0

Review Buku Lagom - Lola A. Åkerström

Published: Sunday, 06 February 2022 Written by Dipidiff

 

International Bestseller

Discover the Swedish ethos of balanced living with this little book of Lagom.

Judul : Lagom

Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia

Penulis : Lola A. Åkerström

Alih Bahasa : Aswita R. Fitriani

Penyunting: Krisnadi Yuliawan

Pemindai Aksara: Ratih Ramadyawati

Disain Kover: Kholishotul Hidayah

Penata Letak : Faiz Yusqi Ahlian

Jenis Buku : Reference work

Penerbit : Renebook

Tahun Terbit : 2019

Jumlah Halaman : 244 halaman

Dimensi Buku : 14 x 21 cm

Harga : Rp. 95.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 978-602-1201-81-7

Hard Cover

Edisi Terjemahan

Buku ini tersedia di Gramedia dan toko buku lainnya

Dapatkan diskon 20% untuk pembelian di shopee dan tokopedia Official Rene Turos

 

Sekelumit Tentang Isi

Konsep Swedia Lagom (diucapkan "lah-gom") secara kasar diterjemahkan menjadi "tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, pas." Buku ini memperkenalkan cara baru untuk hidup seimbang yang menjanjikan kebahagiaan dan keberlanjutan dalam pekerjaan dan kehidupan. Gaya hidup Lagom memberikan solusi sederhana untuk mengatur prioritas sehari-hari, mengurangi stres, makan enak, dan menghemat uang, dengan pelajaran tentang pentingnya waktu senggang, berada di luar ruangan, dan budaya rehat kopi di Swedia.

Lagom adalah cara hidup bahagia yang menyenangkan, simpel dan pas. Inilah rahasia kenapa Swedia menjadi salah satu negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Sudah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa, buku ini akan membantumu untuk melakukan perubahan-perubahan kecil yang dapat menjadikan hidupmu lebih bahagia dan berkualitas kembali.

 

Yuk kita intip daftar isinya

Catatan Penulis

Pendahuluan + Penjelasan

Kultur + Emosi

Makanan + Perayaan

Kesehatan + Kesejahteraan

Kecantikan + Mode

Dekorasi + Desain

Kehidupan Sosial + Bermain

Pekerjaan + Bisnis

Uang + Keuangan

Alam + Kesinambungan

Lagom di Dunia yang Berubah-ubah

Tentang Penulis

Ucapan Terima Kasih

Referensi

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Sebuah desain sampul yang menarik, warna birunya menjadi latar yang tepat untuk beragam ilustrasi yang mengelilingi judul, gambar-gambar ilustrasi itu jadi muncul, menghangatkan keseluruhan tampilan desain. Cetak tebal dan ukuran besar judul buku menjadi pusat perhatian begitu buku ini terlihat di display. Edisi hardcover kokoh dan rapi. By the way, saya suka sekali dengan logo Renebook. Tidak ada pembatas buku, tapi ada pembatas pita yang praktis sekali untuk digunakan sebagai gantinya.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Apakah kamu sudah merasa bahagia tapi tetap aja dianggap ga bahagia? Ujungnya jadi ragu-ragu, sebenernya bahagia ga sih. Ini pertanyaan yang lumayan absurd ya sebenarnya, tapi ternyata banyak yang relate dengan situasi ini. Kita tahu tiap orang punya definisi yang berbeda-beda untuk kata bahagia, tapi saya percaya, paling ngga ada semacam pola yang mendasari gaya hidup orang-orang yang ujungnya membawa pada kata ‘bahagia’ tersebut. Contohnya orang-orang Swedia yang sudah terbukti mendapatkan peringkat negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Meski Swedia berbeda situasi dan kondisi dengan Indonesia, tapi mempelajari Lagom tentu tetap akan membawa banyak manfaat ke dalam kehidupan kita dalam bentuk refleksi dan aksi yang mengikuti. Itulah mengapa buku Lagom ini menarik buat saya pribadi.

