0

Review Buku Noise - Daniel Kahneman, Olivier Sibony, Cass R. Sunstein

Published: Tuesday, 30 November 2021 Written by Dipidiff

 

From the Nobel Prize-winning author of Thinking, Fast and Slow and the coauthor of Nudge, a revolutionary exploration of why people make bad judgments and how to make better ones--"a tour de force” (New York Times)

 

Judul : Noise: A Flaw in Human Judgement

Penulis : Daniel Kahneman, Olivier Sibony, Cass R. Sunstein

Jenis Buku : Non-fiction

Penerbit : HarperCollins Publishers

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman : 464 halaman

Dimensi Buku :  23,10 x 15,20 x 3,50 cm

Harga : Rp. 289.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780008309008

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Bayangkan dua dokter di kota yang sama memberikan diagnosis yang berbeda kepada pasien yang sama—atau dua hakim di gedung pengadilan yang sama memberikan hukuman yang sangat berbeda kepada orang yang melakukan kejahatan yang sama. Bayangkan pewawancara yang berbeda di perusahaan yang sama membuat keputusan yang berbeda tentang pelamar kerja yang sama atau ketika sebuah perusahaan menangani keluhan pelanggan, penyelesaiannya bergantung pada siapa yang kebetulan menjawab telepon. Sekarang bayangkan bahwa dokter yang sama, hakim yang sama, pewawancara yang sama, atau agen layanan pelanggan yang sama membuat keputusan yang berbeda tergantung pada apakah itu pagi atau sore, atau Senin daripada Rabu. Ini adalah contoh Noise: variabilitas dalam penilaian yang harusnya identik.

Dalam Noise, Daniel Kahneman, Olivier Sibony, dan Cass R. Sunstein menunjukkan efek merugikan dari Noise di banyak bidang, termasuk kedokteran, hukum, prediksi ekonomi, ilmu forensik, asuransi, perlindungan anak, strategi, tinjauan kinerja, dan pemilihan personel. Di mana ada penghakiman, di situ ada noise. Namun, sebagian besar waktu, individu dan organisasi sama-sama tidak menyadarinya. Mereka mengabaikan noise. Dengan beberapa solusi sederhana, orang dapat mengurangi noise dan bias, sehingga membuat keputusan yang jauh lebih baik.

Dikemas dengan ide-ide orisinal, dan menawarkan jenis wawasan berbasis penelitian yang sama yang membuat Thinking, Fast and Slow, dan Nudge menjadi buku terlaris New York Times, Noise menjelaskan bagaimana dan mengapa manusia sangat rentan terhadap noise dalam penilaian—dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya.

*Source: amazon.com

 

Yuk kita intip daftar isinya

Introduction: Two Kinds of Error

Part I: Finding Noise

  1. Crime and Noisy Punishment
  2. A Noisy System
  3. Singular Decisions

Part II: Your Mind Is a Measuring Instrument

  1. Matters of Judgment
  2. Measuring Error
  3. The Analysis of Noise
  4. Occasion Noise
  5. How Groups Amplify Noise

Part III: Noise in Predictive Judgments

  1. Judgments and Models
  2. Noiseless Rules
  3. Objective Ignorance
  4. The Valley of the Normal

PART IV: How Noise Happens

  1. Heuristics, Biases, and Noise
  2. The Matching Operation
  3. Scales
  4. Patterns
  5. The Sources of Noise

PART V: Improving Judgments

  1. Better Judges for Better Judgments
  2. Debiasing and Decision Hygiene
  3. Sequencing Information in Forensic Science
  4. Selection and Aggregation in Forecasting
  5. Guidelines in Medicine
  6. Defining the Scale in Performance Ratings
  7. Structure in Hiring
  8. The Mediating Assessments Protocol

PART VI: Optimal Noise

  1. The Costs of Noise Reduction
  2. Dignity
  3. Rules or Standards?

Review and Conclusion: Taking Noise Seriously

Epilogue: A Less Noisy World

Appendix A: How to Conduct a Noise Audit

Appendix B: A Checklist for a Decision Observer

Appendix C: Correcting Predictions

Acknowledgments

Notes

Index

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Buku berdisain cover hitam putih yang tebal sekali, cukup menciutkan nyali :D. Tapi judulnya menarik sih, apalagi begitu tau siapa para penulisnya. Sejauh ini semua buku Noise tidak ada pilihan disain cover. This is the only one.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Kadang kita paham isi bukunya tentang apa, tapi untuk menyampaikannya kembali, belum tentu kita bisa.

