0

Review Buku 21 Lessons for the 21st Century - Yuval Noah Harari

Published: Tuesday, 15 January 2019 Written by Dipidiff

 

 

Judul : 21 Lessons for The 21st Century

Penulis : Yuval Noah Harari

Jenis Buku : Non Fiksi

Penerbit : Penguin Random House

Tahun Terbit : September 2018

Jumlah Halaman :  368 halaman

Dimensi Buku :  13.50 x 21.50 x 3.50 CM

Harga : Rp. 285.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781787330870

Paperback

Edisi Bahasa Inggris


Goodreads Choice Award Nominee for Nonfiction (2018)

Available at Periplus Setiabudhi Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

Sekelumit Tentang Isi

How we can protect ourselves from nuclear war, ecological cataclysims and technological disruptions? What can we do about the epidemic of fake news or the threat of terrorism? What should we teach our children?

Yuval Noah Harari melalui bukunya 21 Lessons for 21st Century membahas permasalahan-permasalahan global yang paling mendesak saat ini. Pada titik ini umat manusia menghadapi tantangan yang tak terelakkan sebagai pengaruh dari kemajuan yang mereka ciptakan sendiri. Apakah kita sebagai umat manusia yang cakap dan memegang kendali masih mampu memahami apa yang sedang terjadi?

Yuk kita intip daftar isinya:

Introduction

Part I: The Technological Challenge

1. Disillusionment

The end of history has been postponed

2. Work

When you grow up, you might not have a job

3. Liberty

Big data is watching you

4. Equality

Those who own the data own the future

 

Part II: The Political Challenge

5. Community

Humans have bodies

6. Civilisation

There is just one civilisation in the world

7. Nationalism

Global problems need global answers

8. Religion

God now serves the nation

9. Immigration

Some cultures might be better than others

 

Part III: Despair and Hope

10. Terrorism

Don’t panic

11. War

Never underestimate human stupidity

12. Humility

You are not the centre of the world

13. God

Don’t take the name of God in vain

14. Secularism

Acknowledge your shadow

 

Part IV: Truth

15. Ignorance

You know less than you think

16. Justice

Our sense of justice might be out of date

17. Post-Truth

Some fake news lasts for ever

18. Science Fiction

The future is not what you see in the movies

 

Part V:Resilience

19. Education

Change is the only constant

20. Meaning

Life is not a story

21. Meditation

Just observe

 

Acknowledgement

Notes

Index

 

Di buku pertamanya, Sapiens, Harari memfokuskan pembahasannya pada masa lalu manusia, lalu di buku kedua, Homo Deus, kita menjelajahi masa depan umat manusia, merenungkan bagaimana manusia pada akhirnya bisa menjadi manusia super, dan apa yang mungkin menjadi tujuan akhir dari segala kecerdasan dan kesadaran umat manusia. Di buku ketiga, 21 Lessons for The 21st Century, fokus pembahasan kembali kepada masa sekarang dan apa yang akan terjadi dalam periode waktu yang tak begitu lama. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa tantangan dan pilihan terbesar saat ini? Apa yang harus kita perhatikan? Apa yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita? Itulah beberapa pertanyaan penting yang akan dikupas di dalam buku ini.

Buku ini mempertimbangkan berbagai kekuatan utama yang membentuk masyarakat dunia, dan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi masa depan planet kita secara keseluruhan. Perubahan iklim contohnya.

Buku ini juga membahas berbagai aspek dari permasalahan global. Tidak seperti Sapiens dan Homo Deus, buku ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah narasi sejarah, melainkan sebagai studi pilihan yang tidak diakhiri dengan jawaban sederhana, melainkan selalu berujung pada banyak pertanyaan lanjutan berikut proses berpikir kritisnya. Jelas, dengan membaca buku ini Harari seolah berharap kita jadi berpikir lebih lanjut dan berpartisipasi dalam beberapa konservasi besar saat ini.

Beberapa bagian dalam buku ini fokus pada bidang teknologi, sebagian lagi pada politik, sebagian pada agama, dan bagian lainnya pada seni. Bab tertentu banyak membahas hal-hal bijaksana yang dilakukan umat manusia, yang lain menyoroti berbagai kebodohannya. Tetapi pertanyaan menyeluruh tetap sama: apa yang terjadi di dunia saat ini, dan apa arti dari semua peristiwa ini?

