0

Starbucks Jatinangor (a Story)

Published: Monday, 25 September 2023 Written by Dipidiff

 

Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang situasi sudah berbeda, Starbucks membuka cafe di area Jatinangor.

Pandemi sudah cukup lama berlalu. Dulu, sekitaran kampus Jatinangor sempat mati kondisinya, imbas dari pandemi. Jangankan warung emperan dan tukang fotokopian, cafe bermerek ternama pun gulung tikar. Namun situasi kini sudah berubah. Mahasiswa sudah memulai aktifitas kampus-kampus di Jatinangor, warung-warung kembali hidup, dan cafe-cafe pun menjamur. Saya tidak tahu kapan tepatnya Starbucks membuka cabangnya di sini, kelihatannya baru sekitar pertengahan 2023 lalu.

 

 

Picture: Bangunan Starbucks Jatinangor tampak depan dan Lantai 1

 

Lokasi, Tampak Depan, dan Lantai 1

Untuk perkiraan lokasi, paling mudah mencari Starbucks dengan berpatokan pada mall Jatinangor Town Square (Jatos), atau, tentu saja, di jaman kecanggihan teknologi, lokasi Starbucks sudah terdata di applikasi Google Map maupun Gojek. Cafe ini terletak di sebelah kiri Jatos, hanya berselang satu atau dua bangunan.

Dapat dilihat di gambar di atas (1), bagian depan cafe tampak mencolok karena ada plang logo Starbucks di bangunan lantai dua yang berbentuk memanjang ke belakang. Area parkir lumayan saja luasnya, mungkin hanya cukup untuk 6-8 mobil dan beberapa motor, namun tidak usah khawatir, yang tidak kebagian parkir bisa ikut area parkir Jatos atau mungkin juga bisa di bagian belakang bangunan. Serahkan saja pada instruksi tukang parkir yang standby di lokasi.

Saya sudah beberapa kali ke sini, ini kunjungan ketiga, dan baru kali ini cafe cukup sepi karena saya datang di Senin pagi - siang. Sebelumnya saya datang di hari lain, Rabu dan Jumat, suasana cafe padat ramai, yang untuk saya pribadi justru kurang nyaman. Bahkan sempat memutuskan tidak jadi ngopi di Starbucks karena hal ini. So, buat yang ingin nongkrong di Starbucks Jatinangor dalam suasana tenang, rekomendasi datang di hari Senin.

Dapat dilihat di foto-foto di atas, lantai 1 Starbucks Jatinangor lumayan saja luasnya, bisa menampung sekitar 5 meja berkursi dua, dan 3 meja berkursi empat. Tersedia kursi balita. Pajangan lukisan dan lampu-lampu cantik memang membuat interior cafe terasa cozy dan indah. Lantai 1 ini lumayan terang, terutama jika memilih duduk di kursi-kursi dekat jendela.

 

Picture: Lantai 2 Ruang Non Smoking dan Smoking + Toilet

 

Lantai 2 Ruang Non Smoking, Smoking, dan Toilet

Naik ke lantai 2 kita akan menemukan area smoking dan non smoking. Bagian non smoking bisa di lihat di foto di atas, ruangan terang dengan jendela-jendela besar. Sekitar 4 - 5 meja berkursi dua, termasuk yang di bawah lukisan, lalu ada meja panjang dengan kursi-kursi ramping dan tinggi, serta area sofa berlatar pajangan lukisan besar, keliatannya ini cocok untuk yang datang satu rombongan.

Masuk ke ruangan smoking melewati pintu, suasana menjadi agak temaram. Di sini kursi-kursinya rasanya makin ramping satu set dengan meja kecil praktis. Tapi ada area dengan sofa-sofa cukup untuk 4 orang yang posisinya merapat di dinding berhiaskan tanaman lidah mertua.