Pernah merasa begitu? J

Well yah, itu terjadi pada saya waktu ngebaca buku ini. Noise adalah sebuah karya yang ditulis oleh scholar writers. Penulisnya bukan hanya satu profesor, tapi tiga sekaligus. Daniel Kahneman penerima Nobel Prize tahun 2002, Olivier Sibony seorang profesor bidang kebijakan strategi dan bisnis, Case R. Susteins profesor di Harvard. Buat yang sudah baca buku bestseller Thinking, Fast, and Slow, dan Nudge, nama-nama barusan tentu ga asing lagi.

 

Di buku ini, para penulis ingin menunjukkan bagaimana Noise menghasilkan eror dalam banyak bidang, mulai dari dunia hukum hingga kesehatan, prediksi ekonomi hingga sains forensik. Eror yang terjadi membawa dampak kerugian yang besar, dan bahkan fatal. Bayangkan jika eror itu terjadi di prediksi bisnis raksasa, atau terjadi di pengambilan keputusan berskala internasional. Bayangkan kita menerima diagnosis dokter yang berbeda-beda, atau terdakwa satu dengan yang lainnya menerima jenis hukuman yang jauh berbeda meski kasusnya sama.

Dalam suatu wawancara penulis menjelaskan beda bias dan noise dalam contoh kasus yang sangat sederhana. Bias keputusan disebabkan karena satu hal yang sangat jelas, misal seorang wanita tidak diterima kerja karena gendernya wanita, itu bias. Alasannya diketahui dengan jelas. Tapi noise berbeda, karena tersembunyi, tidak mudah dikenali. Seorang pewawancara memberikan nilai rendah pada calon pekerja karena kebetulan saat mewawancarai dia dalam keadaan lapar, atau moodnya sedang jelek, akhirnya mempengaruhi penilaiannya, itulah noise.

We all make bad judgments more than we think. Maka fokus buku ini salah satunya adalah menawarkan sebuah solusi bagaimana kita bisa membuat penilaian yang lebih akurat dengan meminimalkan noise. Interesting and thought provoking.

 

Mari kita mulai review buku yang mirip-mirip tesis ini, semoga saya bisa menyampaikan beberapa intinya dengan baik dan tidak terbata-bata.

Untuk memahami apa itu Noise dan apa bedanya dengan bias, maka bayangkan orang-orang yang sedang bermain shooting arcade. Idealnya, hasil tembakan mereka berada di daerah bulatan target, tapi dunia itu tidak ideal kan ya, maka hasil tembakan yang terjadi mungkin B, atau C, atau D. Kondisi B disebut bias dimana hasil tembakan secara sistematis meleset. Kondisi C disebut Noise dimana tembakan random tak berpola, berantakan. Kondisi D disebut bias dan noise, dimana tembakan secara sistematis meleset dari sasaran dan berantakan.

Picture: Ilustrasi Shooting Arcade - Bias dan Noise

 

Sekarang mari mencerna analoginya, bayangkan target adalah hasil penilaian yang dibuat di kehidupan ini, entah itu audit perusahaan, keputusan para hakim terhadap terdakwa, diagnosa dokter, prediksi ekonomi dari pada ahli, dsb. Dari sini barangkali mulai paham betapa merugikannya jika bias dan noise ini dibiarkan terjadi begitu saja. Coba pikirkan tentang pandemi covid ini, jika orang-orang memprediksi dan mengambil keputusan terkait persoalan pandemi dengan tingkat keakuratan seperti kondisi B, C, dan D. Renungkan kebingungan kita, orang awam, menerima informasi-prediksi begitu banyak yang 'inti pesannya' berbeda-beda.

 

Buku Noise terdiri dari 6 bagian. Bagian 1 mengeksplorasi perbedaan noise dengan bias. Di sini dibahas noise yang terjadi di sektor swasta maupun pemerintah. Kasus yang diangkat misalnya criminal sentencing, insurance, dan audit.