Bab pertama 21 Lessons for The 21st Century dimulai dengan mensurvei kesulitan politik dan teknologi saat ini. Pada akhir abad ke-20, tampak bahwa pertarungan ideologis besar antara fasisme, komunisme, dan liberalisme menghasilkan kemenangan liberalisme yang luar biasa. Politik demokrasi, hak asasi manusia, dan kapitalisme pasar bebas tampaknya ditakdirkan untuk menaklukkan seluruh dunia. Tapi seperti biasa, sejarah berubah secara tak terduga, dan setelah fasisme dan komunisme runtuh, sekarang liberalisme pun sedang mengalami kebuntuan. Selain itu dibahas pula tentang penggabungan infotech dan biotech yang mungkin akan segera mendorong miliaran manusia keluar dari pasar kerja dan merusak, baik kebebasan maupun kesetaraan umat manusia. There will be no liberty, no equlity.

Bagian kedua dari buku ini menelaah secara luas berbagai respons potensial yang ditimbulkan peristiwa-peristiwa di atas. Bisakah Facebook menggunakan AI untuk menciptakan komunitas global yang akan melindungi kebebasan dan kesetaraan manusia? Atau kita kembali kepada kebijaksanaan ajaran agama dan filosofi kehidupan.

Pada bagian ketiga dari buku ini kita melihat bahwa meskipun tantangan teknologi belum pernah terjadi sebelumnya, dan meskipun ketidaksepakatan politik meruncing, umat manusia dapat bangkit dari situasi buruk tersebut jika kita mengendalikan ketakutan kita dan sedikit lebih rendah hati tentang pandangan kita. Bagian ketiga buku menyelidiki apa yang dapat kita lakukan terhadap ancaman terorisme, bahaya perang global, dan tentang bias dan kebencian yang memicu konflik semacam itu.

Bagian keempat melibatkan gagasan pasca-kebenaran, dan menanyakan sejauh mana kita masih bisa memahami perkembangan global dan membedakan kesalahan dari keadilan. Apakah Homo sapiens mampu memahami dunia yang telah diciptakannya? Apakah masih ada batas yang jelas yang bisa memisahkan kenyataan dari fiksi?

Pada bagian kelima dan terakhir, berisi semacam perenungan. Siapa kita? Apa yang harus kita lakukan dalam hidup? Jenis keterampilan apa yang kita butuhkan? Mengingat semua yang kita tahu dan kita tidak tahu tentang sains, tentang Tuhan, tentang politik dan tentang agama - apa yang bisa kita katakan tentang makna hidup hari ini?

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Jika saja boleh memilih, saya ijin untuk berpendapat bahwa disain sampul buku putih bersih seperti 21 Lessons terlalu datar dan lagi harus hati-hati merawatnya agar tetap terlihat bersih. Tapi memang tidak menutup kemungkinan ada yang menyukai disain sampul buku sederhana putih bersih seperti buku ini. Dalam banyak hal saya lebih suka disain Homo Deus yang misterius dan”mencekam”. Tapi, jika dipertimbangkan ulang, mengingat topik bahasan buku 21 Lessons banyak muatan perenungan, meditasi, dan semacam itu, memang ada kecocokan antara pilihan disain dan warna dengan isi buku.

Bisa tebak itu gambar ilustrasi apa yang ada di sampul? Saya sendiri ragu-ragu. Apakah itu pupil manusia (?), mengilustrasikan bahwa isi buku ini patut menjadi pusat perhatian kita. Mungkin saja ya. 

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Pada buku serupa 21 Lessons for The 21st Century yang ditulis oleh Harari, saya selalu menyempatkan membaca halaman introduction sehati-hati mungkin, karena di dalamnya biasanya terdapat gambaran besar tentang isi buku, situasi yang menyebabkan penulis mengambil keputusan, dan maksud tujuan tulisannya, yang mungkin akan salah persepsi jika kita artikan sendiri secara keseluruhan. Itu semua akan menjadi pertimbangan yang bagus saat membaca semua isi buku, demikian menurut saya. Jadi, silakan dibaca introduction nya.