 

Isi buku ini dibuka dengan cerita dari Lola (penulis) yang datang ke sebuah jamuan makan malam para pemain bas dan biola orkestra di Stockholm. Di perjamuan itu, Lola cukup terkejut melihat para tamu yang datang memakai pakaian yang santai (jeans dan atasan sederhana). Sepanjang acara tidak ada seorang pun yang membicarakan pencapaian pribadinya. Semua berperilaku sopan, hangat, menghormati privasi, dan rendah hati. Meski para pemain orkestra ini adalah pemain musik papan atas yang bisa bicara 3 bahasa, mereka selalu mengecilkan kemampuan bahasa mereka dengan alasan bukan penutur asli. Lola juga bercerita betapa Lagom itu menjadi filosofi orang Swedia dalam keseharian, misalnya seseorang jika datang terlambat ke suatu acara, maka cukup minta maaf tanpa perlu menjelaskan alasannya apa, kecuali jika ditanya. Dan orang-orang Swedia jarang datang terlambat kecuali karena terjadi hal urgen, mereka menjunjung tinggi budaya tepat waktu.

 

Jadi apa sih Lagom itu?

Lagom adalah cara hidup orang Swedia yang bahagia, menyenangkan, simpel dan pas. Cara hidup Lagom menerapkan beberapa prinsip, yakni; (1) Rendah hati, (2) Tidak boros, (3) Ambil secukupnya, (4) Jujur mengenai kemampuan yang dimiliki, (5) Belajar berkata tidak, (6) Tidak membuang-buang waktu, (7) 3R - Reuse, Refill, Recycle. Detailnya nanti teman-teman bisa baca sendiri di bukunya ya J. Saya terkesan dengan filosofi kultur Lagom ini yang menurut saya bijak dan mengusung gaya hidup minimalis serta ramah lingkungan.


Lagon kerap didefinisikan sebagai ‘jumlah yang pas’ dan ‘semuanya dalam moderasi’. Definsi-definisi itu membawa nuansa kepantasan. Nuansa itu dpersempit lagi menjadi tidak diperlukannya sesuatu yang berlebih, sesuatu yang dibesar-besarkan, sesuatu yang dipertontonkan secara tidak perlul dan sesuatu yang dipamerkan tanpa alasan.

Halaman 14

Lagom berarti perjuangan untuk menemukan keseimbang paling pokok dalam hidup, yang jka diaplikasikan  ke semua aspek eksistensi dapat membantu membimbing siapapun beroperasi dalam kondisi paling alamiah tanpa kesulitan.

....

Kondisi dan ukuran lagom berbeda bagi orang yang berbeda. Tingkat kepuasan saya dan Anda mungkin berbeda, tetapi kita sama-sama puas.

Halaman 15

Peran lagom adalah untuk membimbing kita dan memberikan dorongan ekstra ke arah upaya menemukan keseimbangan individual. Lagom memudahkan kita meruntuhkan bendungan tekanan dan membiarkan kepuasan mengalir deras dalam kehidupan kita.

Halaman 22

 

Buat yang penasaran awal mula Lagom ini darimana, penjelasan singkatnya akan ada di bab Kultur + Emosi. Di bab ini ada kilas balik bagaimana Lagom terbentuk, kapan secara kultural Lagom muncul ke permukaan, dan kapan mulai meresap ke jati diri orang Swedia.

Lagom dalam kepercayaan populer adalah pola pikir sebagai pemain tim yang mengerjakan apa yang menjadi bagiannya. Banyak orang meyakini pola pikir lagom merupakan warisan kaum Viking yang diturunkan dari generasi ke generasi. Konon berawal dari tradisi gelas komunal yang diisi dengan mead – minuman beralkohol yang terbuat dari  madu yang difermentasi – dan diedarkan ke semua orang yang duduk mengelilingi api unggun setelah mereka lelah merampok seharian. Setiap orang diharuskan meminum bagian masing-masing dengan tidak berlebihan agar yang lain bisa mendapatkan bagian yang adil.