Bagian 2 berisi investigasi mendalam tentang sifat alami penilaian manusia, dan mengeksplor bagaimana mengukur keakuratan dan eror pada penilaian yang dilakukan. Bagian 3 membahas lebih dalam tentang jenis-jenis judgment. Dibahas pula manfaat aturan, formula dan algoritma.

Bagian 4 mengeksplor psikologi manusia dalam proses penilaian. Termasuk di sini personality, ragam perbedaan dalam mempertimbangkan sesuatu, dsb. Bagian 5 fokus ke cara meningkatkan kualitas penilaian dan mencegah eror. Bagian 6 menggarisbawahi awareness, sebuah kesadaran yang harus dimiliki manusia bahwa noise itu harus diminimalkan. Penulis menggugah sektor swasta dan pemerintah untuk mengambil tindakan nyata.

By the way, penulis menyarankan buat pembaca yang ingin fokus ke how to bisa skip Part 3 dan Part 4, dan bagi yang ingin tau detail teori justru harus simak dua part tersebut.

 

Kasus yang diangkat di awal buku adalah tentang kisah hakim Marvin Frankel tahun 1973 yang menemukan adanya  perbedaan hukuman yang dijatuhkan oleh para hakim. Untuk memerangi noise dan bias dia menyarankan pentingnya tes yang relevan dengan formula yang objektif. Hakim Marvin menulis buku di tahun 1970 yang meski ga menyebutkan secara spesifik tapi uraiannya mengarah pada mesin yang menggantikan manusia dalam pengambilan keputusan. Buku Marvin populer dan mendapatkan tanggapan di sana-sini.

Tahun 1974 hakim Marvin melakukan studi yang melibatkan  50 hakim dari berbagai distrik untuk menentukan hukuman atas sebuah kasus hipotetical. Hasilnya shocking level of noise! Dan ini sama kejadian di studi tahun  1977.

A study of six million decisions made by judges in France over twelve years found that defendants are given more leniency on their birthday. (The defendant s birthday, that is; we suspect that judges might be more lenient on their own birthdays as well, but as far as we know, that hypothesis has not been tested.) Even something as irrelevant as outside temperature can influence judges. A review of 207,000 immigration court decisions over four years found a significant effect of daily temperature variations: when it is hot outside, people are less likely to get asylum. If you are suffering political persecution in your home country and want asylum elsewhere, you should hope and maybe even pray that your hearing falls on a cool day.

Page 17

Tahun 1984, Edward M. Kennedy (saudara dari John F. Kennedy) mengusulkan dibuat semacam guideline untuk mengurangi noise ini. Dalam mempertimbangkan hukuman, hakim wajib menimbang 2 hal; (1) kasus kriminologi (2) sejarah kriminal terdakwa. Dengan cara ini noise kemudian turun 17% dalam kurun tahun 1986 – 1987, dan 11% di 1988-1993. Tapi kemudian ada kritik yang muncul tentang hukuman yang kurang sepadan dan kurang adil.

Nah, seperti itulah kira-kira gaya pemaparan buku Noise yang mengangkat kasus real  yang terjadi di dunia. Isi bukunya menurut saya detail, dan asyik sekali untuk diikuti arahnya kemana.

 

Tentu saja di buku ini ada cukup banyak instrumen matematika statistika, buat yang suka tentu ini menyenangkan untuk disimak, dan buat yang ga begitu suka, seperti kata penulisnya, silakan skil Part 3 dan 4.

Picture: beberapa halaman dengan gambar-gambar penyerta

Figur 7 shows how MSE (the area of the darker square) equals the sum of the areas of the other two squares. In the left panel, there is more noise than bias; in the right panel, more bias than noise. But MSE is the same, and the error quation holds in both cases.

As the mathematical expression and its visual representation both suggest, bias and noise play identical roles in the error equation. They are independent of each other and equally weighted in the determination of overall error. (Note that we will use a similar decomposition into a sum of squares when we analyze the components of noise in later chapters).

..

Page 63

 

Figure 4 shows the distribution of errors. It is the same as the distribution of forecasts in figure 3, but the true value (34%) has been substracted from each forecast. The shape of the distribution has not changed, and the standard deviation (our measure of noise) it still 10%.