“As an author, I was therefore required to make a difficult choice. Should I speak my mind openly, risking that my words could be taken out of context and used to justify burgeoning autocracies? Or should I cencor myself? It is a mark of illiberal regimes that they make free speech more difficult even outside their borders. Due to the spread of such regimes, it is becoming increasingly dangerous to think critically about the future of our species.

After some soul searching, I chose free discussion over self-censorship. Withour criticising the liberal model, we cannot repair its faults or go beyond it. But please note that this book could have been written only when people are still relatively free to think what they like and to express themselves as they wish. If you value this book, you should also value the freedom of expression.

Page xv

 

Selalu ada kalimat penting yang diletakkan di bawah halaman tiap Part. Semacam intisari topik yang akan disampaikan. Ini membuat saya memiliki gambaran singkat tentang apa yang akan dibahas selanjutnya, sekaligus menjembatani  hal-hal yang dibahas di Part sebelumnya.

 

Picture: Part dalam buku

 

Di akhir tiap bab ada paragraf yang menjelaskan juga tentang apa yang akan dibahas di bab setelahnya. Misalnya seperti ini,

The following chapters will try to clarify some of the bewildering new possibilities we face, and how we might proceed from here. But before exploring potential solutions to humanity’s predicaments we need a better grasp of the challenge technology poses. The revolutions in information technology and biotechnology are still in their infancy, and it is debateable to what extent they are really responsible for the current crisis of liberalism. ...

Page 17

 

Seperti kedua buku sebelumnya, di buku ini narasi Harari juga sangat enak untuk disimak. Mengalir, sistematis, dan tetap logis. Ada bagian-bagian dalam narasinya yang memberikan peringatan dan semacam saran kepada kita tentang berbagai hal yang sedang terjadi saat ini, dan apa yang akan terjadi dalam waktu dekat. Salah satunya tentang disrupsi profesi,

Slowing down the pace of change may give us time to create enough new jobs to replace most of the losses. Yet as not earlier, economic entrepreneurship will have to be accompanied by a revolution in education and psychology. Assuming that the new jobs wont be just goverment sinecures, they will probably demand ...

Page 34

 

Atau tentang bahayanya pengabaian pengembangan mental manusia di jaman yang teknologinya berkembang begitu pesat.

The danger is that if we invest too much in developing AI and too litle in developing human consciousness, the very sophisticated artificial intelligence of computers might only serve to empower the natural stupidity of humans. We are unlikely to face a robot rebellion in the coming decades, but we might have ...

Page 70

 

And yet we hardly invest much in exploring the human mind, and instead focus on increasing the speed of our Internet connections and the efficency of our Big Data algorithms. If we are not careful, we will end up with down graded humans misusing upgraded computers to wreak havoc on themselves and on the world.

Page 71

 

 

Maka buku 21 Lessons for The 21st Century tidak heran terasa mencekam. Inilah kenyataan yang sedang kita hadapi, sedang kita merasa semua baik-baik saja. Padahal tidak.

This could get far worse. As explained in earlier chapters, the rise of AI might eliminate the economic value and political power of most human. At the same time, improvement in biotechnology might take it possible to translate economic inequality into biological inequality. The super-rich will finally ...

Page 75

 

 

Harari masih cukup “rajin” menyebut-nyebut Indonesia di dalam bukunya. Meskipun kita tidak dicontohkan sebagai negara maju yang punya peran besar, tapi tetap saja rasanya tergelitik setiap menemukan unsur Indonesia di dalam pemaparan 21 Lessons for The 21st Century.

 

Beberapa topik bahasan buku ini bisa dibilang sangat sensitif untuk sebagian orang karena menyangkut agama, kepercayaan, keyakinan, dan prinsip. Di buku ini terlihat pula pandangan Harari secara personal terhadap topik-topik bersangkutan. Misalnya,

Nationalist sentiments are unlikely to be of much help in that. Perhaps, then, we can rely on the universal religious traditions of humankind to help us unite the world? Hundreds of years ago, religion such as Christianity and Islam already thought in global rather than local terms, and they were always keenly interested in the big questions of life rather than just in the political struggles of this or that nation. But are traditional religions still relevant? Do they retain the power to shape the worldm or are they just inert relics from our past, tossed here and there by the mighty forces of modern states, economies and technologies.