Halaman 27

 

Lagom jelas diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari orang Swedia. Ini terekspresikan lewat mindset mereka berkaitan dengan makanan, perayaan, kesehatan, kesejahteraan, kecantikan, mode, dekorasi, desain, kehidupan sosial, bermain, pekerjaan dan bisnis, uang dan keuangan, alam dan kesinambungan.

 

Banyak sekali hal-hal menarik yang saya temui di buku ini. Saya yakin bukan hanya pembaca self-help yang bakal suka dengan buku Lagom, tapi juga pembaca yang menyukai bacaan berunsur budaya suatu negara, karena isi bukunya yang menceritakan hari-hari istimewa di sana serta perilaku unik penduduknya. Sebut saja soal makanan, orang Swedia sangat menjunjung pentingnya makan. Menariknya adalah, bukannya menyantap semua makanan yang ada, Lagom membuat mereka menempatkan diri pada porsi makan yang pas, tidak berlebih dan tidak kurang, mengutamakan makanan lokal dengan bahan yang segar, menggunakan bahan-bahan yang tersedia sesuai musimnya, menu sederhana yang ga kebanyakan rempah tapi juga ga minim bumbu, penyajiannya boleh simpel tapi cita rasa tetap diutamakan. Mereka juga menggunakan waktu ngopi dan ngemil roti untuk dijadikan momen-momen rehat dan bersosialisasi yang asyik bersama teman atau orang yang dikasihi sehingga pikiran mereka kembali fresh dan rileks.

Kita bisa jelas-jelas melihat lagom beraksi saat melihat menu sarapan khas Swedia. Tidak seperti menu sarapan Inggris yang lengkap bagai hidangan pesta kecil berisi telur mata sapi, daging bacon goreng, kacang panjang, sosis jumbo, dan puding, menu sarapan Swedia memiliki kesederhanaan yang ditandai oleh minimalisme.

Halaman 49

Hal yang mungkin tampak mengherankan bagi orang luar adalah tradisi Swedia untuk merayakan makanan dan benar-benar mendedikasikan tanggal spesifik di kalender untuk bersuka-cita dan mensyukuri kegembiraan sederhana yang dihadirkan makanan ke dalam kehidupan.

Halaman 62

 

Lagom juga terciri dari sikap kemandirian mereka. Bagi orang Swedia sangat penting untuk tidak mengganggu orang lain lebih dari yang seharusnya. Di satu sisi ini memang akan membuat orang luar awalnya merasa sikap mereka terasa berjarak, tapi dengan memahami maksud dari Lagom yang sebenarnya, justru ada kenyamanan yang tercipta dari tindak-tanduk orang Swedia yang tak suka turut campur tanpa alasan yang jelas. Mereka ga suka gosip, tak suka basa-basi, dan lebih baik diam kalo ga benar-benar tau duduk permasalahannya.

 

Ketika membaca bagian sosialisasi di buku ini, saya tersenyum simpul membayangkan budaya di sana yang sebegitu ‘mandirinya’ karena ternyata kalau kita misalkan pergi ke restoran di sana berdua atau berombongan, pihak resto akan dengan cekatan membagi tagihan secara terpisah. Tak akan ada celah bagi mereka yang pengen ditraktir untuk melancarkan modusnya hahaha. Unik ya ^^

Permainan kemandirian ini dimainkan dalam konteks sosial yang beragam, namun utamanya saat berurusan dengan berbelanja atau makan di luar. Pramuniaga jarang menunggu di dekat Anda saat tengah berbelanja, dan pramusaji jarang mendatangi meja Anda sebelum Anda melakukan kontak mata dan memanggil mereka. Bagi orang dari kultur yang lebih berorientasi pelayanan, sikap seperti ini mungkin dianggap sembrono atau acuh tak acuh.