Page 58

 

 

Jadi, bagaimana cara yang disarankan oleh para profesor ini untuk meningkatkan kualitas dan keakuratan sebuah penilaian (judgment)?

Saya duga, teman-teman pasti penasaran ya seperti saya. Di buku ini semua yang berkaitan dengan How to akan spesifik dibahas di Part 5 Improving Judgment. Berikut poin- poin pentingnya:

  • langkah pertama adalah organisasi yang bersangkutan menyadari bahwa noise adalah isu dalam perusahaan yang layak untuk mendapatkan perhatian. Caranya dengan 'a noise audit'. Pastikan para penilai merupakan orang-orang yang ahli berkompetensi. Jika tidak, maka sumber daya manusianya harus dinaikkan dulu keahliannya.
  • jika noise yang ada ternyata sepadan untuk ditangani serius (ingat cost untuk ini tidak sedikit), mungkin bisa tempuh opsi mengganti proses penilaian yang terkait noise dengan model aturan atau pengolahan algoritma. Tapi ingat menetapkan aturan juga punya problematikanya, dan AI sejatinya bukan pengganti dari manusia. Jadi krusial untuk menemukan para judges yang profesional sesuai bidangnya.
  • next, lakukan pendekatan penurunan judgment errors, misal dengan bias checklist, statistical noise, dll.
  • fokus memerangi noise ini dengan model decision hygiene. Untuk tau lebih detail apa itu decision hygiene, silakan teman-teman baca sendiri bukunya ya.

 

Saya merasa buku ini memang cenderung untuk para pemangku keputusan seperti manajemen atas, pemilik perusahaan, pejabat pemerintahan, dll, karena awereness yang dibangun memang punya skala yang massive, dan tindakan noise reduction butuh biaya yang tidak sedikit, pun keurgensiannya selalu berkaitan dengan hal-hal yang berdampak besar bagi orang banyak.

Tapi terlepas dari itu, personally, ada hal yang bisa saya refleksikan buat perseorangan terkait topik ini, yaitu kehati-hatian dalam membuat penilaian dan keputusan. Jika bukan ahlinya sebaiknya tidak coba-coba menilai dan memprediksi sesuatu, dan berhubung banyak sekali noise di dunia ini, kita harus rajin crosscheck darimana sebuah penilaian atau prediksi berasal.

 

Mungkin beberapa pembaca akan merasa topik yang diangkat di buku ini terlalu sederhana karena kita semua rasanya sudah tau kalau keputusan seseorang memang relatif aka rentan bias dan noise. Saya ingat jaman kuliah, seorang dosen kami keliatannya moody sekali, sehingga apa yang diucapkan dan dilakukan suka mengejutkan, akibatnya kami para mahasiswa harus pandai membaca situasi, apakah si dosen sudah makan atau pake baju apa (baju pink biasanya moodnya lebih bagus), itu semua jadi pertimbangan kami ketika mau menghadap beliau :D. Back to topic, yang dibahas di buku ini seolah biasa, tapi kalo saya menarik perspektif yang lebih luas, rasanya ini memang suatu hal yang harus ditindaklanjuti karena kasus yang ditangani punya resiko yang besar, bukan sekadar urusan personal atau segelintir orang. Keputusan-keputusan bisnis, penilaian kondisi finansial, diagnosis suatu penyakit, tentu bukan sesuatu yang enteng.

Para profesor yang menulis buku ini juga sangat rendah hati karena menggarisbawahi sejak di awal buku bahwa ini adalah suatu topik yang masih terbuka lebar untuk dikoreksi, dilanjutkan penelitiannya, dan diberi umpan balik. Penutup buku yang menekankan awareness memberikan kesan ini sebuah tulisan yang ditujukan untuk kebaikan kita umat manusia, bukan demi meraih popularitas si penulis.