Page 126

Traditional religions have lost so much turf because, frankly, they just weren’t very good in farming or healthcare. The true expertise of priests and gurus has never really been rainmaking, healing, prophecy or magic. Rather, it has always been interpretation. A priest is not somebody who knows how to perform the rain dance...

Page 129

One potential remedy for human stupidity as a dose of humility. National, religious and cultural tensions are made worse by the grandiose feeling that my nation, my religion and my culture are the most important in the world – hence my ...

Page 180

 

 

Seperti yang telah Harari sampaikan di bagian Introduction, buku 21 Lessons memang tidak menawarkan sebuah solusi, saran dan pandangan memang ya, tapi tidak ada kesimpulan yang kukuh di dalamnya. Tiap bab bahkan selalu diakhiri dengan pertanyaan. Seolah tugas kita sebagai pembaca memang untuk berpikir kritis atas apa yang sudah dibuka topiknya oleh Harari.

But what then about morality and justice? If we cannot understand the world, how can we hope to tell the difference between right and wrong, justice and injustice?

Page 222

Should we call it quits, then, and declare that the human quest to understand the truth and find justice has failed? Have we officially centered the Post-Truth Era?

Page 230

 

 

Jika pun ada semacam solusi yang diberikan, itupun hanya berupa saran dan ide. Tapi ini perlu, karena tanpa poin ini, Harari akan tampak seperti seseorang yang melemparkan banyak permasalahan tanpa punya pendirian dan penawaran jalan keluarnya.

First, if you want reliable information – pay good money for it. If you get your news for free, you might well be the product...

The second rule of thumb is that if some issue seems exceptionally important to you, make the effort to read the relevant scientific literature. And by scientific literature I mean peer-reviewed articles, books published by well-known academic publishers, and the writing of professors from reputable institutions....

Page 243-244

 

 

Saran-saran yang Harari tuliskan di akhir buku, mirip semacam kesimpulan bab juga, dan ini penting untuk kita simak. Misalnya

In such a world, the last thing a teacher needs to give her pupils is more information. They already have far too much of it. Instead, people need the ability to make sense of information, to tell the difference between what is important and what is unimportant, and above all to combine many bits of information into a broad picture of the world.

Page 261

 

 

Baik buku Sapiens maupun Homo Deus memiliki gambar-gambar pelengkap di dalam bukunya. Gambar tersebut bisa berupa foto kejadian atau tokoh. Untuk yang sudah membaca kedua buku itu pasti ingat. Tapi di buku 21 Lessons tidak ada gambar sama sekali. Semuanya tulisan. Di satu sisi para penyuka visual akan kehilangan satu bagian yang menyenangkan dalam buku Harari karena hal ini, tapi untungnya kemampuan menulis Harari yang luar biasa membuat narasinya enak dibaca, humornya pun masih terasa, rangkaian fakta yang ia susun juga logis, jadi hilangnya gambar-gambar pelengkap mungkin bisa dimasukkan ke dalam kekurangan kecil yang bisa dimaklumi.

 

 

Tidak seperti di kedua buku sebelumnya, di buku 21 Lessons ada juga dibahas beberapa film yang populer, terutama di bab Science Fiction – the future is not what you see in the movies. Buat penggemar film, bisa jadi bab bahasan yang ini sangat menarik untuk disimak. Inti salah satu bahasan film ini adalah kita harus waspada karena film kadang membentuk persepsi yang salah tentang masa depan.

Misalnya,

In the early twenty-first century, perhaps the most important artistic genre is science fiction. Very few people read the latest articles in the fields of machine learning or genetic engineering. Instead, movies such as The Matrix and Her and TV series such as Westworld and Black Mirror shape how people understand the most important technological, social and economic developments of our time. ...

Chapter 18

 

Hanya satu dua kali ada penjabaran yang menggunakan poin-poin. Misalnya,

Of course, it is not absolutely impossible that AI will develop feelings of its own. We still dont know enough about consciousness to be sure. In general, there are three possibilities we need to consider:

  1. Consciousness is somehow linked to organic biochemistry in such a way that it will never be possible to create consciousness in non-organic systems.
  2. ...

