menerpa kita, dan akhirnya kita...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

07-06-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita bersama-sama belajar tentang apa yang perlu kita miliki di usia 25 tahun, dari sisi pola pikir (mindset). Diantaranya kita harus mempunyai pemikiran yang mau selalu terus...

Read more

Apa sih yang Harus Saya Miliki di Usia 2…

22-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Akhir-akhir ini marak pembahasan di sosial media mengenai apa yang harus kita capai di usia 25 tahun. Bermula dari sebuah konten di twitter yang bertuliskan ‘usia 25 tahun idealnya punya...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 4) – Ala…

09-05-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

      Sampailah kita pada pembahasan terakhir mengenai Mastering Presentation. Pada artikel terakhir ini, mari kita ulas sedikit tentang alat bantu dalam melakukan presentasi. Ketika kita berbicara mengenai alat bantu dalam presentasi, perlu...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 3) – Cara…

25-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang jenis dan gaya presentasi. Kedua hal ini mudah-mudahan dapat membantu kamu dalam membuat presentasi yang lebih baik dari sebelumnya. Nah untuk bagian ketiga...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 2) – Cara…

12-04-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Jika pada artikel sebelumnya kita belajar mengenai jenis-jenis presentasi, maka pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai cara membuat presentasi yang baik. Kita langsung saja yaa.   Tentukan Tujuan. Tentunya setiap presentasi...

Read more

Mastering Presentation (Bagian 1) – Meng…

28-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pernahkah kamu ada dalam situasi yang mengharuskan kamu membuat materi presentasi, tetapi kamu merasa stuck? Pernahkah kamu hanya diberi waktu 10 menit untuk muncul dengan materi presentasi, padahal kamu belum ngapa-ngapain? Jika...

Read more

SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi…

12-03-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  SOTOY – Dan caranya untuk tidak menjadi lebih sotoy lagi –   Di tahun 1999, dua orang psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger mempublikasikan sebuah studi berjudul “Unskilled and Unaware of It:...

Read more

Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah …

27-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Kebiasaan Menyikat Gigi Cathy – Sebuah pelajaran tentang membangun kebiasaan –   “Cathy! Ayo cepat sikat gigi, terus mandi! Udah siang nih, nanti terlambat sekolah kamu!” terdengar teriakan seorang ibu dari balik ruangan...

Read more

A Valentine's Day Nonsensical Article

12-02-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Sometimes we waited too long to say what we should have Partly in the name of romance, we acted different than what we could have Eased by the phrase “a special word”...

Read more

KERJA = JODOH ?

31-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Ada yang bilang "kalau namanya sebuah kerjaan (baca: perusahaan) sudah jodohnya kita, ngga akan lari kemana."   Konsep perjodohan ini agak menarik. Bagaimana tidak, istilah yang tadinya dipakai untuk urusan rumah tangga...

Read more

Revolution, not Resolution – 5 Cara Meme…

17-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada tulisan sebelumnya, kita banyak membahas tentang bagaimana resolusi tahun baru mudah sekali gagal tidak lama setelah janji tersebut terucap. Tidak sabaran, tidak punya rencana, tidak ada mekanisme kontrol, hilangnya...

Read more

Revelation, Not Resolution – 5 Resolusi…

02-01-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Revelation, not Resolution – 5 Resolusi Untuk 2021, dan 5 Alasan Mengapa Kamu Akan Gagal –   Kamu pasti tahu kan apa yang biasanya dilakukan saat memasuki tahun baru? Bikin resolusi! Dari yang canggih...

Read more

2020

19-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

Apakah kamu termasuk kelompok orang-orang yang lega tahun ini akhirnya berakhir? Atau masuk dalam katagori orang yang masih belum menerima kalau tahun 2020 ini begitu kacaunya? Atau mungkin kamu ada...

Read more

The Disrupted Disruption

05-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

    Ingatkah kalian, beberapa dekade yang lalu, ketika umat manusia masih berada dalam puncak kejayaannya dan sedang memasuki masa yang disebut sebagai era disrupsi digital? Sebentar.... Ah lupa.... rupanya belum sampai berpuluh-puluh tahun...

Read more

Rethinking Everything – The Disrupted Di…

03-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Pada artikel sebelumnya, kita membahas cukup banyak tentang disrupsi yang terdisrupsi. Waktu itu saya paparkan ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk bisa survive atau bahkan menang dalam masa ini...

Read more

Orchestrate Your Action – The Disrupted …

01-12-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  – It takes as much energy to wish as it does to plan – Eleanor Roosevelt   Ada seorang anak muda, cerdas, belum lama lulus kuliah. Waktu itu dia bekerja di perusahaan yang...

Read more

Run, Forrest! Run! – a Disrupted Disrupt…

28-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “...Life was like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get” Kata-kata di atas keluar dari mulut Forrest Gump, seorang pria muda dengan IQ rendah namun baik hati...

Read more

Reinventing Yourself – a Disrupted Disru…

25-11-2020 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  Jadi, di masa pandemi ini kamu telah meletakkan semuanya di atas meja. Segala sesuatunya sudah dipikirkan dengan matang, mana yang akan kamu lakukan, mana yang bisa ditunda, mana yang harus...

Read more

TERBARU - POSITIVE VIBES

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting? Trib…

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more