 

Siapa Daniel Kahneman 

Daniel Kahneman adalah seorang psikolog dan ekonom Israel yang terkenal karena karyanya dalam penilaian psikologi dan pengambilan keputusan, serta ekonomi perilaku, dan ia dianugerahi Penghargaan Nobel Memorial 2002 dalam Ilmu Ekonomi (bersama dengan Vernon L. Smith). Pada tahun 2011, ia dinobatkan oleh majalah Foreign Policy dalam daftar pemikir global teratas Pada tahun yang sama, bukunya Thinking, Fast and Slow yang merangkum sebagian besar penelitiannya, diterbitkan dan menjadi best seller. Selanjutnya, pada tahun 2015, The Economist mendaftarkannya sebagai ekonom ketujuh paling berpengaruh di dunia.

Secara khusus, Daniel Kahneman sangat terkenal tentang gagasannya mengenai Prospect Theory, yang dikembangkan bersama Amos Tversky pada tahun 1979. Teori Prospek menunjukkan bahwa orang menghargai kerugian dan keuntungan dalam sudut pandang yang berbeda. Teori Prospek menunjukkan bahwa orang cenderung menghindari kerugian, karena mereka merasa lebih merasa terpukul karena kerugian, daripada memikirkan keuntungan yang mereka dapatkan.

Sumber: wikipedia dan merdeka. com

 

Also by Daniel Kahnmean

Thinking, Fast and Slow

Also by Olivier Sibony

You're About to Make a Terrible Mistake!; How Biases Distort Decision-Making – and What You Can Do to Fight Them

Also by Cass R. Sunstein

Too Much Information: Understanding What You Dont Want to Know

Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness (with Richard H. Thaler)

Sumber: buku Noise

 

Siapa Olivier Sibony 

Olivier Sibony adalah seorang profesor, penulis, dan penasihat yang berspesialisasi dalam kualitas pemikiran strategis dan desain proses keputusan. Olivier mengajar Strategi, Pengambilan Keputusan, dan Pemecahan Masalah di HEC Paris. Dia juga Associate Fellow dari Saïd Business School di Universitas Oxford.

Sebelum menjadi profesor, Olivier menghabiskan 25 tahun bersama McKinsey & Company di Prancis dan di AS, tempat dia menjadi Mitra Senior. Di sana, dia, pada berbagai waktu, adalah pemimpin Praktik Strategi Global dan Sektor Barang Konsumen & Ritel.

Minat penelitian Olivier berfokus pada peningkatan kualitas pengambilan keputusan dengan mengurangi dampak bias perilaku. Dia adalah penulis artikel di berbagai publikasi termasuk " Before You Make That Big Decision”, ditulis bersama dengan pemenang Hadiah Nobel Daniel Kahneman, yang terpilih sebagai fitur sampul buku pilihan Harvard Business Review "10 Must-Reads on Making Smart Decisions”. Dalam bahasa Prancis, ia juga menulis sebuah buku, Réapprendre Décider.

Olivier membangun penelitian ini dan pengalamannya untuk memberi nasihat kepada para pemimpin senior tentang pengambilan keputusan strategis dan operasional. Dia sering menjadi pembicara utama dan fasilitator pertemuan manajemen senior dan dewan pengawas. Olivier juga menjabat sebagai anggota dewan perusahaan, penasihat dan investasi.

Olivier Sibony adalah lulusan HEC Paris dan meraih gelar Ph. D. dari Université Paris-Dauphine.

Sumber: amazon. com

 

Siapa Cass R. Sunstein 

Cass R. Sunstein adalah Profesor Universitas Robert Walmsley di Harvard Law School, di mana dia adalah pendiri dan direktur Program on Behavioral Economics and Public Policy. Sejauh ini dia adalah profesor hukum yang paling banyak dikutip di Amerika Serikat. Dari 2009 hingga 2012 ia bertugas di pemerintahan Obama sebagai Administrator Kantor Urusan Informasi dan Pengaturan Gedung Putih. Dia telah bersaksi di depan komite kongres, muncul di acara televisi dan radio nasional, terlibat dalam pembuatan konstitusi dan kegiatan reformasi hukum di sejumlah negara, dan menulis banyak artikel dan buku, termasuk Simpler: The Future of Government dan Wiser: Getting Beyond Groupthink to Make Groups Smarter.