Page 69

 

Menariknya bahasan Harari lainnya adalah pemaparannya mengingatkan pada betapa banyaknya fakta di dunia nyata yang terlewatkan oleh kita. Misalnya,

Not your smartphone, not yourcomputer, and not your bank account – they are in a race to hack yyou and your organic operating system. You might have heard that we are living in the era of hacking computers, but that;s hardly half the truth. In fact, we are living in the era of hacking humans.

Page 268

In the age of Facebook and instagram you can observe this myth-making process more clearly than ever before, because some of it has been outsourced from the mind to the computer. It is fascinating and terrifying to behold people who spend countless hours constructing and embellishing a perfect self online, becoming attached to their own creation, and mistaking it for the truth about themselves. That’s how a family holiday fraught with traffic jams, petty squabbles and tense silennce becomes a collection of beautiful paronamas, perfect dinners and smiling face; 99 per cent of what we experience never becomes part of the story of the self.

It is particularly noteworthy that our fantasy self tends to be very visual, whereas our actual experiences are corporeal...

Page 301

 

Buku 21 Lessons for The 21st Century masih mendapatkan respons yang baik di Amazon maupun Goodreads. Meski ratingnya turun dari kedua buku sebelumnya, tapi masih di angka 4 ke atas. Reviewer yang menyukai buku ini menyatakan bahwa isi buku sangat relevan dengan apa yang sedang dihadapi umat manusia saat ini, tulisan Harari menarik, enak disimak, sarat informasi, membuka wawasan, dan lain sebagainya. Sedangkan mereka yang memberikan rating rendah mengatakan bahwa buku 21 Lessons terlalu banyak mengambil porsi bahasan yang sama dengan Homo Deus, buku ini hanya semacam penambahan, bukan ide baru. Sebagian reviewer mendebat keras beberapa bab yang memiliki topik sensitif dan karena perbedaan pendapatnya itu maka kemudian memberikan rating yang rendah untuk 21 Lessons. Teori Harari di buku ini dianggap masih terlalu sepihak, sama sekali tidak mencerminkan gambaran global yang ingin diusung oleh Harari dalam bukunya, dan masih banyak lagi kritik lainnya.

Saya secara pribadi setuju bahwa ada bagian dalam buku 21 Lessons yang merupakan pengulangan-pengembangan buku sebelumnya. Terutama sangat terasa di Part 1 yang kurang lebih sudah dijelaskan di buku Homo Deus. Dari sisi topik memang sudah diduga bakal menjadi bahan kritikan banyak orang, tapi bukankah Harari memang mengharapkan itu (?). Bagi saya, setidaknyaman apapun saya pada teori dan pandangan yang Harari sampaikan di bukunya, buku ini tetap memiliki banyak sisi informasi yang bermanfaat, yang kalau saya tidak baca buku ini mungkin saya tidak akan tahu atau menyadari. Di dalam 21 Lessons ada bahasan bidang politik, ekonomi, agama, budaya, sains, sejarah, dan lain-lain. Maka benarlah seperti kata Harari bahwa bukunya memang untuk dijadikan bahan renungan, silakan diperdebatkan, penulis tidak keberatan.

Lalu, sampailah kita pada akhir bahasan 21 Lessons. Mungkin benar, ini bukan lagi masanya untuk kita bertanya tentang ‘what is the meaning of life?’ tapi ini saatnya kita bertanya pada diri ‘ how do we get out of suffering?’ dan ‘ we had better understand our minds before the algorithms make our minds up for us’.

 

Siapa Yuval Noah Harari

Yuval Noah Harari adalah sejarawan dan penulis asal Israel. Dia juga seorang profesor di Departemen Sejarah di Hebrew University.

Publikasi awal Harari berkaitan dengan apa yang ia gambarkan sebagai "revolusi kognitif" yang terjadi kira-kira 50.000 tahun yang lalu, ketika Homo sapiens menggantikan spesies Neandertal, lalu mengembangkan keterampilan bahasa dan membangun masyarakat yang terstruktur, kemudian naik tingkat sebagai predator puncak.