Di sudut ada toilet dan wastafel. Tidak ada musholla di sini. Bagi yang ingin menunaikan ibadah shalat bisa melipir ke masjid kecil yang ada di Jatos, jaraknya tidak jauh. Suasana cafe hening dan tidak terdengar musik sama sekali waktu saya datang kemarin Senin.

 

Picture: Menu Minuman

 

Menu Minuman

Kopi apa yang biasanya teman-teman pilih saat menghabiskan waktu di Starbucks? Favorite saya kalau sedang ke cafe biasanya latte, atau jika ada signature cafe-nya, maka saya akan pilih minuman itu. Tersedia cup tall (kecil), grande  (medium), dan venti (besar), dengan pilihan hot atau cold. Kemarin saya memilih Brown Sugar Latte. Rasanya enak, apalagi dinikmati bersama keju croissant dengan butter-nya.

Berikut menu minumannya:

  • White Chocolate Mocha
  • Salted Caramel Cream Cold Blue
  • Caramel Latte with Almondmilk
  • Oatmilk Cocoa Macchiato
  • Brown Sugar Latte
  • Brown Sugar Oatmilk Iced Shaken Espresso
  • Iced Caramel on the Rock Americano
  • Iced Cinamon Roll Latte
  • Iced Mango Candy Milk
  • Iced Rapsberry Candy Milk
  • Iced Tiramisu Latte
  • Iced Salted Caramel Green Tea Latte

 

Sengaja saya request kopinya untuk disajikan di gelas dan bukan cup takeaway. Mba Starbucks-nya tersenyum maklum, mungkin sudah paham bahwa customer-nya yang satu ini bakal foto-foto dulu sebelum meminum latte-nya. Sejujurnya, dari beragam tempat saya biasa take photo, cafe dan resto adalah lokasi favorit saya. Saya suka vibes cafe dan resto, terutama yang interiornya indah, bersuana tenang dan nyaman.

Hari ini saya tidak membawa properti dan alat foto tertentu. Perangkat saya hanya HP Samsung A52, laptop (untuk kerja dan untuk properti foto yang ternyata tidak terpakai juga di sini). Oh ya, sebelum ke sini saya sempat berbelanja di toko alat tulis dan membeli beberapa kantong kertas bermotif cantik, tapi inipun tidak saya gunakan. So, saya hanya akan memanfaatkan apa yang ada di cafe saja.

 

Picture: Foto 1 Buku Never Ending Journey

 

Cara Bikin Foto 1

Buku pertama yang saya pakai untuk foto adalah Never Ending Journey, sebuah buku biografi Buntoro, direktur Mega Andalan Kalasan. Saya pilih buku ini untuk tipe foto 1 karena melihat warna-warna pada ruangan yang berkomposisi mayoritas kuning, gold, hitam, dan abu-abu. Warna-warna ini juga terdapat di bagian cover buku Never Ending Journey. *lihat Foto 1 Gambar 1 dan Gambar 2. Saya tertarik menjadikan etalase pastry dan dinding coklat-gold dengan langit-langit dan tangga yang membentuk pola garis diagonal untuk latar foto. Bagian dinding yang berpola kotak-kotak dan langit di luar kaca cenderung polos sehingga bisa memberikan ruang napas (negative area) di foto buku nanti.

Saya atur buku, gelas kopi, dan croissant membentuk segitiga, dengan aturan properti jumlah ganjil. Saya pilih take foto dengan angle eye level karena beberapa alasan, yang pertama gelas kopi yang tinggi rawan distorsi, take foto dengan angle bird eye ternyata terlalu polos hasilnya, dan gerak-gerik saya khawatir menarik perhatian orang lain kalau foto dari arah atas. Selain itu, foto dengan eye level selalu bisa saya jadikan data base untuk buku-buku lainnya. Hasil foto bisa dilihat di Foto 1 Gambar 3.

Saya take foto posisi ini sebanyak 3-4 kali dengan sedikit mengubah-ubah jarak foto dan menggeser sedikit-sedikit posisi bukunya. Setelah itu saya pilih foto yang paling saya suka, lalu saya edit di hp dengan apps Snapseed. Di Sneepseed saya beri filter Pop. Se-simple itu. Hasilnya bisa dilihat di Foto 1 Gambar 4.