Tagihan restoran hampir selalu dipecah-pecah dan itu juga dilakukan dengan sangat cepat,  sebelum salah seorang tamu mebuat suasana menjadi canggung dengan mencoba menangguh seluruh tagihan. Bagi seseorang  yang berkencan dan berharap akan ditraktir, norma kultural ini mungkin akan memberi kejutan di penghujung malam. Orang Swedia sudah terbiasa memecah tagihan mereka, selalu mebalas kebaikan, dan tidak berutang kepada siapa pun, terutama secara finansial.

Halaman 137



Saya juga tertarik dengan tradisi fika dalam Lagom. Fika adalah tradisi beristirahat atau berhenti sejenak beberapa kali dalam satu hari untuk bersosialisasi dengan teman, orang tercinta, dan kolega, biasanya dengan ngopi bareng dan ngemil kue atau roti, tujuannya agar pikiran kembali fokus dan terkoneksi dengan diri sendiri, juga untuk mengistirahatkan pikiran dan emosi kita melalui hubungan interaksi sosial yang positif dan menyehatkan. Dalam satu hari, orang Swedia biasanya melakukan fika sebanyak tiga kali. Hmmm... pantas saja mereka bahagia ya ^^

 

Lagom juga fokus pada tindakan menjaga kesehatan. Menurut Lagom kita harus mendapatkan  istirahat yang memadai untuk pikiran kita, olahraga rutin untuk tubuh, dan waktu seorang diri yang cukup biar waras :D. Yang penting, cara-caranya tidak berlebihan dan tidak sembrono, harus logis dan realistis.

 

Cara yang logis dan realistis ini juga tercermin dalam pandangan mereka terkait kecantikan. Orang Swedia suka dandan, tapi riasan yang mereka gunakan bertujuan untuk menonjolkan sisi paling menarik dari fisik mereka, bukan merias wajah hingga seolah menjadi orang lain dan tidak menghargai kecantikan alamiah. Terus terang pernyataan ini membuat saya penasaran apa pendapat mereka terkait operasi plastik kecantikan ya. Dugaan saya, Lagom akan membuat mereka pro pada operasi plastik kecantikan asalkan alasannya tepat dan dilakukan tidak berlebihan. Bagaiman menurut teman-teman?

 

Pada kenyataannya, Lagom memang mengingatkan saya pada gaya hidup minimalis dan sustainable. Gaya hidup ini digaungkan oleh beberapa tokoh seperti Madeleine Olivier dan Fumio Sasaki. Gaya hidup ini menggarisbawahi filosofi kesederhanaan dengan membatasi kepemilikan dan aktifitas pada hal-hal yang dibutuhkan dan memiliki makna, plus ramah lingkungan. Kita tahu bumi dalam kondisi iklim yang ekstrim, jadi saya setuju dan mendukung gaya hidup ini.

Dalam pekerjaan dan bisnis, orang Swedia dikenal sebagai negosiator yang handal. Ada sebuah pepatah Swedia yang berbunyi, “Sebuah bisnis dikatakan bagus apabila kedua pihak diuntungkan”. Mereka tidak suka konflik, mereka mementingkan konsensus. Mereka selalu bersiap dan berencana, memastikan semua berjalan semulus mungkin, dan menemukan keseimbangan antara dunia kerja dan pribadi adalah hal yang utama. Hal ini didukung oleh pemerintah dengan aturan cuti dan libur.

Swedia memiliki jam kerja yang termasuk paling murah hati di dunia. Libur lima minggu yang ditetapkan oleh undang-undang, 480 hari cuti berbayar untuk mengurus anak, lebih dari sepuluh hari libur dan izin berbayar lainnya untuk merawat orang tercinta yang sakit. Juga tidak mengherankan jika orang Swedia sering kali sudah keluar dari kantor begitu jam berdentang lima kali, atau bahkan lebih awal dari itu.