Buku-bukunya yang baru-baru ini dipublikasikan lebih berhati-hati. Ia membahas konsekuensi bioteknologi futuristik di mana mahluk hidup dilampaui oleh ciptaan mereka sendiri; Yuval Noah Harari mengatakan "Homo sapiens as we know them will disappear in a century or so".

 

Bukunya yang berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind diterbitkan di Hebrew tahun 2011 lalu di Inggris pada tahun 2014. Sejak itu buku Sapiens telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Buku ini meneliti seluruh sejarah manusia, dari evolusi Homo sapiens di Zaman Batu hingga revolusi politik dan teknologi abad ke-21. Sapiens edisi bahasa Ibrani menjadi buku terlaris di Israel, dan menghasilkan banyak minat baik di komunitas akademis dan di kalangan masyarakat umum, mengubah Harari menjadi selebriti. Klip video YouTube dari ceramah Harari tentang sejarah dunia telah dilihat oleh puluhan ribu orang Israel.

 

Bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow diterbitkan pada tahun 2016, menguji kemungkinan masa depan Homo sapiens. Premis buku tersebut menguraikan bahwa di masa depan, umat manusia cenderung melakukan upaya signifikan untuk mendapatkan kebahagiaan, keabadian, dan kekuatan seperti Tuhan atau manusia super.

 

Buku terbaru Harari berjudul 21 Lessons for the 21st Century dan lebih berfokus membahas apa yang terjadi saat ini. Buku ini diterbitkan pada 30 Agustus 2018.


Harari dua kali memenangkan Polonsky Prize untuk "Kreativitas dan Orisinalitas", pada tahun 2009 dan 2012. Pada tahun 2011 ia memenangkan Society for Military History's Moncado Award untuk artikel yang luar biasa dalam sejarah militer. Pada 2012 ia terpilih menjadi Young Israeli Academy of Sciences.

 

Buku-buku Yuval Noah Harari
·         21 Lessons for the 21st Century (2018)
·         Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2016)
·         Sapiens: A Brief History of  Humankind (2014)
·         The Ultimate Experience: Battlefield Revelations and the Making of Modern War Culture (2008)
·         Special Operations in the Age of Chivalry (2007)
·         Renaissance Military Memoirs: War, History and Identity (2004)

 

Buku 21 Lessons for 21st Century mendapatkan rating Amazon 4.2 dan Goodreads 4.23.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang mencari buku non fiksi kontemplasi, karena isinya memang untuk dipilah, direnungkan, diputuskan, dan diaplikasikan. Buku ini berisi berbagai permasalahan global yang saat ini sedang terjadi (perubahan iklim - ekstrim, terorisme, kemajuan teknologi, dan isu-isu lainnya), dan berbagai peristiwa yang mungkin terjadi dalam waktu dekat sebagai imbasnya (disrupsi profesi, perang, imigrasi, hilangnya kesetaraan, gap yang makin besar, dan lain-lain), beserta beberapa saran – pandangan tentang apa yang bisa dilakukan saat ini di bidang edukasi dan pengembangan mental diri. Jangan berharap solusi dari buku ini, karena ini adalah buku untuk bahan perenungan dan berpikir kritis, karena kita, umat manusia, seharusnya bisa bertanggung jawab pada apa yang telah kita perbuat dan tugas kita jugalah untuk mencegah kehancuran itu terjadi di masa depan. Buku ini logis, sistematis, dengan gaya bahasa yang enak disimak, sesekali ada humor, tidak ada gambar pelengkap di dalamnya, beberapa topik mungkin akan terasa sangat sensitif untuk pembaca karena menyangkut agama, keyakinan, nasionalisme, dan budaya.

 

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - Review Buku

Starbucks Jatinangor (a Story)

25-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang...

Read more

Review Buku Fourth Wing - Rebecca Yarros

14-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  An Instant New York Times BestsellerA Goodreads Most Anticipated Book Judul : Fourth Wing (The Empyrean, 1) Penulis : Rebecca Yarros Jenis Buku : Epic Fantasy, Romantic Fantasy, Sword & Sorcery Fantasy Penerbit : Piatkus, an...