Berikutnya, saya lempar foto editan Snapseed itu ke apps Photolayer, lalu saya klik fitur add photo untuk menimpa bagian cover buku dengan file cover buku yang saya download dari Google. Tujuannya agar lebih rapi dan jernih (sayangnya dalam kasus ini, ternyata tidak ada file cover buku Never Ending Journey di Google yang tajam resolusinya). Di apps Photolayers saya klik fitur Shadows lalu saya atur bayangan dengan fitur Opacity, Blur, Offset X, dan Offset Y. Saya perjelas gambar cover buku dengan klik Color lalu klik Blur ke arah kiri agar cover buku tampak lebih tajam. Saya beri logo Dipidiff. Hasilnya bisa dilihat di Foto 1 Gambar 5.

Picture: Foto 2 Buku Soft Skills for Tough Jobs

 

Cara Bikin Foto 2

Saya alihkan pandangan saya ke sudut sebelah kiri ruangan dan tertarik untuk membuat foto buku juga dengan latar yang ini. Ada langit-langit berpalang kayu membentuk garis diagonal lalu dinding yang membentuk pola kotak-kotak berwarna gold putih, serta meja bergaris-garis kuning *lihat Foto 2 Gambar 1 dan 2. Tantangannya di sini adalah ketiadaan ruang negatif untuk foto. Namun saya memutuskan untuk mencoba memanfaatkan meja yang berpola lumayan polos sebagai ruang negatifnya. Resikonya, buku tidak bisa diposisikan terlalu mepet ke bagian pinggir dan bawah.

Buku yang saya gunakan masih Never Ending Journey. Saya posisikan buku, piring croissant, dan mug kopi membentuk diagonal seperti palang kayu di langit-langit. Angle eye level. Hasilnya dapat dilihat di Foto 2 Gambar 2. Setelah itu saya lempar fotonya ke apps Snapseed dan diberi Filter Pop. Hasilnya bisa dilihat di Foto 2 Gambar 4.

Untuk Foto 2, saya ingin menggunakannya untuk foto buku lain yang saat kemarin ke Starbucks tidak saya bawa serta. Tapi tentu ini tidak masalah. Tinggal download cover bukunya di Amazon. Lalu buka file Foto 2 yang sudah diedit di Snapseed di apps Photolayers. Timpa bagian cover Never Ending Journey dengan file cover buku Soft Skills for Tough Jobs. Pemilihan buku didasarkan pada komposisi warna cover juga. Buku Soft Skills for Tough Jobs punya dominasi warna putih yang akan tampak terang di latar dominasi gold dan coklat yang punya kesamaan warna pada huruf-huruf judul buku. Sedikit warna hijau pada judul akan beresonansi pada warna hijau logo cafe. Di apps Photolayers saya atur Shadow, Blur, Brightness, dan Saturation. Lalu saya beri logo Dipidiff. Hasilnya bisa dilihat di Foto 2 Gambar 5.

 

Picture: Foto 3 Buku Perempuan yang Mendahului Zaman

 

Cara Bikin Foto 3

Di Lantai 2 ruang Smoking ada tanaman lidah mertua yang saya penasaran untuk dimanfaatkan sebagai properti foto buku. Tantangannya adalah tentu saja tanaman ini tidak bisa diatur-atur sesuka saya berhubung di tanam di box tanah tertentu. Sudut tempat tanaman ini pun temaram dan kurang pencahayaan. Menariknya adalah, ada cahaya lampu yang sepertinya bakal cukup artistik untuk digunakan dalam foto buku *Lihat Foto 3 Gambar 1 dan 2.