Beberapa perusahaan telah menerapkan waktu kerja 6 jam sehari untuk melihat apakah waktu kerja yang lebih pendek dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjamin keseimbangan antara dunia kerja dan hidup pribadi yang begitu dilindungi orang Swedia.

Halaman 161

 

Mengetahui itu semua jadi bikin saya berasa pengen pindah ke sana ya hahaha, tapi pajak di Swedia terhitung tinggi loh, hanya saja penduduknya rela membayar pajak tinggi karena uang tersebut akan kembali pada mereka dalam bentuk pelayanan yang baik, mengcover biaya-biaya cuti berbayar, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

 

Btw, tiap bab yang ada ditutup oleh kolom khusus, semacam kolom renungan atau refleksi buat kita para pembaca. Poin-poinnya bagus-bagus, karena tepat mengena di bagian kontemplasi, proses menarik pelajaran yang ada di buku untuk bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Misalnya bab Uang dan Keuangan, kolom renungannya berisi 8 poin, di antaranya adalah:

  • Dalam hal keuangan, lagom tidak ingin kita menjadi kikir. Lagom hanya ingin kita lebih dapat mengendalikan belanja sehingga kita sesekali dapat memanjakan diri untuk menyeimbangkan hidup kita.
  • Sudah waktunya menyisihkan sebagian uang untuk masa yang akan datang. Meski sebagian besar di antara kita kurang beruntung karena tidak memiliki sistem kesejahteraan yang mapan untuk bertindak sebagai jaring pengaman, mungkin kita bisa mulai menyisihkan sedikit demi sedikit ke dalam rekening tabungan untuk meringankan sebagian tekanan finansial.
  • Kurangi belanja, tetapi berinvestasilah pada kualitas. Menurut Lagom, lebih baik berhemat dan membeli satu barang tahan lama, daripada selusin barang murah.
  • ...

Halaman 182

 

Buku ini juga dilengkapi gambar-gambar yang menarik dicetak warna biru atau hitam putih yang menampilkan berbagai panorama Swedia dan foto-foto lainnya. Ga heran, karena Lola memang seorang travel writer dan fotografer.

Gambar-gambar yang ada di dalam buku

 

Lagom dari Lola A. Åkerström adalah sebuah buku yang menurut saya sangat layak bahkan penting untuk kita baca. Di tengah makin hiruk pikuknya kehidupan modern saat ini, banyak orang mengalami gelisah, lelah, depresi dan lain sebagainya. Pemicunya seringkali karena hidup yang tidak berimbang. Sekali lagi bahagianya kita memang bisa berbeda-beda definisinya, tapi tidak ada salahnya mencoba melakukan apa yang telah diajarkan dalam Lagom. Tentunya akan ada penyesuaian dalam pengaplikasiannya, karena perbedaan kondisi dan situasi. Di sebutkan di dalam buku, bahkan orang Swedia sekalipun tidak menerapkan Lagom 100 persen ketika berada di luar negara mereka. Menarik ya ^^ .

Tulisan Lola juga sederhana mudah dipahami, menyenangkan saat dibaca. Ada banyak hal di dalam buku yang tidak saya share di sini karena akan lebih oke untuk dibaca sendiri oleh teman-teman. Mari coba baca bukunya, ga pake lama J, dan dapetin wawasannya untuk pengembangan diri kita.

Banyaknya hal-hal berunsur budaya di dalam buku ini berawal karena Lola memang memiliki keingintahuan yang besar terhadap budaya. Tahun 2010 ia mulai mengeksplorasi dan belajar lebih banyak tentang budaya Swedia dan nuansanya. Lola juga menulis tentang Swedia untuk beberapa publikasi termasuk situs web resmi miliki Swedia. Tahun 2014, Lola menulis artikel investigasi mendalam berjudul  “The Silence of the Swedes” untuk Slate Magazine bekerja sama dengan Roads + Kingdoms. Sikap diam orang Swedia memang bagian dari ciri Lagom yang mereka miliki. Tahun 2017 penerbit Hachette menemukan artikel itu dan mengontak Lola untuk menulis buku LAGOM ini.