Read more

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

Review Buku The Book You Wish Your Paren…

29-04-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

The Sunday Times No. 1 Bestseller, lebih dari 1,3 juta eksemplar terjual di seluruh dunia.   Judul : The Book You Wish Your Parents Had Read (Orang Tuamu Wajib Membaca Buku Ini, dan...

Read more

Review Buku Sang Cipta Rasa - Fahd Pahde…

16-04-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sang Cipta Rasa  Penulis : Fahd Pahdepie Editor: Triana Rahmawati Ilustrator: Agung Pamukti Jenis Buku : Non Fiksi Religi, Pengembangan Diri Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : 2023 Jumlah Halaman :  270 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku Damba, Lara, dan Cinta - Ste…

12-04-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Damba, Lara, dan Cinta - Enam Cerita Perempuan Asia Penulis : Stefano Romano Editor: Anwar Holid Jenis Buku : Kumpulan Cerpen Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : 2023 Jumlah Halaman : 134 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Love is The Answer - Arvan P…

11-04-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

Buku Pilihan Kick Andy   Judul : Love is The Answer Penulis : Arvan Pradiansyah Jenis Buku : Pengembangan Diri Penerbit : PT Integritas Lestari Manajemen Tahun Terbit : Agustus 2022 Jumlah Halaman : 184 halaman Harga :...

Read more

Review Buku Novelist as a Vocation - Har…

01-03-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  New York Times Best Seller Sunday Times and New Stateman Book of The Year A Most Anticipated Book: Esquire, Vulture, LitHub, New York Observer   Judul : Novelist as a Vocation Penulis : Haruki Murakami Alih Bahasa...

Read more

Review Buku Earthlings - Sayaka Murata

14-02-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

A New York Times Book Review Editors' ChoiceNamed a Best Book of the Year by the New York Times, TIME and Literary HubNamed a Most Anticipated Book by the New York Times, TIME, USA Today, Entertainment Weekly, the Guardian, Vulture, Wired, Literary Hub, Bustle, PopSugar, and Refinery29   Judul...

Read more

Review Buku What Moves The Dead - T. Kin…

03-01-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

An Instant USA Today & Indie BestsellerA Barnes & Noble Book of the Year FinalistA Goodreads Best Horror Choice Award NomineeFrom T. Kingfisher, the award-winning author of The Twisted Ones, comes What Moves the...

Read more

List of Dipidiff's Book Reviews

28-12-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  2023 Fiction JJ. Goes to The Potty. Part of CoComelon (30 books). Tina Gallo. Simon Spotlight, 2023. 16 pages. *Children Book. Baca Review di: Instagram @dipidiffofficial Haruki Murakami, Manga Stories. Adapted by Jean-Christophe Deveney. Illustration...

Read more

Review Buku Kiki's Delivery Service - Ei…

21-12-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  A Junior Library Guild Selection. Kiki's Delivery Service is a Japanese classic, beautifully translated by Emily Balistrieri and brought to life with exquisite illustrations by Joe Todd-Stanton. Judul : Kiki's Delivery Service Penulis...

Read more

Review Buku Hayya - Helvy Tiana Rosa …

19-12-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Hayya Penulis : Helvy Tiana Rosa & Benny Arnas Jenis Buku : Fiksi Religi Penerbit : Republike Penerbit Tahun Terbit : Juni 2022 Jumlah Halaman :  294 halaman Dimensi Buku : 14 x 3...

Read more

Review Buku Seni Memahami Perasaan Anak …

11-12-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Seni Memahami Perasaan Anak Penulis : Park Jae Yon Penerjemah: Putri Permata Sari Penyunting: Aprilia Ramadhani dan Anggi Mahasanghika Ilustrasi Sampul dan Isi : Gong In Young Sampul dan Isi Diolah Kembali oleh...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Starbucks Jatinangor (a Story)

25-09-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Teman-teman sering menghabiskan waktu di Starbucks? Saya tidak. Alasan utama saya tidak sering ke Starbucks karena cafe kopi yang satu ini memang tidak ada di wilayah sekitar rumah saya. Tapi sekarang...

Read more

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more