Dominasi warna hijau pada tanaman lidah mertua dan temaram suasana membuat saya memutuskan untuk menggunakan buku Perempuan yang Mendahului Zaman sebagai objek utama. Buku ini juga memiliki dominasi warna cover yang kehijau-hijauan meski tidak sama persis hijaunya dengan hijau lidah mertua, setidaknya ada degradasi warna yang sama di sini.

Saya letakkan buku di bagian pinggir box tanaman dengan posisi miring dan mencari sudut dimana kiri dan kanan frame foto seolah dibingkai oleh daun lidah mertua dan bagian atas tampak cahaya lampu memancar memberikan fokus tambahan pada foto. Foto menggunakan angle eye level. Saya ambil angle foto yang kurang lebih sama dengan hanya menggeser-geser sedikit posisi foto, lalu pilih yang paling saya suka. Hasilnya bisa dilihat di Foto 3 Gambar 3.

Foto ini kemudian saya edit di Snapseed. Tantangannya kali ini adalah di ruangan yang temaram, filter Pop yang biasa saya gunakan akan memberikan hasil yang lebih kasar dari yang biasanya. Bagian dinding yang saya harapkan tetap mulus akan terlihat teksturnya yang detail dan kurang enak dilihat. Ada opsi lain tentu saja, yakni dengan pengaturan manual brightness, contrast, dll. tapi setelah membandingkan hasil dengan filter, saya masih tetap lebih suka versi praktis filter foto. Hasilnya dapat dilihat di Foto 3 Gambar 4.

Foto ini lalu saya buka di apps Photolayers, dan saya timpa dengan cover buku Perempuan yang Mendahului Zaman yang saya dapat dari download di Google. Saya atur Shadow dan fitur Blur, lalu penyesuaian sedikit dengan tone background foto. Hasilnya bisa dilihat di Foto 3 Gambar 5.

Picture: Foto 4 Buku Murder in the Family

 

Cara Bikin Foto 4

Masih di Lantai 2 Starbucks Jatinangor ruang Smoking, tapi kali ini dengan sudut yang berbeda. Dari tempat saya duduk yang mengarah ke jendela, ruangan makin remang-remang *Lihat Foto 4 gambar 1 dan 2. Tantangan membelakangi arah cahaya seperti ini adalah di objek yang hasil fotonya gelap. Tapi ini justru bagus untuk menghasilkan sebuah foto buku ala ala dark mood.

Saya gunakan langit-langit yang membentuk pola garis diagonal dan kubikel-kubikelnya untuk latar. Warna putih pada piring memberikan efek terang di tengah gelapnya latar, dan croissant yang berwarna coklat keemasan justru akan tampak bagus di hasil foto. Saya atur posisinya membantuk diagonal searah dengan tiang kubikel di bagian latar. Fokus saya arahkan ke piring croissant dan mengatur agar bagian lain tampak blur dan temaram. Hasil foto dapat dilihat di Foto 4 Bagian 3.

Foto ini lalu saya edit di Snapseed dengan fitur filter Pop. Praktis. Hasilnya dapat dilihat di Foto 4 Bagian 4. Lalu saya lempar lagi ke apps Photolayers. Pemilihan buku Murder in The Family untuk menimpa bagian cover buku didasarkan pada komposisi warna cover novel ini yang juga gelap tapi punya warna putih terang di bagian judul. Warna biru pada cover beresonansi dengan kilasan cahaya dari jendela, dan warna merah pada judul berdegradasi dengan warna croissant. Saya klik fitur Shadow dan Blur, lalu atur ketajaman dan kontras pada cover buku. Hasil akhir dapat dilihat di Foto 4 Bagian 5.

Picture: Foto 5 Buku Love from A to Z

 

Cara Bikin Foto 5

Awalnya saya tertarik dengan pohon berbunga yang tampak dari jendela. Saya memang membuat satu foto buku dengan latar ini, tapi di tengah-tengah pengambilan gambar, saya justru menemukan bagian dinding bawah bangunan Starbucks ternyata punya pola dan warna-warna yang menarik. Bentuknya seperti jendela warna-warni yang disusun artistik di sepanjang tembok *Lihat Foto 5 Gambar 1 dan 2. Saya jadi penasaran ingin mencoba menggunakan ini untuk latar foto buku. Tantangannya, posisi tembok ini ada di bagian bawah bangunan lantai 2 dimana saya sedang duduk.