Sumber: amazon. com

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari buku non fiksi yang membahas kualitas penilaian dan proses pengambilan keputusan. Sebuah buku yang mengajak pembaca agar sadar pada eror yang sering terjadi dalam sebuah proses assessment dan judgment. Bidang hukum, medis, dan bisnis banyak diangkat kasus-kasusnya di buku ini. Penjelasannya cukup mudah dimengerti, meski bagian statistika dan matematika mungkin cukup njlimet untuk kita yang tidak ingin rumit-rumit. Buku ini detail, seperti hasil penelitian yang diterbitkan menjadi karya yang lebih populer. Ada solusi yang ditawarkan penulis di akhir buku tentang bagaimana cara mengurangi noise. Bagi pembaca yang sudah lebih dulu menyimak Thinking, Fast and Slow serta Nudge, buku Noise akan tepat sekali untuk dibaca juga karena topiknya yang punya kaitan.

 

 -------------------------------------

 

 

Jika Anda suka dan merasa mendapatkan manfaat dari konten di blog Dipidiff.com, sekarang Anda bisa mendukung pengembangan blog ini dengan mendonasikan uang mulai dari seribu rupiah atau mempertimbangkan untuk mendukung rutin per bulannya. Terimakasih.

Donasi dapat ditransfer ke:

BCA 740 509 5645

Konfirmasi transfer ke DM Instagram @dipidiffofficial

 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah kandidat untuk International Baccalaureate (IB), dan kepala bagian Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainerserta certified IALC coach, Dipi diundang oleh berbagai komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, dan lain-lain. Dipi juga pemateri rutin di platform edukasi www.cakap.com . Dipi meng-coaching-mentoring beberapa remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di beberapa event literasi. Dipi juga menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dipi host di program buku di NBS Radio. Dulu sempat menikmati masa dimana menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Spotify DipidiffTalks.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

TERBARU - REVIEW BUKU

Review Buku The Quiet Tenant - Clémence …

23-08-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  National Best Seller One of The Most Anticipated Novels of 2023 GMA Buzz Pick A LibraryReads #1 Pick One of The Washington Post’s Notable Summer Books 2023One of Vogue’s Best Books of 2023One of Goodreads’s Most Anticipated Books...

Read more

Review Buku The Only One Left - Riley Sa…

23-07-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Editor's Pick Best Mystery, Thriller & Suspense The Instant New York Times Bestseller Named a summer book to watch by The Washington Post, Boston Globe, USA Today, Oprah, Paste, Country Living, Good Housekeeping, and Nerd Daily Judul...

Read more

Review Buku Helium Mengelilingi Kita - Q…

14-06-2023 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Helium Mengelilingi Kita Penulis : Qomichi Jenis Buku : Sastra Fiksi, Coming of Age Penerbit : MCL Publisher Tahun Terbit : Maret 2023 Jumlah Halaman :  246 halaman Dimensi Buku : 14 x 20,5...

Read more

TERBARU - REVIEW CAFE & RESTORAN

Kalpa Tree di Ciumbuleuit Bandung (a Sto…

11-08-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

Airy, stylish international restaurant with glass walls, plants & wine, plus a pool & garden.   Baru kemarin, Rabu tanggal 10 Agustus 2022 saya ke Kalpa Tree dalam rangka meeting. Sebenarnya ini...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

Cafe Nanny's Pavillon (a Review)

27-07-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  "Do what you love, love what you do". Saya masih ingat sekali menggunakan kutipan itu untuk caption instagram saya waktu posting foto Nanny's Pavillon. Tapi benar ya, rasanya hari itu...

Read more

The Warung Kopi by Morning Glory (a Stor…

28-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Setengah ga nyangka dan setengah takjub juga begitu nemu kafe asyik kayak begini di wilayah Bandung Timur. Maklum sudah keburu kerekam di memori otak kalau kafe-kafe cozy adanya cuma di...

Read more

TERBARU - PERSONAL GROWTH & DEVELOPMENT

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Tentang Caranya Mengelola Waktu

11-08-2021 Jeffrey Pratama - avatar Jeffrey Pratama

  “Seandainya masih ada waktu...” Berani taruhan, diantara kita, pasti pernah berkomentar seperti di atas, atau yang mirip-mirip, minimal sekali seumur hidup. Waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat diproduksi ulang. Apa...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more