Buku ini terasa berbeda karena fokusnya yang terletak pada interaksi Lagom dengan individu, masyarakat, serta lingkungan. Lagom sering digambarkan sebagai ‘tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, pas’… tetapi intinya yang sebenarnya adalah Lagom merupakan cara orang Swedia menangani stres dan hidup bahagia.

 

Siapa Lola Akinmade Akerström

Lola Akinmade Akerström adalah fotografer Nigeria dan travel writer yang tinggal di Stockholm, Swedia. Ia adalah pemimpin redaksi untuk Slow Travel Stockholm. Karya-karyanya telah ditampilkan di National Geographic Traveler, BBC, dan CNN. Akerström menempuh pendidikan jurusan Sistem Informasi Geografi (GIS) di Universitas Maryland.

Akerström memulai karirnya sebagai jurnalis lapangan di Eco-Challenge. Dia bekerja selama 12 tahun sebagai pengembang GIS sebelum menjadi fotografer profesional. Antara tahun 2006 dan 2007, ia bergabung dengan Matador Network dan bekerja sebagai editor. Pada Oktober 2009 ia mengundurkan diri dari pengangkatannya di dunia GIS untuk mengejar hasratnya. Pada bulan Juni 2011, Akerström mengikuti program pra-seleksi yang diselenggarakan oleh Ekspedisi Quark untuk memilih seorang penulis yang akan bepergian ke Kutub Utara untuk proyek pendokumentasian ekosistemnya. Pada tahun 2012 ia berpartisipasi dalam lomba ekspedisi di Fiji, di mana ia memulai kombinasi keterampilan bepergian, fotografi, dan menulisnya. Pada tahun 2016, ia pergi ke Italia untuk menghadiri Situs Warisan Dunia Unesco Sabbioneta dan Mantua untuk eksplorasi.

Sumber: Wikipedia

Lola Akinmade Akerström pernah tinggal di tiga benua yang berbeda – Afrika, Amerika Utara, dan sekarang Eropa – dalam periode waktu yang lama. Lola Akinmade Akerström tertarik pada kompleksitas dan nuansa dari kebudayaan serta manifestasinya di dalam hubungan.

Ia memegang gelar master di bidang Sistem Informatika dari University of Maryland, Baltimore County. Lola pernah bekerja sebagai konsultan dan pemrograman selama lebih dari satu dekade sebelum mengikuti impiannya untuk menjadi penulis dan fotografer perjalanan, menjelajahi beragam budaya melalui makanan, tradisi, dan gaya hidup.

Sekarang, ia adalah seorang penulis, pembicara, dan fotografer peraih penghargaan, yang diwakili oleh National Geograpic Creative. Ia secara rutin memberi kontribusi ke berbagai media terkenal seperti AFAR, BBC, the Guardian, Lonely Planet, Travel + Leisure, dan National Geographic Traveller.

Lola merupakan penerima berbagai penghargaan di bidang fotografi dan penulisan, termasuk di antaranya dari Society of American Travel Writes dan North American Travel Jouralists Association. Selain itu, Lola menjabat sebagai editor di Slow Travel Stockholm, sebuah majalah online yang didedikasikan untuk menjelajah ibukota Swedia secara mendalam.

Ia tinggal di Stockholm bersama suami dan anak-anaknya, dan menulis blog lolaakinmade. com.

Sumber: Buku Lagom

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku Lagom ini kepada semua pembaca karena isinya yang sangat bermanfaat. Isi buku mudah dipahami, ditulis dengan cara sederhana, dilengkapi foto-foto panorama Swedia. Ada kolom renungan di tiap akhir bab. 

Buku ini tersedia di Gramedia dan toko buku lainnya

Dapatkan diskon 20% untuk pembelian di shopee dan tokopedia Official Rene Turos

 

 

--------------------------------

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more