Inilah yang menyebabkan saya mau tak mau harus take photo dengan angle 45 derajat atau bird eye. Saya coba ambil lebih dari 10 photo angle ini dengan variasi posisi buku dan posisi tubuh. Angle 45 derajat bukan angle favorit saya untuk buku karena distorsi gambar menyebabkan buku jadi terlihat miring, tidak presisi, tidak seperti bentuk buku aslinya. Selain itu ada gelas kopi yang sudah pasti terdistorsi di angle 45 derajat, dan rawan distorsi di angle bird eye. Tapi saya tidak ada pilihan lain yang lebih baik karena keinginan saya untuk menggunakan tembok warna-warna itu sebagai latar.

Di foto 5 ini saya gunakan tembok dan ujung meja untuk menciptakan pola garis diagonal pada latar. Bagian jalan dan tanaman semak yang cenderung polos memberikan ruang negatif pada foto. Untuk angle akhirnya foto ini tidak persis bird eye tapi agak miring sedikit untuk mencari posisi mana yang paling sedikit memberikan dampak distorsi pada gelas kopi tapi tetap bisa mempertahankan pola diagonal meja dan tembok yang saya inginkan, plus menampakkan bagian warna-warna tembok yang artistik itu.

Saya menggunakan dua buah buku untuk foto 5, yakni Perempuan yang Mendahului Zaman dan Love from A to Z. Buku Perempuan yang Mendahului Zaman saya tumpuk di bagian bawah karena warna cover hijaunya yang hanya jadi tambahan latar foto, cocok pula dengan warna semak tanaman. Objek utama adalah buku Love from A to Z karena cover merah pink buku ini punya warna yang beresonansi dengan warna tembok, sedangkan biru gelapnya akan pas untuk warna meja yang abu-abu gelap setelah diedit dengan apps. Posisi buku utama diatur sejajar dengan pinggiran meja agar terlihat rapi dan berpola. Hasil foto dapat dilihat di Foto 5 Gambar 3.

Foto lalu saya edit di Snapseed dengan Filter Pop. Hasilnya bisa dilihat di Foto 5 Gambar 4. Kemudian saya edit lagi di apps Photolayers, saya timpa bagian cover buku dengan versi gambar download dari Google, lalu saya atur dengan fitur Shadow, Blur, Contrast, dan Brightness hingga dicapai hasil yang diinginkan. Hasil akhir dapat dilihat di Foto 5 Gambar 5.

 

Terimakasih Starbuck Jatinangor

Saya masih menikmati kopi dan menghabiskan croissant saya sejenak di cafe ini hingga pukul 1 lebih. Customer makin siang makin banyak yang datang. Mungkin sekali sore dan malam suasana cafe akan padat meski di hari Senin, ini hanya dugaan saya saja. Semoga Starbucks Jatinangor terus ada dan makin maju. Sepanjang hari ini saya senang bisa menikmati waktu santai ngopi di sini.

Buat teman-teman yang ingin ke sini, silakan cek alamatnya,

Starbucks Jatinangor, Jl. Raya Jatinangor No.146, Cikeruh, Kec. Jatinangor, Kabupaten Sumedang,

Jawa Barat 45363.

 

 -------------------

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku Fourth Wing - Rebecca Yarros

14-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times BestsellerA Goodreads Most Anticipated Book Judul : Fourth Wing (The Empyrean, 1) Penulis : Rebecca Yarros Jenis Buku : Epic Fantasy, Romantic Fantasy, Sword & Sorcery Fantasy Penerbit : Piatkus, an...

Read more

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Starbucks Jatinangor (a Story)

25-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang...

Read more

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more